Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label #ENDviolence. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #ENDviolence. Tampilkan semua postingan
Dari Pemuda ke Pemuda: Menciptakan Pembuat-Perubahan untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Anak-Anak

Dari Pemuda ke Pemuda: Menciptakan Pembuat-Perubahan untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Anak-Anak

Oleh: Melania Niken Larasati - Child Protection Officer




Peserta workshop Violence Against Children di Makassar

“Kekerasan fisik bukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia selama memiliki tujuan lebih tinggi."


Mendengar pernyataan tersebut, hadirin mulai merasa tidak nyaman, sebagaimana saya bertanya-tanya: bila pandangan seperti ini dapat dengan begitu saja diungkapkan di sini, di Makassardi sebuah lokakarya yang bertujuan untuk menghapus kekerasan terhadap anak (Violence Against Children - VAC) - seberapa luas tindak kekerasan ini terjadi di antara kaum muda?

Beberapa hari kemudian di Banda Aceh, dalam lokakarya pemuda terakhir dari tiga lokakarya yang diselenggarakan oleh Youth Network on Violence against Children (YNVAC), jelas bahwa banyak orang memandang VAC sebagai hal yang bisa ditolerir – meskipun terdapat cukup banyak bukti terkait dampaknya yang berbahaya.

“Setelah dicubit, saya belajar untuk datang tepat waktu, jadi saya tidak pernah terlambat lagi,” ujar seorang peserta. “Ayah saya sering memukul saya, tapi ini membuat saya menjadi tangguh.... dipukul adalah bagian dari orientasi sekolah, jadi normal saja melakukan hal ini,” ujar peserta lain.

Sejak tahun 2015, kelima anggota YNVAC – Aliansi Remaja Independen (ARI), Sudah Dong, Action! Kompak Jakarta dan Sinergi Muda – sudah bekerja keras untuk mengubah sikap ini. Dengan dipandu oleh pemuda, perubahan besar adalah hal yang memungkinkan.

Didasarkan pada kesuksesan lokakarya pertama mereka pada tahun 2015, YNVAC mengundang 60 pemuda untuk ikut serta dalam lokakarya 2017. Tujuannya adalah untuk terus mempersiapkan pemimpin muda dalam memerangi VAC.

Akan tetapi, tahun ini, lokakarya disesuaikan dengan tantangan khusus yang dihadapi setiap kota.  Di Makassar, contohnya, para peneliti YNVAC menemukan bahwa hukuman badan merupakan hal yang sangat umum. Akan tetapi, di Surabaya dan Banda Aceh, tindak perundungan adalah masalah yang lebih menyebar.


Peserta lokakarya Makassar menerima modul mengenai mengakhiri PerundunganJadilah seorang teman, bukan perundung

Di Surabaya, Yori dan Duan, dua fasilitator YNVAC bersama Sudah Dong, berbicara tentang cara mengenali tindak perundungan dalam semua bentuknya. Keduanya mempunyai pengalaman bagaimana rasanya merundung dan dirundung. 

Terharu dengan kejujuran mereka, para peserta mulai bersikap terbuka. Beberapa di antara mereka berkata bahwa mereka sudah mengambil tindakan konkrit untuk mengubah kultur perundungan.

“Teman-teman saya dan saya tidak sependapat mengenai bagaimana masa orientasi dilaksanakan, sehingga ketika kami menjadi mahasiswa senior, kami menyerahkan modul baru kepada Dekan.  Meskipun dibenci oleh mahasiswa senior lainnya, yang sudah berharap untuk membalas penderitaan yang pernah mereka alami, kami berhasil membangun kultur yang baru dan lebih positif,” ujar seorang peserta Makassar.

Jojo, seorang anggota ARI, menunjukkan pada peserta lokakarya Makassar bagaimana pemetaan yang cermat terhadap lapisan ekonomi, kultural, dan agama masyarakat, dapat mengungkapkan strategi intervensi yang sebelumnya tidak terlihat.

Di Banda Aceh, contohnya, kami mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Husnul, pendiri Taman Pendidikan Masyarakat di Desa Lambirah, yang berjarak 40-menit berkendara bis di sebelah selatan kota.

Anak-anak Desa  Lambirah 

Husnul membahas tentang penolakan terhadap pusat perlindungan anak miliknya yang awalnya terjadi, ketika para sesepuh desa secara terus terang mengkhawatirkan bahwa dia berusaha membawa pengaruh barat pada pemuda setempat. Setelah melihat manfaatnya – bagaimana anak-anak mengembangkan minat untuk membaca, contohnya, dan bukan bermain video game -- mereka lebih mendukung  pekerjaannya. 

“Melihat bagaimana seseorang bisa membuat dampak besar seperti itu dengan sumber daya minimal, saya termotivasi untuk memulai sebuah proyek untuk membantu anak-anak di lingkungan tempat tinggal saya sendiri,” ujar seorang peserta.

Singkat kata, dengan dukungan UNICEF, YNVAC sudah melatih 60 pemimpin VAC pemuda melalui pelatihan tahun ini. Ke-60 pemuda itu berjanji untuk merekrut 50 pemuda lain, membangkitkan harapan bahwa 3000 advokat pemuda siap untuk mulai menantang, dari bawah, sikap permisif terhadap VAC.Ketika diminta untuk memberi nasihat terakhir untuk para pemimpin muda ini, Husnul berkata langkah pertama dari perjalanan ini adalah yang tersulit.“Yang penting dalam upaya untuk membuat perubahan adalah memulainya. Namun, begitu Anda mulai, tidak ada jalan selain melangkah ke depan.”



UNICEF sambut komitmen Gubernur untuk mengakhiri kekerasan terhadap anak

UNICEF sambut komitmen Gubernur untuk mengakhiri kekerasan terhadap anak

Oleh Kinanti Pinta Karana, Spesialis Komunikasi UNICEF Indonesia

Gubernur Ganjar Pranowo (tengah, bertopi hitam) mengatakan anak-anak Indonesia harus tumbuh dengan hebat karena mereka adalah pemimpin masa depan.  © UNICEF Indonesia/2015/Julianingsih

Derai tawa anak-anak terdengar di halaman gedung DPRD Semarang dimana ratusan orang berkumpul untuk merayakan Hari Anak Sedunia.

Tamu kehormatan dalam acara yang diselenggarakan oleh pemerintah provinsi Jawa Tengah bersama UNICEF dan sejumlah mitra lainnya adalah Gubernur Ganjar Pranowo.

Ia menunjukkan dukungan besar terhadap kesejahteraan anak Indonesia dengan bergabung dalam kampanye Pelindung Anak. “Anak-anak di Jawa Tengah harus tumbuh hebat karena mereka akan menjadi pemimpin Indonesia masa depan,” kata Bapak Ganjar setelah ia mendaftar online sebagai Pelindung Anak.


Gubernur Ganjar Pranowo setuju dengan pesan kampanye Pelindung Anak dan ia mengajak semua masyarakat Jawa Tengah agar menjadi orang tua dari semua anak (Foto: Naning Julianingsih/UNICEF Indonesia)

 Pelindung Anak adalah kampanye yang diluncurkan oleh UNICEF dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak awal tahun ini untuk meningkatkan kesadaran terhadap dampak kekerasan terhadap anak dan menciptakan gerakan yang membantu mengakhiri perlakuan salah terhadap anak.

Inti dari kampanye ini adalah sebuah website (www.pelindunganak.org) yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman terhadap bermacam-macam jenis kekerasan dan dampaknya terhadap anak-anak. Website itu juga memberikan informasi kemana korban bisa mendapat pertolongan sekaligus membentuk komunitas online dimana topik ini bisa didiskusikan dan berbagai informasi berguna bisa dibagi.

Kampanye itu sendiri meliputi iklan layanan masyarakat untuk televisi, konten media sosial dan billboard digital, semuanya mengacu kepada falsafah Gotong Royong dengan pesan: “Semua anak adalah anak kita.”

 “Pesan itu sangat tepat. Setiap orang bisa dan harus menjadi orang tua dari semua anak untuk melindungi mereka dari kekerasan. Saya menyerukan kepada semua masyarakat Jawa Tengah untuk menjadi orang tua dari anak-anak kita sehingga mereka bisa tumbuh menjadi orang yang luar biasa,” kata Bapak Ganjar.

Ia bergabung dengan sejumlah figur publik lain yang sudah lebih dulu mendaftar sebagai Pelindung Anak termasuk Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Ibu Yohana Yembise dan Duta Nasional UNICEF Indonesia Ferry Salim.

“Kami sangat berterima kasih untuk dukungan Bapak Ganjar Pranowo terhadap Pelindung Anak. Kami berharap semua gubernur lain akan mengikuti langkah beliau dan berkomitmen penuh untuk mengakhiri kekerasan terhadap anak,” kata Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Gunilla Olsson.

Sebagai bagian dari kampanye itu, UNICEF juga menyebarkan informasi penting tentang sifat dan cakupan kekerasan terhadap anak di Indonesia yang meliputi:

  • 40 persen anak berusia 13-15 tahun melaporkan pernah diserang secara fisik sedikitnya satu kali dalam satu tahun.
  • 26 persen anak melaporkan menerima hukuman badan dari orang tua atau pengasuh mereka di rumah. 
  • 50 persen anak melaporkan bahwa mereka di-bully di sekolah. 
  • 45 persen perempuan muda dan anak perempuan Indonesia percaya bahwa suami/pasangan dibenarkan memukul istri/pasangannya dalam kondisi-kondisi tertentu. 

“Mencegah kekerasan terhadap anak harus dilakukan sebagai upaya kolektif oleh orang tua, guru, tetangga, sektor privat, masyarakat sipil dan pemerintah bersama dengan anak-anak dan orang muda itu sendiri. Hanya karena kita tidak bisa melihat kekerasan, tidak berarti kekerasan itu tidak terjadi. Kita semua punya tanggung jawab untuk menyorot yang tidak terlihat,” kata Ibu Gunilla.

Bergabunglah sebagai Pelindung Anak di www.pelindunganak.org.


Dukungan besar pada acara pendaftaran Pelindung Anak

Dukungan besar pada acara pendaftaran Pelindung Anak


Ribuan orang telah mendaftar jadi Pelindung Anak, termasuk Menteri Yohana Yembise (kedua dari kiri) dan Duta Nasional UNICEF Indonesia Ferry Salim (kanan). ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Masyarakat Indonesia dari berbagai latar belakang  berkumpul pada Hari Anak Sedunia 2015 untuk mencegah kekerasan terhadap anak dan menjadi Pelindung Anak.

Acara pendaftaran kampanye inovatif bertajuk Pelindung Anak ini dihadiri antara lain oleh Menteri, aktor, psikolog, serta model.

Tujuan kampanye ini adalah menciptakan sebuah gerakan untuk meningkatkan kesadaran tentang serta memulai aksi untuk mengakhiri kekerasan terhadap anak.

Peserta diajak untuk mengunjungi website kampanye tersebut (www.pelindunganak.org), di mana mereka bisa mendapat informasi tentang kekerasan terhadap anak di Indonesia, dan berkomitmen untuk melindungi anak-anak di sekeliling mereka.

"Kekerasan terhadap anak adalah krisis tersembunyi di Indonesia. Ini hanya bisa dihentikan jika kita semua bergabung dan melindungi setiap anak seolah-olah mereka adalah anak kita sendiri," kata Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia, Gunilla Olsson. "Jika seluruh desa dibutuhkan untuk membesarkan seorang anak, maka seluruh desa juga dibutuhkan untuk melindungi seorang anak."


Di antara yang sudah bergabung dalam daftar Pelindung Anak adalah Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise, Duta Nasional UNICEF Indonesia Ferry Salim, dan aktris Raline Shah serta Alya Rohali.

"Menurut saya daruratnya (kekerasan anak) sudah dari dulu, bukan hanya sekarang. Tapi, dulu itu dianggap aib dan banyak orang enggak mau tahu," ujar Ibu Yohana di acara ini.

"Kampanye ini mengajak kita semua untuk merasa punya moral menjadikan semua anak-anak sebagai anak kita," kata Ferry Salim, yang telah menjadi Duta Nasional UNICEF di Indonesia selama lebih dari sepuluh tahun.

Panel diskusi di acara pendaftaran Pelindung Anak bersama Ali Aulia Ramly dari UNICEF, Psikolog Anak Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Wakil Menteri Perlindungan Anak Pri Budiarta Nur Sitepu, Duta Nasional UNICEF Indonesia Ferry Salim dan aktivis Citra Natasya. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Ibu Gunilla menambahkan: "Ini saatnya untuk menyorot yang tidak terlihat menjadi tampak. Saatnya untuk bertindak. Sudah waktunya untuk mengakhiri kekerasan terhadap anak. Saya seorang Pelindung Anak dan saya harap semakin banyak orang yang akan bergabung."

Beberapa poin penting tentang kekerasan terhadap anak di Indonesia:

  • 40 persen anak usia 13-15 tahun pernah diserang secara fisik setidaknya sekali dalam satu tahun.
  • 26 persen anak-anak mengalami hukuman fisik dari orangtua atau pengasuh di rumah.
  • 50 persen anak-anak melaporkan pernah di-bully disekolah.
  • 45 persen perempuan Indonesia percaya bahwa suami /pasangan berhak memukul mereka dalam kondisi tertentu.

"Konsekuensi dari tidak menangani kekerasan terhadap anak di Indonesia bisa sangat parah. Anak korban kekerasan fisik, seksual dan emosional sering menderita konsekuensi jangka panjang, termasuk kondisi fisik dan psikologis, "kata Ibu Gunilla.

Semua warga Indonesia dianjurkan untuk mengunjungi website kampanye dan menjadi Pelindung Anak: www.pelindunganak.org

We Are Siblings Graduation: Inovator Muda Mengubah Kehidupan

We Are Siblings Graduation: Inovator Muda Mengubah Kehidupan

By Vania Santoso – Innovation Lab Youth Engagement Officer

Upacara kelulusan We Are Siblings. ©UNICEF Indonesia/2015

"Dulu aku sudah berkali-kali hampir menyerah.Tapi sekarang aku bahagia karena tidak jadi melakukannya."

Kalimat sederhana yang diucapkan oleh Cynthia Andriani, anggota We Are Siblings, saat proyek percontohan (pilot project) mereka berakhir di Bogor ini membuatku meneteskan air mata. Cynthia telah merangkum jerih payah dan kesuksesan yang dirasakan bersama para inovator muda lainnya dalam beberapa bulan terakhir.

We Are Siblings adalah proyek mentoring tentang anti-bullying (perundungan) yang dikembangkan oleh mahasiswa Intitut Pertanian Bogor (IPB). Proyek ini memenangi Kompetisi Global Design for UNICEF Challenge pada awal tahun ini sehingga mendapatkan dana hibah 2.500 dolar Amerika dari UNICEF untuk mengimplementasikan inisiatif mereka.

Proyek ini diawali dari enam mentor We are Siblings yang mendampingi 29 anak untuk menemukan cara-cara inovatif dalam mengatasi perundungan, baik secara tatap muka maupun online. Sesi tatap muka melibatkan satu mentor yang langsung terjun mendampingi sekelompok anak melalui modul anti-penindasan; Sementara sesi online menjadi sarana pendukung, menjalin komunikasi sehari-hari lewat SMS dan aplikasi pengirim pesan lainnya.


Inisiatif seperti ini sangat penting di Indonesia – mengingat kekerasan terhadap anak telah meluas di seluruh daerah. Studi UNICEF terbaru, “Hidden in Plain Sight” mengungkap bahwa 40% pelajar usia 13-15 tahun melaporkan pernah mengalami kekerasan fisik  di sekolah.
We Are Siblings mengakhiri proyek percontohannya lewat acara kelulusan yang memberikan masukan menarik pada proyek ini dan menunjukkan bagaimana para inovator dapat benar-benar mengubah kehidupan para pelajar muda.

Hari kelulusan diawali dengan sebuah drama tentang tiga remaja yang ditindas secara verbal, fisik, bahkan di media sosial – untuk menunjukkan bahwa perundungan dapat terjadi pada anak muda Indonesia di mana saja. Bagi beberapa orang bahkan seolah tidak ada jalan keluar.
Anak-anak muda itu kemudian menuturkan kisah-kisah pribadi mereka tentang perundungan dan kemudian membahas tema “semua anak unik dan berharga.” Hal ini merefleksikan apa yang telah dilakukan We Are Siblings, membantu peserta membangun kepercayaan diri yang lebih lewat modul pelatihannya.

“Anak saya dulu selalu di-bully, mulai dari kata-kata sampai fisik, tapi dia tidak langsung cerita ke saya," ujar Pak Nyoman Heru sebagai perwakilan orang tua. "Sejak bergabung dengan proyek ini, dia jadi lebih terbuka cerita perasaan dan pengalamannya terkena bully."

Pernyataan kuat lain berasal dari Jabir Al Hayyan, peserta yang duduk di bangku kelas 6 SD. "Senang ikut programnya. Saya siap untuk meneruskannya, mendukung teman-teman lain yang di-bully," ujarnya.

Tayangan cuplikan video dari proyek percontohan ini mendapat tepuk tangan gemuruh. "Presiden di masa depan, pilot di masa depan, olahragawan di masa depan": kalimat pembuka ini diikuti oleh foto anak-anak yang memiliki mimpi-mimpi tersebut. Video ini pun menekankan bagaimana We Are Siblings telah mengembangkan jati diri dan cita-cita peserta.

Para mentor telah membangun hubungan yang sangat dekat dengan tiap anak. Salah satu mentor, Nensi Sarina berkata, "Kalian memiliki cita-cita luar biasa dalam hidup, ada Sahrul yang ingin menjadi polisi, ada Alifa jadi pramugari." "Aku benar-benar senang bisa bersama kalian, Mutia yang pintar dan sopan, Nirwan yang cerewet tapi mengayomi adiknya," ucap Irsalina Nurin Oktafiani yang menunjukkan akrabnya hubungan dengan setiap anak bimbingannya.

Keenam mentor kemudian naik ke atas panggung di akhir acara dan semua anak berlari untuk memberikan bunga kepada mentor mereka masing-masing diikuti dengan ucapan terima kasih yang menyentuh dari Cynthia. Menyerah bukan pilihan Karena setiap masalah ada jalan keluarnya.

Mengimplementasikan sebuah proyek yang baru dan inovatif tentu memiliki banyak suka duka, namun itu semua terbayar sudah. Proyek ini benar-benar sesuai dengan namanya: Kita Bersaudara, We Are Siblings!


Memutus Lingkaran Kekerasan

Memutus Lingkaran Kekerasan

Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

Senjata yang dibuat oleh Rama (15 tahun). ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Di pusat komunitas Sulawesi Selatan, Rama* (15) memperlihatkan sebuah koleksi anak panah bermata logam yang tajam. Remaja yang berbicara dengan lembut ini menjelaskan bagaimana dia membuat dan menjual anak-anak panah tersebut kepada teman-teman sebayanya. Mereka terbiasa dengan perkelahian antar kelompok yang terkadang terjadi di lingkungan tempat tinggal mereka. “Kekerasan ada dimana-mana,” ujarnya.

Kisah kehidupan rama sama dengan banyak anak muda di Indonesia. Dia tumbuh dan berkembang di tengah-tengah kekerasan-kekerasan orang tua, guru, teman. Ketika Rama memasuki masa remajanya, kekerasan bukan hanya hal yang maklum, tetapi sebuah rutinitas hidup.

“Saya mulai berkelahi di sekolah. Saya juga akan berkelahi di jalan,” ujarnya. Hal ini merupakan lereng terjal yang harus dilalui Rama. “Suatu hari paman saya memberi pisau badik. Lalu saya berkelahi dengan pisau dan saya tertikam,” ujar Rama sambil mengangkat kaus yang dipakainya dan menunjukkan bekas luka.


Hidup Rama menjadi tidak terarah. Dia putus sekolah, meninggalkan rumahnya, ikut terlibat dalam gerombolan geng lokal dan pernah dipenjarakan. “Saya bahkan sampai lupa sudah berapa kali bermasalah dengan polisi,” ujarnya.

Dan selama  ini, Rama melihat kekerasan sebagai solusi, bukan masalah.

Profesor Siti Aisyah Kara adalah pemuka agama yang aktif dalam menekan angka kekerasan terhadap anak. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Menetapkan Pendirian

Kekerasan tersebar luas di Indonesia: Dalam survei terkini, 40 persen anak-anak berusia 13-15 tahun dilaporkan telah diserang di sekolah dalam jangka 12 bulan terakhir; 48 persen perempuan percaya bahwa kekerasan rumah tangga adalah hal yang lumrah; angka bullying merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. “Namun tetap saja dialog nasional terkait hal ini masih absen.”

Sejumlah masyarakat Indonesia dari latar belakang yang berbeda mencoba untuk mengubah hal ini. Beberapa dari mereka pernah mengalami kekerasan langsung, beberapa yang lain merasa bahwa kekerasan mempengaruhi kehidupan secara tidak langsung. Semua berkumpul untuk mengakhiri kebisuan seputar topik kekerasan.

Kepala Bidang Kualitas Hidup, Perlindungan Perempuan dan Anak, Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Provinsi Sulawesi Selatan, Nur Anti Madjid memiliki delapan juta konstituen di provinsinya. “Dimanapun desanya, dusun atau kota, kekerasan terhadap anak bersifat universal.”

Nur Anti mengatakan bahwa disiplin adalah motivator utama. “Orang tua dan guru merasa bahwa hukuman fisik dibutuhkan untuk mendisiplinkan anak,” ujarnya. Hukuman-hukuman yang kerap dilakukan mulai dari mencubit, menjambak rambut, menampar, hingga memukul. Umumnya dilakukan dengan alasan “demi kebaikan anak.”

UNICEF memulai kerja sama dengan Pemerintah Sulawesi Selatan. Pelatihan dan lokakarya Anti-Kekerasan telah dikembangkan untuk orang tua dan guru di Provinsi tersebut. “Kami melakukannya dengan cara-cara yang positif,” ujar Nur Anti. “Kami menunjukkan bagaimana mendisiplinkan anak tanpa menggunakan hukuman fisik adalah hal yang positif bagi orang tua, guru dan anak-anak.”

Di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Profesor Siti Aisyah Kara menerapkan langkah yang berbeda untuk menekan angka kekerasan. Ahli ajaran Islam ini tengah menjalankan misi untuk mendidik masyarakat Indonesia tentang bagaimana Al-Qur’an dan Hadis melarang kekerasan seksual, emosional dan fisik terhadap anak-anak.

“Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk Muslim,” ujarnya. “Banyak orang di sini melihat dunia melalui kacamata agama. Jadi akan sangat efektif untuk menyampaikan isu kekerasan terhadap anak-anak melalui cara pandang agama.”

UNICEF bekerja sama dengan Profesor Aisyah untuk membuat kajian materi terkait perlindungan anak untuk pemuka agama. Para pemuka agama ini lalu menggunakan bahan ini untuk mendidik komunitas mereka. “Setiap anak punya hak untuk bebas dari kekerasan,” ujarnya. “Saya mencoba untuk menunjukkan bagaimana hal ini adalah tanggung jawab semua orang.”

Profesor Aisyah juga fokus pada perkawinan usia anak, yang berdampak pada satu dari enam anak perempuan di Indonesia . Anak perempuan yang menikah diumur yang terlalu dini akan lebih berisiko terhadap kekerasan dalam rumah tangga dan penganiayaan. “Perkawinan anak tidak datang dari ajaran Islam,” ujarnya. “Sebaliknya, kita harus mendukung kemajuan anak-anak perempuan Indonesia,

Debi, Firda, Dhanu dan Auzain adalah anggota Forum Anak Sulawesi Selatan, dimana mereka berdiskusi tentang kekerasan terhadap anak. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Masa Depan yang Lebih Baik

Anak muda Indonesia mulai mengangkat suara mereka terkait kekerasan. Mereka menghadapi populasi yang segan membicarakan topik yang tabu ini, dibarengi juga dengan banyaknya tradisi dan kesalahpahaman. Tetapi untuk Forum Anak Sulawesi Selatan, tantangan ini dapat diatasi.

Forum Anak telah dibentuk di seluruh Indonesia oleh KPPPA, dengan dukungan UNICEF. Forum ini memberikan anak-anak kesempatan untuk berpartisipasi dalam isu sosial yang mempengaruhi kehidupan mereka. UNICEF baru saja menggelar diskusi dengan anggota Forum Anak Sulawesi Selatan untuk mendapatkan pandangan anak terhadap kekerasan.

Seluruh anak-anak muda ini dapat mengingat kembali kapan mereka melihat terjadinya kekerasan. “Seorang anak di tempat tinggal saya mencuri uang sehingga ibunya memukulnya dengan batu besar,” ujar Debi. “Di sekolah, seorang guru memukul muridnya dengan penggaris hingga tangan murid itu patah,” ingat Galo. Satu cerita sangatlah mengenaskan. “Seorang anak yang saya kenal dibakar dengan bahan kimia sebagai bentuk pendisiplinan.”

Auzan merangkum situasi saat ini: “Masyarakat kita berpikir kekerasan itu normal,” ujarnya. “Kita hidup di tengah kekerasan setiap hari. Tetapi anak-anak Indonesia tidak layak untuk diperlakukan seperti itu. Jadi kami mencoba untuk mengatasinya.”

Kelompok ini melakukan banyak cara. Mereka memulai debat terkait topik kekerasan melalui sosial media, bekerja sama secara langsung dengan komunitas yang memiliki tingkat penganiayaan yang tinggi dan memberikan bantuan untuk anak-anak yang berisiko terpapar kekerasan. “Kami memulai dengan diskusi,” tambah Dhanu.

Dan solusi yang paling efektif tampaknya adalah yang paling sederhana. “Sangat penting untuk menjadi contoh,” ujar Auzan. “Kami mau menunjukkan bahwa kekerasan tidak boleh digunakan, apapun itu masalahnya.” Ini adalah langkah penting dalam mengubah masyarakat yang sudah mempunyai penerimaan terhadap kekerasan.

Sementara itu bagi Rama, hidupnya perlahan berubah sejak tahun lalu. Dia mulai ikut serta dalam program anti-kekerasan, termasuk yang didukung oleh UNICEF. Perjalanannya masih panjang tetapi ada aspirasi di dalamnya. “Saya sekarang memikirkan masa depan saya,” ujar Rama, dengan nada yang bahagia.

Setidaknya satu lingkaran kekerasan telah terurai.

*Bukan nama sebenarnya


Perkawinan Anak Menjadi Perhatian Penting di AJI-UNICEF Media Awards 2015

Perkawinan Anak Menjadi Perhatian Penting di AJI-UNICEF Media Awards 2015

Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer


Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Gunilla Olsson menyapa para wartawan di AJI-UNICEF Media Awards 2015 ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker


JAKARTA, Indonesia, 13 Agustus 2015
– Prevalansi yang tinggi dan dampak negatif perkawinan usia anak di Indonesia menjadi fokus penting dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) and UNICEF Media Awards 2015 di Jakarta.

AJI-UNICEF Media Awards  diadakan setiap tahun sejak 2006 untuk menghargai keunggulan karya jurnalistik tentang isu hak-hak anak. Untuk tahun ini total 318 peserta mengirimkan cerita, foto, liputan TV dan radio.

Perkawinan usia anak dipilih menjadi fokus acara tahun ini. Hal ini relevan dengan keputusan Mahkamah Konstitusi yang menolak perubahan isi undang-undang pernikahan Indonesia yang sudah ada — memperbolehkan anak perempuan untuk menikah pada usia 16 tahun, sedangkan anak laki-laki pada usia 19 tahun. Keputusan ini telah membuka dialog nasional seputar perkawinan usia anak.
“Satu dari enam anak perempuan menikah sebelum berusia 18 tahun – angkanya mencapai 340.000 setiap tahun. Sedangkan 50.000 anak perempuan lain menikah sebelum usia 15 tahun. Setiap anak-anak ini kehilangan masa kanak-kanaknya,” ujar Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Gunilla Olsson.

“Pengantin muda lebih berisiko untuk putus sekolah; hamil terlalu cepat, yang mengakibatkan sejumlah risiko kesehatan yang berbahaya bagi ibu dan bayinya; dan terjebak kemiskinan yang kemudian diteruskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Dengan demikian, perkawinan anak terus menjadi beban di Indonesia,” ujar Ibu Gunilla.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Ibu Yohana Yembise menegaskan keterkaitan perkawinan anak dengan kekerasan: “Banyak anak perempuan yang menikah diumur yang masih sangat muda menjadi korban kekerasan.” Oleh karena itu, beliau menekankan bahwa isu perkawinan anak adalah isu perkembangan yang sangat penting. “Negara kita tidak akan mampu berkompetisi untuk beberapa dekade ke depan jika anak-anak kita tidak mendapatkan awal kehidupan yang terbaik.”


The 2015 AJI-UNICEF Media Awards panel discussion ©UNICEF Indonesia/2015/Rafael Klavert

UNICEF dan AJI menggunakan kesempatan ini untuk mengadakan diskusi panel terkait perkawinan usia anak. Tokoh pemerintah dan mitra masyarakat madani mendiskusikan penyebab, efek dan solusi-solusi yang ada untuk isu ini. 

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’thi tidak setuju dengan konsepsi bahwa Islam mendukung perkawinan anak. “Beberapa pihak dalam agama Islam berpikir bahwa anak perempuan boleh menikah jika sudah bisa bereproduksi, tetapi pernikahan bukanlah sekedar kematangan fisik, tetapi juga kematangan intelektual dan spiritual, “ ujar Pak Abdul.

Beliau juga menegaskan bahwa perkawinan anak kerap kali menyebabkan putus sekolah — dengan dampak negatif. “Indonesia akan memiliki generasi yang kuat jika para ibu juga berpendidikan. Setiap anak perempuan harus memiliki kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan mereka,” ujarnya.

Anggara Suwahju dari Koalisi 18+ mengatakan bahwa perbedaan peraturan dalam undang-undang pernikahan di Indonesia, yang memperbolehkan anak perempuan untuk menikah pada umur 16 tahun sedangkan untuk anak laki-laki pada umur 19 tahun, mendorong perkawinan anak. “Angka perkawinan anak yang tinggi di Indonesia menghalangi negara kita untuk bersaing di kancah global,” ujarnya.

Anggota Senior AJI dan Ketua South-East Asia Press Alliance Eko Maryadi mengajak para wartawan yang datang untuk terus berkomitmen dalam mengangkat isu hak-hak anak dan menyampaikannya ke publik. “Perkawinan anak kerap kali tersembunyi di balik isu-isu lain,” ujarnya, “tetapi semoga hal ini tidak akan terus berlanjut untuk ke depannya.”


Video animasi UNICEF terbaru tentang perkawinan usia anak di Indonesia ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Video animasi UNICEF terbaru tentang perkawinan usia anak di Indonesia juga diluncurkan dalam rangkaian acara AJI-UNICEF Media Awards 2015. Animasi ini menceritakan bagaimana keputusan menikah atau tidak menikah diusia muda adalah titik penting bagi anak perempuan di Indonesia — pernikahan bisa membatasi mereka dengan tantangan pendidikan, finansial dan kesehatan, sementara menunda pernikahan akan berbuah pada kehidupan yang sejahtera dan Indonesia yang lebih kuat.

Video ini, diskusi panel dan karya jurnalistik tentang perkawinan anak merepresentasikan langkah penting dalam membawa isu genting ini ke ranah publik.

Pemenang dari masing-masing kategori adalah:

Cetak/online: Bayu Maitra, Majalah Reader’s Digest Indonesia – “Perspektif Thomas”.
Fotografi: Wendra Ajistyatama, The Jakarta Post – “Commute”.
Radio: Purwoto, Radio Suara Pacitan – “Mereka Korban Nikah Dini”.
Televisi: Karya Budi Santoso and Rebecca Henschke, Tempo TV – “Child Jockey”.


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia