Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Jawa Timur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jawa Timur. Tampilkan semua postingan
Pramuka Sebagai Agen Perubahan

Pramuka Sebagai Agen Perubahan

Oleh: M. Ilham Akbar Junior

Pertemuan lima tahunan bagi Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega yang aktif di satuan Karya Pramuka Bakti Husada (Saka Bakti Husada) tingkat nasional akan digelar pada 17-23 Oktober 2016 bertempat di Bumi Perkemahan Serut, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Kegiatan dalam bentuk perkemahan bakti ini  disebut Perkemahan Bakti Satuan Karya Pramuka Bakti Husada Tingkat Nasional ke V (PERTINAS SBH 2016).

Pada kegiatan perkemahan ini UNICEF ikut andil dalam mendukung pelaksanaan kegiatan dalam beberapa segmen: pendirian booth informasi kerjasama, dukungan material peraga untuk pendalaman krida Bina Lingkungan Sehat dalam platform WASH dan pendalaman krida Bina Gizi Sehat dalam platform Adolescent Nutrition. Dimana seluruh kerjasama ini didasarkan oleh cita-cita pengabdian yang selaras antara Gerakan Pramuka dan UNICEF, diharapkan melalui kerjasama ini potensi kemanfaatan dari kedua organisasi tersebut dapat tercapai. Dengan tagline “Pramuka adalah sebagai agen perubahan” diharapkan setiap pribadi Pramuka bisa menjadi contoh yang bagus di masyarakat untuk turut mensukseskan program-program UNICEF yang memiliki pengaruh positif dan perubahan pada masyarakat.

PERTINAS SBH 2016 dibuka oleh Wakil Gurbernur Gus Ipul dan Bupati Blitar Bpk. Krijanto.

Pada hari pertama pelaksanaan PERTINAS SBH 2016, sejak pagi hari sudah terlihat aktivitas pada booth UNICEF, dari divisi Nutrition UNICEF melakukan kegiatan pre-test material dari modul nutrition dengan mengundang kakak-kakak Pramuka untuk berdiskusi mengenai materi yang terkandung dalam modul pelatihan gizi untuk pramuka yang direncanakan akan digunakan pada aktivitas follow up pasca Pertinas SBH 2016. Diskusi tersebut dilakukan dengan proses reading materi oleh Pramuka, lalu dari pihak Pramuka akan memberikan opini dari sudut pandang mereka masing masing. Dari diskusi tersebut didapatkan beberapa point yang bisa digunakan sebagai bahan improvement untuk materi Nutrition kedepannya.


Rekan dari divisi Nutrition melakukan diskusi dengan kakak-kakak Pramuka

Melalui kegiatan reading material ini, program officer dari UNICEF dapat melihat kesesuaian material dengan rentang usia penerima yang akan menjadi target dari aktivitas program kerjasama dengan UNICEF pasca kegiatan Pertinas SBH 2016.

Aktivitas ini melibatkan beberapa adik-adik pramuka dari tingkat Penegak dan Pandega yang berasal dari beberapa daerah yang ikut dalam kegiatan Pertinas SBH 2016 seperti Daerah Istimewa Yogyakarta, Papua, NTB, Jawa Tengah, maupun dari wilayah lokal dari Kabupaten Blitar.

Dikutip dari wawancara dengan kak Tama, “Ini salah satu kerjasama yang sangat baik, kegiatannya semoga bisa diperbanyak contohnya adalah Pramuka dengan UNICEF membuat acara perkemahan yang secara khusus untuk melakukan penyuluhan kepada Pramuka muda Indonesia tentang kepedulian terhadap anak-anak dan ibu.” Kak Tama adalah salah satu peserta PERTINAS SBH 2016 yang merasa senang dan bangga bisa menjadi agen perubahan dengan ikut dalam program program UNICEF. Kak Tama juga terdaftar sebagai U-Reporter yang siap berperan aktif dalam melaporkan hal hal yang penting dilaporkan.

Kak Tama, Pramuka dari Kontingen Jogja

Salah satu program menarik yang ada dalam booth UNICEF adalah U-Report, khusus untuk program ini disediakan berbagai macam doorprize menarik yang membuat Pramuka muda bersemangat untuk ikut andil dan mempromosikan sebagai bagian dari U-Reporter. Masing masing Pramuka diberikan penyuluhan bagaimana caranya untuk menjadi bagian dari U-Reporter menggunakan media social Facebook dan Twitter mereka. U-Report diharapkan mampu dimanfaatkan secara penuh oleh kakak-kakak Pramuka yang peduli dengan anak-anak dan ibu di sekitar lingkungan sekitar mereka hanya dengan menggunakan media social mereka.

Penjelasan U-Report kepada Pramuka di booth UNICEF.

Dengan antusias mereka mendengarkan penjelasan materi yang menarik dari tim Communication yang diselingi dengan game-game seru dengan hadiah yang juga menarik tentunya.

Kak Ikhsan, Pramuka dari Kontingen Papua

Salah seorang peserta lainnya yaitu kak Ikhsan mengutarakan pendapatnya, “Harapan saya untuk anak-anak Indonesia harus sehat, sadar dengan gizi mereka, dan tidak boleh lagi ada kasus kekurangan gizi di Indonesia”. Kak Ikhsan bercerita bahwa di daerah masih banyak sekali kasus anak anak yang kekurangan gizi dan perlu dengan secara sigap dibantu agar bisa terlepas dari permasalahan tersebut. Kak Ikhsan juga sudah terdaftar sebagai bagian dari U-Reporter dan berniat untuk mengajak kakak-kakak Pramuka lainnya agar mau dan berperan aktif sebagai U-Reporter. Bagaimana dengan kamu? Ayo bergabung sebagai U-Reporter di sini


Melindungi anak melalui pencatatan kelahiran

Melindungi anak melalui pencatatan kelahiran

Oleh Kristi Eaton, Petugas Manajemen Komunikasi dan Pengetahuan UNICEF Indonesia

Siti Mariyam, Kepala Kantor Catatan Sipil di Pasuruan (kiri), membacakan isi akta kelahiran kepada Rahadi Joko Suparno dan Riya Ulfa Radila yang baru saja menjadi orang tua. ©UNICEF / 2016 / Kristi Eaton

Sepasang suami istri duduk tenang di pos kesehatan, tersenyum lebar pada bayi mereka yang baru lahir, hanya enam hari yang lalu. Beberapa menit kemudian, mereka menerima surat akta kelahiran si kecil Raka Maliki dan senyum mereka bertambah lebar.

"Ini adalah dokumen legal." ucap sang ayah, Rahardi Joko Suparno. "Benar. Surat ini menyatakan bahwa ia adalah anak saya. Sekarang dia bisa bersekolah dan memiliki masa depan."

Akta kelahiran adalah hak asasi manusia yang mendasar dan diperlukan untuk memperoleh pendidikan, pekerjaan, tunjangan kesehatan dan lain-lain. Akta ini juga melindungi anak agar tidak menjadi korban penjualan manusia. Tapi banyak orang di Indonesia tidak mengerti atau mengetahui cara-cara untuk mencatatkan kelahiran anak mereka dan mendapatkan akta kelahiran. Itulah sebabnya UNICEF menawarkan dukungan teknis pada pemerintah lokal untuk meningkatkan jangkauan layanan pencatatan kelahiran dan membangun layanan daring di rumah sakit bersalin, pos-pos kesehatan masyarakat dan kantor-kantor pedesaan.


Ibu Siti Mariyam menandatangani pendaftaran pernikahan dan kelahiran di kantornya di Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia. ©UNICEF / 2016 / Kristi Eaton

Pasuruan, sebuah kota dengan 212.000 orang di Jawa Timur, telah mulai melakukan ini. Di tahun 2010, hanya 60 persen anak di bawah usia 18 tahun yang memiliki akta. Kini angka itu telah mencapai 91 persen. Pasuruan adalah contoh yang sangat baik dari apa yang dapat dilakukan oleh masyarakat yang menjadikan perlindungan anak sebagai suatu prioritas.

"Adalah suatu penghargaan bahwa mereka diakui keberadaannya," Siti Mariyam, kepala divisi Catatan Sipil di Pasuruan, berkata tentang pencatatan kelahiran. "Akta itu membuat negara mengakui mereka, dan menyatakan, 'Saya ada di Indonesia.'"

Kini ada sistem daring di 34 desa di seluruh Pasuruan, dan desa Bakalan memiliki tingkat cakupan tertinggi di seluruh Pasuruan. Terima kasih terutama diberikan pada orang seperti Ahmad Efendi, pekerja di kantor desa yang membantu orang-orang untuk mengisi dan melengkapi proses pencatatan kelahiran. Efendi membantu rata-rata lima hingga enam orang setiap harinya untuk membuat akta kelahiran - beberapa sangat menuntut, beberapa kurang pengetahuan dan beberapa sangat terburu-buru. Sangat penting bagi Efendi untuk tetap tenang selama proses pencatatan dan mengingatkan orang-orang tentang kesempatan yang diberikan, ujarnya. "Saat saya melihat orang-orang tersenyum dan mengucapkan terima kasih, saya senang," tambahnya.

Ibu Ria Anggraini Sari mendaftarkan kelahiran bayinya yang berusia 9 bulan, Callista Alma Abida. ©UNICEF / 2016 / Kristi Eaton

Untuk Boedi Widayat, mempertahankan tingginya tingkat cakupan Pasuruan adalah pekerjaan yang sangat memakan waktu. Setiap hari, Widayat, yang adalah Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, berjalan ke kantornya, duduk di kursi kerjanya dan bekerja dengan komputernya. Dia mengamati semua pangkalan data (database) yang merinci tingkatan cakupan dan mencatat setiap perubahan besar dalam angka, yang terpenting adalah setiap turunan persentasi cakupan. Dia juga memeriksa kemajuan di penghujung hari. Saat di luar kantor, Widayat menggunakan ponsel Androidnya untuk memeriksa angka-angka itu.

Di malam hari, Widayat dan petugas-petugas lain dapat ditemui sedang memimpin pertemuan lingkungan untuk mengajar orang-orang tentang pentingnya akta kelahiran, pernikahan, perceraian dan kematian. Di satu pertemuan, Widayat menggunakan slide PowerPoint untuk menjelaskan yang sebenarnya diperlukan oleh setiap orang untuk mendapatkan akta kelahiran, menjelaskan daftarnya satu per satu dengan terperinci. Usaha yang sedemikian besar diharapkan akan membantu Pasuruan mencapai tujuan cakupan 100 persen  di tahun 2020.

"Ini semua tentang perlindungan untuk anak-anak Anda," ujar Widayat.

Untuk mempelajari lebih lanjut, kunjungi www.supportunicefindonesia.org.


Bersama SATAP Meraih Harapan Hidup yang Lebih Baik

Bersama SATAP Meraih Harapan Hidup yang Lebih Baik



Anak lelaki itu serius memperhatikan gurunya yang sedang menunjukkan cara membuat kerajinan dari anyaman bambu. Bersama teman-temannya, ia mencoba menganyam sebuah keranjang seperti arahan gurunya.

“Bagus sekali keranjangmu, Nang, kuncinya sabar dan teliti supaya hasil anyamannya rapi,” kata sang guru kepada anak lelaki bernama Nanang Sujatmiko itu. Nanang duduk di kelas 8 SMPN SATAP Grujugan, Bondowoso

Di kelas, Nanang tampak ceria belajar dan bermain dengan teman-teman sebayanya. Seusai jam sekolah, ia bergegas pulang ke rumah dan mulai bekerja. Di usia sangat muda, Nanang yang lahir dari keluarga miskin sudah harus menanggung beban hidup keluarga membantu ibunya yang seorang buruh tani, setelah sang ayah meninggal dunia. Tugasnya setiap hari mencari rumput untuk sapi milik tetangga yang menjadi tanggung jawab bapaknya semasa hidup dan kerja tani serabutan lain demi mendapat penghasilan untuk makan sehari-hari.

Kondisi demikian membuat sekolah dengan segala biaya dan kebutuhannya menjadi hal yang tampak tidak terjangkau bagi Nanang dan ibunya. Beruntung di desanya ada Sekolah Satu Atap atau SATAP sehingga ia bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP. Lokasi sekolah ini bisa dijangkau dengan berjalan kaki sehingga Nanang tidak harus mengeluarkan biaya transportasi.


Beruntung Nanang bersekolah di SATAP. Selain pelajaran akademis, di SATAP Nanang juga belajar keterampilan menganyam bambu yang dibuat menjadi karya kerajinan  seperti keranjang buah, kap lampu, tempat souvenir, dll. Keterampilan ini sangat bermanfaat untuk menambah pendapatan keluarga karena karya kerajinan tangan yang dihasilkan bisa dijual. Nanang juga mengajarkan keterampilan ini kepada ibunya dan mereka sudah mulai mendapatkan hasil meski belum seberapa. Nanang senang karena ada sumber pendapatan lain dalam keluarganya.

Hidup yang keras tidak membuat Nanang menjadi pribadi yang getir. Semangatnya tetap menyala untuk menuntut ilmu setiap hari. Sekolah baginya adalah sebuah istana tempat ia belajar ilmu yang berguna dari bapak dan ibu guru yang ramah dan penyayang, tertawa dan bermain bersama teman-temannya. Saat ini lingkungan belajar di sekolahnya juga lebih menyenangkan karena ruang kelasnya bersih, indah, nyaman, dan penuh sumber belajar yang setiap saat dapat diakses. Di sekolah, Nanang bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus memikirkan sapi yang harus diberi makan dan beban di pundaknya. Di sekolah, ia bisa kembali menjadi seorang anak. Di sekolah, hidup tampak lebih cerah.

Selepas SMP kelak, ia berharap bisa melanjutkan ke jenjang SMA meski ia belum punya bayangan dari mana biaya sekolah akan diperoleh. Selain itu, ia juga tidak bisa meninggalkan ibunya bekerja sendiri. Tapi masa depan memiliki jawabannya sendiri dan Nanang tahu dengan kerja keras dan keteguhan hati semua hal yang indah bisa terjadi, bahkan untuk seorang anak penggembala sapi.


Rani Wijayanti, Kartini Masa Kini

Rani Wijayanti, Kartini Masa Kini


"Banyak yang bisa kita pelajari dari berita di koran ini," kata seorang ibu guru kepada sekelompok siswa yang sedang melihat selembar surat kabar. Guru itu kemudian berjalan ke meja lain dan kembali terlibat percakapan seru dengan diselingi gelak tawa.

Pemandangan itu tampak di SMPN 2 Sekolah Satu Atap (SATAP) Botolinggo, Bondowoso, Jawa Timur dan ibu guru itu bernama Rani Wijayanti. Sosok guru IPS dan TIK ini tidak bisa dilepaskan dari SATAP tempat ia mengabdi selama lima tahun terakhir ini. ‘Mengabdi’ adalah kata yang tepat untuk menggambarkan dedikasi Ibu Rani. Meskipun honor yang ia terima setiap bulan sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) sangat minim, hanya di kisaran Rp. 300.000,- saja, Ibu Rani yakin bahwa mengajar adalah sebuah pekerjaan mulia karena ilmu pengetahuan yang ia bagi dan ajarkan kepada para siswa akan menjadi bekal hidup mereka.

Botolinggo adalah daerah terpencil dengan fasilitas publik yang masih minim, termasuk dalam bidang pendidikan. Namun kondisi itu tidak menghalangi Ibu Rani untuk memenuhi panggilan jiwanya sebagai pendidik. Jarak pulang pergi dari rumah ke sekolah mencapai 50 km dan ia menempuh perjalanan itu dengan angkot sambil menggendong anak dan melanjutkannya dengan menumpang warga atau teman ke lokasi SATAP yang terletak di Dusun Lucu.

Rutinitas itu ia lakukan setiap hari bukan tanpa alasan. Lahir dari seorang ibu buta aksara yang bekerja sebagai penyadap getah karet, Rani kecil bercita-cita untuk meraih gelar sarjana agar bisa menjadi guru dan memperkenalkan pendidikan kepada semua orang, agar tidak ada lagi anak bangsa yang buta aksara. Jalan Rani untuk mewujudkan masa depan impiannya sempat tersendat setelah ia dinikahkan selepas SMA. Namun semangatnya tidak surut untuk kembali melanjutkan pendidikan di universitas dan meraih gelar sarjana.

Proses belajar mengajar dengan pendekatan saintifik menggunakan media koran bekas. 

Ibu Rani tidak hanya mengajar, tetapi juga selalu berusaha menciptakan suasana dan kondisi belajar yang layak dan menyenangkan bagi murid-muridnya. Namun sekian tahun sebagai guru, ia merasa tidak banyak yang berubah. Kerja keras Ibu Rani tidak sia-sia karena pada tahun 2014, SATAP Botolinggo terpilih sebagai salah satu sekolah binaan pada Program Penguatan SATAP. Melalui program ini, kapasitas kepala sekolah, tenaga pengajar, dan komite sekolah ditingkatkan melalui pelatihan dan pendampingan oleh pengawas setempat dan fasilitator propinsi.

Sejak saat itu, SATAP yang dicintai Ibu Rani berangsur-angsur mengalami kemajuan membanggakan, termasuk dalam fasilitas seperti penambahan dua ruang kelas baru dan perlengkapan mengajar serta sebuah perpustakaan. Dari program bedah kelas, ruang kelas dibuat bersih, indah dan rapi  dengan berbagai sumber belajar. Ibu Rani kini dapat mengajar dengan pendekatan saintifik menggunakan media yang ada di lingkungan  dan memanfaatkan barang-barang bekas sehingga siswa betah belajar serta prestasi mereka pun meningkat.

Bagi Ibu Rani, perubahan tersebut sangat berarti karena pendidikan adalah lentera yang membuka cakrawala dan mencerahkan pikiran,  sebagaimana pernah dikatakan oleh guru bangsa Ibu Kartini, bahwa jiwa yang menerima pendidikan seperti habis gelap terbitlah terang. Terima kasih Ibu Rani, kau lah sosok Kartini masa kini.



Peluncuran Layanan Terpadu Kesejahteraan Anak dan Keluarga - Mimpi Yang Menjadi Kenyataan

Peluncuran Layanan Terpadu Kesejahteraan Anak dan Keluarga - Mimpi Yang Menjadi Kenyataan

Oleh: Astrid Gonzaga Dionisio, Child Protection Specialist  

Wakil Walikota Tulungagung (keenam dari kanan) dengan Wakil Ketua DPRD (ketiga dari kiri) dan kepala lembaga (dari kiri: Kepala Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana; Kepala Bappeda; Ketua LPA Provinsi Jawa Timur; Kepala Sub-Direktorat Anak Terlantar, Direktorat Kesejahteraan Anak, Kementerian Sosial, Direktur Rumah Sakit Umum; Astrid Dionisio - Child Protection Specialist dan I Made Sutama, Child of Field Office dari UNICEF; Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial, dan Sekretaris Pemerintah Daerah Tulungagung. ©UNICEF/2015 /Astrid Dionisio

Ini bukanlah pertama kalinya saya mengunjungi Tulungagung, Jawa Timur. Namun kegembiraan kunjungan kali ini sungguh berbeda. Bagaikan mimpi yang menjadi kenyataan.

Pengembangan sistem perlindungan anak sekali lagi merupakan sebuah mimpi besar. Penggambaran sistem tersebut sangat rumit sebelum Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, meluncurkan model pertama layanan kesejahteraan anak dan keluarga terpadu: Unit Layanan Terpadu Perlindungan Sosial Anak Integratif (PSAI). Jalan yang dilalui tidak mulus, dan perjalanan yang ditempuh sangat panjang. Tulungagung merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang dikenal sebagai salah satu daerah utama pengirim buruh migran perempuan.

Pada tahun 2011, UNICEF Indonesia menggunakan pendekatan baru bagi perlindungan anak yang difokuskan pada pengembangan sistem. Sejak saat itu, UNICEF bersama-sama dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Kementerian Sosial memulai proses untuk mengembangkan sistem perlindungan anak komprehensif yang secara lokal dikenal sebagai SPA (Sistem Perlindungan Anak).

Dianggap sebagai pendekatan yang komprehensif dan lebih terkoordinasi untuk menangani kekerasan, eksploitasi, dan penelantaran anak, SPA telah menjadi perbincangan "dari mulut ke mulut" bagi para praktisi perlindungan anak, khususnya di tingkat daerah. SPA seharusnya juga menangani sebab-sebab utama persoalan tersebut melalui rangkaian kesatuan layanan preventif dan responsif. Akan tetapi, sejak tahun 2011, SPA hanya merupakan sebuah konsep tanpa pelaksanaan.

Oleh karena itu, peluncuran PSAI di Tulungagung merupakan peristiwa penting untuk seluruh Indonesia. PSAI memberikan gambaran nyata tentang apa yang sebelumnya merupakan sebuah konsep sekarang menjadi kenyataan. Peluncuran ini juga menggambarkan bahwa ada kemungkinan untuk mengintegrasikan kedua target layanan bagi anak-anak rentan dan keluarga serta layanan responsif ketika anak-anak mengalami kekerasan, penelantaran dan eksploitasi. Ini merupakan pergeseran yang menarik dari pendekatan tradisional biasa yang sebelumnya memfokuskan pada layanan responsif bukan pada kerentanan dalam keluarga dan lingkungan dimana mereka tinggal yang meningkatkan resiko anak-anak menjadi korban kekerasan, pelecehan, penelantaran atau eksploitasi.

Hal yang paling penting sekarang adalah hidup sesuai dengan harapan, dan memberikan layanan yang berkelanjutan dan berkualitas yang dapat diakses oleh anak-anak dan keluarga paling rentan.

Sebagaimana dijelaskan oleh Bapak Mastur, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak kabupaten, "keterlibatan unit terpadu akan terus melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Oleh karena itu, koordinasi sangat penting untuk menjaga agar momentum tersebut tetap berjalan." Pesan yang sama juga disampaikan oleh Wakil Walikota Tulungagung, Drs. H. Maryoto Birowo dalam sambutannya.

Siska, siswi SMP dan penerima PKSA (Program Kesejahteraan Sosial Anak - bantuan tunai bersyarat kepada anak-anak rentan yang dikelola oleh Kementerian Sosial) menyambut baik peresmian PSAI. "Saya senang karena unit ini telah ditetapkan. Sekarang saya tahu ke mana saya harus pergi khususnya ketika saya memerlukan bantuan," katanya. Hal ini didukung oleh Fani - siswi SMA dan juga penerima PKSA - yang menambahkan bahwa ia akan memberitahukan kepada teman-temannya dan warga masyarakat tentang unit tersebut dan layanan yang ada.

Dalam perjalanan saya kembali ke Jakarta, saya masih bisa membayangkan senyum Siska dan Fani dan optimisme mereka tentang PSAI. Saya berbagi optimisme mereka karena saya melihat komitmen dan keterlibatan aktor-aktor kunci dalam memungkinkan pelaksanaan PSAI. Saya yakin bahwa sistem perlindungan anak yang komprehensif tersebut juga dapat ditetapkan di kabupaten-kabupaten lain di seluruh Indonesia, dengan mengikuti jejak Tulungagung.


Kisah Sulaeha: Menyelamatkan nyawa di Sumenep

Kisah Sulaeha: Menyelamatkan nyawa di Sumenep

Sulaeha adalah seorang ibu dari tiga anak yang berasal dari Sumenep, Jawa Timur. Sejak dulu, Ia selalu peduli akan kesejahteraan keluarga dan warga di lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, Sulaeha memutuskan untuk menjadi relawan di bidang kesehatan.

“Hanya karena saya bukan petugas kesehatan yang terlatih, bukan berarti saya tidak bisa membantu memperbaiki kesehatan anak-anak di lingkungan saya,” kata Sulaeha. “Paling tidak saya bisa bantu menyambungkan fakta-fakta kesehatan penting dengan ajaran agama.”

Sulaeha adalah anak dari seorang tokoh agama yang dihormati dan anggota aktif Fatayat, sub-unit perempuan dari Nadhlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di dunia dengan sekitar 80 juta anggota. Oleh karena itu, ia memiliki pengetahuan yang luas mengenai agama Islam.


Sulaeha sering mengadakan lokakarya kesehatan di masjid dekat rumahnya. ©UNICEF Indonesia/2015

Peran Sulaeha sebagai relawan adalah untuk meyakinkan orang tua bahwa imunisasi bukan hanya penting bagi anak mereka, tapi juga sesuai dengan ajaran agama Islam. Hal ini sangat penting di daerah-daerah seperti Sumenep, di mana mayoritas penduduk adalah pemeluk agama Islam.


Akses kepada informasi kesehatan sangat terbatas di Sumenep. Akibatnya, ada banyak kesalahpahaman tentang imunisasi dari segi sosial, budaya dan kepercayaan agama. Kesalahpahaman itu beraneka ragam mulai dari kecemasan terhadap efek samping hingga pertanyaan apakah penggunaan vaksin sesuai dengan ajaran agama Islam.

Sulaeha mengunjungi daerah di sekitarnya untuk mempromosikan imunisasi dengan menggunakan materi komunikasi yang dikembangkan oleh UNICEF dan Kementerian Kesehatan. Materi-materi ini membantunya untuk mengajarkan aspek-aspek teknis imunisasi dan melawan kesalahpahaman yang merugikan.

Warga di Sumenep mempelajari flip chart imunisasi dari UNICEF. ©UNICEF Indonesia/2015

Hasil–hasil survei kesehatan yang terbaru (IDHS 2012, Riskesdas 2013) mengkonfirmasi rendahnya cakupan imunisasi di Indonesia, termasuk di Sumenep. Sebuah studi dari UNICEF (Immunisation Drop Out Study, 2011) menemukan bahwa miskonsepsi sosial, budaya dan agama adalah hambatan utama bagi penggunaan layanan dan pelengkapan imunisasi oleh orang tua.

Untuk melawan hal ini, UNICEF, WHO dan Kementerian Kesehatan Indonesia kini bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia untuk mengadakan road show advokasi dan lokakarya komunikasi di tempat-tempat seperti Sumenep.

Sulaeha akan terus melanjutkan kegiatannya sebagai relawan. Ia sering mengajak putranya ke sesi-sesi yang diadakannya. Imunisasi dasar sang putra pun terpenuhi dengan lengkap sesuai jadwal. Namun Sulaeha tidak akan berhenti sebelum semua anak di Sumenep juga melengkapinya.


“Senyum” untuk imunisasi

“Senyum” untuk imunisasi

Nur Awwalia dan Wall of Fame Imunisasi. ©UNICEF Indonesia/2015 

Tembok Puskesmas Tanah Merah Bangkalan di Pulau Madura, Jawa Timur, penuh dengan poster-poster yang umum ditemui di sebuah klinik kesehatan. Tapi ada satu yang menonjol yaitu sebuah papan tulis putih sarat dengan foto-foto 25 bayi yang sedang tersenyum.

Bayi-bayi ini membentuk wadah pameran “Wall of Fame Imunisasi” di Puskesmas. Setiap bayi sudah menyelesaikan lima sesi imunisasi rutin gratis mereka, yang memberikan keamanan dari berbagai penyakit seperti difteri, TBC, hepatitis B, tetanus, polio dan campak.

Seorang bidan di puskesmas itu, Nur Awwalia, baru-baru ini memiliki ide untuk membuat poster tersebut. “Setiap orang tua senang memamerkan bayi mereka. Jadi kenapa tidak menggunakannya untuk mempromosikan imunisasi!” kata Nur.


Nur Awwalia –yang biasa disapa Lia- mengatakan ide itu datang ketika ia menyadari betapa kerabat dan kawan-kawannya bisa menjadi sangat kompetitif saat membanding-bandingkan bayi mereka. Ia berpikir sedikit kompetisi yang ramah bisa membantu meningkatkan angka imunisasi.

Lia memutuskan memasang Wall of Fame Imunisasi di sebelah poster-poster anak-anak penderita polio dan difteri, dua penyakit yang bisa dicegah hanya dengan memberikan anak lima sesi imunisasi.

“Saya rasa tidak ada seorang pun ibu atau ayah yang ingin bayinya menderita. Sulit untuk dijelaskan, tapi sangat efektif ketika menunjukkan penyakit-penyakit yang mungkin dialami bayi Anda jika tidak diimunisasi,” tuturnya.

Lia sudah bekerja di puskesmas itu sejak 2011. Harinya biasanya dimulai pada pukul 5 pagi dan dia menerima pasien sampai pukul 3 sore. Selain bekerja di puskesmas, Lia juga mengunjungi rumah-rumah pasien dan mengadakan pertemuan advokasi dengan orang tua.

Ibu-ibu berkumpul di Puskesmas Tanah Merah Bangkalan ©UNICEF Indonesia/2015

Sesi imunisasi dijadwalkan di puskesmas tersebut sebulan sekali. Pekerjaan itu cukup menantang bagi Lia dan para koleganya, karena tingkat imunisasi di Kabupaten Bangkalan adalah salah satu yang terendah di Indonesia.

Lia mengatakan para orang tua enggan membawa anak-anak mereka untuk menjalani sesi imunisasi rutin karena berbagai alasan, mulai dari takut akan efek sampingan hingga kesalah-pahaman budaya dan keberatan dari keluarga.
Itu hanya sebagian dari tantangan yang harus dihadapi Lia selama bertahun-tahun. Untuk membantu mengatasinya, ia menerima pelatihan teknis dari Dinas Kesehatan setempat dengan dukungan dari UNICEF. Hasilnya, ia kini memiliki lebih banyak bekal pengetahuan dan keterampilan dalam advokasi imunisasi di acara-acara masyarakat, baik dengan orang tua mau pun pemuka agama.

Lia sangat bangga dengan Wall of Fame Imunisasinya. Ia berharap wadah pameran itu akan semakin berkembang dalam hari, bulan dan tahun yang akan datang.


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia