Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label WASH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WASH. Tampilkan semua postingan
Menemukan inspirasi di lapangan

Menemukan inspirasi di lapangan

Oleh Gabé Hirschowitz, Next Generation UNICEF di Los Angeles


Saat meminum air botolan dan menuliskan blog post ini, saya langsung teringat pada anak-anak yang saya temui di Kupang yang berjalan dua kali sehari selama dua jam (sekali di pagi hari sebelum berangkat sekolah, dan sekali di sore hari sepulang sekolah) untuk mengambil air bersih untuk keluarga mereka.

Empat jam setiap harinya. Bagaimana ini terjadi? Bagaimana mungkin ini adil?  Mengapa air minum yang bersih dan aman tidak tersedia untuk anak-anak dan keluarga di seluruh dunia?

Ini hanya beberapa dari banyak hal yang berlarian di pikiran saat saya tersentak memikirkan tentang krisis air dunia yang dihadapi oleh banyak individu di kehidupan sehari-hari. Setiap orang berhak atas air bersih. Sungguh mengejutkan bahwa masih banyak yang tidak mendapatkannya di tahun 2016.

Saat ditanya tentang apa yang dilakukan untuk bersenang-senang di waktu luang mereka, anak-anak muda itu menjawab, "Kami membantu keluarga di rumah dan membantu pekerjaan orangtua kami."

Konsep ini mungkin tampak asing bagi kebanyakan remaja Amerika. Namun, remaja-remaja Indonesia ini berseri-seri karena cinta dan cahaya, dan mereka sangat menghargai kedatangan kami. Motivasi dan kegembiraan mereka untuk terhubung dengan yang lain sangat luar biasa.

Mereka adalah bagian dari program kegiatan Inovasi UNICEF  yang didanai oleh NextGen untuk Proyek Inovasi. Balai pemuda yang luar biasa ini membantu anak-anak mengindentifikasi sesuatu yang mereka pikir sebagai masalah yang paling menekan dalam masyarakat saat darurat. Selama kunjungan kami, mereka memperlihatkan dua ide purwa-rupa untuk menyelesaikan beberapa masalah terkait banjir dan kekeringan. Proses produktif dan kreatif ini mengajarkan kelompok pemuda ini untuk berpikir di luar kotak dan juga memberikan mereka rasa percaya diri dan umpan balik yang diperlukan untuk memajukan masyarakat dengan bantuan UNICEF.

Kunjungan ini adalah momen yang istimewa dalam hidup saya karena Proyek Keran Air telah menjadi satu hal yang saya sukai sejak saya bergabung dengan NextGen. Los Angeles NextGen Art Party saya yang pertama memberikan manfaat bagi langkah-langkah penyediaan air bersih. Dapat dikatakan, saya sangat percaya bahwa kunjungan khusus ini terjadi dalam hidup saya karena satu alasan: untuk mengingatkan saya untuk selalu menggenggam hal ini dekat di hati di sepanjang hidup saya.

Air bersih adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Ini yang membuat kita hidup dan berkembang. Ini adalah hak asasi mendasar kita sebagai makhluk hidup, dan saya akan melakukan apa yang saya bisa untuk memastikan saya melakukan bagian saya untuk mendukung hal penting ini.

Sungguh suatu cara yang luar biasa untuk menjalani hari ulang tahun ke-30 saya. Kelompok pemuda itu menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun paling manis saat kami pergi, suatu kenangan yang akan selalu saya simpan dalam hati.

Di hari pertama kami di Jakarta, kami berkendara ke pusat layanan kesehatan yang didukung oleh UNICEF di Hari Imunisasi Nasional. Anak-anak dan ibu-ibu berkumpul di sekitar pusat kesehatan "dadakan" untuk mendapatkan booster polio untuk anak-anak mereka, dan juga memeriksakan berat dan tinggi badan anak-anak mereka untuk memastikan mereka tumbuh dengan sehat.

Sungguh menginspirasi untuk dapat menyaksikan program kegiatan yang sangat indah dan produktif. Setiap ibu bertekad memastikan anaknya mendapatkan perawatan dan perhatian yang layak mereka dapatkan. Satu tetes vaksin di bawah lidah akan mencegah polio seumur hidup. "WOW" yang sangat besar hinggap di pikiranku. Saya menjadi sangat emosional saat menggambarkan kenangan ini, karena kenapa tidak semua bayi menerima tetes vaksin yang dapat mencegah penyakit yang mengubah hidup dan mematikan ini?  Ini sangat sederhana dan saya sangat bersyukur dapat menyaksikan dedikasi dan komitmen yang sangat besar atas nama para petugas pusat kesehatan dan para ibu di Indonesia. Mereka adalah pahlawan sejati.

Saya ingin menutupnya dengan kunjungan kami ke sekolah dasar yang sangat indah di Kupang. Saat kami sampai di sekolah, rasanya seperti cahaya matahari menyinari lapangan bermain. Anak-anak memakai seragam berwarna kuning cerah saat mereka menyambut kami dengan senyuman lebar, bernyanyi, menari dan melambaikan tangan. Energi positif dan semangat indah mereka adalah salah satu momen murni yang paling indah dan tak terlupakan yang pernah saya saksikan.

Kelly, ketua NextGen Los Angeles dan saya saling beradu mata, dan saat itu juga kami menangis karena bahagia, rasa syukur dan penghargaan.

Mereka memiliki taman yang indah di belakang sekolah dan setiap kelas bertanggung jawab untuk memelihara dan menanam beragam jenis sayur mayur. Lalu mereka siapkan dan masak sayuran itu saat siap dipanen. Mereka juga memiliki perpustakaan yang indah dengan buku-buku yang disusun secara alfabetis dan dipisah berdasarkan fiksi dan non-fiksi. Sungguh menyenangkan melihat perhatian dan penghargaan diberikan pada kegiatan membaca dan pendidikan. Mungkin karena staf pengajar yang baik, mungkin karena  anak-anak yang menyenangkan, atau keduanya, tapi setiap orang dapat mengatakan pada Anda bahwa ada sesuatu yang istimewa di sekolah dasar itu. Jujur, saya akan mengingat hari itu selama hidup saya.

Secara keseluruhan, pengalaman kami di Indonesia sangat memuaskan dan informatif. Saya selamanya sangat bersyukur atas perjalanan tak terlupakan bersama UNICEF ini. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh David Thoreau, "Kebaikan adalah satu-satunya investasi yang tidak pernah gagal."

Kami bertemu dengan seorang ibu di Kupang yang memiliki anak laki-laki kembar yang menderita malnutrisi saat bayi.  Michael, dari UNICEFUSA, bertanya jika kami punya pertanyaan untuknya dan saya bertanya, "Apa mimpi Anda untuk anak-anak Anda?"  Dia menjawab dengan emosional bahwa yang dia harapan untuk anak-anaknya adalah "kesehatan dan kebahagiaan." Saat itu saya menyadari bahwa kesehatan dan kebahagiaan adalah hasrat universal yang diinginkan setiap ibu untuk anak-anak mereka di seluruh dunia. Kesejahteraan anak-anak dan orang tercinta kita adalah ikatan terkuat yang mengikat banyak ibu bersama-sama dalam perjalanan yang kita sebut kehidupan.

Pengalaman ini telah membuka mata saya lebih lebar dan menginspirasi saya dalam banyak cara yang positif. Saya sungguh bersyukur menjadi bagian dari keluarga UNICEF untuk bekerja dengan individual-individual yang luar biasa dan penuh bakti. Saya juga lebih dari bersyukur, atas orang tua dan keluarga saya yang telah menginspirasi dan memotivasi saya untuk melakukan hal-hal yang sedemikan baik di kehidupan sehari-hari.

Terima kasih atas perjalanan sekali seumur hidup ini.

***
Baru-baru ini, sejumlah anggota Next Generation dari Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia untuk melihat lebih dekat bagaimana dana yang mereka bantu kumpulkan untuk Laboratorium Inovasi UNICEF Indonesia membuat perubahan yang berkelanjutan. Berikut ini adalah catatan tentang kegiatan mereka di Indonesia: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5

Kecamatan Pertama Yang Meraih Status Deklarasi Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) di Sumba Timur

Kecamatan Pertama Yang Meraih Status Deklarasi Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) di Sumba Timur

Oleh Ita, Fasilitator WASH Kabupaten Sumba Timur

Perwakilan 49 Marga di Kecamatan KAHALI  melakukan Sumpah Adat untuk mempertahankan status SBS.

Katala Hamu Lingu (KAHALI) adalah salah satu dari 22 kecamatan di Sumba Timur yang menjalankan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), dan juga kecamatan pertama yang meraih status SBS di Sumba Timur, NTT.

Pada acara deklarasi SBS tersebut, Bapak Thomas Peka Rihi selaku Camat KAHALI mengatakan bahwa “Program Stop Buang Air Besar Sembarangan merupakan kegiatan yang positif dalam mendukung Program Kecamatan KAHALI Berhias, yang menitikberatkan pada keindahan dan kebersihan. Deklarasi yang akan diwarnai sumpah adat ini merupakan janji yang sakral dari masyarakat KAHALI untuk tetap mempertahankan statusnya sebagai Kecamatan bebas buang air besar sembarangan."


Bapak Thomas Peka Rihi selaku Camat KAHALI menyampaikan sambutannya.
Pada acara yang sama, Sekretaris Bappeda Kabupaten Sumba Timur mengatakan bahwa “untuk mendukung pencapaian 100 % Air Minum, 0 % Pemukiman Kumuh dan 100 % Sanitasi pada akhir tahun 2019, maka Kecamatan KAHALI patut diberi apresiasi sebagai pendorong upaya pencapaian sanitasi 100% di Kabupaten Sumba Timur, dan merupakan kecamatan pertama di Kabupaten Sumba Timur yang melakukan Deklarasi Kecamatan SBS."

Kepala Perwakilan UNICEF Kupang dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh direktur Yayasan Pahadang Manjoru, Ishak Sitaniapessy, mengucapkan selamat kepada masyarakat KAHALI atas keberhasilannya meraih status SBS, serta mengingatkan bahwa menggunakan jamban untuk buang hajat, mencuci tangan pakai sabun di saat-saat penting dan mengolah air sebelum diminum adalah hal-hal kecil yang mempunyai dampak yang besar terhadap status kesehatan dan gizi serta kualitas pembelajaran anak di sekolah.

Ishak Sitaniapessy membacakan sambutan tertulis Perwakilan UNICEF Kupang.

Deklarasi Kecamatan KAHALI sebagai Kecamatan SBS dilakukan dengan menggunakan pendekatan adat, dimana perwakilan dari 49 Marga  yang ada di Kecamatan KAHALI melakukan “sumpah adat” untuk mempertahankan status SBS dan meningkatkan perilaku hidup bersih lainnya. Sumpah adat ini ditandai dengan pemotongan hewan sebagai tanda bahwa sumpah ini disaksikan oleh arwah para leluhur.

Keberhasilan Kecamatan KAHALI  meraih status SBS dalam waktu 6 bulan setelah pemicuan STBM adalah berkat inovasi dari Camat KAHALI yang menerapkan pendekatan adat dalam pelaksanaan STBM, kualitas pemicuan yang memadai dari sanitarian, serta dukungan dan partisipasi stakeholder lainnya seperti para Kepala Desa, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tua Adat, BABINSA dan PKK yang menjadi bagian dari Tim STBM Desa dan Kecamatan.

Camat KAHALI dan 5 kepala desa yang berhasil meraih predikat SBS diundang ke Hari Kesehatan Nasional yang diselenggarakan di Kabupaten pada tanggal 22 November 2015 untuk menerima penghargaan dari Pemerintah Sumba Timur.

Pelaksanaan program STBM di Kabupaten Sumba Timur merupakan kerjasama Pemerintah, UNICEF, Yayasan Pahadang Manjoru dan Sinode GKS dan menjangkau 22 kecamatan dan 165 desa yang ada di Kabupaten Sumba Timur.

Demikian dan semoga seluruh Desa dan Kecamatan di Sumba Timur segera menyusul meraih predikat Desa atau Kecamatan SBS bahkan STBM



Kotbah Tentang Buang Air Besar Sembarangan di Sumba

Kotbah Tentang Buang Air Besar Sembarangan di Sumba

Oleh Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

Pendeta Charles Detha mendidik penduduk desa tentang topik yang tidak nyaman untuk dibicarakan. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Seorang pendeta setempat di desa Kadahang, Sumba (NTT) akan menyampaikan khotbah yang paling sulit, yaitu tentang buang air besar. Hari ini, Pendeta Charles Detha tidak akan berbicara kepada jemaatnya tentang kesucian atau amal. Tetapi, ia akan berbicara tentang buang air besar.

Indonesia berada dalam cengkeraman krisis buang air besar sembarangan. Lebih dari 51 juta orang tidak menggunakan toilet. Angka ini merupakan angka tertinggi kedua di dunia setelah India. Pengaruhnya terhadap masyarakat dan terutama terhadap anak-anak sangat luar biasa. Praktek tersebut menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.

Pulau Sumba sangat dipengaruhi oleh krisis ini. Dan isu dalam skala tersebut memerlukan solusi inovatif. Oleh karena itu, UNICEF bekerja secara langsung dengan para tokoh agama di daerah yang sangat taat ini untuk membantu menyampaikan pesan.

"Sekarang kami tahu bahwa buang air besar sembarangan berbahaya bagi kesehatan anak-anak," kata Pendeta Charles, yang telah mengikuti program-program yang difasilitasi oleh UNICEF dengan tujuan untuk mengakhiri buang air besar sembarangan. "Buang air besar sembarangan dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. Oleh karena itu, kami harus terlibat, kami harus bicara."


Pendeta Charles mengatakan bahwa topik tersebut tabu di banyak desa. Pada awalnya, sulit untuk berkhotbah tentang buang air besar sembarangan. Akan tetapi, karena buang air besar sembarang dianggap sebagai masalah kesehatan yang mendesak, maka semuanya menjadi berbeda. "Saya menggunakan tema tanggung jawab masyarakat untuk membicarakan tentang hal tersebut," katanya.

Dalam khotbahnya, Pendeta Charles berbicara dengan penuh semangat tentang kesehatan setiap orang di desa. Jemaat sepertinya tidak hanya menerima, tetapi juga merasa nyaman berbicara tentang buang air besar sembarangan. Ketika Pendeta tersebut bertanya berapa banyak orang yang telah membangun toilet sejak ia mulai membahas tentang topik ini, sejumlah orang mengangkat tangan mereka.

Mbai Ranja Andung dan keluarganya merasa lebih aman dengan toilet baru mereka. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker 

Salah satu penduduk desa yang mengangkat tangan mereka adalah Mbai Ranja Andung. Setelah kebaktian di gereja, ia sangat bersemangat untuk menujukkan toilet barunya.

"Sebelumnya, kami menggunakan ini," kata Mbai Ranja, sambil menunjuk sepetak tanah di belakang rumahnya. Praktik ini akan meningkatkan kemungkinan penyakit seperti pneumonia dan diare - terutama bagi ketiga anaknya yang masih kecil.

"Ini dia (toiletnya)," kata Mbai Ranja. Toilet besar di luar rumah tersebut sangat kuat. Toilet ini dibangun dengan dasar beton yang cukup luas dan dinding dari daun kelapa yang terjalin rapi. Ia sangat bangga dengan hasil karyanya.

Mbai Ranja mengatakan bahwa ia baru tahu tentang risiko kesehatan buang air besar sembarangan melalui khotbah-khotbah para tokoh agama. Kini ia berharap semua penduduk desa akan mengikuti teladannya.


Mathinus Ndapanandjar memimpin gerakan untuk melawan buang air besar sembarang. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker  

Mathinus Ndapanandjar adalah kepala desa setempat di sini. Baginya, mengakhiri buang air besar sembarang merupakan masalah yang sangat pribadi.

"Setiap tahun, banyak anak meninggal karena diare," katanya. Hal ini biasa terjadi di Sumba. Diare merupakan salah satu penyebab utama kematian balita di seluruh Indonesia. Praktek sanitasi yang baik sangat penting untuk menanggulangi diare.

"Keterlibatan Pendeta merupakan hal yang sangat penting," kata Mathinus. Ia mengatakan bahwa para tokoh agama sangat dihormati di sini. Masyarakat sangat menghargai ucapan mereka daripada nasihat orang lain. Dalam rentang waktu yang cukup singkat sejak Pendeta Charles dan lain-lainnya telah memfokuskan pada buang air besar sembarangan, maka telah terjadi "perubahan nyata".

Kini Mathinus memiliki tujuan ambisius bagi masyarakatnya. "Saya ingin agar masyarakat kami 100 persen bebas dari buang air besar sembarang," katanya.

Ini merupakan tujuan yang akan menyelamatkan kehidupan banyak anak  saat ini dan juga pada tahun-tahun yang akan datang.


Membangun Toilet, Menyelamatkan Kehidupan

Membangun Toilet, Menyelamatkan Kehidupan

Oleh Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

Masa Depan Vikensa Hamakonda sedikit lebih cerah. ©UNICEF Indonesia/2015/NickBaker

Vikensa Hamakonda, anak usia sepuluh bulan melihat tambahan ruangan baru untuk rumah keluarganya dengan penuh keingintahuan. Tambahan ruangan baru tersebut adalah toilet di luar rumah yang dibuat dari bambu dan seng. Akan tetapi, bangunan sederhana ini mungkin akan dapat menyelamatkan hidup Vikensa.

Di Pulau Sumba (NTT), buang air besar sembarangan merupakan praktek yang telah diterima oleh  sebagian besar orang. Banyak orang tidak mengetahui bahwa buang air besar sembarangan membahayakan kehidupan anak-anak di Indonesia.

Patogen dari kotoran di tempat terbuka dapat dengan mudah masuk ke rantai makanan dan air konsumsi masyarakat. Hal ini akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, yang secara khusus mempengaruhi anak-anak.

Di Sumba, ada banyak cerita tentang anak-anak yang meninggal karena diare – yang mungkin disebabkan oleh sanitasi buruk. Buruknya sanitasi juga berdampak pada pertumbuhan anak-anak karena terkait dengan tingginya angka gizi kurang.

UNICEF mendukung sejumlah program untuk mengakhiri buang air besar sembarangan di Sumba. Salah satu program tersebut adalah membantu petugas kesehatan setempat untuk mengadakan "sesi pemicuan". Sesi pemicu merupakan sebuah proses merubah perilaku sanitasi dan hygiene masyarakat di setiap desa. Sesi tersebut melibatkan demonstrasi dramatis tentang bagaimana kotoran di tempat terbuka dapat menyebabkan anak sakit.

Belakangan ini, sesi pemicu diadakan di desa Vikensa. Ayah Vikensa, Letu, mengikuti sesi tersebut. "Ini merupakan pengalaman yang sangat luar biasa," katanya." Saya belajar bagaimana kuman dari kotoran dari luar rumah bisa hinggap di makanan keluarga saya." Pesan terakhirnya sederhana: bangun dan gunakan toilet.

Program ini menimbulkan dampak berkelanjutan terhadap Letu. Sebelumnya, keluarga Letu buang air besar di area terbuka di belakang rumah mereka. Tetapi sekarang tidak lagi. Letu sudah membangun toilet. Dan banyak penduduk desa lainnya melakukan hal yang sama.

Ini berarti anak-anak seperti Vikensa akan terbantu dalam memperoleh awal kehidupan  yang terbaik bagi mereka.


Masa depan yang lebih baik – mengakhiri buang air besar sembarangan di Sumba

Masa depan yang lebih baik – mengakhiri buang air besar sembarangan di Sumba

- Nick Baker, Communications and Knowledge Management Officer -

Juan, 1 tahun, di depan toilet barunya. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Sumba Barat Daya, Maret 2015 – Juan Ngongo, usia satu tahun, adalah orang pertama di keluarganya yang akan tumbuh besar dengan akses toilet.

Juan tinggal di Desa Watu Kaula, Pulau Sumba (NTT). Selama beberapa generasi, keluarganya buang air besar di sekitar sungai di belakang rumah mereka.

Namun kini sudah tidak lagi. Keluarga Juan belum lama ini menghadiri sebuah sesi pemicuan yang difasilitasi oleh UNICEF di desa mereka. Pada sesi ini, petugas kesehatan menunjukkan bagaimana mudahnya bakteri dari kotoran manusia bisa memasuki rantai makanan dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

Termasuk dalam masalah kesehatan ini adalah diare dan pneumonia, yang merupakan kontributor utama dari 370 kematian balita Indonesia setiap harinya.


Ibu Juan, Yuliana, mengatakan bahwa sesi tersebut adalah pengalaman yang membuka matanya. “Kami jadi tahu tentang berbagai risiko kesehatan dari buang air besar sembarangan (BABS). Jadi kami memutuskan untuk membangun toilet,” katanya.

Ada lebih dari 750 rumah tangga di Desa Watu Kaula. Perwakilan dari hampir semua rumah tangga menghadiri sesi pemicuan dan banyak yang berkomitmen untuk membangun toilet. Kisah Juan hanya salah satu darinya.

“Kini saya merasa aman. Kini saya merasa bahwa Juan akan aman,” ucap Yuliana.

Memberdayakan Desa-desa

Sanitarian Delsiana Bora menyelenggarakan lokakarya tentang BABS.
©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Delsiana Bora adalah seorang sanitarian di Sumba Barat Daya, yaitu petugas kesehatan dengan fokus pada sanitasi dan kesehatan. Berkat dialah Juan dan anak-anak lainnya di Desa Watu Kaula kini memiliki akses toilet.

Delsiana adalah satu dari banyak sanitarian di Sumba yang menerima bantuan pelatihan dari UNICEF. UNICEF melatih Delsiana dan rekan-rekannya dalam melakukan sesi pemicuan dan memonitor perkembangan di setiap desa.

“Kesadaran tentang dampak kesehatan sehubungan dengan BABS di daerah ini masih sangat rendah. Orang-orang tidak sadar tentang risiko yang mereka ambil,” katanya.

Di kantor Delsiana ada sebuah bagan besar tentang 10 desa di mana dia bekerja. Dia menjelaskan bagaimana masing-masing kolom pada tabel menunjukkan jumlah dan kualitas toilet yang telah dibangun.

UNICEF membantu koordinasi sebuah program pelatihan untuk Delsiana dan sanitarian lainnya dalam menggunakan sistem SMS untuk memonitor kemajuan di desa-desa. Informasi dikirim melalui SMS ke sebuah database pusat, yang lalu dikumpulkan oleh dinas kesehatan kabupaten.

Toilet baru milik Juan di Watu kaula adalah satu lagi kisah sukses untuk Delsiana dan timnya.

Sebuah target yang ambisius

Dominggus Manna berupaya mengakhiri BABS di Sumba Barat Daya.
©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Dominggus Manna menghadapi sebuah tugas yang cukup berat. Sebagai Kepala Bagian Kesehatan Lingkungan di Sumba Barat Daya, ia bertanggung jawab atas praktik kebersihan di 131 desa. Dan ia ingin agar seluruh desa tersebut bebas dari BABS dalam empat tahun.

UNICEF membantu perwakilan daerah seperti Dominggus memenuhi target-target serupa dengan membentuk kelompok kerja BABS di Sumba. Kelompok kerja ini mempertemukan pejabat pemerintah dan pemangku kepentingan dari berbagai tingkat untuk mencari cara terbaik dalam menghadapi BABS.

“Saat ini sekitar 50 persen desa melakukan BABS,” katanya. “Tapi dalam beberapa tahun terakhir kami telah meningkatkan jumlah keluarga dengan akses toilet dari 36 persen menjadi 45 persen. Jadi kemajuan ini tampak baik.”


Sebuah topik yang tidak nyaman

Sebuah topik yang tidak nyaman

Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

Jakarta, 14 Januari 2015 - Konferensi pers pertama saya di UNICEF Indonesia adalah salah satu yang tidak bisa segera terlupakan bagi saya. Mengapa? Karena para wartawan yang hadir berusia antara 9 - 12 tahun, dan subjek utamanya adalah tinja.

Sepuluh murid peserta program Reporter Cilik dari Media Indonesia diundang untuk mewawancarai staf UNICEF tentang sebuah topik yang tidak nyaman - buang air besar sembarangan (BABS).

Lebih dari 54 juta penduduk Indonesia buang air besar di tempat terbuka, karena mereka tidak memiliki jamban atau toilet. Ini adalah angka yang kedua tertinggi di dunia. Hanya India yang memiliki jumlah yang lebih tinggi.

WASH Specialist Claire Quillet memberitahu mereka bagaimana BABS terkait dengan berbagai penyakit yang dapat dicegah namun berpotensi mematikan, misalnya diare dan pneumonia. Ini adalah kontributor utama untuk lebih dari 370 kematian balita per hari di negara ini.

BABS juga tidak terbatas pada daerah pedesaan miskin. Sebuah laporan WHO/UNICEF baru-baru ini menemukan bahwa 18 juta orang di perkotaan di Indonesia juga masih buang air besar di tempat terbuka.

Namun bukan hanya itu saja yang mengejutkan para calon wartawan ini. Mereka juga tampak sangat tertarik untuk mempelajari bagaimana masalah ini dapat mempengaruhi semua orang di Indonesia. "Siapapun bisa terkena penyakit akibat dari kotoran di lingkungan mereka," jelas Claire. "Masalah ini berpotensi mempengaruhi keluarga dan teman-teman kalian juga, di mana pun kalian berada."

WASH Specialist Claire Quillet menjawab pertanyaan dari para partisipan Reporter Cilik.  ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker  

Karena baru sampai di negara ini satu minggu yang lalu, hal ini cukup mengejutkan bagi saya. Saya tidak tahu bahwa BABS adalah suatu masalah yang sangat besar dan berbahaya di Indonesia.

Ternyata bukan saya saja yang merasa begitu. Diskusi masyarakat tentang topik ini masih sangat terbatas di Indonesia. Kegiatan seperti konferensi pers Reporter Cilik bertujuan untuk mengubah hal tersebut.

UNICEF Indonesia juga baru-baru ini meluncurkan sebuah kampanye bernama Tinju Tinja yang menggunakan media sosial untuk menyebarkan informasi tentang dampak kesehatan dari BABS.

Kampanye tersebut mengajak mereka yang aktif di media online untuk menjadi agen perubahan di komunitas dan keluarga mereka demi penggunaan dan pembuatan toilet atau jamban yang layak.

Pemerintah telah mencanangkan tujuan untuk mengakhiri BABS di seluruh negeri sebelum tahun 2019. Kampanye UNICEF ini bertujuan untuk membantu mencapai tujuan tersebut.

Para siswa meninggalkan kantor UNICEF Indonesia untuk menulis berita mereka untuk Media Indonesia dan publikasi lainnya.

Mudah-mudahan hasil tulisan mereka akan terus meningkatkan kesadaran akan risiko yang berkaitan dengan BABS, serta mendorong seluruh rakyat Indonesia untuk menjadi bagian dari solusi.

Belum pernah saya begitu tertarik pada sebuah diskusi tentang tinja.

UNICEF Indonesia luncurkan kampanye Tinju Tinja untuk melawan BAB sembarangan

UNICEF Indonesia luncurkan kampanye Tinju Tinja untuk melawan BAB sembarangan


Melanie Subono dan Aidan Cronin meluncurkan kampanye Tinju Tinja di Jakarta pada Hari Toilet Sedunia (19/11).

Jakarta, 24 November 2014 – UNICEF Indonesia dan rocker / aktivis Melanie Subono melakukan perlawanan terhadap fenomena buang air besar sembarangan (BABS) di atas ring tinju melalui kampanye Tinju Tinja yang diluncurkan pada Hari Toilet Sedunia.

Kampanye sosial media ini bertujuan untuk menyebarkan informasi dan meningkatkan kesadaran publik tentang implikasi kesehatan dari perilaku BABS, serta menekankan betapa pentingnya mengakhiri fenomena tersebut di Indonesia, melalui cara yang baru dan inovatif.

Dalam acara peluncuran ini UNICEF mengungkapkan bahwa, berdasarkan laporan Joint Monitoring Program (2014) yang diterbitkan oleh WHO dan UNICEF, 55 juta penduduk Indonesia masih melakukan BABS, atau kedua tertinggi di dunia.

Perilaku BABS terkait dengan berbagai penyakit berpotensi mematikan seperti diare dan pneumonia, yang juga adalah penyebab utama kematian lebih dari 370 balita Indonesia setiap harinya.

Meskipun ada kemajuan berkat program-program lapangan dari UNICEF dan Pemerintah Indonesia, namun partisipasi aktif dari seluruh masyarakat masih sangat diperlukan.

“Tugas kita adalah memperkeras suara agar seluruh bangsa mendengar, memperhatikan, dan bergabung dalam upaya-upaya untuk membebaskan Indonesia dari BABS”, ucap Dr. Aidan Cronin, Kepala Program Air, Sanitasi dan Kebersihan UNICEF Indonesia.

Sebelum peluncuran kampanye


Kampanye Tinju Tinja memperkenalkan seorang penjahat bernama Ninja Tinja, yang mengeluarkan ancaman untuk menyakiti semua anak di Indonesia melalui sebuah video.

Video tersebut diunggah ke YouTube secara anonim satu minggu sebelum kampanye diluncurkan, sehingga memicu berbagai percakapan di ranah media sosial.

Pada saat yang sama, Melanie Subono mulai menunjukkan ketertarikanya dengan tinju sebagai bentuk olah raga dan metode bela diri. Ia pun mulai mengikuti kelas latihan tinju dan sempat mengundang beberapa media lifestyle dan kesehatan untuk menghadiri sesi latihannya.

Melanie juga sering membuat posting tentang hobi barunya ini, dan juga tentang masalah sanitasi di Indonesia, kepada lebih dari 600.000 Twitter followernya dengan menggunakan hashtag #tinju dan #tinja.

Pada video utama kampanye ini Melanie tampak terdesak oleh Ninja Tinja di atas ring tinju, sehingga ia meminta dukungan seluruh warga Indonesia untuk membantunya melalui www.tinjutinja.com.


Meningkatkan kesadaran online


Sejak tahun 1990, sekitar 1,9 miliar orang di seluruh dunia telah memiliki akses akan fasilitasi sanitasi yang layak. Namun kemajuan ini tidak sepadan dengan pertumbuhan populasi yang pesat, dan target Tujuan Pembangunan Millenium (MDG) kemungkinan tidak akan tercapai pada tahun 2015. Sebanyak 82 persen dari satu miliar orang yang berperilaku BABS tersebar di 10 negara, termasuk Indonesia.

Meskipun lebih lazim ditemukan di daerah-daerah terpencil, masih banyak orang yang melakukan BABS di daerah perkotaan. Laporan Joint Monitoring Report terbaru memperkirakan sekitar 18 juta orang yang tinggal di daerah perkotaan masih buang air besar di tempat terbuka.

“BABS tidak hanya berdampak kepada mereka yang tidak memiliki toilet, tapi juga kepada mereka yang punya, karena siapa pun bisa terjangkit penyakit akibat kotoran manusia di lingkungan sekitar,” tegas Aidan.

Kampanye Tinju Tinja akan terus berlanjut dengan sosialisasi materi dan pengetahuan yang diharapkan bisa mendidik dan meyakinkan masyarakat untuk menjadi bagian dari solusi.

“Perlawanan terhadap BABS dan kampanye perilaku hidup bersih sehat butuh partisipasi aktif dari masyarakat, terutama para generasi muda yang bisa menciptakan trend dan mempengaruhi pengambil keputusan,” ucap Melanie.

Sudahkah kamu melakukan bagianmu?

Sanitasi di Alor - menyebarkan pesan, memantau kemajuan

Sanitasi di Alor - menyebarkan pesan, memantau kemajuan

Sarah Grainger

Novianti, 7 tahun, bersama ibunya Amelia di atas pantai dekat rumah mereka.
© UNICEF Indonesia/2014/Sarah Grainger

FUNGAFENG, Provinsi NTT, Indonesia, April 2014 - Novianti Atafan, 7 tahun, adalah salah satu anak terakhir di desanya yang mendapatkan jamban di rumah. Dia tinggal di desa Fungafeng di pinggir pantai pulau Alor di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Keluarganya tinggal di sebuah rumah adat lopo yang terbuat dari bambu dan kayu dengan atap jerami.

Setiap pagi, Novianti dan ibu, ayah, kakek serta 5 kakaknya harus menuruni lereng di belakang rumahnya untuk buang air besar di dekat pantai.

Semua itu berubah ketika seorang sanitarian - petugas kesehatan lokal yang memiliki spesialisasi dalam sanitasi dan hygiene - mengunjungi desanya.


"Saya merasa malu tentang apa yang kami lakukan," ucap Amelia, ibunda Novianti. "Dan saya bisa melihat hubungan antara buang air di pantai dengan lalat yang mengkontaminasi makanan dan air kita."

Keluarga ini membangun jamban mereka sendiri beberapa meter dari rumah mereka, dan kini semua anggota keluarga menggunakannya.

"Sekarang kita tidak perlu membuang-buang waktu berjalan turun ke pantai setiap pagi," kata Amelia.

Pemicuan

Agnes Gale, seorang sanitarian dari Puskesmas setempat, ialah orang yang berhasil memacu keluarga Atafan untuk bertindak. Dia mengunjungi Fungafeng dan tiga desa lain untuk mencoba memicu warga untuk membangun dan menggunakan jamban, dan tidak buang air besar sembarangan (BABS).

Dia menunjukkan bagaimana tinja bisa mencemari air dan makanan. Dia juga menekankan kepada warga bahwa tetangga mereka bisa melihat ketika mereka buang air besar di tempat terbuka.

Sanitarian Agnes Gale mengunjungi Novianti dan Amelia di rumah adat lopo mereka.
© UNICEF Indonesia/2014/Sarah Grainger

"Dua elemen yang paling efektif dalam mengubah perilaku seseorang adalah rasa malu dan jijik," katanya.

Sebelum proses pemicuan, 90 dari 129 rumah tangga di Fungafeng memiliki jamban, dan masih ada orang yang buang air besar sembarangan. Kini penduduk mengklaim bahwa desa mereka telah bebas dari perilaku BABS. Namun beberapa orang masih sharing toilet dengan tetangga, dan ada juga yang memiliki jamban tanpa septic tank.

"Kami ingin mempromosikan peningkatan kualitas toilet yang dimiliki orang," ujar Agnes. "Tujuan kami adalah agar semua orang memiliki jamban sehat dan permanen. Jika satu orang saja kembali buang air besar di tempat terbuka, seluruh warga beresiko terkena kontaminasi."

Memantau Perkembangan

Indonesia mempunyai jumlah orang yang mempraktekkan BABS tertinggi kedua di dunia (setelah India), dan masalah ini paling akut di provinsi NTT.

Sanitasi yang buruk meningkatkan kasus penyakit diare. Tingkat diare adalah 66% lebih tinggi di antara anak-anak dari keluarga yang BABS, dibandingkan dengan rumah tangga yang memiliki toilet pribadi dan septic tank. Diare juga masih merupakan pembunuh utama anak-anak di Indonesia: Sekitar 31% kematian bayi dan 25% kematian anak-anak usia satu hingga lima tahun disebabkan oleh diare.

Bersama dengan Dinas Kesehatan, UNICEF melatih Agnes dan 9 sanitarian lainnya di Alor tentang cara penggunaan SMS untuk memantau desa-desa yang menjadi tanggung jawab mereka.

Agnes Gale mengirim laporan SMSnya dari Puskesmas
© UNICEF Indonesia/2014/Sarah Grainger

Setiap kali Agnes mengunjungi Fungafeng, ia mencatat jenis fasilitas sanitasi yang digunakan setiap rumah tangga. Ada empat kategori - buang air besar terbuka, jamban bersama, jamban semi permanen dan jamban permanen.

Dia mengirimkan informasi ini melalui SMS ke database pusat yang dipantau oleh petugas kesehatan kabupaten. Sistem ini jauh lebih cepat daripada metode sebelumnya di mana sanitarian mengirimkan laporan perkembangan di desa-desa mereka setiap tiga bulan.

"Sekarang kami mendapatkan data secara langsung dan bisa melihat seberapa efektif upaya sanitarian kami," kata Dominggus Prakameng, Kepala Kesehatan Lingkungan di kabupaten Alor. "Ini membantu kami dalam merencanakan alokasi sumber daya ke tempat-tempat di mana sanitasi masih menjadi masalah."

Para sanitarian juga lebih memilih sistem pelaporan SMS baru ini. "Lebih cepat dan lebih mudah. Kami tidak perlu mengisi formulir, cukup mengumpulkan informasi dan mengirimkannya, "kata Agnes.

Proses pemicuan dan pemantauan tampak memiliki efek pada kesehatan di Fungafeng. Dulu desa ini mengalami wabah diare setiap tahun, namun Agnes mengatakan bahwa ini tidak terjadi lagi. 

Berkat dukungan dari Bill and Melinda Gates Foundation dan Unilever, UNICEF meluncurkan sistem pemantauan SMS ini di Sulawesi Selatan, NTT dan Papua.

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia