Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label posyandu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label posyandu. Tampilkan semua postingan
Randi, Rendi, dan Ibu Ruth: Penyala Semangat dari Kupang

Randi, Rendi, dan Ibu Ruth: Penyala Semangat dari Kupang

Oleh: Asrifakhru Rozi Batubara, UNICEF Fundraiser 

Menjadi seorang fundraiser untuk program  perbaikan gizi anak-anak Indonesia bukanlah hal yang mudah. Di satu sisi ada tanggung jawab dan komitmen yang digantungkan UNICEF kepada saya, di sisi lainnya menawarkan kepercayaan kepada para donatur di kota besar seperti Surabaya juga menjadi tantangan yang luar biasa. Ada beban besar yang hampir setiap hari saya rasakan.

Tetapi kemudian, beban itu menyala menjadi api semangat di 18 Februari kemarin. Ketika saya berkesempatan melihat secara langsung program perbaikan gizi buruk yang diinisiasi oleh UNICEF, tepatnya di wilayah kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Di Desa Obelo saya bertemu dengan seorang Ibu bernama Ruth Kiki. Sudah enam bulan lamanya beliau mendedikasikan diri untuk menjadi relawan di Posyandu Kesra. Tugas Ibu Ruth mungkin mudah untuk dilakukan, mulai dari menimbang berat badan dan lingkar lengan balita, kemudian konseling. Semua itu dilakukan setiap bulan untuk memastikan semua balita di lingkungan tersebut dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana yang seharusnya.

Tetapi ada hal lain yang saya pelajari dari Ibu Ruth. Motivasinya yang sangat tinggi demi membantu sekitar cukup untuk menggetarkan hati seorang pemuda kota seperti saya. Inilah yang beliau katakan: “Saya prihatin dengan kondisi balita disini,karena kurangnya pemahaman ibu mereka tentang bagaimana merawat anak dengan baik. Saya ingin sekali melihat balita disini sehat, ceria dan memiliki masa depan yang lebih baik”.


Ada keyakinan yang tumbuh di dalam diri saya setelah mendengar ucapan Ibu Ruth. Bahwa program pelatihan yang difasilitasi oleh UNICEF dan Action Contre La Faim (ACF) ini tidak hanya memberi manfaat-manfaat teknis. Seperti peningkatan pengetahuan,  keterampilan dan kompetensi mereka tentang pemberian ASI. Tetapi juga ada hal-hal di luar teknis yang jauh lebih berdampak pada perubahan prilaku masyarakat. Saya yakin, ke depan akan ada Ibu Ruth lainnya yang kemudian juga termotivasi untuk menjadi relawan di Posyandu.

Sayangnya, perbaikan gizi buruk menjadi tugas yang tidak mudah bagi relawan di Kupang. Mengingat data survei terbaru yang dilakukan oleh UNICEF dan Action Contre La Faim  ( ACF ) menunjukkan bahwa 21 persen anak-anak di daerah ini mengalami kurang gizi akut ( sangat kurus) dan 52 persen mengalami stunting (terlalu pendek untuk usia mereka). Ditambah lagi, menurut Ibu Kepala Puskesmas Baktate di Pos PGBM (Penanganan Gizi Buruk Berbasis Masyarakat). Ada beberapa kendala yang menyebabkan program ini belum berjalan maksimal, di antaranya:

  • Latar belakang pendidikan orang tua masih rendah
  • Usia pernikahan yang sangat muda 
  • Kesadaran dan prilaku masyarakat akan kesehatan masih rendah

Di PUSTU (Puskesmas Pembantu) Nitneo yang berjarak 30 menit dari Batakte, saya berjumpa dengan dua balita kembar penderita gizi buruk yang sedang dalam pengawasan UNICEF dan pihak puskesmas sejak November 2015. Selama kurun waktu 3 bulan Randi dan Rendi diberikan eeZeepaste, adalah makanan pengganti berisi kandungan gizi yang dibutuhkan balita. Saat ini mereka mengalami perkembangan yang cukup baik, terlihat dari penambahan berat badannya.

Randi, Rendi, dan Ibu Ruth menjadi penyala untuk saya tetap bersemangat melakukan fundraising. Mereka akan menjadi terang untuk saya menemukan tangan-tangan baik berikutnya di Surabaya. Semoga salah satunya adalah anda.

Sejuta harapan anak-anak Brebes

Sejuta harapan anak-anak Brebes

Firman Siregar - UNICEF Indonesia Telefundraiser

Ini adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Brebes, kota yang terkenal sebagai penghasil telur asin dan bawang terbesar di pulau Jawa. Kesempatan untuk melihat program-program UNICEF di kota ini diberikan oleh UNICEF Indonesia kepada kami berempat (Firman, Fajar, Lina, Nurul) untuk mewakili Divisi Telefundraising.

Kunjungan pertama kami di kota Brebes yaitu kantor BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) untuk berdialog bersama Bapak Khaerul Abidin selaku Kabid Pemsosbud BAPPEDA Brebes, Forum Anak, Forum Pendamping Anak, serta KLA (Kabupaten Layak Anak). 

Dalam dialog ini, seorang perwakilan dari Forum Anak Brebes (Fanbes) memaparkan kegiatan yang telah dilakukan selama 2 tahun belakangan ini, antara lain sosialisasi forum anak, latihan dasar kepemimpinan, advokasi tentang sekolah ramah anak, mensosialisasikan pentingnya akte kelahiran di Desa Plompong secara door to door, dan masih banyak lagi. Tujuan secara garis besar dibentuknya Forum Anak yaitu untuk menjadikan Brebes sebagai Kabupaten Layak Anak.


Para peserta dialog bersama BAPPEDA. 

Setelah dari kantor BAPPEDA, kami melanjutkan trip ke Desa Pebatan untuk melihat salah satu program UNICEF yang sedang berjalan yaitu Program Keluarga Harapan (PKH). Tingkat pengetahuan kesehatan ibu dan anak di desa ini masih terbilang minim. Oleh karena itu UNICEF bekerja sama dengan pemerintah setempat seperti Kemensos dan Kemenkes untuk meningkatkan pengetahuan mereka. 

Penyuluhan KPH di desa ini dilakukan setiap bulan, dan dipimpin oleh staf Kemensos yang telah mendapat pelatihan khusus sebagai pendamping dari UNICEF. 

Ada banyak mitos dari kakek nenek yang masih di pegang oleh masyarakat. Tugas pendamping adalah untuk merubah mitos dan perilaku yang salah dari masyarakat. 

Sebagai contoh, saat pertemuan kelompok PKH sedang berlangsung, seorang ibu menuturkan bahwa “Di kampung sebelah, kalau ibu hamil usia kandungannya sudah mencapai 10 bulan ke atas, ibu tersebut harus dimasukkan ke dalam kandang kambing/ kerbau agar bisa melahirkan." 

Sesi penyuluhan PKH bersama ibu-ibu dari Desa Pebatan.

Satu contoh lagi adalah saat ditanya apakah mereka meminum Tablet Tambah Darah yang diberikan oleh bidan ketika hamil, sekitar 70% serempak menjawab "enggak" dengan polosnya. Dan ternyata kebanyakan dari mereka pun meminumnya dengan teh atau susu, meskipun seharusnya dengan air putih.  

Begitu interakif ibu-ibu desa Pebatan ketika mendapat pengarahan dari pendamping PKH, yang menjadi tujuan utama UNICEF adalah memberikan pengetahuan kepada masyarakat agar mereka mengerti dan melakukan sehingga ada perubahan perilaku masyarakat menjadi lebih baik.

Keesokan harinya, kami mengunjungi Desa Pulosari. Program UNICEF di Desa Pulosari bisa dikatakan cukup berhasil, karena posyandu mereka selalu ramai dengan ibu-ibu yang datang membawa anaknya untuk ditimbang dan diukur tinggi badannya.

Mengunjungi Posyandu Desa Pulosari yang selalu ramai

Saya tidak melihat seorang anak pun yang tampak mengalami gizi kurang atau membutuhkan penanganan khusus. Semua anak tumbuh sehat. Begitu antusiasnya seorang Ibu ingin tahu tumbuh kembang si anak, dan yang membuat saya tercengang bahkan ada beberapa orang suami yang turut mengantar dan menemani sang istri datang ke Posyandu untuk melihat perkembangan anaknya sudah sejauh mana. Awesome Father, two thumbs for you!

Tidak heran bahwa Desa Pulosari adalah desa percontohan untuk desa-desa lain di Kabupaten Brebes atau bahkan di desa-desa di seluruh pelosok Indonesia. 

Yang menjadi tantangan UNICEF dan Pemerintah yaitu merubah perilaku masyarakat tersebut menjadi lebih baik. Ini bukan berbicara tugas siapa dan bukan salah siapa. Ini adalah PR kita bersama, so bangun bangsa kita mulai dari diri kita sendiri!

Rekam jejak UNICEF di Kabupaten Sikka

Rekam jejak UNICEF di Kabupaten Sikka

Liani Dyah Utami - UNICEF Indonesia Fundraiser

Tiga bulan yang lalu, tepatnya tanggal 17-18 September 2014, saya bersama tim berkesempatan mengunjungi Kabupaten Sikka di Maumere, Flores – Nusa Tenggara Timur untuk melihat secara langsung kegiatan UNICEF di lapangan. 

Hari pertama kami mengunjungi Dinas Kesehatan dan Bappeda setempat. Disana kami diterima oleh wakil kepala Dinkes. Selain untuk silaturahmi, kami juga berdiskusi sebentar tentang kerjasama UNICEF dan pemerintah daerah terutama dibidang kesehatan yaitu dalam program PKH (Program Keluarga Harapan) dan PGBM (Pemulihan Gizi Berbasis Masyarakat). Kami juga meminta izin untuk dapat mengunjungi desa-desa yang ada di Kabupaten Sikka.

Didampingi oleh Bapak Riki, petugas dari Bappeda dan Ibu Etna, salah satu kader PKH kami mengunjungi Desa Pilang di Kecamatan Nita. Sesampainya di Desa Pilang kami disambut dengan hangat oleh ibu-ibu yang ada disana. Kami berdiskusi dan melihat langsung sudah sejauh mana pencapaian program PKH di Desa Pilang.


Program PKH ini sendiri merupakan program pemerintah sejak tahun 2007. UNICEF bekerjasama dengan pemerintah daerah Kabupaten Sikka sejak tahun 2009 untuk program PKH. Program PKH adalah program yang memberikan bantuan insentif bersyarat kepada keluarga kurang mampu. Salah satu syaratnya yaitu memeriksakan kesehatan ibu hamil dan balita ke posyandu atau puskesmas.

Di Desa Pilang ada 136 keluarga yang mengikuti program PKH. Rata-rata satu keluarga memiliki dua orang anak. Insentif yang diberikan yaitu minimal Rp. 125.000,- / 3 bulan untuk keluarga dengan satu anak SD, sedangkan untuk balita dan ibu hamil dihitung satu paket. Pemeriksaan kesehatan di posyandu meliputi penimbangan berat badan, penyuluhan kepada ibu-ibu dan juga pemberian makanan tambahan.

Para warga Desa Pilang menyambut kedatangan kami dengan hangat. ©UNICEFIndonesia/2014/Utami


Menurut Ibu Etna, pada awalnya keluarga memeriksakan kesehatan dikarenakan takut tidak mendapat insentif, tetapi setelah tahu tentang pentingnya hidup sehat maka dengan kesadaran sendiri mereka dengan rutin memeriksakan kesehatan setiap bulannya.

Kerjasama UNICEF dengan pemerintah daerah dalam program PKH ini tidak hanya memberikan bantuan insentif tetapi juga memberikan pelatihan dan penyuluhan kepada para kader untuk dapat mempunyai pengetahuan lebih tantang hidup sehat dan bersih sehingga para kader bisa berbagi pengetahuan dengan ibu-ibu yang lain. Dengan adanya program PKH ini masyarakat sangat terbantu sekali kehidupannya di bidang kesehatan.

Masalah kesehatan lain yang sering terjadi di Kabupaten Sikka adalah gizi buruk. Di Desa Pilang, kami menemui salah satu anak bernama Ilong yang menderita gizi buruk. Saat ini umur Ilong adalah 1 tahun 6 bulan. Pada umur 1 tahun Ilong menderita gizi buruk karena ukuran diameter lingkar lengan atas (LILA) Ilong kurang dari 11,5 cm, dan berat badannya juga dibawah normal dari anak seusianya. Setelah treatment selama 8 minggu dengan memberikan pasta kacang dan vitamin tabur gizi, kini berat badan dan lingkar lengan atas Ilong sudah kembali normal. Kini Ilong bisa bermain dan bercanda dengan teman-temannya.

Ilong, salah satu anak yang menderita gizi buruk sebelum mendapatkan perawatan. ©UNICEFIndonesia/2014/Utami 
Pasta kacang dan alat ukur LILA. ©UNICEFIndonesia/2014/Utami  

Diharapkan dengan adanya program PKH dan PGBM ini bisa mengatasi permasalahan kesehatan yang ada di Kabupaten Sikka, tertutama untuk menanggulangi gizi buruk, karena saat ini permasalahan gizi buruk di Kabupaten Sikka masih sangat tinggi sekali.

Hari kedua kami berkunjung ke puskesmas Waipare di Kecamatan Kangae. Disini kami disambut oleh Kepala Puskesmas Waipare, Ibu Sofia. Di puskesmas Waipare terdapat fasilitas call center 24 jam untuk masalah ibu hamil dan gizi buruk, dan merupakan satu-satunya yang ada di Kabupaten Sikka. Ide callcenter ini datang dari Dr.Vama, dokter UNICEF yang bertugas di NTT. Setelah direalisasikan dan berjalan kurang lebih satu bulan, respon dari masyarakat bagus sekali. Sehingga pada tanggal 17 Juli 2014 pos gizi ini diresmikan oleh Menteri Kesehatan, Ibu Dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH.

Pusat Informasi Gizi Ibu, ASI & Gizi Anak di Puskesmas Waipare. ©UNICEFIndonesia/2014/Utami 

Saat kami di Puskesmas Waipare, kebetulan ada seorang ibu dan anaknya yang datang untuk diperiksa. Ayu, umur 1 tahun 3 bulan, adalah anak dari Ibu Maria yang menderita gizi buruk. Saat diperiksa di posyandu ukuran lengan lingkar atas Ayu yaitu 11 cm dengan berat badan 7,2 kg. Ayu kemudian dirujuk ke puskesmas Waipare untuk mendapat perawatan.

Ayu dirawat selama 8 minggu dengan diberikan pasta kacang dan tabur gizi. Minggu ini adalah minggu terakhir Ayu untuk treatment. Hasilnya sangat memuaskan karena berat badan Ayu sudah bertambah menjadi 8,5 kg dan ukuran lingkar lengan atasnya 13,5 cm.

Ayu dan Ibu Maria. ©UNICEFIndonesia/2014/Utami 

Di puskesmas Waipare, ibu yang hamil pada trimester pertama diberi MMN (Multi Mikronutrient) yang di supply oleh UNICEF, dan untuk trimester berikutnya ditambah dengan asam folat yang di supply oleh Kemenkes.

Tablet kuning adalah MMN dan tablet merah adalah asam sulfat. ©UNICEFIndonesia/2014/Utami 

Setelah dari puskesmas kami berkunjung ke posyandu Ili di Desa Kokowahor, Kecamatan Kangae. Disini kami menemui para kader posyandu dan berbagi cerita tentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan di posyandu Ili, yaitu penimbangan berat badan, pengukuran tinggi badan dan ukuran lingkar lengan atas, penyuluhan untuk ibu-ibu, pemberian makan tambahan dan PAUD.

Kader-kader posyandu disini sangat berterimakasih sekali dengan kerjasama UNICEF dan pemerintah daerah dalam program PGBM, karena para kader diberikan pelatihan tentang gizi bahkan PHBS (Pola Hidup bersih dan Sehat) sehingga kader-kader mempunyai pengetahuan lebih dan bisa berbagi informasi dengan masyarakat.

Diskusi dengan para kader Posyandu Desa Kokowahor. ©UNICEFIndonesia/2014/Utami 

Selama dua hari di sana saya bersama tim mendapatkan pengalaman yang sangat berharga karena bisa melihat secara langsung program-program UNICEF di lapangan. Bertemu dengan ibu-ibu dan anak-anak di Kabupaten Sikka yang sangat terbantu sekali dengan adanya UNICEF. Semua program-program UNICEF diatas bisa terlaksana tidak terlepas dari peran para donatur yang selama ini mensupport UNICEF. Diharapkan dengan donasi jangka panjang dari para donatur akan lebih banyak ibu dan anak yang bisa dibantu tidak hanya di Kabupaten Sikka tapi di daerah lainnya di seluruh Indonesia.

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia