Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label blog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blog. Tampilkan semua postingan
Pramuka Sebagai Agen Perubahan

Pramuka Sebagai Agen Perubahan

Oleh: M. Ilham Akbar Junior

Pertemuan lima tahunan bagi Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega yang aktif di satuan Karya Pramuka Bakti Husada (Saka Bakti Husada) tingkat nasional akan digelar pada 17-23 Oktober 2016 bertempat di Bumi Perkemahan Serut, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Kegiatan dalam bentuk perkemahan bakti ini  disebut Perkemahan Bakti Satuan Karya Pramuka Bakti Husada Tingkat Nasional ke V (PERTINAS SBH 2016).

Pada kegiatan perkemahan ini UNICEF ikut andil dalam mendukung pelaksanaan kegiatan dalam beberapa segmen: pendirian booth informasi kerjasama, dukungan material peraga untuk pendalaman krida Bina Lingkungan Sehat dalam platform WASH dan pendalaman krida Bina Gizi Sehat dalam platform Adolescent Nutrition. Dimana seluruh kerjasama ini didasarkan oleh cita-cita pengabdian yang selaras antara Gerakan Pramuka dan UNICEF, diharapkan melalui kerjasama ini potensi kemanfaatan dari kedua organisasi tersebut dapat tercapai. Dengan tagline “Pramuka adalah sebagai agen perubahan” diharapkan setiap pribadi Pramuka bisa menjadi contoh yang bagus di masyarakat untuk turut mensukseskan program-program UNICEF yang memiliki pengaruh positif dan perubahan pada masyarakat.

PERTINAS SBH 2016 dibuka oleh Wakil Gurbernur Gus Ipul dan Bupati Blitar Bpk. Krijanto.

Pada hari pertama pelaksanaan PERTINAS SBH 2016, sejak pagi hari sudah terlihat aktivitas pada booth UNICEF, dari divisi Nutrition UNICEF melakukan kegiatan pre-test material dari modul nutrition dengan mengundang kakak-kakak Pramuka untuk berdiskusi mengenai materi yang terkandung dalam modul pelatihan gizi untuk pramuka yang direncanakan akan digunakan pada aktivitas follow up pasca Pertinas SBH 2016. Diskusi tersebut dilakukan dengan proses reading materi oleh Pramuka, lalu dari pihak Pramuka akan memberikan opini dari sudut pandang mereka masing masing. Dari diskusi tersebut didapatkan beberapa point yang bisa digunakan sebagai bahan improvement untuk materi Nutrition kedepannya.


Rekan dari divisi Nutrition melakukan diskusi dengan kakak-kakak Pramuka

Melalui kegiatan reading material ini, program officer dari UNICEF dapat melihat kesesuaian material dengan rentang usia penerima yang akan menjadi target dari aktivitas program kerjasama dengan UNICEF pasca kegiatan Pertinas SBH 2016.

Aktivitas ini melibatkan beberapa adik-adik pramuka dari tingkat Penegak dan Pandega yang berasal dari beberapa daerah yang ikut dalam kegiatan Pertinas SBH 2016 seperti Daerah Istimewa Yogyakarta, Papua, NTB, Jawa Tengah, maupun dari wilayah lokal dari Kabupaten Blitar.

Dikutip dari wawancara dengan kak Tama, “Ini salah satu kerjasama yang sangat baik, kegiatannya semoga bisa diperbanyak contohnya adalah Pramuka dengan UNICEF membuat acara perkemahan yang secara khusus untuk melakukan penyuluhan kepada Pramuka muda Indonesia tentang kepedulian terhadap anak-anak dan ibu.” Kak Tama adalah salah satu peserta PERTINAS SBH 2016 yang merasa senang dan bangga bisa menjadi agen perubahan dengan ikut dalam program program UNICEF. Kak Tama juga terdaftar sebagai U-Reporter yang siap berperan aktif dalam melaporkan hal hal yang penting dilaporkan.

Kak Tama, Pramuka dari Kontingen Jogja

Salah satu program menarik yang ada dalam booth UNICEF adalah U-Report, khusus untuk program ini disediakan berbagai macam doorprize menarik yang membuat Pramuka muda bersemangat untuk ikut andil dan mempromosikan sebagai bagian dari U-Reporter. Masing masing Pramuka diberikan penyuluhan bagaimana caranya untuk menjadi bagian dari U-Reporter menggunakan media social Facebook dan Twitter mereka. U-Report diharapkan mampu dimanfaatkan secara penuh oleh kakak-kakak Pramuka yang peduli dengan anak-anak dan ibu di sekitar lingkungan sekitar mereka hanya dengan menggunakan media social mereka.

Penjelasan U-Report kepada Pramuka di booth UNICEF.

Dengan antusias mereka mendengarkan penjelasan materi yang menarik dari tim Communication yang diselingi dengan game-game seru dengan hadiah yang juga menarik tentunya.

Kak Ikhsan, Pramuka dari Kontingen Papua

Salah seorang peserta lainnya yaitu kak Ikhsan mengutarakan pendapatnya, “Harapan saya untuk anak-anak Indonesia harus sehat, sadar dengan gizi mereka, dan tidak boleh lagi ada kasus kekurangan gizi di Indonesia”. Kak Ikhsan bercerita bahwa di daerah masih banyak sekali kasus anak anak yang kekurangan gizi dan perlu dengan secara sigap dibantu agar bisa terlepas dari permasalahan tersebut. Kak Ikhsan juga sudah terdaftar sebagai bagian dari U-Reporter dan berniat untuk mengajak kakak-kakak Pramuka lainnya agar mau dan berperan aktif sebagai U-Reporter. Bagaimana dengan kamu? Ayo bergabung sebagai U-Reporter di sini


Memahami Peran UNICEF untuk Anak Indonesia

Memahami Peran UNICEF untuk Anak Indonesia

Oleh: Asriani Madjid

31 Mei 2016 dini hari, saya meninggalkan Jakarta bersama tim dan terbang menuju Bandara Juanda Surabaya. Dijemput oleh TIm UNICEF di sana, kami berkendara selama 5 jam menuju satu kota yang masih asing bagi saya, tetapi nama kota ini cukup terdengar familiar, Kabupaten Tulung Agung.

Tujuan utama kami adalah kantor Lembaga Perlindungan Anak di pusat kota Tulung Agung. Sebagai mitra dari UNICEF, kami dijelaskan dengan detail kegiatan apa saja yang sudah  dilakukan dalam upaya perlindungan anak.

Dimulai dari tahun 2000 hingga 2004, LPA mengadakan penelitian terhadap anak-anak yang dipekerjakan pada Industri Pembuatan Marmer. Kemudian LPA mulai melibatkan anak-anak dalam audiensi bersama para pengambil keputusan, sehingga mereka pun memahami dengan baik persoalan-persoalan anak. Dibuat agenda tersistem oleh anak yang disebut Forum Anak Desa atau biasa disebut sebagai Dewan Anak.

UNICEF sendiri mendukung kegiatan yang terfokus pada Pengasuhan bagi Anak terutama di panti yang 80% diantaranya masih memiliki orang tua untuk kepentingan sekolah.


Pertemuan Mitra UNICEF dan Management LPA
   
Kondisi demografis Tulung Agung dengan 68% penduduknya adalah orang tua dan 32% sisanya terdiri dari anak-anak, tidak menutup kemungkinan akan timbulnya permasalahan anak. Isu strategis yang menjadi pembahasan kami di antaranya adalah Anak buruh migran, kekerasan terhadap anak, pekerjaan terburuk anak, ekploitasi seks komersial anak, penelantaran anak, dan lain sebagainya.

Pekerjaan anak yang marak dilakukan adalah sebagai Nelayan di mana selama satu minggu mereka berpenghasilan 300 – 500 ribu rupiah per hari. Padahal resikonya pun cukup tinggi, anak-anak bisa terancam kematian tiap kali cuaca buruk dan ombak meninggi.

Di bidang tekstil anak-anak dipekerjakan dengan melakukan hal monoton seperti melipat pakaian, hal ini dapat menurunkan tingkat kecerdasan karena kegiatan yang dilakukan hanya itu-itu saja.

Selain itu anak-anak di warung kopi bisa mendapat uang lebih, cukup dengan duduk di atas (dipangku) pengunjung warung, kondisi ini masih rutin dilakukan hingga sekarang.

Banyak tantangan, banyak pula upaya-upaya terbaik yang telah dilakukan oleh LPA Tulung Agung. Terbukti dari Penghargaan Madya Lembaga Perlindungan Anak yang mereka dapatkan berturut-turut sejak tahun 2011. Begitu banyak perhatian yang diberikan oleh LPA mengenai Akta Kelahiran, Pengelolaan Forum Anak, Sekolah Ramah Anak, dan tersedianya BUS/Angkutan Sekolah secara GRATIS sebanyak 7 (tujuh) unit.

Kami juga bekesempatan bertemu dengan anak-anak Dewan Perwakilan Anak (DPA) yang secara kebetulan tengah mengadakan rapat dalam rangka kegiatan Kumpul Bocah di tanggal 2 Juni 2016. Kami saling berkenalan dan tanya jawab, anak-anak yang berusia 12 hingga 18 tahun ini memiliki semangat luar biasa, cerdas-cerdas, dan merupakan calon pemimpin di masa depan.

Bersama Mitra UNICEF dan Tim Kantor UNIT LAYANAN TERPADU Kab. Tulung Agung

Selain LPA, kami juga berkesempatan mengunjungi UNIT LAYANAN TERPADU Perlindungan Sosial Anak Integratif (PSAI), tepatnya di Jalan Pahlawan No. 1, Tulung Agung. Unit ini dibuat bertujuan untuk mewujudkan perlindungan kesejahteraan sosial anak di tingkat kabupaten. Dengan memberikan penanganan terjadinya tindak kekerasan, ekspolitasi, penelantaran, dan perlakuan salah terhadap anak. Memberikan penanganan terhadap anak yang mempunyai permasalahan kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sosial. Serta menciptakan keterpaduan dalam upaya penanganan kelompok resiko dan penanganan tindak kekerasan, ekplotasi, penelantaran, dan perlakuan salah terhadap anak.

Diakhir kunjungan ke Kantor UNIT LAYANAN TERPADU PSAI ini dilakukan tanya jawab terhadap beberapa kasus contohnya kasus anak usia dibawah 18 tahun yang melakukan Pencurian atau menjadi maling ditengah malam, membuka pintu rumah seperti layaknya perampok profesional, dan juga kasus anak melakukan penembakan oleh anak usia 14 thn dan yang terkena tembak teman sendiri usia 13 tahun. Kasus ini telah ditangani oleh UNIT LAYANAN TERPADU dan juga melibatkan beberapa aparat seperti Kepolisian.

Selanjutnya saya juga melihat dengan jelas sistem informasi di ruang pengaduan, bagaimana data-data diinput hingga menjadi sebuah grafik. Peran UNICEF dalam fase persiapan terbentuknya semua sistem data di UNIT LAYANAN TERPADU ini sangat luar biasa, senang sekali bisa bertemu dengan mereka semua dan memahami dengan baik peran UNICEF serta mitra lainnya untuk Anak Indonesia.


Perjalanan Ke Timur Indonesia: Menyalakan masa depan anak bersama UNICEF

Perjalanan Ke Timur Indonesia: Menyalakan masa depan anak bersama UNICEF

Oleh: Dinda Veska


Mendapat kesempatan untuk mengunjungi Papua adalah hal yang sangat menyenangkan sekaligus menegangkan. Awalnya, saya pikir akan banyak cerita-cerita menyedihkan yang akan ditulis sepulangnya dari sana. Ingat betul, sehari sebelum keberangkatan seorang teman di kantor berkata “siap-siap sedih deh Din kalau ke sana.”

Perasaan campur aduk antara takut, senang, dan penasaran menggandrungi diri saya ketika mendarat di bandar udara Wamena. Kota yang namanya memiliki arti “Babi Jinak” ini cukup banyak didatangi pendatang, mulai dari pedagang makanan, pegawai hotel, hingga pelayan masyarakat mayoritas bukan suku asli Papua. Salah satunya adalah Dokter Filan yang menemani saya dan beberapa teman officer UNICEF lainnya pergi mengunjungi desa-desa di pedalaman Wamena.

2010, dokter beranak satu ini ditugaskan menjadi pelayan kesehatan di Desa Wollo - desa pertama yang kami kunjungi. Bermodalkan semangat pengabdian, beliau belajar bahasa asli Suku di Wamena, demi memudahkan pelayanannya kepada masyarakat khususnya Ibu dan Anak.

“Tentu ada rasa takut dan cemas saat pertama kali bertugas di sini, tapi yang terpenting bagi saya yaitu manfaat untuk masyarakat.” Ungkap dokter Filan.

Tantangan utama lainnya menurut beliau adalah adaptasi dengan masyarakat setempat, medan perjalanan yang sulit dilalui (pada saat itu), dan menemukan kader-kader kesehatan untuk membantu pelayanan di Desa Wollo. Enam tahun merupakan waktu yang cukup panjang untuk akhirnya tidak ada lagi kematian Ibu saat melahirkan, mall nutrisi, stunting, ataupun masalah kesehatan lainnya. Bukan waktu yang sebentar untuk akhirnya jeripayah Dokter Filan membuahkan hasil.

Sepanjang perjalanan, salah satu teman officer yang juga seorang dokter bercerita mengenai salah satu Puskesmas di Kabupaten Jayawijaya yang didukung oleh UNICEF. “Dua tahun yang lalu Din, sebelum saya berangkat melanjutkan sekolah. Program di sana tuh dianggap gagal, karena mamah-mamah itu sedikit sekali yang datang untuk imunisasi, PosTu-nya sepi. Padahal salah satu indikator keberhasilan program itu adalah tempat pelayanan kesehatannya beroperasi dan berguna untuk masyarakat. Nah, kemarin pas saya datang berkunjung, udah ramai, dan beroperasi dengan baik, jumlah kematian juga berkurang signifikan.” Cerita Dokter Ratih penuh semangat.

Upaya yang dilakukan oleh Dokter Filan dan Dokter Ratih menegaskan bahwa butuh waktu yang tidak singkat untuk membuat perubahan bagi Ibu dan Anak. Bahwasanya ada proses, tenaga, sumberdaya, dan waktu yang dikorbankan untuk menyalakan masa depan anak-anak di Timur Indonesia. Sama halnya dengan saya, ada proses yang harus dilalui selama dua hari di sana, hingga akhirnya bisa mengatakan kepada teman lainnya yang akan berangkat nanti, “Siapkan kepala untuk merekam dan jari untuk menulis banyak cerita perubahan yang ada di sana. Papua itu bukan menyedihkan, tapi seperti Dokter Filan dan Dokter Ratih: MEMBANGGAKAN.”

Bagi saya, cerita keberhasilan dari kedua dokter di atas menandakan bahwa pekerjaan UNICEF pun tidak bisa berhenti sampai di sini. Ada 85 Juta Anak Indonesia yang harus terus dipenuhi haknya atas kesehatan. Ada banyak dokter lainnya  yang juga harus didukung pengorbanannya untuk Anak Indonesia. Tentu ini tidak menjadi tanggung jawab UNICEF saja tapi banyak pihak lainnya di luar sana. Karena pemenuhan hak anak bukan hanya tugas Dokter Filan, Dokter Ratih, saya, anda, ataupun UNICEF, tapi tugas kita semua.

Ayo ikut nyalakan masa depan Anak Indonesia bersama UNICEF!


Tantangan dari Timur Indonesia

Tantangan dari Timur Indonesia

By Charlie Hartono, Philanthropy Officer UNICEF Indonesia 

Mengasah rasa tepa selira

Selalu ada cerita yang tak terduga dalam setiap perjalanan mengunjungi Indonesia Timur bersama UNICEF. Bertemu dengan orang baru, berkomunikasi dengan cara pandang yang seringan mungkin dan melakukan interaksi dengan masyarakat setempat dengan gaya bahasa yang sesederhana mungkin, merupakan tantangan yang luar biasa.

Lebih dari semua itu, kunjungan ke daerah yang jauh dari hiruk pikuk Jakarta membuat saya lebih mensyukuri hidup, mengasah rasa tepa selira dan membuka cakrawala berfikir yang seringkali masih sempit mengenai arti hidup yang sesungguhnya, khususnya dunia anak-anak yang begitu indah.

Dari Ambon ke Saumlaki

Dalam perjalanan kali ini, Kepulauan Tanimbar / Maluku Tenggara Barat (MTB) adalah lokasi yang saya kunjungi. Jika dilihat dari peta, Kepulauan Tanimbar sendiri berlokasi tepat di atas Darwin, Australia atau boleh dikatakan letaknya juga di sebelah Tenggara bagian Barat Ambon – Kepulauan Maluku. Secara keseluruhan, ada 80 desa dan 1 kelurahan bernama Saumlaki dalam satu gugusan kepulauan MTB. Mata pencaharian utama dari penduduk di MTB adalah menjual kopra (bahan utama untuk sabun mandi), umbi-umbian (ubi dan singkong), sayur mayur (terong, cabe, tomat, dan bunga pepaya). Biasanya semua bahan ini akan dikirimkan ke pengepul yang akan menjualnya kembali ke Ambon, Surabaya dan Merauke.

Menggunakan Garuda Indonesia saya terbang dari Ambon ke Saumlaki dengan pesawat ATR 72-600 “Explore” berpenumpang 70 orang. Secara keseluruhan – belum termasuk waktu transit, dibutuhkan 3 jam waktu terbang dari Soekarno Hatta Airport ke Pattimura Airport di Ambon lalu dilanjutkan dengan 1,5 jam penerbangan dari Ambon ke Bandara Mathilda Batlayeri, Saumlaki.


Di perjalanan kali ini, saya tidak sendirian namun ditemani dua rekan dari UNICEF Ambon (Hellen Geertruida Parera dan Irma Anintya Tasya). Bersyukur sekali pendaratan di Saumlaki mulus, walau gerimis dan mendung menyambut kedatangan kami. Bergegas kami bertiga dibawa mobil menuju kota yang jaraknya sekitar 20 menit untuk check-in di Hotel Harapan Indah – lokasinya tidak jauh dari pintu masuk Pelabuhan dan Pasar Tradisional Saumlaki. Sehabis beberes, kami menyambangi mitra UNICEF – Pak John dan Pak Youngkie dari Dinas Kesehatan MTB dan Pak Fritz dari Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM). Ketiganya memberikan sedikit arahan tentang daerah yang akan kami kunjungi, termasuk tantangan alam seperti ombak yang tinggi dan kondisi jalan yang akan kami lalui. Tiga desa yang menjadi target untuk kami sambangi adalah Desa Larat, Lelingluan dan Batu Putih.

150 Kilometer menuju Larat

Perjalanan ke desa Larat harus ditempuh sepanjang 150 kilometer dalam waktu 3 jam. Meskipun terdengar cukup lama, perjalanan darat ini terasa singkat. Di dalam mobil, Pak John banyak menceritakan tentang tantangan yang ada di desa tersebut salah satunya tentang masih tingginya tingkat Kematian Ibu dan Anak, kasus HIV dan AIDS yang kian merebak serta wabah diare yang cukup mengkhawatirkan.

Untuk bisa sampai ke desa Larat, kami semua harus turun dan memarkir kendaraan di desa Siwahan, lalu naik perahu kecil untuk menyeberang. Sayangnya sore itu hujan turun sangat lebat sehingga kami harus menunggu sekitar 45 menit hingga hujan reda di desa Siwahan. Saya sempat mendokumentasikan sebuah toilet terbuka umum[1]  yang memiliki desain cukup unik di sana. Sebelum akhirnya kami menyeberang dengan perahu motor kecil[2]  selama 15 menit menuju Desa Larat.


Kami tiba sore hari di Desa Larat sebelum matahari tenggelam untuk sekedar check-in di Losmen Talenta. Listrik di sana hanya menyala sejak pukul enam sore hingga enam pagi dikarenakan asupan listrik dari Pemerintah yang sangat terbatas.

Tantangan di Desa Larat dan Lelingluan

Sayang sekali dikarenakan sedang ada pertemuan keagamaan sore itu di Desa Larat, maka kami tidak dapat melakukan interaksi lebih awal dengan Ibu Bidan di Puskesmas di sana. Kami memutuskan untuk mengunjungi Desa Lelingluan yang jaraknya hanya 10 menit dengan Kapal Mesin Kecil[3] untuk bertemu dengan Bapak Kades disana. Beliau bercerita tentang beberapa tantangan di desa Lelingluan antara lain tentang tidak adanya bidan, hanya ada 6 kader yang menangani 2 Posyandu kecil untuk menjawab kebutuhan kesehatan 1993 orang. Di tahun 2016, terdapat 1 bayi meninggal karena terlahir dengan jarak kelahiran yang sangat pendek dari kelahiran bayi pertama (dari ibu yang sama). Di bidang pendidikan, banyak guru yang absen disebabkan jarak yang jauh serta transportasi yang mahal. Masih tingginya tingkat pernikahan dini juga dipercaya sebagai penyumbang terbesar kematian ibu.



Setelah pamitan dengan Pak Kades di Lelingluan, kami kembali ke Larat untuk mengunjungi Puskesmas disana. Lumayan mengejutkan, ketika hendak mengambil sepatu (mungkin karena gelap), tangan saya diantuk seekor kalajengking. Beruntung setibanya di Puskesmas Larat, saya diberikan suntikan untuk anti sakit oleh Ibu Bidan Opi. Sembari ngobrol dengan Bidan Opi, beliau menceritakan kegelisahannya tentang keterbatasan tenaga kesehatan di Desa Larat. Seringkali hal tersebut membatasi ruang geraknya sebagai tenaga kesehatan. Harapan Ibu Bidan ini adalah agar Desa Larat dapat bertambah baik bukan hanya fasilitasnya (seperti mobil Ambulans yang baru saja diganti) melainkan juga tenaga perawat yang cukup untuk menangani masyarakat di desa. Lebih lanjut, berdasarkan data 2016 disinyalir bahwa kasus kekerasan terhadap wanita cukup tinggi di Desa Larat. Mungkin hal ini disebabkan oleh ketidaksiapan mental para generasi muda dalam menghadapi pernikahan dini.

Tanpa Listrik dan Sinyal handphone di Batu Putih

Keesokan harinya kami berencana untuk menuju Desa Batu Putih. Namun untuk bisa sampai kesana kami lebih dulu harus kembali ke Saumlaki. Menaiki rakit[4]  adalah satu satunya jalan yang sama harus kami tempuh.

Perjalanan ke Batu Putih sendiri tantangannya sangat kontras berbeda dengan perjalanan ke Larat dan Lelingluan. Dibutuhkan kesabaran ekstra untuk melalui medan jalan yang masih penuh dengan lumpur kering dan basah. Jalan ini seyogyanya merupakan akses yang sedang diupayakan Pemerintah Provinsi – dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum kota Ambon untuk bisa dirampungkan paling lambat tahun 2017 mendatang. Bagi masyarakat Batu Putih, setidaknya akses jalan ini lebih baik dari kondisi jalan sebelumnya[5] .

Dibutuhkan 8 kali turun naik dari kendaraan yang saya tumpangi supaya mobil dapat terus melaju dan menerjang lumpur.[6] [7] [8] 

Secara keseluruhan dibutuhkan 7.5 jam pulang pergi menuju Batu Putih dari kota Saumlaki. Sebenarnya jalan laut dapat pula ditempuh, namun saat ini kondisi cuaca dan ombak yang tidak bersahabat sama sekali tidak dianjurkan. Desa ini didiami 292 kepala keluarga dengan jumlah pria dan wanita yang hampir sama. Listrik sama sekali belum terinstalasi di desa ini. Sinyal telepon sama sekali hilang di tengah perjalanan menuju Batu Putih. Tidak ditemukan isu gizi namun terdapat 1 kasus ibu berberat badan tidak wajar (Ibu Seli - berumur 17 tahun). Ada juga tantangan lainnya di desa ini yaitu, 80 anak murid sering terbengkalai dikarenakan ketidakhadiran guru di Desa ini. Rendahnya tingkat kepedulian ibu untuk melakukan imunisasi dini berakibat juga pada kematian bayi. Desa yang memiliki pantai sangat indah ini sayangnya juga masih mempraktekkan buang air besar sembarangan yang mengakibatkan kasus diare semakin meningkat.


Akhirnya, perjalanan kembali ke Saumlaki diakhiri dengan kenangan lumpur yang melekat di baju dan celana saya. Mobil yang kami tumpangi tertahan oleh truk yang terperangkap dalam lumpur sejak sore hari. Kami terpaksa harus turun dan berjalan dalam genangan lumpur di kegelapan malam bermandikan bintang bintang. Akhirnya sopir yang luar biasa mengambil inisiatif mengambil jalan baru melalui semak semak untuk keluar dari jebakan lumpur. Kami tiba kembali di Hotel pada pukul 23.30 WIB.

Perjalanan saya ke Saumlaki, Larat dan Lelingluan merupakan perjalanan perdana dan pastinya bukan menjadi perjalanan terakhir. Bersama UNICEF, saya ingin mengundang Anda untuk juga melihat dan merasakan langsung kehidupan masyarakat di bagian timur Indonesia lainnya. Pada saat tulisan ini dibuat, saya sedang bersiap untuk berangkat menuju Wamena, Papua. Tunggu cerita saya bersama anak-anak Indonesia lainnya.


*Sumber Gambar:
Map Saumlaki dan Tanimbar
- https://adeulfah.files.wordpress.com/2011/01/saumlaki1.jpg
- https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgGSxu9IhxGPW9N-hz0k_4Gz1FUMSGo62kf0KQi2mVgpVHvj4miwLHxg08sKT56y2S0F4IX8bMGOJyADpa600Hze5tq8ZyRZ7DSdlQC18WctgM6jblzL_DkCvkAiZcqZ7770KQ1oqKBZBum/s1600/peta+saumlaki.jpg


Video 1


Video 2



Video 3


Video 4


Video 5


Video 6


Video 7


Video 8

Randi, Rendi, dan Ibu Ruth: Penyala Semangat dari Kupang

Randi, Rendi, dan Ibu Ruth: Penyala Semangat dari Kupang

Oleh: Asrifakhru Rozi Batubara, UNICEF Fundraiser 

Menjadi seorang fundraiser untuk program  perbaikan gizi anak-anak Indonesia bukanlah hal yang mudah. Di satu sisi ada tanggung jawab dan komitmen yang digantungkan UNICEF kepada saya, di sisi lainnya menawarkan kepercayaan kepada para donatur di kota besar seperti Surabaya juga menjadi tantangan yang luar biasa. Ada beban besar yang hampir setiap hari saya rasakan.

Tetapi kemudian, beban itu menyala menjadi api semangat di 18 Februari kemarin. Ketika saya berkesempatan melihat secara langsung program perbaikan gizi buruk yang diinisiasi oleh UNICEF, tepatnya di wilayah kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Di Desa Obelo saya bertemu dengan seorang Ibu bernama Ruth Kiki. Sudah enam bulan lamanya beliau mendedikasikan diri untuk menjadi relawan di Posyandu Kesra. Tugas Ibu Ruth mungkin mudah untuk dilakukan, mulai dari menimbang berat badan dan lingkar lengan balita, kemudian konseling. Semua itu dilakukan setiap bulan untuk memastikan semua balita di lingkungan tersebut dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana yang seharusnya.

Tetapi ada hal lain yang saya pelajari dari Ibu Ruth. Motivasinya yang sangat tinggi demi membantu sekitar cukup untuk menggetarkan hati seorang pemuda kota seperti saya. Inilah yang beliau katakan: “Saya prihatin dengan kondisi balita disini,karena kurangnya pemahaman ibu mereka tentang bagaimana merawat anak dengan baik. Saya ingin sekali melihat balita disini sehat, ceria dan memiliki masa depan yang lebih baik”.


Ada keyakinan yang tumbuh di dalam diri saya setelah mendengar ucapan Ibu Ruth. Bahwa program pelatihan yang difasilitasi oleh UNICEF dan Action Contre La Faim (ACF) ini tidak hanya memberi manfaat-manfaat teknis. Seperti peningkatan pengetahuan,  keterampilan dan kompetensi mereka tentang pemberian ASI. Tetapi juga ada hal-hal di luar teknis yang jauh lebih berdampak pada perubahan prilaku masyarakat. Saya yakin, ke depan akan ada Ibu Ruth lainnya yang kemudian juga termotivasi untuk menjadi relawan di Posyandu.

Sayangnya, perbaikan gizi buruk menjadi tugas yang tidak mudah bagi relawan di Kupang. Mengingat data survei terbaru yang dilakukan oleh UNICEF dan Action Contre La Faim  ( ACF ) menunjukkan bahwa 21 persen anak-anak di daerah ini mengalami kurang gizi akut ( sangat kurus) dan 52 persen mengalami stunting (terlalu pendek untuk usia mereka). Ditambah lagi, menurut Ibu Kepala Puskesmas Baktate di Pos PGBM (Penanganan Gizi Buruk Berbasis Masyarakat). Ada beberapa kendala yang menyebabkan program ini belum berjalan maksimal, di antaranya:

  • Latar belakang pendidikan orang tua masih rendah
  • Usia pernikahan yang sangat muda 
  • Kesadaran dan prilaku masyarakat akan kesehatan masih rendah

Di PUSTU (Puskesmas Pembantu) Nitneo yang berjarak 30 menit dari Batakte, saya berjumpa dengan dua balita kembar penderita gizi buruk yang sedang dalam pengawasan UNICEF dan pihak puskesmas sejak November 2015. Selama kurun waktu 3 bulan Randi dan Rendi diberikan eeZeepaste, adalah makanan pengganti berisi kandungan gizi yang dibutuhkan balita. Saat ini mereka mengalami perkembangan yang cukup baik, terlihat dari penambahan berat badannya.

Randi, Rendi, dan Ibu Ruth menjadi penyala untuk saya tetap bersemangat melakukan fundraising. Mereka akan menjadi terang untuk saya menemukan tangan-tangan baik berikutnya di Surabaya. Semoga salah satunya adalah anda.

Menemukan inspirasi di lapangan

Menemukan inspirasi di lapangan

Oleh Gabé Hirschowitz, Next Generation UNICEF di Los Angeles


Saat meminum air botolan dan menuliskan blog post ini, saya langsung teringat pada anak-anak yang saya temui di Kupang yang berjalan dua kali sehari selama dua jam (sekali di pagi hari sebelum berangkat sekolah, dan sekali di sore hari sepulang sekolah) untuk mengambil air bersih untuk keluarga mereka.

Empat jam setiap harinya. Bagaimana ini terjadi? Bagaimana mungkin ini adil?  Mengapa air minum yang bersih dan aman tidak tersedia untuk anak-anak dan keluarga di seluruh dunia?

Ini hanya beberapa dari banyak hal yang berlarian di pikiran saat saya tersentak memikirkan tentang krisis air dunia yang dihadapi oleh banyak individu di kehidupan sehari-hari. Setiap orang berhak atas air bersih. Sungguh mengejutkan bahwa masih banyak yang tidak mendapatkannya di tahun 2016.

Saat ditanya tentang apa yang dilakukan untuk bersenang-senang di waktu luang mereka, anak-anak muda itu menjawab, "Kami membantu keluarga di rumah dan membantu pekerjaan orangtua kami."

Konsep ini mungkin tampak asing bagi kebanyakan remaja Amerika. Namun, remaja-remaja Indonesia ini berseri-seri karena cinta dan cahaya, dan mereka sangat menghargai kedatangan kami. Motivasi dan kegembiraan mereka untuk terhubung dengan yang lain sangat luar biasa.

Mereka adalah bagian dari program kegiatan Inovasi UNICEF  yang didanai oleh NextGen untuk Proyek Inovasi. Balai pemuda yang luar biasa ini membantu anak-anak mengindentifikasi sesuatu yang mereka pikir sebagai masalah yang paling menekan dalam masyarakat saat darurat. Selama kunjungan kami, mereka memperlihatkan dua ide purwa-rupa untuk menyelesaikan beberapa masalah terkait banjir dan kekeringan. Proses produktif dan kreatif ini mengajarkan kelompok pemuda ini untuk berpikir di luar kotak dan juga memberikan mereka rasa percaya diri dan umpan balik yang diperlukan untuk memajukan masyarakat dengan bantuan UNICEF.

Kunjungan ini adalah momen yang istimewa dalam hidup saya karena Proyek Keran Air telah menjadi satu hal yang saya sukai sejak saya bergabung dengan NextGen. Los Angeles NextGen Art Party saya yang pertama memberikan manfaat bagi langkah-langkah penyediaan air bersih. Dapat dikatakan, saya sangat percaya bahwa kunjungan khusus ini terjadi dalam hidup saya karena satu alasan: untuk mengingatkan saya untuk selalu menggenggam hal ini dekat di hati di sepanjang hidup saya.

Air bersih adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Ini yang membuat kita hidup dan berkembang. Ini adalah hak asasi mendasar kita sebagai makhluk hidup, dan saya akan melakukan apa yang saya bisa untuk memastikan saya melakukan bagian saya untuk mendukung hal penting ini.

Sungguh suatu cara yang luar biasa untuk menjalani hari ulang tahun ke-30 saya. Kelompok pemuda itu menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun paling manis saat kami pergi, suatu kenangan yang akan selalu saya simpan dalam hati.

Di hari pertama kami di Jakarta, kami berkendara ke pusat layanan kesehatan yang didukung oleh UNICEF di Hari Imunisasi Nasional. Anak-anak dan ibu-ibu berkumpul di sekitar pusat kesehatan "dadakan" untuk mendapatkan booster polio untuk anak-anak mereka, dan juga memeriksakan berat dan tinggi badan anak-anak mereka untuk memastikan mereka tumbuh dengan sehat.

Sungguh menginspirasi untuk dapat menyaksikan program kegiatan yang sangat indah dan produktif. Setiap ibu bertekad memastikan anaknya mendapatkan perawatan dan perhatian yang layak mereka dapatkan. Satu tetes vaksin di bawah lidah akan mencegah polio seumur hidup. "WOW" yang sangat besar hinggap di pikiranku. Saya menjadi sangat emosional saat menggambarkan kenangan ini, karena kenapa tidak semua bayi menerima tetes vaksin yang dapat mencegah penyakit yang mengubah hidup dan mematikan ini?  Ini sangat sederhana dan saya sangat bersyukur dapat menyaksikan dedikasi dan komitmen yang sangat besar atas nama para petugas pusat kesehatan dan para ibu di Indonesia. Mereka adalah pahlawan sejati.

Saya ingin menutupnya dengan kunjungan kami ke sekolah dasar yang sangat indah di Kupang. Saat kami sampai di sekolah, rasanya seperti cahaya matahari menyinari lapangan bermain. Anak-anak memakai seragam berwarna kuning cerah saat mereka menyambut kami dengan senyuman lebar, bernyanyi, menari dan melambaikan tangan. Energi positif dan semangat indah mereka adalah salah satu momen murni yang paling indah dan tak terlupakan yang pernah saya saksikan.

Kelly, ketua NextGen Los Angeles dan saya saling beradu mata, dan saat itu juga kami menangis karena bahagia, rasa syukur dan penghargaan.

Mereka memiliki taman yang indah di belakang sekolah dan setiap kelas bertanggung jawab untuk memelihara dan menanam beragam jenis sayur mayur. Lalu mereka siapkan dan masak sayuran itu saat siap dipanen. Mereka juga memiliki perpustakaan yang indah dengan buku-buku yang disusun secara alfabetis dan dipisah berdasarkan fiksi dan non-fiksi. Sungguh menyenangkan melihat perhatian dan penghargaan diberikan pada kegiatan membaca dan pendidikan. Mungkin karena staf pengajar yang baik, mungkin karena  anak-anak yang menyenangkan, atau keduanya, tapi setiap orang dapat mengatakan pada Anda bahwa ada sesuatu yang istimewa di sekolah dasar itu. Jujur, saya akan mengingat hari itu selama hidup saya.

Secara keseluruhan, pengalaman kami di Indonesia sangat memuaskan dan informatif. Saya selamanya sangat bersyukur atas perjalanan tak terlupakan bersama UNICEF ini. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh David Thoreau, "Kebaikan adalah satu-satunya investasi yang tidak pernah gagal."

Kami bertemu dengan seorang ibu di Kupang yang memiliki anak laki-laki kembar yang menderita malnutrisi saat bayi.  Michael, dari UNICEFUSA, bertanya jika kami punya pertanyaan untuknya dan saya bertanya, "Apa mimpi Anda untuk anak-anak Anda?"  Dia menjawab dengan emosional bahwa yang dia harapan untuk anak-anaknya adalah "kesehatan dan kebahagiaan." Saat itu saya menyadari bahwa kesehatan dan kebahagiaan adalah hasrat universal yang diinginkan setiap ibu untuk anak-anak mereka di seluruh dunia. Kesejahteraan anak-anak dan orang tercinta kita adalah ikatan terkuat yang mengikat banyak ibu bersama-sama dalam perjalanan yang kita sebut kehidupan.

Pengalaman ini telah membuka mata saya lebih lebar dan menginspirasi saya dalam banyak cara yang positif. Saya sungguh bersyukur menjadi bagian dari keluarga UNICEF untuk bekerja dengan individual-individual yang luar biasa dan penuh bakti. Saya juga lebih dari bersyukur, atas orang tua dan keluarga saya yang telah menginspirasi dan memotivasi saya untuk melakukan hal-hal yang sedemikan baik di kehidupan sehari-hari.

Terima kasih atas perjalanan sekali seumur hidup ini.

***
Baru-baru ini, sejumlah anggota Next Generation dari Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia untuk melihat lebih dekat bagaimana dana yang mereka bantu kumpulkan untuk Laboratorium Inovasi UNICEF Indonesia membuat perubahan yang berkelanjutan. Berikut ini adalah catatan tentang kegiatan mereka di Indonesia: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5

'Ini adalah perjalanan sekali seumur hidup'

'Ini adalah perjalanan sekali seumur hidup'

Oleh Kelly Wilson, Ketua, Next Generation UNICEF di Los Angeles


Saya belum pernah pergi ke tempat seperti ini; suatu negara dengan dua dunia yang benar-benar berbeda, dan dua dunia itu tumpang tindih satu di atas yang lainnya, bertabrakan antar ruang dan berebut sumber daya, waktu dan perhatian. Indonesia menghadapi tantangan-tantangan sebagai negara dengan pertumbuhan kota yang cepat dan di saat yang sama masih mencoba memecahkan masalah-masalah terkait negara dunia-ketiga. Yang mengejutkan, tampaknya tidak ada pemisah fisik antara si sangat kaya dan si miskin; daerah kumuh di samping gedung mewah, bangunan terbengkalai di samping pencakar langit yang mentereng, buang air besar di depan monumen pemerintah. Indonesia memiliki PDB ke-16 terbesar di dunia dan negara ekonomi kedua terbesar di Asia Tenggara, namun gelombang itu tidak mengangkat semua perahu, dan Indonesia melempar semua itu tepat ke muka Anda.

Di hari pertama, kami mengunjungi daerah kumuh yang dibangun di atas Tempat Pembuangan Akhir. Tidak ada yang dapat membuat Anda siap menghadapi kebas yang Anda rasakan karena melihat banyak sekali rumah-rumah keluarga dikelilingi oleh sampah, remaja-remaja tanpa sepatu mengetik pada telepon seluler terbaru dan anak-anak kecil menggaruk-garuk kepala karena kutu rambut. Dan saat kau pikir otakmu sudah terlalu penuh, seorang anak berlari ke arahmu dan mencium tanganmu. Berada di antara reruntuhan bangunan dan tumpukan sampah, dia tersenyum. Dia bersama keluarganya, dan dia bahagia. Dengan manis saya teringat pada rasa kemanusiaan yang teguh dari anak-anak dan mengapa mereka berhak menerima tidak kurang dari perlindungan dan dukungan kita, tidak peduli betapa rumit penyelesaiannya.

Di hari pertama itu, saat kami memberikan vaksinasi pada anak-anak di pos kesehatan, tiba-tiba jelas bahwa UNICEF memimpin dalam menciptakan solusi untuk masyarakat-masyarakat ini. UNICEF berada di lapangan melatih para petugas kesehatan, mengembangkan teknologi untuk mendapatkan umpan balik dari praktik-praktik baru di lapangan, bekerja dengan pemerintah untuk menjadikan kebutuhan perawatan-kesehatan dasar lebih tersedia, membuat bahan-bahan pengajaran untuk para ibu dan memberdayakan anak-anak untuk menciptakan solusi. UNICEF telah menjadikan dirinya agen perubahan di setiap tingkat, mempengaruhi kebijakan, sikap dan praktik secara luas.

Yang teringat dari perjalanan kami adalah pusaran angin yang memberikan saat-saat tak berakhir tentang motivasi untuk melanjutkan dukungan kami melalui Next Generation UNICEF. Dari hangatnya hati kami oleh senyuman anak-anak sekolah dan jiwa kami yang terinspirasi oleh semangat para pemuda usia dua-puluh tahunan yang mempengaruhi dunia di sekitar mereka, dari tantangan yang diberikan pada otak kami oleh tim UNICEF untuk menciptakan solusi, dan semangat kami yang terangkat oleh para pemimpin lokal yang dengan bangga menyebut diri mereka orang Indonesia

Ini adalah perjalanan sekali seumur hidup, membuat saya berendah hati, menginspirasi saya dan selamanya mengikat saya pada tugas UNICEF yang tiada banding untuk menempatkan anak-anak di posisi utama.


***

Baru-baru ini, sejumlah anggota Next Generation dari Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia untuk melihat lebih dekat bagaimana dana yang mereka bantu kumpulkan untuk Laboratorium Inovasi UNICEF Indonesia membuat perubahan yang berkelanjutan. Berikut ini adalah catatan tentang kegiatan mereka di Indonesia: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4

Mengalami langsung kegiatan UNICEF Indonesia

Mengalami langsung kegiatan UNICEF Indonesia

Oleh Casey Rotter, Pendiri Next Generation UNICEF


Untuk saya, melakukan perjalanan dengan UNICEF Indonesia adalah pengalaman yang sangat luar biasa. Tidak hanya luar biasa untuk dapat melihat langsung pekerjaan hebat yang dilakukan UNICEF dan bertemu dengan keluarga-keluarga yang kehidupannya telah diubah -- bahkan diselamatkan -- terima kasih pada organisasi yang hebat ini, tapi hal ini juga istimewa untuk saya sebagai anggota staf untuk menyaksikan anggota-anggota NextGen kami mengalami langsung kegiatan UNICEF untuk pertama kalinya. Melihat pendonor benar-benar menyerap sifat dan kedalaman kegiatan UNICEF dengan berada di lapangan adalah istimewa adanya.  Setelah bertahun-tahun terlibat dalam organisasi, anggota-anggota NextGen yang berdedikasi ini akhirnya dapat memberikan wajah dan nama mereka pada staf yang mereka dukung dan anak-anak yang hidupnya telah diubah oleh usaha pengumpulan dana dan dana pribadi mereka.

Inilah maksud utama kunjungan lapangan para pendonor ini. Tidak peduli seberapa banyak yang kau pikir kau tahu tentang UNICEF, tidak ada yang lebih baik dari bertemu dengan staf yang bekerja di lapangan setiap harinya, menghabiskan hari dengan rekanan pemerintah dan benar-benar memperoleh pemahaman tentang betapa mereka mempercayai dan menghargai kata-kata dan kemitraan UNICEF, mendengarkan advokasi remaja tentang hak-hak rekan-rekannya, dan melihat ke dalam mata seorang ibu saat ia berkata bahwa jika bukan karena dukungan UNICEF untuk Posyandunya, bayi yang tersenyum di gendongannya tidak akan ada di sini hari ini.

Melihat sang ibu menahan air matanya adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kami lupakan, dan adalah sesuatu yang menggerakkan kami agar bekerja lebih baik lagi untuk UNICEF. Untuk semua pengalaman ini, kami selamanya berterima kasih. Jadi, TERIMA KASIH untuk UNICEF Indonesia, rekan UNICEF di negara ini, semua sukarelawan luar biasa yang kami temui dan seluruh keluarga NextGen yang mendukung kegiatan luar biasa ini.

***

Baru-baru ini, sejumlah anggota Next Generation dari Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia untuk melihat lebih dekat bagaimana dana yang mereka bantu kumpulkan untuk Laboratorium Inovasi UNICEF Indonesia membuat perubahan yang berkelanjutan. Berikut ini adalah catatan tentang kegiatan mereka di Indonesia: Part 1, Part 2, Part 3


Mengapa UNICEF?

Mengapa UNICEF?

Oleh Leila Ladjevardian, Next Generation di New York 


Next Generation UNICEF adalah suatu kelompok luar biasa yang terdiri dari kaum profesional muda dengan kesempatan yang unik untuk menyumbangkan waktu, dana dan tenaga mereka untuk membantu anak-anak paling rentan di dunia. Saya telah bergabung dengan NextGen selama hampir lima tahun sekarang, dan saat ini saya bertugas sebagai Wakil Ketua New York Steering Committee.

Saya mendedikasikan banyak waktu luang saya untuk tujuan-tujuan dan langkah-langkah melalui penyelenggaraan penggalangan dana, berkontribusi dalam program kegiatan-kegiatan dan merekrut anggota baru. Satu pertanyaan yang sering ditanyakan pada saya adalah, "Mengapa UNICEF?"

Di masa lalu, jawaban saya adalah: "UNICEF adalah organisasi internasional yang menempatkan anak-anak di urutan pertama.  Tidak peduli tentang politik, tidak peduli seberapa mengerikan situasinya -- UNICEF bekerja dengan pemerintahan lokal untuk memastikan anak-anak diperhatikan. Saya adalah generasi pertama orang Iran-Amerika dan menghargai keanggotaan internasional organisasi ini. Sebagai tambahan, ibu saya telah sangat terlibat dalam UNICEF selama bertahun-tahun, yang membuat saya dapat membangun hubungan dengan organisasi ini sejak usia dini."

Selama tujuh hari, saya menjelajahi Indonesia, terutama Jakarta dan Kupang, dengan personel UNICEF dan anggota-anggota NextGen, dan telah memformulasikan jawaban yang lebih mendalam untuk pertanyaan di atas. Yang membuat UNICEF istimewa bukan hanya karena ia adalah organisasi anak-anak internasional yang menyelamatkan kehidupan setiap harinya, tapi juga ia memiliki jangkauan dan susunan aktivitas yang tidak terhingga.

Indonesia dianggap sebagai negara "ekonomi-menengah", yang berarti walaupun ada area-area yang sangat miskin, ada pula aktivitas bisnis yang baik dan pertumbuhan ekonomi (kedua terbesar di Asia, khususnya).  Selama wisata tujuh hari kami, kami mengunjungi program-program UNICEF yang mengungkapkan lebarnya kesenjangan di Indonesia. Di hari pertama, kami mengunjungi klinik kesehatan di pinggiran kota Jakarta. Klinik ini dijalankan oleh sukarelawan yang didukung oleh UNICEF yang menyediakan sejumlah layanan untuk anak-anak di "lingkungan sekitar".  Layanan itu mencakup vaksinasi polio hingga pemeriksaan malnutrisi. Lebih dari 500 ibu datang ke klinik hari itu.  Anak-anak menangis, orang-orang berjubel, dan jelas sekali bahwa kemiskinan masih menjadi isu besar meskipun Indonesia menyandang status "ekonomi-menengah".

Di hari berikutnya kami mendapati pengalaman yang sangat berbeda. Kami mengunjungi sejumlah program kegiatan pemuda yang didukung oleh UNICEF dalam kapasitas yang sungguh berbeda. Program-program kegiatan ini dipimpin oleh pemuda dengan rentang usia 18 hingga 25 tahun. Kebanyakan adalah orang-orang terdidik di tingkat universitas dan memiliki isu sosial yang mereka rasa sangat penting: pernikahan dini, kesetaraan gender, dll. Peranan UNICEF adalah untuk mendukung kaum muda dalam perjuangan mereka dan mendukung mereka mendapatkan perubahan kebijakan.

Saya merasa mendapat pencerahan mendengar tentang program kegiatan pemuda yang disebutkan di atas. Saya selalu tahu tentang kegiatan lapangan UNICEF di masyarakat yang terbelakang seperti program kegiatan penyediaan air bersih dan sanitasi, perlawanan terhadap malaria dan polio, langkah-langkah penanggulangan malnutrisi, dll. Namun, saya tidak terlalu tahu tentang kegiatan advokasi yang kami lakukan. UNICEF tidak hanya mengurus kebutuhan dasar anak-anak di situasi yang sulit, tapi juga bekerja bahu membahu dengan kaum muda terdidik dan pemerintah lokal untuk mencapai penyelesaian jangka panjang dan perubahan di suatu negara. Tujuan utama adalah agar negara-negara tersebut bisa mandiri. Seperti yang selalu diucapkan oleh Casey, pendiri NextGen, "UNICEF senantiasa bekerja agar tidak dapat digunakan lagi."

Saya sangat bersyukur atas waktu saya di Indonesia. Mendengar cerita sukses langsung dari para ibu dan melihat rasa terima kasih mereka atas pekerjaan UNICEF sangatlah menginspirasi dan berharga. Saya dapat membuktikan bahwa setiap dolar yang disumbangkan pada UNICEF telah membantu menyelamatkan kehidupan anak-anak dan meningkatkan kebijakan ramah-anak di tingkat pemerintahan lokal dan nasional.


***
Baru-baru ini, sejumlah anggota Next Generation dari Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia untuk melihat lebih dekat bagaimana dana yang mereka bantu kumpulkan untuk Laboratorium Inovasi UNICEF Indonesia membuat perubahan yang berkelanjutan. Berikut ini adalah catatan tentang kegiatan mereka di Indonesia: Part 1, Part 2

Bagaimana cara menginspirasi perubahan?

Bagaimana cara menginspirasi perubahan?

Oleh Bonner Campbell, Next Generation di Los Angeles 

Baru-baru ini, sejumlah anggota Next Generation dari Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia untuk melihat lebih dekat bagaimana dana yang mereka bantu kumpulkan untuk Laboratorium Inovasi UNICEF Indonesia membuat perubahan yang berkelanjutan. Berikut ini adalah laporan orang-pertama tentang kegiatan mereka di Indonesia. 


Hal pertama yang menyentak saya saat mendarat adalah panasnya. Bahkan di malam hari, Jakarta adalah kota yang gerah dengan suhu 80°F (27 derajat Celsius). Saya di sini selama satu minggu dengan anggota NextGen lainnya untuk melakukan kunjungan lapangan untuk program-program kegiatan UNICEF. Indonesia adalah negara pertama tempat diadakannya dua lab inovasi terpisah dari UNICEF: satu di Jakarta, ibu kota negara yang sangat sibuk, dan satu di Kupang, sebuah kota di pulau Timor.

Aku terbujuk oleh konsep sebuah "lab inovasi". Lab-lab inovasi di Indonesia berfokus pada keterlibatan remaja dan pemuda dan juga tanggap darurat. Lab-lab ini melibatkan siswa-siswa dari Global Design for UNICEF Challenge dan mengeksplorasi beragam isu seperti pencatatan kelahiran dan tanggap bencana.

Walaupun telah diperoleh kemajuan dalam hal perlawanan terhadap kemiskinan, masih banyak yang harus dilakukan dan ide-ide inovatif sangatlah penting. Saya di sini untuk melihat cara UNICEF memperluas sumber daya yang terbatas dan memastikan kami membelanjakan dana kami di area yang akan memberikan dampak terbesar. Lebih jauh lagi, bagaimana saya dapat menginspirasi orang-orang di tempat asal saya untuk mempercayai pentingnya yang terjadi di belahan bumi lainnya, bagi mereka dan masa depan mereka?

Rencana perjalanan minggu ini terdiri dari 11-jam presentasi konferensi pers yang akan dilakukan dalam beberapa hari, dari staf lokal UNICEF dan kunjungan ke lapangan dan rekanan program kegiatan. Saya sungguh menantikan kesempatan untuk terlibat secara langsung dengan kegiatan yang dilakukan oleh UNICEF. Saya ingin kembali dengan membawa pemahaman budaya yang lebih baik dan ide-ide lain tentang cara UNICEF dan NextGen dapat terus memberikan dampak secara dramatis dan membangun masa depan yang lebih stabil untuk generasi muda masa kini.

Karena suhu cukup panas di Indonesia, semoga kami bisa mematangkan beberapa ide.


LPKA Kutoarjo: Ada Karena Setiap Orang Berhak Mendapat Kesempatan Kedua

LPKA Kutoarjo: Ada Karena Setiap Orang Berhak Mendapat Kesempatan Kedua

Oleh: Eva Natalia Pandjaitan, UNICEF Fundraiser

Saat pertama kali mendengar tentang Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), yang terlintas di benak saya adalah jeruji besi dengan anak-anak berwajah murung di dalamnya. Tetapi bayangan itu lenyap setibanya saya di LPKA Kutoarjo, sekitar tiga jam perjalanan dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Pekarangan yang asri dengan aneka bibit tanaman menyambut rombongan UNICEF diiringi sapaan hangat dan penuh kekeluargaan dari Kepala LPKA Kutoarjo yakni Bpk. Husni Setia Budi, Bpk. Deddy Eduar Eka Saputra sebagai Kasi Binadik serta petugas lapas lainnya dan juga Sahabat Kapas yang di wakili oleh ibu Dian Sasmita dan Erry Pratama.

LPKA  Kutoarjo adalah bangunan cagar budaya yang berdiri pada tahun 1838 di masa pemerintahan Hindia-Belanda dan berubah fungsi menjadi LAPAS Anak atau yang sekarang dikenal dengan LPKA. Ada 64 anak lelaki dan tiga anak perempuan yang mendapat pembinaan karena berbagai kasus pelanggaran hukum.


 LPKA ada karena mengacu pada UU Nomor 11/ 2012 mengenai Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) yang menyatakan bahwa dalam kasus anak-anak dibawah usia 12 (dua belas) tahun yang melakukan atau diduga melakukan tindak pidana, maka penyidik, pembimbing kemasyarakatan, dan pekerja sosial profesional mengambil keputusan untuk menyerahkan kepada bimbingan orang tua atau lembaga kesejahteraan sosial anak yang artinya anak tidak boleh masuk dalam tahanan.

Konsep pembinaan yang dilakukan berdasarkan pada prinsip kemandirian dengan tujuan agar mereka memiliki keterampilan untuk kembali ke masyarakat selepas masa pembinaan. Di antara banyak aktivitas dan keterampilan diajarkan ada kegiatan wirausaha bekerja sama dengan berbagai LSM yang ada di daerah tersebut, salah satunya adalah Sahabat Kapas.

Anak-anak didik di LPKA Kutoarjo mendapatkan hak yang sama dengan anak-anak pada umumnya termasuk di bidang pendidikan. Pengelola LPKA  menyediakan ruang kelas serta guru, termasuk di bidang kesenian seperti seni lukis, seni musik dan olah raga. Siswa yang dinyatakan lulus akan mendapatkan ijazah Paket A. Anak-anak di LPKA berhak mendapatkan remisi dengan syarat mereka harus mendapatkan nilai 40 dari keseluruhan aktivitas harian baik dalam pendidikan, kesenian dan kemandirian wirausaha.
       


Kebun yang saya lihat di pekarangan adalah bagian dari pelatihan keterampilan bertani dan berkebun. Ada pula pelatihan perikanan yang tentunya sangat bermanfaat bagi anak-anak didik LPKA untuk kelak mereka berwirausaha.

UNICEF memfokuskan upaya pada perlindungan untuk anak-anak di LPKA pada khususnya dan anak-anak yang berhadapan dengan hukum pada umumnya. Karena itu, sangat penting bagi UNICEF untuk memastikan mereka tetap mendapatkan hak-hak termasuk hak pendidikan dan terlindungi dari segala bentuk kekerasan, perlakuan salah atau eksploitasi.

UNICEF mendapat dukungan dari para mitra yaitu Sahabat Kapas, LPA Klaten dan Yayasan Setara dalam melakukan pendampingan hukum dan layanan psikososial bagi anak-anak dan keluarga termasuk advokasi untukpelaksanaan UU Sistem Peradilan Pidana Anak. Sedangkan di tingkat nasional dan daerah UNICEF bekerjasama dengan Kemensos, Kepolisian serta Kementerian Hukum dan HAM dalam melakukan pelatihan bagi Aparat Hukum dan Pekerja Sosial. Hal penting yang juga dilakukan yakni pendekatan kepada para petugas LPKA agar lebih terbuka terhadap cara pandang dan prinsip-prinsip hak anak serta lebih memiliki sensitifitas terhadap perkembangan dan hak-hak anak dalam menerapkan program dan layanan bagi anak didik.   Pihak LPKA Kutoarjo berharap UNICEF ikut membantu  pembuatan modul standar untuk lapas anak, misalnya terkait fasilitas dan sarana fisik yang memadai.


Selain di Kutoarjo, UNICEF juga juga mendukung mitranya dalam mendampingi anak-anak di LAPAS Kls 2 Klaten, LAPAS Klas 1 Semarang, Rutan Solo dan LPKA Blitar bersama dengan LPA Jatim. Juga memberikan dukungan bagi pemberian layanan   terhadap anak pasca keluar dari lapas agar lebih siap hidup mandiri di tengah masyarakat.

Kunjungan ke LPKA Kutoarjo meninggalkan kesan dan kekaguman mendalam di diri saya setelah melihat langsung dedikasi dan kerja keras banyak pihak untuk melindungi anak-anak yang berhadapan dengan hukum dan memastikan hak-hak mereka terpenuhi serta yang paling penting, mempersiapkan mereka untuk kembali ke tengah keluarga dan lingkungan dengan keterampilan dan optimisme karena setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua.

Program Keluarga Harapan Wujudkan Masyarakat Sehat dan Peluang Masa Depan Terbaik untuk Setiap Anak

Program Keluarga Harapan Wujudkan Masyarakat Sehat dan Peluang Masa Depan Terbaik untuk Setiap Anak

Oleh: Nuraeni, UNICEF Fundraiser

Pertama kali saya mendengar istilah Program Keluarga Harapan, satu hal yang terlintas di benak saya adalah semangat optimisme. Karenanya saya sangat gembira saat menerima kabar bahwa saya terpilih untuk ikut serta dalam kunjungan lapangan bersama tim UNICEF Indonesia untuk melihat dan mengenal lebih jauh tentang sejumlah program UNICEF di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah beberapa waktu lalu.

Agenda pertama saya di Kabupaten Brebes adalah menghadiri pertemuan di kantor BAPPEDA Kabupaten Brebes untuk bertemu dengan Forum Anak, Forum Pelindung Anak, dan para tenaga profesional untuk Program Keluarga Harapan. Forum anak di Kabupaten Brebes sangat aktif dalam berbagai kegiatan seperti melakukan sosialisasi ke sekolah dan ke masyarakat tentang hak-hak anak atau mengadakan bakti sosial. Forum anak Kabupaten Brebes juga selalu diundang dalam setiap musyawarah perencanaan pembangunan desa untuk menyuarakan pendapat mereka. 


Forum anak, Forum pelindung anak, dan pendamping PKH di Kabupaten Brebes.

Kehadiran program UNICEF di Kabupaten Brebes secara bertahap membantu pemerintah kabupaten melakukan perubahan menjadi kabupaten pelayanan ramah anak. Hal itu diwujudkan dengan inovasi pada 38 puskesmas dengan pelayanan ramah anak yang menyediakan ruangan bermain untuk anak. Dinas sosial Kabupaten Brebes juga telah mempunyai 187 tenaga pendamping profesional untuk anak dan menyediakan program TIARA ( Tekad Ibu dan Anak Sejahtera ) yaitu pelayanan untuk anak-anak yang membutuhkan perlindungan. Sedangkan dinas kesehatan Kabupaten Brebes telah memiliki sekelompok tenaga kesehatan terlatih untuk PMBA (Pemberian Makanan Bayi dan Anak ) dengan total 720 kader dan 61 bidan desa. Perwujudan pelayanan ramah anak juga sudah diterapkan di 263 sekolah di Kabupaten Brebes untuk mengurangi jumlah siswa yang terpaksa putus sekolah dikarenakan kasus bullying dan juga faktor ekonomi.

Kunjungan saya selanjutnya yang juga sangat berkesan adalah kegiatan sosialisasi program UNICEF yang bekerja sama dengan pemerintah daerah Kabupaten Brebes yaitu Program Keluarga Harapan Prestasi atau biasa disebut dengan PKH di Desa Pebatan. PKH adalah program yang memberikan insentif untuk membantu keluarga sangat miskin, termasuk membantu pemeriksaan kesehatan ibu hamil dan balita ke puskesmas dan posyandu. Program ini juga telah diadopsi oleh pemerintah nasional. Kerjasama UNICEF dengan pemerintah daerah dalam program PKH ini tidak hanya memberikan bantuan insentif tetapi juga memberikan pelatihan dan penyuluhan kepada para kader untuk dapat mempunyai pengetahuan lebih tentang hidup sehat dan bersih sehingga para kader bisa berbagi pengetahuan dengan ibu-ibu yang lain. Program ini bertujuan untuk membantu masyarakat serta para bidan di bidang kesehatan dan hal ini sangat penting guna memberikan setiap anak peluang untuk meraih masa depan terbaik mereka.

Buku panduan yang dimiliki oleh pendamping PKH untuk melakukan sosialisasi.

Hari itu, kegiatan sosialisasi yang dilakukan oleh pendamping PKH di Desa Pebatan membahas mengenai mengenai pentingnya memberikan ASI eksklusif kepada bayi yang diikuti oleh kelompok ibu-ibu desa, bidan desa, ahli gizi dan juga para kader kesehatan. Sosialisasi terdiri dari beberapa tahap antara lain menonton video mengenai Inisiasi Menyusui Dini, pembagian kelompok untuk membahas mengenai kekurangan dan kelebihan dalam memberikan ASI eksklusif, serta yang terakhir adalah tanya jawab antara ibu-ibu warga desa dengan pendamping PKH, bidan desa dan juga ahli gizi mengenai mitos dan fakta dari pemberian ASI eksklusif. Sosialisi pendamping PKH juga selalu ditutup dengan beberapa permainan dan juga menyanyikan lagu-lagu yang mengandung makna untuk melakukan ASI eksklusif.

Aktivitas kegiatan sosialisasi di Desa Pebatan

Saya juga berkesempatan mengunjungi kegiatan posyandu di Desa Pemawon yang rutin dilakukan setiap satu bulan sekali. Kegiatan ini biasanya dihadiri oleh 5 orang kader kesehatan, 2 orang bidan desa dan 1 orang ahli gizi.

Aktivitas di posyandu termasuk penimbangan berat badan bayi, pengukuran tinggi badan dan juga lingkar kepala serta konseling. Penimbangan berat badan dilakukan untuk mengetahui perkembangan pertumbuhan bayi. Pengukuran tinggi badan dan lingkar kepala sangat penting karena banyak terdapat bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan atau stunting.

Kegiatan penimbangan berat badan.

Kegiatan pengukuran tinggi badan bayi

Konseling dilakukan dalam bentuk konsultasi yaitu kader akan bertanya kepada ibu bayi mengenai asupan gizi yang diberikan. Kemudian kader mengisi buku kesehatan ibu dan bayi guna mengecek perkembangan bayi setiap bulannya. Kepada kami, para kader berbagi cerita mengenai kendala yang mereka hadapi selama melakukan penyuluhan seperti orang tua yang kerap lalai mengikuti nasihat tentang asupan makanan yang harus diberikan kepada anaknya.

Usai mengikuti kegiatan posyandu, bayi biasanya diberikan makanan bernutrisi misalnya bubur kacang hijau dan susu kedelai. Jika ada ibu yang berhalangan datang ke posyandu, maka kader PMBA akan datang ke rumah mereka. Sejak program PKH dijalankan pada 2012, Kabupaten Brebes mencatat kenaikan antara 5 hingga 7 per tahun dalam pemberian ASI eksklusif.

Kegiatan konseling di posyandu Desa Pemawon

Dari posyandu, saya mengunjungi Puskesmas Wanasari untuk menghadiri pertemuan para pendamping PKH di Kabupaten Brebes dengan bidan-bidan dan kepala puskesmas dari Kecamatan Wanasari. Pertemuan berisi dengan diskusi mengenai program PKH yang sudah dijalankan dari tahun 2012 dan akan berakhir pada bulan September 2016. Program PKH terdiri dari 8 sesi dan fokus untuk Kabupaten Brebes adalah gizi serta sanitasi.

Di akhir pertemuan, Kepala Puskesmas Wanasari menyampaikan harapan agar program pendamping PKH terus dilanjutkan karena program ini sangat membantu masyarakat serta para pekerja kesehatan di Kabupaten Brebes.

Bidan desa, ahli gizi, dinas kesehatan, pendamping PKH, Kepala Puskesmas Wanasari, dan konsultan UNICEF Kabupaten Brebes


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia