Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label UNICEF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UNICEF. Tampilkan semua postingan
Menggenggam erat Yuda dan Ence pasca bencana di Sulawesi

Menggenggam erat Yuda dan Ence pasca bencana di Sulawesi

Oleh: Dinda Veska – Donor Content Creator UNICEF Indonesia
Yuda dan Ence bermain bersama di samping tenda pengungsian. ©Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018

Jemari Yuda(11) menggenggam erat lengan Ence(6) adik kecilnya yang baru saja bersama-sama mengikuti kegiatan dukungan psikososial. Mereka berjalan pulang berdua, bukan ke rumah tetapi menuju tenda pengungsian, tempat di mana semua anggota keluarganya saat ini tinggal.

“Rumah kami sudah rata dengan tanah kak, sekolah juga. Kami tinggal di sini sekarang.”Ucap Yuda saat sampai di sebuah tenda terpal berwarna biru dengan ukuran lima kali tiga meter. Sore hari itu suhu udara mencapai 31 derajat celcius, sejak lumpur basah menelan rumah mereka dan seluruh Area Petobo, Yuda dan Ence tidak lagi mendapat kenyamanan untuk beristirahat apalagi bermain.

Rumah Ence dan Yuda habis ditelan lumpur di Area Petobo. ©Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018

Menurut Ibu mereka, Ence masih sering menangis di malam hari ketika menjelang tidur. “Mungkin masih takut, tapi sudah dua hari ini bermain di tenda sana, dia jadi lebih banyak senyum.”Ibu Heriyanti bercerita sambil menidurkan adik Yuda yang masih bayi.


Tenda yang dimaksud Ibu Heriyanti adalah Pos Layanan Perlindungan Anak yang didirikan dan dikelola oleh UNICEF bersama dengan Kementerian Sosial. Saat ini Pos tersebut sudah berdiri di 6 titik pengungsian bersama serta 14 pekerja sosial yang memberikan layanan dukungan psikososial, pendataan anak terpisah, penelusuran dan penyatuan kembali anak dan keluarga. Kesembilan pekerja sosial ini juga telah mendapat pelatihan tentang perlindungan anak dalam kedaruratan yang dibekali oleh UNICEF dan Kementerian Sosial.

Selama bermain dan bernyanyi bersama di pos, Yuda tidak pernah berada jauh dari sisi Ence. Ketika terpisah jarak dua hingga tiga meter, Yuda akan menukar posisinya dengan anak-anak lain untuk kembali berada di samping Ence.

Yudha (11) bercita-cita ingin menjadi pemain bola seperti Evan Dimas (atlet sepak bola Indonesia). ©Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018

“Mama bilang saya harus pegang Ence terus, main bersama-sama, pulang juga.”Yuda bercerita di samping tenda pengungsian. Dua kakak beradik ini sempat terpisah ketika gempa terjadi, Ence bersama ibunya lari tunggang langgang ke arah berbeda dengan Yuda yang digendong oleh pamannya. Tidak sampai dua jam setelah kampung mereka hilang ditelan lumpur, seluruh anggota keluarga Yuda dan Ence telah berkumpul di lokasi pengungsian saat ini.

Terpisahnya anak-anak seperti Yuda dan Ence dari anggota keluarga sangat mungkin terjadi ketika bencana datang, banyak anak dilaporkan hilang oleh orang tuanya, sampai saat ini 4 anak yang ditemukan terpisah kini telah dipersatukan kembali dengan anggota keluarga. Itu sebabnya penyatuan kembali anak-anak dengan anggota keluarga mereka (Family Tracing and Reunification)menjadi fokus utama UNICEF bersama Kementerian Sosial pasca bencana di Sulawesi.

Keinginan Yuda untuk tetap selalu berada di samping Ence adalah bentuk kekhawatiran seorang Kakak yang tidak ingin lagi terpisah dari adiknya. Kampung halaman mereka sudah hilang, boneka dan permainan-permainan lainnya habis tidak tersisa, bahkan teman sepermainan mereka hanya satu dua yang masih dapat mereka temui.

“Saya tidak tahu sampai kapan tinggal di tenda seperti ini. Tapi yang penting anak-anak semua lengkap bersama saya dan bapaknya, tidak terpisah.”Ucap Ibu Heriyanti.

Aku suka main-main di tenda sama kakak-kakak, bernyanyi, lipat-lipat kertas origami." Ucap Ence, kakak-kakak yang dimaksud adalah para pekerja sosial. ©Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018

Di hari-hari ke depan, hidup kedua kakak beradik ini akan terus berubah, tidak lagi sama seperti sebelumnya. Tetapi bersama-sama kita bisa pastikan Yuda dan Ence tidak lagi terpisah dan akan terus tergenggam erat dengan anggota keluarganya.

Bersama UNICEF dan Pemerintah, kita pastikan setiap anak dapat kembali tersenyum dan menjalani hidupnya tanpa rasa takut bersama Ibu, Ayah dan anggota keluarga lainnya.


Kasih Ibu Teresia untuk Alinea sepanjang masa

Kasih Ibu Teresia untuk Alinea sepanjang masa

Oleh: Dinda Veska – Donor Content Creator UNICEF Indonesia
Seorang anak di Kupang dengan HIV positif tertidur dibalik kelambu, ia terinfeksi sejak hari pertama lahir ke dunia.©Shehzad Noorani/UNICEF/2018.

Dari seberang jalan seorang ibu berperawakan besar dengan rambutnya terikat rapih ke belakang, melambaikan tangannya pada saya yang sedikit bingung menerka-nerka sosok Ibu Teresia. 

Tidak sampai 5 menit dari persimpangan Jalan Alak – Kabupaten Kupang, kami tiba di kediaman Ibu Teresia. Beliau mempersilahkan saya tetap memakai sepatu karena khawatir kaus kaki saya akan kotor oleh lantai rumahnya yang erlantaikan semen.

Tidak lama setelah masuk ke ruangan kedua setelah ruang tamu, beliau kembali keluar mengenakan kemeja berwarna kuning bertuliskan Warga Peduli AIDS di bahu sebelah kiri, senyumnya semakin manis dengan gincu merah.

Iya duduk sambil memangku Alinea (2) – anak dengan HIV positif yang belum genap satu tahun diadopsi. “Ibunya meninggal waktu saya sedang mendampingi pasien di rumah sakit.” Jelasnya, seolah paham dengan apa yang ingin segera saya tanyakan.

Ia mengaku jatuh cinta pada Alinea sejak pertama kali melihat Alinea di samping ranjang seorang perempuan dengan HIV positif yang tengah meregang nyawa. Setelah digantikan popok oleh Ibu Teresia, perempuan itu menitipkan Alinea untuk dirawat dan dibesarkan. Sesaat setelah Alinea kehilangan ibunya, Ibu Teresia mendapat persetujuan dari anak dan suami untuk mengadopsi Alinea.

Ia juga memberi pemahaman pada anak-anak dan suami yang tinggal bersama di rumah tentang bagaimana menjaga Alinea dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Ibu Teresia juga berkali-kali mengingatkan untuk selalu memberitahunya jika Alinea terluka fisik, karena anak-anaknya sendiri masih belum begitu paham bagaimana harus merawat adik angkatnya.

Ibu beranak 5 ini sudah sejak 2014 mendampingi 8 orang dengan positif HIV, selain mengurus keperluan rumah tangga dan anak-anaknya sendiri, ia aktif mengunjungi dan menemani pasien HIV untuk mendapat perawatan juga pengobatan di rumah sakit.

“Orang dengan HIV butuh didukung, terutama oleh keluarga sehingga mereka tetap memiliki semangat untuk hidup.”

Setiap penjelasan dari Ibu Teresia selalu menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri.

Di antara pasien-pasien yang didampingi Ibu Teresia, terdapat seorang ibu hamil dengan HIV positif, kondisi seperti ini dapat mengancam janin yang sedang berada di dalam kandungan. Bukan tidak mungkin bayi tersebut lahir dengan terinfeksi virus dari ibunya. Oleh karena itu semua ibu hamil pun harus menjalani tes HIV selama masa kehamilan. Kini tes tersebut sudah menjadi salah satu dari rangkaian pemeriksaan kehamilan di seluruh pusat pelayanan kesehatan.

“Janin itu kan tidak bersalah, mereka bahkan tidak mengerti apa-apa yang dialami ibunya. Saya ingin ikut membantu mereka dapat terhindar dari virus ini.” Ucap Ibu Teresia setelah menunjukkan beberapa buku panduan kesehatan yang selalu ia bawa setiap kali kunjungan ke rumah-rumah pasien.

Sejauh ini, sebanyak lebih dari 1000 orang terinveksi HIV di Kabupaten kupang (berdasarkan data dari pusat pelayanan kesehatan). UNICEF bersama pemerintah terus berupaya untuk memastikan sistem pelayanan kesehatan dapat menjangkau ibu hamil dan mencegah setiap anak yang lahir terinveksi virus HIV, hingga tidak ada lagi anak yang harus lahir menderita karena penyakit-penyakit yang bisa dicegah. Program Pencegahan Penyakit Menular dari Ibu ke Anak diharapkan juga dapat memudahkan langkah gerak relawan Peduli AIDS seperti Ibu Teresia.

Salah satu peran penting Ibu Teresia juga memastikan ibu hamil yang ia dampingi mengkonsumsi ARV secara rutin. “Semoga tidak ada lagi bayi-bayi yang lahir terinveksi virus ini.” Ungkapnya.

Setiap ibu hamil dengan HIV positif, harus mengkonsumsi ARV (Antiretroviral) atau obat untuk menekan jumlah virus yang berkembang di dalam tubuh si ibu sehingga dapat menurunkan kemungkinan bayinya terinveksi. Namun ketika bayi itu lahir, pengecekan darah dan status HIV harus rutin dilakukan pada seorang anak hingga usia 18 bulan, guna memastikan anak tersebut tidak terinfeksi HIV dari ibunya.

Kepedulian yang diperjuangkan oleh Ibu Teresia membawa saya pada potongan lirik lagu kasih ibu. Kasih sayangnya tak terhingga, sepanjang masa, hanya memberi dan tak harap kembali.

Ibu Teresia bukan hanya sekedar ibu angkat untuk Alinea, ialah cahaya yang akan terus menyinari langkah Alinea, kelima anaknya dan anak-anak lain di Kupang yang ingin ia selamatkan.


*Seluruh nama di dalam tulisan ini telah disamarkan, demi menghargai hak-hak anak.

"Saya ingin jadi polisi!" dibalik keberhasilan Gerakan Kembali Bersekolah

"Saya ingin jadi polisi!" dibalik keberhasilan Gerakan Kembali Bersekolah

Oleh: Dinda Veska, PSFR Communication Officer

Gunawan (9) terinspirasi ingin menjadi poiisi berkat Gerakan Kembali ke Sekolah. Mamuju @Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018

Gunawan menangis ketika saya tanyakan ingin jadi apa kelak di masa depan, air matanya tumpah sambil kemudian menjawab "Ingin jadi polisi." Tangisannya bukan karena rasa takut seorang anak yang bertemu dengan orang baru, tapi ada cerita yang ia lanjutkan sambil mengharu biru. "Saya ingin menjadi seperti bapak polisi yang membantu saya kembali ke sekolah."

Dua tahun lalu neneknya meninggal dunia, satu-satunya orang yang mendukung dan mengusahakan agar Gunawan dapat tetap bersekolah. "Nenek sudah tidak ada, jadi saya tidak bisa terus belajar lagi di sekolah, rumah saya juga jauh." Cerita Gunawan yang setiap hari harus berjalan kaki dari rumah hampir 4 kilometer untuk sampai ke sekolah. Jika pendidikan adalah eskalator untuk seorang anak memperbaiki nasibnya, maka pupuslah harapan Gunawan di hari ia putus sekolah. Keinginannya untuk membuat bangga sang nenek pun menjadi mustahil, karena satu-satunya pilihan di depan mata saat itu adalah menganggur.

November 2017, Gerakan Kembali Bersekolah yang merupakan tindak lanjut dari program SIPBM (Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat) kembali dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Mamuju. Lebih dari 3200 anak telah dijangkau dan dikembalikan ke sekolah. Gunawan dan beberapa anak lainnya dijangkau oleh pihak kepolisian setempat - yang telah mendapat pelatihan dari UNICEF Indonesia untuk berkomunikasi, berinteraksi, dan membantu setiap anak agar kembali mendapatkan haknya atas pendidikan.


Gunawan, Sultan, Ramadhan, dan Swandi bercita-cita menjadi polisi kelak di masa depan. Mamuju @Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018    

Program yang mengedepankan kerjasama lintas sektor (Dinas Pendidikan, Kepolisian, Perangkat Desa) dan partisipasi masyarakat setempat telah berhasil menyediakan kembali akses pendidikan untuk anak-anak yang tidak bersekolah di Kabupaten Mamuju. Tidak hanya Gunawan yang kini kembali belajar di kelas 3 SDN Inpres Puncak yang bercita-cita menjadi polisi. Ada tiga teman lainnya yang juga terinspirasi untuk menjadi polisi suatu saat nanti. 

Swandi (14) Mamuju @Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018    

Sebelumnya Swandi hanya menjadi kuli panggul di perkebunan, kini ia bersekolah lagi dan duduk di kelas 4 Sekolah Dasar. Harapannya kelak untuk menjadi polisi mengabaikan rasa malu terhadap teman-temannya yang jauh lebih muda dari Swandi. "Saya tidak ingin putus sekolah lagi. Kali ini harus selesai kak!" Ucapnya penuh semangat. Kondisi keluarganya yang sering berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain menjadi penghalang besar untuk ia menyelesaikan sekolah. Tapi kini orang tuanya juga mendukung dan mengusahakan agar tidak lagi berpindah tempat tinggal.

Ramadhan (15) Mamuju @Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018    

Usianya yang paling dewasa tidak mematahkan semangat Ramadhan untuk menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar. "Kalau ada kesempatan saya ingin melanjutkan ke sekolah menengah kak!" Menurut wali kelasnya, anak yang sedikit pemalu ini hampir tidak pernah membolos sejak kembali sekolah di kelas 4 SD.

Sultan (9) Mamuju @Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018

“Sultan ingin jadi polisi, melindungi orang banyak kak, membantu anak-anak kembali ke sekolah!" Ucapnya dengan lantang, anak berusia 9 tahun ini sempat putus sekolah di kelas 3 SD. Meski harus berjalan kaki 2-kilometer setiap harinya, Sultan menunjukan semangat belajarnya dengan sikap yang antusias dan selalu bertanya kepada guru ketika di kelas.


Mereka adalah sedikit dari ribuan anak yang berhasil dijangkau dan dikembalikan hak pendidikannya berkat dukungan dari banyak pihak. Program SIPBM dan Gerakan Kembali Bersekolah mustahil terlaksana tanpa dukungan dari banyak pihak seperti para Pendekar Anak, Pemerintah, pihak-pihak swasta, dan tentunya masyarakat setempat.

Swandi, Ramadhan, Gunawan, dan Sultan.
Mamuju
@Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018   
 

Melampaui keberhasilan Gerakan Kembali Bersekolah, baju seragam, transportasi menuju sekolah, buku-buku pelajaran ataupun status sebagai pelajar itu sendiri. Semangat dan motivasi baru telah berhasil disematkan kepada anak-anak Indonesia untuk mewujudkan harapan dan cita-citanya di masa depan.

Saat ini masih ada jutaan Anak Indonesia lainnya yang belum mendapat akses pendidikan. Mereka juga harus kita jangkau dan berikan haknya sebagai seorang anak. Dukungan berkelanjutan dan jangka panjang dari berbagai pihak akan melipatgandakan terwujudnya harapan dan cita-cita anak-anak di Indonesia.

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia