Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label inovasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inovasi. Tampilkan semua postingan
Pramuka Sebagai Agen Perubahan

Pramuka Sebagai Agen Perubahan

Oleh: M. Ilham Akbar Junior

Pertemuan lima tahunan bagi Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega yang aktif di satuan Karya Pramuka Bakti Husada (Saka Bakti Husada) tingkat nasional akan digelar pada 17-23 Oktober 2016 bertempat di Bumi Perkemahan Serut, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur. Kegiatan dalam bentuk perkemahan bakti ini  disebut Perkemahan Bakti Satuan Karya Pramuka Bakti Husada Tingkat Nasional ke V (PERTINAS SBH 2016).

Pada kegiatan perkemahan ini UNICEF ikut andil dalam mendukung pelaksanaan kegiatan dalam beberapa segmen: pendirian booth informasi kerjasama, dukungan material peraga untuk pendalaman krida Bina Lingkungan Sehat dalam platform WASH dan pendalaman krida Bina Gizi Sehat dalam platform Adolescent Nutrition. Dimana seluruh kerjasama ini didasarkan oleh cita-cita pengabdian yang selaras antara Gerakan Pramuka dan UNICEF, diharapkan melalui kerjasama ini potensi kemanfaatan dari kedua organisasi tersebut dapat tercapai. Dengan tagline “Pramuka adalah sebagai agen perubahan” diharapkan setiap pribadi Pramuka bisa menjadi contoh yang bagus di masyarakat untuk turut mensukseskan program-program UNICEF yang memiliki pengaruh positif dan perubahan pada masyarakat.

PERTINAS SBH 2016 dibuka oleh Wakil Gurbernur Gus Ipul dan Bupati Blitar Bpk. Krijanto.

Pada hari pertama pelaksanaan PERTINAS SBH 2016, sejak pagi hari sudah terlihat aktivitas pada booth UNICEF, dari divisi Nutrition UNICEF melakukan kegiatan pre-test material dari modul nutrition dengan mengundang kakak-kakak Pramuka untuk berdiskusi mengenai materi yang terkandung dalam modul pelatihan gizi untuk pramuka yang direncanakan akan digunakan pada aktivitas follow up pasca Pertinas SBH 2016. Diskusi tersebut dilakukan dengan proses reading materi oleh Pramuka, lalu dari pihak Pramuka akan memberikan opini dari sudut pandang mereka masing masing. Dari diskusi tersebut didapatkan beberapa point yang bisa digunakan sebagai bahan improvement untuk materi Nutrition kedepannya.


Rekan dari divisi Nutrition melakukan diskusi dengan kakak-kakak Pramuka

Melalui kegiatan reading material ini, program officer dari UNICEF dapat melihat kesesuaian material dengan rentang usia penerima yang akan menjadi target dari aktivitas program kerjasama dengan UNICEF pasca kegiatan Pertinas SBH 2016.

Aktivitas ini melibatkan beberapa adik-adik pramuka dari tingkat Penegak dan Pandega yang berasal dari beberapa daerah yang ikut dalam kegiatan Pertinas SBH 2016 seperti Daerah Istimewa Yogyakarta, Papua, NTB, Jawa Tengah, maupun dari wilayah lokal dari Kabupaten Blitar.

Dikutip dari wawancara dengan kak Tama, “Ini salah satu kerjasama yang sangat baik, kegiatannya semoga bisa diperbanyak contohnya adalah Pramuka dengan UNICEF membuat acara perkemahan yang secara khusus untuk melakukan penyuluhan kepada Pramuka muda Indonesia tentang kepedulian terhadap anak-anak dan ibu.” Kak Tama adalah salah satu peserta PERTINAS SBH 2016 yang merasa senang dan bangga bisa menjadi agen perubahan dengan ikut dalam program program UNICEF. Kak Tama juga terdaftar sebagai U-Reporter yang siap berperan aktif dalam melaporkan hal hal yang penting dilaporkan.

Kak Tama, Pramuka dari Kontingen Jogja

Salah satu program menarik yang ada dalam booth UNICEF adalah U-Report, khusus untuk program ini disediakan berbagai macam doorprize menarik yang membuat Pramuka muda bersemangat untuk ikut andil dan mempromosikan sebagai bagian dari U-Reporter. Masing masing Pramuka diberikan penyuluhan bagaimana caranya untuk menjadi bagian dari U-Reporter menggunakan media social Facebook dan Twitter mereka. U-Report diharapkan mampu dimanfaatkan secara penuh oleh kakak-kakak Pramuka yang peduli dengan anak-anak dan ibu di sekitar lingkungan sekitar mereka hanya dengan menggunakan media social mereka.

Penjelasan U-Report kepada Pramuka di booth UNICEF.

Dengan antusias mereka mendengarkan penjelasan materi yang menarik dari tim Communication yang diselingi dengan game-game seru dengan hadiah yang juga menarik tentunya.

Kak Ikhsan, Pramuka dari Kontingen Papua

Salah seorang peserta lainnya yaitu kak Ikhsan mengutarakan pendapatnya, “Harapan saya untuk anak-anak Indonesia harus sehat, sadar dengan gizi mereka, dan tidak boleh lagi ada kasus kekurangan gizi di Indonesia”. Kak Ikhsan bercerita bahwa di daerah masih banyak sekali kasus anak anak yang kekurangan gizi dan perlu dengan secara sigap dibantu agar bisa terlepas dari permasalahan tersebut. Kak Ikhsan juga sudah terdaftar sebagai bagian dari U-Reporter dan berniat untuk mengajak kakak-kakak Pramuka lainnya agar mau dan berperan aktif sebagai U-Reporter. Bagaimana dengan kamu? Ayo bergabung sebagai U-Reporter di sini


Laporan baru menyoroti perspektif orang muda mengenai Mutilasi Genital Perempuan

Laporan baru menyoroti perspektif orang muda mengenai Mutilasi Genital Perempuan


Hampir separuh dari orang muda yang berusia antara 13 dan 24 tahun di  Indonesia menganggap bahwa mutilasi genital perempuan (FGM) harus dilarang, menurut sebuah jajak pendapat online yang dilakukan oleh UNICEF melalui platform media sosial U-Report.

Laporan menemukan bahwa 44 persen responden menganggap bahwa praktek tersebut harus dihentikan dan 22 persen menganggapnya sebagai pelanggaran hak asasi manusia atau dapat  mengakibatkan konsekuensi kesehatan negatif. Lebih dari separuh responden (54 persen) menganggap bahwa FGM adalah suatu praktek keagamaan atau budaya.

“Kami menganggap bahwa temuan ini adalah indikasi penting bahwa anak-anak dan orang muda tertarik untuk membicarakan topik ini lebih lanjut dan sejumlah signifikan peserta mengharapkan bahwa para pelaku seperti kita semua membantu untuk mengakhiri praktek tersebut,” kata Lauren Rumble, Deputi Wakil UNICEF Indonesia. “Kami dapat menganggapnya sebagai panggilan untuk bertindak dari orang muda sendiri, bekerja sama dengan para tokoh agama dan budaya serta pelaku lainnya."

Lebih dari 3,000 tanggapan telah diterima dari orang yang sebagian besar tinggal di kota urban yang mengambil bagian dalam penelitian. Responden menjawab pertanyaan melalui platform polling @Ureport_ID berbasis Twitter dari UNICEF Indonesia.

Laporan tersebut merekomendasikan untuk meningkatkan jumlah informasi kepada orang muda beserta orang tua mengenai FGM, melakukan kampanye informasi publik mengenai praktek tersebut, serta melibatkan tokoh agama dan para pemimpin masyarakat maupun orang muda untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah ini.

Laporan media sosial mengikuti rilis pertama mengenai data yang meneliti FGM di Indonesia, yang menunjukkan bahwa sekitar setengah dari anak perempuan berusia 11 tahun dan lebih muda telah mengalami praktek tersebut. Pemerintah Indonesia telah mengumpulkan data melalui suatu survei rumah tangga bersama UNICEF Indonesia, dalam kolaborasi dengan Kantor Pusat UNICEF di New York, telah merilis data tersebut dalam bulan Februari 2016 pada Hari International Nol Toleransi bagi FGM / C.

Untuk membaca laporan lengkap, klik di sini.

Menemukan inspirasi di lapangan

Menemukan inspirasi di lapangan

Oleh Gabé Hirschowitz, Next Generation UNICEF di Los Angeles


Saat meminum air botolan dan menuliskan blog post ini, saya langsung teringat pada anak-anak yang saya temui di Kupang yang berjalan dua kali sehari selama dua jam (sekali di pagi hari sebelum berangkat sekolah, dan sekali di sore hari sepulang sekolah) untuk mengambil air bersih untuk keluarga mereka.

Empat jam setiap harinya. Bagaimana ini terjadi? Bagaimana mungkin ini adil?  Mengapa air minum yang bersih dan aman tidak tersedia untuk anak-anak dan keluarga di seluruh dunia?

Ini hanya beberapa dari banyak hal yang berlarian di pikiran saat saya tersentak memikirkan tentang krisis air dunia yang dihadapi oleh banyak individu di kehidupan sehari-hari. Setiap orang berhak atas air bersih. Sungguh mengejutkan bahwa masih banyak yang tidak mendapatkannya di tahun 2016.

Saat ditanya tentang apa yang dilakukan untuk bersenang-senang di waktu luang mereka, anak-anak muda itu menjawab, "Kami membantu keluarga di rumah dan membantu pekerjaan orangtua kami."

Konsep ini mungkin tampak asing bagi kebanyakan remaja Amerika. Namun, remaja-remaja Indonesia ini berseri-seri karena cinta dan cahaya, dan mereka sangat menghargai kedatangan kami. Motivasi dan kegembiraan mereka untuk terhubung dengan yang lain sangat luar biasa.

Mereka adalah bagian dari program kegiatan Inovasi UNICEF  yang didanai oleh NextGen untuk Proyek Inovasi. Balai pemuda yang luar biasa ini membantu anak-anak mengindentifikasi sesuatu yang mereka pikir sebagai masalah yang paling menekan dalam masyarakat saat darurat. Selama kunjungan kami, mereka memperlihatkan dua ide purwa-rupa untuk menyelesaikan beberapa masalah terkait banjir dan kekeringan. Proses produktif dan kreatif ini mengajarkan kelompok pemuda ini untuk berpikir di luar kotak dan juga memberikan mereka rasa percaya diri dan umpan balik yang diperlukan untuk memajukan masyarakat dengan bantuan UNICEF.

Kunjungan ini adalah momen yang istimewa dalam hidup saya karena Proyek Keran Air telah menjadi satu hal yang saya sukai sejak saya bergabung dengan NextGen. Los Angeles NextGen Art Party saya yang pertama memberikan manfaat bagi langkah-langkah penyediaan air bersih. Dapat dikatakan, saya sangat percaya bahwa kunjungan khusus ini terjadi dalam hidup saya karena satu alasan: untuk mengingatkan saya untuk selalu menggenggam hal ini dekat di hati di sepanjang hidup saya.

Air bersih adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Ini yang membuat kita hidup dan berkembang. Ini adalah hak asasi mendasar kita sebagai makhluk hidup, dan saya akan melakukan apa yang saya bisa untuk memastikan saya melakukan bagian saya untuk mendukung hal penting ini.

Sungguh suatu cara yang luar biasa untuk menjalani hari ulang tahun ke-30 saya. Kelompok pemuda itu menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun paling manis saat kami pergi, suatu kenangan yang akan selalu saya simpan dalam hati.

Di hari pertama kami di Jakarta, kami berkendara ke pusat layanan kesehatan yang didukung oleh UNICEF di Hari Imunisasi Nasional. Anak-anak dan ibu-ibu berkumpul di sekitar pusat kesehatan "dadakan" untuk mendapatkan booster polio untuk anak-anak mereka, dan juga memeriksakan berat dan tinggi badan anak-anak mereka untuk memastikan mereka tumbuh dengan sehat.

Sungguh menginspirasi untuk dapat menyaksikan program kegiatan yang sangat indah dan produktif. Setiap ibu bertekad memastikan anaknya mendapatkan perawatan dan perhatian yang layak mereka dapatkan. Satu tetes vaksin di bawah lidah akan mencegah polio seumur hidup. "WOW" yang sangat besar hinggap di pikiranku. Saya menjadi sangat emosional saat menggambarkan kenangan ini, karena kenapa tidak semua bayi menerima tetes vaksin yang dapat mencegah penyakit yang mengubah hidup dan mematikan ini?  Ini sangat sederhana dan saya sangat bersyukur dapat menyaksikan dedikasi dan komitmen yang sangat besar atas nama para petugas pusat kesehatan dan para ibu di Indonesia. Mereka adalah pahlawan sejati.

Saya ingin menutupnya dengan kunjungan kami ke sekolah dasar yang sangat indah di Kupang. Saat kami sampai di sekolah, rasanya seperti cahaya matahari menyinari lapangan bermain. Anak-anak memakai seragam berwarna kuning cerah saat mereka menyambut kami dengan senyuman lebar, bernyanyi, menari dan melambaikan tangan. Energi positif dan semangat indah mereka adalah salah satu momen murni yang paling indah dan tak terlupakan yang pernah saya saksikan.

Kelly, ketua NextGen Los Angeles dan saya saling beradu mata, dan saat itu juga kami menangis karena bahagia, rasa syukur dan penghargaan.

Mereka memiliki taman yang indah di belakang sekolah dan setiap kelas bertanggung jawab untuk memelihara dan menanam beragam jenis sayur mayur. Lalu mereka siapkan dan masak sayuran itu saat siap dipanen. Mereka juga memiliki perpustakaan yang indah dengan buku-buku yang disusun secara alfabetis dan dipisah berdasarkan fiksi dan non-fiksi. Sungguh menyenangkan melihat perhatian dan penghargaan diberikan pada kegiatan membaca dan pendidikan. Mungkin karena staf pengajar yang baik, mungkin karena  anak-anak yang menyenangkan, atau keduanya, tapi setiap orang dapat mengatakan pada Anda bahwa ada sesuatu yang istimewa di sekolah dasar itu. Jujur, saya akan mengingat hari itu selama hidup saya.

Secara keseluruhan, pengalaman kami di Indonesia sangat memuaskan dan informatif. Saya selamanya sangat bersyukur atas perjalanan tak terlupakan bersama UNICEF ini. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh David Thoreau, "Kebaikan adalah satu-satunya investasi yang tidak pernah gagal."

Kami bertemu dengan seorang ibu di Kupang yang memiliki anak laki-laki kembar yang menderita malnutrisi saat bayi.  Michael, dari UNICEFUSA, bertanya jika kami punya pertanyaan untuknya dan saya bertanya, "Apa mimpi Anda untuk anak-anak Anda?"  Dia menjawab dengan emosional bahwa yang dia harapan untuk anak-anaknya adalah "kesehatan dan kebahagiaan." Saat itu saya menyadari bahwa kesehatan dan kebahagiaan adalah hasrat universal yang diinginkan setiap ibu untuk anak-anak mereka di seluruh dunia. Kesejahteraan anak-anak dan orang tercinta kita adalah ikatan terkuat yang mengikat banyak ibu bersama-sama dalam perjalanan yang kita sebut kehidupan.

Pengalaman ini telah membuka mata saya lebih lebar dan menginspirasi saya dalam banyak cara yang positif. Saya sungguh bersyukur menjadi bagian dari keluarga UNICEF untuk bekerja dengan individual-individual yang luar biasa dan penuh bakti. Saya juga lebih dari bersyukur, atas orang tua dan keluarga saya yang telah menginspirasi dan memotivasi saya untuk melakukan hal-hal yang sedemikan baik di kehidupan sehari-hari.

Terima kasih atas perjalanan sekali seumur hidup ini.

***
Baru-baru ini, sejumlah anggota Next Generation dari Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia untuk melihat lebih dekat bagaimana dana yang mereka bantu kumpulkan untuk Laboratorium Inovasi UNICEF Indonesia membuat perubahan yang berkelanjutan. Berikut ini adalah catatan tentang kegiatan mereka di Indonesia: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5

'Ini adalah perjalanan sekali seumur hidup'

'Ini adalah perjalanan sekali seumur hidup'

Oleh Kelly Wilson, Ketua, Next Generation UNICEF di Los Angeles


Saya belum pernah pergi ke tempat seperti ini; suatu negara dengan dua dunia yang benar-benar berbeda, dan dua dunia itu tumpang tindih satu di atas yang lainnya, bertabrakan antar ruang dan berebut sumber daya, waktu dan perhatian. Indonesia menghadapi tantangan-tantangan sebagai negara dengan pertumbuhan kota yang cepat dan di saat yang sama masih mencoba memecahkan masalah-masalah terkait negara dunia-ketiga. Yang mengejutkan, tampaknya tidak ada pemisah fisik antara si sangat kaya dan si miskin; daerah kumuh di samping gedung mewah, bangunan terbengkalai di samping pencakar langit yang mentereng, buang air besar di depan monumen pemerintah. Indonesia memiliki PDB ke-16 terbesar di dunia dan negara ekonomi kedua terbesar di Asia Tenggara, namun gelombang itu tidak mengangkat semua perahu, dan Indonesia melempar semua itu tepat ke muka Anda.

Di hari pertama, kami mengunjungi daerah kumuh yang dibangun di atas Tempat Pembuangan Akhir. Tidak ada yang dapat membuat Anda siap menghadapi kebas yang Anda rasakan karena melihat banyak sekali rumah-rumah keluarga dikelilingi oleh sampah, remaja-remaja tanpa sepatu mengetik pada telepon seluler terbaru dan anak-anak kecil menggaruk-garuk kepala karena kutu rambut. Dan saat kau pikir otakmu sudah terlalu penuh, seorang anak berlari ke arahmu dan mencium tanganmu. Berada di antara reruntuhan bangunan dan tumpukan sampah, dia tersenyum. Dia bersama keluarganya, dan dia bahagia. Dengan manis saya teringat pada rasa kemanusiaan yang teguh dari anak-anak dan mengapa mereka berhak menerima tidak kurang dari perlindungan dan dukungan kita, tidak peduli betapa rumit penyelesaiannya.

Di hari pertama itu, saat kami memberikan vaksinasi pada anak-anak di pos kesehatan, tiba-tiba jelas bahwa UNICEF memimpin dalam menciptakan solusi untuk masyarakat-masyarakat ini. UNICEF berada di lapangan melatih para petugas kesehatan, mengembangkan teknologi untuk mendapatkan umpan balik dari praktik-praktik baru di lapangan, bekerja dengan pemerintah untuk menjadikan kebutuhan perawatan-kesehatan dasar lebih tersedia, membuat bahan-bahan pengajaran untuk para ibu dan memberdayakan anak-anak untuk menciptakan solusi. UNICEF telah menjadikan dirinya agen perubahan di setiap tingkat, mempengaruhi kebijakan, sikap dan praktik secara luas.

Yang teringat dari perjalanan kami adalah pusaran angin yang memberikan saat-saat tak berakhir tentang motivasi untuk melanjutkan dukungan kami melalui Next Generation UNICEF. Dari hangatnya hati kami oleh senyuman anak-anak sekolah dan jiwa kami yang terinspirasi oleh semangat para pemuda usia dua-puluh tahunan yang mempengaruhi dunia di sekitar mereka, dari tantangan yang diberikan pada otak kami oleh tim UNICEF untuk menciptakan solusi, dan semangat kami yang terangkat oleh para pemimpin lokal yang dengan bangga menyebut diri mereka orang Indonesia

Ini adalah perjalanan sekali seumur hidup, membuat saya berendah hati, menginspirasi saya dan selamanya mengikat saya pada tugas UNICEF yang tiada banding untuk menempatkan anak-anak di posisi utama.


***

Baru-baru ini, sejumlah anggota Next Generation dari Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia untuk melihat lebih dekat bagaimana dana yang mereka bantu kumpulkan untuk Laboratorium Inovasi UNICEF Indonesia membuat perubahan yang berkelanjutan. Berikut ini adalah catatan tentang kegiatan mereka di Indonesia: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4

Mengalami langsung kegiatan UNICEF Indonesia

Mengalami langsung kegiatan UNICEF Indonesia

Oleh Casey Rotter, Pendiri Next Generation UNICEF


Untuk saya, melakukan perjalanan dengan UNICEF Indonesia adalah pengalaman yang sangat luar biasa. Tidak hanya luar biasa untuk dapat melihat langsung pekerjaan hebat yang dilakukan UNICEF dan bertemu dengan keluarga-keluarga yang kehidupannya telah diubah -- bahkan diselamatkan -- terima kasih pada organisasi yang hebat ini, tapi hal ini juga istimewa untuk saya sebagai anggota staf untuk menyaksikan anggota-anggota NextGen kami mengalami langsung kegiatan UNICEF untuk pertama kalinya. Melihat pendonor benar-benar menyerap sifat dan kedalaman kegiatan UNICEF dengan berada di lapangan adalah istimewa adanya.  Setelah bertahun-tahun terlibat dalam organisasi, anggota-anggota NextGen yang berdedikasi ini akhirnya dapat memberikan wajah dan nama mereka pada staf yang mereka dukung dan anak-anak yang hidupnya telah diubah oleh usaha pengumpulan dana dan dana pribadi mereka.

Inilah maksud utama kunjungan lapangan para pendonor ini. Tidak peduli seberapa banyak yang kau pikir kau tahu tentang UNICEF, tidak ada yang lebih baik dari bertemu dengan staf yang bekerja di lapangan setiap harinya, menghabiskan hari dengan rekanan pemerintah dan benar-benar memperoleh pemahaman tentang betapa mereka mempercayai dan menghargai kata-kata dan kemitraan UNICEF, mendengarkan advokasi remaja tentang hak-hak rekan-rekannya, dan melihat ke dalam mata seorang ibu saat ia berkata bahwa jika bukan karena dukungan UNICEF untuk Posyandunya, bayi yang tersenyum di gendongannya tidak akan ada di sini hari ini.

Melihat sang ibu menahan air matanya adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kami lupakan, dan adalah sesuatu yang menggerakkan kami agar bekerja lebih baik lagi untuk UNICEF. Untuk semua pengalaman ini, kami selamanya berterima kasih. Jadi, TERIMA KASIH untuk UNICEF Indonesia, rekan UNICEF di negara ini, semua sukarelawan luar biasa yang kami temui dan seluruh keluarga NextGen yang mendukung kegiatan luar biasa ini.

***

Baru-baru ini, sejumlah anggota Next Generation dari Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia untuk melihat lebih dekat bagaimana dana yang mereka bantu kumpulkan untuk Laboratorium Inovasi UNICEF Indonesia membuat perubahan yang berkelanjutan. Berikut ini adalah catatan tentang kegiatan mereka di Indonesia: Part 1, Part 2, Part 3


Mengapa UNICEF?

Mengapa UNICEF?

Oleh Leila Ladjevardian, Next Generation di New York 


Next Generation UNICEF adalah suatu kelompok luar biasa yang terdiri dari kaum profesional muda dengan kesempatan yang unik untuk menyumbangkan waktu, dana dan tenaga mereka untuk membantu anak-anak paling rentan di dunia. Saya telah bergabung dengan NextGen selama hampir lima tahun sekarang, dan saat ini saya bertugas sebagai Wakil Ketua New York Steering Committee.

Saya mendedikasikan banyak waktu luang saya untuk tujuan-tujuan dan langkah-langkah melalui penyelenggaraan penggalangan dana, berkontribusi dalam program kegiatan-kegiatan dan merekrut anggota baru. Satu pertanyaan yang sering ditanyakan pada saya adalah, "Mengapa UNICEF?"

Di masa lalu, jawaban saya adalah: "UNICEF adalah organisasi internasional yang menempatkan anak-anak di urutan pertama.  Tidak peduli tentang politik, tidak peduli seberapa mengerikan situasinya -- UNICEF bekerja dengan pemerintahan lokal untuk memastikan anak-anak diperhatikan. Saya adalah generasi pertama orang Iran-Amerika dan menghargai keanggotaan internasional organisasi ini. Sebagai tambahan, ibu saya telah sangat terlibat dalam UNICEF selama bertahun-tahun, yang membuat saya dapat membangun hubungan dengan organisasi ini sejak usia dini."

Selama tujuh hari, saya menjelajahi Indonesia, terutama Jakarta dan Kupang, dengan personel UNICEF dan anggota-anggota NextGen, dan telah memformulasikan jawaban yang lebih mendalam untuk pertanyaan di atas. Yang membuat UNICEF istimewa bukan hanya karena ia adalah organisasi anak-anak internasional yang menyelamatkan kehidupan setiap harinya, tapi juga ia memiliki jangkauan dan susunan aktivitas yang tidak terhingga.

Indonesia dianggap sebagai negara "ekonomi-menengah", yang berarti walaupun ada area-area yang sangat miskin, ada pula aktivitas bisnis yang baik dan pertumbuhan ekonomi (kedua terbesar di Asia, khususnya).  Selama wisata tujuh hari kami, kami mengunjungi program-program UNICEF yang mengungkapkan lebarnya kesenjangan di Indonesia. Di hari pertama, kami mengunjungi klinik kesehatan di pinggiran kota Jakarta. Klinik ini dijalankan oleh sukarelawan yang didukung oleh UNICEF yang menyediakan sejumlah layanan untuk anak-anak di "lingkungan sekitar".  Layanan itu mencakup vaksinasi polio hingga pemeriksaan malnutrisi. Lebih dari 500 ibu datang ke klinik hari itu.  Anak-anak menangis, orang-orang berjubel, dan jelas sekali bahwa kemiskinan masih menjadi isu besar meskipun Indonesia menyandang status "ekonomi-menengah".

Di hari berikutnya kami mendapati pengalaman yang sangat berbeda. Kami mengunjungi sejumlah program kegiatan pemuda yang didukung oleh UNICEF dalam kapasitas yang sungguh berbeda. Program-program kegiatan ini dipimpin oleh pemuda dengan rentang usia 18 hingga 25 tahun. Kebanyakan adalah orang-orang terdidik di tingkat universitas dan memiliki isu sosial yang mereka rasa sangat penting: pernikahan dini, kesetaraan gender, dll. Peranan UNICEF adalah untuk mendukung kaum muda dalam perjuangan mereka dan mendukung mereka mendapatkan perubahan kebijakan.

Saya merasa mendapat pencerahan mendengar tentang program kegiatan pemuda yang disebutkan di atas. Saya selalu tahu tentang kegiatan lapangan UNICEF di masyarakat yang terbelakang seperti program kegiatan penyediaan air bersih dan sanitasi, perlawanan terhadap malaria dan polio, langkah-langkah penanggulangan malnutrisi, dll. Namun, saya tidak terlalu tahu tentang kegiatan advokasi yang kami lakukan. UNICEF tidak hanya mengurus kebutuhan dasar anak-anak di situasi yang sulit, tapi juga bekerja bahu membahu dengan kaum muda terdidik dan pemerintah lokal untuk mencapai penyelesaian jangka panjang dan perubahan di suatu negara. Tujuan utama adalah agar negara-negara tersebut bisa mandiri. Seperti yang selalu diucapkan oleh Casey, pendiri NextGen, "UNICEF senantiasa bekerja agar tidak dapat digunakan lagi."

Saya sangat bersyukur atas waktu saya di Indonesia. Mendengar cerita sukses langsung dari para ibu dan melihat rasa terima kasih mereka atas pekerjaan UNICEF sangatlah menginspirasi dan berharga. Saya dapat membuktikan bahwa setiap dolar yang disumbangkan pada UNICEF telah membantu menyelamatkan kehidupan anak-anak dan meningkatkan kebijakan ramah-anak di tingkat pemerintahan lokal dan nasional.


***
Baru-baru ini, sejumlah anggota Next Generation dari Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia untuk melihat lebih dekat bagaimana dana yang mereka bantu kumpulkan untuk Laboratorium Inovasi UNICEF Indonesia membuat perubahan yang berkelanjutan. Berikut ini adalah catatan tentang kegiatan mereka di Indonesia: Part 1, Part 2

Bagaimana cara menginspirasi perubahan?

Bagaimana cara menginspirasi perubahan?

Oleh Bonner Campbell, Next Generation di Los Angeles 

Baru-baru ini, sejumlah anggota Next Generation dari Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia untuk melihat lebih dekat bagaimana dana yang mereka bantu kumpulkan untuk Laboratorium Inovasi UNICEF Indonesia membuat perubahan yang berkelanjutan. Berikut ini adalah laporan orang-pertama tentang kegiatan mereka di Indonesia. 


Hal pertama yang menyentak saya saat mendarat adalah panasnya. Bahkan di malam hari, Jakarta adalah kota yang gerah dengan suhu 80°F (27 derajat Celsius). Saya di sini selama satu minggu dengan anggota NextGen lainnya untuk melakukan kunjungan lapangan untuk program-program kegiatan UNICEF. Indonesia adalah negara pertama tempat diadakannya dua lab inovasi terpisah dari UNICEF: satu di Jakarta, ibu kota negara yang sangat sibuk, dan satu di Kupang, sebuah kota di pulau Timor.

Aku terbujuk oleh konsep sebuah "lab inovasi". Lab-lab inovasi di Indonesia berfokus pada keterlibatan remaja dan pemuda dan juga tanggap darurat. Lab-lab ini melibatkan siswa-siswa dari Global Design for UNICEF Challenge dan mengeksplorasi beragam isu seperti pencatatan kelahiran dan tanggap bencana.

Walaupun telah diperoleh kemajuan dalam hal perlawanan terhadap kemiskinan, masih banyak yang harus dilakukan dan ide-ide inovatif sangatlah penting. Saya di sini untuk melihat cara UNICEF memperluas sumber daya yang terbatas dan memastikan kami membelanjakan dana kami di area yang akan memberikan dampak terbesar. Lebih jauh lagi, bagaimana saya dapat menginspirasi orang-orang di tempat asal saya untuk mempercayai pentingnya yang terjadi di belahan bumi lainnya, bagi mereka dan masa depan mereka?

Rencana perjalanan minggu ini terdiri dari 11-jam presentasi konferensi pers yang akan dilakukan dalam beberapa hari, dari staf lokal UNICEF dan kunjungan ke lapangan dan rekanan program kegiatan. Saya sungguh menantikan kesempatan untuk terlibat secara langsung dengan kegiatan yang dilakukan oleh UNICEF. Saya ingin kembali dengan membawa pemahaman budaya yang lebih baik dan ide-ide lain tentang cara UNICEF dan NextGen dapat terus memberikan dampak secara dramatis dan membangun masa depan yang lebih stabil untuk generasi muda masa kini.

Karena suhu cukup panas di Indonesia, semoga kami bisa mematangkan beberapa ide.


Teknologi RapidProMendukung Pekerjaan UNICEF untuk Memvaksinasi Anak-anak

Teknologi RapidProMendukung Pekerjaan UNICEF untuk Memvaksinasi Anak-anak

Oleh Kristi Eaton, Communications and Knowledge Management Officer, UNICEF Indonesia


Lilis gugup. Anak laki-lakinya yang berusia 2 dan 4 tahun sedang bersiap-siap menerima vaksinasi polio, dan dia khawatir mereka mungkin menangis. Mereka merapatkan diri ke Ibu mereka saat ia berbicara di posyandu setempat di Cilincing, sebuah daerah dengan pendapatan rendah di Jakarta Utara, dan berusaha untuk menenangkannya.

Namun demikian, Lilis mengetahui betapa pentingnya vaksinasi.

“Ini sangat penting untuk mereka supaya tidak sakit polio, karena kaki mereka bisa menjadi tidak berfungsi,” katanya.

Indonesia menempati urutan ke enam di dunia dalam jumlah bayi yang tidak divaksinasi atau belum divaksinasi lengkap. Setiap tahun, diperkirakan 700,000 bayi tidak menerima layanan imunisasi. Daerah perkotaan berpendapatan rendah seperti Cilincing terutama sangat beresiko untuk kurang imunisasi, membuat anak-anak rentan terhadap wabah campak, polio, dan diphtheria. UNICEF mendukung pemerintah untuk mengubah situasi ini _ memanfaatkan teknologi komunikasi baru yang memungkinkan pemantauan yang lebih baik dan intervensi yang menargetkan sistem yang gagal berfungsi.



Di tempat-tempat seperti Cilincing, petugas kesehatan terus menghadapi tantangan karena bisa sangat sulit untuk melacak dan memonitor setiap anak yang menerima vaksinasi yang diperlukan. Inilah dimana program baru mulai bekerja. Pada tahun 2015, UNICEF mulai membuat percontohan teknologi RapidPro, sebuah program yang menggunakan pesan singkat SMS untuk mengumpulkan, memonitor dan menyebarkan informasi kesehatan.

Dengan menggunakan teknologi RapidPro, layanan kesehatan mampu mengidentifikasikan lokasi lingkungan beresiko tinggi dan memverifikasi vaksin bulanan pada pusat kesehatan. Melacak bayi-bayi yang belum mendapatkan dosis vaksinasi dan mengirimkan pesan yang mengingatkan orang tua terhadap jadwal vaksinasi juga memungkinkan di bawah teknologi RapidPro.

“RapidPro merupakan platform software open-source yang memungkinkan spesialis program dan non-coder menjalankan program pemantauan dan pelaporan berbasis SMS ponsel,” kata Jeffrey Hall, Innovation Lead UNICEF Indonesia. “Ini memanfaatkan teknologi komunikasi ponsel untuk mempercepat dan memperkuat hasil untuk anak-anak.”

Innovation Lab UNICEF Indonesia bekerja untuk meningkatkan dan mendorong partisipasi pemuda untuk memikirkan, menciptakan, mencoba dan menguji solusi kreatif yang dapat membantu meningkatkan kehidupan anak-anak dan pemuda di negara ini.

UNICEF memiliki Innovations Lab di sejumlah negara di seluruh dunia sekarang. Lab Indonesia dimulai pada tahun 2013 dengan pendanaan dari U.S. Fund’s Next Generation, sekelompok pemimpin muda, entrepreneur dan inovator berusia 20 hingga 30an yang berkomitmen untuk mendukung pekerjaan UNICEF.


Sejumlah anggota Next Generation melakukan perjalanan ke Indonesia dari Amerika Serikat baru-baru ini untuk melihat dari dekat bagaimana uang yang mereka kumpulkan membuat perubahan jangka panjang. Salah satu kunjungan lapangan mereka selama perjalanan satu minggu itu adalah ke Cilincing untuk melihat ratusan anak-anak menerima vaksinasi polio.

“Berada disini langsung adalah satu-satunya cara untuk benar-benar memahami energinya,” kata Bonner Campbell, 25 tahun dari Los Angeles, California, yang merupakan seorang analis keuangan senior di Netflix. “Saya memutuskan untuk mengunjungi Indonesia karena saya ingin mengetahui mengenai peran UNICEF di negara-negara berpenghasilan menengah, terutama bagaimana peran ini berinteraksi dengan program pemerintah. Pekerjaan yang dilakukan UNICEF dengan mitra programnya untuk mengadvokasi hak-hak anak sangat mengesankan.”


U-Report Indonesia Resmi Diluncurkan

U-Report Indonesia Resmi Diluncurkan

Oleh Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer 

Jeffery Hall dan Vania Santoso dari UNICEF Indonesia Innovation Lab bicara tentang U-Report. ©UNICEF Indonesia/2015 /Nick Baker 

Jakarta, INDONESIA 4 Desember 2015 - UNICEF resmi meluncurkan U-Report Indonesia: Sebuah platform inovatif baru yang memberikan kesempatan kepada anak-anak muda untuk bicara tentang isu-isu yang mempengaruhi hidup mereka.

Ratusan anak muda Indonesia menghadiri acara peluncuran di Jakarta, dimana para anggota UNICEF Indonesia Innovation Lab menjelaskan tentang bagaimana U-Report bekerja dengan menggunakan ponsel.

U-Report Indonesia adalah sistem jajak pendapat berbasis Twitter yang memungkinkan anak-anak muda berbagi tentang pendapat mereka tentang topik-topik penting mulai dari pendidikan hingga kesehatan dan pemerintahan," kata UNICEF Indonesia Innovation Lead Jeffery Hall.


"Jawaban yang masuk kemudian dianalisis dan informasi ini dibagi dengan mitra-mitra kunci seperti pemerintah. Jadi kami membantu menjadikan suara anda didengar. Para U-Reporter tidak hanya mengirim Tweet (pesan), tetapi mereka juga memberikan kontribusi kepada masyarakat dan hak anak."


Anak-anak muda Indonesia melakukan curah pendapat (brainstorming) pada peluncuran U-Report. ©UNICEF Indonesia/2015.

UNICEF juga menggunakan acara tersebut untuk mengumpulkan masukan tentang topik-topik tambahan yang ingin didiskusikan oleh para peserta tentang U-Report. Anak-anak muda melakukan curah pendapat (brainstorming) melalui metodologi inovatif yang disebut diskusi Open Space. Topik-topik yang menarik perhatian antara lain merokok sebagai krisis kesehatan yang akan datang, tantangan dan peluang bagi anak muda penyandang cacat, dan ekonomi kreatif.

Gerakan  Pramuka Indonesia, juga tampil di acara tersebut. UNICEF baru-baru ini menandatangani perjanjian kemitraan dengan Pramuka untuk meningkatkan U-Report di Indonesia. Pramuka Indonesia merupakan gerakan kepanduan terbesar di dunia dengan sekitar 20 juta anggota.


Nining Lasiyati dari Pramuka bicara pada acara tersebut. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker  

U-Report pertama kali diluncurkan di Uganda oleh UNICEF global Innovation Lab. Sejak saat itu U-Report telah diadopsi oleh 17 negara. U-Report Indonesia telah berada dalam tahap pengembangan sejak 2014 dan telah memiliki 40.000 U-Reporters selama periode tersebut.

Pada 2015, UNICEF telah menggunakan U-Report untuk melakukan survei tentang kekerasan terhadap anak. Para peserta menyatakan pandangan mereka tentang tanggung jawab pemerintah untuk menanggulangi kekerasan, tentang kesadaran masyarakat dan tentang peran anak muda dalam mengatasi masalah yang mempengaruhi ribuan anak dan remaja di seluruh Indonesia. Jawaban ini digunakan sebagai masukan oleh pemerintah dalam menyusun Strategi Nasional tentang Kekerasan terhadap Anak 2015-2019.


Goodwill Ambassador UNICEF David Beckham bahkan hadir melalui video untuk mempromosikan U-Report. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker  

Selama acara tersebut, jumlah U-Reporter terus meningkat seiring dengan banyaknya peserta yang mendaftar dan mempromosikan platform. Jumlah ini sepertinya akan terus meningkat pada masa-masa yang akan datang.

"Kami ingin memberdayakan sebanyak mungkin anak muda Indonesia untuk bicara dalam pembangunan negara mereka," kata Jeffrey.

"Ini adalah saat yang sangat menarik. Kisah U-Report Indonesia baru saja dimulai."


Anggota U-Reporter baru. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

UNICEF Bermitra dengan Gerakan Pramuka Indonesia

UNICEF Bermitra dengan Gerakan Pramuka Indonesia

Oleh: Kinanti Pinta Karana, Spesialis Komunikasi UNICEF Indonesia

Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Bapak Adhyaksa Dault (keenam dari kanan), dengan Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Ibu Gunilla Olsson (ketiga dari kanan), Direktur Radio Republik Indonesia Ibu Niken Widiastuti (kedua dari kanan) dan Kepala Komunikasi Bapak Michael Klaus (paling kanan) dengan Penasihat Khusus UNICEF bapak Purwanta Iskandar dan anggota Pramuka pada penandatanganan Perjanjian Kerja Sama 26 November 2015. (© UNICEF Indonesia/2015/Santoso)

JAKARTA, Indonesia, 26 November 2015 – Kesibukan tampak di Kwartir Nasional Gerakan Pramuka menjelang acara yang sudah lama dinantikan: Penandatanganan perjanjian kerja sama antara Pramuka dan UNICEF Indonesia.

Perjanjian Kerja Sama (MOU), yang ditandatangani oleh Ketua Pramuka Adhyaksa Dault dan Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Gunilla Olsson pada 26 November 2015 itu membuka jalan bagi kerja sama untuk memperkuat implementasi hak-hak anak di Indonesia.

Bapak Adhyaksa mengatakan ia antusias dengan kemitraan ini. “Pramuka akan menggunakan kerja sama dengan UNICEF untuk mendorong perlindungan terhadap anak serta hak mereka untuk berekspresi.”


Perjanjian kerja sama ini akan menjadi dasar kolaborasi dalam sejumlah program termasuk Perlindungan Anak, WASH dan U-Report (© UNICEF Indonesia/2015/Santoso)

“Kami ingin bekerja sama dengan Pramuka dalam bidang seperti gaya hidup sehat, perlindungan anak, sanitasi dan kebersihan, yang merupakan prioritas dalam program nasional baru kami mulai 2016,” kata Ibu Gunilla pada acara itu.

Platform untuk partisipasi anak muda U-Report akan menjadi payung untuk melibatkan anggota Pramuka dalam topik-topik tersebut dan isu yang penting bagi anak-anak dan orang muda di Indonesia.

U-Report Indonesia ada di Twitter dan sudah memiliki lebih dari 40,000 pengikut aktif. “Memfasilitasi keterlibatan anak-anak dan orang muda dalam pembangunan negara merupakan prioritas bagi UNICEF,” kata Ibu Gunilla. “U-Report memberi mereka peluang untuk menjadikan suara mereka terdengar. Bersama dengan Pramuka kami berharap dapat meningkatkan jumlah U-Reporter secara masif.”

Sejumlah fakta tentang U-Report Indonesia (https://twitter.com/UReport_id):

  • U-Report adalah platform komunikasi berbasis Twitter yang memungkinkan UNICEF dan Pramuka untuk menjangkau mereka yang sudah mendaftar sebagai U-Reporter dan memberi mereka pertanyaan, misalnya tentang kualitas sekolah mereka atau puskesmas setempat. 
  • UNICEF mengembangkan platform ini di Uganda dan negara-negara Afrika lainnya, dan sekarang sudah ada 16 negara yang menerapkan U-Report. 
  • Dalam sebagian besar kasus hal ini dilakukan bersama dengan organisasi kepanduan setempat.

Acara penandatanganan tersebut diikuti dengan dialog live yang disiarkan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) dengan pembicara Bapak Adhyaksa, Penasihat Khusus UNICEF Purwanta Iskandar dan Rosalita Niken Widiastuti, Direktur RRI.

“UNICEF yakin bahwa sebagai organisasi pemuda terbesar di Indonesia, Pramuka akan menjadi mitra yang luar biasa. Saya berharap bahwa bersama kita bisa meningkatkan kesadaran dan memperkuat pemahaman masyarakat akan beragam topik seperti pentingnya pendidikan anak usia dini,” kata Bapak Purwanta.

Ibu Niken menggarisbawahi peran media untuk membantu masyarakat mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang hak-hak anak.

“Media massa berperan penting dalam mendukung upaya perlindungan anak dan Radio Republik Indonesia siap membantu menyebarkan pesan serta informasi kepada publik melalui program-program kami,” kata Ibu Niken.

“Ada banyak masalah seperti kekerasan terhadap anak atau penyalahgunaan narkoba di kalangan anak muda, hal-hal itu sangat membuat kami khawatir. Perjanjian kerja sama ini menjadi jembatan hati antara Pramuka dan UNICEF untuk membantu mengatasi masalah-masalah ini,” kata Bapak Adhyaksa.

U-Report Indonesia: Jumlah Pengguna Terus Meningkat

U-Report Indonesia: Jumlah Pengguna Terus Meningkat

Oleh Vania Santoso – Innovation Lab Youth Engagement Officer
 
Ribuan siswa SMA menggunakan Twitter. ©UNICEF Indonesia/2015/Vania Santoso

"Siapa yang punya Twitter di sini? Ayo, angkat tangannya ke atas! "tanya pembawa acara saat sesi U-Report pada Bedah Kampus Universitas Indonesia Ke-16 (BKUI16). Hampir semua peserta mengangkat tangan mereka. Tidak mengherankan, karena Indonesia merupakan salah satu negara dengan angka pengguna Twitter tertinggi di dunia.

BKUI16 adalah acara open house selama dua hari bagi para siswa SMA untuk mengenal lebih banyak tentang Universitas Indonesia (UI). Lebih dari 16.000 siswa ikut serta dalam acara tersebut. Pengalaman-pengalaman bagi siswa meliputi Road Show ke Fakultas-Fakultas, transportasi umum UI yang terkenal, yaitu BiKun (Bis Kuning), dan Sesi Pleno dengan tokoh-tokoh seperti jurnalis ternama Najwa Shihab, ekonom dan politisi Faisal Basri, serta artis penyanyi Vadi Akbar.

Selama sesi khusus ini, para peserta belajar tentang U-Report Indonesia. U-Report merupakan sarana untuk mengirimkan pesan sosial yang dikembangkan oleh UNICEF, sehingga anak-anak muda dapat menyampaikan hak-hak anak dan isu-isu lainnya yang menjadi perhatian mereka. Informasi ini kemudian digunakan untuk melibatkan pemerintah dan mitra-mitra lainnya untuk melakukan perubahan praktis yang positif.  


U-Report pertama kali diluncurkan di Uganda oleh UNICEF dan sekarang sedang dilaksanakan di 17 negara di seluruh dunia. Indonesia merupakan negara pertama yang menerapkan U-Report di Twitter dengan nama UReport_ID. Kini terdapat lebih dari 40.000 UReporter di Indonesia. Para UReporter secara rutin mendapat pertanyaan tentang berbagai topik, mulai dari bullying, perubahan iklim, sampai perkawinan anak. Hasil jawaban dikumpulkan dan dianalisis untuk kemudian digunakan, seperti pada Pertemuan Nasional AIDS V dan penyusunan Strategi Nasional Pencegahan Kekerasan terhadap Anak 2015-2019.

Pembawa Acara  meminta semua peserta untuk mengeluarkan ponsel mereka, membuka Twitter dan langsung mengikuti akun U-Report Indonesia. UReporter yang telah menyelesaikan alur registrasi di BKUI16 secara lengkap selanjutnya menerima kartu pos, stiker dan gelang baik dari U-Report maupun UNICEF Indonesia.

Para peserta mendaftar sebagai U-Reporter. ©UNICEF Indonesia/2015/Vania Santoso.

Selain itu, juga terdapat bazaar BKUI16, dimana UNICEF Indonesia mempromosikan U-Report. UNICEF juga memberikan tantangan khusus kepada para siswa untuk memenangkan lebih banyak barang U-Report dengan mempromosikan platform tersebut.

Para UReporter secara kreatif mengirim Tweets tentang U-Report, mulai dari menyebutkan akun Twitter teman mereka, mengirimkan gambar-gambar dari poster dan kartu pos U-Report, dan melakukan foto selfie.

Penerimaan yang hangat terhadap platform U-Report ini merupakan sinyal positif. Kini giliranmu untuk menjadi U-Reporter dengan mengikuti @UReport_ID atau mengunjungi http://indonesia.ureport.in.


"Apakah kamu anak muda Indonesia? Suarakan pendapatmu melalui @UReport_ID dari UNICEF:)" *dikutip dari akun Twitter Rahmatul Hayati selama BKUI16*


Telpon genggam yang menyelamatkan kehidupan

Telpon genggam yang menyelamatkan kehidupan


Bidan Maena Nhur Desita memberikan vaksin. ©UNICEF Indonesia/2015

Kedoya Utara merupakan salah satu daerah miskin di Jakarta. Kedoya Utara berada di antara sederetan megamall dan gedung pencakar langit sehingga daerah ini harus berjuang dengan kondisi hidup seadanya, saluran air yang kotor dan listrik yang tidak memadai.

Salah satu yang menjadi perhatian khusus di Kedoya Utara adalah tingkat imunisasi anak-anak yang sangat rendah. Hal ini menyebabkan mereka beresiko menderita penyakit yang mengancam jiwa seperti campak dan difteri.

"Terjadi kesenjangan ketidakadilan di Jakarta dan seluruh Indonesia. Anak dari keluarga miskin, terutama mereka yang tinggal di daerah-daerah kumuh, tidak terjangkau secara tetap untuk menerima dosis vaksinasi lengkap," kata Spesialis Kesehatan UNICEF Indonesia Dr. Kenny Peetosutan.


"Anak-anak yang tidak diimunisasi dapat menjadi ancaman potensial bagi anak-anak lain dalam masyarakat mereka," kata Dr. Kenny. "Oleh karena itu, dengan memastikan bahwa setiap anak menerima semua vaksin yang diperlukan, kita akhirnya dapat melindungi seluruh masyarakat." 

Daerah-daerah seperti Kedoya Utara memberikan sejumlah tantangan bagi tenaga kesehatan. Sangat sulit untuk mengetahui dan memantau setiap anak. Hal ini sangat penting untuk memastikan bahwa mereka menerima semua vaksinasi yang mereka perlukan.

Oleh karena itu, pada tahun 2015, UNICEF mulai merintis teknologi RapidPro di tujuh kecamatan di sekitar Jakarta. RapidPro merupakan program untuk mengumpulkan informasi dengan mengirim dan menerima sejumlah pesan teks SMS.

Teknologi ini membuka saluran komunikasi baru antara pemerintah daerah, petugas kesehatan dan anggota masyarakat. Data ini kemudian dipantau dari waktu ke waktu.

"Saya sangat khawatir tentang campak," kata bidan Maena Nhur Desita yang bekerja di Kedoya Utara. Dia memberikan vaksin di Posyandu setempat. Selama ia bekerja di Posyandu tersebut, hanya beberapa ibu membawa anak-anak mereka.

Tetapi keadaan ini lambat laun mulai berubah. Timnya mulai menggunakan teknologi RapidPro untuk mendapatkan informasi langsung dari masyarakat untuk memahami alasan tentang tingkat kehadiran yang rendah. Petugas kesehatan kini tahu dimana dan bagaimana memfokuskan upaya mereka. 

Kolega Maya Saptarika menjelaskan langkah-langkah berikutnya "Kami akan segera mulai menggunakan RapidPro untuk secara nyata menghubungi rumah tangga dan mengingatkan orang tua ketika anak-anak harus melakukan kunjungan vaksinasi mereka berikutnya."

"Harapan kami bahwa penggunaan RapidPro  ini akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan cakupan imunisasi," kata Ms Saptarika.

Terdapat sekitar 1,9 juta anak usia di bawah satu tahun yang tidak menerima imunisasi lengkap di seluruh Indonesia. RapidPro merupakan perkembangan penting dalam menangani masalah ini.

We Are Siblings Graduation: Inovator Muda Mengubah Kehidupan

We Are Siblings Graduation: Inovator Muda Mengubah Kehidupan

By Vania Santoso – Innovation Lab Youth Engagement Officer

Upacara kelulusan We Are Siblings. ©UNICEF Indonesia/2015

"Dulu aku sudah berkali-kali hampir menyerah.Tapi sekarang aku bahagia karena tidak jadi melakukannya."

Kalimat sederhana yang diucapkan oleh Cynthia Andriani, anggota We Are Siblings, saat proyek percontohan (pilot project) mereka berakhir di Bogor ini membuatku meneteskan air mata. Cynthia telah merangkum jerih payah dan kesuksesan yang dirasakan bersama para inovator muda lainnya dalam beberapa bulan terakhir.

We Are Siblings adalah proyek mentoring tentang anti-bullying (perundungan) yang dikembangkan oleh mahasiswa Intitut Pertanian Bogor (IPB). Proyek ini memenangi Kompetisi Global Design for UNICEF Challenge pada awal tahun ini sehingga mendapatkan dana hibah 2.500 dolar Amerika dari UNICEF untuk mengimplementasikan inisiatif mereka.

Proyek ini diawali dari enam mentor We are Siblings yang mendampingi 29 anak untuk menemukan cara-cara inovatif dalam mengatasi perundungan, baik secara tatap muka maupun online. Sesi tatap muka melibatkan satu mentor yang langsung terjun mendampingi sekelompok anak melalui modul anti-penindasan; Sementara sesi online menjadi sarana pendukung, menjalin komunikasi sehari-hari lewat SMS dan aplikasi pengirim pesan lainnya.


Inisiatif seperti ini sangat penting di Indonesia – mengingat kekerasan terhadap anak telah meluas di seluruh daerah. Studi UNICEF terbaru, “Hidden in Plain Sight” mengungkap bahwa 40% pelajar usia 13-15 tahun melaporkan pernah mengalami kekerasan fisik  di sekolah.
We Are Siblings mengakhiri proyek percontohannya lewat acara kelulusan yang memberikan masukan menarik pada proyek ini dan menunjukkan bagaimana para inovator dapat benar-benar mengubah kehidupan para pelajar muda.

Hari kelulusan diawali dengan sebuah drama tentang tiga remaja yang ditindas secara verbal, fisik, bahkan di media sosial – untuk menunjukkan bahwa perundungan dapat terjadi pada anak muda Indonesia di mana saja. Bagi beberapa orang bahkan seolah tidak ada jalan keluar.
Anak-anak muda itu kemudian menuturkan kisah-kisah pribadi mereka tentang perundungan dan kemudian membahas tema “semua anak unik dan berharga.” Hal ini merefleksikan apa yang telah dilakukan We Are Siblings, membantu peserta membangun kepercayaan diri yang lebih lewat modul pelatihannya.

“Anak saya dulu selalu di-bully, mulai dari kata-kata sampai fisik, tapi dia tidak langsung cerita ke saya," ujar Pak Nyoman Heru sebagai perwakilan orang tua. "Sejak bergabung dengan proyek ini, dia jadi lebih terbuka cerita perasaan dan pengalamannya terkena bully."

Pernyataan kuat lain berasal dari Jabir Al Hayyan, peserta yang duduk di bangku kelas 6 SD. "Senang ikut programnya. Saya siap untuk meneruskannya, mendukung teman-teman lain yang di-bully," ujarnya.

Tayangan cuplikan video dari proyek percontohan ini mendapat tepuk tangan gemuruh. "Presiden di masa depan, pilot di masa depan, olahragawan di masa depan": kalimat pembuka ini diikuti oleh foto anak-anak yang memiliki mimpi-mimpi tersebut. Video ini pun menekankan bagaimana We Are Siblings telah mengembangkan jati diri dan cita-cita peserta.

Para mentor telah membangun hubungan yang sangat dekat dengan tiap anak. Salah satu mentor, Nensi Sarina berkata, "Kalian memiliki cita-cita luar biasa dalam hidup, ada Sahrul yang ingin menjadi polisi, ada Alifa jadi pramugari." "Aku benar-benar senang bisa bersama kalian, Mutia yang pintar dan sopan, Nirwan yang cerewet tapi mengayomi adiknya," ucap Irsalina Nurin Oktafiani yang menunjukkan akrabnya hubungan dengan setiap anak bimbingannya.

Keenam mentor kemudian naik ke atas panggung di akhir acara dan semua anak berlari untuk memberikan bunga kepada mentor mereka masing-masing diikuti dengan ucapan terima kasih yang menyentuh dari Cynthia. Menyerah bukan pilihan Karena setiap masalah ada jalan keluarnya.

Mengimplementasikan sebuah proyek yang baru dan inovatif tentu memiliki banyak suka duka, namun itu semua terbayar sudah. Proyek ini benar-benar sesuai dengan namanya: Kita Bersaudara, We Are Siblings!


Dukungan melawan bullying

Dukungan melawan bullying

Tim We Are Siblings menggunakan cara-cara yang inovatif pada lokakarya anti-bullying yang mereka selenggarakan. ©UNICEF Indonesia/2015/Vania Santoso

Secara mengejutkan 50 persen dari siswa berusia 13-15 tahun di Indonesia melaporkan bahwa mereka pernah menjadi korban bullying di sekolah. Angka ini merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. Anak-anak ini dapat mengalami bekas luka emosional yang dalam seumur hidupnya. Hal ini mendorong sekelompok mahasiswa untuk memutuskan bahwa sudah saatnya untuk bertindak.

Tahun lalu, lima mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) mengikuti kompetisi Desain Global untuk Tantangan UNICEF dengan kegiatan yang difokuskan untuk mengatasi bullying di Indonesia. Kompetisi ini mengundang anak-anak muda di seluruh dunia untuk mengatasi isu-isu lokal yang mendesak dengan memberikan solusi yang inovatif.

Para mahasiswa ini memiliki nasib yang sangat mirip dekat dengan subjek mereka. Salah satu anggota tim Aldila Setiawati pernah mengalami bullying yang parah semasa bersekolah. "Untungnya saya memiliki keluarga yang mendukung saya. Namun saya sering berpikir, bagaimana dengan anak-anak yang tidak mendapat dukungan?" ujarnya.


Terinspirasi dengan pengalaman pribadi mereka, kelompok ini membuat proyek: We Are Siblings (Kita Adalah Saudara). Proyek mereka menghubungkan siswa-siswa yang berisiko mengalami bullying ke berbagai jaringan dukungan yang menggabungkan dukungan nyata dan dukungan dalam jaringan (online). "Kita tahu bullying dapat menghancurkan masa depan anak. Kami pikir jaringan dukungan bisa membantu menghentikan penindasan ini," kata Aldila.

Selain tim lokal dari IPB dan Institut Teknologi Bandung (ITB), Kompetisi Desain Global untuk Tantangan UNICEF juga menarik minat enam negara lainnya (termasuk Zambia, Kosovo dan Chili). Seluruhnya ada 45 ide proyek yang inovatif, 33 di antaranya berasal dari Indonesia dengan topik berkisar dari kebersihan hingga keadaan darurat bagi kekerasan.

We Are Siblings adalah salah satu dari dua tim yang menjadi juara dalam kompetisi ini.


Langkah Selanjutnya 

Dengan kemenangan yang diraih oleh mahasiswa IPB bersama dengan tim dari Nikaragua  berarti proyek We Are Siblings akan menerima bantuan dari UNICEF untuk melakukan uji coba. Tim mahasiswa IPB sekarang memiliki kesempatan untuk mengembangkan ide mereka lebih jauh dalam bentuk proyek percontohan.

"Bullying telah mencapai angka epidemi di Indonesia," kata Spesialis Perlindungan Anak UNICEF Ali Ramly. "Angka-angka ini mengerikan: sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa 55 persen siswa laki-laki dan 45 persen siswa perempuan di kelas 7-9 pernah mengalami bullying setidaknya sekali."

"Dan angka-angka mengenai bullying dengan kekerasan sangat mengkhawatirkan," katanya." 8,2 persen dari siswa ini paling sering mengalami bullying dengan cara dipukul, ditendang, didorong, diganggu atau dikunci di dalam ruangan."

"We Are Siblings merupakan langkah penting untuk menemukan cara-cara baru guna mengatasi bullying. Proyek mereka benar-benar sejalan dengan tema Desain Global untuk Tantangan UNICEF - Bagaimana Kita Membangun Hubungan yang Lebih Baik untuk mereka yang Kurang Terhubung? Hal ini penting untuk memastikan tidak ada yang merasa sendirian ketika mereka ditindas.

We Are Siblings menyelenggarakan sesi anti-bullying yang didukung leh UNICEF. ©UNICEF Indonesia/2015/Vania Santoso

Sejak meraih kemenangan, tim ini bekerja sama erat dengan UNICEF. We Are Siblings saat ini sedang diujicobakan di daerah Bogor selama 6 bulan. “30 anak dari empat sekolah di daerah Bogor dan sekitarnya berpartisipasi dalam proyek percontohan ini,” kata pemimpin tim Ayendha Kukuh Pangesti. “Kami merangkul siswa, orang tua mereka dan anak muda lainnya.”

Tim ini menyelenggarakan sesi ujicobanya yang pertama pada tanggal 30 Mei dengan semua peserta. Kegiatan ini melibatkan serangkaian kegiatan pelatihan untuk membahas berbagai bentuk bullying dan memperkenalkan para siswa dengan mentor mereka.

"Ini merupakan awal yang baik untuk proyek kami," kata Ayendha. "Kami sekarang telah meluncurkan kegiatan mentoring yang sesungguhnya, baik melalui tatap muka maupun melalui platform digital. Kemajuannya terlihat baik."

Setelah proyek percontohan ini selesai, tim ini berharap untuk bekerja sama dengan mitra guna menyebarluaskan proyek ini ke daerah lain. “Proyek ini tidak akan berhenti sampai di sini. Saya bermimpi proyek kami direplikasikan di berbagai daerah. Begitu banyak anak yang terancam, dan kami harus meraih mereka,” kata Ayendha.

UNICEF akan terus merangkul ide-ide para inovator muda. We Are Siblings mewakili pembangunan penting dalam hal bantuan bagi jutaan anak korban bullying, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi: http://wearesiblingsindonesia.org/

Source: Global Student-based Health Survey (GSHS).


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia