Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehatan. Tampilkan semua postingan
Perjalanan Ke Timur Indonesia: Menyalakan masa depan anak bersama UNICEF

Perjalanan Ke Timur Indonesia: Menyalakan masa depan anak bersama UNICEF

Oleh: Dinda Veska


Mendapat kesempatan untuk mengunjungi Papua adalah hal yang sangat menyenangkan sekaligus menegangkan. Awalnya, saya pikir akan banyak cerita-cerita menyedihkan yang akan ditulis sepulangnya dari sana. Ingat betul, sehari sebelum keberangkatan seorang teman di kantor berkata “siap-siap sedih deh Din kalau ke sana.”

Perasaan campur aduk antara takut, senang, dan penasaran menggandrungi diri saya ketika mendarat di bandar udara Wamena. Kota yang namanya memiliki arti “Babi Jinak” ini cukup banyak didatangi pendatang, mulai dari pedagang makanan, pegawai hotel, hingga pelayan masyarakat mayoritas bukan suku asli Papua. Salah satunya adalah Dokter Filan yang menemani saya dan beberapa teman officer UNICEF lainnya pergi mengunjungi desa-desa di pedalaman Wamena.

2010, dokter beranak satu ini ditugaskan menjadi pelayan kesehatan di Desa Wollo - desa pertama yang kami kunjungi. Bermodalkan semangat pengabdian, beliau belajar bahasa asli Suku di Wamena, demi memudahkan pelayanannya kepada masyarakat khususnya Ibu dan Anak.

“Tentu ada rasa takut dan cemas saat pertama kali bertugas di sini, tapi yang terpenting bagi saya yaitu manfaat untuk masyarakat.” Ungkap dokter Filan.

Tantangan utama lainnya menurut beliau adalah adaptasi dengan masyarakat setempat, medan perjalanan yang sulit dilalui (pada saat itu), dan menemukan kader-kader kesehatan untuk membantu pelayanan di Desa Wollo. Enam tahun merupakan waktu yang cukup panjang untuk akhirnya tidak ada lagi kematian Ibu saat melahirkan, mall nutrisi, stunting, ataupun masalah kesehatan lainnya. Bukan waktu yang sebentar untuk akhirnya jeripayah Dokter Filan membuahkan hasil.

Sepanjang perjalanan, salah satu teman officer yang juga seorang dokter bercerita mengenai salah satu Puskesmas di Kabupaten Jayawijaya yang didukung oleh UNICEF. “Dua tahun yang lalu Din, sebelum saya berangkat melanjutkan sekolah. Program di sana tuh dianggap gagal, karena mamah-mamah itu sedikit sekali yang datang untuk imunisasi, PosTu-nya sepi. Padahal salah satu indikator keberhasilan program itu adalah tempat pelayanan kesehatannya beroperasi dan berguna untuk masyarakat. Nah, kemarin pas saya datang berkunjung, udah ramai, dan beroperasi dengan baik, jumlah kematian juga berkurang signifikan.” Cerita Dokter Ratih penuh semangat.

Upaya yang dilakukan oleh Dokter Filan dan Dokter Ratih menegaskan bahwa butuh waktu yang tidak singkat untuk membuat perubahan bagi Ibu dan Anak. Bahwasanya ada proses, tenaga, sumberdaya, dan waktu yang dikorbankan untuk menyalakan masa depan anak-anak di Timur Indonesia. Sama halnya dengan saya, ada proses yang harus dilalui selama dua hari di sana, hingga akhirnya bisa mengatakan kepada teman lainnya yang akan berangkat nanti, “Siapkan kepala untuk merekam dan jari untuk menulis banyak cerita perubahan yang ada di sana. Papua itu bukan menyedihkan, tapi seperti Dokter Filan dan Dokter Ratih: MEMBANGGAKAN.”

Bagi saya, cerita keberhasilan dari kedua dokter di atas menandakan bahwa pekerjaan UNICEF pun tidak bisa berhenti sampai di sini. Ada 85 Juta Anak Indonesia yang harus terus dipenuhi haknya atas kesehatan. Ada banyak dokter lainnya  yang juga harus didukung pengorbanannya untuk Anak Indonesia. Tentu ini tidak menjadi tanggung jawab UNICEF saja tapi banyak pihak lainnya di luar sana. Karena pemenuhan hak anak bukan hanya tugas Dokter Filan, Dokter Ratih, saya, anda, ataupun UNICEF, tapi tugas kita semua.

Ayo ikut nyalakan masa depan Anak Indonesia bersama UNICEF!


Tantangan dari Timur Indonesia

Tantangan dari Timur Indonesia

By Charlie Hartono, Philanthropy Officer UNICEF Indonesia 

Mengasah rasa tepa selira

Selalu ada cerita yang tak terduga dalam setiap perjalanan mengunjungi Indonesia Timur bersama UNICEF. Bertemu dengan orang baru, berkomunikasi dengan cara pandang yang seringan mungkin dan melakukan interaksi dengan masyarakat setempat dengan gaya bahasa yang sesederhana mungkin, merupakan tantangan yang luar biasa.

Lebih dari semua itu, kunjungan ke daerah yang jauh dari hiruk pikuk Jakarta membuat saya lebih mensyukuri hidup, mengasah rasa tepa selira dan membuka cakrawala berfikir yang seringkali masih sempit mengenai arti hidup yang sesungguhnya, khususnya dunia anak-anak yang begitu indah.

Dari Ambon ke Saumlaki

Dalam perjalanan kali ini, Kepulauan Tanimbar / Maluku Tenggara Barat (MTB) adalah lokasi yang saya kunjungi. Jika dilihat dari peta, Kepulauan Tanimbar sendiri berlokasi tepat di atas Darwin, Australia atau boleh dikatakan letaknya juga di sebelah Tenggara bagian Barat Ambon – Kepulauan Maluku. Secara keseluruhan, ada 80 desa dan 1 kelurahan bernama Saumlaki dalam satu gugusan kepulauan MTB. Mata pencaharian utama dari penduduk di MTB adalah menjual kopra (bahan utama untuk sabun mandi), umbi-umbian (ubi dan singkong), sayur mayur (terong, cabe, tomat, dan bunga pepaya). Biasanya semua bahan ini akan dikirimkan ke pengepul yang akan menjualnya kembali ke Ambon, Surabaya dan Merauke.

Menggunakan Garuda Indonesia saya terbang dari Ambon ke Saumlaki dengan pesawat ATR 72-600 “Explore” berpenumpang 70 orang. Secara keseluruhan – belum termasuk waktu transit, dibutuhkan 3 jam waktu terbang dari Soekarno Hatta Airport ke Pattimura Airport di Ambon lalu dilanjutkan dengan 1,5 jam penerbangan dari Ambon ke Bandara Mathilda Batlayeri, Saumlaki.


Di perjalanan kali ini, saya tidak sendirian namun ditemani dua rekan dari UNICEF Ambon (Hellen Geertruida Parera dan Irma Anintya Tasya). Bersyukur sekali pendaratan di Saumlaki mulus, walau gerimis dan mendung menyambut kedatangan kami. Bergegas kami bertiga dibawa mobil menuju kota yang jaraknya sekitar 20 menit untuk check-in di Hotel Harapan Indah – lokasinya tidak jauh dari pintu masuk Pelabuhan dan Pasar Tradisional Saumlaki. Sehabis beberes, kami menyambangi mitra UNICEF – Pak John dan Pak Youngkie dari Dinas Kesehatan MTB dan Pak Fritz dari Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM). Ketiganya memberikan sedikit arahan tentang daerah yang akan kami kunjungi, termasuk tantangan alam seperti ombak yang tinggi dan kondisi jalan yang akan kami lalui. Tiga desa yang menjadi target untuk kami sambangi adalah Desa Larat, Lelingluan dan Batu Putih.

150 Kilometer menuju Larat

Perjalanan ke desa Larat harus ditempuh sepanjang 150 kilometer dalam waktu 3 jam. Meskipun terdengar cukup lama, perjalanan darat ini terasa singkat. Di dalam mobil, Pak John banyak menceritakan tentang tantangan yang ada di desa tersebut salah satunya tentang masih tingginya tingkat Kematian Ibu dan Anak, kasus HIV dan AIDS yang kian merebak serta wabah diare yang cukup mengkhawatirkan.

Untuk bisa sampai ke desa Larat, kami semua harus turun dan memarkir kendaraan di desa Siwahan, lalu naik perahu kecil untuk menyeberang. Sayangnya sore itu hujan turun sangat lebat sehingga kami harus menunggu sekitar 45 menit hingga hujan reda di desa Siwahan. Saya sempat mendokumentasikan sebuah toilet terbuka umum[1]  yang memiliki desain cukup unik di sana. Sebelum akhirnya kami menyeberang dengan perahu motor kecil[2]  selama 15 menit menuju Desa Larat.


Kami tiba sore hari di Desa Larat sebelum matahari tenggelam untuk sekedar check-in di Losmen Talenta. Listrik di sana hanya menyala sejak pukul enam sore hingga enam pagi dikarenakan asupan listrik dari Pemerintah yang sangat terbatas.

Tantangan di Desa Larat dan Lelingluan

Sayang sekali dikarenakan sedang ada pertemuan keagamaan sore itu di Desa Larat, maka kami tidak dapat melakukan interaksi lebih awal dengan Ibu Bidan di Puskesmas di sana. Kami memutuskan untuk mengunjungi Desa Lelingluan yang jaraknya hanya 10 menit dengan Kapal Mesin Kecil[3] untuk bertemu dengan Bapak Kades disana. Beliau bercerita tentang beberapa tantangan di desa Lelingluan antara lain tentang tidak adanya bidan, hanya ada 6 kader yang menangani 2 Posyandu kecil untuk menjawab kebutuhan kesehatan 1993 orang. Di tahun 2016, terdapat 1 bayi meninggal karena terlahir dengan jarak kelahiran yang sangat pendek dari kelahiran bayi pertama (dari ibu yang sama). Di bidang pendidikan, banyak guru yang absen disebabkan jarak yang jauh serta transportasi yang mahal. Masih tingginya tingkat pernikahan dini juga dipercaya sebagai penyumbang terbesar kematian ibu.



Setelah pamitan dengan Pak Kades di Lelingluan, kami kembali ke Larat untuk mengunjungi Puskesmas disana. Lumayan mengejutkan, ketika hendak mengambil sepatu (mungkin karena gelap), tangan saya diantuk seekor kalajengking. Beruntung setibanya di Puskesmas Larat, saya diberikan suntikan untuk anti sakit oleh Ibu Bidan Opi. Sembari ngobrol dengan Bidan Opi, beliau menceritakan kegelisahannya tentang keterbatasan tenaga kesehatan di Desa Larat. Seringkali hal tersebut membatasi ruang geraknya sebagai tenaga kesehatan. Harapan Ibu Bidan ini adalah agar Desa Larat dapat bertambah baik bukan hanya fasilitasnya (seperti mobil Ambulans yang baru saja diganti) melainkan juga tenaga perawat yang cukup untuk menangani masyarakat di desa. Lebih lanjut, berdasarkan data 2016 disinyalir bahwa kasus kekerasan terhadap wanita cukup tinggi di Desa Larat. Mungkin hal ini disebabkan oleh ketidaksiapan mental para generasi muda dalam menghadapi pernikahan dini.

Tanpa Listrik dan Sinyal handphone di Batu Putih

Keesokan harinya kami berencana untuk menuju Desa Batu Putih. Namun untuk bisa sampai kesana kami lebih dulu harus kembali ke Saumlaki. Menaiki rakit[4]  adalah satu satunya jalan yang sama harus kami tempuh.

Perjalanan ke Batu Putih sendiri tantangannya sangat kontras berbeda dengan perjalanan ke Larat dan Lelingluan. Dibutuhkan kesabaran ekstra untuk melalui medan jalan yang masih penuh dengan lumpur kering dan basah. Jalan ini seyogyanya merupakan akses yang sedang diupayakan Pemerintah Provinsi – dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum kota Ambon untuk bisa dirampungkan paling lambat tahun 2017 mendatang. Bagi masyarakat Batu Putih, setidaknya akses jalan ini lebih baik dari kondisi jalan sebelumnya[5] .

Dibutuhkan 8 kali turun naik dari kendaraan yang saya tumpangi supaya mobil dapat terus melaju dan menerjang lumpur.[6] [7] [8] 

Secara keseluruhan dibutuhkan 7.5 jam pulang pergi menuju Batu Putih dari kota Saumlaki. Sebenarnya jalan laut dapat pula ditempuh, namun saat ini kondisi cuaca dan ombak yang tidak bersahabat sama sekali tidak dianjurkan. Desa ini didiami 292 kepala keluarga dengan jumlah pria dan wanita yang hampir sama. Listrik sama sekali belum terinstalasi di desa ini. Sinyal telepon sama sekali hilang di tengah perjalanan menuju Batu Putih. Tidak ditemukan isu gizi namun terdapat 1 kasus ibu berberat badan tidak wajar (Ibu Seli - berumur 17 tahun). Ada juga tantangan lainnya di desa ini yaitu, 80 anak murid sering terbengkalai dikarenakan ketidakhadiran guru di Desa ini. Rendahnya tingkat kepedulian ibu untuk melakukan imunisasi dini berakibat juga pada kematian bayi. Desa yang memiliki pantai sangat indah ini sayangnya juga masih mempraktekkan buang air besar sembarangan yang mengakibatkan kasus diare semakin meningkat.


Akhirnya, perjalanan kembali ke Saumlaki diakhiri dengan kenangan lumpur yang melekat di baju dan celana saya. Mobil yang kami tumpangi tertahan oleh truk yang terperangkap dalam lumpur sejak sore hari. Kami terpaksa harus turun dan berjalan dalam genangan lumpur di kegelapan malam bermandikan bintang bintang. Akhirnya sopir yang luar biasa mengambil inisiatif mengambil jalan baru melalui semak semak untuk keluar dari jebakan lumpur. Kami tiba kembali di Hotel pada pukul 23.30 WIB.

Perjalanan saya ke Saumlaki, Larat dan Lelingluan merupakan perjalanan perdana dan pastinya bukan menjadi perjalanan terakhir. Bersama UNICEF, saya ingin mengundang Anda untuk juga melihat dan merasakan langsung kehidupan masyarakat di bagian timur Indonesia lainnya. Pada saat tulisan ini dibuat, saya sedang bersiap untuk berangkat menuju Wamena, Papua. Tunggu cerita saya bersama anak-anak Indonesia lainnya.


*Sumber Gambar:
Map Saumlaki dan Tanimbar
- https://adeulfah.files.wordpress.com/2011/01/saumlaki1.jpg
- https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgGSxu9IhxGPW9N-hz0k_4Gz1FUMSGo62kf0KQi2mVgpVHvj4miwLHxg08sKT56y2S0F4IX8bMGOJyADpa600Hze5tq8ZyRZ7DSdlQC18WctgM6jblzL_DkCvkAiZcqZ7770KQ1oqKBZBum/s1600/peta+saumlaki.jpg


Video 1


Video 2



Video 3


Video 4


Video 5


Video 6


Video 7


Video 8

Teknologi RapidProMendukung Pekerjaan UNICEF untuk Memvaksinasi Anak-anak

Teknologi RapidProMendukung Pekerjaan UNICEF untuk Memvaksinasi Anak-anak

Oleh Kristi Eaton, Communications and Knowledge Management Officer, UNICEF Indonesia


Lilis gugup. Anak laki-lakinya yang berusia 2 dan 4 tahun sedang bersiap-siap menerima vaksinasi polio, dan dia khawatir mereka mungkin menangis. Mereka merapatkan diri ke Ibu mereka saat ia berbicara di posyandu setempat di Cilincing, sebuah daerah dengan pendapatan rendah di Jakarta Utara, dan berusaha untuk menenangkannya.

Namun demikian, Lilis mengetahui betapa pentingnya vaksinasi.

“Ini sangat penting untuk mereka supaya tidak sakit polio, karena kaki mereka bisa menjadi tidak berfungsi,” katanya.

Indonesia menempati urutan ke enam di dunia dalam jumlah bayi yang tidak divaksinasi atau belum divaksinasi lengkap. Setiap tahun, diperkirakan 700,000 bayi tidak menerima layanan imunisasi. Daerah perkotaan berpendapatan rendah seperti Cilincing terutama sangat beresiko untuk kurang imunisasi, membuat anak-anak rentan terhadap wabah campak, polio, dan diphtheria. UNICEF mendukung pemerintah untuk mengubah situasi ini _ memanfaatkan teknologi komunikasi baru yang memungkinkan pemantauan yang lebih baik dan intervensi yang menargetkan sistem yang gagal berfungsi.



Di tempat-tempat seperti Cilincing, petugas kesehatan terus menghadapi tantangan karena bisa sangat sulit untuk melacak dan memonitor setiap anak yang menerima vaksinasi yang diperlukan. Inilah dimana program baru mulai bekerja. Pada tahun 2015, UNICEF mulai membuat percontohan teknologi RapidPro, sebuah program yang menggunakan pesan singkat SMS untuk mengumpulkan, memonitor dan menyebarkan informasi kesehatan.

Dengan menggunakan teknologi RapidPro, layanan kesehatan mampu mengidentifikasikan lokasi lingkungan beresiko tinggi dan memverifikasi vaksin bulanan pada pusat kesehatan. Melacak bayi-bayi yang belum mendapatkan dosis vaksinasi dan mengirimkan pesan yang mengingatkan orang tua terhadap jadwal vaksinasi juga memungkinkan di bawah teknologi RapidPro.

“RapidPro merupakan platform software open-source yang memungkinkan spesialis program dan non-coder menjalankan program pemantauan dan pelaporan berbasis SMS ponsel,” kata Jeffrey Hall, Innovation Lead UNICEF Indonesia. “Ini memanfaatkan teknologi komunikasi ponsel untuk mempercepat dan memperkuat hasil untuk anak-anak.”

Innovation Lab UNICEF Indonesia bekerja untuk meningkatkan dan mendorong partisipasi pemuda untuk memikirkan, menciptakan, mencoba dan menguji solusi kreatif yang dapat membantu meningkatkan kehidupan anak-anak dan pemuda di negara ini.

UNICEF memiliki Innovations Lab di sejumlah negara di seluruh dunia sekarang. Lab Indonesia dimulai pada tahun 2013 dengan pendanaan dari U.S. Fund’s Next Generation, sekelompok pemimpin muda, entrepreneur dan inovator berusia 20 hingga 30an yang berkomitmen untuk mendukung pekerjaan UNICEF.


Sejumlah anggota Next Generation melakukan perjalanan ke Indonesia dari Amerika Serikat baru-baru ini untuk melihat dari dekat bagaimana uang yang mereka kumpulkan membuat perubahan jangka panjang. Salah satu kunjungan lapangan mereka selama perjalanan satu minggu itu adalah ke Cilincing untuk melihat ratusan anak-anak menerima vaksinasi polio.

“Berada disini langsung adalah satu-satunya cara untuk benar-benar memahami energinya,” kata Bonner Campbell, 25 tahun dari Los Angeles, California, yang merupakan seorang analis keuangan senior di Netflix. “Saya memutuskan untuk mengunjungi Indonesia karena saya ingin mengetahui mengenai peran UNICEF di negara-negara berpenghasilan menengah, terutama bagaimana peran ini berinteraksi dengan program pemerintah. Pekerjaan yang dilakukan UNICEF dengan mitra programnya untuk mengadvokasi hak-hak anak sangat mengesankan.”


Mengintip program UNICEF di Ternate & Tidore

Mengintip program UNICEF di Ternate & Tidore

Winda - UNICEF Indonesia Fundraiser

Ternate, kota yang terletak di ujung barat Sulawesi ini memiliki berbagai macam hal yang dapat membuat kita berdecak kagum, baik dari keindahan alamnya, makanan khasnya, penduduknya dan masih banyak hal lainnya yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Kota Ternate adalah sebuah kota kecil yang berada di bawah kaki gunung api Gamalama di Provinsi Maluku Utara, memiliki luas sekitar 547.736 Km2 kota Ternate sudah menjadi kota otonom semenjak 4 Agustus 2010 sedangkan  Kota Tidore memiliki luas wilayah 9.564,7 km² dan berpenduduk sebanyak 98.025 jiwa.

Dibalik keindahan alam dan kekayaan sumber daya alamnya yang luar biasa, kota ini menyimpan sebuah masalah pelik yang sudah terjadi dalam waktu yang cukup lama. Salah satu masalah yang cukup serius dari kota Ternate & Tidore adalah masalah kesehatan, kurangnya pengetahuan umum mengenai pentingnya kesehatan dan kurangnya sarana dan prasarana yang memadai menjadi sumber masalah yang terjadi di kota ini. Oleh karena itu UNICEF dan pemerintah setempat bekerja sama untuk mengatasi masalah ini dengan bersama-sama membangun Puskesmas-Puskesmas yang didanai oleh UNICEF dibantu oleh pemerintah setempat.



Pada tanggal 18 – 20 Maret lalu kami perwakilan dari UNICEF berkesempatan untuk mengunjungi beberapa Puskesmas yang dibangun UNICEF bersama pemerintah setempat. Puskesmas pertama yang kami kunjungi adalah Puskesmas Rawat Jalan Rum Balibunga (Tidore) yang didirikan pada tanggal 20 Januari 2014. Menurut data yang kami kumpulkan di Puskesmas ini umur pernikahan yang sering terjadi di Tidore adalah pada umur 15 -18 tahun, selama tahun 2014 lalu ada 18 kasus ibu muda, yang semestinya 1 : 1000 pada tempat dengan 8.000 penduduk hanya ada 8 kasus ibu muda.


Penyebab utama bertambah banyaknya kasus ibu muda di kota Tidore adalah MBA (Married By Accident). Kurangnya pengetahuan dan informasi yang minim mengenai kehamilan menyebabkan kehamilan muda sulit untuk ditangani, dan juga pandangan masyarakat sekitar yang beranggapan pergi rutin ke Puskesmas kurang baik. Salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah setempat dan Puskesmas adalah bermitra dengan dukun beranak, dukun beranak setempat diminta untuk memberikan undangan untuk ibu-ibu hamil agar mendapatkan penyuluhan dan informasi mengenai kehamilan. Dukun beranak hanya bertugas untuk mendampingi dan menghubungi bidan jika ada ibu hamil yang siap untuk melahirkan, dan bukanlah tugas dukun beranak untuk menangani proses kelahiran. Selama beberapa tahun terakhir sudah terjadi 3 kasus ibu melahirkan di rumah, hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya memeriksakan keadaan kandungan secara berkala.

Tantangan yang sulit dalam menangani kehamilan muda dikarenakan ibu muda malu untuk memeriksakan kandungannya ke Puskesmas, dan rasa malu apabila ada orang yang mengetahui bahwa ia tengah hamil dan belum menikah. Hal tersebut dapat menyebabkan kurangnya asupan gizi anak yang dikandungnya karena minimnya pengetahuan ibu muda tentang kehamilan. Tantangan lainnya adalah tingkat kehamilan di masyarakat setempat yang sangat tinggi, sehingga dibutuhkan kerja sama antara pemerintah setempat dengan ibu PKK dengan cara mendatangi & mendata rumah-rumah ibu melahirkan. Hal yang membuat sulit penanganan ibu hamil adalah banyaknya kasus ibu hamil yang menyembunyikan waktu kehamilannya, karena mereka khawatir akan direkomendasikan ke Puskesmas untuk melahirkan di sana & akan membutuhkan waktu yang lama, sehingga mereka menunggu hingga terjadi kontraksi yang dikhawatirkan terlambat untuk mendapatkan pertolongan medis. Jarak rumah dengan Puskesmas yang jauh juga menjadi kendala ibu hamil untuk memeriksakan kandungannya, seperti pada kasus di Desa Talaga, desa terjauh yang biasanya ibu hamil di sana turun gunung pada umur kandungan 7 bulan untuk memeriksakan kandungannya ke Puskesmas.

Puskesmas ke-2 yang kami kunjungi adalah Puskesmas rawat inap PONED. Di Puskesmas ini kami bertemu dengan Dr. Nalar, dari percakapan yang kami lakukan dengan Dr. Nalar kami mendapatkan informasi tentang waktu-waktu yang disarankan untuk dilakukan rujukan ke Rumah Sakit, atau dapat juga ibu hamil ditangani dulu di Puskesmas ini lalu di rujuk ke Rumah Sakit atau bahkan dapat dirawat di Puskesmas ini tanpa dirujuk ke Rumah Sakit. Akan tetapi ibu hamil yang hipertensi dapat beresiko pada saat melahirkan, operasi caesar harus langsung dirujuk ke Rumah Sakit.
Kasus yang biasa terjadi di Puskesmas ini adalah rentang waktu melahirkan yang lama, distorsial bahu/sungsang, pendarahan pasca melahirkan, pre clumsy (hipertensi pada kehamilan), bayi lahir tidak menangis & tidak bernafas. Di Puskesmas PONED ini terdapat tim untuk menangani pasiennya yang terdiri dari 1 dokter, 2 bidan dan 2 perawat. Menurut Dr. Nalar Puskesmas memiliki 2 tugas utama, yakni:

  1. Promotif, yakni dengan memberikan penyuluhan, promosi dan pengenalan tentang berbagai informasi kesehatan kepada masyarakat.
  2. Preventif, yakni dengan melakukan pencegahan, dan melakukan pengobatan kepada masyarakat yang terserang penyakit.

Saat mendatangi Puskesmas PONED kami juga melakukan wawancara dengan seorang pasien Puskesmas yang bernama Ibu Ariyani (29 tahun), Ibu Ariyani menyatakan bahwa melahirkan di Puskesmas lebih nyaman dan setelah melahirkan ibu melahirkan dibantu untuk pembuatan akte kelahiran, karena jika ibu hamil melahirkan tidak di Puskesmas akan memerlukan waktu yang cukup lama dan membayarkan biaya administrasi untuk pengurusan akte kelahirannya. Selain banyak manfaat yang didapat dari melahirkan di Puskesmas, Ibu Ariyani juga merasa aman dan terjamin keselamatannya saat ia melahirkan di Puskesmas.

Akte kelahiran cukup penting untuk dimiliki oleh masyarakat karena akte diperlukan sebagai persyaratan anak untuk masuk sekolah dan juga sebagai status penanda orang tua yang sah dari anak tersebut.

Selain mengunjungi 2 Puskesmas di atas, kami juga mengunjungi Dinas Kesehatan Tidore untuk mengumpulkan informasi tentang peran aktif UNICEF dalam membantu pemerintah setempat mengatasi malasalah kesehatan di Ternate dan Tidore. UNICEF dan pemerintah setempat telah melakukan kerja sama dalam mengatasi masalah kesehatan sejak 10 tahun yang lalu atau pada tahun 2007.

Peran serta UNICEF dalam membangun “rumah tunggu” untuk ibu-ibu yang ingin melahirkan sangat diapresiasi pemerintah dan masyarakat setempat, karena “rumah tunggu” sangat membantu ibu yang mau melahirkan/melakukan operasi. Disamping mendirikan “rumah tunggu” tantangan yang muncul lainnya adalah mengatasi jumlah kematian ibu dan anak, karena tercatat pada tahun 2014 ada kematian ibu berjumlah 4 orang, penyebabnya diantaranya:

  1. Masih percayanya masyarakat setempat pada dukun beranak yang tidak memiliki ilmu medis dalam menangani pasiennya, sehingga kebanyakan pasien saat dirujuk ke Puskesmas sudah dalam keadaan kritis.
  2. Telatnya pemeriksaan kandungan yang dikarenakan kurangnya perhatian ibu hamil pada kandungannya.
  3. Letak geografis yang sulit.

Penanggulangan yang sudah dilakukan UNICEF dibantu pemerintah setempat adalah:

  1. Menyebarkan undangan kepada masyarakat untuk mengikuti penyuluhan.
  2. Membentuk kemitraan dukun beranak dengan bidan yang bermula di Takalar pada tahun 2008, dukun hanya menemani bidan dan memberikan informasi, dan yang melakukan pengecekan adalah bidan.
  3. Pengurusan pembuatan akte kelahiran apabila melakukan persalinan di Puskesmas dan semuanya diberikan secara gratis.
  4. Mendirikan fasilitas kesehatan, sampai saat ini ada 4 tempat yang memiliki team PONED.

Peran aktif UNICEF dan pemerintah setempat dalam menekan angka kematian di Ternate dan Tidore menunjukan hasil yang memuaskan. Pada tahun 2013 terjadi 32 kasus kematian dan pada tahun 2014 terjadi penurunan menjadi 22 kasus kematian. UNICEF juga memiliki rencana-rencana lain dalam membantu pemerintah setempat dengan meningkatkan kualitas fasilitas dan SDM yang ada, juga dengan melakukan inovasi untuk mengoptimalkan program-program yang dijalankan dengan merencanakan penyediaan 100 bidan untuk 100.000 penduduk.

Pada tanggal 19 Maret 2015 kami tiba di Halmahera, pulau terbesar di kepulauan Maluku. Di Halmahera kami mengunjungi Puskesmas Akelamo. Di Puskesmas Akelamo terdapat “rumah tunggu”, yang berfungsi sebagai rumah singgah bagi ibu melahirkan yang sudah dekat waktu melahirkannya. “Rumah tunggu” di Puskesmas Akelamo sudah ada sejak Tahun 2014 awal, didirikan dengan dana pemerintah setempat. Biaya yang dibutuhkan untuk mendirikan sebuah “rumah tunggu” sekitar Rp 271.000.000,- (hanya bangunan) yang terdiri dari 3 kamar tidur. Untuk mencapai Puskesmas Akelamo masyarakat setempat menyewa kendaraan, akan tetapi dalam keaadan genting/emergency warga dapat menggunakan ambulans Puskesmas.


“Rumah tunggu” dibangun tidak hanya untuk ibu hamil yang beresiko, tetapi juga untuk ibu hamil yang memiliki rumah yang jauh dari Puskesmas. Pemerintah menggalakkan persalinan di Puskesmas dikarenakan tingkat kematian ibu hamil yang meningkat setiap tahunnya, akan tetapi beberapa tahun belakangan ini dengan didirikannya “rumah tunggu”, tingkat kematian ibu melahirkan jauh berkurang. Pada tahun 2010 tercatat ada 7 kematian ibu dikarenakan ibu hamil melahirkan di rumah sehingga terjadi pendarahan dan telat mendapatkan perawatan. Pada 2011 tercatat ada 1 kematian ibu hamil akibat melahirkan di rumah dan terjadi pendarahan dan diharapkan ditahun-tahun berikutnya tingkat kematian ibu melahirkan dapat ditekan. Pemerintah juga memberlakukan Perda yakni masyarakat yang melahirkan di rumah akan dikenakan denda sebesar Rp 700.000,- hingga Rp 1.000.000,-.


Keterlambatan yang kerap terjadi pada penanggulangan masalah kesehatan adalah terlambat mengenali masalah, terlambat mencapai fasilitas kesehatan dan terlambat mendapatkan pertolongan tim medis. Selain keterlambatan di atas, kepercayaan masyarakat setempat pada mitos sangat menyulitkan penyampaian informasi kepada masyarakat.

Saat berada di Halmahera kami bertemu dan menyempatkan diri untuk berbincang dengan Ibu Tina. Ibu Tina merupakan pasien Puskesmas yang memanfaatkan fasilitas “rumah tunggu” sebagai tempat singgah saat menunggu waktu kehamilanya. Ibu Tina memilih  untuk tinggal di “rumah tunggu” karena jarak kelahiran anak pertama dan keduanya singkat, yakni 1 tahun sehingga disarankan untuk menunggu waktu kelahirannya di “rumah tunggu” karena ditakutkan terjadi komplikasi saat melahirkan nanti. Kepercayaan Ibu Tina kepada Puskesmas membuat Ibu Tina rutin untuk melakukan pemeriksaan ke Puskesmas, dan Ibu Tina juga menuturkan selama ia melakukan pemeriksaan kandungan di Puskesmas ia dirawat dengan baik dan diberikan vitamin dan obat penambah darah. Alasan lain Ibu Tina untuk tinggal di “rumah tunggu” ialah agar bisa kumpul bersama keluarga, suami dan ibunya di “rumah tunggu”. Tinggal selama 3 hari di “rumah tunggu” Ibu Tina merasa tenang dan senang karena mendapatkan perawatan yang intensif dan juga ia mendapatkan edukasi dari bidan tentang kehamilan.


Masalah kesehatan merupakan masalah yang harusnya menjadi sorotan setiap masyarakat, baik masyarakat daerah dan masyarakat perkotaan. Peran aktif pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan untuk menanggulangi masalah kesehatan. Pemberian penyuluhan dan informasi tentang kesehatan sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah kesehatan, disamping itu pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana yang memadai serta tersedianya tenaga ahli juga sangat dibutuhkan. Oleh karena itu UNICEF berkomitmen untuk selalu berupaya membantu pemerintah untuk mengatasi masalah kesehatan, terutama masalah kesehatan ibu melahirkan di Kepulauan Ternate dan Tidore.


“Senyum” untuk imunisasi

“Senyum” untuk imunisasi

Nur Awwalia dan Wall of Fame Imunisasi. ©UNICEF Indonesia/2015 

Tembok Puskesmas Tanah Merah Bangkalan di Pulau Madura, Jawa Timur, penuh dengan poster-poster yang umum ditemui di sebuah klinik kesehatan. Tapi ada satu yang menonjol yaitu sebuah papan tulis putih sarat dengan foto-foto 25 bayi yang sedang tersenyum.

Bayi-bayi ini membentuk wadah pameran “Wall of Fame Imunisasi” di Puskesmas. Setiap bayi sudah menyelesaikan lima sesi imunisasi rutin gratis mereka, yang memberikan keamanan dari berbagai penyakit seperti difteri, TBC, hepatitis B, tetanus, polio dan campak.

Seorang bidan di puskesmas itu, Nur Awwalia, baru-baru ini memiliki ide untuk membuat poster tersebut. “Setiap orang tua senang memamerkan bayi mereka. Jadi kenapa tidak menggunakannya untuk mempromosikan imunisasi!” kata Nur.


Nur Awwalia –yang biasa disapa Lia- mengatakan ide itu datang ketika ia menyadari betapa kerabat dan kawan-kawannya bisa menjadi sangat kompetitif saat membanding-bandingkan bayi mereka. Ia berpikir sedikit kompetisi yang ramah bisa membantu meningkatkan angka imunisasi.

Lia memutuskan memasang Wall of Fame Imunisasi di sebelah poster-poster anak-anak penderita polio dan difteri, dua penyakit yang bisa dicegah hanya dengan memberikan anak lima sesi imunisasi.

“Saya rasa tidak ada seorang pun ibu atau ayah yang ingin bayinya menderita. Sulit untuk dijelaskan, tapi sangat efektif ketika menunjukkan penyakit-penyakit yang mungkin dialami bayi Anda jika tidak diimunisasi,” tuturnya.

Lia sudah bekerja di puskesmas itu sejak 2011. Harinya biasanya dimulai pada pukul 5 pagi dan dia menerima pasien sampai pukul 3 sore. Selain bekerja di puskesmas, Lia juga mengunjungi rumah-rumah pasien dan mengadakan pertemuan advokasi dengan orang tua.

Ibu-ibu berkumpul di Puskesmas Tanah Merah Bangkalan ©UNICEF Indonesia/2015

Sesi imunisasi dijadwalkan di puskesmas tersebut sebulan sekali. Pekerjaan itu cukup menantang bagi Lia dan para koleganya, karena tingkat imunisasi di Kabupaten Bangkalan adalah salah satu yang terendah di Indonesia.

Lia mengatakan para orang tua enggan membawa anak-anak mereka untuk menjalani sesi imunisasi rutin karena berbagai alasan, mulai dari takut akan efek sampingan hingga kesalah-pahaman budaya dan keberatan dari keluarga.
Itu hanya sebagian dari tantangan yang harus dihadapi Lia selama bertahun-tahun. Untuk membantu mengatasinya, ia menerima pelatihan teknis dari Dinas Kesehatan setempat dengan dukungan dari UNICEF. Hasilnya, ia kini memiliki lebih banyak bekal pengetahuan dan keterampilan dalam advokasi imunisasi di acara-acara masyarakat, baik dengan orang tua mau pun pemuka agama.

Lia sangat bangga dengan Wall of Fame Imunisasinya. Ia berharap wadah pameran itu akan semakin berkembang dalam hari, bulan dan tahun yang akan datang.


Bekerja sama untuk menyelamatkan ibu dan bayi di Sulawesi

Bekerja sama untuk menyelamatkan ibu dan bayi di Sulawesi

Ratna dan anaknya, Ralvin, di Puskesmas Galesong
©UNICEF Indonesia/2014/Ramadana

GALESONG, Sulawesi Selatan, Agustus 2014 - Ratna Adam mulai merasakan nyeri persalinan sekitar pukul sepuluh malam. Dia sedang berada di rumahnya di desa Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Suaminya yang seorang nelayan sedang bekerja di Kalimantan, sehingga orang pertama yang dipanggilnya adalah seorang dukun bersalin bernama Basse Cama.

Ibu Basse telah membantu para ibu di Galesong melahirkan selama 33 tahun dan sangat dihormati masyarakat. Dia tinggal sekitar lima menit jalan kaki dari rumah Ratna. Ia pun bergegas untuk membantunya.

Merasa lebih tenang berkat kehadirannya, Ratna setuju untuk mencari bantuan di pusat kesehatan setempat. Ratna memiliki seorang putri berusia tujuh tahun, namun kehamilan keduanya berakhir dengan keguguran, jadi ia ingin memastikan bahwa semuanya berjalan lancar kali ini. Ibu Basse segera memanggil becak motor untuk mengantar mereka ke Puskesmas.

Setibanya di sana, mereka disambut oleh Syarhruni, seorang bidan muda yang sedang bertugas malam itu. Bayi Ratna berada dalam posisi sungsang, di mana posisi kepala dan kaki terbalik. Setelah mengalami kontraksi selama dua jam, salah satu kaki si bayi akhirnya muncul. Namun karena proses persalinan Ratna tidak berjalan selancar yang semestinya, Syarhruni memutuskan bahwa ia harus dibawa ke rumah sakit.

Ratna segera dilarikan dengan ambulans ke rumah sakit Takalar, sekitar setengah jam dari situ. Ibu Basse turut mendampinginya, memijat perutnya dan meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

"Menurut saya kehadirannya membawa berkah, dan dia juga membantu kurangi rasa sakit saya," kata Ratna tentang Ibu Basse.

Kehadiran terpercaya

Beberapa tahun yang lalu, para perempuan di Galesong bergantung sepenuhnya pada dukun untuk membantu mereka melalui persalinan. Para dukun bersalin menyediakan dukungan moral, dan ritual kelahiran mereka, seperti memijat perut ibu, dianggap bisa membantu kelancaran persalinan.

Para ibu lebih percaya pada dukun dibandingkan bidan-bidan muda yang baru, karena mereka lebih tua dan dikenal. Namun mereka tidak tahu bagaimana menemukan tanda-tanda komplikasi dalam persalinan, seperti eklampsia atau kelahiran sungsang. Mereka juga jarang mencari bantuan dari orang lain, terutama penyedia layanan kesehatan.

Departemen Kesehatan, dengan dukungan oleh mitra pembangunan seperti UNICEF, telah berupaya untuk mengubah hal ini. Pada tahun 2007, mereka memulai sebuah program pelatihan bersama untuk para bidan dan dukun dari lima puskesmas di dua kecamatan di Takalar, agar mereka bisa bekerja sama dalam meningkatkan standar kesehatan perempuan. Dukun bersalin ditunjukkan bagaimana mengenali tanda-tanda bahaya dalam kehamilan dan persalinan, serta dilatih tentang pentingnya membujuk ibu hamil untuk menemui bidan.

Para bidan diajarkan bahwa dukun persalinan dapat membantu mereka untuk menjangkau lebih banyak perempuan dan memastikan mereka hadir dalam proses persalinan.

Para dukun dan bidan di Galesong kini bekerja sama dan melengkapi keterampilan masing-masing untuk membantu ibu hamil. Para bidan membawa keahlian teknis yang terbaru, sedangkan para dukun membawa hubungan dan kredibilitas yang sudah lama terbentuk di masyarakat.

Dulu, sekitar 12 perempuan meninggal di Kabupaten Takalar setiap tahun akibat komplikasi dalam kehamilan dan persalinan. Sejak program ini dimulai pada tahun 2007, angka tersebut telah menjadi nol.

Program ini juga telah diperluas pada tingkat nasional, karena merupakan langkah pertama untuk meningkatkan penggunaan layanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir di puskesmas. Kini program tersebut telah dijadikan standar pelayanan minimal di puskesmas untuk program kesehatan ibu.

Keadaan darurat

Sistem perujukan di Takalar ini masih belum sempurna. Setelah setengah jam di dalam ambulans, Ratna dan Ibu Basse tiba di rumah sakit Takalar, namun mereka disambut oleh berita buruk. Dokter spesialis obstetrik sedang tidak di tempat, dan tidak ada seorang pun di sana dengan keahlian yang cukup untuk membantu.

Pada saat ini, kedua kaki si bayi sudah terlihat tetapi badannya seakan tersangkut. Mereka kembali ke ambulans dan kembali melewati Galesong menuju kota Makassar.

Mereka sampai di rumah sakit sejam kemudian, dan dengan bantuan tenaga ahli dan oksigen, Ratna berhasil melahirkan anaknya secara alami. Ralvin lahir pada pukul 02:30 pagi.

Ralvin bersama (kiri - kanan) ayahnya, ibunya, dan Ibu Basse
©UNICEF Indonesia/2014/Ramadana

Meski sistem rujukan ini masih memiliki kekurangan, Ratna berhasil menerima perawatan medis tepat waktu berkat upaya bersama Ibu Basse dan Syarhruni.


Dua bulan kemudian, Ratna dan Ralvin berada dalam kondisi yang baik. "Menurut saya Ibu Basse membawa berkah dalam persalinan saya," ucap Ratna. "Saya tidak mungkin bisa melakukannya tanpa dia."

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia