Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label asap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label asap. Tampilkan semua postingan
Menuju Rumah Bebas Asap di Kalimantan

Menuju Rumah Bebas Asap di Kalimantan

By Cory Rogers, Communication Officer


Bahan-bahan sederhana digunakan untuk menguji keampuhan metode pencegahan asap berbiaya murah bersama mitra di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, salah satu wilayah terdampak kabut asap.© Cory Rogers / UNICEF / 2017


Palangka Raya: Bagi warga Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kabut asap begitu mengganggu hingga terkadang sulit menemukan jalan pulang.

“Saya bekerja sebagai nelayan,” kata Ipung. Ayah dua anak bertubuh ramping ini tinggal di tepi Sungai Rungan, sekitar 40 menit ke arah hulu dari Palangka Raya. “Kabut asap mengganggu kehidupan kami; anak-anak tidak bisa bersekolah dan kami semua mengalami batuk.”

Desa Katimpun tempat Ipung tinggal terletak dekat dengan wilayah gambut yang terbakar tiap tahun dan membuat sebagian kawasan Kalimantan—yang masuk wilayah teritorial Indonesia—diselubungi kabut asap. Sejak tahun 2016, UNICEF terlibat mencari cara untuk membantu menjaga anak dan keluarga seperti Ipung aman dari asap berbau itu.



“Dulu, saat pulang saya bahkan tidak bisa menyalakan mesin perahu, melainkan harus mendayung sambil pasang telinga mendengar suara istri yang memandu,” kata Ipung. “Kadang-kadang, saya tidak bisa melihat apa-apa sehingga harus menginap di hutan.”

Peristiwa yang disampaikan Ipung tadi terjadi pada bulan-bulan menjelang akhir 2015, ketika kabut asap begitu tebal, udara sekitar berwarna kuning, dan jarak pandang sangat terbatas. Api menyambar dan pepohonan tumbang. Pada akhirnya, sekitar 4,5 juta hektare—wilayah yang kira-kira sama luasnya dengan Denmark--habis terbakar.


Ipung di depan rumahnya. © Cory Rogers / UNICEF / 2017

Ratusan ribu orang harus dirawat di rumah sakit sebagai akibat pencemaran udara berat itu. Harapan hidup ribuan orang lainnya pun diperkirakan menjadi lebih singkat. Namun, dampak terburuk dialami oleh anak-anak; paru-paru dan organ dalam lain mereka masih berkembang, sementara mereka juga yang rata-rata menghabiskan lebih banyak waktu di luar ruangan dibandingkan orang dewasa.

“Selama berbulan-bulan selama masa kebakaran hutan anak-anak terpapar pencemaran udara beracun. Pada masa itu pula proses belajar mereka terhenti karena sekolah terpaksa ditutup sementara,” kata Richard Wecker, Spesialis Penurunan Risiko Bencana UNICEF Indonesia. 


“Berlangsung bertahun-tahun, peristiwa ini mengakibatkan akumulasi dampak pada kemampuan anak untuk bertahan hidup, belajar, dan bertumbuh kembang, selain mereka mewarisi lingkungan yang rusak.”

Melihat semua kerusakan ini, menurut Ipung, menghentikan asap seharusnya tidak rumit.

“Di musim kering, jika hujan tidak turun, api terus menyala,” katanya, sementara tetangganya yang juga nelayan meluncur masuk dengan perahu ke badan sungai membawa sekitar 30 ekor ikan. “Nah, karena kita tidak bisa menciptakan hujan, maka api yang harus dihentikan. Begitu saja.”

Mengurangi Bahaya

Sebenarnya, Ipung benar. Mencegah api adalah satu-satunya cara untuk menghentikan kabut asap.

Namun, sementara Pemerintah Indonesia berupaya menghentikan kebakaran lahan penyebab kabut asap (khususnya kebakaran di rawa gambut dengan kandungan karbon tinggi dan diperkirakan menjadi penyebab 90% kebakaran di tahun 2015), keluarga-keluarga—terutama anak-anak—harus dilindungi dari asap berbahaya.

“Sejumlah penelitian menunjukkan hubungan antara paparan terhadap sedikit partikel asap dengan awal penyakit pernapasan kronis, kematian, keterlambatan perkembangan, dan risiko kesehatan lain pada anak-anak,” Wecker menjelaskan.


Anak-anak desa Katimpun, Palangka Raya, menderita akibat kabut asap yang timbul setiap beberapa waktu dan mengancam kesehatan serta pendidikan mereka. © Cory Rogers / UNICEF / 2017

Dibandingkan dengan, misalnya, asap pembuangan yang sistem pengendaliannya sudah cukup berkembang, risiko paparan kabut asap belum dipahami dengan baik. Ancaman kabut asap terhadap kesehatan masyarakat baru timbul dalam beberapa dasawarsa terakhir, dan berbagai penelitian jangka panjang masih terus dilakukan.

Wecker menambahkan, “Mengingat dampak paparan kumulatif asap belum diketahui secara lengkap, upaya menurunkan risiko bahaya menjadi amat penting.”

“Namun, kita tahu bahwa anak-anak adalah kelompok paling rentan terhadap dampak kabut asap. Untuk itu, solusi harus bermula dari rumah dan sekolah—dua tempat paling utama dalam kehidupan mereka.”

Ruang aman tanpa menelan biaya tinggi?

Tujuan intervensi UNICEF adalah mengembangkan cara praktis untuk memastikan ruangan bebas dari asap—panduan yang terjangkau dari segi biaya, dapat disebarluaskan, dan menarik bagi warga. UNICEF juga bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia unuk mempelajari dan mendokumentasikan standar minimal pencemaran udara di dalam ruangan.

Dalam upaya di atas, UNICEF bekerja sama dengan mitra setempat Ranu Welum Foundation, sebuah LSM di Palangka Raya. Didirikan tahun 2015, Ranu Welum awalnya berfokus pada budaya lokal dan media, namun seiring dengan memuncaknya krisis kabut asap, perhatiannya pun berkembang dan kini meliputi kesiapan menghadapi kabut asap.

Terletak hanya 20 menit ke arah selatan dari Katimpun, kantor Ranu Welum juga berfungsi sebagai ‘rumah singgah kabut asap’ dan mampu menyaring butiran terkecil paling berbahaya sekalipun dari kabut asap.


Seorang anggota tim dari Big Red Button membantu menyempurnakan desain pintu anti-kabut asap di kantor Ranu Welum, Palangka Raya. © Cory Rogers / UNICEF / 2017

“Peralatan anti-kabut asap di sini adalah sarana pendidikan yang luar biasa,” kata Emmanuela Shinta, pendiri Ranu Welum. “Namun, harganya mahal, sehingga tidak bisa dibuat sendiri oleh warga setempat.”

JP Wack, konsultan teknis UNICEF, memimpin tim penguji mutu udara yang terdiri dari perwakilan PulseLab Jakarta, Ranu Welum, Big Red Button yang berbasis di Singapura, Kopernik, dan Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Bersama-sama, mereka berupaya menemukan sarana paling sederhana dan terjangkau untuk mencegah kabut asap mencemari bagian dalam rumah.

Sebanyak dua rumah dipilih sebagai tempat uji coba—satu rumah kayu di desa Ipung dan satu rumah beton di kawasan kota.

“Di kedua model rumah, kami mencatat celah-celah yang memungkinkan udara luar masuk agar kami tahu bagian mana yang perlu ditutup,” jelas Wack. “Setelah itu, kami membeli bahan yang dibutuhkan di toko material setempat dan mulai bekerja.”

Total biaya material—barang sederhana seperti palu dan lembaran plastik—adalah sekitar Rp350.000 (setara 26 USD), kata Wack lagi. “Sedikit di atas biaya ideal yang kami harapkan, tapi masih masuk akal.”

“Untuk menentukan seberapa efektif desain kami dalam membuang butiran beracun di udara, kami melakukan simulasi kabut asap di satu ruangan dengan cara membakar kayu. Setelah itu, memanfaatkan alat pemantau mutu udara, kami melihat apakah ada perubahan level racun setelah kipas dan alat saring digunakan.

Menurut Wack, “Solusi ini cukup berhasil membuang butir-butir partikel yang sangat halus. Tapi, tantangan di rumah kayu jelas lebih besar ketimbang rumah beton di Palangka Raya, karena suhu menjadi sangat panas jika semua celah ruangan ditutup.”

Musim kering telah tiba kembali. Kondisi kebakaran hutan, sementara itu, membaik. Eksperimen UNICEF membuat ruangan bebas dari asap dengan biaya rendah berhasil menjawab kebutuhan saat ini. Tantangannya sekarang adalah menyempurnakan model awal yang sudah dikembangkan dan mendorong pemanfaatannya oleh warga—tugas yang menanti pada tahap berikutnya dari intervensi UNICEF untuk mencegah risiko bahaya akibat asap.

“[Upaya] ini bukan hanya untuk Palangka Raya,” ujar Shinta dari Ranu Welum (tampak pada foto di bawah) selepas pertemuan dengan UNICEF dan perwakilan pemerintah daerah tentang mengurangi dampak kabut asap.

“Upaya ini adalah awal gerakan membangun kesadaran di seluruh provinsi.”


Emmanuela Shinta dan perwakilan UNICEF Richard Wecker dalam pertemuan dengan pemangku kepentingan dari pihak pemerintah. © Cory Rogers / UNICEF / 2017


Memantau Kualitas Udara: Membidik Masalah Kabut Asap

Memantau Kualitas Udara: Membidik Masalah Kabut Asap

Oleh: Vania Santoso – Innovations Adolescent and Youth Engagement Officer 


LaserEgg memberi penggunanya pembacaan kualitas udara terkini sehingga mereka dapat melindungi diri dari kabut dan polusi udara lainnya © UNICEF Indonesia/2017/Vania Santoso

Apa yang akan kita lakukan jika orang yang kita percayai meminta agar tetap berada di rumah karena udara luar berbahaya untuk dihirup?

Bulan Maret lalu, saya berkunjung selama empat hari ke Palangka Raya, Kalimantan—pusat lokasi kebakaran hutan yang mengakibatkan asap di Indonesia—untuk menentukan apakah sistem pemantauan langsung kualitas udara dapat bermanfaat di sana.

Secara khusus, saya ingin menilai minat warga dalam menggunakan alat pemantauan kualitas udara berukuran kecil dan mudah dibawa, seperti LaserEgg. Alat ini dapat memberikan informasi tingkat pencemaran udara dan melindungi kesehatan penggunanya. Hasilnya, saya menemukan bahwa
kepraktisan alat untuk dibawa dan kemudahan membaca hasil pemantauan menarik bagi warga; namun, dari pengalaman terdahulu, mereka sadar bahwa teknologi hanya berguna saat digunakan dengan benar.

Sadrah dan Vivia, petugas bandar udara Tjilik Riwut, adalah dua orang pertama yang saya ajak bicara. Mereka tak bereaksi banyak saat LaserEgg menunjukkan bacaan ISPU 115 “Tidak Sehat” terhadap udara tak jauh dari landasan pesawat.

“Tidak apa-apa. Yang lebih parah pun pernah kami lihat,” kata Sadrah. “Tahun 2015, saat sebagian besar Kalimantan diselubungi asap kuning beracun, jarak pandang hanya sampai sekitar 10 meter,” ujar Vivia.


Lody (kiri) memperkenalkan alat Pemantau Kualitas Udara LaserEgg kepada Arief, Sadrah, dan Bayu  © UNICEF Indonesia/2017/Vania Santoso

Esoknya, saya bertemu dengan Pak John Pieter dari Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Sejak tahun 2006, ia terlibat dalam upaya pencegahan kebakaran hutan. Lody, rekan dari PulseLab Jakarta yang ikut dalam kunjungan, menanyakan pendapat Pak John mengenai potensi kegunaan alat pemantau. “Alat ini memang memberikan informasi yang perlu diketahui,” jawab Pak John, “tapi, bukan berarti akan diikuti dengan tindakan.”

Ia mengumpamakan asap dengan merokok: “Semua orang tahu rokok berbahya, tetapi tetap merokok. mereka tidak memikirkan efek jangka panjangnya.”

Anggota Relindo, kelompk relawan, menyampaikan hal serupa. Menurut Pak Joko, koordinator daerah Relindo, wilayah kota sudah dilengkapi dengan alat pemantau kualitas udara. “Dulu, waktu ISPU sudah pada level ‘bahaya’ warga masih saja pergi ke luar rumah tanpa masker.” Menurutnya, yang dibutuhkan dalam hal ini adalah upaya pemerintah untuk mengubah perilaku saat terjadi bencana asap.

Hindris, seorang anggota lain dari Relindo, mengatakan upaya menumbuhkan kesadaran amat penting. “Saat kejadian asap dulu, kami membagikan masker N95 kepada warga yang tinggal di daerah terdampak. Tapi, mereka tidak tahu cara menggunakan dan manfaat masker. Bahkan, ada yang mengeluh masker membuat mereka sulit bernapas, dan memilih menutupi mulut dengan kain biasa. Tugas kami adalah mengedukasi mereka agar mereka sadar bahaya jika tidak menggunakan masker,” terangnya.


Pak Joko, Himmam, dan Hindris dari Relindo © UNICEF Indonesia/2017/Vania Santoso

Semua orang yang kami wawancarai nampaknya setuju bahwa alat pemantau udara jinjing hanyalah alat. Hal yang tak kalah penting adalah memastikan masyarakat bisa menerapkan pengetahuan mereka. “Alat pantau seperti LaserEgg memberikan informasi yang membantu warga memutuskan kapan mereka harus melindungi diri. Tapi, alat ini tidak bisa menjelaskan mengapa perlindungan diri penting,” kata Valerie Crab, UNICEF Indonesia Innovations Specialist.

“Menemukan cara yang dapat memicu perubahan perilaku dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas adalah tantangan inovasi,” tambah Valerie.

Keterangan: LaserEgg diberikan sebagai sampel kepada UNICEF Indonesia oleh Origins, distributor alat ini di Indonesia. Alat seperti LaseEgg menginformasikan saat kondisi udara di suatu tempat berada pada kondisi Baik (ISPU 0-50), Sedang (ISPU 51-100), Tidak Sehat (ISPU 101-200), Sangat Tidak Sehat (ISPU 201-300), atau Berbahaya (ISPU 301+). Keterangan pada alat diberi kode warna agar mudah dimengerti. 



Mengupayakan Keselamatan dari Kabut Asap untuk Anak Indonesia

Mengupayakan Keselamatan dari Kabut Asap untuk Anak Indonesia

Oleh: Vania Santoso – Innovations Adolescent and Youth Engagement Officer


Murid berjalan kaki setelah dipulangkan lebih awal dari sekolah akibat kabut asap di Jambi, Provinsi Jambi, Indonesia© Antara Foto/Wahdi Setiawan/Reuters/29 September 2015

Palangkaraya: “Gara-gara asap, saya rasanya tidak pernah mau berada di sini lagi!” kata Gibran, siswa kelas empat di Palangkaraya, Kalimantan Timur.

Berat rasanya mendengarkan Gibran menceritakan kembali hari-harinya saat kabut asap menyelubungi tempat tinggalnya di Kalimantan, peristiwa yang berlangsung berminggu-minggu dan disebut oleh beberapa pihak sebagai bencana lingkungan terburuk. Di desanya, kabut asap begitu parah hingga Gibran
dan keluarganya terpaksa pindah. Mereka mengungsi ratusan kilometer jauhnya ke Jawa, tempat mereka tinggal selama sekitar dua bulan bersama nenek Gibran.

Secara sederhana, kabut asap adalah polusi udara yang berbau dan ditimbulkan oleh kebakaran hutan. Asap tidak hanya menyebabkan kerugian ekonomi, emisi gas rumah kaca, dan kematian satwa liar, namun juga mengancam kesehatan pernapasan—terutama pada anak-anak. Masalah kesehatan lain yang mendasar seperti gizi buruk, diare dan malaria, serta imunisasi tak lengkap bisa meningkatkan kerentanan anak-anak. Terlebih, saat kabut asap melanda, sekolah terpaksa ditutup dan pendidikan mereka pun terhalang.

Bersama dengan rekan-rekan dari PulseLab Jakarta, Lody dan Fahmi, saya dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pemerintah Palangkaraya, serta sejumlah mitra lain bekerja sama untuk memahami peristiwa kabut asap dari sudut pandang anak. Tujuannya adalah mencari solusi—baik kebijakan maupun praktis—sebelum musim kemarau tiba dan kebakaran hutan menyebabkan kabut asap kembali. Proses ini sangat menekankan pada kerja sama dan kemitraan, yaitu pendekatan yang mempertemukan calon pengguna solusi dengan pembuat solusi dan keputusan.

Dengan semangat itulah, UNICEF dan para mitra mengembangkan sejumlah cara yang dapat menjawab berbagai aspek persoalan kabut asap, termasuk: komik mengenai cara melindungi diri dari asap dan program yang bisa diikuti oleh relawan dewasa agar anak-anak tetap punya kegiatan meski harus berada di rumah saat terjadi kabut asap. Dengan melibatkan warga untuk ikut membuat dan menguji model-model percobaan ini, kami berharap hasil akhirnya dapat disesuaikan sedekat mungkin dengan kebutuhan lokal agar tingkat keberhasilan pun lebih besar. 


Gibran (tengah) dan temannya, David, turut memberi masukan pada contoh komik buatan PulseLab yang hendak membangun kesadaran tentang asap © UNICEF Indonesia/2017/Vania Santoso

Dari diskusi kami dengan warga, jelas bahwa risiko kesehatan dan pendidikan yang ditimbulkan asap saling memengaruhi, dan bahwa warga amat menginginkan solusi yang bisa dijalankan.

David, siswa kelas 6 SDN 4 Menteng Palangkaraya, tak bisa lupa saat kabut asap memburuk pada 2015. “Hari itu gelap sekali, termasuk di dalam rumah meski lampu menyala,” katanya. “Saya sulit bernapas dan tidak bisa menemui teman-teman,” tambah David.

“Sekolah tutup. Ini sulit, karena kami hanya diberikan PR untuk dipelajari dan dikerjakan di rumah,” katanya.

Saat kabut asap terjadi, sekolah-sekolah memang diliburkan selama berminggu-minggu.

“Rasanya seperti dipenjara! Rumah saya kecil, anak-anak ingin pergi ke luar, ke sekolah, dan bermain dengan teman-temannya,” ucap Ibu Elok, orangtua murid sekaligus guru salah satu sekolah. “Anak-anak tidak sadar bahaya asap. Mereka tetap pergi meski tanpa izin.”

Menurut kepala sekolah Ibu Ernawati, “Ketika ada kabut asap, anak-anak terpapar dampak kesehatan yang negatif. Nyaris semua anak, termasuk anak saya sendiri, menjadi lebih rentan sakit, sering batuk, bahkan ada yang kemudian memiliki masalah pernapasan kronis.”


Ibu Elok (kiri) dan Ibu Ernawatie memberikan masukan terhadap model contoh kurikulum tanggap bencana dari PulseLab © UNICEF Indonesia/2017/Vania Santos

Menurut penelitian dari Universitas Columbia dan Harvard, kabut asap 2015 bisa jadi telah menyebabkan kematian lebih dari 100.000 orang—sebagian besar merupakan akibat dari risiko kesehatan sistem pernapasan.

Ibu Ernawati mengatakan ia senang melihat contoh “rumah singgah bebas asap” dari UNICEF dan bersemangat menerapkan kurikulum PulseLab Jakarta mengenai strategi tanggap bencana asap.

“Membangun rumah singgah dengan fasilitas dasar agar anak-anak tetap bisa berkumpul, bermain, dan belajar saat ada kabut asap adalah mimpi saya,” ungkapnya.

Berbagai jenis upaya ini akan mulai diujikan bulan depan oleh UNICEF di Palangkaraya. Diharapkan, beberapa model contoh akan memberikan hasil menjanjikan. Namun, kabut asap adalah permasalahan rumit sehingga dibutuhkan pula kebijakan kuat dan menyeluruh untuk memitigasi dampak bahayanya. Hari Lingkungan Dunia kini diperingati setiap tanggal 5 Juni; inilah saatnya bertindak mencari solusi bagi kabut asap!

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia