Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Tanggap Darurat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanggap Darurat. Tampilkan semua postingan
Menggenggam erat Yuda dan Ence pasca bencana di Sulawesi

Menggenggam erat Yuda dan Ence pasca bencana di Sulawesi

Oleh: Dinda Veska – Donor Content Creator UNICEF Indonesia
Yuda dan Ence bermain bersama di samping tenda pengungsian. ©Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018

Jemari Yuda(11) menggenggam erat lengan Ence(6) adik kecilnya yang baru saja bersama-sama mengikuti kegiatan dukungan psikososial. Mereka berjalan pulang berdua, bukan ke rumah tetapi menuju tenda pengungsian, tempat di mana semua anggota keluarganya saat ini tinggal.

“Rumah kami sudah rata dengan tanah kak, sekolah juga. Kami tinggal di sini sekarang.”Ucap Yuda saat sampai di sebuah tenda terpal berwarna biru dengan ukuran lima kali tiga meter. Sore hari itu suhu udara mencapai 31 derajat celcius, sejak lumpur basah menelan rumah mereka dan seluruh Area Petobo, Yuda dan Ence tidak lagi mendapat kenyamanan untuk beristirahat apalagi bermain.

Rumah Ence dan Yuda habis ditelan lumpur di Area Petobo. ©Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018

Menurut Ibu mereka, Ence masih sering menangis di malam hari ketika menjelang tidur. “Mungkin masih takut, tapi sudah dua hari ini bermain di tenda sana, dia jadi lebih banyak senyum.”Ibu Heriyanti bercerita sambil menidurkan adik Yuda yang masih bayi.


Tenda yang dimaksud Ibu Heriyanti adalah Pos Layanan Perlindungan Anak yang didirikan dan dikelola oleh UNICEF bersama dengan Kementerian Sosial. Saat ini Pos tersebut sudah berdiri di 6 titik pengungsian bersama serta 14 pekerja sosial yang memberikan layanan dukungan psikososial, pendataan anak terpisah, penelusuran dan penyatuan kembali anak dan keluarga. Kesembilan pekerja sosial ini juga telah mendapat pelatihan tentang perlindungan anak dalam kedaruratan yang dibekali oleh UNICEF dan Kementerian Sosial.

Selama bermain dan bernyanyi bersama di pos, Yuda tidak pernah berada jauh dari sisi Ence. Ketika terpisah jarak dua hingga tiga meter, Yuda akan menukar posisinya dengan anak-anak lain untuk kembali berada di samping Ence.

Yudha (11) bercita-cita ingin menjadi pemain bola seperti Evan Dimas (atlet sepak bola Indonesia). ©Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018

“Mama bilang saya harus pegang Ence terus, main bersama-sama, pulang juga.”Yuda bercerita di samping tenda pengungsian. Dua kakak beradik ini sempat terpisah ketika gempa terjadi, Ence bersama ibunya lari tunggang langgang ke arah berbeda dengan Yuda yang digendong oleh pamannya. Tidak sampai dua jam setelah kampung mereka hilang ditelan lumpur, seluruh anggota keluarga Yuda dan Ence telah berkumpul di lokasi pengungsian saat ini.

Terpisahnya anak-anak seperti Yuda dan Ence dari anggota keluarga sangat mungkin terjadi ketika bencana datang, banyak anak dilaporkan hilang oleh orang tuanya, sampai saat ini 4 anak yang ditemukan terpisah kini telah dipersatukan kembali dengan anggota keluarga. Itu sebabnya penyatuan kembali anak-anak dengan anggota keluarga mereka (Family Tracing and Reunification)menjadi fokus utama UNICEF bersama Kementerian Sosial pasca bencana di Sulawesi.

Keinginan Yuda untuk tetap selalu berada di samping Ence adalah bentuk kekhawatiran seorang Kakak yang tidak ingin lagi terpisah dari adiknya. Kampung halaman mereka sudah hilang, boneka dan permainan-permainan lainnya habis tidak tersisa, bahkan teman sepermainan mereka hanya satu dua yang masih dapat mereka temui.

“Saya tidak tahu sampai kapan tinggal di tenda seperti ini. Tapi yang penting anak-anak semua lengkap bersama saya dan bapaknya, tidak terpisah.”Ucap Ibu Heriyanti.

Aku suka main-main di tenda sama kakak-kakak, bernyanyi, lipat-lipat kertas origami." Ucap Ence, kakak-kakak yang dimaksud adalah para pekerja sosial. ©Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2018

Di hari-hari ke depan, hidup kedua kakak beradik ini akan terus berubah, tidak lagi sama seperti sebelumnya. Tetapi bersama-sama kita bisa pastikan Yuda dan Ence tidak lagi terpisah dan akan terus tergenggam erat dengan anggota keluarganya.

Bersama UNICEF dan Pemerintah, kita pastikan setiap anak dapat kembali tersenyum dan menjalani hidupnya tanpa rasa takut bersama Ibu, Ayah dan anggota keluarga lainnya.


Tenda UNICEF untuk anak-anak di Pidie Jaya - Aceh

Tenda UNICEF untuk anak-anak di Pidie Jaya - Aceh

Oleh: Cory Rogers

Hari Rabu, saat ribuan orang keluar untuk salat subuh berjamaah, tanah di Pidie Jaya – Aceh Utara tiba-tiba terguncang. Dalam hitungan menit, 3000 rumah hancur menjadi puing-puing, jalanan di sekitar terbelah dan rusak parah.

Berdasarkan data terakhir dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 102 orang meninggal duni, lebih dari 300 orang terluka, dan 85.000 penduduk saat ini masih dalam pengungsian. Seperempat dari mereka yang meninggal berusia di bawah 18 tahun.

Dampak langsung dari gempa tersebut adalah puluhan ribu orang kehilangan rumahnya. Juga banyak dari mereka yang tidak memiliki akses pelayanan yang baik seperti, air yang aman, kesehatan dan sanitasi, bahkan pendidikan.

BNPB bekerjasama dengan lintas kementerian menyediakan tempat pengungsian sementara untuk perlindungan, kesehatan, logistik dan peralatan, serta sarana pendidikan, didukung oleh 50 Organisasi Non Pemerintah (NGO), 4 badan PBB dan donatur dari sektor swasta.

UNICEF sendiri diminta bergabung dengan Kementerian Pendidikan untuk menilai kerusakan yang dialami sekolah-sekolah. Penilaian ini meliputi 3 Kabupaten yaitu Pidie Jaya, Pidie dan Bireun, yang semuanya terletak dekat dengan pusat gempa di pantai utara Aceh.

“Sejauh ini kami masih mengidentifikasi kekurangan dan kebutuhan apa saja yang harus dipenuhi,” Ujar Yusra Tebe - Spesialis Pendidikan untuk Bencana di UNICEF, yang ikut bergabung dengan tim di lapangan. “Dari 296 sekolah di Pidijaya, 155 rusak karena gempa, sementara itu 40 lainnya rusak parah hingga tidak dapat diperbaiki lagi.” Tambahnya. Data tersebut belum termasuk pengecekan dari sekolah-sekolah islam yang berada di sana.

Dinas Pendidikan Pidie Jaya telah merekomendasikan siswa-siswa yang sekolahnya hancur karena gempa untuk mengikuti kegiatan belajar di sekolah lain sementara sekolah mereka diperbaiki.

Sebelumnya UNICEF juga telah memasok puluhan tenda pendidikan kepada Departemen Pendidikan di Sumatera Utara agar mempermudah mobilisasi saat bencana terjadi. Dengan kerusakan yang sangat parah saat ini tenda-tenda itu pun digunakan untuk tempat belajar semantara anak-anak di Pidie Jaya, telah didirikan mulai tanggal 10 Desember.

“Tahun kemarin kami menyumbang puluhan tenda untuk prasarana pendidikan dan bermain anak.” Jelas Yusra. Mereka membangun tenda pertama di Pidie Jaya beberapa hari setelah bencana terjadi.

“Total ada 40 tenda yang kita butuhkan, semoga smeuanya bisa didirikan pada 2 Januari saat sekolah dimulai.” Jelas Yusra lagi. Status darurat telah diumumkan di 3 kabupaten yang juga sedang dalam waktu libur sekolah.

Program asisten UNICEF juga hadir saat pendirian tenda di Pelandok Tunong, sekolah kedua di Desa Trienggadeng. “Kepala sekolah sangat antusias dengan pendirian tenda ini, karena itu dapat mempermudah proses belajar mengajar, ini sangat penting menurut beliau.” Ujar Said.

Di saat-saat seperti ini, hidup anak-anak harus kembali seperti sedia kala secepat mungkin, termasuk semua yang ada di dalamnya teman-teman dan lingkungan mereka. Untuk mendukung semua itu, organisasi lokal saat ini tengah berupaya merencanakan sejumlah kegiatan untuk mereka di sekolah.
“Saya percaya ini dapat memulihkan anak-anak dari stres dan trauma mereka,” ujar Said, hal itulah yang terpenting, mengingat gempa susulan juga telah terjadi di 3 kabupaten dan memperburuk keadaan para korban.

Tim yang turun ke lapangan juga mengidentifikasi kebutuhan buku, peralatan sekolah, dan dukungan psikologis. UNICEF juga menyumbang perlengkapan untuk kebutuhan Pendidikan Anak Usia dini yang telah dibawa ke Pidie Jaya dari tempat penyimpanan di Sumatera Utara. “80 perlengkapan lainnya di medan bisa langsung dimobilisasi kapanpun jika dibutuhkan.” Ujar Yusra.

Seluruh perlengkapan ini berisi alat tulis dan alat-alat kerajinan tangan, dapat digunakan sambil menunggu perbaikan dan pembangunan kembali sekolah mereka.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Litbang, Informasi, dan Hubungan Masyarakat BNPB menjelaskan bahwa seluruh dana sumbangan akan dialokasikan ntuk membangun dan memperbaiki sekolah-sekolah yang rusak karena bencana.

Remaja Indonesia bersiap menghadapi bencana (dengan cara yang kreatif)

Remaja Indonesia bersiap menghadapi bencana (dengan cara yang kreatif)

Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

Siswa SMP pada Lokakarya uji coba Paket untuk Remaja Berekspresi dan Berinovasi. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker. 

Sebuah ruang kelas di daerah Jakarta Timur riuh dengan kegiatan. Sekitar 20 remaja merangkai berbagai kata, bentuk dan pola pada secarik kertas putih berukuran besar. Suasananya begitu hidup, namun topiknya tidak main-main: banjir dahsyat yang akan datang.

 Jakarta terkenal karena banjir musimannya yang parah. Dan wilayah di bagian timur Jakarta sering menanggung beban ini setiap musim hujan. Sebagian besar remaja yang mengikuti lokakarya ini memilki koleksi cerita yang memilukan tentang banjir. Beberapa bahkan memiliki pengalaman yang nyaris merenggut nyawa mereka.

“Saya mengalami banjir yang sangat parah pada tahun 2007,” cerita Vicka, peserta yang berusia 14 tahun, “Waktu itu sekitar pukul dua pagi ketika banjir datang. Sebentar saja air sudah mencapai langit-langit rumah. Suasana gelap gulita dan seluruh keluarga saya sangat ketakutan.”

“Ayah saya menenangkan kami semua dan membawa kami ke atap rumah untuk mencari pertolongan. Akhirnya perahu penyelamat datang. Kami harus lompat ke perahu dari atap rumah. Saya sangat takut, namun beruntung kami semua baik-baik saja. Bagian yang paling mencemaskan adalah ibu saya sedang mengandung pada saat itu. Akhirnya dia melahirkan adik perempuan saya keesokan harinya.”

Paket Remaja untuk Berekspresi dan Berinovasi sedang diujicobakan di Indonesia dan di Sudan Selatan. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker.


Tahun lalu UNICEF memutuskan untuk menguji coba Paket untuk Remaja Berekspresi dan Berinovasi di wilayah pemukiman yang rawan banjir di daerah Kampung Melayu dan Rawajati. Paket yang dikembangkan di Kantor Pusat UNICEF di New York, merupakan paket yang berisi peralatan dan benda-benda yang ditujukan untuk membantu remaja mempersiapkan diri dalam menghadapi konflik dan krisis dengan cara yang inovatif.

UNICEF dan mitra lokalnya sejak itu bekerja sama dengan delapan kelompok remaja selama 12 bulan. Prosesnya mencakup lokakarya rutin dengan menggunakan  alat-alat yang terdapat dalam Paket utuk Remaja. Setiap remaja didorong untuk membuat rencana apabila banjir datang dengan menggunakan cara-cara yang kreatif, orisinal dan bahkan artistik.

 “Indonesia merupakan salah satu negara rawan bencana di dunia,” ujar HIV and Adolescent Officer UNICEF, Annisa Budiyani pada salah satu acara lokakarya, “Jadi sangat penting untuk mempromosikan dan membuat para remaja dapat berpartisipasi dalam pengembangan solusi yang sesuai untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi  sebelum, selama dan sesudah keadaan darurat yang berdampak pada kehidupan mereka.”

“Paket untuk Remaja ini memiliki fokus untuk membangun kapasitas remaja untuk mengatasi stres yang diakibatkan oleh keadaan darurat dan memberdayakan diri mereka sendiri untuk menangani risiko yang dikaitkan dengan keberadaan mereka sebagai remaja dalam situasi darurat. Tujuan kami adalah untuk memberikan keterampilan, metode dan peralatan untuk menciptakan sistem mereka sendiri guna mendukung dan mencari solusi sebagai remaja.”


Fauzan memiliki rencana besar untuk masa depan. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Para remaja yang ikut serta dalam lokakarya ini tidak hanya merancang berbagai rencana penanggulangan banjir dan solusinya, namun juga mengembangkan kemampuan individu mereka sendiri secara signifikan.

 “Saya belajar berdiskusi, melakukan curah pendapat dan berbagi pengetahuan dengan orang lain,” kata Fauzan, seorang peserta lokakarya yang berusia 13 tahun, “Hal-hal yang sangat jarang saya lakukan. Kami didorong untuk mengeluarkan pendapat kami. Kemampuan kreatif saya jelas meningkat.”

Fauzan pernah bekerja pada sejumlah proyek untuk menangani banjir dalam beberapa tahun terakhir. Di antaranya proyek mekanisme peringatan dini yang menggunakan sistem audio di mesjid setempat dan proyek yang mencari cara-cara untuk membantu pedagang kaki lima selama banjir.

Ketika ditanya apa cita-citanya jika telah dewasa nanti, Fauzan terdiam sejenak. “Saya ingin jadi walikota di daerah saya tinggal. Sekarang saya sungguh-sungguh ingin melayani masyarakat saya,” ujarnnya.

UNICEF akan menggunakan waktu beberapa bulan ke depan untuk menilai program uji coba Paket untuk Remaja ini di Indonesia dan Sudan Selatan. Paket ini akan tersedia bagi seluruh kantor perwakilan UNICEF di seluruh dunia.


Dampak positif konseling psikososial UNICEF melalui radio di Nepal

Dampak positif konseling psikososial UNICEF melalui radio di Nepal


Chiranjibi Adhikari bersama anaknya, Kritagya (6) di salah satu tenda medis UNICEF. Mereka sedang berbicara dengan seorang konselor psikososial melalui program radio Bhandai Sundai yang didukung oleh UNICEF. ©UNICEF/2015/Panday.

Dhadingbesi, Nepal – Chiranjibi Adhikari belum pernah melihat Kritagya, anaknya yang berusia 6 tahun, begitu gelisah.

"Dia selalu mencari perhatian," kata sang ayah berusia 45 tahun ini. "Sebelumnya dia tidak seperti ini."

Menurutnya, Kritagya telah mengalami trauma sejak gempa dengan skala 7,8 Richter melanda Nepal pada tanggal 25 April 2015.

"Saya tidak tahu bagaimana mengontrol anak saya," kata Chiranjibi. "Dia sangat mudah panik dan saya tidak bisa menenangkannya.”
Mereka sedang berada di dalam sebuah tenda medis yang disediakan UNICEF di depan Rumah Sakit Dhading di Dhadingbesi, pusat Kabupaten Dhading. UNICEF telah menyediakan dua tenda medis ke rumah sakit tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehubungan dengan meningkatnya jumlah pasien akibat gempa bumi.

Kritagya sendiri dibawa ke rumah sakit setelah ia menderita cedera lengan akibat gempa susulan yang terjadi pada tanggal 7 Mei.

Ketika kantor UNICEF Nepal mendengar tentang situasinya, mereka memutuskan untuk menghubungkan dia dengan program radio Bhandai Sundai (Mengatakan Mendengarkan) yang baru saja diluncurkan. Pada sore hari, acara ini berfokus pada konseling psikososial bagi anak-anak yang terkena dampak gempa. Setelah penjelasan singkat, Chiranjibi siap untuk berbicara di telepon dengan seorang psikolog tentang kondisi anaknya.

"Saya khawatir karena anak saya menjadi panik jika ada guncangan sekecil apapun," katanya di radio.
 
Chiranjibi juga mengatakan bahwa ada banyak orang tua lain yang mengalami masalah yang sama, sedangkan mereka sudah kehabisan ide tentang bagaimana untuk mengontrol kepanikan anak-anak mereka.

Menurut sang psikolog, orang tua harus membuat anak-anak paham bahwa gempa susulan adalah sesuatu yang normal, dan anak-anak perlu disibukkan dengan permainan dan kegiatan kelompok ramah anak untuk meningkatkan interaksi dengan anak-anak lainnya.

Puas dengan respon yang diberikan, Chiranjibi berharap bahwa program radio unik ini bisa "mencapai jutaan orang tua lain yang, seperti saya, terus-menerus khawatir tentang dampak gempa terhadap anak-anak."
 
"Perasaan saya lebih lega sekarang," tambahnya.

Duta Nasional UNICEF Nepal Ani Choying Drolma (tengah) dan pembawa acara radio Ram Abiral (kiri) berinteraksi dengan seorang anak pada program Bhandai Sundai. © UNICEF/2015/Shekhar.

Program ini telah diterima dengan baik oleh penduduk Nepal, dan tidak hanya di daerah yang terkena dampak gempa. Banyak juga telepon dari penduduk Nepal di seluruh dunia untuk menunjukkan dukungan bagi mereka yang terkena dampak gempa.

Beberapa selebriti, termasuk Duta Nasional UNICEF Nepal Ani Choying Drolma dan kapten nasional olahraga Kriket Paras Khadka, juga telah berpartisipasi dalam program tersebut untuk mengangkat semangat jutaan anak-anak yang terkena dampak gempa. Seorang komedian dan aktor terkenal, Jitu Nepal, juga telah memberikan hiburan untuk anak-anak pada slot malam program Bhandai Sundai.


Gempa di Nepal: 5 hal yang perlu kamu ketahui

Gempa di Nepal: 5 hal yang perlu kamu ketahui

Beberapa hari ini sangat memilukan untuk anak-anak di Nepal dan hampir tiga juta anak membutuhkan bantuan kemanusiaan yang mendesak setelah gempa bumi. Berikut lima hal yang kamu perlu tahu tentang bencana ini:

1. Gempa terbesar dalam 81 tahun


© UNICEF/NYHQ2015-1040/Nybo
Gempa berkekuatan 7,8 Richter ini adalah gempa terburuk yang dialami Nepal selama lebih dari 80 tahun terakhir. Lebih dari 60 gempa susulan terjadi, salah satunya mencapai skala 6,7 Richter.


2. Hampir separuh populasi Nepal adalah anak-anak


© UNICEF/NYHQ2015-1013/Nybo
Anak-anak berusia di bawah 18 tahun mencakup 42 persen dari 27,8 juta penduduk Nepal. Sedikitnya 2,8 juta anak-anak tinggal di kawasan dengan dampak gempa terparah.


3. Salah satu negara termiskin di dunia


© UNICEF/NYHQ2012-2007/Noorani
Nepal adalah salah satu negara termiskin di dunia. Menurut Indeks Pembangunan Manusia (World Bank), negara itu berada pada peringkat 157 dari 187 negara.


4. Medan yang menantang


© UNICEF/NYHQ2012-1999/Noorani
Daratan Nepal sangat susah untuk dilintasi karena banyaknya pegunungan. Kathmandu terletak di lembah yang dikelilingi pegunungan Himalaya. Upaya tim penyelamat  terhambat oleh tanah longsor yang memblokir jalur-jalur pegunungan.


5. UNICEF berada di lapangan


© UNICEF/NYHQ2015-1015/Nybo

UNICEF telah berada di Nepal selama 40 tahun dan memiliki program penanggulangan bencana darurat. Bekerja dengan Pemerintah dan mitra-mitra lainnya, kami siap untuk membantu anak-anak dalam pengadaan air bersih dan sanitasi, kesehatan dan gizi anak, serta perlindungan bagi anak-anak yang rentan.

UNICEF tengah bergegas untuk menyalurkan pasokan untuk membantu anak-anak dan keluarga mereka. Mohon bantuan Anda dalam bentuk sumbangan agar kami dapat membantu anak-anak yang telah kehilangan segalanya. Tanpa bantuan darurat, akan ada semakin banyak nyawa yang terancam.

Membangun kembali dengan lebih baik untuk masa depan yang lebih aman

Membangun kembali dengan lebih baik untuk masa depan yang lebih aman

Simon Nazer, Communication Consultant for UNICEF East Asia and Pacific

Latihan gempa di SDN Muhammadiyah 1 Banda Aceh.
© UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

Rekan-rekan UNICEF dan lembaga-lembaga internasional kini sedang memobilisasi bantuan untuk korban Topan Pam di Vanuatu. Ini adalah pengingat betapa rentannya Negara-negara di wilayah ini terhadap bencana alam, betapa pentingnya persiapan untuk menghadapi bahaya yang bisa terjadi.

Untuk mengetahui tentang pekerjaan UNICEF dalam mengurangi dampak bencana, beberapa hari yang lalu saya berbicara dengan rekan-rekan di Indonesia dan Kiribati, beberapa daerah yang paling rawan bencana di dunia.



Kiribati: terancam oleh air laut

Air laut terus mengancam masyarakat Kiribati, dan masa depan pulau mereka. © UNICEF Pacific/2014/Alcock

Badai topan di Samudra Pasifik mengirimkan ombak besar ke pulau Kiribati, dan Nuzhat Shahzadi dari UNICEF, yang telah menghabiskan tiga setengah tahun terakhir di sana, terus dikejutkan oleh ukuran ombak yang jaraknya hanya beberapa meter dari kantor UNICEF. Dia mengatakan kepada rekan-rekannya untuk tinggal di rumah hari ini, namun ia sendiri tetap ingin memantau situasi dari kantornya.

"Ada air laut dan puing-puing di kompleks kantor," kabar Nuzhat melalui koneksi internet yang tidak stabil. "Saya bisa melihat ombak dari tempat saya duduk sekarang, mereka besar. Sebentar lagi seluruh kompleks kantor bisa banjir. "

"Saya telah diberitahu bahwa dua klinik bersalin benar-benar banjir terpendam banjir tadi malam dan para pasien harus dipindahkan. Sebelumnya, seluruh sekolah juga pernah dipindahkan. Banjir menjadi bagian yang semakin rutin dari kehidupan di sini.”

Air laut adalah bahaya yang besar bagi Kiribati dan, karena perubahan iklim, banjir perlahan-lahan mencapai pantai, jalanan dan masyarakat. Air laut membanjiri rumah dan panen, meninggalkan keluarga tanpa air bersih dan makanan.

"Banjir selalu ada, tapi dulu lebih mudah diprediksi dan ridak rutin. Sekarang jadi sangat sering, dan semakin besar," kata Nuzhat. "Baru-baru ini, air laut bergenangan di beberapa daerah di Tarawa selama tiga hari, mencemari semua persediaan air dan menyebabkan bahaya listrik. Selain itu, kontaminasi air asin terhadap air tanah bisa menggagalkan panen mereka yang sudah tidak begitu banyak."

Namun ada juga upaya untuk melindungi pasokan air. UNICEF bekerja sama dengan pemerintah daerah dan masyarakat untuk mendukung instalasi tangki air dengan meningkatkan infrastruktur untuk menampung air hujan, menjamin anak-anak dan keluarga memiliki akses kepada air bersih. UNICEF memasang sistem penampungan air hujan baru di tepi-tepi pulau, serta menyebarkan informasi tentang cara melindunginya dari kontaminasi.

UNICEF juga bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk membantu persiapan menghadapi bencana alam, tapi masih banyak yang harus dilakukan, kata Nuzhat. "Infrastruktur di sini lemah. Saluran telepon terputus dan jalanan mulai rusak akibat banjir yang berkelanjutan. Saya butuh satu jam setengah hanya untuk mengemudi 10 km ke sebuah rapat kemarin. Itu adalah perjalanan yang paling menakutkan dalam hidup saya. Transmisi radio tidak selalu mencapai sebagian besar pulau. Akibatnya, sulit untuk memperingatkan orang-orang dari potensi bahaya yang akan datang ke arah mereka."

Sistem peringatan dan berbagi informasi sangat penting untuk membantu melindungi diri dari potensi bencana. Di suatu tempat berjarak lebih dari 10.000 kilometer, ada upaya yang sedang dilakukan untuk menyelamatkan nyawa jika bencana terjadi.


Indonesia: membangun kembali dengan lebih baik

Anak-anak berlatih melakukan pertolongan pertama di SDN Muhammadiyah 1 Banda Aceh.
© UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

Tsunami yang terjadi pada tahun 2004 menewaskan 170.000 dan merampas tempat tinggal setengah juta warga Indonesia. Dampaknya sangat parah dan memicu bantuan kemanusiaan terbesar di sejarah UNICEF.

Menurut Michael Klaus, Kepala Komunikasi UNICEF Indonesia, kejadian ini membuat semua pihak memikirkan kembali bagaimana cara menghadapi bencana alam. “Tsunami itu, yang membuat 3.000 ana menjadi yatim piatu, memicu operasi bantuan kemanusiaan yang terbesar di sejarah UNICEF. Dampaknya sangat parah, dan benar-benar membuat pemerintah dan lembaga-lembaga internasional memikirkan ulang cara kerja dalam menanggapi bencana. Itulah mengapa UNICEF memulai rencana untuk memastikan masyarakat membangun kembali dengan lebih baik.”

Bersama dengan pemerintah, UNICEF membantu masyarakat untuk membangun kembali kehidupan mereka, dan untuk memastikan bahwa jika bencana serupa terjadi lagi, mereka bisa merespon dengan tepat.

“Hanya 17 dari 300 murid SDN Muhammadiyah 1 di Banda Aceh bertahan hidup hari itu, dan ada beberapa kasus memprihatinkan seperti ini. Itulah mengapa UNICEF bertekad untuk memastikan bahwa sekolah-sekolah baru bisa tahan terhadap bencana,” tambah Michael.

Bangunan-bangunan sekolah baru dirancang supaya tahan gempa, dengan fondasi yang lebih dalam dan system pendukung yang lebih kuat. Meja-meja kini menggunakan permukaan kayu tebal yang dibautkan dengan kaki besi.

Para murid juga mendapatkan latihan gempa secara teratur. Ketika alarm berbunyi, mereka turun ke lantai dan berlindung di bawah meja mereka, jauh dari bahaya kaca jendela. Mereka tahu jika gempa telah berhenti mereka harus pergi ke luar untuk dihitung. Anak-anak juga diajarkan dasar-dasar pertolongan pertama.

Ini hanyalah satu contoh dari berbagai bentuk kerja sama UNICEF dengan mitra-mitranya untuk membangun kembali dengan lebih baik. "Pengurangan risiko bencana menyentuh berbagai bidang, mulai dari kesehatan dan gizi hingga pendidikan, air bersih dan sanitasi," kata Michael.

"Yang penting adalah memastikan bahwa ini bukan upaya satu kali. Kami bekerja untuk memastikan bencana alam, yang sering terjadi di Indonesia, tidak menjadi bencana besar bagi ribuan anak-anak dan keluarga, khususnya yang paling rentan dan kurang beruntung."


Mengurangi risiko untuk generasi masa depan

322 dari 496 kabupaten di Indonesia berada di bawah ancaman bencana alam. Bagi negara dengan lebih dari 85 juta anak-anak, ada banyak warga yang rentan. "Indonesia, seperti negara-negara tetangganya, tidak siap untuk bencana sebesar itu," kata Michael. "Tidak ada rencana untuk menangani sesuatu sebesar itu. Ini tanggung jawab semua orang untuk memastikan kita menghindari tragedi seperti yang terjadi di Aceh. Kita tidak bisa menghentikan bencana, tapi kita bisa mengurangi dampaknya.”

Di Kiribati, masa depan pulau tersebut tidak pasti. Dampak perubahan iklim sangat terlihat bagi Nuzhat selama ia tinggal di Negara pulau tersebut. "Selama di sini saya telah melihat arus pasang meningkat, dan banjir terjadi lebih sering. Banyak yang harus dilakukan di sini."

Mengurangi risiko bencana di masa depan sangat penting untuk memastikan keselamatan hidup. Sementara warga Vanuatu mulai merangkai kehidupan mereka kembali, semoga keputusan yang dibuat di Sendai pekan ini akan membantu mereka yang paling rentan.


Manfaat jangka panjang dari “Building Back Better”

Manfaat jangka panjang dari “Building Back Better”


Para siswa SD Muhammadiyah 1 Banda Aceh menggunakan tandu untuk mengangkat seorang 'korban' dalam latihan untuk menghadapi gempa. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

BANDA ACEH, Indonesia, October 2014 – Bayangkan situasi ini: Minggu pagi di akhir bulan Desember di Banda Aceh, Anda dibangunkan oleh gempa bumi besar.

Tak lama kemudian Anda berlari menyelamatkan diri dari sapuan air bah tsunami,yang meratakan hampir semua yang dilewatinya. Anda tidak tahu di mana anggota keluarga Anda berada, hanya bagaimana menyelamatkan diri dengan mendaki ke tempat yang lebih tinggi yang ada di benak Anda. Akhirnya Anda mencapai puncak sebuah bukit, bersama dengan orang-orang lain yang telah terluka dalam perjuangan mereka untuk melarikan diri dari tsunami.

Di atas bukit tersebut Anda melihat kehancuran yang dialami kota Banda Aceh. Pohon, rumah dan jalanan tersapu bersih. Reruntuhan, potongan besi, dahan-dahan pohon… serta mayat berserakan dimana-mana. Anda telah kehilangan segalanya, dan bahkan tidak tahu apabila keluarga Anda selamat. Semua infrastruktur hilang. Ketika Anda mulai menyadari apa yang telah terjadi, Anda berpikir: Meskipun saya selamat, bisakah saya mendapatkan makanan dan minuman? Di mana saya akan tidur?

Inilah yang dialami ratusan ribu orang yang menjadi korban tsunami Samudra Hindia yang melanda Banda Aceh sepuluh tahun yang lalu pada tanggal 26 Desember 2014, dan menewaskan sekitar 170.000 orang di daerah tersebut. Bencana itu juga meninggalkan puluhan ribu orang tanpa sandang, pangan dan papan. Tak lama setelah itu, UNICEF memulai upaya untuk menyediakan kebutuhan-kebutuhan dasar seperti air minum bersih untuk mengurangi risiko penyakit-penyakit berpotensi mematikan.


Air bersih untuk 100.000 pengungsi


Tak lama kemudian, UNICEF menemukan sebuah sebuah fasilitas pengolahan air yang telah rusak di Lambaro, suatu area di Banda Aceh yang tidak terkena dampak tsunami. UNICEF pun membantu insinyur dan teknisi Indonesia untuk memperbaiki fasilitas tersebut.

"Kami bekerja siang dan malam tanpa henti," kata Teuku Novizal Ayub, mantan direktur fasilitas pengolahan air tersebut.


Fasilitas pengolahan air di Lambaro ini tersambung ke dalam sistem pipa kota, memasok air minum bersih untuk sekitar 50.000 orang. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

Fasilitas ini menyediakan air untuk sekitar 100.000 pengungsi yang tinggal di kamp-kamp di dalam dan sekitar Banda Aceh.

Namun, yang terpenting adalah upaya ini dilakukan dengan mempertimbangkan hasil dan tujuan jangka panjang.

"Kami berusaha memastikan agar proyek ini bisa menjadi sumber daya yang berkelanjutan, sehingga akan terus menyediakan air bersih untuk selama mungkin," ucap Pak Ayub.

Kini, sepuluh tahun sejak bencana tsunami terjadi, fasilitas di Lambaro ini masih terus melayani masyarakat Banda Aceh. Air yang dihasilkan tersalur ke dalam sistem pasokan air minum bersih kota, yang memasok sekitar 50.000.

Kinerja UNICEF pada fasilitas pengolahan air ini adalah salah satu contoh dari pendekatan ‘Membangun Kembali Dengan Lebih Baik' (‘Building Back Better’) pasca tsunami Samudera Hindia.


Membangun Sekolah Yang Lebih Baik


Anak-anak di sekolah dasar Muhammadiyah di Banda Aceh juga mendapatkan manfaat dari pendekatan ini. Bangunan sekolah ini hancur akibat tsunami. Hanya 17 dari 300 siswa selamat pada hari itu.

Pada awalnya, sekolah ini dibangun dengan struktur semi permanen yang terbuat dari beton dan kayu yang sering bocor ketika hujan. Meja dan kursi pun terbuat dari kayu lapis tipis.

UNICEF berkomitmen untuk membangun kembali dengan lebih baik, agar sekolah Muhammadiyah yang baru akan mampu bertahan ketika terjadi bencana alam di masa depan.

Setelah tsunami, para ahli merancang gedung-gedung sekolah baru yang tahan gempa, dengan fondasi yang lebih dalam dan sistem penunjang yang kokoh. Meja sekolah pun kini menggunakan permukaan kayu tebal yang dipasang dengan penyangga logam.

"Kini kami merasa sangat nyaman karena anak-anak lebih aman," kata Ibu Zahariah, sang kepala sekolah.

SD Muhammadiyah menjadi acuan bagi lebih dari 300 sekolah yang dibangun UNICEF di Aceh setelah tsunami. 

Murid-murid SD Muhammadiyah 1 berlindung di bawah meja saat pelatihan menghadapi gempa. Bangunan sekolah baru dirancang agar tahan gempa dan dilengkapi dengan meja-meja kayu tebal berkaki besi. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

Murid-murid dilatih cara menghadapi gempa secara teratur. Ketika alarm berbunyi, mereka diajarkan untuk berlindung di bawah meja masing-masing, dan menjauh dari kaca jendela. Setelah getaran gempa berlalu, mereka harus pergi meninggalkan bangunan.

Nasywa Zulkarmain, 11 tahun, tahu tentang tsunami dari kisah-kisah orang tua dan saudaranya. Keluarganya selamat karena mereka berhasil mencapai dataran tinggi dengan menggunakan mobil.

“Saya takut dengan gempa,” ucap siswa kelas 6 SD ini, yang baru berusia 1 tahun ketika tsunami melanda. “Tapi saya tahu apa yang harus dilakukan kalau terjadi”, tambahnya. 

Para murid SD Muhammadiyah 1 dilatih untuk melindungi kepala mereka dengan menggunakan tas sekolah jika gempa terjadi. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

Ibu Zahariah, sang Kepala Sekolah, sangat terpukul ketika begitu banyak muridnya meninggal akibat tsunami pada tahun 2004. Sekarang dia tahu anak-anak seperti Nasywa memiliki kesempatan yang lebih baik untuk bertahan hidup jika tsunami lain menyerang Banda Aceh.

"Menurut saya anak-anak tidak akan panik," katanya. "Rasanya lega mengetahui bahwa mereka siap dan akan mampu melindungi diri mereka sendiri."

UNICEF bekerja keras bukan hanya untuk membangun kembali infrastruktur, tetapi untuk membangun kembali dengan lebih baik. Sepuluh tahun kemudian, manfaat dari proyek –proyek yang dimulai UNICEF sebagai respon terhadap tsunami masih dirasakan oleh masyarakat setempat.

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia