Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label U-Report. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label U-Report. Tampilkan semua postingan
Laporan baru menyoroti perspektif orang muda mengenai Mutilasi Genital Perempuan

Laporan baru menyoroti perspektif orang muda mengenai Mutilasi Genital Perempuan


Hampir separuh dari orang muda yang berusia antara 13 dan 24 tahun di  Indonesia menganggap bahwa mutilasi genital perempuan (FGM) harus dilarang, menurut sebuah jajak pendapat online yang dilakukan oleh UNICEF melalui platform media sosial U-Report.

Laporan menemukan bahwa 44 persen responden menganggap bahwa praktek tersebut harus dihentikan dan 22 persen menganggapnya sebagai pelanggaran hak asasi manusia atau dapat  mengakibatkan konsekuensi kesehatan negatif. Lebih dari separuh responden (54 persen) menganggap bahwa FGM adalah suatu praktek keagamaan atau budaya.

“Kami menganggap bahwa temuan ini adalah indikasi penting bahwa anak-anak dan orang muda tertarik untuk membicarakan topik ini lebih lanjut dan sejumlah signifikan peserta mengharapkan bahwa para pelaku seperti kita semua membantu untuk mengakhiri praktek tersebut,” kata Lauren Rumble, Deputi Wakil UNICEF Indonesia. “Kami dapat menganggapnya sebagai panggilan untuk bertindak dari orang muda sendiri, bekerja sama dengan para tokoh agama dan budaya serta pelaku lainnya."

Lebih dari 3,000 tanggapan telah diterima dari orang yang sebagian besar tinggal di kota urban yang mengambil bagian dalam penelitian. Responden menjawab pertanyaan melalui platform polling @Ureport_ID berbasis Twitter dari UNICEF Indonesia.

Laporan tersebut merekomendasikan untuk meningkatkan jumlah informasi kepada orang muda beserta orang tua mengenai FGM, melakukan kampanye informasi publik mengenai praktek tersebut, serta melibatkan tokoh agama dan para pemimpin masyarakat maupun orang muda untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah ini.

Laporan media sosial mengikuti rilis pertama mengenai data yang meneliti FGM di Indonesia, yang menunjukkan bahwa sekitar setengah dari anak perempuan berusia 11 tahun dan lebih muda telah mengalami praktek tersebut. Pemerintah Indonesia telah mengumpulkan data melalui suatu survei rumah tangga bersama UNICEF Indonesia, dalam kolaborasi dengan Kantor Pusat UNICEF di New York, telah merilis data tersebut dalam bulan Februari 2016 pada Hari International Nol Toleransi bagi FGM / C.

Untuk membaca laporan lengkap, klik di sini.

U-Report Indonesia Resmi Diluncurkan

U-Report Indonesia Resmi Diluncurkan

Oleh Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer 

Jeffery Hall dan Vania Santoso dari UNICEF Indonesia Innovation Lab bicara tentang U-Report. ©UNICEF Indonesia/2015 /Nick Baker 

Jakarta, INDONESIA 4 Desember 2015 - UNICEF resmi meluncurkan U-Report Indonesia: Sebuah platform inovatif baru yang memberikan kesempatan kepada anak-anak muda untuk bicara tentang isu-isu yang mempengaruhi hidup mereka.

Ratusan anak muda Indonesia menghadiri acara peluncuran di Jakarta, dimana para anggota UNICEF Indonesia Innovation Lab menjelaskan tentang bagaimana U-Report bekerja dengan menggunakan ponsel.

U-Report Indonesia adalah sistem jajak pendapat berbasis Twitter yang memungkinkan anak-anak muda berbagi tentang pendapat mereka tentang topik-topik penting mulai dari pendidikan hingga kesehatan dan pemerintahan," kata UNICEF Indonesia Innovation Lead Jeffery Hall.


"Jawaban yang masuk kemudian dianalisis dan informasi ini dibagi dengan mitra-mitra kunci seperti pemerintah. Jadi kami membantu menjadikan suara anda didengar. Para U-Reporter tidak hanya mengirim Tweet (pesan), tetapi mereka juga memberikan kontribusi kepada masyarakat dan hak anak."


Anak-anak muda Indonesia melakukan curah pendapat (brainstorming) pada peluncuran U-Report. ©UNICEF Indonesia/2015.

UNICEF juga menggunakan acara tersebut untuk mengumpulkan masukan tentang topik-topik tambahan yang ingin didiskusikan oleh para peserta tentang U-Report. Anak-anak muda melakukan curah pendapat (brainstorming) melalui metodologi inovatif yang disebut diskusi Open Space. Topik-topik yang menarik perhatian antara lain merokok sebagai krisis kesehatan yang akan datang, tantangan dan peluang bagi anak muda penyandang cacat, dan ekonomi kreatif.

Gerakan  Pramuka Indonesia, juga tampil di acara tersebut. UNICEF baru-baru ini menandatangani perjanjian kemitraan dengan Pramuka untuk meningkatkan U-Report di Indonesia. Pramuka Indonesia merupakan gerakan kepanduan terbesar di dunia dengan sekitar 20 juta anggota.


Nining Lasiyati dari Pramuka bicara pada acara tersebut. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker  

U-Report pertama kali diluncurkan di Uganda oleh UNICEF global Innovation Lab. Sejak saat itu U-Report telah diadopsi oleh 17 negara. U-Report Indonesia telah berada dalam tahap pengembangan sejak 2014 dan telah memiliki 40.000 U-Reporters selama periode tersebut.

Pada 2015, UNICEF telah menggunakan U-Report untuk melakukan survei tentang kekerasan terhadap anak. Para peserta menyatakan pandangan mereka tentang tanggung jawab pemerintah untuk menanggulangi kekerasan, tentang kesadaran masyarakat dan tentang peran anak muda dalam mengatasi masalah yang mempengaruhi ribuan anak dan remaja di seluruh Indonesia. Jawaban ini digunakan sebagai masukan oleh pemerintah dalam menyusun Strategi Nasional tentang Kekerasan terhadap Anak 2015-2019.


Goodwill Ambassador UNICEF David Beckham bahkan hadir melalui video untuk mempromosikan U-Report. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker  

Selama acara tersebut, jumlah U-Reporter terus meningkat seiring dengan banyaknya peserta yang mendaftar dan mempromosikan platform. Jumlah ini sepertinya akan terus meningkat pada masa-masa yang akan datang.

"Kami ingin memberdayakan sebanyak mungkin anak muda Indonesia untuk bicara dalam pembangunan negara mereka," kata Jeffrey.

"Ini adalah saat yang sangat menarik. Kisah U-Report Indonesia baru saja dimulai."


Anggota U-Reporter baru. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

UNICEF Bermitra dengan Gerakan Pramuka Indonesia

UNICEF Bermitra dengan Gerakan Pramuka Indonesia

Oleh: Kinanti Pinta Karana, Spesialis Komunikasi UNICEF Indonesia

Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Bapak Adhyaksa Dault (keenam dari kanan), dengan Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Ibu Gunilla Olsson (ketiga dari kanan), Direktur Radio Republik Indonesia Ibu Niken Widiastuti (kedua dari kanan) dan Kepala Komunikasi Bapak Michael Klaus (paling kanan) dengan Penasihat Khusus UNICEF bapak Purwanta Iskandar dan anggota Pramuka pada penandatanganan Perjanjian Kerja Sama 26 November 2015. (© UNICEF Indonesia/2015/Santoso)

JAKARTA, Indonesia, 26 November 2015 – Kesibukan tampak di Kwartir Nasional Gerakan Pramuka menjelang acara yang sudah lama dinantikan: Penandatanganan perjanjian kerja sama antara Pramuka dan UNICEF Indonesia.

Perjanjian Kerja Sama (MOU), yang ditandatangani oleh Ketua Pramuka Adhyaksa Dault dan Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Gunilla Olsson pada 26 November 2015 itu membuka jalan bagi kerja sama untuk memperkuat implementasi hak-hak anak di Indonesia.

Bapak Adhyaksa mengatakan ia antusias dengan kemitraan ini. “Pramuka akan menggunakan kerja sama dengan UNICEF untuk mendorong perlindungan terhadap anak serta hak mereka untuk berekspresi.”


Perjanjian kerja sama ini akan menjadi dasar kolaborasi dalam sejumlah program termasuk Perlindungan Anak, WASH dan U-Report (© UNICEF Indonesia/2015/Santoso)

“Kami ingin bekerja sama dengan Pramuka dalam bidang seperti gaya hidup sehat, perlindungan anak, sanitasi dan kebersihan, yang merupakan prioritas dalam program nasional baru kami mulai 2016,” kata Ibu Gunilla pada acara itu.

Platform untuk partisipasi anak muda U-Report akan menjadi payung untuk melibatkan anggota Pramuka dalam topik-topik tersebut dan isu yang penting bagi anak-anak dan orang muda di Indonesia.

U-Report Indonesia ada di Twitter dan sudah memiliki lebih dari 40,000 pengikut aktif. “Memfasilitasi keterlibatan anak-anak dan orang muda dalam pembangunan negara merupakan prioritas bagi UNICEF,” kata Ibu Gunilla. “U-Report memberi mereka peluang untuk menjadikan suara mereka terdengar. Bersama dengan Pramuka kami berharap dapat meningkatkan jumlah U-Reporter secara masif.”

Sejumlah fakta tentang U-Report Indonesia (https://twitter.com/UReport_id):

  • U-Report adalah platform komunikasi berbasis Twitter yang memungkinkan UNICEF dan Pramuka untuk menjangkau mereka yang sudah mendaftar sebagai U-Reporter dan memberi mereka pertanyaan, misalnya tentang kualitas sekolah mereka atau puskesmas setempat. 
  • UNICEF mengembangkan platform ini di Uganda dan negara-negara Afrika lainnya, dan sekarang sudah ada 16 negara yang menerapkan U-Report. 
  • Dalam sebagian besar kasus hal ini dilakukan bersama dengan organisasi kepanduan setempat.

Acara penandatanganan tersebut diikuti dengan dialog live yang disiarkan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) dengan pembicara Bapak Adhyaksa, Penasihat Khusus UNICEF Purwanta Iskandar dan Rosalita Niken Widiastuti, Direktur RRI.

“UNICEF yakin bahwa sebagai organisasi pemuda terbesar di Indonesia, Pramuka akan menjadi mitra yang luar biasa. Saya berharap bahwa bersama kita bisa meningkatkan kesadaran dan memperkuat pemahaman masyarakat akan beragam topik seperti pentingnya pendidikan anak usia dini,” kata Bapak Purwanta.

Ibu Niken menggarisbawahi peran media untuk membantu masyarakat mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang hak-hak anak.

“Media massa berperan penting dalam mendukung upaya perlindungan anak dan Radio Republik Indonesia siap membantu menyebarkan pesan serta informasi kepada publik melalui program-program kami,” kata Ibu Niken.

“Ada banyak masalah seperti kekerasan terhadap anak atau penyalahgunaan narkoba di kalangan anak muda, hal-hal itu sangat membuat kami khawatir. Perjanjian kerja sama ini menjadi jembatan hati antara Pramuka dan UNICEF untuk membantu mengatasi masalah-masalah ini,” kata Bapak Adhyaksa.

U-Report Indonesia: Jumlah Pengguna Terus Meningkat

U-Report Indonesia: Jumlah Pengguna Terus Meningkat

Oleh Vania Santoso – Innovation Lab Youth Engagement Officer
 
Ribuan siswa SMA menggunakan Twitter. ©UNICEF Indonesia/2015/Vania Santoso

"Siapa yang punya Twitter di sini? Ayo, angkat tangannya ke atas! "tanya pembawa acara saat sesi U-Report pada Bedah Kampus Universitas Indonesia Ke-16 (BKUI16). Hampir semua peserta mengangkat tangan mereka. Tidak mengherankan, karena Indonesia merupakan salah satu negara dengan angka pengguna Twitter tertinggi di dunia.

BKUI16 adalah acara open house selama dua hari bagi para siswa SMA untuk mengenal lebih banyak tentang Universitas Indonesia (UI). Lebih dari 16.000 siswa ikut serta dalam acara tersebut. Pengalaman-pengalaman bagi siswa meliputi Road Show ke Fakultas-Fakultas, transportasi umum UI yang terkenal, yaitu BiKun (Bis Kuning), dan Sesi Pleno dengan tokoh-tokoh seperti jurnalis ternama Najwa Shihab, ekonom dan politisi Faisal Basri, serta artis penyanyi Vadi Akbar.

Selama sesi khusus ini, para peserta belajar tentang U-Report Indonesia. U-Report merupakan sarana untuk mengirimkan pesan sosial yang dikembangkan oleh UNICEF, sehingga anak-anak muda dapat menyampaikan hak-hak anak dan isu-isu lainnya yang menjadi perhatian mereka. Informasi ini kemudian digunakan untuk melibatkan pemerintah dan mitra-mitra lainnya untuk melakukan perubahan praktis yang positif.  


U-Report pertama kali diluncurkan di Uganda oleh UNICEF dan sekarang sedang dilaksanakan di 17 negara di seluruh dunia. Indonesia merupakan negara pertama yang menerapkan U-Report di Twitter dengan nama UReport_ID. Kini terdapat lebih dari 40.000 UReporter di Indonesia. Para UReporter secara rutin mendapat pertanyaan tentang berbagai topik, mulai dari bullying, perubahan iklim, sampai perkawinan anak. Hasil jawaban dikumpulkan dan dianalisis untuk kemudian digunakan, seperti pada Pertemuan Nasional AIDS V dan penyusunan Strategi Nasional Pencegahan Kekerasan terhadap Anak 2015-2019.

Pembawa Acara  meminta semua peserta untuk mengeluarkan ponsel mereka, membuka Twitter dan langsung mengikuti akun U-Report Indonesia. UReporter yang telah menyelesaikan alur registrasi di BKUI16 secara lengkap selanjutnya menerima kartu pos, stiker dan gelang baik dari U-Report maupun UNICEF Indonesia.

Para peserta mendaftar sebagai U-Reporter. ©UNICEF Indonesia/2015/Vania Santoso.

Selain itu, juga terdapat bazaar BKUI16, dimana UNICEF Indonesia mempromosikan U-Report. UNICEF juga memberikan tantangan khusus kepada para siswa untuk memenangkan lebih banyak barang U-Report dengan mempromosikan platform tersebut.

Para UReporter secara kreatif mengirim Tweets tentang U-Report, mulai dari menyebutkan akun Twitter teman mereka, mengirimkan gambar-gambar dari poster dan kartu pos U-Report, dan melakukan foto selfie.

Penerimaan yang hangat terhadap platform U-Report ini merupakan sinyal positif. Kini giliranmu untuk menjadi U-Reporter dengan mengikuti @UReport_ID atau mengunjungi http://indonesia.ureport.in.


"Apakah kamu anak muda Indonesia? Suarakan pendapatmu melalui @UReport_ID dari UNICEF:)" *dikutip dari akun Twitter Rahmatul Hayati selama BKUI16*


U-Reporter Angkat Suara Untuk Kekerasan Terhadap Anak

U-Reporter Angkat Suara Untuk Kekerasan Terhadap Anak

Awis Mranani, UNICEF Indonesia Innovation Lab

Jutaan anak muda Indonesia adalah korban kekerasan. ©UNICEF Indonesia/2014

Hasil telah diterima. UNICEF baru saja menyelesaikan survei besar pertamanya menggunakan sistem pengumpulan suara U-Report Indonesia. Anak muda dari seluruh penjuru Indonesia menyampaikan pandangan mereka terhadap topik yang masih dianggap tabu, yaitu kekerasan terhadap anak.

Lebih dari 4,000 peserta, atau U-Reporter, berpartisipasi dalam survei berbasis Twitter ini. Pertanyaan yang dilayangkan terfokus pada strategi terdahulu pemerintah dalam menanggapi masalah kekerasan terhadap anak. Penemuan survei ini akan dipakai sebagai bahan masukan bagi pembaharuan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanganan Kekerasan terhadap Anak (RAN PPKTA) untuk tahun 2015-2019.

Jawaban yang diberikan oleh pemuda Indonesia sangat penting. Mereka menegaskan bahwa pemerintah perlu menjalankan program-programnya secara lebih strategis lagi untuk menjaga keamanan anak-anak dari kekerasan. Hal ini bisa dilaksanakan melalui peningkatan kesadaran publik, kegiatan mendidik (terutama terkait undang-undang dan kebijakan) dan keterlibatan komunitas dalam topic terkait, terutama dari anak muda.

Secara kuantitatif, survei menyimpulkan bahwa selama tiga tahun terakhir, kebanyakan anak muda berumur 13-24 tahun yang telah menjadi korban kekerasan tidak menerima bimbingan terkait kekerasan dan 15 persen dari mereka tidak tahu kemana harus melaporkan kekerasan yang mereka saksikan atau alami sendiri.


Hasil-hasil ini telah dibagikan kepada Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP-PA). Dalam acara Lokakarya Nasional Untuk Kekerasan Terhadap Anak di Bogor, Dr. Ir. Pribudiarta Nur Sitepu, Wakil Perlindungan Anak KPP-PA, menegaskan bagaimana “[U-Report Indonesia] membuktikan bahwa pendekatan media sosial sangat penting untuk meningkatkan partisipasi anak dan pemuda.”

Kunci informasi dari survei tersebut juga dibagikan kepada 17 lembaga pemerintah, termasuk Bappenas, Kementerian Sosial and Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta 19 lembaga non-pemerintah.


Respon dari U-Reporter terkait kekerasan terhadap anak. ©UNICEF Indonesia/2015


Konsultan Perlindungan Anak UNICEF Indonesia, Ryan Febrianto mengatakan bahwa hasil survei ini menunjukkan bagaimana U-Reporter adalah agen perubahan. “Ide dan opini U-Reporter berpengaruh secara langsung terhadap kebijakan nasional.”

“Hasil survei U-Report Indonesia juga membuktikan bahwa anak muda bukan hanya sebagai penerima layanan yang pasif, tapi juga mau menjadi peserta aktif dalam mengembangkan Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanganan Kekerasan terhadap Anak (RAN PPKTA) yang baru untuk 2015-2019,” ujar Ryan.

Mewadahi anak muda Indonesia untuk berkontribusi langsung dalam isu-isu pokok perkembangan seperti kekerasan terhadap anak sangat penting untuk meningkatkan kerja sama sipil dan warga negara. U-Report akan terus memberdayakan anak muda dengan mengangkat suara mereka. Masukan dari U-Reporter membawa perubahan bagi Indonesia dan dunia.

Jadilah U-Reporter: follow @UReport_id


Kisah U-Report Indonesia sejauh ini

Kisah U-Report Indonesia sejauh ini

– Nick Baker, Communications and Knowledge Management Officer –

Kampanye Give Voice to the Voiceless telah meningkatkan minat pada U-Report Indonesia
©UNICEF Indonesia/2015

Bagaimana seandainya jika kita bisa bertanya kepada 67 juta orang muda tentang apa yang penting bagi mereka? UNICEF Indonesia tertarik untuk mencari tahu.

Pada tahun 2014, UNICEF Indonesia merintis U-Report Indonesia, sebuah platform baru untuk mendorong 67 juta pemuda di negara ini untuk membuat suara mereka terdengar pada isu-isu utama pembangunan.

U-Report Indonesia adalah sistem polling berbasis Twitter yang bertanya kepada orang-orang muda tentang berbagai topik penting, mulai dari pendidikan, gizi, pernikahan anak, hingga bullying.

Tanggapan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian dianalisa oleh UNICEF Indonesia. Informasi ini kemudian akan diteruskan kepada pemerintah, mitra pembangunan dan masyarakat sipil sebagai cara membina partisipasi remaja dan pemuda.



Anak-anak, remaja dan pemuda adalah inti dari kinerja UNICEF, sehingga perspektif mereka sangat penting untuk menciptakan tindakan yang berarti. Selama fase percontohan, U-Report Indonesia telah mengirim berbagai pertanyaan termasuk:

• "Apakah kamu pernah mengalami atau melihat diskriminasi terhadap perempuan?"
• "Bagaimana kekerasan terhadap anak-anak di rumah bisa dihentikan?"
• "Apa yang harus menjadi prioritas nomor satu bagi anak-anak untuk presiden yang baru?"

U-Report Indonesia mengumpulkan pendapat para remaja dan pemuda Indonesia.
©UNICEF Indonesia/2015

U-Report pertama kali dikembangkan dan digunakan oleh Tim Inovasi UNICEF di Uganda dalam bentuk layanan SMS. Hingga saat ini, lebih dari 250.000 anak muda Uganda telah terdaftar pada jaringan U-Report Uganda. Kini U-Report telah berkembang pesat dan baru-baru ini mulai melibatkan pemuda di Liberia, Nigeria, dan Meksiko.

Apa yang membedakan U-Report Indonesia dari program U-Report lain adalah bahwa UNICEF Indonesia adalah yang pertama dalam memanfaatkan media sosial - khususnya Twitter - sebagai saluran utama untuk mengirim dan menerima pesan.

Karena Indonesia memiliki hampir 30 juta pengguna Twitter, media sosial adalah platform yang ideal untuk melibatkan orang-orang muda dalam diskusi nasional dan subnasional tentang isu-isu yang dihadapi anak-anak dan remaja.

Menyebarkan informasi tentang U-Report Indonesia di Indonesian Youth Conference 2014.
©UNICEF Indonesia/2015 

Untuk menumbuhkan basis U-Reporter Indonesia dan memperkeras suara advokasi pemuda pada isu-isu anak, UNICEF Indonesia telah mulai mempromosikan U-Report Indonesia di berbagai acara, termasuk pada Konferensi Pemuda Indonesia (IYC) di November 2014.

Pada IYC 2014, peserta memilih organisasi atau proyek yang mereka ingin dengar lebih lanjut saat sesi diskusi terbuka, dan U-Report Indonesia mendapatkan peringkat tertinggi.

UNICEF Indonesia memulai tahun 2015 dengan meluncurkan kampanye Give Voice to the Voiceless, dalam upaya untuk meningkatkan keanggotaan U-Report Indonesia.

Untuk bergabung dengan U-Report Indonesia dan membantu menciptakan perubahan positif, follow akun twitter @UReport_id.


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia