Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label NTT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NTT. Tampilkan semua postingan
Sang Ahli Cold Chain Vaksin dari NTT

Sang Ahli Cold Chain Vaksin dari NTT

Oleh Ermi Ndoen, EPI Officer

Ariel saat memberikan presentasi pada lokakarya dan pelatihan cold chain NTT, diselenggarakan dengan dukungan UNICEF ©Ermi Ndoen/UNICEF/2017

Kupang: Hari itu, seperti biasa, Johanis Rihi Leo atau dikenal dengan nama sapaan “Ariel”, tengah bergegas.

“Ada tiga lemari pendingin vaksin yang harus segera diperbaiki,” kata Ariel sebelum meninggalkan Ende di Flores menuju Kefamenanu di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), wilayah berbukit di bagian timur Pulau Timor yang berjarak ratusan kilometer dari Ende.

Ariel mengawasi kondisi cold chain vaksin untuk
Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memastikan bahwa vaksin yang dikirim ke Puskesmas tetap berada dalam suhu yang tepat sejak dari titik produksi hingga siap digunakan. Upaya ini tidak mudah dilakukan di negara tropis; suhu hangat membuat lemari es harus dinyalakan terus menerus. Akibatnya, ada biaya-biaya cukup tinggi yang harus dikerahkan.

Meski begitu, vaksin harus dijaga tetap dingin, yaitu pada suhu antara 2-8° C karena suhu yang lebih hangat justru dapat merusak vaksin. Tugas Ariel di sini adalah memastikan vaksin disimpan dalam suhu yang seharusnya setelah tiba di unit-unit Puskesmas.

“Sayangnya, sering terjadi lemari pendingn vaksin rusak dan tidak ada yang bisa membetulkan,” kata Ariel. “Kadang-kadang, kerusakannya kecil, misalnya kabel yang terputus karena digigit tikus. Tapi, sering juga saya menemui kasus kerusakan yang butuh biaya besar.”

Menurut Ariel, “Untuk satu unit saja biayanya setara dengan Toyota Innova baru!”

Di Indonesia, sekitar dua hingga tiga juta kematian berhasil dicegah setiap tahun melalu pemberian vaksin DPT—Difteri, Pertusis, dan Tetanus—dan campak. Memastikan vaksin berada pada suhu yang tepat menjadi perhatian penting UNICEF Indonesia. Untuk itu, UNICEF bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mengetahui kelemahan di sepanjang cold chain, kemudian memberikan keahlian dan saran untuk mengatasinya.

“Sedih rasanya setiap kali melihat lemari es yang rusak sama sekali. Terbayang anak-anak yang kemungkinan menerima vaksin yang sudah tidak bekerja. Padahal, dengan perawatan yang benar, usia lemari es bisa cukup panjang,” Ariel menerangkan.

Kegiatannya sebagai teknisi cold chain dimulai pada tahun 2011. Saat itu, ia diundang sebagai peserta pelatihan se-provinsi untuk perbaikan dan perawatan lemari es vaksin yang diadakan UNICEF.

“Saya datang karena tertarik pada topik acara. Tapi, dari dulu pun sudah hobi mereparasi barang,” kata Ariel.

Dari semua peserta yang hadir, hanya sedikit yang kemudian berhasil mengumpulkan pengalaman kerja yang cukup sebagai teknisi dan menjadi pelatih.

 “Beberapa teman saya ikut dalam pelatihan, tapi cuma saya yang meneruskan. Sekarang, sudah puluhan lemari es vaksin yang saya tangani. Barangkali, sudah menghemat miliaran rupiah [dana pemerintah] melalui reparasi.”

Ariel pun pernah diminta mengevaluasi dan memperbaiki unit-unit dalam cold chain di tempat lain yang cukup jauh, bahkan hingga ke Sumba, Flores, dan seluruh Kupang di Pulau Timor.

Ariel bertekad untuk terus giat bekerja memastikan keampuhan vaksin untuk melindungi anak-anak dari penyakit.

“Saya prihatin kalau anak-anak sampai tidak bisa menerima vaksin aman karena ada kerusakan di cold chain.”

“Dengan membantu teman-teman memperbaiki mutu cold chain, berarti saya juga ikut memastikan masa depan yang lebih cerah untuk semua anak di NTT,” tutup Ariel.

Inilah sosok yang dibutuhkan anak-anak NTT. Maju terus Ariel! 

©Ermi Ndoen/UNICEF/2017


Kecamatan Pertama Yang Meraih Status Deklarasi Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) di Sumba Timur

Kecamatan Pertama Yang Meraih Status Deklarasi Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) di Sumba Timur

Oleh Ita, Fasilitator WASH Kabupaten Sumba Timur

Perwakilan 49 Marga di Kecamatan KAHALI  melakukan Sumpah Adat untuk mempertahankan status SBS.

Katala Hamu Lingu (KAHALI) adalah salah satu dari 22 kecamatan di Sumba Timur yang menjalankan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), dan juga kecamatan pertama yang meraih status SBS di Sumba Timur, NTT.

Pada acara deklarasi SBS tersebut, Bapak Thomas Peka Rihi selaku Camat KAHALI mengatakan bahwa “Program Stop Buang Air Besar Sembarangan merupakan kegiatan yang positif dalam mendukung Program Kecamatan KAHALI Berhias, yang menitikberatkan pada keindahan dan kebersihan. Deklarasi yang akan diwarnai sumpah adat ini merupakan janji yang sakral dari masyarakat KAHALI untuk tetap mempertahankan statusnya sebagai Kecamatan bebas buang air besar sembarangan."


Bapak Thomas Peka Rihi selaku Camat KAHALI menyampaikan sambutannya.
Pada acara yang sama, Sekretaris Bappeda Kabupaten Sumba Timur mengatakan bahwa “untuk mendukung pencapaian 100 % Air Minum, 0 % Pemukiman Kumuh dan 100 % Sanitasi pada akhir tahun 2019, maka Kecamatan KAHALI patut diberi apresiasi sebagai pendorong upaya pencapaian sanitasi 100% di Kabupaten Sumba Timur, dan merupakan kecamatan pertama di Kabupaten Sumba Timur yang melakukan Deklarasi Kecamatan SBS."

Kepala Perwakilan UNICEF Kupang dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh direktur Yayasan Pahadang Manjoru, Ishak Sitaniapessy, mengucapkan selamat kepada masyarakat KAHALI atas keberhasilannya meraih status SBS, serta mengingatkan bahwa menggunakan jamban untuk buang hajat, mencuci tangan pakai sabun di saat-saat penting dan mengolah air sebelum diminum adalah hal-hal kecil yang mempunyai dampak yang besar terhadap status kesehatan dan gizi serta kualitas pembelajaran anak di sekolah.

Ishak Sitaniapessy membacakan sambutan tertulis Perwakilan UNICEF Kupang.

Deklarasi Kecamatan KAHALI sebagai Kecamatan SBS dilakukan dengan menggunakan pendekatan adat, dimana perwakilan dari 49 Marga  yang ada di Kecamatan KAHALI melakukan “sumpah adat” untuk mempertahankan status SBS dan meningkatkan perilaku hidup bersih lainnya. Sumpah adat ini ditandai dengan pemotongan hewan sebagai tanda bahwa sumpah ini disaksikan oleh arwah para leluhur.

Keberhasilan Kecamatan KAHALI  meraih status SBS dalam waktu 6 bulan setelah pemicuan STBM adalah berkat inovasi dari Camat KAHALI yang menerapkan pendekatan adat dalam pelaksanaan STBM, kualitas pemicuan yang memadai dari sanitarian, serta dukungan dan partisipasi stakeholder lainnya seperti para Kepala Desa, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tua Adat, BABINSA dan PKK yang menjadi bagian dari Tim STBM Desa dan Kecamatan.

Camat KAHALI dan 5 kepala desa yang berhasil meraih predikat SBS diundang ke Hari Kesehatan Nasional yang diselenggarakan di Kabupaten pada tanggal 22 November 2015 untuk menerima penghargaan dari Pemerintah Sumba Timur.

Pelaksanaan program STBM di Kabupaten Sumba Timur merupakan kerjasama Pemerintah, UNICEF, Yayasan Pahadang Manjoru dan Sinode GKS dan menjangkau 22 kecamatan dan 165 desa yang ada di Kabupaten Sumba Timur.

Demikian dan semoga seluruh Desa dan Kecamatan di Sumba Timur segera menyusul meraih predikat Desa atau Kecamatan SBS bahkan STBM



Membangun Toilet, Menyelamatkan Kehidupan

Membangun Toilet, Menyelamatkan Kehidupan

Oleh Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

Masa Depan Vikensa Hamakonda sedikit lebih cerah. ©UNICEF Indonesia/2015/NickBaker

Vikensa Hamakonda, anak usia sepuluh bulan melihat tambahan ruangan baru untuk rumah keluarganya dengan penuh keingintahuan. Tambahan ruangan baru tersebut adalah toilet di luar rumah yang dibuat dari bambu dan seng. Akan tetapi, bangunan sederhana ini mungkin akan dapat menyelamatkan hidup Vikensa.

Di Pulau Sumba (NTT), buang air besar sembarangan merupakan praktek yang telah diterima oleh  sebagian besar orang. Banyak orang tidak mengetahui bahwa buang air besar sembarangan membahayakan kehidupan anak-anak di Indonesia.

Patogen dari kotoran di tempat terbuka dapat dengan mudah masuk ke rantai makanan dan air konsumsi masyarakat. Hal ini akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, yang secara khusus mempengaruhi anak-anak.

Di Sumba, ada banyak cerita tentang anak-anak yang meninggal karena diare – yang mungkin disebabkan oleh sanitasi buruk. Buruknya sanitasi juga berdampak pada pertumbuhan anak-anak karena terkait dengan tingginya angka gizi kurang.

UNICEF mendukung sejumlah program untuk mengakhiri buang air besar sembarangan di Sumba. Salah satu program tersebut adalah membantu petugas kesehatan setempat untuk mengadakan "sesi pemicuan". Sesi pemicu merupakan sebuah proses merubah perilaku sanitasi dan hygiene masyarakat di setiap desa. Sesi tersebut melibatkan demonstrasi dramatis tentang bagaimana kotoran di tempat terbuka dapat menyebabkan anak sakit.

Belakangan ini, sesi pemicu diadakan di desa Vikensa. Ayah Vikensa, Letu, mengikuti sesi tersebut. "Ini merupakan pengalaman yang sangat luar biasa," katanya." Saya belajar bagaimana kuman dari kotoran dari luar rumah bisa hinggap di makanan keluarga saya." Pesan terakhirnya sederhana: bangun dan gunakan toilet.

Program ini menimbulkan dampak berkelanjutan terhadap Letu. Sebelumnya, keluarga Letu buang air besar di area terbuka di belakang rumah mereka. Tetapi sekarang tidak lagi. Letu sudah membangun toilet. Dan banyak penduduk desa lainnya melakukan hal yang sama.

Ini berarti anak-anak seperti Vikensa akan terbantu dalam memperoleh awal kehidupan  yang terbaik bagi mereka.


Pemberian ASI yang lebih baik: solusi untuk masalah kekurangan gizi

Pemberian ASI yang lebih baik: solusi untuk masalah kekurangan gizi

Sonya memberikan konseling tentang menyusui kepada ibu baru. ©UNICEF Indonesia/2015/Harriet Torlesse

Kabupaten Kupang merupakan salah satu kabupaten yang mengalami krisis permasalahan kekurangan gizi di NTT.

Sonya Timuli, tiga puluh dua tahun, bekerja setiap hari di kabupaten dan menghadapi permasalahan ini. Ia telah menjadi kader posyandu di sebuah desa kecil di daerah ini selama tujuh tahun terakhir.

Para kader posyandu seperti Sonya melihat anak-anak yang tak terhitung jumlahnya yang mengalami kekurangan gizi. Survei terbaru yang dilakukan oleh UNICEF dan Action Contre La Faim menunjukkan bahwa 21 persen anak-anak di daerah ini mengalami kurang gizi akut (sangat kurus) dan 52 persen mengalami stunting (terlalu pendek untuk usia mereka).

Untuk mengatasi masalah ini, Sonya memberikan berbagai layanan gizi kepada masyarakat  di desanya. Salah satu bagian terpenting dari pekerjaannya adalah memberikan bimbingan dan konseling kepada ibu-ibu baru tentang berbagai praktek pemberian ASI yang tepat.


Menyusui merupakan fondasi terbaik bagi gizi seorang anak. ASI melindungi bayi terhadap penyakit dan membantu mereka tumbuh kembang secara optimum. Oleh karenanya, para ibu baru dianjurkan untuk memberikan ASI secara eksklusif selama enam bulan pertama dan terus memberikan ASI setidaknya sampai anak usia dua tahun dengan makanan pendamping ASI.

"Banyak ibu tahu bahwa mereka sebaiknya memberikan  ASI eksklusif selama enam bulan, tetapi kebanyakan dari mereka memperkenalkan makanan lain ketika anak berusia empat atau lima bulan," kata Sonya. "Beberapa ibu mengatakan bahwa ASI saja tidak cukup untuk tumbuh kembang bayi. Beberapa ibu merasa tertekan oleh anggota keluarga lainnya untuk memberikan makanan kepada bayi mereka."

Sonya memperoleh informasi yang tidak tepat dan memiliki pemahaman yang keliru tentang ASI. Untuk anak pertamanya, ia memberikan ASI eksklusif hanya selama satu bulan dan berhenti memberikan ASI kepada anaknya pada usia 11 bulan. Tetapi untuk anak terakhirnya, ia memberikan ASI eksklusif selama enam bulan dan terus memberikan ASI selama tiga tahun.

Sonya mengatakan bahwa ia melihat perbedaan nyata terhadap perkembangan dua anak tersebut. "Anak laki-laki sulung saya seringkali lambat dan melupakan hal-hal dengan mudah. Tetapi anak perempuan bungsu saya berbeda. Ia belajar dengan cepat dan mudah mengingat hal-hal dengan sangat baik ".

Cerita-cerita seperti ini sangat umum di daerah tersebut. Kekurangan gizi pada awal kehidupan menyebabkan perkembangan kognitif yang buruk pada kehidupan yang akan datang. Anak-anak ini menunjukkan prestasi yang kurang baik di sekolah dan menjadi kurang produktif saat mereka dewasa.

UNICEF dan Action Contre La Faim saat ini memfasilitasi program pelatihan bagi Sonya dan kader-kader di daerah tersebut. Pelatihan ini meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kompetensi mereka tentang pemberian ASI dan pemberian makanan pendamping ASI sehingga mereka akan mampu untuk mendukung ibu-ibu baru dalam memberikan makan bayi mereka secara tepat.

Mendukung ibu dengan ketrampilan yang tepat dapat memberikan solusi dalam mengatasi permasalahan kurang gizi yang sedang meningkat di NTT.

Inisiatif ini merupakan bagian dari program UNICEF yang lebih besar untuk mendukung pemerintah dalam menanggulangi dan mengatasi kekurangan gizi di seluruh Indonesia. 



Krisis Gizi Kurang di NTT

Krisis Gizi Kurang di NTT

Lukas menghadapi masa depan yang tidak pasti. ©RayendraThayeb/ACF

Lukas adalah anak usia dua tahun dari desa Oebola Dalam di NTT.  Anak ini berjuang untuk bermain, berjalan dan bahkan kadang-kadang berdiri. Lukas sangat lemah dan nampak kurus.

Seorang petugas kesehatan baru-baru ini mengukur lingkar lengan atas Lukas yang hanya 10,8 cm. Kenyataan ini menunjukkan bahwa ia menderita kekurangan gizi sangat kurus. Lukas sangat rentan terhadap penyakit dan bahkan kematian.

Ayah Lukas menjelaskan kondisi ekonomi keluarganya: "Kami hanya menanam dan menjual hasil dari kebun kami yang kecil. Dari hasil ini, kami memperoleh pendapatan kira-kira Rp 200.000 setiap bulan," katanya. "Oleh karena itu, saya hanya bisa memberikan makan dua kali sehari untuk keluarga saya."


Makanan sehari-hari keluarga ini adalah nasi atau mie dengan sedikit sayuran. Keluarga ini hanya bisa makan ikan atau makanan lainnya yang kaya akan protein dua kali sebulan. Pola makan yang buruk seperti ini, yang jauh dari menu seimbang, menyebabkan anak menderita kekurangan gizi.

Lukas seharusnya mendapatkan perhatian khusus dari petugas kesehatan setempat pada waktu yang lalu. Tetapi sayangnya, keluarga tersebut tidak mampu membawanya ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu). Ayahnya harus mencurahkan segala perhatiannya pada urusan keluarga dan ibunya saat ini bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Malaysia. Sementara itu, kondisi Lukas semakin memburuk.

Ada banyak anak seperti Lukas di NTT. Lebih dari 15 persen anak di daerah ini menderita kekurangan gizi, kurus dan sangat kurus, sementara 51% mengalami stunting (artinya mereka memiliki tubuh terlalu pendek untuk usia mereka).

Provinsi NTT sedang menghadapi krisis kekurangan gizi. Kondisi ini akan menjadi lebih buruk karena kekeringan akibat badai El Nino di daerah tersebut. Penurunan panen akan meningkatkan harga pangan, dan kekurangan air akan meningkatkan resiko diare, penyebab lain dari terjadinya kekurangan gizi.

Kurangnya kesadaran tentang gizi yang tepat di antara anggota masyarakat mempersulit situasi ini. Hanya sedikit keluarga yang memahami cara terbaik untuk memberi makan anak-anak mereka dengan makanan bergizi yang tersedia secara lokal dan dalam sarana ekonomi mereka.

Banyak keluarga tidak mengakui gizi kurang akut parah sebagai darurat medis dan tidak mencari layanan ketika anak-anak mereka sangat kurus.

Situasi ini menyebabkan ribuan anak beresiko. Anak-anak yang menderita gizi kurang pada awal kehidupan cenderung menunjukkan prestasi yang buruk di sekolah karena gangguan kemampuan belajar dan kurang produktif sebagai orang dewasa karena gangguan pertumbuhan fisik dan perkembangan motorik. Dan dalam kasus-kasus serius, dapat timbul penyakit dan terjadi kematian.

UNICEF bekerja sama melalui kemitraan dengan Action Contre La Faim untuk menangani krisis ini. Kami mendukung Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah untuk memberikan layanan guna mengidentifikasi anak-anak yang menderita kekurangan gizi sangat kurus dan merawat mereka secara tepat.

UNICEF juga meningkatkan kapasitas petugas kesehatan dan kader untuk memberikan konseling kepada para ibu tentang menyusui dan makanan pendamping ASI sehingga kemungkinan anak-anak mereka untuk mengalami kekurangan gizi menjadi lebih kecil.

Ayah Lukas berharap bahwa suatu hari ia akan dapat mengubah keadaan mereka. Ia ingin dapat memberi makan anak-anaknya secara layak dan memberikan kesempatan hidup yang terbaik bagi mereka.



Sanitasi di Sumba – membaik hari demi hari

Sanitasi di Sumba – membaik hari demi hari

- Nick Baker, Communications and Knowledge Management Officer

Sanitarian Dangga Mesa menghadiri sebuah rapat desa di Sumba Barat Daya.
©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Ini adalah pagi yang luar biasa sibuk di desa Matapywu di pulau Sumba (NTT). Semua kepala keluarga telah diajak berkumpul untuk sebuah pertemuan penting. Kursi-kursi diduduki, kopi disajikan, dan topik pertemuan pun diumumkan: toilet.

Pertemuan tentang topik yang tidak biasa ini sekarang cukup umum di sekitar pulau tersebut. Matapywu hanyalah satu dari banyak desa yang baru-baru ini menjalani sesi pemicuan yang didukung oleh UNICEF. Lokakarya ini bertujuan untuk mengakhiri praktik buang air besar sembarangan.

Sekarang adalah saatnya untuk mengecek perkembangan. Seorang sanitarian, Dangga Mesa, membahas kemajuan sejak ia mengadakan sesi pemicuan beberapa bulan yang lalu. Dangga tampak senang dengan hasilnya.


Para perwakilan desa memberitahu Dangga bagaimana mereka merasa "malu" dan "jijik" ketika mempelajari betapa mudahnya bakteri dari tinja dapat memasuki rantai makanan. Sejak saat itu, semakin banyak penduduk desa yang telah atau sedang membangun toilet pertama mereka.

Dangga mengatakan bahwa buang air besar sembarangan (BABS) merupakan isu penting bagi anak-anak Matapywu dan di seluruh negeri. "Diare adalah penyakit yang sangat serius di kalangan anak-anak di bawah usia lima tahun," katanya. "Sanitasi yang buruk merupakan salah satu penyebab utama diare sehingga kita harus serius menangani hal itu."

"Saya sangat senang karena jumlah orang yang memiliki toilet telah meningkat," kata Dangga. "Tujuan kami berikutnya adalah agar desa ini menjadi 100 persen bebas dari BABS.”


Terutama anak-anak

Kepala desa Soleman Bili Ngongo memimpin rapat desa tentang BABS.
©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Soleman Bili Ngongo adalah kepala desa Matapywu. Dia tidak mengetahui tentang hubungan BABS dengan masalah kesehatan sebelum sesi pemicuan. Kini itu adalah salah satu prioritas utamanya.

Desa Soleman memiliki 3.237 penduduk. "Sebelumnya, sebagian besar dari mereka buang air besar di mana saja. Kotoran lalu mengkontaminasi makanan dan air kami," kata Soleman.

Hal ini cukup biasa di Indonesia. Bahkan, di negara ini lebih dari 54 juta orang buang air besar di tempat terbuka. Itu adalah jumlah tertinggi kedua di dunia, setelah India.

Tapi dengan bantuan UNICEF, semua ini mulai berubah di Matapywu. "Sesi pemicuan sangat sukses," kata Soleman. "Setelah hanya beberapa minggu, keluarga-keluarga mulai membangun kakus."

UNICEF akan terus membantu Soleman dan kepala desa lain di sekitar Sumba untuk memantau BABS dan mengatasi tantangan-tantangan yang akan timbul.

Soleman ingin semua 3.237 warga desa untuk menjadi sehat dan memiliki kesempatan terbaik di kehidupan, terutama anak-anak.


Masa depan yang lebih aman

Adventin, 3, akan tumbuh besar dengan akses kepada toilet.
©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Lucia Dada Kaka adalah salah satu dari banyak ibu di Sumba yang menjadi khawatir tentang kesejahteraan keluarganya setelah menghadiri sesi pemicuan.

"Sebelum lokakarya, kami buang air besar di lapangan dekat rumah, atau kadang-kadang di malam hari persis di luar rumah kami," katanya. "Tapi kemudian kami belajar tentang masalah-masalah yang terkait dengan BABS."

Kesehatan Adventin, putrinya yang berusia tiga tahun, adalah suatu motivator besar untuk membangun toilet baru. Saat ini toilet tersebut hampir diselesaikan oleh suaminya.

"Kami melakukannya untuk anak-anak kami. Kami ingin mereka terlindungi dari masalah kesehatan," kata Lucia.


“Kelambu nyamuk menyelamatkan hidup saya”

“Kelambu nyamuk menyelamatkan hidup saya”

By Ermi Ndoen - Health (Malaria/EPID) Officer

 Pulau Sumba, Oktober 2014 – Martinus Lende Walu (48) merasa dirinya sangat beruntung. Ia hampir kehilangan nyawa akibat malaria seperti dua orang tetangganya, namun hanya ia yang selamat. Sejak saat itu, ia menjadi lebih berhati-hati dan selalu melindungi dirinya dengan menggunakan kelambu nyamuk berinsektisida.

Desa asalnya, Kampung Langgar, adalah salah satu desa adat di Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Di desa ini, sekitar 200 orang tinggal bersama di 13 rumah adat di sekeliling kuburan-kuburan megalitik. Masing-masing kuburan dimiliki oleh sekelompok keluarga.

Pulau Sumba sering dikunjungi wisatawan karena rumah adat, kuburan megalitik, kain ikat, pasola (kompetisi tombak dan kuda tradisional), serta pantainya yang indah. Namun semua ini dibayangi oleh tingginya tingkat malaria di pulau tersebut. 

Kami mengunjungi desa Martinus pada awal bulan Oktober 2014 untuk memantau kampanye distribusi kelambu berinsektisida di Kabupaten Sumba Barat Daya. Martinus menyambut kami dengan hangat, dan bercerita tentang kelambu nyamuk yang ia terima sekitar satu minggu yang lalu.

“Saya menerima 2 kelambu nyamuk dari kepala desa saat pembagian.”

Kelambu-kelambu tersebut bukan yang pertama dimilikinya. Ia sudah memiliki dua di rumahnya.

“Saya sudah menggunakan dua kelambu, dan dua kelambu tambahan ini akan saya pakai untuk dua tempat tidur yang lain. Kami menerima kelambu berdasarkan jumlah tempat tidur yang kami miliki di rumah,” ucapnya. Satu kelambu bisa digunakan untuk melindungi dua anggota keluarga.

Martinus dan istrinya di depan rumah mereka, menunjukkan kelambu nyamuk yang diterima.
 © UNICEF Indonesia/2014/Ermi Ndoen

Martinus menceritakan mengapa kelambu nyamuk sangat penting baginya.

“Saya pernah jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit selama 3 hari. Meskipun saya selamat, dua orang tetangga saya tidak. Mereka meninggal akibat malaria. Begitu keluar dari rumah sakit, saya langsung membeli kelambu nyamuk untuk keluarga saya. Sampai hari ini masih kami pakai,” kisahnya.

Ia membayar Rp 160.000 untuk kedua kelambu tersebut, selain Rp 500.000 yang telah dikeluarkannya untuk biaya rumah sakit. Keluarga Martinus menemaninya selama di rumah sakit sehingga pemasukan mereka pun hilang pada hari-hari tersebut, menambah total kerugiannya.  

“Lebih baik beli kelambu daripada bayar biaya rumah sakit. Sekarang justru semakin baik karena kelambu nyamuk dari Pemerintah tidak dikenakan biaya,” ujarnya. “Kelambu nyamuk menyelamatkan hidup saya.”

Malaria merupakan masalah kesehatan yang serius di NTT. Provinsi ini berpenduduk 4.9 juta orang, atau 2 persen populasi Indonesia. Namun pada tahun 2013 sekitar 1/5 kasus malaria yang terdaftar di Indonesia (88.500 dari hampir 418.000 kasus) terjadi di NTT.

Sumba adalah salah satu pulau dengan kasus malaria tertinggi di NTT. Dari 693.000 populasi Sumba, lebih dari 25.000 orang terkena penyakit malaria pada tahun 2014. Tingkat kejadian tahunan di Sumba berkisar antara 25 hingga 75 per 1.000 penduduk.

Anak-anak dari Kampung Langgar dengan kelambu nyamuk berinsektisida mereka.
 © UNICEF Indonesia/2014/Ermi Ndoen

Untuk memerangi malaria di NTT, Departemen Kesehatan, dengan dukungan UNICEF dan The Global Fund to fight Malaria, HIV and Tuberculosis, mendistribusikan sekitar 1,6 juta kelambu nyamuk berinsektisida. Ini adalah salah satu kampanye distribusi terbesar yang pernah dialami daerah ini. Kampanye ini dijalankan bersamaan dengan upaya-upaya lainnya seperti peningkatan diagnosis dan perawatan malaria dini, serta pelibatan masyarakat untuk menyingkirkan sarang nyamuk.

Kampanye ini diluncurkan di seluruh 15 kabupaten NTT  pada tanggal 15 - 22 September 2014. Meskipun kampanye ini bisa dikatakan sukses, sebagaimana ditunjukkan oleh besarnya kerumunan warga di setiap titik distribusi, tidak kalah penting adalah kegiatan tindak lanjut oleh kader, pimpinan desa atau warga, dan staf Puskesmas untuk memastikan bahwa penerima kelambu akan menggunakannya. Penggunaan kelambu dengan benar akan melindungi warga dari malaria dan menurunkan penularan malaria.

Kunjungan ke Sumba ini membantu saya lebih memahami tentang kampanye ini dan bagaimana masyarakat menggunakan kelambu sehubungan dengan budaya, perilaku dan kondisi hidup setempat.

Dr Nafsiah Mboi, Menteri Kesehatan Indonesia pada saat itu, menekankan pesan berikut pada acara pra-peluncuran kampanye di Sikka:


"Pastikan Anda menggunakan kelambu dengan benar. Jangan digunakan sebagai jaring ikan. Jangan digunakan untuk pagar taman. Jangan dijual. Tapi gunakanlah untuk melindungi diri sendiri. Untuk melindungi buah hati tercinta. Untuk melindungi istri tercinta. Untuk melindungi kalian semua dari ancaman malaria. "

Sanitasi di Alor - menyebarkan pesan, memantau kemajuan

Sanitasi di Alor - menyebarkan pesan, memantau kemajuan

Sarah Grainger

Novianti, 7 tahun, bersama ibunya Amelia di atas pantai dekat rumah mereka.
© UNICEF Indonesia/2014/Sarah Grainger

FUNGAFENG, Provinsi NTT, Indonesia, April 2014 - Novianti Atafan, 7 tahun, adalah salah satu anak terakhir di desanya yang mendapatkan jamban di rumah. Dia tinggal di desa Fungafeng di pinggir pantai pulau Alor di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Keluarganya tinggal di sebuah rumah adat lopo yang terbuat dari bambu dan kayu dengan atap jerami.

Setiap pagi, Novianti dan ibu, ayah, kakek serta 5 kakaknya harus menuruni lereng di belakang rumahnya untuk buang air besar di dekat pantai.

Semua itu berubah ketika seorang sanitarian - petugas kesehatan lokal yang memiliki spesialisasi dalam sanitasi dan hygiene - mengunjungi desanya.


"Saya merasa malu tentang apa yang kami lakukan," ucap Amelia, ibunda Novianti. "Dan saya bisa melihat hubungan antara buang air di pantai dengan lalat yang mengkontaminasi makanan dan air kita."

Keluarga ini membangun jamban mereka sendiri beberapa meter dari rumah mereka, dan kini semua anggota keluarga menggunakannya.

"Sekarang kita tidak perlu membuang-buang waktu berjalan turun ke pantai setiap pagi," kata Amelia.

Pemicuan

Agnes Gale, seorang sanitarian dari Puskesmas setempat, ialah orang yang berhasil memacu keluarga Atafan untuk bertindak. Dia mengunjungi Fungafeng dan tiga desa lain untuk mencoba memicu warga untuk membangun dan menggunakan jamban, dan tidak buang air besar sembarangan (BABS).

Dia menunjukkan bagaimana tinja bisa mencemari air dan makanan. Dia juga menekankan kepada warga bahwa tetangga mereka bisa melihat ketika mereka buang air besar di tempat terbuka.

Sanitarian Agnes Gale mengunjungi Novianti dan Amelia di rumah adat lopo mereka.
© UNICEF Indonesia/2014/Sarah Grainger

"Dua elemen yang paling efektif dalam mengubah perilaku seseorang adalah rasa malu dan jijik," katanya.

Sebelum proses pemicuan, 90 dari 129 rumah tangga di Fungafeng memiliki jamban, dan masih ada orang yang buang air besar sembarangan. Kini penduduk mengklaim bahwa desa mereka telah bebas dari perilaku BABS. Namun beberapa orang masih sharing toilet dengan tetangga, dan ada juga yang memiliki jamban tanpa septic tank.

"Kami ingin mempromosikan peningkatan kualitas toilet yang dimiliki orang," ujar Agnes. "Tujuan kami adalah agar semua orang memiliki jamban sehat dan permanen. Jika satu orang saja kembali buang air besar di tempat terbuka, seluruh warga beresiko terkena kontaminasi."

Memantau Perkembangan

Indonesia mempunyai jumlah orang yang mempraktekkan BABS tertinggi kedua di dunia (setelah India), dan masalah ini paling akut di provinsi NTT.

Sanitasi yang buruk meningkatkan kasus penyakit diare. Tingkat diare adalah 66% lebih tinggi di antara anak-anak dari keluarga yang BABS, dibandingkan dengan rumah tangga yang memiliki toilet pribadi dan septic tank. Diare juga masih merupakan pembunuh utama anak-anak di Indonesia: Sekitar 31% kematian bayi dan 25% kematian anak-anak usia satu hingga lima tahun disebabkan oleh diare.

Bersama dengan Dinas Kesehatan, UNICEF melatih Agnes dan 9 sanitarian lainnya di Alor tentang cara penggunaan SMS untuk memantau desa-desa yang menjadi tanggung jawab mereka.

Agnes Gale mengirim laporan SMSnya dari Puskesmas
© UNICEF Indonesia/2014/Sarah Grainger

Setiap kali Agnes mengunjungi Fungafeng, ia mencatat jenis fasilitas sanitasi yang digunakan setiap rumah tangga. Ada empat kategori - buang air besar terbuka, jamban bersama, jamban semi permanen dan jamban permanen.

Dia mengirimkan informasi ini melalui SMS ke database pusat yang dipantau oleh petugas kesehatan kabupaten. Sistem ini jauh lebih cepat daripada metode sebelumnya di mana sanitarian mengirimkan laporan perkembangan di desa-desa mereka setiap tiga bulan.

"Sekarang kami mendapatkan data secara langsung dan bisa melihat seberapa efektif upaya sanitarian kami," kata Dominggus Prakameng, Kepala Kesehatan Lingkungan di kabupaten Alor. "Ini membantu kami dalam merencanakan alokasi sumber daya ke tempat-tempat di mana sanitasi masih menjadi masalah."

Para sanitarian juga lebih memilih sistem pelaporan SMS baru ini. "Lebih cepat dan lebih mudah. Kami tidak perlu mengisi formulir, cukup mengumpulkan informasi dan mengirimkannya, "kata Agnes.

Proses pemicuan dan pemantauan tampak memiliki efek pada kesehatan di Fungafeng. Dulu desa ini mengalami wabah diare setiap tahun, namun Agnes mengatakan bahwa ini tidak terjadi lagi. 

Berkat dukungan dari Bill and Melinda Gates Foundation dan Unilever, UNICEF meluncurkan sistem pemantauan SMS ini di Sulawesi Selatan, NTT dan Papua.

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia