Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label sumba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sumba. Tampilkan semua postingan
Isto, Agen Perubahan Kebersihan Menstruasi

Isto, Agen Perubahan Kebersihan Menstruasi

Oleh: Dinda Veska, PSFR Communication Officer

Isto (11) menjadi agen perubahan di sekolahnya untuk melindungi anak-anak perempuan dari ejekan-ejekan soal menstruasi. @Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2017


Terik matahari di Sumba Barat daya hari itu cukup menyengat kulit, siswa-siswi SD Lolaramo berlarian ke tengah lapangan dan bersiap untuk berlatih ekstra kurikuler tarian daerah. Mereka berbaris rapih, memberikan senyumnya lebar-lebar kepada para guru.

Di tengah-tengah latihan, seorang anak perempuan terlihat pucat dan meminta izin untuk istirahat sebentar. Isto (11) menawarkan diri untuk menemaninya ke ruang UKS. Mengetahui teman perempuannya sedang mengalami menstruasi, Isto melempar sedikit guyonan sambil jalan berdua menuju ruang UKS. Ia berpikir itu dapat sedikit mengalihkan rasa sakit di perut temannya.

“Menstruasi itu tanda ketika anak perempuan sudah tumbuh dewasa kak! Sebagai anak laki-laki aku harus siap membantu dan tidak boleh mengejek.” Seru Isto ketika di ruang kelas saya bertanya apa itu menstruasi.


Siswa-siswi SD Lolaramo setelah melakukan cuci tangan rutin di sekolah.
@Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2017

Di kelas Isto termasuk anak yang aktif berbicara dan senang berguyon. Enam bulan lalu, di hari Senin tidak sengaja ia membuat salah satu anak perempuan di kelas menangis. Saat itu Isto belum mengerti kenapa ada bercak merah pada rok putih yang dikenakan oleh Inna. Karena tidak paham, Isto spontan mengejek dan membuat Inna ditertawakan oleh anak-anak lainnya.

Tidak lama setelah kejadian itu, guru olahraga di sekolah yang telah mendapat pelatihan dari Pemerintah Daerah dan UNICEF membawa satu paket buku tentang Manajemen Kebersihan Menstruasi. Buku komik tersebut diberikan kepada siswa-siswi kelas lima dan enam, perlahan-lahan Isto dan teman-temannya memahami tentang menstruasi.

Inna (12) tidak lagi membolos sekolah ketika menstruasi.
@Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2017

Menurut wali kelasnya, Isto juga sempat menyampaikan permintaan maaf kepada Inna. Kini Isto juga  sangat diandalkan oleh gurunya dalam mengedukasi siswa-siswi lain terkait Manajemen Kebersihan Menstruasi. Ia juga paham betul apa yang harus dilakukan ketika teman perempuannya sedang datang bulan.

“Anak laki-laki harus menawarkan bantuan, Kak, kepada anak perempuan yang sedang menstruasi. Agar mereka tetap merasa nyaman.” Ungkap Isto.

Faktanya, menstruasi tidak hanya harus dimengerti oleh anak-anak perempuan, tapi juga anak laki-laki. Isto adalah sedikit dari banyak anak laki-laki di Indonesia yang akhirnya mengerti bahwa menstruasi bukan sesuatu hal yang tabu untuk dibicarakan bahkan tidak layak untuk dijadikan ejekan.

Menurut data yang didapat oleh U-Report pada Mei 2017, 17% U-reporters Perempuan diejek dan dirundung oleh sesama murid (terutama laki-laki) saat mengalami menstruasi. Hal ini sering kali membuat mereka memilih untuk membolos sekolah demi menghindari ejekan teman.

Saat ini, empat orang teman perempuan Isto di sekolah mengaku tidak lagi membolos ketika datang bulan. Selain itu anak-anak perempuan ini juga tidak akan tertinggal pelajaran di sekolah, jumlah akumulasi hari absen juga tidak lagi dikhawatirkan akan membuat mereka tinggal kelas atau bahkan dikeluarkan dari sekolah.

Buku komik tentang Manajemen Kebersihan Menstruasi yang diterbitkan oleh UNICEF bekerjasama dengan program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dari Pemerintah telah menghindarkan banyak Anak Perempuan Indonesia dari perundungan dan ancaman tinggal kelas.

Perubahan sikap dan pemahaman yang dialami oleh Isto adalah bukti bahwa anak-anak juga bisa dijadikan agen perubahan untuk lingkungan terdekatnya.

Kecamatan Pertama Yang Meraih Status Deklarasi Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) di Sumba Timur

Kecamatan Pertama Yang Meraih Status Deklarasi Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) di Sumba Timur

Oleh Ita, Fasilitator WASH Kabupaten Sumba Timur

Perwakilan 49 Marga di Kecamatan KAHALI  melakukan Sumpah Adat untuk mempertahankan status SBS.

Katala Hamu Lingu (KAHALI) adalah salah satu dari 22 kecamatan di Sumba Timur yang menjalankan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), dan juga kecamatan pertama yang meraih status SBS di Sumba Timur, NTT.

Pada acara deklarasi SBS tersebut, Bapak Thomas Peka Rihi selaku Camat KAHALI mengatakan bahwa “Program Stop Buang Air Besar Sembarangan merupakan kegiatan yang positif dalam mendukung Program Kecamatan KAHALI Berhias, yang menitikberatkan pada keindahan dan kebersihan. Deklarasi yang akan diwarnai sumpah adat ini merupakan janji yang sakral dari masyarakat KAHALI untuk tetap mempertahankan statusnya sebagai Kecamatan bebas buang air besar sembarangan."


Bapak Thomas Peka Rihi selaku Camat KAHALI menyampaikan sambutannya.
Pada acara yang sama, Sekretaris Bappeda Kabupaten Sumba Timur mengatakan bahwa “untuk mendukung pencapaian 100 % Air Minum, 0 % Pemukiman Kumuh dan 100 % Sanitasi pada akhir tahun 2019, maka Kecamatan KAHALI patut diberi apresiasi sebagai pendorong upaya pencapaian sanitasi 100% di Kabupaten Sumba Timur, dan merupakan kecamatan pertama di Kabupaten Sumba Timur yang melakukan Deklarasi Kecamatan SBS."

Kepala Perwakilan UNICEF Kupang dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh direktur Yayasan Pahadang Manjoru, Ishak Sitaniapessy, mengucapkan selamat kepada masyarakat KAHALI atas keberhasilannya meraih status SBS, serta mengingatkan bahwa menggunakan jamban untuk buang hajat, mencuci tangan pakai sabun di saat-saat penting dan mengolah air sebelum diminum adalah hal-hal kecil yang mempunyai dampak yang besar terhadap status kesehatan dan gizi serta kualitas pembelajaran anak di sekolah.

Ishak Sitaniapessy membacakan sambutan tertulis Perwakilan UNICEF Kupang.

Deklarasi Kecamatan KAHALI sebagai Kecamatan SBS dilakukan dengan menggunakan pendekatan adat, dimana perwakilan dari 49 Marga  yang ada di Kecamatan KAHALI melakukan “sumpah adat” untuk mempertahankan status SBS dan meningkatkan perilaku hidup bersih lainnya. Sumpah adat ini ditandai dengan pemotongan hewan sebagai tanda bahwa sumpah ini disaksikan oleh arwah para leluhur.

Keberhasilan Kecamatan KAHALI  meraih status SBS dalam waktu 6 bulan setelah pemicuan STBM adalah berkat inovasi dari Camat KAHALI yang menerapkan pendekatan adat dalam pelaksanaan STBM, kualitas pemicuan yang memadai dari sanitarian, serta dukungan dan partisipasi stakeholder lainnya seperti para Kepala Desa, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tua Adat, BABINSA dan PKK yang menjadi bagian dari Tim STBM Desa dan Kecamatan.

Camat KAHALI dan 5 kepala desa yang berhasil meraih predikat SBS diundang ke Hari Kesehatan Nasional yang diselenggarakan di Kabupaten pada tanggal 22 November 2015 untuk menerima penghargaan dari Pemerintah Sumba Timur.

Pelaksanaan program STBM di Kabupaten Sumba Timur merupakan kerjasama Pemerintah, UNICEF, Yayasan Pahadang Manjoru dan Sinode GKS dan menjangkau 22 kecamatan dan 165 desa yang ada di Kabupaten Sumba Timur.

Demikian dan semoga seluruh Desa dan Kecamatan di Sumba Timur segera menyusul meraih predikat Desa atau Kecamatan SBS bahkan STBM



Kotbah Tentang Buang Air Besar Sembarangan di Sumba

Kotbah Tentang Buang Air Besar Sembarangan di Sumba

Oleh Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

Pendeta Charles Detha mendidik penduduk desa tentang topik yang tidak nyaman untuk dibicarakan. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Seorang pendeta setempat di desa Kadahang, Sumba (NTT) akan menyampaikan khotbah yang paling sulit, yaitu tentang buang air besar. Hari ini, Pendeta Charles Detha tidak akan berbicara kepada jemaatnya tentang kesucian atau amal. Tetapi, ia akan berbicara tentang buang air besar.

Indonesia berada dalam cengkeraman krisis buang air besar sembarangan. Lebih dari 51 juta orang tidak menggunakan toilet. Angka ini merupakan angka tertinggi kedua di dunia setelah India. Pengaruhnya terhadap masyarakat dan terutama terhadap anak-anak sangat luar biasa. Praktek tersebut menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.

Pulau Sumba sangat dipengaruhi oleh krisis ini. Dan isu dalam skala tersebut memerlukan solusi inovatif. Oleh karena itu, UNICEF bekerja secara langsung dengan para tokoh agama di daerah yang sangat taat ini untuk membantu menyampaikan pesan.

"Sekarang kami tahu bahwa buang air besar sembarangan berbahaya bagi kesehatan anak-anak," kata Pendeta Charles, yang telah mengikuti program-program yang difasilitasi oleh UNICEF dengan tujuan untuk mengakhiri buang air besar sembarangan. "Buang air besar sembarangan dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. Oleh karena itu, kami harus terlibat, kami harus bicara."


Pendeta Charles mengatakan bahwa topik tersebut tabu di banyak desa. Pada awalnya, sulit untuk berkhotbah tentang buang air besar sembarangan. Akan tetapi, karena buang air besar sembarang dianggap sebagai masalah kesehatan yang mendesak, maka semuanya menjadi berbeda. "Saya menggunakan tema tanggung jawab masyarakat untuk membicarakan tentang hal tersebut," katanya.

Dalam khotbahnya, Pendeta Charles berbicara dengan penuh semangat tentang kesehatan setiap orang di desa. Jemaat sepertinya tidak hanya menerima, tetapi juga merasa nyaman berbicara tentang buang air besar sembarangan. Ketika Pendeta tersebut bertanya berapa banyak orang yang telah membangun toilet sejak ia mulai membahas tentang topik ini, sejumlah orang mengangkat tangan mereka.

Mbai Ranja Andung dan keluarganya merasa lebih aman dengan toilet baru mereka. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker 

Salah satu penduduk desa yang mengangkat tangan mereka adalah Mbai Ranja Andung. Setelah kebaktian di gereja, ia sangat bersemangat untuk menujukkan toilet barunya.

"Sebelumnya, kami menggunakan ini," kata Mbai Ranja, sambil menunjuk sepetak tanah di belakang rumahnya. Praktik ini akan meningkatkan kemungkinan penyakit seperti pneumonia dan diare - terutama bagi ketiga anaknya yang masih kecil.

"Ini dia (toiletnya)," kata Mbai Ranja. Toilet besar di luar rumah tersebut sangat kuat. Toilet ini dibangun dengan dasar beton yang cukup luas dan dinding dari daun kelapa yang terjalin rapi. Ia sangat bangga dengan hasil karyanya.

Mbai Ranja mengatakan bahwa ia baru tahu tentang risiko kesehatan buang air besar sembarangan melalui khotbah-khotbah para tokoh agama. Kini ia berharap semua penduduk desa akan mengikuti teladannya.


Mathinus Ndapanandjar memimpin gerakan untuk melawan buang air besar sembarang. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker  

Mathinus Ndapanandjar adalah kepala desa setempat di sini. Baginya, mengakhiri buang air besar sembarang merupakan masalah yang sangat pribadi.

"Setiap tahun, banyak anak meninggal karena diare," katanya. Hal ini biasa terjadi di Sumba. Diare merupakan salah satu penyebab utama kematian balita di seluruh Indonesia. Praktek sanitasi yang baik sangat penting untuk menanggulangi diare.

"Keterlibatan Pendeta merupakan hal yang sangat penting," kata Mathinus. Ia mengatakan bahwa para tokoh agama sangat dihormati di sini. Masyarakat sangat menghargai ucapan mereka daripada nasihat orang lain. Dalam rentang waktu yang cukup singkat sejak Pendeta Charles dan lain-lainnya telah memfokuskan pada buang air besar sembarangan, maka telah terjadi "perubahan nyata".

Kini Mathinus memiliki tujuan ambisius bagi masyarakatnya. "Saya ingin agar masyarakat kami 100 persen bebas dari buang air besar sembarang," katanya.

Ini merupakan tujuan yang akan menyelamatkan kehidupan banyak anak  saat ini dan juga pada tahun-tahun yang akan datang.


Sanitasi di Sumba – membaik hari demi hari

Sanitasi di Sumba – membaik hari demi hari

- Nick Baker, Communications and Knowledge Management Officer

Sanitarian Dangga Mesa menghadiri sebuah rapat desa di Sumba Barat Daya.
©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Ini adalah pagi yang luar biasa sibuk di desa Matapywu di pulau Sumba (NTT). Semua kepala keluarga telah diajak berkumpul untuk sebuah pertemuan penting. Kursi-kursi diduduki, kopi disajikan, dan topik pertemuan pun diumumkan: toilet.

Pertemuan tentang topik yang tidak biasa ini sekarang cukup umum di sekitar pulau tersebut. Matapywu hanyalah satu dari banyak desa yang baru-baru ini menjalani sesi pemicuan yang didukung oleh UNICEF. Lokakarya ini bertujuan untuk mengakhiri praktik buang air besar sembarangan.

Sekarang adalah saatnya untuk mengecek perkembangan. Seorang sanitarian, Dangga Mesa, membahas kemajuan sejak ia mengadakan sesi pemicuan beberapa bulan yang lalu. Dangga tampak senang dengan hasilnya.


Para perwakilan desa memberitahu Dangga bagaimana mereka merasa "malu" dan "jijik" ketika mempelajari betapa mudahnya bakteri dari tinja dapat memasuki rantai makanan. Sejak saat itu, semakin banyak penduduk desa yang telah atau sedang membangun toilet pertama mereka.

Dangga mengatakan bahwa buang air besar sembarangan (BABS) merupakan isu penting bagi anak-anak Matapywu dan di seluruh negeri. "Diare adalah penyakit yang sangat serius di kalangan anak-anak di bawah usia lima tahun," katanya. "Sanitasi yang buruk merupakan salah satu penyebab utama diare sehingga kita harus serius menangani hal itu."

"Saya sangat senang karena jumlah orang yang memiliki toilet telah meningkat," kata Dangga. "Tujuan kami berikutnya adalah agar desa ini menjadi 100 persen bebas dari BABS.”


Terutama anak-anak

Kepala desa Soleman Bili Ngongo memimpin rapat desa tentang BABS.
©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Soleman Bili Ngongo adalah kepala desa Matapywu. Dia tidak mengetahui tentang hubungan BABS dengan masalah kesehatan sebelum sesi pemicuan. Kini itu adalah salah satu prioritas utamanya.

Desa Soleman memiliki 3.237 penduduk. "Sebelumnya, sebagian besar dari mereka buang air besar di mana saja. Kotoran lalu mengkontaminasi makanan dan air kami," kata Soleman.

Hal ini cukup biasa di Indonesia. Bahkan, di negara ini lebih dari 54 juta orang buang air besar di tempat terbuka. Itu adalah jumlah tertinggi kedua di dunia, setelah India.

Tapi dengan bantuan UNICEF, semua ini mulai berubah di Matapywu. "Sesi pemicuan sangat sukses," kata Soleman. "Setelah hanya beberapa minggu, keluarga-keluarga mulai membangun kakus."

UNICEF akan terus membantu Soleman dan kepala desa lain di sekitar Sumba untuk memantau BABS dan mengatasi tantangan-tantangan yang akan timbul.

Soleman ingin semua 3.237 warga desa untuk menjadi sehat dan memiliki kesempatan terbaik di kehidupan, terutama anak-anak.


Masa depan yang lebih aman

Adventin, 3, akan tumbuh besar dengan akses kepada toilet.
©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Lucia Dada Kaka adalah salah satu dari banyak ibu di Sumba yang menjadi khawatir tentang kesejahteraan keluarganya setelah menghadiri sesi pemicuan.

"Sebelum lokakarya, kami buang air besar di lapangan dekat rumah, atau kadang-kadang di malam hari persis di luar rumah kami," katanya. "Tapi kemudian kami belajar tentang masalah-masalah yang terkait dengan BABS."

Kesehatan Adventin, putrinya yang berusia tiga tahun, adalah suatu motivator besar untuk membangun toilet baru. Saat ini toilet tersebut hampir diselesaikan oleh suaminya.

"Kami melakukannya untuk anak-anak kami. Kami ingin mereka terlindungi dari masalah kesehatan," kata Lucia.


Masa depan yang lebih baik – mengakhiri buang air besar sembarangan di Sumba

Masa depan yang lebih baik – mengakhiri buang air besar sembarangan di Sumba

- Nick Baker, Communications and Knowledge Management Officer -

Juan, 1 tahun, di depan toilet barunya. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Sumba Barat Daya, Maret 2015 – Juan Ngongo, usia satu tahun, adalah orang pertama di keluarganya yang akan tumbuh besar dengan akses toilet.

Juan tinggal di Desa Watu Kaula, Pulau Sumba (NTT). Selama beberapa generasi, keluarganya buang air besar di sekitar sungai di belakang rumah mereka.

Namun kini sudah tidak lagi. Keluarga Juan belum lama ini menghadiri sebuah sesi pemicuan yang difasilitasi oleh UNICEF di desa mereka. Pada sesi ini, petugas kesehatan menunjukkan bagaimana mudahnya bakteri dari kotoran manusia bisa memasuki rantai makanan dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

Termasuk dalam masalah kesehatan ini adalah diare dan pneumonia, yang merupakan kontributor utama dari 370 kematian balita Indonesia setiap harinya.


Ibu Juan, Yuliana, mengatakan bahwa sesi tersebut adalah pengalaman yang membuka matanya. “Kami jadi tahu tentang berbagai risiko kesehatan dari buang air besar sembarangan (BABS). Jadi kami memutuskan untuk membangun toilet,” katanya.

Ada lebih dari 750 rumah tangga di Desa Watu Kaula. Perwakilan dari hampir semua rumah tangga menghadiri sesi pemicuan dan banyak yang berkomitmen untuk membangun toilet. Kisah Juan hanya salah satu darinya.

“Kini saya merasa aman. Kini saya merasa bahwa Juan akan aman,” ucap Yuliana.

Memberdayakan Desa-desa

Sanitarian Delsiana Bora menyelenggarakan lokakarya tentang BABS.
©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Delsiana Bora adalah seorang sanitarian di Sumba Barat Daya, yaitu petugas kesehatan dengan fokus pada sanitasi dan kesehatan. Berkat dialah Juan dan anak-anak lainnya di Desa Watu Kaula kini memiliki akses toilet.

Delsiana adalah satu dari banyak sanitarian di Sumba yang menerima bantuan pelatihan dari UNICEF. UNICEF melatih Delsiana dan rekan-rekannya dalam melakukan sesi pemicuan dan memonitor perkembangan di setiap desa.

“Kesadaran tentang dampak kesehatan sehubungan dengan BABS di daerah ini masih sangat rendah. Orang-orang tidak sadar tentang risiko yang mereka ambil,” katanya.

Di kantor Delsiana ada sebuah bagan besar tentang 10 desa di mana dia bekerja. Dia menjelaskan bagaimana masing-masing kolom pada tabel menunjukkan jumlah dan kualitas toilet yang telah dibangun.

UNICEF membantu koordinasi sebuah program pelatihan untuk Delsiana dan sanitarian lainnya dalam menggunakan sistem SMS untuk memonitor kemajuan di desa-desa. Informasi dikirim melalui SMS ke sebuah database pusat, yang lalu dikumpulkan oleh dinas kesehatan kabupaten.

Toilet baru milik Juan di Watu kaula adalah satu lagi kisah sukses untuk Delsiana dan timnya.

Sebuah target yang ambisius

Dominggus Manna berupaya mengakhiri BABS di Sumba Barat Daya.
©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Dominggus Manna menghadapi sebuah tugas yang cukup berat. Sebagai Kepala Bagian Kesehatan Lingkungan di Sumba Barat Daya, ia bertanggung jawab atas praktik kebersihan di 131 desa. Dan ia ingin agar seluruh desa tersebut bebas dari BABS dalam empat tahun.

UNICEF membantu perwakilan daerah seperti Dominggus memenuhi target-target serupa dengan membentuk kelompok kerja BABS di Sumba. Kelompok kerja ini mempertemukan pejabat pemerintah dan pemangku kepentingan dari berbagai tingkat untuk mencari cara terbaik dalam menghadapi BABS.

“Saat ini sekitar 50 persen desa melakukan BABS,” katanya. “Tapi dalam beberapa tahun terakhir kami telah meningkatkan jumlah keluarga dengan akses toilet dari 36 persen menjadi 45 persen. Jadi kemajuan ini tampak baik.”


“Kelambu nyamuk menyelamatkan hidup saya”

“Kelambu nyamuk menyelamatkan hidup saya”

By Ermi Ndoen - Health (Malaria/EPID) Officer

 Pulau Sumba, Oktober 2014 – Martinus Lende Walu (48) merasa dirinya sangat beruntung. Ia hampir kehilangan nyawa akibat malaria seperti dua orang tetangganya, namun hanya ia yang selamat. Sejak saat itu, ia menjadi lebih berhati-hati dan selalu melindungi dirinya dengan menggunakan kelambu nyamuk berinsektisida.

Desa asalnya, Kampung Langgar, adalah salah satu desa adat di Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Di desa ini, sekitar 200 orang tinggal bersama di 13 rumah adat di sekeliling kuburan-kuburan megalitik. Masing-masing kuburan dimiliki oleh sekelompok keluarga.

Pulau Sumba sering dikunjungi wisatawan karena rumah adat, kuburan megalitik, kain ikat, pasola (kompetisi tombak dan kuda tradisional), serta pantainya yang indah. Namun semua ini dibayangi oleh tingginya tingkat malaria di pulau tersebut. 

Kami mengunjungi desa Martinus pada awal bulan Oktober 2014 untuk memantau kampanye distribusi kelambu berinsektisida di Kabupaten Sumba Barat Daya. Martinus menyambut kami dengan hangat, dan bercerita tentang kelambu nyamuk yang ia terima sekitar satu minggu yang lalu.

“Saya menerima 2 kelambu nyamuk dari kepala desa saat pembagian.”

Kelambu-kelambu tersebut bukan yang pertama dimilikinya. Ia sudah memiliki dua di rumahnya.

“Saya sudah menggunakan dua kelambu, dan dua kelambu tambahan ini akan saya pakai untuk dua tempat tidur yang lain. Kami menerima kelambu berdasarkan jumlah tempat tidur yang kami miliki di rumah,” ucapnya. Satu kelambu bisa digunakan untuk melindungi dua anggota keluarga.

Martinus dan istrinya di depan rumah mereka, menunjukkan kelambu nyamuk yang diterima.
 © UNICEF Indonesia/2014/Ermi Ndoen

Martinus menceritakan mengapa kelambu nyamuk sangat penting baginya.

“Saya pernah jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit selama 3 hari. Meskipun saya selamat, dua orang tetangga saya tidak. Mereka meninggal akibat malaria. Begitu keluar dari rumah sakit, saya langsung membeli kelambu nyamuk untuk keluarga saya. Sampai hari ini masih kami pakai,” kisahnya.

Ia membayar Rp 160.000 untuk kedua kelambu tersebut, selain Rp 500.000 yang telah dikeluarkannya untuk biaya rumah sakit. Keluarga Martinus menemaninya selama di rumah sakit sehingga pemasukan mereka pun hilang pada hari-hari tersebut, menambah total kerugiannya.  

“Lebih baik beli kelambu daripada bayar biaya rumah sakit. Sekarang justru semakin baik karena kelambu nyamuk dari Pemerintah tidak dikenakan biaya,” ujarnya. “Kelambu nyamuk menyelamatkan hidup saya.”

Malaria merupakan masalah kesehatan yang serius di NTT. Provinsi ini berpenduduk 4.9 juta orang, atau 2 persen populasi Indonesia. Namun pada tahun 2013 sekitar 1/5 kasus malaria yang terdaftar di Indonesia (88.500 dari hampir 418.000 kasus) terjadi di NTT.

Sumba adalah salah satu pulau dengan kasus malaria tertinggi di NTT. Dari 693.000 populasi Sumba, lebih dari 25.000 orang terkena penyakit malaria pada tahun 2014. Tingkat kejadian tahunan di Sumba berkisar antara 25 hingga 75 per 1.000 penduduk.

Anak-anak dari Kampung Langgar dengan kelambu nyamuk berinsektisida mereka.
 © UNICEF Indonesia/2014/Ermi Ndoen

Untuk memerangi malaria di NTT, Departemen Kesehatan, dengan dukungan UNICEF dan The Global Fund to fight Malaria, HIV and Tuberculosis, mendistribusikan sekitar 1,6 juta kelambu nyamuk berinsektisida. Ini adalah salah satu kampanye distribusi terbesar yang pernah dialami daerah ini. Kampanye ini dijalankan bersamaan dengan upaya-upaya lainnya seperti peningkatan diagnosis dan perawatan malaria dini, serta pelibatan masyarakat untuk menyingkirkan sarang nyamuk.

Kampanye ini diluncurkan di seluruh 15 kabupaten NTT  pada tanggal 15 - 22 September 2014. Meskipun kampanye ini bisa dikatakan sukses, sebagaimana ditunjukkan oleh besarnya kerumunan warga di setiap titik distribusi, tidak kalah penting adalah kegiatan tindak lanjut oleh kader, pimpinan desa atau warga, dan staf Puskesmas untuk memastikan bahwa penerima kelambu akan menggunakannya. Penggunaan kelambu dengan benar akan melindungi warga dari malaria dan menurunkan penularan malaria.

Kunjungan ke Sumba ini membantu saya lebih memahami tentang kampanye ini dan bagaimana masyarakat menggunakan kelambu sehubungan dengan budaya, perilaku dan kondisi hidup setempat.

Dr Nafsiah Mboi, Menteri Kesehatan Indonesia pada saat itu, menekankan pesan berikut pada acara pra-peluncuran kampanye di Sikka:


"Pastikan Anda menggunakan kelambu dengan benar. Jangan digunakan sebagai jaring ikan. Jangan digunakan untuk pagar taman. Jangan dijual. Tapi gunakanlah untuk melindungi diri sendiri. Untuk melindungi buah hati tercinta. Untuk melindungi istri tercinta. Untuk melindungi kalian semua dari ancaman malaria. "

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia