Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Nick Baker. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nick Baker. Tampilkan semua postingan
Ketidakhadiran Siswa di Papua

Ketidakhadiran Siswa di Papua

Oleh: Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer 

Teo menghadapi masa depan yang tidak pasti. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Waktu itu hari Senin pukul 8 pagi di kampung Poumako Papua. Ketika lonceng berbunyi, kelompok anak-anak berdatangan dari rumah mereka dan mulai berjalan menuju kelas. Tetapi Teo tidak – anak yang berusia sembilan tahun tersebut tidak pergi ke sekolah hari itu. Ia jarang pergi ke sekolah.

Kisah Teo merupakan kisah umum yang terjadi di sekitar kampungnya dan di seluruh provinsi. Daerah ini merupakan salah satu daerah termiskin dan paling terisolasi di Indonesia. Kondisi ini dapat dilihat dari  besarnya jumlah anak yang putus sekolah untuk membantu menghidupi keluarga mereka. Anak-anak di sini lebih mengenal palu dan sekop daripada pensil dan buku.

"Kadang-kadang saya bekerja di pelabuhan," kata Teo. Ada pelabuhan besar beberapa kilometer dari kampungnya yang melayani daerah tersebut. Anak-anak seperti Teo bisa memperoleh sedikit tambahan rupiah melalui bongkar muat barang ke kapal-kapal yang berlabuh di sana. "Saya mengangkut barang-barang seperti perabot, semen dan beras," katanya, "Barang-barang ini biasanya beratnya 15-25 kilogram."


Anak-anak bekerja di pelabuhan Papua. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Sekolah di kampung Poumako merupakan gabungan beberapa bangunan tua. Anak-anak bermain sepak bola di area umum kecil yang dikelilingi oleh lima ruang kelas. Sekolah ini seluruhnya berdiri tidak aman di atas panggung kayu yang tinggi di atas rawa yang sangat kotor.

Walaupun begitu, banyak dari anak-anak tersebut kelihatan penuh semangat dan siap untuk belajar. Beberapa anak hanya memiliki satu pensil, sedangkan anak-anak lainnya tidak memiliki sama sekali. Tetapi mereka bangga dengan seragam sekolah mereka ketika mereka berpindah dari satu kelas ke kelas lainnya.

Markus Fasak telah menjadi kepala sekolah untuk sekolah ini selama beberapa tahun. Ia mengatakan bahwa banyak siswa yang sering tidak hadir. "Banyak anak membantu keluarga mereka untuk menangkap ikan atau memanen sagu. Kegiatan-kegiatan yang menghasilkan pendapatan seringkali dianggap lebih penting, "katanya.

Inilah hal yang disuarakan oleh guru Basilus Batmomolin. "Paradigma masyarakat tersebut berbeda di sini," katanya, "Beberapa keluarga tidak menganggap pendidikan sepenting itu."


Ruang Kelas di Poumako. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Angka-angka terakhir pemerintah menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan tentang ketidakhadiran siswa di Papua. Survei terakhir menunjukkan bahwa hingga 30 persen anak di sini putus sekolah. Angka ini semakin mengejutkan di daerah-daerah yang sulit diakses: 50 persen untuk SD dan 73 persen untuk sekolah menengah pertama.

"Anak-anak yang tidak menyelesaikan sekolah memulai hidup mereka dengan ketidakberuntungan," kata Spesialis Pendidikan UNICEF Papua Monika Nielsen, "Kesempatan mereka dalam kehidupan sangat berkurang. Banyak dari anak-anak ini akan terbatas pada pekerjaan di bidang pertanian atau perburuhan. Demikian pula, siklus kemiskinan antargenerasi akan berlanjut.


Murid di Poumako berjalan ke kelas. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Sekalipun dihadapkan pada tantangan-tantangan ini, anak-anak di sekitar daerah tersebut tetap memiliki semangat yang besar. Sekelompok siswa muda memberikan daftar panjang tentang kemungkinan karir mereka di masa depan. "Saya ingin menjadi perawat," kata salah satu anak perempuan. "Saya ingin menjadi polisi," kata yang lain. Salah satu anak laki-laki ingin kuliah di perguruan tinggi, meskipun dia belum tahu apa yang ingin dipelajari.

Tetapi bagi banyak orang muda di sini, masa kecil tanpa pendidikan berarti masa depan tanpa peluang. Hal ini akan menjadi masalah bagi Teo. Ada kemungkinan ia akan bekerja di pelabuhan untuk beberapa tahun yang akan datang.


Saat ini, UNICEF sedang melaksanakan Program Pendidikan Daerah Perdesaan dan Terpencil untuk Provinsi Papua di 120 sekolah di seluruh Tanah Papua - termasuk Poumako. Tujuan Program adalah untuk melakukan pengujian pendekatan yang efektif dan berkelanjutan untuk meningkatkan hasil pembelajaran membaca dan menulis di kelas-kelas awal. Program ini akan membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik dimana anak-anak tetap bersekolah dan sukses dalam studi mereka.


“Nama Saya Kristopher” - Belajar Membaca dan Menulis di Papua.

“Nama Saya Kristopher” - Belajar Membaca dan Menulis di Papua.

Oleh: Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer 

Kemampuan membaca dan menulis Kristopher mengalami kemajuan. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Sekelompok siswa sekolah dasar di Kampung Poumako, Papua diminta untuk menulis nama mereka. Sepertinya mudah. Beberapa siswa mengeluarkan pena dan perlahan-lahan mulai menulis. Tetapi beberapa siswa merasa hampir tidak mungkin melakukannya.

Kristopher, siswa kelas dua ini, merupakan salah satu anak yang berjuang keras untuk bisa membaca dan menulis. Ia meluangkan waktunya, mencoba berkali-kali dan kemudian berhenti. "Sulit," katanya.

Kristopher seperti banyak siswa muda di Tanah Papua. Sekitar 87 persen siswa kelas awal di daerah perdesaan dan terpencil merupakan gabungan antara siswa yang tidak bisa membaca dan siswa yang bisa membaca tetapi dengan pemahaman yang terbatas.

Dan untuk anak-anak seperti Kristopher - tidak memiliki keterampilan dasar ini akan sangat berdampak terhadap sisa hidup mereka.

Guru Basilus Batmomolin mengikuti program UNICEF. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker  

Basilus Batmomolin telah mengajar di sekolah dasar Poumako selama lima tahun terakhir. Ini merupakan tugas yang menantang - bekerja dengan orang-orang muda di salah satu daerah termiskin di Papua. Semenjak itu, ia menyadari betapa pentingnya kemampuan membaca dan menulis.

"Kemampuan membaca dan menulis merupakan pendorong," katanya, " Kemampuan membaca dan menulis memungkinkan anak-anak untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Kemampuan membaca dan menulis memperluas peluang profesional mereka. Dengan kemampuan membaca dan menulis, anak-anak dapat lebih percaya diri dan lebih bersifat sosial. Tanpa Kemampuan membaca dan menulis, anak-anak akan terisolasi."

Basilus mengatakan bahwa ada banyak alasan mengapa angka membaca dan menulis tetap rendah di daerah ini. Alasan tersebut antara lain meliputi orang tua yang tidak kooperatif, yang tidak mau menyekolahkan anak mereka ke sekolah dengan sumber daya yang sangat minim, terbatasnya dukungan bagi para guru dan juga ketidakhadiran guru/kepala sekolah.

Oleh karena itu, UNICEF telah ikut serta dalam membantu para guru seperti Basilus.


Kampung Poumako. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Saat ini UNICEF sedang melaksanakan Program Pendidikan di Daerah Perdesaan dan Terpencil untuk Provinsi Papua di Poumako dan 119 sekolah lainnya di seluruh Tanah Papua. Program ini bertujuan untuk melawan berbagai jenis tantangan yang disampaikan oleh Basilus. Program ini akan menguji pendekatan yang efektif dan berkelanjutan untuk meningkatkan hasil pembelajaran membaca dan menulis di kelas-kelas awal.

Di sekolah-sekolah ini, UNICEF akan memberikan pelatihan guru dan kepala sekolah, materi belajar dan mengajar yang relevan secara budaya, sistem pemantauan dan evaluasi, dan kampanye pendidikan bagi orang tua, masyarakat dan pemerintah.

"Membaca dan menulis merupakan hak dasar bagi semua anak," kata Spesialis Pendidikan UNICEF Papua Monika Nielsen, "Kemungkinan untuk berhasil bagi anak yang bisa membaca dan menulis lebih besar dalam hidup mereka. Membaca dan menulis merupakan sarana penting untuk membebaskan mereka dari kemiskinan. Oleh karena itu, peningkatan kemampuan anak dalam membaca dan menulis dapat menimbulkan dampak positif terhadap seluruh masyarakat."

Bagian penting dari program ini adalah mengirimkan mentor guru untuk mengunjungi sekolah-sekolah perdesaan dan terpencil. Mentor ini melatih para guru dengan teknik membaca dan menulis inovatif. Pak Ferdi adalah salah satu mentor tersebut. "Membaca dan menulis memberikan kekuatan kepada orang-orang muda," katanya, "Mereka akan dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang matematika dan bisnis. Hal ini sangat penting bagi masa depan mereka."


Ketidakmampuan membaca dan menulis tinggi di antara para siswa di Poumako. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker 

Jalan ke depan masih panjang. Ketidakmampuan membaca dan menulis endemik di Papua. Di antara seluruh penduduk, lebih dari 40 persen tidak bisa membaca dan menulis. Angka ini sangat mengejutkan di beberapa daerah dataran tinggi, yang mencapai 92%. Indikator menunjukkan bahwa angka-angka terus meningkat.

Tetapi solusinya dimulai dengan anak-anak, seperti Kristopher. Sejak mengikuti program UNICEF, tanda-tandanya nampak positif.

Setelah sebagian besar teman kelasnya menyelesaikan tugas menulis tersebut, Kristopher menunjukkan selembar kertas. Bunyinya: Nama saya Kristopher.


Kotbah Tentang Buang Air Besar Sembarangan di Sumba

Kotbah Tentang Buang Air Besar Sembarangan di Sumba

Oleh Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

Pendeta Charles Detha mendidik penduduk desa tentang topik yang tidak nyaman untuk dibicarakan. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Seorang pendeta setempat di desa Kadahang, Sumba (NTT) akan menyampaikan khotbah yang paling sulit, yaitu tentang buang air besar. Hari ini, Pendeta Charles Detha tidak akan berbicara kepada jemaatnya tentang kesucian atau amal. Tetapi, ia akan berbicara tentang buang air besar.

Indonesia berada dalam cengkeraman krisis buang air besar sembarangan. Lebih dari 51 juta orang tidak menggunakan toilet. Angka ini merupakan angka tertinggi kedua di dunia setelah India. Pengaruhnya terhadap masyarakat dan terutama terhadap anak-anak sangat luar biasa. Praktek tersebut menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.

Pulau Sumba sangat dipengaruhi oleh krisis ini. Dan isu dalam skala tersebut memerlukan solusi inovatif. Oleh karena itu, UNICEF bekerja secara langsung dengan para tokoh agama di daerah yang sangat taat ini untuk membantu menyampaikan pesan.

"Sekarang kami tahu bahwa buang air besar sembarangan berbahaya bagi kesehatan anak-anak," kata Pendeta Charles, yang telah mengikuti program-program yang difasilitasi oleh UNICEF dengan tujuan untuk mengakhiri buang air besar sembarangan. "Buang air besar sembarangan dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. Oleh karena itu, kami harus terlibat, kami harus bicara."


Pendeta Charles mengatakan bahwa topik tersebut tabu di banyak desa. Pada awalnya, sulit untuk berkhotbah tentang buang air besar sembarangan. Akan tetapi, karena buang air besar sembarang dianggap sebagai masalah kesehatan yang mendesak, maka semuanya menjadi berbeda. "Saya menggunakan tema tanggung jawab masyarakat untuk membicarakan tentang hal tersebut," katanya.

Dalam khotbahnya, Pendeta Charles berbicara dengan penuh semangat tentang kesehatan setiap orang di desa. Jemaat sepertinya tidak hanya menerima, tetapi juga merasa nyaman berbicara tentang buang air besar sembarangan. Ketika Pendeta tersebut bertanya berapa banyak orang yang telah membangun toilet sejak ia mulai membahas tentang topik ini, sejumlah orang mengangkat tangan mereka.

Mbai Ranja Andung dan keluarganya merasa lebih aman dengan toilet baru mereka. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker 

Salah satu penduduk desa yang mengangkat tangan mereka adalah Mbai Ranja Andung. Setelah kebaktian di gereja, ia sangat bersemangat untuk menujukkan toilet barunya.

"Sebelumnya, kami menggunakan ini," kata Mbai Ranja, sambil menunjuk sepetak tanah di belakang rumahnya. Praktik ini akan meningkatkan kemungkinan penyakit seperti pneumonia dan diare - terutama bagi ketiga anaknya yang masih kecil.

"Ini dia (toiletnya)," kata Mbai Ranja. Toilet besar di luar rumah tersebut sangat kuat. Toilet ini dibangun dengan dasar beton yang cukup luas dan dinding dari daun kelapa yang terjalin rapi. Ia sangat bangga dengan hasil karyanya.

Mbai Ranja mengatakan bahwa ia baru tahu tentang risiko kesehatan buang air besar sembarangan melalui khotbah-khotbah para tokoh agama. Kini ia berharap semua penduduk desa akan mengikuti teladannya.


Mathinus Ndapanandjar memimpin gerakan untuk melawan buang air besar sembarang. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker  

Mathinus Ndapanandjar adalah kepala desa setempat di sini. Baginya, mengakhiri buang air besar sembarang merupakan masalah yang sangat pribadi.

"Setiap tahun, banyak anak meninggal karena diare," katanya. Hal ini biasa terjadi di Sumba. Diare merupakan salah satu penyebab utama kematian balita di seluruh Indonesia. Praktek sanitasi yang baik sangat penting untuk menanggulangi diare.

"Keterlibatan Pendeta merupakan hal yang sangat penting," kata Mathinus. Ia mengatakan bahwa para tokoh agama sangat dihormati di sini. Masyarakat sangat menghargai ucapan mereka daripada nasihat orang lain. Dalam rentang waktu yang cukup singkat sejak Pendeta Charles dan lain-lainnya telah memfokuskan pada buang air besar sembarangan, maka telah terjadi "perubahan nyata".

Kini Mathinus memiliki tujuan ambisius bagi masyarakatnya. "Saya ingin agar masyarakat kami 100 persen bebas dari buang air besar sembarang," katanya.

Ini merupakan tujuan yang akan menyelamatkan kehidupan banyak anak  saat ini dan juga pada tahun-tahun yang akan datang.


Membangun Toilet, Menyelamatkan Kehidupan

Membangun Toilet, Menyelamatkan Kehidupan

Oleh Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

Masa Depan Vikensa Hamakonda sedikit lebih cerah. ©UNICEF Indonesia/2015/NickBaker

Vikensa Hamakonda, anak usia sepuluh bulan melihat tambahan ruangan baru untuk rumah keluarganya dengan penuh keingintahuan. Tambahan ruangan baru tersebut adalah toilet di luar rumah yang dibuat dari bambu dan seng. Akan tetapi, bangunan sederhana ini mungkin akan dapat menyelamatkan hidup Vikensa.

Di Pulau Sumba (NTT), buang air besar sembarangan merupakan praktek yang telah diterima oleh  sebagian besar orang. Banyak orang tidak mengetahui bahwa buang air besar sembarangan membahayakan kehidupan anak-anak di Indonesia.

Patogen dari kotoran di tempat terbuka dapat dengan mudah masuk ke rantai makanan dan air konsumsi masyarakat. Hal ini akan menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, yang secara khusus mempengaruhi anak-anak.

Di Sumba, ada banyak cerita tentang anak-anak yang meninggal karena diare – yang mungkin disebabkan oleh sanitasi buruk. Buruknya sanitasi juga berdampak pada pertumbuhan anak-anak karena terkait dengan tingginya angka gizi kurang.

UNICEF mendukung sejumlah program untuk mengakhiri buang air besar sembarangan di Sumba. Salah satu program tersebut adalah membantu petugas kesehatan setempat untuk mengadakan "sesi pemicuan". Sesi pemicu merupakan sebuah proses merubah perilaku sanitasi dan hygiene masyarakat di setiap desa. Sesi tersebut melibatkan demonstrasi dramatis tentang bagaimana kotoran di tempat terbuka dapat menyebabkan anak sakit.

Belakangan ini, sesi pemicu diadakan di desa Vikensa. Ayah Vikensa, Letu, mengikuti sesi tersebut. "Ini merupakan pengalaman yang sangat luar biasa," katanya." Saya belajar bagaimana kuman dari kotoran dari luar rumah bisa hinggap di makanan keluarga saya." Pesan terakhirnya sederhana: bangun dan gunakan toilet.

Program ini menimbulkan dampak berkelanjutan terhadap Letu. Sebelumnya, keluarga Letu buang air besar di area terbuka di belakang rumah mereka. Tetapi sekarang tidak lagi. Letu sudah membangun toilet. Dan banyak penduduk desa lainnya melakukan hal yang sama.

Ini berarti anak-anak seperti Vikensa akan terbantu dalam memperoleh awal kehidupan  yang terbaik bagi mereka.


Kisah Dewi: Rumah Pelacuran di Papua

Kisah Dewi: Rumah Pelacuran di Papua

Oleh Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

Dewi tinggal dan bekerja di lokalisasi Timika. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker  

Timika adalah kota kecil kotor yang terletak di perbatasan Provinsi Papua. Timika berada pada bayang-bayang tambang emas terbesar di dunia, Freeport. Tetapi kekayaan luas yang membentang beberapa mil jauhnya berdampak kecil terhadap kehidupan sebagian besar orang di Timika.

Papua berjuang dengan tingkat kemiskinan yang tinggi. Banyak keluarga mengandalkan sumber pendapatan mereka sepenuhnya pada penangkapan ikan atau sumber-sumber pendapatan pertanian lainnya. Pekerjaan seringkali langka dan kesempatan kerja tidak banyak. Bagi beberapa anak perempuan muda, hanya ada satu cara untuk menjalani hidup yang layak.

"Saya telah bekerja di lokalisasi  selama kurang lebih tiga bulan," kata Dewi*. Dewi sekarang tinggal di salah satu lokalisasi yang kotor di luar Timika. Kliennya kebanyakan laki-laki kelas pekerja dari desa-desa sekitarnya. Pelanggan saya antara lain "sopir truk, pekerja tambang dan tentara."


Dewi menunjukkan kamarnya yang sempit dan untuk menaruh kasur saja hampir tidak cukup. Seiring dengan usianya, seprai dan bantal terbuat dari kain perca dengan desain anak-anak. Retakan di dinding hijau berjamur menunjukkan kamar-kamar lain dimana anak-anak perempuan muda juga melakukan praktek transaksi.

Kamar Dewi. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Ini merupakan pekerjaan yang sangat berbahaya karena tempat lokalisasi itu berada. Angka terakhir menunjukkan bahwa meski angka prevalensi HIV nasional di Indonesia adalah 0,5 persen, angka tersebut meningkat menjadi 2,3 persen di Tanah Papua. Artinya bahwa daerah tersebut mengalami epidemi umum.

Timika sangat dipengaruhi oleh epidemi ini. Timika merupakan pusat pekerja seks – kelompok kunci yang beresiko mengidap HIV. Lokalisasi dengan perputaran yang tinggi menjadi perhatian khusus karena dapat menyebarkan penyakit HIV.

Dewi sepertinya mengetahui resiko yang ia hadapi setiap hari: "Saya tahu bahwa HIV merupakan ancaman. Saya tahu bahwa AIDS bisa membunuh. "Dia menegaskan bahwa para pelanggannya menggunakan kondom. Tetapi mereka tidak selalu menggunakan kondom. "Tadi malam saya bersama seorang laki-laki yang melepas kondomnya sebelum melakukan penetrasi," katanya.

Penggunaan kontrasepsi pada pekerja seks sangat penting untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di Papua. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Di lokalisasi tersebut, terdapat klinik kesehatan kecil. HIV/AIDS merupakan fokus utama. Dinding klinik ditutupi poster yang mengingatkan para pengunjung tentang kemungkinan penyakit. Alat kontrasepsi dipromosikan dan diberikan secara gratis.

Klinik tersebut juga melakukan tes HIV secara tetap. "Tes dilakukan terhadap sejumlah anak perempuan dengan hasil positif," kata petugas kesehatan Ibu Iriyani. Pesan Ibu Iriyani kepada anak-anak perempuan jelas, sederhana, dan diulang-ulang: "Gunakan kondom, setiap waktu"

Pada hari khusus ini, perwakilan dari LSM kesehatan setempat, Yayasan Caritas Timika Papua mengunjungi lokalisasi itu. Perwakilan yayasan, Pak Jerry, telah memerangi HIV/AIDS di daerah ini selama beberapa waktu. Kelihatannya ia sangat optimis.

"HIV merupakan masalah di Timika," kata Pak Jerry. "Tetapi keadaannya kini semakin membaik. Banyak hal telah berubah. "Pak Jerry mengatakan bahwa HIV/AIDS mulai kehilangan stigmanya. Pengetahuan tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS semakin membaik. Ini merupakan langkah pertama yang penting untuk mengakhiri epidemi.

Anak-anak perempuan di lokalisasi Papua menghadapi resiko setiap hari. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker  

Dewi tidak bisa mengatakan berapa lama ia akan terus bekerja di lokalisasi. "Saya bisa mendapatkan uang dan membantu keluarga saya, khususnya saudara-saudara perempuan saya jadi buat saya ini hal yang baik," katanya. Seperti pekerja seks lainnya di sini, bulan bisa menjadi tahun, dan setiap hari ia menghadapi resiko penyakit yang mematikan.

Ketika didesak, Dewi mengatakan bahwa ia memiliki cita-cita untuk masa depan di luar pekerjaannya saat ini: "Saya ingin memulai usaha, mungkin toko makanan."

Tetapi untuk saat ini, ada hal-hal lain yang Dewi pikiran. Ia duduk, di bawah lampu kecil berwarna merah yang menyala sepanjang hari dan menunggu pelanggan berikutnya.

*Bukan nama asli


Indonesia berada pada saat yang kritis untuk HIV/AIDS: Indonesia adalah salah satu dari sembilan negara di dunia dimana tingkat infeksi meningkat.

Sekarang ini UNICEF sedang mendukung Program Pendidikan Kecakapan Hidup HIV/AIDS di Papua. Program ini membantu para remaja memperoleh pengetahuan dan mengakses layanan untuk melindungi mereka dari penularan HIV/AIDS.

Ada sekitar 50.000 infeksi HIV baru di kalangan remaja berusia 15-19 pada 2014, termasuk 15 persen infeksi baru. Saat ini ada sekitar 220.000 remaja yang hidup dengan HIV di Asia Pasifik, dengan 15.000 infeksi baru di Indonesia tahun lalu. 

U-Report Indonesia Resmi Diluncurkan

U-Report Indonesia Resmi Diluncurkan

Oleh Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer 

Jeffery Hall dan Vania Santoso dari UNICEF Indonesia Innovation Lab bicara tentang U-Report. ©UNICEF Indonesia/2015 /Nick Baker 

Jakarta, INDONESIA 4 Desember 2015 - UNICEF resmi meluncurkan U-Report Indonesia: Sebuah platform inovatif baru yang memberikan kesempatan kepada anak-anak muda untuk bicara tentang isu-isu yang mempengaruhi hidup mereka.

Ratusan anak muda Indonesia menghadiri acara peluncuran di Jakarta, dimana para anggota UNICEF Indonesia Innovation Lab menjelaskan tentang bagaimana U-Report bekerja dengan menggunakan ponsel.

U-Report Indonesia adalah sistem jajak pendapat berbasis Twitter yang memungkinkan anak-anak muda berbagi tentang pendapat mereka tentang topik-topik penting mulai dari pendidikan hingga kesehatan dan pemerintahan," kata UNICEF Indonesia Innovation Lead Jeffery Hall.


"Jawaban yang masuk kemudian dianalisis dan informasi ini dibagi dengan mitra-mitra kunci seperti pemerintah. Jadi kami membantu menjadikan suara anda didengar. Para U-Reporter tidak hanya mengirim Tweet (pesan), tetapi mereka juga memberikan kontribusi kepada masyarakat dan hak anak."


Anak-anak muda Indonesia melakukan curah pendapat (brainstorming) pada peluncuran U-Report. ©UNICEF Indonesia/2015.

UNICEF juga menggunakan acara tersebut untuk mengumpulkan masukan tentang topik-topik tambahan yang ingin didiskusikan oleh para peserta tentang U-Report. Anak-anak muda melakukan curah pendapat (brainstorming) melalui metodologi inovatif yang disebut diskusi Open Space. Topik-topik yang menarik perhatian antara lain merokok sebagai krisis kesehatan yang akan datang, tantangan dan peluang bagi anak muda penyandang cacat, dan ekonomi kreatif.

Gerakan  Pramuka Indonesia, juga tampil di acara tersebut. UNICEF baru-baru ini menandatangani perjanjian kemitraan dengan Pramuka untuk meningkatkan U-Report di Indonesia. Pramuka Indonesia merupakan gerakan kepanduan terbesar di dunia dengan sekitar 20 juta anggota.


Nining Lasiyati dari Pramuka bicara pada acara tersebut. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker  

U-Report pertama kali diluncurkan di Uganda oleh UNICEF global Innovation Lab. Sejak saat itu U-Report telah diadopsi oleh 17 negara. U-Report Indonesia telah berada dalam tahap pengembangan sejak 2014 dan telah memiliki 40.000 U-Reporters selama periode tersebut.

Pada 2015, UNICEF telah menggunakan U-Report untuk melakukan survei tentang kekerasan terhadap anak. Para peserta menyatakan pandangan mereka tentang tanggung jawab pemerintah untuk menanggulangi kekerasan, tentang kesadaran masyarakat dan tentang peran anak muda dalam mengatasi masalah yang mempengaruhi ribuan anak dan remaja di seluruh Indonesia. Jawaban ini digunakan sebagai masukan oleh pemerintah dalam menyusun Strategi Nasional tentang Kekerasan terhadap Anak 2015-2019.


Goodwill Ambassador UNICEF David Beckham bahkan hadir melalui video untuk mempromosikan U-Report. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker  

Selama acara tersebut, jumlah U-Reporter terus meningkat seiring dengan banyaknya peserta yang mendaftar dan mempromosikan platform. Jumlah ini sepertinya akan terus meningkat pada masa-masa yang akan datang.

"Kami ingin memberdayakan sebanyak mungkin anak muda Indonesia untuk bicara dalam pembangunan negara mereka," kata Jeffrey.

"Ini adalah saat yang sangat menarik. Kisah U-Report Indonesia baru saja dimulai."


Anggota U-Reporter baru. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Laporan global UNICEF: Kematian anak di Indonesia menurun drastis tapi masih banyak tantangan yang harus dihadapi

Laporan global UNICEF: Kematian anak di Indonesia menurun drastis tapi masih banyak tantangan yang harus dihadapi

Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer 

Sekitar 4,5 juta anak Indonesia berhasil diselamatkan sejak 1990. ©UNICEF Indonesia/2015

Laporan global UNICEF menggarisbawahi pencapaian gemilang Indonesia dalam mengurangi kematian anak.

Laporan berjudul Promise Renewed: 2015 Progress Report menyatakan bahwa tingkat kematian balita saat ini berada di angka 27 kematian per 1.000 kelahiran jika dibandingkan dengan 85 kematian per 1.000 kematian di tahun 1990.

Pada 1990, sebanyak 395.000 anak meninggal di Indonesia sebelum mencapai usia lima tahun. Angka itu menurun menjadi 147.000 pada 2015. “Angka ini masih mengejutkan, tapi hal ini juga berarti bahwa sekitar 4,5 juta anak akan meninggal dunia jika angka kematian masih sama dengan tingkat pada tahun 1990,” kata Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Gunilla Olsson.


Laporan itu memasukkan Indonesia ke dalam kelompok 24 negara dari 81 negara berpenghasilan rendah dan menengah yang berhasil mengurangi kematian balita hingga dua pertiga dalam periode tersebut – yang merupakan target Tujuan Pembangunan Millenium Empat (Millennium Development Goal Four).

Solusi sederhana dan berdampak besar yang digabungkan dengan pertumbuhan ekonomi diyakini berkontribusi terhadap pengurangan dramatis kematian balita, termasuk perluasan jangkauan imunisasi, pemberian ASI eksklusif dan diagnosis serta perawatan tepat penyakit-penyakit umum. Ini adalah area di mana UNICEF dan mitra-mitra pembangunan memberikan dukungan pada tingkat nasional dan lokal.


Angka global dari laporan Promise Renewed. ©UNICEF/2015

Ibu Gunilla juga menggunakan laporan tersebut untuk menggarisbawahi betapa banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan untuk mengurangi kematian anak: “Angka-angka terbaru ini menyembunyikan disparitas di Indonesia. Data yang ada menyatakan bahwa kematian anak di Papua lebih dari tiga kali kematian anak di Jakarta. Dan disparitas-disparitas lainnya juga tersebar di berbagai kuintil kekayaan.”

Hampir separuh kematian balita terjadi di bulan pertama setelah kelahiran dan kebanyakan diakibatkan komplikasi dari kelahiran premature, asfiksia dan infeksi parah. “Untuk menghapus semua ini memerlukan sistema kesehatan yang dapat memberikan layanan berkualitas selama 24 jam dan semua wilayah negara ini,” kata Ibu Gunilla.

Ke depan, hal yang sangat penting adalah memastikan agar kematian anak terlacak, terpantau dan dibahas di tingkat subnasional untuk perbaikan. Ada pula peluang untuk meningkatkan akses ke intervensi berbasis bukti. Intervensi ini meliputi solusi rehidrasi oral dan zinc untuk diare serta vaksin-vaksin manjur yang belum diperkenalkan di Indonesia.


Masih banyak balita Indonesia yang masih bisa diselamatkan. ©UNICEF Indonesia/2014

2015 merupakan momen penting dalam upaya global untuk membahas kematian anak. Akhir bulan ini, 193 pemerintah akan bertemu di Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa dan menyetujui Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) – yang merupakan peta jalan untuk kemajuan manusia dalam 15 tahun mendatang. Salah satu tujuan itu adalah mengurangi kematian balita menjadi 25 (atau lebih kecil lagi) per 1.000 kematian di setiap negara pada 2030.

“Indonesia harus memanfaatkan kesuksesan ini dan mengurangi kematian anak dalam tahun-tahun mendatang,” kata Ibu Gunilla. “Kami tetap berkomitmen untuk bekerja sama dan memastikan bahwa kemajuan terjadi di setiap bagian negara ini. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan tentang kematian balita hanya bisa disebut tercapai jika setiap provinsi dan setiap kabupaten di kepulauan ini berhasil mencapainya.”


Masa Kecil yang Tercuri: Pengantin Anak di Sulawesi Barat

Masa Kecil yang Tercuri: Pengantin Anak di Sulawesi Barat

Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

"Saya lebih senang menjadi pelajar dari pada ibu," kata Sari*, sambil menggendong anaknya. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker.

Desa-desa kecil yang tak terhitung jumlahnya memagari garis pantai Pulau Sulawesi. Deretan rumah panggung (rumah tradisional) berjajar di antara pantai-pantai nan indah dan hutan hijau membentang. Laksana taman firdaus. Tetapi pemandangan Indah ini sesungguhnya menyimpan krisis tersembunyi.

Sulawesi Barat memiliki tingkat perkawinan usia anak yang cukup mengkhawatirkan. Provinsi ini memiliki prevalensi terbesar anak perempuan yang menikah pada usia 15 tahun atau lebih muda di Indonesia. Karena berbagai alasan, seperti budaya, agama, ekonomi, masa kecil anak-anak perempuan hilang di daerah ini setiap harinya.

Ayu* adalah salah satu dari anak-anak perempuan tersebut. Perempuan belasan tahun yang bertutur-kata lembut ini tinggal di sebuah desa pertanian sepi yang disebut Amara*. "Ibu dan nenek saya keduanya menikah pada usia 14 tahun," katanya. Tradisi keluarga berjalan terus: "Saya berusia 15 tahun ketika saya menikah dengan suami saya, Ganes, yang berusia 23 tahun."


Ayu dan Ganes menikah di Kantor Urusan Agama (KUA) setempat. Ayu memalsukan usianya. Pemalsuan seperti ini merupakan praktek yang sudah biasa dilakukan di desanya karena sebagian besar anak tidak memiliki akte kelahiran. "Saya hanya mengatakan kepada mereka saya berusia 18 tahun," katanya.

Para imam setempat tampaknya tidak melihat usia sebagai penghalang pernikahan. "Apakah anak telah akil balig atau belum ketika mereka berusia sembilan tahun, mereka sudah seharusnya bisa menikah," salah satu dari mereka menyatakan hal ini. "Pemerintah hanya mengijinkan orang untuk menikah [pada usia yang lebih dewasa] yang menurut saya tidak sepenuhnya benar."

Dengan restu seorang imam, pasangan Ayu dan Ganes memasuki kehidupan perkawinan bersama. Ayu segera hamil. Akan tetapi, hubungan mereka mulai retak. "Kami mulai bertengkar," kata Ayu. Perdebatan sengit semakin biasa terjadi. "Kemudian suatu hari Ganes mengemasi tasnya dan meninggalkan rumah."

Tak lama kemudian Ayu melahirkan dan menjadi orangtua tunggal. Rencana sekolah, pekerjaan dan masa depan semuanya harus dikesampingkan. Sambil mengayun-ayun anaknya sampai tertidur, Ayu tampak lesu. "Saya baik-baik saja sekarang. Tetapi saya sering marah, "katanya.

Sari dan Dewi adalah dua anak perempuan dari desa terdekat yang bernama  Kenanga. Keduanya tumbuh di rumah bertetangga yang hanya dipisahkan oleh sebidang sawah. Mereka berbagi  masa kecil bersama: sekolah, hobi, olahraga. Dan kehidupan mereka berubah dramatis ketika keduanya menikah tahun lalu;  dengan laki-laki yang sama.

Ibu Dewi mengeluh. Ia mengaku awalnya berharap banyak pada pernikahan anak perempuannya yang berusia 15 tahun dengan seorang laki-laki usia 25 tahun yang bernama Hazar. "Kami tidak bisa membeli pakaian dan hal-hal lain yang ia perlukan," kata Ibu Dewi. "Saya kira nasibnya akan menjadi lebih baik jika ada orang yang merawatnya."

Tetapi pernikahan mereka tidak berlangsung lama. Segera setelah pernikahan, Hazar memutuskan untuk pindah ke tempat lain di Indonesia. Penduduk desa berpikir  bahwa ia bekerja di pulau Kalimantan, yang jauhnya beberapa ratus mil.

Hazar tidak hanya meninggalkan istri-istri barunya, tetapi juga anak laki-laki dari masing-masing istri. Sari dan Dewi sekarang menghabiskan hari-hari mereka dengan menjalani kehidupan sebagai ibu, jauh sebelum waktunya. Tanggung jawab dan beban kerja seringkali melampaui kemampuan mereka.

Sari mengatakan bahwa ia merindukan kehidupan lamanya. "Saya lebih senang menjadi pelajar dari pada ibu," katanya, sambil menggendong anaknya. "Ketika saya masih di sekolah, semuanya lebih baik."

Seorang ibu dan anak laki-lakinya di Sulawesi Barat. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Ini adalah perasaan yang juga disampaikan oleh Intan di desa tetangga Tambala. Perempuan berusia 16 tahun ini memiliki latar belakang yang sangat berbeda dengan banyak pengantin anak lainnya di daerah tersebut. Ia berasal dari keluarga yang sangat kaya.

Awal tahun lalu, terjadi hubungan asmara antara Intan dan seorang anak laki-laki bernama Amet. Awalnya dimulai dari pertukaran pesan teks sederhana, yang kemudian berkembang dengan cepat menjadi sesuatu yang lebih serius. Intan sangat terkejut. Ia hamil.

"Saya tidak tahu jika hubungan seksual dapat menyebabkan kehamilan," kata Intan. Ini merupakan pengakuan umum anak-anak perempuan di sekitar Sulawesi Barat, bahkan mereka yang berada pada pertengahan sampai akhir remaja. Tabu tentang seks, khususnya pergaulan bebas (seks di luar nikah) berarti bahwa masalah tersebut jarang dibicarakan.

Kehamilan yang tidak direncanakan kerap mendasari pernikahan yang terburu-buru. "Ketika seorang anak perempuan hamil, ia harus menikah," kata kepala desa. Umur tidak menjadi masalah. "Tidak apa-apa bagi perempuan untuk menikah pada usia 15 tahun. Hal ini sangat disayangkan, namun masih banyak orang di dalam komunitas kita yang mendukung pandangan ini, "katanya.

Intan mengatakan, "Karena saya hamil, saya diijinkan untuk menikah". Ia mengatakan bahwa hari pernikahannya “seperti kabur”. Sejak meninggalkan sekolah, Intan menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah. "Saya ingin kuliah seperti saudara- saudara saya lainnya," katanya. "Sekarang saya tidak bisa menentukan impian saya. Sulit untuk membayangkannya."

Sulit bagi kebanyakan pengantin anak di Sulawesi Barat untuk membicarakan masa depan. Setelah menikah, kegiatan mereka hampir seluruhnya dipusatkan pada tugas-tugas rumah tangga. Belajar dan berkembang berubah menjadi memasak dan memelihara kebersihan.

Kasus serupa juga terjadi pada Dina di desa Mahara. Tahun yang lalu, ia duduk di bangku Kelas 3 SMA. Peluang setelah lulus  nampak terbuka luas. Akan tetapi, atas dorongan dari keluarganya, Dina meninggalkan sekolah dan menikah dengan teknisi perbaikan mobil setempat.

"Ibu saya juga menikah muda," kata Dina di ruang tamu rumah barunya. Hari-harinya sangat berbeda dengan ketika ia masih menjadi pelajar. "Sekarang saya menyiapkan semua makanan untuk keluarga saya. Saya melakukan semua pekerjaan rumah. Dan dia mengerjakan tugas tambahan menjadi seorang ibu baru. "Suami saya tidak mengurus anak kami sehingga saya juga bertanggung jawab untuk mengurusnya".

Bukan keinginan Dina untuk mengalami transisi yang tidak mulus untuk menjadi orang dewasa. Kadang-kadang ia memikirkan kembali apa yang telah terjadi. "Saya ingin kembali ke sekolah. Mungkin setelah setahun," katanya. Tetapi untuk saat ini, yang ia pikirkan adalah apa yang harus ia siapkan untuk makan malam. "Saya senang memasak ikan dan sayuran."

Ada penerimaan yang sunyi dari kasus Ayu, Sari, Dewi, Intan dan Dina. Masyarakat tampaknya menerima saja perkawinan usia anak sebagai bagian dari struktur sosial. Dampak dan akibat dari perkawinan usia anak jarang dibicarakan. Keprihatinan, apalagi ketidaksetujuan terhadap dampak perkawinan anak tampaknya tidak mengemuka pada masyarakat Sulawesi Barat.

Jika ’kesunyian’ ini tidak segera dipecahkan, maka keadaan ini akan terus berlanjut untuk waktu yang sangat lama.

* Nama anak-anak perempuan dan desa-desa di atas bukan nama asli.


Perkawinan usia anak merupakan hal yang umum di seluruh Indonesia dimana satu dari enam anak perempuan menikah sebelum ulang tahun ke-18 mereka. Undang-undang perkawinan saat ini memungkinkan anak laki-laki untuk menikah pada usia 19 tahun, tetapi anak perempuan dapat menikah pada usia 16 tahun. UNICEF mengadvokasi dan mendukung berbagai upaya untuk mengatasi perkawinan usia anak di Indonesia, menjangkau anak-anak, orang muda, keluarga, masyarakat serta pemerintah Indonesia. 

Tahun ini merupakan saat yang historis bagi upaya-upaya global untuk mengakhiri perkawinan usia anak. Pada bulan September, Pemerintah di setiap negara di seluruh dunia akan menyetujui untuk menghapus perkawinan usia anak pada tahun 2030 sebagai bagian dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG).


Perkawinan Anak Menjadi Perhatian Penting di AJI-UNICEF Media Awards 2015

Perkawinan Anak Menjadi Perhatian Penting di AJI-UNICEF Media Awards 2015

Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer


Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Gunilla Olsson menyapa para wartawan di AJI-UNICEF Media Awards 2015 ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker


JAKARTA, Indonesia, 13 Agustus 2015
– Prevalansi yang tinggi dan dampak negatif perkawinan usia anak di Indonesia menjadi fokus penting dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) and UNICEF Media Awards 2015 di Jakarta.

AJI-UNICEF Media Awards  diadakan setiap tahun sejak 2006 untuk menghargai keunggulan karya jurnalistik tentang isu hak-hak anak. Untuk tahun ini total 318 peserta mengirimkan cerita, foto, liputan TV dan radio.

Perkawinan usia anak dipilih menjadi fokus acara tahun ini. Hal ini relevan dengan keputusan Mahkamah Konstitusi yang menolak perubahan isi undang-undang pernikahan Indonesia yang sudah ada — memperbolehkan anak perempuan untuk menikah pada usia 16 tahun, sedangkan anak laki-laki pada usia 19 tahun. Keputusan ini telah membuka dialog nasional seputar perkawinan usia anak.
“Satu dari enam anak perempuan menikah sebelum berusia 18 tahun – angkanya mencapai 340.000 setiap tahun. Sedangkan 50.000 anak perempuan lain menikah sebelum usia 15 tahun. Setiap anak-anak ini kehilangan masa kanak-kanaknya,” ujar Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Gunilla Olsson.

“Pengantin muda lebih berisiko untuk putus sekolah; hamil terlalu cepat, yang mengakibatkan sejumlah risiko kesehatan yang berbahaya bagi ibu dan bayinya; dan terjebak kemiskinan yang kemudian diteruskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Dengan demikian, perkawinan anak terus menjadi beban di Indonesia,” ujar Ibu Gunilla.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Ibu Yohana Yembise menegaskan keterkaitan perkawinan anak dengan kekerasan: “Banyak anak perempuan yang menikah diumur yang masih sangat muda menjadi korban kekerasan.” Oleh karena itu, beliau menekankan bahwa isu perkawinan anak adalah isu perkembangan yang sangat penting. “Negara kita tidak akan mampu berkompetisi untuk beberapa dekade ke depan jika anak-anak kita tidak mendapatkan awal kehidupan yang terbaik.”


The 2015 AJI-UNICEF Media Awards panel discussion ©UNICEF Indonesia/2015/Rafael Klavert

UNICEF dan AJI menggunakan kesempatan ini untuk mengadakan diskusi panel terkait perkawinan usia anak. Tokoh pemerintah dan mitra masyarakat madani mendiskusikan penyebab, efek dan solusi-solusi yang ada untuk isu ini. 

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’thi tidak setuju dengan konsepsi bahwa Islam mendukung perkawinan anak. “Beberapa pihak dalam agama Islam berpikir bahwa anak perempuan boleh menikah jika sudah bisa bereproduksi, tetapi pernikahan bukanlah sekedar kematangan fisik, tetapi juga kematangan intelektual dan spiritual, “ ujar Pak Abdul.

Beliau juga menegaskan bahwa perkawinan anak kerap kali menyebabkan putus sekolah — dengan dampak negatif. “Indonesia akan memiliki generasi yang kuat jika para ibu juga berpendidikan. Setiap anak perempuan harus memiliki kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan mereka,” ujarnya.

Anggara Suwahju dari Koalisi 18+ mengatakan bahwa perbedaan peraturan dalam undang-undang pernikahan di Indonesia, yang memperbolehkan anak perempuan untuk menikah pada umur 16 tahun sedangkan untuk anak laki-laki pada umur 19 tahun, mendorong perkawinan anak. “Angka perkawinan anak yang tinggi di Indonesia menghalangi negara kita untuk bersaing di kancah global,” ujarnya.

Anggota Senior AJI dan Ketua South-East Asia Press Alliance Eko Maryadi mengajak para wartawan yang datang untuk terus berkomitmen dalam mengangkat isu hak-hak anak dan menyampaikannya ke publik. “Perkawinan anak kerap kali tersembunyi di balik isu-isu lain,” ujarnya, “tetapi semoga hal ini tidak akan terus berlanjut untuk ke depannya.”


Video animasi UNICEF terbaru tentang perkawinan usia anak di Indonesia ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Video animasi UNICEF terbaru tentang perkawinan usia anak di Indonesia juga diluncurkan dalam rangkaian acara AJI-UNICEF Media Awards 2015. Animasi ini menceritakan bagaimana keputusan menikah atau tidak menikah diusia muda adalah titik penting bagi anak perempuan di Indonesia — pernikahan bisa membatasi mereka dengan tantangan pendidikan, finansial dan kesehatan, sementara menunda pernikahan akan berbuah pada kehidupan yang sejahtera dan Indonesia yang lebih kuat.

Video ini, diskusi panel dan karya jurnalistik tentang perkawinan anak merepresentasikan langkah penting dalam membawa isu genting ini ke ranah publik.

Pemenang dari masing-masing kategori adalah:

Cetak/online: Bayu Maitra, Majalah Reader’s Digest Indonesia – “Perspektif Thomas”.
Fotografi: Wendra Ajistyatama, The Jakarta Post – “Commute”.
Radio: Purwoto, Radio Suara Pacitan – “Mereka Korban Nikah Dini”.
Televisi: Karya Budi Santoso and Rebecca Henschke, Tempo TV – “Child Jockey”.


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia