Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label imunisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label imunisasi. Tampilkan semua postingan
Imunisasi untuk Tian dan Mimpi Anak Indonesia

Imunisasi untuk Tian dan Mimpi Anak Indonesia

Oleh: Dinda Veska – PSFR Communication Officer

 
Jari kelingking Tian (6) dicoret dengan spidol, pertanda telah mendapat imunisasi Campak dan Rubella. @Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2017

Masih terlalu pagi ketika Tian berlari dengan penuh tawa dan riang gembira menuju sekolah yang berjarak satu gang dari rumah. Akhir pekan sebelumnya ibu guru sudah memberi pengumuman bahwa hari ini sekolah akan kedatangan petugas imunisasi.

Kebanyakan anak yang bersekolah di TK Serba Guna, Tegal Sari, Surabaya ini tidak berdaya menghadapi jarum suntik. Saat petugas imunisasi tiba di sekolah, kehebohan dimulai dengan jeritan anak perempuan dan tangisan beberapa anak laki-laki.

Tetapi tidak dengan Tian, ketika Petugas Imunisasi tengah sibuk menyiapkan peralatannya, Tian justru
dibuat penasaran dan memperhatikan dengan seksama persiapan dari para petugas kesehatan.

“Ini apa bu? Ndak sakit kan bu? Tian yang pertama ya bu!”, ucap Tian sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.
Menurut Ibu Kepala Sekolah, Tian selalu hadir di hari imunisasi, bahkan tanpa ditemani oleh ibu atau bapak. Sejak hari pertamanya mendapat imunisasi di Puskesmas, ia hanya diantar oleh sang nenek.


Tian diimunisasi vaksin Campak dan Rubella. @Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2017

Imunisasi yang didapatkan Tian kali ini berguna untuk melindunginya dari virus Campak dan Rubella. Menurut Dokter Kenny Peetosutan – Spesialis Kesehatan UNICEF Indonesia, dari 2010-2015 ada sekitar 30.000 kasus Rubella yang menyerang perempuan maupun laki-laki di negeri ini, terutama anak-anak. Untuk itu Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan memberikan Imunisasi Campak dan Rubella secara massal yang telah dimulai sejak awal Agustus kemarin dan UNICEF mendukung penuh upaya pemerintah dalam mengurangi jumlah kasus Campak dan Rubella di Indonesia.

Dalam hal ini tim UNICEF mendukung pemerintah untuk memastikan setiap anak mendapatkan imunisasi. Selain Tian, hampir 13 juta anak lainnya di Pulau Jawa telah terimunisasi per minggu kedua bulan Agustus 2017.

Setiap harinya selama Kampanye Imunisasi Campak dan Rubella berlangsung, UNICEF melakukan real time data monitoring menggunakan Rapid Pro System. Di mana data-data tersebut diperbaharui oleh para petugas kesehatan di lapangan melaui pesan singkat (SMS). Dengan adanya teknologi Rapid Pro ini, diharapkan semua anak dapat dipastikan terimunisasi dan terlindungi dari Campak dan Rubella.


Tian bersama anak-anak lainnya di TK Serba Guna, tegal Sari mengucapkan terima kasih. Kini mereka merdeka dari virus Campak dan Rubella. @Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2017

Tetapi, meskipun Tian telah terimunisasi bukan berarti ia benar-benar aman dari virus Campak dan Rubella. Hingga September nanti masih ada 23 juta anak di Pulau Jawa yang harus dipastikan mendapat imunisasi. Dr. Kenny Peetosutan kembali menjelaskan bahwa imunisasi merupakan langkah preventif untuk mencegah penyebaran penyakit dengan membentuk dan memperkuat kekebalan individu, serta kelompok terhadap beberapa penyakit menular yang bisa dicegah dengan imunisasi.

“Tetap ada potensi, karena kuman dan virus penyakit itu selalu ada di lingkungan kita. Makanya perlu dipastikan bahwa setiap anak terimunisasi lengkap, agar kekebalan tubuh pada suatu kelompok itu tetap tinggi. Sehingga virus itu kalah dan tidak bisa menulari kelompok tersebut”, ungkap Dokter Kenny.

Tian sepulang sekolah di rumah nenek. @Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2017

Tentunya hal tersebut tidak akan tercapai tanpa dukungan dari semua pihak, termasuk para donatur UNICEF yang terus memberikan kebaikannya. Selain menolong anak-anak melaui upaya-upaya yang dilakukan UNICEF, kebaikan tersebut juga membuat Tian tetap bisa meraih mimpi kecilnya, mimpi yang sangat sederhana.

 “Tian ingin tetap sehat kak, nanti kalau sudah besar Tian ingin menyusul Ibu ke kampungnya.” Anak berusia 6 tahun ini ingin tetap tumbuh sehat agar kelak dapat bertemu dengan ibunya – yang pergi sejak Tian berusia 2 minggu.

Pada kenyataannya, imunisasi Campak dan Rubella bukan sekedar untuk memenuhi hak-hak anak. Dibalik setiap satu dosis vaksin dalam suntikan yang diberikan oleh petugas kesehatan, ada banyak mimpi dari jutaan Anak Indonesia yang akan diraih untuk kebahagiaan mereka kelak di masa depan.
                          




Kampanye Nasional Imunisasi Campak-Rubella Dicanangkan

Kampanye Nasional Imunisasi Campak-Rubella Dicanangkan

Oleh: Cory Rogers, Communications Officer

Anak-anak bermain di luar sekolah sebelum peluncuran kampanye imunisasi Campak Rubella di Sleman, Yogyakarta. Program imunisasi adalah bagian dari komitmen pemerintah untuk membuat Indonesia bebas Campak dan Rubella pada 2020 © Cory Rogers / UNICEF / 2017


Yogyakarta: Pekan ini di Yogyakarta Pemerintah Indonesia mencanangkan insiatif imunisasi, yang terbesar sejauh ini, dengan target memberikan vaksin campak dan rubella (MR) pada 35 juta anak di Jawa pada akhir bulan. Untuk provinsi-provinsi lain di luar Jawa, kampanye ini ditargetkan menjangkau 35 juta anak pada bulan Agustus dan September 2018.

Peluncuran kampanye yang dilaksanakan di sekolah MTs Negeri 10 Sleman, Yogyakarta, diresmikan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo. “Ini namanya menjaga anak,” ujar Presiden Jokowi dalam sambutannya di hadapan ratusan warga yang hadir di sekolah Yaitu membuat anak anak kita tetap sehat. “Dan ini adalah tugas setiap orang tua, dan juga tugas dari negara.



Presiden Jokowi menyempatkan diri duduk di salah satu ruang kelas bersama para murid yang menanti giliran vaksin. Vaksin MR diberikan pemerintah kepada anak antara usia 9 dan 15 tahun tanpa dipungut biaya dan akan dijadikan salah satu rangkaian imunisasi rutin. Pemerintah ingin mencapai tingkat jangkauan 95 persen di akhir September 2018 dan menghapuskan kedua penyakit pada 2020 © Cory Rogers / UNICEF / 2017


Seorang anak perempuan mendapat vaksin MR. Vaksin ini mencegah kedua penyakit dan digunakan oleh lebih dari 141 negara di dunia. Setelah diberikan di sekolah-sekolah pada bulan Agustus, lokasi pemberian vaksin akan berpindah ke tingkat posyandu dan puskesmas pada bulan September © Cory Rogers / UNICEF / 2017
  

Grace Melia, pendiri komunitas daring Rumah Ramah Rubella untuk para orangtua, bicara soal tantangan merawat putrinya, Aubrey, yang terlahir dengan Sindrom Rubella Kongenital (SRK) yang cukup berat. Rubella, yang hanya menimbulkan gejala ringan pada anak-anak dan orang dewasa, dapat berakibat fatal apabila menginfeksi ibu hamil. Penyakit ini dapat mengakibatkan keguguran ataupun SRK yang mengganggu pertumbuhan janin dan menyebabkan cacat jantung bawaan, kerusakan selaput otak, katarak, gangguan pendengaran, dan keterlambatan perkembangan © Cory Rogers / UNICEF / 2017


Dari kiri ke kanan; Presiden Jokowi, Ibu Negara Iriana, Gubernur Yogyakarta Sultan Hamengkubuwono X, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Budaya Puan Maharani, dan Menteri Kesehatan Nina Moeloek berbincang dengan tiga murid di akhir acara peresmian kampanye. Sebagian besar sekolah di Indonesia setuju untuk memberikan imunisasi. Namun, di sebagian kecil kelompok masyarakat, kekeliruan informasi menyebabkan vaksin dianggap haram, atau dilarang menurut Islam. UNICEF bekerja sama erat dengan Pemerintah untuk menanggulangi mitos yang beredar ini menggunakan strategi penjangkauan dan menonjolkan kalangan Muslim yang secara luas menerima imunisasi © Cory Rogers / UNICEF / 2017


Memenuhi Hak Anak untuk Aris

Memenuhi Hak Anak untuk Aris

Oleh: Dinda Veska, Fundraising Communication Officer


Aris (7) usai sembuh dari demam akibat Virus Rubella
© Dinda Veska/ UNICEF / 2017

Demam dan Campak Jerman
Keceriaan dan aktifitasnya di sekolah terganggu tiba-tiba saja pada Februari kemarin, Aris (7 tahun) mengalami demam tinggi hingga 38 derajat celcius sepulang dari sekolah. Ibunya yang juga merupakan seorang kader kesehatan memberikan Aris obat penurun demam dan mengompresnya. Hingga malam hari suhu tubuhnya tidak kunjung menurun.

Keesokan harinya Aris dibawa ke Puskesmas Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Petugas kesehatan setempat mengambil contoh darah Aris untuk diperiksakan ke laboratorium di Yogyakarta. Selang beberapa hari hasil pemeriksaan darah Aris menunjukkan bahwa
ia positif terkena virus Rubella atau biasa disebut dengan Campak Jerman.

Berakibat fatal pada ibu hamil
Saat mengetahui hal tersebut, Ibu Diah cukup panik memikirkan dampak kesehatan yang akan terjadi pada anaknya. Sedikit banyak beliau mengetahui bahwa virus Rubella sangat berbahaya, ia khawatir anaknya juga akan mengalami katarak, gangguan pendengaran atau gangguan kesehatan lainnya.

Tetapi setelah dijelaskan oleh petugas kesehatan di Kecamatan Bayat, Ibu Diah menjadi lebih tenang. Karena Virus Rubella yang menyerang Aris pada usia 7 tahun tidak akan berdampak fatal kecuali demam tinggi, pusing dan ruam-ruam kemerahan di kulit.


Ibu Diah bersama Aris dan anak ke empatnya.
© Dinda Veska/ UNICEF / 2017

Menurut Dokter Kenny Peetosutan – Spesialis Kesehatan UNICEF Indonesia - virus ini akan berdampak fatal jika menginfeksi ibu hamil, terutama pada kehamilan muda. “Janin yang masih dalam masa perkembangan di dalam kandungan berisiko menderita kelainan jantung, gangguan pada fungsi pendengaran, gangguan mata (katarak kongenital) dan gangguan kesehatan lainnya”, ungkap Dokter Kenny.

Setiap tahunnya 100.000 bayi di dunia lahir dengan Congenital Rubella Syndrom (CRS) atau berbagai gangguan pada organ seperti yang disebutkan oleh Dokter Kenny di atas.

Di Kabupaten Klaten sendiri, terhitung mulai 2016 sudah ada 7 orang anak terkena virus Rubella. Sejauh ini penanganan yang dilakukan pihak Puskesmas Kecematan Bayat kepada Aris dan anak-anak tersebut adalah dengan memberikan Vitamin A dan pengobatan tertentu sesuai dengan gejala yang diderita anak.

Virus Rubella mengancam di sekitar kita

Meskipun saat ini Aris telah sembuh dan dinyatakan bebas virus. Namun Rubella masih mengancam di sekitar Aris dan jutaan anak Indonesia lainnya. “Virus ini masih ada di sekeliling kita dan dapat menyerang siapa saja dan kapan saja”, jelas Dokter Kenny.

Aris bersama teman-temannya di seklolah.
© Dinda Veska/ UNICEF / 2017

Imunisasi cegah rubella
Masih ada harapan untuk Aris dan anak-anak lainnya agar terhindar dari virus ini. Pada bulan Agustus 2017 nanti, Pemerintah Indonesia akan melaksanakan Kampanye Imunisasi Measles (Campak) Rubella (MR). Sekitar 35 Juta anak usia 9 bulan hingga usia di bawah 15 tahun di Pulau Jawa akan mendapat imunisasi MR guna mencegah mereka terinfeksi virus Rubella. Imunisasi ini juga akan menyasar sekitar 32 Juta anak lainnya di luar Pulau Jawa di 2018.  

Balqish (2 bulan) mendapat Imunisasi Rutin dari Puskesmas Kecamatan Bayat
© Dinda Veska/ UNICEF / 2017

Bersama UNICEF memastikan setiap anak bebas Rubella
Untuk memastikan setiap anak mendapat imunisasi Measles Rubella ini, UNICEF mendukung upaya pemerintah dengan melakukan mobilisasi sumber daya dan pemantauan untuk menjangkau anak-anak yang rentan dan berada di area yang sulit dijangkau.

Selain mengubah masa depan Aris dan setiap anak lainnya menjadi lebih baik, kampanye imunisasi Measles Rubella ini juga akan memenuhi hak dasar anak sesuai dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan.

Peran serta dan dukungan masyarakat luas juga sangat dibutuhkan untuk mendukung kampanye imunisasi ini. Melalui kampanye ini, kita bisa mencegah bayi lahir dengan resiko gangguan cacat organ atau gangguan kesehatan lainnya.

Ayo ikut serta memenuhi Hak-hak Anak Indonesia!

Teknologi RapidProMendukung Pekerjaan UNICEF untuk Memvaksinasi Anak-anak

Teknologi RapidProMendukung Pekerjaan UNICEF untuk Memvaksinasi Anak-anak

Oleh Kristi Eaton, Communications and Knowledge Management Officer, UNICEF Indonesia


Lilis gugup. Anak laki-lakinya yang berusia 2 dan 4 tahun sedang bersiap-siap menerima vaksinasi polio, dan dia khawatir mereka mungkin menangis. Mereka merapatkan diri ke Ibu mereka saat ia berbicara di posyandu setempat di Cilincing, sebuah daerah dengan pendapatan rendah di Jakarta Utara, dan berusaha untuk menenangkannya.

Namun demikian, Lilis mengetahui betapa pentingnya vaksinasi.

“Ini sangat penting untuk mereka supaya tidak sakit polio, karena kaki mereka bisa menjadi tidak berfungsi,” katanya.

Indonesia menempati urutan ke enam di dunia dalam jumlah bayi yang tidak divaksinasi atau belum divaksinasi lengkap. Setiap tahun, diperkirakan 700,000 bayi tidak menerima layanan imunisasi. Daerah perkotaan berpendapatan rendah seperti Cilincing terutama sangat beresiko untuk kurang imunisasi, membuat anak-anak rentan terhadap wabah campak, polio, dan diphtheria. UNICEF mendukung pemerintah untuk mengubah situasi ini _ memanfaatkan teknologi komunikasi baru yang memungkinkan pemantauan yang lebih baik dan intervensi yang menargetkan sistem yang gagal berfungsi.



Di tempat-tempat seperti Cilincing, petugas kesehatan terus menghadapi tantangan karena bisa sangat sulit untuk melacak dan memonitor setiap anak yang menerima vaksinasi yang diperlukan. Inilah dimana program baru mulai bekerja. Pada tahun 2015, UNICEF mulai membuat percontohan teknologi RapidPro, sebuah program yang menggunakan pesan singkat SMS untuk mengumpulkan, memonitor dan menyebarkan informasi kesehatan.

Dengan menggunakan teknologi RapidPro, layanan kesehatan mampu mengidentifikasikan lokasi lingkungan beresiko tinggi dan memverifikasi vaksin bulanan pada pusat kesehatan. Melacak bayi-bayi yang belum mendapatkan dosis vaksinasi dan mengirimkan pesan yang mengingatkan orang tua terhadap jadwal vaksinasi juga memungkinkan di bawah teknologi RapidPro.

“RapidPro merupakan platform software open-source yang memungkinkan spesialis program dan non-coder menjalankan program pemantauan dan pelaporan berbasis SMS ponsel,” kata Jeffrey Hall, Innovation Lead UNICEF Indonesia. “Ini memanfaatkan teknologi komunikasi ponsel untuk mempercepat dan memperkuat hasil untuk anak-anak.”

Innovation Lab UNICEF Indonesia bekerja untuk meningkatkan dan mendorong partisipasi pemuda untuk memikirkan, menciptakan, mencoba dan menguji solusi kreatif yang dapat membantu meningkatkan kehidupan anak-anak dan pemuda di negara ini.

UNICEF memiliki Innovations Lab di sejumlah negara di seluruh dunia sekarang. Lab Indonesia dimulai pada tahun 2013 dengan pendanaan dari U.S. Fund’s Next Generation, sekelompok pemimpin muda, entrepreneur dan inovator berusia 20 hingga 30an yang berkomitmen untuk mendukung pekerjaan UNICEF.


Sejumlah anggota Next Generation melakukan perjalanan ke Indonesia dari Amerika Serikat baru-baru ini untuk melihat dari dekat bagaimana uang yang mereka kumpulkan membuat perubahan jangka panjang. Salah satu kunjungan lapangan mereka selama perjalanan satu minggu itu adalah ke Cilincing untuk melihat ratusan anak-anak menerima vaksinasi polio.

“Berada disini langsung adalah satu-satunya cara untuk benar-benar memahami energinya,” kata Bonner Campbell, 25 tahun dari Los Angeles, California, yang merupakan seorang analis keuangan senior di Netflix. “Saya memutuskan untuk mengunjungi Indonesia karena saya ingin mengetahui mengenai peran UNICEF di negara-negara berpenghasilan menengah, terutama bagaimana peran ini berinteraksi dengan program pemerintah. Pekerjaan yang dilakukan UNICEF dengan mitra programnya untuk mengadvokasi hak-hak anak sangat mengesankan.”


Butuh kematian satu anak untuk mengimunisasi anak berikutnya

Butuh kematian satu anak untuk mengimunisasi anak berikutnya

Junaedah, Kosir dan anak mereka Mohammad Faqih. "Bayi saya sekarang siap melawan penyakit."

Anak perempuan satu-satunya Junaedah, Soliha, kini seharusnya berusia 5 tahun. Namun seperti terlalu banyak anak-anak di Indonesia, si kecil Soliha meninggal baru 3 bulan yang lalu, akibat penyakit yang seharusnya mudah dicegah.

Meskipun demikian, kematiannya tidak sia-sia. Kejadian ini membantu memacu Junaedah, juga dikenal sebagai Juju, dan suaminya Kosir, untuk mengimunisasi anak termuda dari enam anak mereka, Mohammad Faqih.

Juju mengatakan ia sudah melihat perbedaan antara Mohammad Faqih dan kakak-kakaknya yang tidak diimunisasi.

“Anak-anak saya yang lain kecil dan kurus, berbeda dari anak bungsu saya yang gemuk dan sehat. Dia kebal dan jarang sakit,” kata Juju, yang berasal dari desar Kluwutdi Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Indonesia.

Juju sebenarnya mengimunisasi anak pertamanya, tetapi ketika ia menerima suntikan vaksin polio, ia mulai menangis dan demam. Ibu Juju kemudian melarang is untuk mengimunisasi cucu-cucu lainnya. Tetapi apa yang Juju and Ibu-nya tidak sadari adalah bahwa demam sesudah menerima imunisasi polio, yang merupakan salah satu dari lima vaksin dasar untuk melindungi bayi terhadap potensi penyakit, sebenarnya sangat normal.

Tahun lalu saja, sekitar 75 anak-anak di Brebes meninggal karena berbagai penyakit yang tidak dapat dicegah, termasuk diare dan infeksi. Pada kenyataannya, kecenderungan penyakit diare adalah paling tinggi di antara anak-anak yang belum menerima imunisasi. Pentingnya lima imunisasi dasar ini sering diabaikan ketika orang seperti Juju dan Ibu-nya tidak diberikan informasi yang cukup mengenai proses imunisasi. Konsekuensinya sangat besar: imunisasi bukan hanya mempengaruhi perlindungan anak terhadap penyakit, tetapi juga bahaya penularan pada anak-anak lain.

Ibu Junaedah menjual makanan buatan rumah berkisar Rp 1000,- Rp 2000,-

UNICEF, bersama dengan Kementerian Kesehatan dan LSM-LSM regional maupun lokal, bekerja  untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya imunisasi bagi anak dan mendidik orang tua tentang apa yang perlu diantisipasi selama proses imunisasi.

Sejak 2011, UNICEF telah berpartisipasi dalam beberapa upaya untuk memberdayakan masyarakat untuk memperbaiki situasi kesehatan di Brebes. Upaya itu termasuk pelatihan komunikasi untuk bidan dan relawan, serta pelatihan dan dukungan untuk pihak lain yang terkait dengan proses itu. Sebagai contohnya, UNICEF menyediakan material pada Program Keluarga Harapan (PKH), yang memberikan transfer tunai bersyarat pada rumah tangga dengan sosioekonomi rendah. Peserta harus memenuhi persyaratan tertentu untuk meningkatkan kualitas sumber dayanya, yaitu pendidikan dan kesehatan dasar untuk ibu hamil serta anak-anak pra sekolah.

Salah satu fasilitator PKH yang dilatih oleh UNICEF adalah Agus Tresnawati, yang juga dikenal sebagai Nana. Nana mengawasi lebih dari 300 rumah tangga, termasuk lebih dari 220 anak dan balita. Nana sebelumnya membuka sebuah pusat bahasa kecil miliknya sendiri di Jakarta sesudah belajar bahasa Arab, tetapi kembali ke Brebes atas permintaan Ibu-nya. Ia mengatakan bahwa in menikmati pekerjaan barunya dan merasa senang mengetahui bahwa ia berkontribusi terhadap masyarakat.

Selama berkeliling, ia kadang-kadang membawa anaknya sendiri sebagai contoh bagaimana anak yang sehat dan cerdas dapat tumbuh baik dengan pemberian ASI yang tepat, gizi yang baik dan imunisasi.

“Siapa lagi yang bisa membantu masyarakat saya jika saya tidak mulai dari diri sendiri?” katanya.

Dan tidak ada seorangpun selain Juju yang memahami betapa benarnya hal itu.

“Kadang-kadang saya masih menyesal tidak mengimunisasi anak perempuan saya” katanya sambil memeluk anak bungsunya yang gemuk itu. “Saya tidak bisa memutar waktu kembali tetapi saya sudah belajar.”

Mendidik melalui contoh. Memamerkan bayinya yang sehat dan cerdas menginspirasi ibu-ibu yang lain.

Telpon genggam yang menyelamatkan kehidupan

Telpon genggam yang menyelamatkan kehidupan


Bidan Maena Nhur Desita memberikan vaksin. ©UNICEF Indonesia/2015

Kedoya Utara merupakan salah satu daerah miskin di Jakarta. Kedoya Utara berada di antara sederetan megamall dan gedung pencakar langit sehingga daerah ini harus berjuang dengan kondisi hidup seadanya, saluran air yang kotor dan listrik yang tidak memadai.

Salah satu yang menjadi perhatian khusus di Kedoya Utara adalah tingkat imunisasi anak-anak yang sangat rendah. Hal ini menyebabkan mereka beresiko menderita penyakit yang mengancam jiwa seperti campak dan difteri.

"Terjadi kesenjangan ketidakadilan di Jakarta dan seluruh Indonesia. Anak dari keluarga miskin, terutama mereka yang tinggal di daerah-daerah kumuh, tidak terjangkau secara tetap untuk menerima dosis vaksinasi lengkap," kata Spesialis Kesehatan UNICEF Indonesia Dr. Kenny Peetosutan.


"Anak-anak yang tidak diimunisasi dapat menjadi ancaman potensial bagi anak-anak lain dalam masyarakat mereka," kata Dr. Kenny. "Oleh karena itu, dengan memastikan bahwa setiap anak menerima semua vaksin yang diperlukan, kita akhirnya dapat melindungi seluruh masyarakat." 

Daerah-daerah seperti Kedoya Utara memberikan sejumlah tantangan bagi tenaga kesehatan. Sangat sulit untuk mengetahui dan memantau setiap anak. Hal ini sangat penting untuk memastikan bahwa mereka menerima semua vaksinasi yang mereka perlukan.

Oleh karena itu, pada tahun 2015, UNICEF mulai merintis teknologi RapidPro di tujuh kecamatan di sekitar Jakarta. RapidPro merupakan program untuk mengumpulkan informasi dengan mengirim dan menerima sejumlah pesan teks SMS.

Teknologi ini membuka saluran komunikasi baru antara pemerintah daerah, petugas kesehatan dan anggota masyarakat. Data ini kemudian dipantau dari waktu ke waktu.

"Saya sangat khawatir tentang campak," kata bidan Maena Nhur Desita yang bekerja di Kedoya Utara. Dia memberikan vaksin di Posyandu setempat. Selama ia bekerja di Posyandu tersebut, hanya beberapa ibu membawa anak-anak mereka.

Tetapi keadaan ini lambat laun mulai berubah. Timnya mulai menggunakan teknologi RapidPro untuk mendapatkan informasi langsung dari masyarakat untuk memahami alasan tentang tingkat kehadiran yang rendah. Petugas kesehatan kini tahu dimana dan bagaimana memfokuskan upaya mereka. 

Kolega Maya Saptarika menjelaskan langkah-langkah berikutnya "Kami akan segera mulai menggunakan RapidPro untuk secara nyata menghubungi rumah tangga dan mengingatkan orang tua ketika anak-anak harus melakukan kunjungan vaksinasi mereka berikutnya."

"Harapan kami bahwa penggunaan RapidPro  ini akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan cakupan imunisasi," kata Ms Saptarika.

Terdapat sekitar 1,9 juta anak usia di bawah satu tahun yang tidak menerima imunisasi lengkap di seluruh Indonesia. RapidPro merupakan perkembangan penting dalam menangani masalah ini.

Kisah Sulaeha: Menyelamatkan nyawa di Sumenep

Kisah Sulaeha: Menyelamatkan nyawa di Sumenep

Sulaeha adalah seorang ibu dari tiga anak yang berasal dari Sumenep, Jawa Timur. Sejak dulu, Ia selalu peduli akan kesejahteraan keluarga dan warga di lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, Sulaeha memutuskan untuk menjadi relawan di bidang kesehatan.

“Hanya karena saya bukan petugas kesehatan yang terlatih, bukan berarti saya tidak bisa membantu memperbaiki kesehatan anak-anak di lingkungan saya,” kata Sulaeha. “Paling tidak saya bisa bantu menyambungkan fakta-fakta kesehatan penting dengan ajaran agama.”

Sulaeha adalah anak dari seorang tokoh agama yang dihormati dan anggota aktif Fatayat, sub-unit perempuan dari Nadhlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di dunia dengan sekitar 80 juta anggota. Oleh karena itu, ia memiliki pengetahuan yang luas mengenai agama Islam.


Sulaeha sering mengadakan lokakarya kesehatan di masjid dekat rumahnya. ©UNICEF Indonesia/2015

Peran Sulaeha sebagai relawan adalah untuk meyakinkan orang tua bahwa imunisasi bukan hanya penting bagi anak mereka, tapi juga sesuai dengan ajaran agama Islam. Hal ini sangat penting di daerah-daerah seperti Sumenep, di mana mayoritas penduduk adalah pemeluk agama Islam.


Akses kepada informasi kesehatan sangat terbatas di Sumenep. Akibatnya, ada banyak kesalahpahaman tentang imunisasi dari segi sosial, budaya dan kepercayaan agama. Kesalahpahaman itu beraneka ragam mulai dari kecemasan terhadap efek samping hingga pertanyaan apakah penggunaan vaksin sesuai dengan ajaran agama Islam.

Sulaeha mengunjungi daerah di sekitarnya untuk mempromosikan imunisasi dengan menggunakan materi komunikasi yang dikembangkan oleh UNICEF dan Kementerian Kesehatan. Materi-materi ini membantunya untuk mengajarkan aspek-aspek teknis imunisasi dan melawan kesalahpahaman yang merugikan.

Warga di Sumenep mempelajari flip chart imunisasi dari UNICEF. ©UNICEF Indonesia/2015

Hasil–hasil survei kesehatan yang terbaru (IDHS 2012, Riskesdas 2013) mengkonfirmasi rendahnya cakupan imunisasi di Indonesia, termasuk di Sumenep. Sebuah studi dari UNICEF (Immunisation Drop Out Study, 2011) menemukan bahwa miskonsepsi sosial, budaya dan agama adalah hambatan utama bagi penggunaan layanan dan pelengkapan imunisasi oleh orang tua.

Untuk melawan hal ini, UNICEF, WHO dan Kementerian Kesehatan Indonesia kini bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia untuk mengadakan road show advokasi dan lokakarya komunikasi di tempat-tempat seperti Sumenep.

Sulaeha akan terus melanjutkan kegiatannya sebagai relawan. Ia sering mengajak putranya ke sesi-sesi yang diadakannya. Imunisasi dasar sang putra pun terpenuhi dengan lengkap sesuai jadwal. Namun Sulaeha tidak akan berhenti sebelum semua anak di Sumenep juga melengkapinya.


“Senyum” untuk imunisasi

“Senyum” untuk imunisasi

Nur Awwalia dan Wall of Fame Imunisasi. ©UNICEF Indonesia/2015 

Tembok Puskesmas Tanah Merah Bangkalan di Pulau Madura, Jawa Timur, penuh dengan poster-poster yang umum ditemui di sebuah klinik kesehatan. Tapi ada satu yang menonjol yaitu sebuah papan tulis putih sarat dengan foto-foto 25 bayi yang sedang tersenyum.

Bayi-bayi ini membentuk wadah pameran “Wall of Fame Imunisasi” di Puskesmas. Setiap bayi sudah menyelesaikan lima sesi imunisasi rutin gratis mereka, yang memberikan keamanan dari berbagai penyakit seperti difteri, TBC, hepatitis B, tetanus, polio dan campak.

Seorang bidan di puskesmas itu, Nur Awwalia, baru-baru ini memiliki ide untuk membuat poster tersebut. “Setiap orang tua senang memamerkan bayi mereka. Jadi kenapa tidak menggunakannya untuk mempromosikan imunisasi!” kata Nur.


Nur Awwalia –yang biasa disapa Lia- mengatakan ide itu datang ketika ia menyadari betapa kerabat dan kawan-kawannya bisa menjadi sangat kompetitif saat membanding-bandingkan bayi mereka. Ia berpikir sedikit kompetisi yang ramah bisa membantu meningkatkan angka imunisasi.

Lia memutuskan memasang Wall of Fame Imunisasi di sebelah poster-poster anak-anak penderita polio dan difteri, dua penyakit yang bisa dicegah hanya dengan memberikan anak lima sesi imunisasi.

“Saya rasa tidak ada seorang pun ibu atau ayah yang ingin bayinya menderita. Sulit untuk dijelaskan, tapi sangat efektif ketika menunjukkan penyakit-penyakit yang mungkin dialami bayi Anda jika tidak diimunisasi,” tuturnya.

Lia sudah bekerja di puskesmas itu sejak 2011. Harinya biasanya dimulai pada pukul 5 pagi dan dia menerima pasien sampai pukul 3 sore. Selain bekerja di puskesmas, Lia juga mengunjungi rumah-rumah pasien dan mengadakan pertemuan advokasi dengan orang tua.

Ibu-ibu berkumpul di Puskesmas Tanah Merah Bangkalan ©UNICEF Indonesia/2015

Sesi imunisasi dijadwalkan di puskesmas tersebut sebulan sekali. Pekerjaan itu cukup menantang bagi Lia dan para koleganya, karena tingkat imunisasi di Kabupaten Bangkalan adalah salah satu yang terendah di Indonesia.

Lia mengatakan para orang tua enggan membawa anak-anak mereka untuk menjalani sesi imunisasi rutin karena berbagai alasan, mulai dari takut akan efek sampingan hingga kesalah-pahaman budaya dan keberatan dari keluarga.
Itu hanya sebagian dari tantangan yang harus dihadapi Lia selama bertahun-tahun. Untuk membantu mengatasinya, ia menerima pelatihan teknis dari Dinas Kesehatan setempat dengan dukungan dari UNICEF. Hasilnya, ia kini memiliki lebih banyak bekal pengetahuan dan keterampilan dalam advokasi imunisasi di acara-acara masyarakat, baik dengan orang tua mau pun pemuka agama.

Lia sangat bangga dengan Wall of Fame Imunisasinya. Ia berharap wadah pameran itu akan semakin berkembang dalam hari, bulan dan tahun yang akan datang.


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia