Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label melani niken. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label melani niken. Tampilkan semua postingan
Orang Muda Perlu Dilibatkan dalam Pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG)

Orang Muda Perlu Dilibatkan dalam Pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG)

Oleh: Niken Larasati, Child Protection Officer


Ms. Hulshof, (belakang tengah) bergabung dengan tim UNICEF dan peserta orang muda untuk foto bersama setelah forum selesai.
©Raditya Henrile / UNICEF /2017

"Orang seringkali mendiskusikan apa yang sebaiknya dilakukan bagi para penyandang disabilitas, tetapi mereka jarang melibatkan kita dalam diskusi mereka," kata Panji Surya Sahetapy dari Gerakan Kesejahteraan Tuli Indonesia melalui seorang interpreter.

Pesan yang ia sampaikan dalam sebuah forum pemuda tentang Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 sudah jelas - dalam diskusi tentang hak-hak disabilitas, para penyandang disabilitas perlu
didengar.


Pernyataannya merupakan sebuah peringatan, kata Karin Hulshof, UNICEF East Asia Pacific Regional Director, yang hadir pada forum tersebut selama kunjungannya ke Indonesia, yang merupakan misi UNICEF untuk melindungi anak-anak yang paling rentan - tidak hanya anak-anak yang kurang beruntung secara materi, tetapi juga anak-anak yang terpinggirkan karena gender, usia, orientasi seksual, status HIV, etnis, dan kemampuan mereka.

Panji Sahetapy mewakili komunitas tuli pada forum SDG orang muda di Jakarta
©Raditya Henrile / UNICEF /2017

Meskipun sebuah filosofi pembangunan inklusif mendasari visi dari 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) - sebuah agenda global yang bertujuan untuk menghapus kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan, di antara tujuan-tujuan lainnya, tetapi banyak kelompok tidak dilibatkan dalam diskusi untuk merumuskan cara terbaik guna melaksanakan tujuan-tujuan tersebut.

Di antara suara-suara yang paling diabaikan adalah suara-suara orang muda.

Dalam forum yang berjudul "Konsultasi Orang Muda [LP1] [CR2] tentang SDG", Jejaring Oran Muda untuk Kekerasan terhadap Anak (YNVAC) menjalin kemitraan dengan Angkatan Muda 2030 (YF), sebuah kelompok orang muda untuk mendorong orang-orang muda Jakarta untuk berkontribusi dalam Agenda SDG.

"Dalam forum ini, kami ingin mendengar dari orang-orang muda tentang bagaimana mereka dapat membantu melaksanakan SDG," kata Ravio Patra, seorang fasilitator pertemuan. 25 peserta orang muda dipilih dari 250 pelamar lebih, yang mewakili organisasi pemuda untuk isu-isu pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial dan lingkungan


Orang-orang muda berkumpul bersama untuk sesi curah pendapat
© Niken Larasati / UNICEF /2017

Tiga tujuan disampaikan dalam pertemuan tersebut: satu, untuk mengidentifikasi isu-isu paling mendesak bagi orang-orang muda; dua, untuk mengidentifikasi metode advokasi yang paling efektif dan efisien untuk mengatasi tantangan-tantangan tersebut; dan tiga, untuk mengidentifikasi alat-alat konkrit untuk memberdayakan orang-orang muda untuk menangani isu-isu di atas.

Regional Director, Hulshof mengatakan bahwa kegigihan dan semangat kerja sama adalah kuncinya.

Misalnya, "[perlindungan] lingkungan merupakan isu mendesak yang harus ditangani oleh semua warga masyarakat, baik warga sipil maupun pejabat pemerintah. Kita harus peduli terhadap lingkungan kita, yang sesuai dengan pemenuhan beberapa target SDG, "katanya.

Direktur Keluarga, Perempuan, Anak-anak, Pemuda dan Olah Raga, Bappenas, Ibu Woro Srihastuti Sulistyaningrum (Lisa) juga hadir dalam pertemuan tersebut. Ibu Lisa menyatakan dukungan pemerintah terhadap 25 orang muda dan organisasi mereka, yang berjanji untuk menjadi sebuah mitra. "Sekarang ini merupakan era orang muda untuk beraksi," katanya. "Ketika orang-orang yang berpikiran sama berkumpul, hal-hal besar bisa terjadi."

Ibu Lisa dari Bappenas menerima rekomendasi dari para pemimpin orang muda
© Niken Larasati / UNICEF /2017

Menjelang akhir pertemuan, kelompok orang muda tersebut telah merumuskan aspirasi mereka dalam tiga poin aksi: Pertama, mereka menyatakan keinginan mereka agar Pemerintah membantu orang-orang muda dalam melakukan 'reality check' dan pengkajian kebijakan tentang SDG. 'Reality check' mengajak orang-orang muda untuk memberikan dukungan kualitatif di lapangan untuk temuan-temuan yang didukung oleh data. Temuan-temuan ini selanjutnya digunakan untuk membantu pemerintah dalam mengambil kebijakan tentang pelaksanaan SDG.  

Kedua, forum tersebut meminta agar pemerintah dan badan-badan PBB meningkatkan advokasi dan mengizinkan mereka untuk membantu penyusunan laporan SDG. Ketiga, forum tersebut menyatakan harapan bahwa semua pihak terkait, termasuk Pemerintah, badan-badan PBB dan LSM, akan melakukan peningkatan kapasitas bagi para anggota jejaring untuk memastikan bahwa forum tersebut melakukan aksi nyata.

Rekomendasi tersebut disampaikan kepada UNICEF, yang diwakili oleh Ms. Hulshof, dan Pemerintah Indonesia, yang diwakili oleh Ibu Lisa, yang mengatakan bahwa pemerintah sangat antusias untuk memberikan dukungannya.

Pada akhir pertemuan, Perwakilan UNICEF Indonesia, Gunilla Olsson berjanji, "Kami akan selalu membuka pintu bagi para agen perubahan dengan mendukung keterlibatan orang-orang muda dalam pelaksanaan SDG di Indonesia. Beliau mengatakan bahwa dua forum lagi untuk implementasi SDG yang digerakkan oleh orang-orang muda akan diadakan dalam waktu dekat.

Ke 25 orang muda tersebut telah terinspirasi. Mereka telah mulai merencanakan cara-cara untuk memainkan peran yang lebih besar dalam mendorong SDG. 

"UNICEF tidak dapat melakukan ini sendiri. Kami memerlukan bantuan orang-orang muda untuk menjangkau anak-anak yang paling terpinggirkan dan tidak terjangkau di seluruh Indonesia, "kata Ali Aulia, spesialis Perlindungan Anak. "Kami harus memastikan bahwa apa yang kami lakukan bermanfaat bagi anak-anak dan melindungi mereka dimana saja dan orang-orang muda memainkan peran penting dalam mencapai misi tersebut."  

Dari Pemuda ke Pemuda: Menciptakan Pembuat-Perubahan untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Anak-Anak

Dari Pemuda ke Pemuda: Menciptakan Pembuat-Perubahan untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Anak-Anak

Oleh: Melania Niken Larasati - Child Protection Officer




Peserta workshop Violence Against Children di Makassar

“Kekerasan fisik bukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia selama memiliki tujuan lebih tinggi."


Mendengar pernyataan tersebut, hadirin mulai merasa tidak nyaman, sebagaimana saya bertanya-tanya: bila pandangan seperti ini dapat dengan begitu saja diungkapkan di sini, di Makassardi sebuah lokakarya yang bertujuan untuk menghapus kekerasan terhadap anak (Violence Against Children - VAC) - seberapa luas tindak kekerasan ini terjadi di antara kaum muda?

Beberapa hari kemudian di Banda Aceh, dalam lokakarya pemuda terakhir dari tiga lokakarya yang diselenggarakan oleh Youth Network on Violence against Children (YNVAC), jelas bahwa banyak orang memandang VAC sebagai hal yang bisa ditolerir – meskipun terdapat cukup banyak bukti terkait dampaknya yang berbahaya.

“Setelah dicubit, saya belajar untuk datang tepat waktu, jadi saya tidak pernah terlambat lagi,” ujar seorang peserta. “Ayah saya sering memukul saya, tapi ini membuat saya menjadi tangguh.... dipukul adalah bagian dari orientasi sekolah, jadi normal saja melakukan hal ini,” ujar peserta lain.

Sejak tahun 2015, kelima anggota YNVAC – Aliansi Remaja Independen (ARI), Sudah Dong, Action! Kompak Jakarta dan Sinergi Muda – sudah bekerja keras untuk mengubah sikap ini. Dengan dipandu oleh pemuda, perubahan besar adalah hal yang memungkinkan.

Didasarkan pada kesuksesan lokakarya pertama mereka pada tahun 2015, YNVAC mengundang 60 pemuda untuk ikut serta dalam lokakarya 2017. Tujuannya adalah untuk terus mempersiapkan pemimpin muda dalam memerangi VAC.

Akan tetapi, tahun ini, lokakarya disesuaikan dengan tantangan khusus yang dihadapi setiap kota.  Di Makassar, contohnya, para peneliti YNVAC menemukan bahwa hukuman badan merupakan hal yang sangat umum. Akan tetapi, di Surabaya dan Banda Aceh, tindak perundungan adalah masalah yang lebih menyebar.


Peserta lokakarya Makassar menerima modul mengenai mengakhiri PerundunganJadilah seorang teman, bukan perundung

Di Surabaya, Yori dan Duan, dua fasilitator YNVAC bersama Sudah Dong, berbicara tentang cara mengenali tindak perundungan dalam semua bentuknya. Keduanya mempunyai pengalaman bagaimana rasanya merundung dan dirundung. 

Terharu dengan kejujuran mereka, para peserta mulai bersikap terbuka. Beberapa di antara mereka berkata bahwa mereka sudah mengambil tindakan konkrit untuk mengubah kultur perundungan.

“Teman-teman saya dan saya tidak sependapat mengenai bagaimana masa orientasi dilaksanakan, sehingga ketika kami menjadi mahasiswa senior, kami menyerahkan modul baru kepada Dekan.  Meskipun dibenci oleh mahasiswa senior lainnya, yang sudah berharap untuk membalas penderitaan yang pernah mereka alami, kami berhasil membangun kultur yang baru dan lebih positif,” ujar seorang peserta Makassar.

Jojo, seorang anggota ARI, menunjukkan pada peserta lokakarya Makassar bagaimana pemetaan yang cermat terhadap lapisan ekonomi, kultural, dan agama masyarakat, dapat mengungkapkan strategi intervensi yang sebelumnya tidak terlihat.

Di Banda Aceh, contohnya, kami mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Husnul, pendiri Taman Pendidikan Masyarakat di Desa Lambirah, yang berjarak 40-menit berkendara bis di sebelah selatan kota.

Anak-anak Desa  Lambirah 

Husnul membahas tentang penolakan terhadap pusat perlindungan anak miliknya yang awalnya terjadi, ketika para sesepuh desa secara terus terang mengkhawatirkan bahwa dia berusaha membawa pengaruh barat pada pemuda setempat. Setelah melihat manfaatnya – bagaimana anak-anak mengembangkan minat untuk membaca, contohnya, dan bukan bermain video game -- mereka lebih mendukung  pekerjaannya. 

“Melihat bagaimana seseorang bisa membuat dampak besar seperti itu dengan sumber daya minimal, saya termotivasi untuk memulai sebuah proyek untuk membantu anak-anak di lingkungan tempat tinggal saya sendiri,” ujar seorang peserta.

Singkat kata, dengan dukungan UNICEF, YNVAC sudah melatih 60 pemimpin VAC pemuda melalui pelatihan tahun ini. Ke-60 pemuda itu berjanji untuk merekrut 50 pemuda lain, membangkitkan harapan bahwa 3000 advokat pemuda siap untuk mulai menantang, dari bawah, sikap permisif terhadap VAC.Ketika diminta untuk memberi nasihat terakhir untuk para pemimpin muda ini, Husnul berkata langkah pertama dari perjalanan ini adalah yang tersulit.“Yang penting dalam upaya untuk membuat perubahan adalah memulainya. Namun, begitu Anda mulai, tidak ada jalan selain melangkah ke depan.”



ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia