Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Sektor Minyak Kelapa Sawit dan Anak di Indonesia – Prinsip Dunia Usaha dan Hak Anak dalam Aksi

Sektor Minyak Kelapa Sawit dan Anak di Indonesia – Prinsip Dunia Usaha dan Hak Anak dalam Aksi

Oleh Michael Klaus, Chief of Communication and Public Advocacy, Indonesia



Jakarta, Indonesia, 20 November 2016 – Minyak sawit digunakan di hampir separuh dari semua barang-barang konsumsi, mulai dari sabun dan body lotion hingga makanan olahan dan biofuel. Dan karena kelapa sawit mudah untuk ditanam dan lebih murah pemrosesannya dibandingkan minyak nabati lainnya, permintaan global terhadap kelapa sawit terus meningkat. Perkembangan ini merupakan kabar baik bagi Indonesia dan Malaysia, yang memproduksi sekitar 85% minyak sawit global. Namun, booming minyak sawit, harus dibayar mahal oleh lingkungan. Dampak pembukaan lahan untuk penanaman perkebunan kelapa sawit termasuk deforestasi, kerusakan lahan gambut dan emisi gas rumah kaca karena untuk praktik tebang-dan-bakar  - telah banyak dikaji. Namun, dampak industri ini terhadap anak-anak tidak mendapat banyak perhatian, meskipun di Indonesia saja faktanya 5 juta anak terdampak oleh industri tersebut.

Untuk mengetahui lebih jauh, UNICEF melakukan penelitian - yang merupakan penelitian pertama - tentang besarnya dampak budidaya kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia terhadap anak-anak. Penelitian ini memberikan pemahaman tentang  kondisi kehidupan anak-anak di pusat-pusat produksi seperti di Sumatera dan Kalimantan, yang karena letaknya sangat terpencil, jarang mendapat banyak perhatian. Berdasarkan desk research yang komprehensif, wawancara dengan para pekerja (banyak di antaranya perempuan) anak-anak, guru, tenaga kesehatan dan perwakilan LSM, serta konsultasi dengan manajer-manajer perkebunan dan perwakilan pemerintah, penelitian tersebut mengidentifikasi tujuh area dampak utama dan sejumlah akar penyebab.


Area dampak di Indonesia

  • Hak Bersalin dan Menyusui: Di Indonesia, pekerja perkebunan permanen berhak atas cuti melahirkan selama tiga bulan. Namun, manfaat bersalin tidak selalu diberikan sesuai dengan hukum, dan kadang-kadang wanita tidak menyadari hak-hak mereka. Pekerja lepas tidak berhak untuk dibayar cuti hamil. Mereka sering menyembunyikan kehamilan selama mungkin, meskipun efeknya berbahaya akibat terpapar pestisida dan zat lainnya. Hampir semua ibu yang diwawancarai berhenti menyusui setelah 3 bulan.
  • Perawatan Anak: Karena hamparan perkebunan umumnya sangat luas dan tidak adanya fasilitas perawatan anak yang terjangkau dan bagus, orang tua kadang-kadang saat bekerja juga membawa anak-anak meskipun membahayakan kesehatan dan keselamatan mereka.
  • Kesehatan dan Gizi: Masalah yang umum di perkebunan adalah kurangnya akses buah segar, sayuran dan sumber protein, sehingga sangat mengandalkan pada makanan olahan. Akibatnya, dokter mengonfirmasikan bahwa banyak anak mengalami masalah kesehatan yang berhubungan dengan gizi buruk, diare dan asma.
  • Air, Sanitasi dan Kebersihan: Sementara perkebunan besar biasanya menyediakan perumahan bagi para pekerja, akses untuk memperoleh suplai air bersih yang memadai dan peningkatan sanitasi sangat bervariasi, berkontribusi terhadap diare dan penyakit lainnya.
  • Pendidikan: Karena letak perkebunan yang terpencil dan kesulitan mengakses sekolah umum, banyak perusahaan menyediakan sarana pendidikan di lokasi. Namun, kualitas pendidikan secara umum sangat berbeda-beda mengingat sulitnya menarik guru.
  • Perlindungan Anak: Kurangnya pencatatan kelahiran merupakan hal yang sangat dikhawatirkan dan orang tua sering tidak menyadari pentingnya pencatatan kelahiran itu.
  • Pekerja Anak: Sementara laporan LSM menunjukkan prevalensi tertentu pekerja anak di perkebunan kelapa sawit, namun pekerja yang diwawancarai untuk penelitian ini mengklaim prevalensi itu tidak merata. Namun, sistem pembayaran kuota dan perhitungan upah minimum yang tidak mempertimbangkan kebutuhan keluarga pekerja sering memaksa pekerja bergantung pada bantuan dari anggota keluarga, termasuk anak-anak. 


Apa selanjutnya?
Penelitian ini merupakan bagian dari keberlanjutan Prinsip Dunia Usaha dan Hak Anak (Children’s Rights and Business Principles/CRBP) di Indonesia dan Malaysia, suatu kerangka yang dikembangkan oleh UNICEF, Save the Children dan UN Global Compact berdasarkan konsultasi global. UNICEF Indonesia sekarang menggunakan temuan penelitian ini untuk mempertemukan para produsen, pembeli sepanjang rantai suplai dan mitra pemerintah untuk memperkuat peraturan yang ada dan platform sertifikasi, dan untuk mengembangkan model tentang cara untuk meningkatkan kondisi hidup dan kesempatan bagi anak-anak yang tinggal di atau sekitar perkebunan. Ini dapat menjadi kontribusi penting bagi upaya Indonesia dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs).

Salah satu mitra utama program ini adalah Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) global, sebuah badan yang mengesahkan sesuai dengan seperangkat standar keberlanjutan yang dirangkum dalam Prinsip and Criteria (P&C) mereka. RSPO didirikan dalam menanggapi meluasnya kritik konsumen tentang catatan penelusuran lingkungan negatif industri minyak kelapa sawit. Sertifikasi RSPO sangat penting bagi produsen minyak sawit yang mencari akses ke pasar Eropa. UNICEF bertujuan untuk menggabungkan standar hak-hak anak ke dalam P&C.

Selanjutnya, UNICEF telah terlibat dengan kementerian yang relevan di Indonesia, serta skema sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) yang dipimpin Pemerintah Indonesia, untuk mempromosikan inklusi kriteria hak-hak anak dalam standar keberlanjutan yang ada.

UNICEF juga akan bekerja dengan perusahaan- perusahaan teladan di Indonesia untuk mengembangkan model praktik terbaik, seperti menciptakan kesempatan untuk menyusui, memperkuat kebijakan cuti hamil dan membantu keluarga untuk memperoleh akta kelahiran bagi anak-anak mereka sebagai bagian dari paket pekerjaan, yang dapat direplikasi di seluruh sektor. UNICEF juga bekerja sama dengan para pembeli utama minyak kelapa sawit internasional untuk membantu mereka mengintegrasikan hak-hak anak dalam kegiatan sourcing mereka.


Menemukan inspirasi di lapangan

Menemukan inspirasi di lapangan

Oleh Gabé Hirschowitz, Next Generation UNICEF di Los Angeles


Saat meminum air botolan dan menuliskan blog post ini, saya langsung teringat pada anak-anak yang saya temui di Kupang yang berjalan dua kali sehari selama dua jam (sekali di pagi hari sebelum berangkat sekolah, dan sekali di sore hari sepulang sekolah) untuk mengambil air bersih untuk keluarga mereka.

Empat jam setiap harinya. Bagaimana ini terjadi? Bagaimana mungkin ini adil?  Mengapa air minum yang bersih dan aman tidak tersedia untuk anak-anak dan keluarga di seluruh dunia?

Ini hanya beberapa dari banyak hal yang berlarian di pikiran saat saya tersentak memikirkan tentang krisis air dunia yang dihadapi oleh banyak individu di kehidupan sehari-hari. Setiap orang berhak atas air bersih. Sungguh mengejutkan bahwa masih banyak yang tidak mendapatkannya di tahun 2016.

Saat ditanya tentang apa yang dilakukan untuk bersenang-senang di waktu luang mereka, anak-anak muda itu menjawab, "Kami membantu keluarga di rumah dan membantu pekerjaan orangtua kami."

Konsep ini mungkin tampak asing bagi kebanyakan remaja Amerika. Namun, remaja-remaja Indonesia ini berseri-seri karena cinta dan cahaya, dan mereka sangat menghargai kedatangan kami. Motivasi dan kegembiraan mereka untuk terhubung dengan yang lain sangat luar biasa.

Mereka adalah bagian dari program kegiatan Inovasi UNICEF  yang didanai oleh NextGen untuk Proyek Inovasi. Balai pemuda yang luar biasa ini membantu anak-anak mengindentifikasi sesuatu yang mereka pikir sebagai masalah yang paling menekan dalam masyarakat saat darurat. Selama kunjungan kami, mereka memperlihatkan dua ide purwa-rupa untuk menyelesaikan beberapa masalah terkait banjir dan kekeringan. Proses produktif dan kreatif ini mengajarkan kelompok pemuda ini untuk berpikir di luar kotak dan juga memberikan mereka rasa percaya diri dan umpan balik yang diperlukan untuk memajukan masyarakat dengan bantuan UNICEF.

Kunjungan ini adalah momen yang istimewa dalam hidup saya karena Proyek Keran Air telah menjadi satu hal yang saya sukai sejak saya bergabung dengan NextGen. Los Angeles NextGen Art Party saya yang pertama memberikan manfaat bagi langkah-langkah penyediaan air bersih. Dapat dikatakan, saya sangat percaya bahwa kunjungan khusus ini terjadi dalam hidup saya karena satu alasan: untuk mengingatkan saya untuk selalu menggenggam hal ini dekat di hati di sepanjang hidup saya.

Air bersih adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Ini yang membuat kita hidup dan berkembang. Ini adalah hak asasi mendasar kita sebagai makhluk hidup, dan saya akan melakukan apa yang saya bisa untuk memastikan saya melakukan bagian saya untuk mendukung hal penting ini.

Sungguh suatu cara yang luar biasa untuk menjalani hari ulang tahun ke-30 saya. Kelompok pemuda itu menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun paling manis saat kami pergi, suatu kenangan yang akan selalu saya simpan dalam hati.

Di hari pertama kami di Jakarta, kami berkendara ke pusat layanan kesehatan yang didukung oleh UNICEF di Hari Imunisasi Nasional. Anak-anak dan ibu-ibu berkumpul di sekitar pusat kesehatan "dadakan" untuk mendapatkan booster polio untuk anak-anak mereka, dan juga memeriksakan berat dan tinggi badan anak-anak mereka untuk memastikan mereka tumbuh dengan sehat.

Sungguh menginspirasi untuk dapat menyaksikan program kegiatan yang sangat indah dan produktif. Setiap ibu bertekad memastikan anaknya mendapatkan perawatan dan perhatian yang layak mereka dapatkan. Satu tetes vaksin di bawah lidah akan mencegah polio seumur hidup. "WOW" yang sangat besar hinggap di pikiranku. Saya menjadi sangat emosional saat menggambarkan kenangan ini, karena kenapa tidak semua bayi menerima tetes vaksin yang dapat mencegah penyakit yang mengubah hidup dan mematikan ini?  Ini sangat sederhana dan saya sangat bersyukur dapat menyaksikan dedikasi dan komitmen yang sangat besar atas nama para petugas pusat kesehatan dan para ibu di Indonesia. Mereka adalah pahlawan sejati.

Saya ingin menutupnya dengan kunjungan kami ke sekolah dasar yang sangat indah di Kupang. Saat kami sampai di sekolah, rasanya seperti cahaya matahari menyinari lapangan bermain. Anak-anak memakai seragam berwarna kuning cerah saat mereka menyambut kami dengan senyuman lebar, bernyanyi, menari dan melambaikan tangan. Energi positif dan semangat indah mereka adalah salah satu momen murni yang paling indah dan tak terlupakan yang pernah saya saksikan.

Kelly, ketua NextGen Los Angeles dan saya saling beradu mata, dan saat itu juga kami menangis karena bahagia, rasa syukur dan penghargaan.

Mereka memiliki taman yang indah di belakang sekolah dan setiap kelas bertanggung jawab untuk memelihara dan menanam beragam jenis sayur mayur. Lalu mereka siapkan dan masak sayuran itu saat siap dipanen. Mereka juga memiliki perpustakaan yang indah dengan buku-buku yang disusun secara alfabetis dan dipisah berdasarkan fiksi dan non-fiksi. Sungguh menyenangkan melihat perhatian dan penghargaan diberikan pada kegiatan membaca dan pendidikan. Mungkin karena staf pengajar yang baik, mungkin karena  anak-anak yang menyenangkan, atau keduanya, tapi setiap orang dapat mengatakan pada Anda bahwa ada sesuatu yang istimewa di sekolah dasar itu. Jujur, saya akan mengingat hari itu selama hidup saya.

Secara keseluruhan, pengalaman kami di Indonesia sangat memuaskan dan informatif. Saya selamanya sangat bersyukur atas perjalanan tak terlupakan bersama UNICEF ini. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh David Thoreau, "Kebaikan adalah satu-satunya investasi yang tidak pernah gagal."

Kami bertemu dengan seorang ibu di Kupang yang memiliki anak laki-laki kembar yang menderita malnutrisi saat bayi.  Michael, dari UNICEFUSA, bertanya jika kami punya pertanyaan untuknya dan saya bertanya, "Apa mimpi Anda untuk anak-anak Anda?"  Dia menjawab dengan emosional bahwa yang dia harapan untuk anak-anaknya adalah "kesehatan dan kebahagiaan." Saat itu saya menyadari bahwa kesehatan dan kebahagiaan adalah hasrat universal yang diinginkan setiap ibu untuk anak-anak mereka di seluruh dunia. Kesejahteraan anak-anak dan orang tercinta kita adalah ikatan terkuat yang mengikat banyak ibu bersama-sama dalam perjalanan yang kita sebut kehidupan.

Pengalaman ini telah membuka mata saya lebih lebar dan menginspirasi saya dalam banyak cara yang positif. Saya sungguh bersyukur menjadi bagian dari keluarga UNICEF untuk bekerja dengan individual-individual yang luar biasa dan penuh bakti. Saya juga lebih dari bersyukur, atas orang tua dan keluarga saya yang telah menginspirasi dan memotivasi saya untuk melakukan hal-hal yang sedemikan baik di kehidupan sehari-hari.

Terima kasih atas perjalanan sekali seumur hidup ini.

***
Baru-baru ini, sejumlah anggota Next Generation dari Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia untuk melihat lebih dekat bagaimana dana yang mereka bantu kumpulkan untuk Laboratorium Inovasi UNICEF Indonesia membuat perubahan yang berkelanjutan. Berikut ini adalah catatan tentang kegiatan mereka di Indonesia: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5

'Ini adalah perjalanan sekali seumur hidup'

'Ini adalah perjalanan sekali seumur hidup'

Oleh Kelly Wilson, Ketua, Next Generation UNICEF di Los Angeles


Saya belum pernah pergi ke tempat seperti ini; suatu negara dengan dua dunia yang benar-benar berbeda, dan dua dunia itu tumpang tindih satu di atas yang lainnya, bertabrakan antar ruang dan berebut sumber daya, waktu dan perhatian. Indonesia menghadapi tantangan-tantangan sebagai negara dengan pertumbuhan kota yang cepat dan di saat yang sama masih mencoba memecahkan masalah-masalah terkait negara dunia-ketiga. Yang mengejutkan, tampaknya tidak ada pemisah fisik antara si sangat kaya dan si miskin; daerah kumuh di samping gedung mewah, bangunan terbengkalai di samping pencakar langit yang mentereng, buang air besar di depan monumen pemerintah. Indonesia memiliki PDB ke-16 terbesar di dunia dan negara ekonomi kedua terbesar di Asia Tenggara, namun gelombang itu tidak mengangkat semua perahu, dan Indonesia melempar semua itu tepat ke muka Anda.

Di hari pertama, kami mengunjungi daerah kumuh yang dibangun di atas Tempat Pembuangan Akhir. Tidak ada yang dapat membuat Anda siap menghadapi kebas yang Anda rasakan karena melihat banyak sekali rumah-rumah keluarga dikelilingi oleh sampah, remaja-remaja tanpa sepatu mengetik pada telepon seluler terbaru dan anak-anak kecil menggaruk-garuk kepala karena kutu rambut. Dan saat kau pikir otakmu sudah terlalu penuh, seorang anak berlari ke arahmu dan mencium tanganmu. Berada di antara reruntuhan bangunan dan tumpukan sampah, dia tersenyum. Dia bersama keluarganya, dan dia bahagia. Dengan manis saya teringat pada rasa kemanusiaan yang teguh dari anak-anak dan mengapa mereka berhak menerima tidak kurang dari perlindungan dan dukungan kita, tidak peduli betapa rumit penyelesaiannya.

Di hari pertama itu, saat kami memberikan vaksinasi pada anak-anak di pos kesehatan, tiba-tiba jelas bahwa UNICEF memimpin dalam menciptakan solusi untuk masyarakat-masyarakat ini. UNICEF berada di lapangan melatih para petugas kesehatan, mengembangkan teknologi untuk mendapatkan umpan balik dari praktik-praktik baru di lapangan, bekerja dengan pemerintah untuk menjadikan kebutuhan perawatan-kesehatan dasar lebih tersedia, membuat bahan-bahan pengajaran untuk para ibu dan memberdayakan anak-anak untuk menciptakan solusi. UNICEF telah menjadikan dirinya agen perubahan di setiap tingkat, mempengaruhi kebijakan, sikap dan praktik secara luas.

Yang teringat dari perjalanan kami adalah pusaran angin yang memberikan saat-saat tak berakhir tentang motivasi untuk melanjutkan dukungan kami melalui Next Generation UNICEF. Dari hangatnya hati kami oleh senyuman anak-anak sekolah dan jiwa kami yang terinspirasi oleh semangat para pemuda usia dua-puluh tahunan yang mempengaruhi dunia di sekitar mereka, dari tantangan yang diberikan pada otak kami oleh tim UNICEF untuk menciptakan solusi, dan semangat kami yang terangkat oleh para pemimpin lokal yang dengan bangga menyebut diri mereka orang Indonesia

Ini adalah perjalanan sekali seumur hidup, membuat saya berendah hati, menginspirasi saya dan selamanya mengikat saya pada tugas UNICEF yang tiada banding untuk menempatkan anak-anak di posisi utama.


***

Baru-baru ini, sejumlah anggota Next Generation dari Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia untuk melihat lebih dekat bagaimana dana yang mereka bantu kumpulkan untuk Laboratorium Inovasi UNICEF Indonesia membuat perubahan yang berkelanjutan. Berikut ini adalah catatan tentang kegiatan mereka di Indonesia: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4

Mengalami langsung kegiatan UNICEF Indonesia

Mengalami langsung kegiatan UNICEF Indonesia

Oleh Casey Rotter, Pendiri Next Generation UNICEF


Untuk saya, melakukan perjalanan dengan UNICEF Indonesia adalah pengalaman yang sangat luar biasa. Tidak hanya luar biasa untuk dapat melihat langsung pekerjaan hebat yang dilakukan UNICEF dan bertemu dengan keluarga-keluarga yang kehidupannya telah diubah -- bahkan diselamatkan -- terima kasih pada organisasi yang hebat ini, tapi hal ini juga istimewa untuk saya sebagai anggota staf untuk menyaksikan anggota-anggota NextGen kami mengalami langsung kegiatan UNICEF untuk pertama kalinya. Melihat pendonor benar-benar menyerap sifat dan kedalaman kegiatan UNICEF dengan berada di lapangan adalah istimewa adanya.  Setelah bertahun-tahun terlibat dalam organisasi, anggota-anggota NextGen yang berdedikasi ini akhirnya dapat memberikan wajah dan nama mereka pada staf yang mereka dukung dan anak-anak yang hidupnya telah diubah oleh usaha pengumpulan dana dan dana pribadi mereka.

Inilah maksud utama kunjungan lapangan para pendonor ini. Tidak peduli seberapa banyak yang kau pikir kau tahu tentang UNICEF, tidak ada yang lebih baik dari bertemu dengan staf yang bekerja di lapangan setiap harinya, menghabiskan hari dengan rekanan pemerintah dan benar-benar memperoleh pemahaman tentang betapa mereka mempercayai dan menghargai kata-kata dan kemitraan UNICEF, mendengarkan advokasi remaja tentang hak-hak rekan-rekannya, dan melihat ke dalam mata seorang ibu saat ia berkata bahwa jika bukan karena dukungan UNICEF untuk Posyandunya, bayi yang tersenyum di gendongannya tidak akan ada di sini hari ini.

Melihat sang ibu menahan air matanya adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kami lupakan, dan adalah sesuatu yang menggerakkan kami agar bekerja lebih baik lagi untuk UNICEF. Untuk semua pengalaman ini, kami selamanya berterima kasih. Jadi, TERIMA KASIH untuk UNICEF Indonesia, rekan UNICEF di negara ini, semua sukarelawan luar biasa yang kami temui dan seluruh keluarga NextGen yang mendukung kegiatan luar biasa ini.

***

Baru-baru ini, sejumlah anggota Next Generation dari Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia untuk melihat lebih dekat bagaimana dana yang mereka bantu kumpulkan untuk Laboratorium Inovasi UNICEF Indonesia membuat perubahan yang berkelanjutan. Berikut ini adalah catatan tentang kegiatan mereka di Indonesia: Part 1, Part 2, Part 3


Mengapa UNICEF?

Mengapa UNICEF?

Oleh Leila Ladjevardian, Next Generation di New York 


Next Generation UNICEF adalah suatu kelompok luar biasa yang terdiri dari kaum profesional muda dengan kesempatan yang unik untuk menyumbangkan waktu, dana dan tenaga mereka untuk membantu anak-anak paling rentan di dunia. Saya telah bergabung dengan NextGen selama hampir lima tahun sekarang, dan saat ini saya bertugas sebagai Wakil Ketua New York Steering Committee.

Saya mendedikasikan banyak waktu luang saya untuk tujuan-tujuan dan langkah-langkah melalui penyelenggaraan penggalangan dana, berkontribusi dalam program kegiatan-kegiatan dan merekrut anggota baru. Satu pertanyaan yang sering ditanyakan pada saya adalah, "Mengapa UNICEF?"

Di masa lalu, jawaban saya adalah: "UNICEF adalah organisasi internasional yang menempatkan anak-anak di urutan pertama.  Tidak peduli tentang politik, tidak peduli seberapa mengerikan situasinya -- UNICEF bekerja dengan pemerintahan lokal untuk memastikan anak-anak diperhatikan. Saya adalah generasi pertama orang Iran-Amerika dan menghargai keanggotaan internasional organisasi ini. Sebagai tambahan, ibu saya telah sangat terlibat dalam UNICEF selama bertahun-tahun, yang membuat saya dapat membangun hubungan dengan organisasi ini sejak usia dini."

Selama tujuh hari, saya menjelajahi Indonesia, terutama Jakarta dan Kupang, dengan personel UNICEF dan anggota-anggota NextGen, dan telah memformulasikan jawaban yang lebih mendalam untuk pertanyaan di atas. Yang membuat UNICEF istimewa bukan hanya karena ia adalah organisasi anak-anak internasional yang menyelamatkan kehidupan setiap harinya, tapi juga ia memiliki jangkauan dan susunan aktivitas yang tidak terhingga.

Indonesia dianggap sebagai negara "ekonomi-menengah", yang berarti walaupun ada area-area yang sangat miskin, ada pula aktivitas bisnis yang baik dan pertumbuhan ekonomi (kedua terbesar di Asia, khususnya).  Selama wisata tujuh hari kami, kami mengunjungi program-program UNICEF yang mengungkapkan lebarnya kesenjangan di Indonesia. Di hari pertama, kami mengunjungi klinik kesehatan di pinggiran kota Jakarta. Klinik ini dijalankan oleh sukarelawan yang didukung oleh UNICEF yang menyediakan sejumlah layanan untuk anak-anak di "lingkungan sekitar".  Layanan itu mencakup vaksinasi polio hingga pemeriksaan malnutrisi. Lebih dari 500 ibu datang ke klinik hari itu.  Anak-anak menangis, orang-orang berjubel, dan jelas sekali bahwa kemiskinan masih menjadi isu besar meskipun Indonesia menyandang status "ekonomi-menengah".

Di hari berikutnya kami mendapati pengalaman yang sangat berbeda. Kami mengunjungi sejumlah program kegiatan pemuda yang didukung oleh UNICEF dalam kapasitas yang sungguh berbeda. Program-program kegiatan ini dipimpin oleh pemuda dengan rentang usia 18 hingga 25 tahun. Kebanyakan adalah orang-orang terdidik di tingkat universitas dan memiliki isu sosial yang mereka rasa sangat penting: pernikahan dini, kesetaraan gender, dll. Peranan UNICEF adalah untuk mendukung kaum muda dalam perjuangan mereka dan mendukung mereka mendapatkan perubahan kebijakan.

Saya merasa mendapat pencerahan mendengar tentang program kegiatan pemuda yang disebutkan di atas. Saya selalu tahu tentang kegiatan lapangan UNICEF di masyarakat yang terbelakang seperti program kegiatan penyediaan air bersih dan sanitasi, perlawanan terhadap malaria dan polio, langkah-langkah penanggulangan malnutrisi, dll. Namun, saya tidak terlalu tahu tentang kegiatan advokasi yang kami lakukan. UNICEF tidak hanya mengurus kebutuhan dasar anak-anak di situasi yang sulit, tapi juga bekerja bahu membahu dengan kaum muda terdidik dan pemerintah lokal untuk mencapai penyelesaian jangka panjang dan perubahan di suatu negara. Tujuan utama adalah agar negara-negara tersebut bisa mandiri. Seperti yang selalu diucapkan oleh Casey, pendiri NextGen, "UNICEF senantiasa bekerja agar tidak dapat digunakan lagi."

Saya sangat bersyukur atas waktu saya di Indonesia. Mendengar cerita sukses langsung dari para ibu dan melihat rasa terima kasih mereka atas pekerjaan UNICEF sangatlah menginspirasi dan berharga. Saya dapat membuktikan bahwa setiap dolar yang disumbangkan pada UNICEF telah membantu menyelamatkan kehidupan anak-anak dan meningkatkan kebijakan ramah-anak di tingkat pemerintahan lokal dan nasional.


***
Baru-baru ini, sejumlah anggota Next Generation dari Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia untuk melihat lebih dekat bagaimana dana yang mereka bantu kumpulkan untuk Laboratorium Inovasi UNICEF Indonesia membuat perubahan yang berkelanjutan. Berikut ini adalah catatan tentang kegiatan mereka di Indonesia: Part 1, Part 2

Bagaimana cara menginspirasi perubahan?

Bagaimana cara menginspirasi perubahan?

Oleh Bonner Campbell, Next Generation di Los Angeles 

Baru-baru ini, sejumlah anggota Next Generation dari Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia untuk melihat lebih dekat bagaimana dana yang mereka bantu kumpulkan untuk Laboratorium Inovasi UNICEF Indonesia membuat perubahan yang berkelanjutan. Berikut ini adalah laporan orang-pertama tentang kegiatan mereka di Indonesia. 


Hal pertama yang menyentak saya saat mendarat adalah panasnya. Bahkan di malam hari, Jakarta adalah kota yang gerah dengan suhu 80°F (27 derajat Celsius). Saya di sini selama satu minggu dengan anggota NextGen lainnya untuk melakukan kunjungan lapangan untuk program-program kegiatan UNICEF. Indonesia adalah negara pertama tempat diadakannya dua lab inovasi terpisah dari UNICEF: satu di Jakarta, ibu kota negara yang sangat sibuk, dan satu di Kupang, sebuah kota di pulau Timor.

Aku terbujuk oleh konsep sebuah "lab inovasi". Lab-lab inovasi di Indonesia berfokus pada keterlibatan remaja dan pemuda dan juga tanggap darurat. Lab-lab ini melibatkan siswa-siswa dari Global Design for UNICEF Challenge dan mengeksplorasi beragam isu seperti pencatatan kelahiran dan tanggap bencana.

Walaupun telah diperoleh kemajuan dalam hal perlawanan terhadap kemiskinan, masih banyak yang harus dilakukan dan ide-ide inovatif sangatlah penting. Saya di sini untuk melihat cara UNICEF memperluas sumber daya yang terbatas dan memastikan kami membelanjakan dana kami di area yang akan memberikan dampak terbesar. Lebih jauh lagi, bagaimana saya dapat menginspirasi orang-orang di tempat asal saya untuk mempercayai pentingnya yang terjadi di belahan bumi lainnya, bagi mereka dan masa depan mereka?

Rencana perjalanan minggu ini terdiri dari 11-jam presentasi konferensi pers yang akan dilakukan dalam beberapa hari, dari staf lokal UNICEF dan kunjungan ke lapangan dan rekanan program kegiatan. Saya sungguh menantikan kesempatan untuk terlibat secara langsung dengan kegiatan yang dilakukan oleh UNICEF. Saya ingin kembali dengan membawa pemahaman budaya yang lebih baik dan ide-ide lain tentang cara UNICEF dan NextGen dapat terus memberikan dampak secara dramatis dan membangun masa depan yang lebih stabil untuk generasi muda masa kini.

Karena suhu cukup panas di Indonesia, semoga kami bisa mematangkan beberapa ide.


Teknologi RapidProMendukung Pekerjaan UNICEF untuk Memvaksinasi Anak-anak

Teknologi RapidProMendukung Pekerjaan UNICEF untuk Memvaksinasi Anak-anak

Oleh Kristi Eaton, Communications and Knowledge Management Officer, UNICEF Indonesia


Lilis gugup. Anak laki-lakinya yang berusia 2 dan 4 tahun sedang bersiap-siap menerima vaksinasi polio, dan dia khawatir mereka mungkin menangis. Mereka merapatkan diri ke Ibu mereka saat ia berbicara di posyandu setempat di Cilincing, sebuah daerah dengan pendapatan rendah di Jakarta Utara, dan berusaha untuk menenangkannya.

Namun demikian, Lilis mengetahui betapa pentingnya vaksinasi.

“Ini sangat penting untuk mereka supaya tidak sakit polio, karena kaki mereka bisa menjadi tidak berfungsi,” katanya.

Indonesia menempati urutan ke enam di dunia dalam jumlah bayi yang tidak divaksinasi atau belum divaksinasi lengkap. Setiap tahun, diperkirakan 700,000 bayi tidak menerima layanan imunisasi. Daerah perkotaan berpendapatan rendah seperti Cilincing terutama sangat beresiko untuk kurang imunisasi, membuat anak-anak rentan terhadap wabah campak, polio, dan diphtheria. UNICEF mendukung pemerintah untuk mengubah situasi ini _ memanfaatkan teknologi komunikasi baru yang memungkinkan pemantauan yang lebih baik dan intervensi yang menargetkan sistem yang gagal berfungsi.



Di tempat-tempat seperti Cilincing, petugas kesehatan terus menghadapi tantangan karena bisa sangat sulit untuk melacak dan memonitor setiap anak yang menerima vaksinasi yang diperlukan. Inilah dimana program baru mulai bekerja. Pada tahun 2015, UNICEF mulai membuat percontohan teknologi RapidPro, sebuah program yang menggunakan pesan singkat SMS untuk mengumpulkan, memonitor dan menyebarkan informasi kesehatan.

Dengan menggunakan teknologi RapidPro, layanan kesehatan mampu mengidentifikasikan lokasi lingkungan beresiko tinggi dan memverifikasi vaksin bulanan pada pusat kesehatan. Melacak bayi-bayi yang belum mendapatkan dosis vaksinasi dan mengirimkan pesan yang mengingatkan orang tua terhadap jadwal vaksinasi juga memungkinkan di bawah teknologi RapidPro.

“RapidPro merupakan platform software open-source yang memungkinkan spesialis program dan non-coder menjalankan program pemantauan dan pelaporan berbasis SMS ponsel,” kata Jeffrey Hall, Innovation Lead UNICEF Indonesia. “Ini memanfaatkan teknologi komunikasi ponsel untuk mempercepat dan memperkuat hasil untuk anak-anak.”

Innovation Lab UNICEF Indonesia bekerja untuk meningkatkan dan mendorong partisipasi pemuda untuk memikirkan, menciptakan, mencoba dan menguji solusi kreatif yang dapat membantu meningkatkan kehidupan anak-anak dan pemuda di negara ini.

UNICEF memiliki Innovations Lab di sejumlah negara di seluruh dunia sekarang. Lab Indonesia dimulai pada tahun 2013 dengan pendanaan dari U.S. Fund’s Next Generation, sekelompok pemimpin muda, entrepreneur dan inovator berusia 20 hingga 30an yang berkomitmen untuk mendukung pekerjaan UNICEF.


Sejumlah anggota Next Generation melakukan perjalanan ke Indonesia dari Amerika Serikat baru-baru ini untuk melihat dari dekat bagaimana uang yang mereka kumpulkan membuat perubahan jangka panjang. Salah satu kunjungan lapangan mereka selama perjalanan satu minggu itu adalah ke Cilincing untuk melihat ratusan anak-anak menerima vaksinasi polio.

“Berada disini langsung adalah satu-satunya cara untuk benar-benar memahami energinya,” kata Bonner Campbell, 25 tahun dari Los Angeles, California, yang merupakan seorang analis keuangan senior di Netflix. “Saya memutuskan untuk mengunjungi Indonesia karena saya ingin mengetahui mengenai peran UNICEF di negara-negara berpenghasilan menengah, terutama bagaimana peran ini berinteraksi dengan program pemerintah. Pekerjaan yang dilakukan UNICEF dengan mitra programnya untuk mengadvokasi hak-hak anak sangat mengesankan.”


Ketidakhadiran Siswa di Papua

Ketidakhadiran Siswa di Papua

Oleh: Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer 

Teo menghadapi masa depan yang tidak pasti. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Waktu itu hari Senin pukul 8 pagi di kampung Poumako Papua. Ketika lonceng berbunyi, kelompok anak-anak berdatangan dari rumah mereka dan mulai berjalan menuju kelas. Tetapi Teo tidak – anak yang berusia sembilan tahun tersebut tidak pergi ke sekolah hari itu. Ia jarang pergi ke sekolah.

Kisah Teo merupakan kisah umum yang terjadi di sekitar kampungnya dan di seluruh provinsi. Daerah ini merupakan salah satu daerah termiskin dan paling terisolasi di Indonesia. Kondisi ini dapat dilihat dari  besarnya jumlah anak yang putus sekolah untuk membantu menghidupi keluarga mereka. Anak-anak di sini lebih mengenal palu dan sekop daripada pensil dan buku.

"Kadang-kadang saya bekerja di pelabuhan," kata Teo. Ada pelabuhan besar beberapa kilometer dari kampungnya yang melayani daerah tersebut. Anak-anak seperti Teo bisa memperoleh sedikit tambahan rupiah melalui bongkar muat barang ke kapal-kapal yang berlabuh di sana. "Saya mengangkut barang-barang seperti perabot, semen dan beras," katanya, "Barang-barang ini biasanya beratnya 15-25 kilogram."


Anak-anak bekerja di pelabuhan Papua. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Sekolah di kampung Poumako merupakan gabungan beberapa bangunan tua. Anak-anak bermain sepak bola di area umum kecil yang dikelilingi oleh lima ruang kelas. Sekolah ini seluruhnya berdiri tidak aman di atas panggung kayu yang tinggi di atas rawa yang sangat kotor.

Walaupun begitu, banyak dari anak-anak tersebut kelihatan penuh semangat dan siap untuk belajar. Beberapa anak hanya memiliki satu pensil, sedangkan anak-anak lainnya tidak memiliki sama sekali. Tetapi mereka bangga dengan seragam sekolah mereka ketika mereka berpindah dari satu kelas ke kelas lainnya.

Markus Fasak telah menjadi kepala sekolah untuk sekolah ini selama beberapa tahun. Ia mengatakan bahwa banyak siswa yang sering tidak hadir. "Banyak anak membantu keluarga mereka untuk menangkap ikan atau memanen sagu. Kegiatan-kegiatan yang menghasilkan pendapatan seringkali dianggap lebih penting, "katanya.

Inilah hal yang disuarakan oleh guru Basilus Batmomolin. "Paradigma masyarakat tersebut berbeda di sini," katanya, "Beberapa keluarga tidak menganggap pendidikan sepenting itu."


Ruang Kelas di Poumako. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Angka-angka terakhir pemerintah menunjukkan gambaran yang mengkhawatirkan tentang ketidakhadiran siswa di Papua. Survei terakhir menunjukkan bahwa hingga 30 persen anak di sini putus sekolah. Angka ini semakin mengejutkan di daerah-daerah yang sulit diakses: 50 persen untuk SD dan 73 persen untuk sekolah menengah pertama.

"Anak-anak yang tidak menyelesaikan sekolah memulai hidup mereka dengan ketidakberuntungan," kata Spesialis Pendidikan UNICEF Papua Monika Nielsen, "Kesempatan mereka dalam kehidupan sangat berkurang. Banyak dari anak-anak ini akan terbatas pada pekerjaan di bidang pertanian atau perburuhan. Demikian pula, siklus kemiskinan antargenerasi akan berlanjut.


Murid di Poumako berjalan ke kelas. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Sekalipun dihadapkan pada tantangan-tantangan ini, anak-anak di sekitar daerah tersebut tetap memiliki semangat yang besar. Sekelompok siswa muda memberikan daftar panjang tentang kemungkinan karir mereka di masa depan. "Saya ingin menjadi perawat," kata salah satu anak perempuan. "Saya ingin menjadi polisi," kata yang lain. Salah satu anak laki-laki ingin kuliah di perguruan tinggi, meskipun dia belum tahu apa yang ingin dipelajari.

Tetapi bagi banyak orang muda di sini, masa kecil tanpa pendidikan berarti masa depan tanpa peluang. Hal ini akan menjadi masalah bagi Teo. Ada kemungkinan ia akan bekerja di pelabuhan untuk beberapa tahun yang akan datang.


Saat ini, UNICEF sedang melaksanakan Program Pendidikan Daerah Perdesaan dan Terpencil untuk Provinsi Papua di 120 sekolah di seluruh Tanah Papua - termasuk Poumako. Tujuan Program adalah untuk melakukan pengujian pendekatan yang efektif dan berkelanjutan untuk meningkatkan hasil pembelajaran membaca dan menulis di kelas-kelas awal. Program ini akan membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik dimana anak-anak tetap bersekolah dan sukses dalam studi mereka.


UNICEF Bermitra dengan Gerakan Pramuka Indonesia

UNICEF Bermitra dengan Gerakan Pramuka Indonesia

Oleh: Kinanti Pinta Karana, Spesialis Komunikasi UNICEF Indonesia

Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Bapak Adhyaksa Dault (keenam dari kanan), dengan Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Ibu Gunilla Olsson (ketiga dari kanan), Direktur Radio Republik Indonesia Ibu Niken Widiastuti (kedua dari kanan) dan Kepala Komunikasi Bapak Michael Klaus (paling kanan) dengan Penasihat Khusus UNICEF bapak Purwanta Iskandar dan anggota Pramuka pada penandatanganan Perjanjian Kerja Sama 26 November 2015. (© UNICEF Indonesia/2015/Santoso)

JAKARTA, Indonesia, 26 November 2015 – Kesibukan tampak di Kwartir Nasional Gerakan Pramuka menjelang acara yang sudah lama dinantikan: Penandatanganan perjanjian kerja sama antara Pramuka dan UNICEF Indonesia.

Perjanjian Kerja Sama (MOU), yang ditandatangani oleh Ketua Pramuka Adhyaksa Dault dan Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Gunilla Olsson pada 26 November 2015 itu membuka jalan bagi kerja sama untuk memperkuat implementasi hak-hak anak di Indonesia.

Bapak Adhyaksa mengatakan ia antusias dengan kemitraan ini. “Pramuka akan menggunakan kerja sama dengan UNICEF untuk mendorong perlindungan terhadap anak serta hak mereka untuk berekspresi.”


Perjanjian kerja sama ini akan menjadi dasar kolaborasi dalam sejumlah program termasuk Perlindungan Anak, WASH dan U-Report (© UNICEF Indonesia/2015/Santoso)

“Kami ingin bekerja sama dengan Pramuka dalam bidang seperti gaya hidup sehat, perlindungan anak, sanitasi dan kebersihan, yang merupakan prioritas dalam program nasional baru kami mulai 2016,” kata Ibu Gunilla pada acara itu.

Platform untuk partisipasi anak muda U-Report akan menjadi payung untuk melibatkan anggota Pramuka dalam topik-topik tersebut dan isu yang penting bagi anak-anak dan orang muda di Indonesia.

U-Report Indonesia ada di Twitter dan sudah memiliki lebih dari 40,000 pengikut aktif. “Memfasilitasi keterlibatan anak-anak dan orang muda dalam pembangunan negara merupakan prioritas bagi UNICEF,” kata Ibu Gunilla. “U-Report memberi mereka peluang untuk menjadikan suara mereka terdengar. Bersama dengan Pramuka kami berharap dapat meningkatkan jumlah U-Reporter secara masif.”

Sejumlah fakta tentang U-Report Indonesia (https://twitter.com/UReport_id):

  • U-Report adalah platform komunikasi berbasis Twitter yang memungkinkan UNICEF dan Pramuka untuk menjangkau mereka yang sudah mendaftar sebagai U-Reporter dan memberi mereka pertanyaan, misalnya tentang kualitas sekolah mereka atau puskesmas setempat. 
  • UNICEF mengembangkan platform ini di Uganda dan negara-negara Afrika lainnya, dan sekarang sudah ada 16 negara yang menerapkan U-Report. 
  • Dalam sebagian besar kasus hal ini dilakukan bersama dengan organisasi kepanduan setempat.

Acara penandatanganan tersebut diikuti dengan dialog live yang disiarkan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) dengan pembicara Bapak Adhyaksa, Penasihat Khusus UNICEF Purwanta Iskandar dan Rosalita Niken Widiastuti, Direktur RRI.

“UNICEF yakin bahwa sebagai organisasi pemuda terbesar di Indonesia, Pramuka akan menjadi mitra yang luar biasa. Saya berharap bahwa bersama kita bisa meningkatkan kesadaran dan memperkuat pemahaman masyarakat akan beragam topik seperti pentingnya pendidikan anak usia dini,” kata Bapak Purwanta.

Ibu Niken menggarisbawahi peran media untuk membantu masyarakat mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang hak-hak anak.

“Media massa berperan penting dalam mendukung upaya perlindungan anak dan Radio Republik Indonesia siap membantu menyebarkan pesan serta informasi kepada publik melalui program-program kami,” kata Ibu Niken.

“Ada banyak masalah seperti kekerasan terhadap anak atau penyalahgunaan narkoba di kalangan anak muda, hal-hal itu sangat membuat kami khawatir. Perjanjian kerja sama ini menjadi jembatan hati antara Pramuka dan UNICEF untuk membantu mengatasi masalah-masalah ini,” kata Bapak Adhyaksa.

Dukungan besar pada acara pendaftaran Pelindung Anak

Dukungan besar pada acara pendaftaran Pelindung Anak


Ribuan orang telah mendaftar jadi Pelindung Anak, termasuk Menteri Yohana Yembise (kedua dari kiri) dan Duta Nasional UNICEF Indonesia Ferry Salim (kanan). ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Masyarakat Indonesia dari berbagai latar belakang  berkumpul pada Hari Anak Sedunia 2015 untuk mencegah kekerasan terhadap anak dan menjadi Pelindung Anak.

Acara pendaftaran kampanye inovatif bertajuk Pelindung Anak ini dihadiri antara lain oleh Menteri, aktor, psikolog, serta model.

Tujuan kampanye ini adalah menciptakan sebuah gerakan untuk meningkatkan kesadaran tentang serta memulai aksi untuk mengakhiri kekerasan terhadap anak.

Peserta diajak untuk mengunjungi website kampanye tersebut (www.pelindunganak.org), di mana mereka bisa mendapat informasi tentang kekerasan terhadap anak di Indonesia, dan berkomitmen untuk melindungi anak-anak di sekeliling mereka.

"Kekerasan terhadap anak adalah krisis tersembunyi di Indonesia. Ini hanya bisa dihentikan jika kita semua bergabung dan melindungi setiap anak seolah-olah mereka adalah anak kita sendiri," kata Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia, Gunilla Olsson. "Jika seluruh desa dibutuhkan untuk membesarkan seorang anak, maka seluruh desa juga dibutuhkan untuk melindungi seorang anak."


Di antara yang sudah bergabung dalam daftar Pelindung Anak adalah Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise, Duta Nasional UNICEF Indonesia Ferry Salim, dan aktris Raline Shah serta Alya Rohali.

"Menurut saya daruratnya (kekerasan anak) sudah dari dulu, bukan hanya sekarang. Tapi, dulu itu dianggap aib dan banyak orang enggak mau tahu," ujar Ibu Yohana di acara ini.

"Kampanye ini mengajak kita semua untuk merasa punya moral menjadikan semua anak-anak sebagai anak kita," kata Ferry Salim, yang telah menjadi Duta Nasional UNICEF di Indonesia selama lebih dari sepuluh tahun.

Panel diskusi di acara pendaftaran Pelindung Anak bersama Ali Aulia Ramly dari UNICEF, Psikolog Anak Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Wakil Menteri Perlindungan Anak Pri Budiarta Nur Sitepu, Duta Nasional UNICEF Indonesia Ferry Salim dan aktivis Citra Natasya. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Ibu Gunilla menambahkan: "Ini saatnya untuk menyorot yang tidak terlihat menjadi tampak. Saatnya untuk bertindak. Sudah waktunya untuk mengakhiri kekerasan terhadap anak. Saya seorang Pelindung Anak dan saya harap semakin banyak orang yang akan bergabung."

Beberapa poin penting tentang kekerasan terhadap anak di Indonesia:

  • 40 persen anak usia 13-15 tahun pernah diserang secara fisik setidaknya sekali dalam satu tahun.
  • 26 persen anak-anak mengalami hukuman fisik dari orangtua atau pengasuh di rumah.
  • 50 persen anak-anak melaporkan pernah di-bully disekolah.
  • 45 persen perempuan Indonesia percaya bahwa suami /pasangan berhak memukul mereka dalam kondisi tertentu.

"Konsekuensi dari tidak menangani kekerasan terhadap anak di Indonesia bisa sangat parah. Anak korban kekerasan fisik, seksual dan emosional sering menderita konsekuensi jangka panjang, termasuk kondisi fisik dan psikologis, "kata Ibu Gunilla.

Semua warga Indonesia dianjurkan untuk mengunjungi website kampanye dan menjadi Pelindung Anak: www.pelindunganak.org

Remaja Indonesia bersiap menghadapi bencana (dengan cara yang kreatif)

Remaja Indonesia bersiap menghadapi bencana (dengan cara yang kreatif)

Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

Siswa SMP pada Lokakarya uji coba Paket untuk Remaja Berekspresi dan Berinovasi. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker. 

Sebuah ruang kelas di daerah Jakarta Timur riuh dengan kegiatan. Sekitar 20 remaja merangkai berbagai kata, bentuk dan pola pada secarik kertas putih berukuran besar. Suasananya begitu hidup, namun topiknya tidak main-main: banjir dahsyat yang akan datang.

 Jakarta terkenal karena banjir musimannya yang parah. Dan wilayah di bagian timur Jakarta sering menanggung beban ini setiap musim hujan. Sebagian besar remaja yang mengikuti lokakarya ini memilki koleksi cerita yang memilukan tentang banjir. Beberapa bahkan memiliki pengalaman yang nyaris merenggut nyawa mereka.

“Saya mengalami banjir yang sangat parah pada tahun 2007,” cerita Vicka, peserta yang berusia 14 tahun, “Waktu itu sekitar pukul dua pagi ketika banjir datang. Sebentar saja air sudah mencapai langit-langit rumah. Suasana gelap gulita dan seluruh keluarga saya sangat ketakutan.”

“Ayah saya menenangkan kami semua dan membawa kami ke atap rumah untuk mencari pertolongan. Akhirnya perahu penyelamat datang. Kami harus lompat ke perahu dari atap rumah. Saya sangat takut, namun beruntung kami semua baik-baik saja. Bagian yang paling mencemaskan adalah ibu saya sedang mengandung pada saat itu. Akhirnya dia melahirkan adik perempuan saya keesokan harinya.”

Paket Remaja untuk Berekspresi dan Berinovasi sedang diujicobakan di Indonesia dan di Sudan Selatan. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker.


Tahun lalu UNICEF memutuskan untuk menguji coba Paket untuk Remaja Berekspresi dan Berinovasi di wilayah pemukiman yang rawan banjir di daerah Kampung Melayu dan Rawajati. Paket yang dikembangkan di Kantor Pusat UNICEF di New York, merupakan paket yang berisi peralatan dan benda-benda yang ditujukan untuk membantu remaja mempersiapkan diri dalam menghadapi konflik dan krisis dengan cara yang inovatif.

UNICEF dan mitra lokalnya sejak itu bekerja sama dengan delapan kelompok remaja selama 12 bulan. Prosesnya mencakup lokakarya rutin dengan menggunakan  alat-alat yang terdapat dalam Paket utuk Remaja. Setiap remaja didorong untuk membuat rencana apabila banjir datang dengan menggunakan cara-cara yang kreatif, orisinal dan bahkan artistik.

 “Indonesia merupakan salah satu negara rawan bencana di dunia,” ujar HIV and Adolescent Officer UNICEF, Annisa Budiyani pada salah satu acara lokakarya, “Jadi sangat penting untuk mempromosikan dan membuat para remaja dapat berpartisipasi dalam pengembangan solusi yang sesuai untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi  sebelum, selama dan sesudah keadaan darurat yang berdampak pada kehidupan mereka.”

“Paket untuk Remaja ini memiliki fokus untuk membangun kapasitas remaja untuk mengatasi stres yang diakibatkan oleh keadaan darurat dan memberdayakan diri mereka sendiri untuk menangani risiko yang dikaitkan dengan keberadaan mereka sebagai remaja dalam situasi darurat. Tujuan kami adalah untuk memberikan keterampilan, metode dan peralatan untuk menciptakan sistem mereka sendiri guna mendukung dan mencari solusi sebagai remaja.”


Fauzan memiliki rencana besar untuk masa depan. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Para remaja yang ikut serta dalam lokakarya ini tidak hanya merancang berbagai rencana penanggulangan banjir dan solusinya, namun juga mengembangkan kemampuan individu mereka sendiri secara signifikan.

 “Saya belajar berdiskusi, melakukan curah pendapat dan berbagi pengetahuan dengan orang lain,” kata Fauzan, seorang peserta lokakarya yang berusia 13 tahun, “Hal-hal yang sangat jarang saya lakukan. Kami didorong untuk mengeluarkan pendapat kami. Kemampuan kreatif saya jelas meningkat.”

Fauzan pernah bekerja pada sejumlah proyek untuk menangani banjir dalam beberapa tahun terakhir. Di antaranya proyek mekanisme peringatan dini yang menggunakan sistem audio di mesjid setempat dan proyek yang mencari cara-cara untuk membantu pedagang kaki lima selama banjir.

Ketika ditanya apa cita-citanya jika telah dewasa nanti, Fauzan terdiam sejenak. “Saya ingin jadi walikota di daerah saya tinggal. Sekarang saya sungguh-sungguh ingin melayani masyarakat saya,” ujarnnya.

UNICEF akan menggunakan waktu beberapa bulan ke depan untuk menilai program uji coba Paket untuk Remaja ini di Indonesia dan Sudan Selatan. Paket ini akan tersedia bagi seluruh kantor perwakilan UNICEF di seluruh dunia.


Hari ini pelajar, esok pengantin

Hari ini pelajar, esok pengantin

Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer


Anak-anak perempuan di Desa Manggaru* beresiko menikah pada usia muda. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker.

Nira* yang baru berusia 14 tahun adalah pelajar yang cemerlang. Ia selalu rajin belajar dan unggul dalam berbagai mata pelajaran, mulai dari kesenian, ilmu pengetahuan alam, hingga ilmu pengetahuan sosial. Namun, masa-masa Nira sebagai pelajar akan segera berakhir. Besok adalah hari pernikahannya.

Nira tinggal di Desa Manggaru, sebuah desa kecil yang berada sekitar 70 km dari Jakarta. Pernikahan anak merupakan hal biasa di desa ini. Bahkan, Nira adalah siswi ketiga yang akan keluar dari bangku sekolah dan menikah tahun ini.

“Aku suka bermain petak umpet,” ucap Nira, saat diminta mendeskripsikan dirinya. Ia tampak yakin dengan keputusannya untuk menikah. “Kalau aku menunggu sampai lulus baru menikah, belum tentu aku bisa dapat pasangan. Terlalu lama buat dia (calon suami) untuk menunggu,” ujarnya.

Kepala Sekolah di Manggaru, Pak Deni, telah melihat secara langsung apa makna pernikahan yang sesungguhnya bagi para muridnya. “Kehamilan akan segera menyusul, perceraian sudah hal biasa, peluang karir semakin terbatas, banyak yang pada akhirnya menjadi pembantu rumah tangga,” kata beliau. “Dan kemiskinan akan terus melanda.”

“Orang tua di sini berpendapat bahwa menikahkan putri mereka dapat memberikan manfaat yang lebih besar daripada menamatkan sekolah mereka. Jika putri mereka dinikahkan, maka beban ekonomi dalam rumah tangga akan berkurang,” kata beliau.

Pak Deni sudah berusaha menghentikan pernikahan Nira yang akan segera berlangsung. Ia sudah memohon pada orang tua Nira untuk mempertimbangkan kembali dan memberikan kesempatan bagi Nira untuk menyelesaikan sekolahnya. Namun, usaha itu tidak membuahkan hasil. “Saya percaya bahwa sebenarnya tidak ada murid saya yang ingin menikah dini”, tambahnya. “Tak satupun dari mereka yang tampak kehilangan minat belajar sebelum pernikahan mereka.”

Ada undangan pernikahan Nira di meja Pak Deni. Beliau melirik pada undangan berwarna merah muda cerah tersebut. “Setiap kali saya melihat salah satu murid saya menikah, saya merasa gagal sebagai seorang pendidik,” ujarnya. “Saya merasa sangat bertanggung jawab. Ini benar-benar menghancurkan hati saya.”

Hanya tinggal menunggu waktu saja sebelum Pak Deni mendapat kabar dari murid perempuan lainnya yang meninggalkan sekolah untuk menjadi pengantin muda. Tapi untuk saat ini, mereka memiliki cita-cita yang tinggi. Ada yang ingin menjadi guru, menjadi koki, pengusaha, dokter, dosen - daftar cita-cita itu terus berlanjut.

Sebagian besar profesi tersebut mengharuskan mereka untuk tidak hanya menyelesaikan sekolah saja, tetapi juga untuk mendapatkan gelar sarjana di tingkat universitas. “Saya ingin kuliah kalau ada uang,” ucap salah seorang anak. Sayangnya, melanjutkan pendidikan hingga tingkat universitas adalah sebuah kemewahan yang tak terjangkau bagi sejumlah keluarga di Manggaru. Pernikahan dipandang sebagai pilihan yang jauh lebih aman dari segi ekonomi.

Seorang anak bernama Desi mengatakan bahwa teman-teman sekolahnya tidak lagi menghabiskan waktu bersama mereka yang sudah menikah. “Tidak lama kemudian mereka akan hamil atau sibuk dengan anak-anak,” ucapnya. Dan menurut Desi, kecil kemungkinan bahwa Nira akan kembali bersekolah setelah menjadi seorang istri, karena “aneh saja (jika seorang yang sudah menikah masih bersekolah).”

Beberapa anak memberikan saran untuk Nira. “Jangan bertengkar dengan suami,” kata salah satu temannya. “Cepat punya anak,” kata teman yang lain. Di desa tersebut, memiliki anak adalah suatu pandangan yang menarik. Namun, tidak satu anak pun tahu persis bagaimana caranya seseorang bisa hamil.

Kehamilan dan persalinan di Manggaru penuh dengan resiko. Resiko ini semakin besar bagi perempuan yang masih berusia muda seperti Nira. Layanan dan sarana kesehatan masih sangat terbatas. Dokter terdekat pun berjarak hampir satu jam jika ditempuh dengan kendaraan.

Ketika seorang ibu di desa ini mulai memasuki masa persalinan, umumnya mereka berkunjung ke seorang paraji (dukun bersalin). Fasilitas yang dimiliki seorang paraji tentunya sangat terbatas dibandingkan dokter atau rumah sakit. Akibatnya, komplikasi parah atau bahkan kematian menjadi hal yang sering terjadi dalam proses bersalin.

Subyek pernikahan menimbulkan tanggapan yang beragam dari anak-anak laki di Manggaru. “Aku punya teman perempuan yang menikah saat baru berusia 11 tahun,” kata salah seorang anak. “Salah satu temanku menikah waktu usianya masih muda. Dia meninggal saat melahirkan,” kata anak yang lain.

Meskipun ada banyak kisah seperti itu, para murid laki-laki mengakui bahwa pernikahan seperti yang akan dialami Nira adalah hal yang "normal". Tak satupun dari mereka mengetahui tentang adanya usia minimum yang telah ditetapkan dalam Undang-undang Pernikahan negara ini.

Meski demikian, salah satu anak berkata, “Mestinya anak perempuan tidak boleh menikah saat usia 14 tahun. Dia mungkin masih ingin bermain dan bergaul dengan teman-temannya. Perempuan juga memiliki mimpi dan harapan mereka sendiri.”

Mimpi dan harapan Nira akan tertahan esok. Calon suaminya, Fadil, berusia 9 tahun lebih tua darinya. Fadil saat ini tidak memiliki pekerjaan. Rencana bagi masa depan pasangan ini tidak jelas. Namun Nira menegaskan bahwa menikahi Fadil adalah keputusan yang tepat.

“Tuhan mengirimkan aku untuk menjadi jodohnya,” Nira berkata. “Ini takdir.”

*Lokasi dan nama telah disamarkan.


Di Indonesia, satu dari 6 anak perempuan telah menikah sebelum berulang tahun yang ke-18, mengakibatkan pada berakhirnya masa kecil mereka secara tergesa dan membuat siklus kemiskinan terus berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.

UNICEF mengadvokasi dan mendukung berbagai upaya untuk mengatasi pernikahan anak di Indonesia, menjangkau anak-anak, orang muda, keluarga, masyarakat serta pemerintah Indonesia.


Kisah U-Report Indonesia sejauh ini

Kisah U-Report Indonesia sejauh ini

– Nick Baker, Communications and Knowledge Management Officer –

Kampanye Give Voice to the Voiceless telah meningkatkan minat pada U-Report Indonesia
©UNICEF Indonesia/2015

Bagaimana seandainya jika kita bisa bertanya kepada 67 juta orang muda tentang apa yang penting bagi mereka? UNICEF Indonesia tertarik untuk mencari tahu.

Pada tahun 2014, UNICEF Indonesia merintis U-Report Indonesia, sebuah platform baru untuk mendorong 67 juta pemuda di negara ini untuk membuat suara mereka terdengar pada isu-isu utama pembangunan.

U-Report Indonesia adalah sistem polling berbasis Twitter yang bertanya kepada orang-orang muda tentang berbagai topik penting, mulai dari pendidikan, gizi, pernikahan anak, hingga bullying.

Tanggapan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian dianalisa oleh UNICEF Indonesia. Informasi ini kemudian akan diteruskan kepada pemerintah, mitra pembangunan dan masyarakat sipil sebagai cara membina partisipasi remaja dan pemuda.



Anak-anak, remaja dan pemuda adalah inti dari kinerja UNICEF, sehingga perspektif mereka sangat penting untuk menciptakan tindakan yang berarti. Selama fase percontohan, U-Report Indonesia telah mengirim berbagai pertanyaan termasuk:

• "Apakah kamu pernah mengalami atau melihat diskriminasi terhadap perempuan?"
• "Bagaimana kekerasan terhadap anak-anak di rumah bisa dihentikan?"
• "Apa yang harus menjadi prioritas nomor satu bagi anak-anak untuk presiden yang baru?"

U-Report Indonesia mengumpulkan pendapat para remaja dan pemuda Indonesia.
©UNICEF Indonesia/2015

U-Report pertama kali dikembangkan dan digunakan oleh Tim Inovasi UNICEF di Uganda dalam bentuk layanan SMS. Hingga saat ini, lebih dari 250.000 anak muda Uganda telah terdaftar pada jaringan U-Report Uganda. Kini U-Report telah berkembang pesat dan baru-baru ini mulai melibatkan pemuda di Liberia, Nigeria, dan Meksiko.

Apa yang membedakan U-Report Indonesia dari program U-Report lain adalah bahwa UNICEF Indonesia adalah yang pertama dalam memanfaatkan media sosial - khususnya Twitter - sebagai saluran utama untuk mengirim dan menerima pesan.

Karena Indonesia memiliki hampir 30 juta pengguna Twitter, media sosial adalah platform yang ideal untuk melibatkan orang-orang muda dalam diskusi nasional dan subnasional tentang isu-isu yang dihadapi anak-anak dan remaja.

Menyebarkan informasi tentang U-Report Indonesia di Indonesian Youth Conference 2014.
©UNICEF Indonesia/2015 

Untuk menumbuhkan basis U-Reporter Indonesia dan memperkeras suara advokasi pemuda pada isu-isu anak, UNICEF Indonesia telah mulai mempromosikan U-Report Indonesia di berbagai acara, termasuk pada Konferensi Pemuda Indonesia (IYC) di November 2014.

Pada IYC 2014, peserta memilih organisasi atau proyek yang mereka ingin dengar lebih lanjut saat sesi diskusi terbuka, dan U-Report Indonesia mendapatkan peringkat tertinggi.

UNICEF Indonesia memulai tahun 2015 dengan meluncurkan kampanye Give Voice to the Voiceless, dalam upaya untuk meningkatkan keanggotaan U-Report Indonesia.

Untuk bergabung dengan U-Report Indonesia dan membantu menciptakan perubahan positif, follow akun twitter @UReport_id.


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia