Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label HIV/AIDS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIV/AIDS. Tampilkan semua postingan
Kasih Ibu Teresia untuk Alinea sepanjang masa

Kasih Ibu Teresia untuk Alinea sepanjang masa

Oleh: Dinda Veska – Donor Content Creator UNICEF Indonesia
Seorang anak di Kupang dengan HIV positif tertidur dibalik kelambu, ia terinfeksi sejak hari pertama lahir ke dunia.©Shehzad Noorani/UNICEF/2018.

Dari seberang jalan seorang ibu berperawakan besar dengan rambutnya terikat rapih ke belakang, melambaikan tangannya pada saya yang sedikit bingung menerka-nerka sosok Ibu Teresia. 

Tidak sampai 5 menit dari persimpangan Jalan Alak – Kabupaten Kupang, kami tiba di kediaman Ibu Teresia. Beliau mempersilahkan saya tetap memakai sepatu karena khawatir kaus kaki saya akan kotor oleh lantai rumahnya yang erlantaikan semen.

Tidak lama setelah masuk ke ruangan kedua setelah ruang tamu, beliau kembali keluar mengenakan kemeja berwarna kuning bertuliskan Warga Peduli AIDS di bahu sebelah kiri, senyumnya semakin manis dengan gincu merah.

Iya duduk sambil memangku Alinea (2) – anak dengan HIV positif yang belum genap satu tahun diadopsi. “Ibunya meninggal waktu saya sedang mendampingi pasien di rumah sakit.” Jelasnya, seolah paham dengan apa yang ingin segera saya tanyakan.

Ia mengaku jatuh cinta pada Alinea sejak pertama kali melihat Alinea di samping ranjang seorang perempuan dengan HIV positif yang tengah meregang nyawa. Setelah digantikan popok oleh Ibu Teresia, perempuan itu menitipkan Alinea untuk dirawat dan dibesarkan. Sesaat setelah Alinea kehilangan ibunya, Ibu Teresia mendapat persetujuan dari anak dan suami untuk mengadopsi Alinea.

Ia juga memberi pemahaman pada anak-anak dan suami yang tinggal bersama di rumah tentang bagaimana menjaga Alinea dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Ibu Teresia juga berkali-kali mengingatkan untuk selalu memberitahunya jika Alinea terluka fisik, karena anak-anaknya sendiri masih belum begitu paham bagaimana harus merawat adik angkatnya.

Ibu beranak 5 ini sudah sejak 2014 mendampingi 8 orang dengan positif HIV, selain mengurus keperluan rumah tangga dan anak-anaknya sendiri, ia aktif mengunjungi dan menemani pasien HIV untuk mendapat perawatan juga pengobatan di rumah sakit.

“Orang dengan HIV butuh didukung, terutama oleh keluarga sehingga mereka tetap memiliki semangat untuk hidup.”

Setiap penjelasan dari Ibu Teresia selalu menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri.

Di antara pasien-pasien yang didampingi Ibu Teresia, terdapat seorang ibu hamil dengan HIV positif, kondisi seperti ini dapat mengancam janin yang sedang berada di dalam kandungan. Bukan tidak mungkin bayi tersebut lahir dengan terinfeksi virus dari ibunya. Oleh karena itu semua ibu hamil pun harus menjalani tes HIV selama masa kehamilan. Kini tes tersebut sudah menjadi salah satu dari rangkaian pemeriksaan kehamilan di seluruh pusat pelayanan kesehatan.

“Janin itu kan tidak bersalah, mereka bahkan tidak mengerti apa-apa yang dialami ibunya. Saya ingin ikut membantu mereka dapat terhindar dari virus ini.” Ucap Ibu Teresia setelah menunjukkan beberapa buku panduan kesehatan yang selalu ia bawa setiap kali kunjungan ke rumah-rumah pasien.

Sejauh ini, sebanyak lebih dari 1000 orang terinveksi HIV di Kabupaten kupang (berdasarkan data dari pusat pelayanan kesehatan). UNICEF bersama pemerintah terus berupaya untuk memastikan sistem pelayanan kesehatan dapat menjangkau ibu hamil dan mencegah setiap anak yang lahir terinveksi virus HIV, hingga tidak ada lagi anak yang harus lahir menderita karena penyakit-penyakit yang bisa dicegah. Program Pencegahan Penyakit Menular dari Ibu ke Anak diharapkan juga dapat memudahkan langkah gerak relawan Peduli AIDS seperti Ibu Teresia.

Salah satu peran penting Ibu Teresia juga memastikan ibu hamil yang ia dampingi mengkonsumsi ARV secara rutin. “Semoga tidak ada lagi bayi-bayi yang lahir terinveksi virus ini.” Ungkapnya.

Setiap ibu hamil dengan HIV positif, harus mengkonsumsi ARV (Antiretroviral) atau obat untuk menekan jumlah virus yang berkembang di dalam tubuh si ibu sehingga dapat menurunkan kemungkinan bayinya terinveksi. Namun ketika bayi itu lahir, pengecekan darah dan status HIV harus rutin dilakukan pada seorang anak hingga usia 18 bulan, guna memastikan anak tersebut tidak terinfeksi HIV dari ibunya.

Kepedulian yang diperjuangkan oleh Ibu Teresia membawa saya pada potongan lirik lagu kasih ibu. Kasih sayangnya tak terhingga, sepanjang masa, hanya memberi dan tak harap kembali.

Ibu Teresia bukan hanya sekedar ibu angkat untuk Alinea, ialah cahaya yang akan terus menyinari langkah Alinea, kelima anaknya dan anak-anak lain di Kupang yang ingin ia selamatkan.


*Seluruh nama di dalam tulisan ini telah disamarkan, demi menghargai hak-hak anak.

Di Papua Barat, bidan menjadi kunci menghentikan penyebaran HIV

Di Papua Barat, bidan menjadi kunci menghentikan penyebaran HIV

Oleh Cory Rogers, UNICEF Indonesia Communication Officer


Stevlin menjalani USG di Puskesmas Sorong, Papua Barat.
Sorong: Stevlin, 32, ibu dari lima anak, berbaring di atas dipan pemeriksaan diiringi dengung mesin USG.
Tak lama kemudian, suara detak jantung mengisi ruangan. Stevlin tersenyum lebar: mendengar denyut jantung calon bayi untuk pertama kalinya merupakan pengalaman yang unik.
Untuk pemeriksaan kehamilan itu, Stevlin datang ke Puskesmas Malawei di Sorong, Provinsi Papua Barat.
“Saya harus pastikan kehamilan berjalan lancar agar bayi saya dapat lahir dengan sehat,” katanya. Kedua alisnya bertaut. Pada awal tahun 2000, Stevlin pernah kehilangan seorang anak akibat komplikasi penyakit. Kini, ia bertekad berusaha semampu mungkin untuk memastikan kesehatan sang bayi. Artinya, Stevlin harus mengonsumsi makanan sehat, berolahraga, cukup beristirahat, dan menjalani pemeriksaan kesehatan—terutama HIV.
“Di Papua Barat, risiko HIV 15 kali lebih tinggi dari rata-rata nasional. Menjalani tes HIV wajib bagi para ibu mengandung di sini,” kata Beth Nurlely, UNICEF Indonesia Health Officer di Papua Barat. Tanpa pengobatan, 1 dari 3 anak berisiko tertular HIV dari ibu. Namun begitu, di Indonesia, hanya 14 persen ibu yang pernah melakukan tes penting itu.
“Tingkat penularan sudah turun sampai hampir nihil dengan terapi antiretroviral,” kata Nurlely lagi. “Yang diperlukan sekarang adalah cara-cara kreatif untuk meningkatkan uji kesehatan.”

Papua menjadi yang terdepan
Sorong, kota pelabuhan sibuk di Provinsi Papua Barat, Papua*, adalah satu dari empat kota (selain Surabaya di Jawa Timur, Jakarta Barat di DKI Jakarta, dan Bandung di Jawa Barat) tempat UNICEF dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menguji pendekatan baru untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak (PMTCT).
Di Papua, risiko penularan tak lagi terbatas pada kelompok-kelompok rentan seperti pekerja seks namun sudah memengaruhi populasi umum. Ibu seperti Stevlin dan bayinya pun turut terancam. Menurut para ahli, tanpa peningkatan signifikan dalam hal akses pada uji kesehatan dan pengobatan secara nasional, jumlah anak pengidap HIV akan naik dua kali lipat dalam sepuluh tahun mendatang.

Ibu mengandung dengan anak perempuannya, mengantre pemeriksaan di Posyandu Sorong, Papua Barat.

Lepas dari risiko itu, menurut Stevelin ia baru menjalani tes HIV pada tahun 2014. Saat itu, ia sudah melahirkan tiga orang anak.
“Jujur saja, saya tidak terlalu paham soal HIV, tapi saya tahu saya perlu (diperiksa),” katanya, sembari bidan mengambil sampel darah dari jarinya.
 “Sekarang jadi gugup. Saya ingin cepat tahu hasilnya.”
Memberdayakan bidan
Uji cepat HIV yang dijalani Stevlin dilaksanakan oleh salah seorang bidan Puskesmas, dan hal ini adalah pencapaian besar.
“Dulu, hanya tenaga laboratorium khusus yang boleh melakukan tes,” ujar Nurlely. “Tapi, di Papua Barat, tenaga profesional yang terlatih tidak banyak sehingga justru menghambat proses pemeriksaan.”
Meyakinkan pemerintah daerah untuk melatih dan mengizinkan bidan untuk melakukan uji cepat menjadi tujuan penting dari program percobaan UNICEF di seluruh Indonesia. Di Sorong, titik kemajuan terjadi pada September 2014 ketika pemerintah daerah setuju bahwa perubahan itu memang efektif untuk meningkatkan pemeriksaan dan melindungi ibu dan anak.

Bidan di Malawei memproses tes HIV Stevlin.
“Kami berhasil meyakinkan pejabat daerah bahwa jumlah tenaga laboratorium memang tidak cukup untuk  menjawab kebutuhan pemeriksaan. Hasilnya, para bidan sekarang leluasa melaksanakan tugas penting ini,” ujar Nurlely.
Tiga tahun kemudian, tingkat pemeriksaan sudah naik 60 persen di kalangan ibu hamil di Sorong—atau sekitar lima kali lebih tinggi dari rata-rata nasional.
Menghapuskan formulir persetujuan
Menurut Roys Fetty Mulalinda, bidan kepala di Malawei, melatih bidan agar memperlakukan pemeriksaan HIV sama seperti tes darah lain adalah kunci untuk menurunkan penularan ibu ke anak.
Sebelum intervensi UNICEF, ibu hamil diwajibkan menandatangani formulir persetujuan sebelum tes HIV dilaksanakan. Secara teori, kebijakan ini memang baik. Namun, aturan pernyataan persetujuan ternyata memberikan kesan negatif dan, menurut Nurlely, mencerminkan stigma terhadap penyakit itu sendiri yang oleh banyak orang dianggap sebagai “kutukan”.
Kini, kata Roys Fetty, berkat keberhasilan mengadvokasi pemerintah daerah, formulir persetujuan sudah dihapuskan dan tes sekarang dianggap selazim tes kesehatan lainnya. Sebagai ganti formulir itu, perempuan sekarang harus menandatangani surat menolak menjalani tes HIV dan menyatakan bahwa mereka paham risiko yang mungkin timbul bagi diri dan bayi mereka.
“Bagi setiap perempuan hamil yang datang, tes HIV pasti dilakukan,” ujar Roys Fetty. “Dari sisi kami, satu-satunya sebab tes tidak dilakukan adalah jika kami kehabisan alat uji.”

Stevlin tersenyum mengetahui ia tidak mengidap HIV.
Hibah baru Global Fund akan memungkinkan UNICEF dan Pemerintah Indonesia untuk menambah 28 kabupaten sebagai wilayah percobaan tahun depan. Hal ini akan membantu memperluas keberhasilan yang sudah dibangun di Sorong.
Namun, faktanya, empat dari setiap 10 ibu hamil masih menolak tes HIV. Untuk mengubah ini, masih dibutuhkan banyak upaya.
“Jika ingin dapat menjangkau semua ibu hamil, maka diperlukan peraturan tingkat provinsi yang pemberlakuannya lebih luas.”
Hingga saat ini, peraturan tersebut belum terwujud. Tetapi, ada harapan: di 10 dari 13 kabupaten Papua, reformasi ke arah PMTCT di tingkat daerah tengah berlangsung. Semoga, tak perlu waktu lama hingga semua ibu hamil bisa mengakses tes yang amat penting ini.
*Papua, pulau di wilayah paling timur Indonesia, terdiri dari Provinsi Papua Barat dan Papua—dua provinsi termiskin Indonesia.
 
 





Kisah Dewi: Rumah Pelacuran di Papua

Kisah Dewi: Rumah Pelacuran di Papua

Oleh Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

Dewi tinggal dan bekerja di lokalisasi Timika. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker  

Timika adalah kota kecil kotor yang terletak di perbatasan Provinsi Papua. Timika berada pada bayang-bayang tambang emas terbesar di dunia, Freeport. Tetapi kekayaan luas yang membentang beberapa mil jauhnya berdampak kecil terhadap kehidupan sebagian besar orang di Timika.

Papua berjuang dengan tingkat kemiskinan yang tinggi. Banyak keluarga mengandalkan sumber pendapatan mereka sepenuhnya pada penangkapan ikan atau sumber-sumber pendapatan pertanian lainnya. Pekerjaan seringkali langka dan kesempatan kerja tidak banyak. Bagi beberapa anak perempuan muda, hanya ada satu cara untuk menjalani hidup yang layak.

"Saya telah bekerja di lokalisasi  selama kurang lebih tiga bulan," kata Dewi*. Dewi sekarang tinggal di salah satu lokalisasi yang kotor di luar Timika. Kliennya kebanyakan laki-laki kelas pekerja dari desa-desa sekitarnya. Pelanggan saya antara lain "sopir truk, pekerja tambang dan tentara."


Dewi menunjukkan kamarnya yang sempit dan untuk menaruh kasur saja hampir tidak cukup. Seiring dengan usianya, seprai dan bantal terbuat dari kain perca dengan desain anak-anak. Retakan di dinding hijau berjamur menunjukkan kamar-kamar lain dimana anak-anak perempuan muda juga melakukan praktek transaksi.

Kamar Dewi. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Ini merupakan pekerjaan yang sangat berbahaya karena tempat lokalisasi itu berada. Angka terakhir menunjukkan bahwa meski angka prevalensi HIV nasional di Indonesia adalah 0,5 persen, angka tersebut meningkat menjadi 2,3 persen di Tanah Papua. Artinya bahwa daerah tersebut mengalami epidemi umum.

Timika sangat dipengaruhi oleh epidemi ini. Timika merupakan pusat pekerja seks – kelompok kunci yang beresiko mengidap HIV. Lokalisasi dengan perputaran yang tinggi menjadi perhatian khusus karena dapat menyebarkan penyakit HIV.

Dewi sepertinya mengetahui resiko yang ia hadapi setiap hari: "Saya tahu bahwa HIV merupakan ancaman. Saya tahu bahwa AIDS bisa membunuh. "Dia menegaskan bahwa para pelanggannya menggunakan kondom. Tetapi mereka tidak selalu menggunakan kondom. "Tadi malam saya bersama seorang laki-laki yang melepas kondomnya sebelum melakukan penetrasi," katanya.

Penggunaan kontrasepsi pada pekerja seks sangat penting untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS di Papua. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Di lokalisasi tersebut, terdapat klinik kesehatan kecil. HIV/AIDS merupakan fokus utama. Dinding klinik ditutupi poster yang mengingatkan para pengunjung tentang kemungkinan penyakit. Alat kontrasepsi dipromosikan dan diberikan secara gratis.

Klinik tersebut juga melakukan tes HIV secara tetap. "Tes dilakukan terhadap sejumlah anak perempuan dengan hasil positif," kata petugas kesehatan Ibu Iriyani. Pesan Ibu Iriyani kepada anak-anak perempuan jelas, sederhana, dan diulang-ulang: "Gunakan kondom, setiap waktu"

Pada hari khusus ini, perwakilan dari LSM kesehatan setempat, Yayasan Caritas Timika Papua mengunjungi lokalisasi itu. Perwakilan yayasan, Pak Jerry, telah memerangi HIV/AIDS di daerah ini selama beberapa waktu. Kelihatannya ia sangat optimis.

"HIV merupakan masalah di Timika," kata Pak Jerry. "Tetapi keadaannya kini semakin membaik. Banyak hal telah berubah. "Pak Jerry mengatakan bahwa HIV/AIDS mulai kehilangan stigmanya. Pengetahuan tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS semakin membaik. Ini merupakan langkah pertama yang penting untuk mengakhiri epidemi.

Anak-anak perempuan di lokalisasi Papua menghadapi resiko setiap hari. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker  

Dewi tidak bisa mengatakan berapa lama ia akan terus bekerja di lokalisasi. "Saya bisa mendapatkan uang dan membantu keluarga saya, khususnya saudara-saudara perempuan saya jadi buat saya ini hal yang baik," katanya. Seperti pekerja seks lainnya di sini, bulan bisa menjadi tahun, dan setiap hari ia menghadapi resiko penyakit yang mematikan.

Ketika didesak, Dewi mengatakan bahwa ia memiliki cita-cita untuk masa depan di luar pekerjaannya saat ini: "Saya ingin memulai usaha, mungkin toko makanan."

Tetapi untuk saat ini, ada hal-hal lain yang Dewi pikiran. Ia duduk, di bawah lampu kecil berwarna merah yang menyala sepanjang hari dan menunggu pelanggan berikutnya.

*Bukan nama asli


Indonesia berada pada saat yang kritis untuk HIV/AIDS: Indonesia adalah salah satu dari sembilan negara di dunia dimana tingkat infeksi meningkat.

Sekarang ini UNICEF sedang mendukung Program Pendidikan Kecakapan Hidup HIV/AIDS di Papua. Program ini membantu para remaja memperoleh pengetahuan dan mengakses layanan untuk melindungi mereka dari penularan HIV/AIDS.

Ada sekitar 50.000 infeksi HIV baru di kalangan remaja berusia 15-19 pada 2014, termasuk 15 persen infeksi baru. Saat ini ada sekitar 220.000 remaja yang hidup dengan HIV di Asia Pasifik, dengan 15.000 infeksi baru di Indonesia tahun lalu. 

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia