Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label bullying. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bullying. Tampilkan semua postingan
Virus Inspiratif Kabupaten Klaten: Hari Pertama

Virus Inspiratif Kabupaten Klaten: Hari Pertama

Oleh: Femmy, In-House Face To Face UNICEF Surabaya

Pada hari Senin, 26 november 2015, saya berangkat dari Stasiun Gubeng Surabaya menuju Stasiun Tugu Yogyakarta bersama dua anggota team In-House Face To Face UNICEF.

Tujuan dari trip ini adalah untuk melihat secara langsung program kerja UNICEF di lapangan, mengenai bagaimana peran UNICEF mampu memberikan dampak pada perubahan perilaku pada masyarakat ke arah yang lebih baik. Dan pada kesempatan kali ini kami berkesempatan untuk mengunjungi wilayah kabupaten Klaten, Jawa Tengah, untuk melihat program gizi dan perlindungan anak.


Setelah sekitar satu jam perjalanan, tempat pertama yang kami kunjungi adalah kantor BAPPEDA (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) kabupaten Klaten untuk berdialog dengan Dinas Kesehatan Klaten, Perangkat Desa Pandes dan juga tim kesehatan UNICEF Surabaya.

UNICEF memulai beberapa program di kabupaten Klaten pasca gempa bumi yang terjadi pada tahun 2006, dengan fokus pada kesehatan dan perlindungan anak. Tujuannya adalah KLA, Kota Layak Anak.

Beberapa pelajaran yang saya dapatkan dari pertemuan tersebut:
  • Di kabupaten ini sekitar 12 dari 318 bayi mengalami stunting, atau terhambatnya pertumbuhan akibat masalah gizi. Jika stunting terdeteksi saat bayi berusia di atas 2 tahun, maka akan sulit disembuhkan.
  • Micro mineral disiapkan untuk membantu ibu yang anaknya mengalami stunting.
  • Pemberian susu formula pada bayi dapat menjadi bermasalah, dan Klaten sendiri memiliki banyak pabrik susu formula.
  • PMBA, pemberian makan bayi dan anak, dijadikan gerakan yang berbasis masyarakat agar ada kerjasama untuk memastikan asupan gizi bayi dan anak sudah baik dan benar.

Sekertariat Bersama – Forum Anak Kabupaten Klaten.

Kami pun berlanjut ke Sekretariat Bersama Perlindungan Anak Kabupaten Klaten untuk berdiskusi dengan Forum Anak Klaten, sebuah forum informal yang membantu upaya pencegahan kekerasan terhadap anak dimana konselornya ya sebaya dengan anak-anak, seusia SMP - SMA. 

Kekerasan yang terjadi pada anak bisa terjadi di dalam keluarga (membentak, menjewer, memukul, dsb) dan di lingkup pergaulan teman sebaya (bullying).

Fakta menarik tentang bullying: banyak pelaku bully dulunya pernah jadi korban bullying / melihat kekerasan yang terjadi di dalam keluarganya / kekurangan perhatian dan kasih sayang dari orang tua.

Konselor anak ini tidak menjadi tempat curhat (curahan hati) teman-teman sebayanya akan tetapi juga bisa membantu pelaporan dan prosedur pelaporan kekerasan terhadap anak. Mulai dari bukti yang kelihatan ataupun yang tidak.

Yang pasti mendidik anak memang tidak mudah serta diperlukan extra sabar dan kasih sayang yang berlimpah. Karena satu cubitan dari orang tua mengakibatkan rusaknya 10 miliar syaraf anak. Dan satu bentakan sederhana bisa merusak 1 miliar syaraf pada anak. 

Angka yang fantastis bukan? 

Jadi bayangkan berapa banyak syaraf yang rusak, jika orang tua secara rutin melakukan kekerasan verbal dan nonverbal terhadap anak. Bisa dipastikan dalam 3 - 5 tahun ke depan, otak anak akan mengecil, sementara 1 Triliun syaraf baru bisa tumbuh dan berkembang dengan memberikan sayang dan pujian kepada anak.

Suasana saat sedang berdiskusi dengan Forum Anak.
Diskusi dan tanya jawab di tempat ini berakhir sekitar pukul 17.00, Kemudian kami kembali ke Yogya tepat saat makan malam tiba. 



We Are Siblings Graduation: Inovator Muda Mengubah Kehidupan

We Are Siblings Graduation: Inovator Muda Mengubah Kehidupan

By Vania Santoso – Innovation Lab Youth Engagement Officer

Upacara kelulusan We Are Siblings. ©UNICEF Indonesia/2015

"Dulu aku sudah berkali-kali hampir menyerah.Tapi sekarang aku bahagia karena tidak jadi melakukannya."

Kalimat sederhana yang diucapkan oleh Cynthia Andriani, anggota We Are Siblings, saat proyek percontohan (pilot project) mereka berakhir di Bogor ini membuatku meneteskan air mata. Cynthia telah merangkum jerih payah dan kesuksesan yang dirasakan bersama para inovator muda lainnya dalam beberapa bulan terakhir.

We Are Siblings adalah proyek mentoring tentang anti-bullying (perundungan) yang dikembangkan oleh mahasiswa Intitut Pertanian Bogor (IPB). Proyek ini memenangi Kompetisi Global Design for UNICEF Challenge pada awal tahun ini sehingga mendapatkan dana hibah 2.500 dolar Amerika dari UNICEF untuk mengimplementasikan inisiatif mereka.

Proyek ini diawali dari enam mentor We are Siblings yang mendampingi 29 anak untuk menemukan cara-cara inovatif dalam mengatasi perundungan, baik secara tatap muka maupun online. Sesi tatap muka melibatkan satu mentor yang langsung terjun mendampingi sekelompok anak melalui modul anti-penindasan; Sementara sesi online menjadi sarana pendukung, menjalin komunikasi sehari-hari lewat SMS dan aplikasi pengirim pesan lainnya.


Inisiatif seperti ini sangat penting di Indonesia – mengingat kekerasan terhadap anak telah meluas di seluruh daerah. Studi UNICEF terbaru, “Hidden in Plain Sight” mengungkap bahwa 40% pelajar usia 13-15 tahun melaporkan pernah mengalami kekerasan fisik  di sekolah.
We Are Siblings mengakhiri proyek percontohannya lewat acara kelulusan yang memberikan masukan menarik pada proyek ini dan menunjukkan bagaimana para inovator dapat benar-benar mengubah kehidupan para pelajar muda.

Hari kelulusan diawali dengan sebuah drama tentang tiga remaja yang ditindas secara verbal, fisik, bahkan di media sosial – untuk menunjukkan bahwa perundungan dapat terjadi pada anak muda Indonesia di mana saja. Bagi beberapa orang bahkan seolah tidak ada jalan keluar.
Anak-anak muda itu kemudian menuturkan kisah-kisah pribadi mereka tentang perundungan dan kemudian membahas tema “semua anak unik dan berharga.” Hal ini merefleksikan apa yang telah dilakukan We Are Siblings, membantu peserta membangun kepercayaan diri yang lebih lewat modul pelatihannya.

“Anak saya dulu selalu di-bully, mulai dari kata-kata sampai fisik, tapi dia tidak langsung cerita ke saya," ujar Pak Nyoman Heru sebagai perwakilan orang tua. "Sejak bergabung dengan proyek ini, dia jadi lebih terbuka cerita perasaan dan pengalamannya terkena bully."

Pernyataan kuat lain berasal dari Jabir Al Hayyan, peserta yang duduk di bangku kelas 6 SD. "Senang ikut programnya. Saya siap untuk meneruskannya, mendukung teman-teman lain yang di-bully," ujarnya.

Tayangan cuplikan video dari proyek percontohan ini mendapat tepuk tangan gemuruh. "Presiden di masa depan, pilot di masa depan, olahragawan di masa depan": kalimat pembuka ini diikuti oleh foto anak-anak yang memiliki mimpi-mimpi tersebut. Video ini pun menekankan bagaimana We Are Siblings telah mengembangkan jati diri dan cita-cita peserta.

Para mentor telah membangun hubungan yang sangat dekat dengan tiap anak. Salah satu mentor, Nensi Sarina berkata, "Kalian memiliki cita-cita luar biasa dalam hidup, ada Sahrul yang ingin menjadi polisi, ada Alifa jadi pramugari." "Aku benar-benar senang bisa bersama kalian, Mutia yang pintar dan sopan, Nirwan yang cerewet tapi mengayomi adiknya," ucap Irsalina Nurin Oktafiani yang menunjukkan akrabnya hubungan dengan setiap anak bimbingannya.

Keenam mentor kemudian naik ke atas panggung di akhir acara dan semua anak berlari untuk memberikan bunga kepada mentor mereka masing-masing diikuti dengan ucapan terima kasih yang menyentuh dari Cynthia. Menyerah bukan pilihan Karena setiap masalah ada jalan keluarnya.

Mengimplementasikan sebuah proyek yang baru dan inovatif tentu memiliki banyak suka duka, namun itu semua terbayar sudah. Proyek ini benar-benar sesuai dengan namanya: Kita Bersaudara, We Are Siblings!


Pesan Untuk Indonesia: Sudah Dong

Pesan Untuk Indonesia: Sudah Dong

Lauren Rumble, Kepala Perlindungan Anak UNICEF Indonesia


Salah satu bagian terbaik dari pekerjaan saya di UNICEF Indonesia adalah bekerja dengan anak muda Indonesia. Saya beruntung untuk bisa bertemu dengan pemuda-pemuda yang berdedikasi, kreatif dan inspiratif—banyak yang betul-betul membawa perubahan di dalam komunitas mereka sendiri.

Belum lama ini saya bertemu dengan tim Sudah Dong, sebuah organisasi nirlaba yang dijalankan oleh anak muda, untuk anak muda dan fokus pada banyak upaya menangani masalah bullying.

Sudah Dong bertujuan untuk memobilisasi aksi damai dan dukungan rekan sebaya dalam mengakhiri bullying. Pada bulan Juni, Sudah Dong merilis buku manual untuk anak dan remaja pertamanya dengan judul “End Bullying,” yang diharapkan dapat tersebar ke satu juta anak di seluruh nusantara. Dalam dua minggu, 625 buku telah diungguh (anda bisa ungguh buku manual di sini)

Dirilisnya buku manual ini tepat pada waktunya: Indonesia adalah negara dengan tingkat kekerasan fisik terhadap siswa yang tertinggi di dunia (40 persen). Lebih dari 50 persen siswa telah mengalami bullying di sekolah. Sekolah, wadah belajar dan perlindungan, untuk banyak siswa, adalah tempat paling aman yang mereka punya.


Penyebab bullying di Indonesia tidak dimengerti secara luas, tetapi akibatnya adalah kesedihan. Anak-anak yang mengalami bullying bisa menderita gangguan kesehatan mental, depresi, dan kecemasan serta kegagalan dalam perkembangan akademis atau bahkan putus sekolah.

Anak-anak yang mengalami kekerasan memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengalami itu semua. Korban dan saksi kekerasan domestik, bullying, atau kekerasan seksual juga berisiko untuk melakukan kekerasan ketika dewasa.

Sudah Dong ingin menghentikan lingkaran kekerasan tersebut. Mereka percaya bahwa anak muda tidak ingin melakukan kekerasan, tetapi dipaksa oleh keadaan. Para korban kerap menderita dalam bisu. “Bullying  adalah hal yang tabu. Banyak korban yang takut untuk membicarakan pengalaman mereka,” ujar Katyana. “Perploncoan, program orientasi sekolah yang mengusung kekerasan, dan ancaman sehari-hari dianggap normal, sementara itu anak-anak terlalu takut untuk mengadukan.”

Sudah Dong percaya anak-anak perlu tahu bahwa mereka tidak sendirian jika mereka mengalami bullying. Organisasi ini sudah membuat sebuah jaringan yang terdiri dari 604 sukarelawan terlatih untuk berinteraksi online dengan anak dan remaja yang mengadukan bullying.

“Kami meyakinkan mereka bahwa mereka bukan satu-satunya. Mereka masih bisa belajar dan menjalankan hidup yang produktif. Dan mereka bisa saling mendukung,” ujar Katyana. Sudah Dong juga melakukan kunjungan ke sekolah untuk berbicara langsung dengan anak-anak tentang bullying  dan mengangkat isu ini ke permukaan.

Katyanya memiliki mimpi yang besar untuk organisasinya. “Mimpi saya adalah untuk melatih sukarelawan di seluruh Indonesia untuk melakukan lebih banyak kunjungan ke sekolah-sekolah dan menggandeng lebih banyak anak.” Visi Katyana adalah untuk menginspirasi para pemuda—menunjukkan bahwa setiap orang bisa membawa perubahan dalam menghentikan kekerasan terhadap anak.

Kamu juga bisa! Bergabunglah dengan kampanye #PelindungAnak disini : https://pelindunganak.org/ 

Dukungan melawan bullying

Dukungan melawan bullying

Tim We Are Siblings menggunakan cara-cara yang inovatif pada lokakarya anti-bullying yang mereka selenggarakan. ©UNICEF Indonesia/2015/Vania Santoso

Secara mengejutkan 50 persen dari siswa berusia 13-15 tahun di Indonesia melaporkan bahwa mereka pernah menjadi korban bullying di sekolah. Angka ini merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. Anak-anak ini dapat mengalami bekas luka emosional yang dalam seumur hidupnya. Hal ini mendorong sekelompok mahasiswa untuk memutuskan bahwa sudah saatnya untuk bertindak.

Tahun lalu, lima mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) mengikuti kompetisi Desain Global untuk Tantangan UNICEF dengan kegiatan yang difokuskan untuk mengatasi bullying di Indonesia. Kompetisi ini mengundang anak-anak muda di seluruh dunia untuk mengatasi isu-isu lokal yang mendesak dengan memberikan solusi yang inovatif.

Para mahasiswa ini memiliki nasib yang sangat mirip dekat dengan subjek mereka. Salah satu anggota tim Aldila Setiawati pernah mengalami bullying yang parah semasa bersekolah. "Untungnya saya memiliki keluarga yang mendukung saya. Namun saya sering berpikir, bagaimana dengan anak-anak yang tidak mendapat dukungan?" ujarnya.


Terinspirasi dengan pengalaman pribadi mereka, kelompok ini membuat proyek: We Are Siblings (Kita Adalah Saudara). Proyek mereka menghubungkan siswa-siswa yang berisiko mengalami bullying ke berbagai jaringan dukungan yang menggabungkan dukungan nyata dan dukungan dalam jaringan (online). "Kita tahu bullying dapat menghancurkan masa depan anak. Kami pikir jaringan dukungan bisa membantu menghentikan penindasan ini," kata Aldila.

Selain tim lokal dari IPB dan Institut Teknologi Bandung (ITB), Kompetisi Desain Global untuk Tantangan UNICEF juga menarik minat enam negara lainnya (termasuk Zambia, Kosovo dan Chili). Seluruhnya ada 45 ide proyek yang inovatif, 33 di antaranya berasal dari Indonesia dengan topik berkisar dari kebersihan hingga keadaan darurat bagi kekerasan.

We Are Siblings adalah salah satu dari dua tim yang menjadi juara dalam kompetisi ini.


Langkah Selanjutnya 

Dengan kemenangan yang diraih oleh mahasiswa IPB bersama dengan tim dari Nikaragua  berarti proyek We Are Siblings akan menerima bantuan dari UNICEF untuk melakukan uji coba. Tim mahasiswa IPB sekarang memiliki kesempatan untuk mengembangkan ide mereka lebih jauh dalam bentuk proyek percontohan.

"Bullying telah mencapai angka epidemi di Indonesia," kata Spesialis Perlindungan Anak UNICEF Ali Ramly. "Angka-angka ini mengerikan: sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa 55 persen siswa laki-laki dan 45 persen siswa perempuan di kelas 7-9 pernah mengalami bullying setidaknya sekali."

"Dan angka-angka mengenai bullying dengan kekerasan sangat mengkhawatirkan," katanya." 8,2 persen dari siswa ini paling sering mengalami bullying dengan cara dipukul, ditendang, didorong, diganggu atau dikunci di dalam ruangan."

"We Are Siblings merupakan langkah penting untuk menemukan cara-cara baru guna mengatasi bullying. Proyek mereka benar-benar sejalan dengan tema Desain Global untuk Tantangan UNICEF - Bagaimana Kita Membangun Hubungan yang Lebih Baik untuk mereka yang Kurang Terhubung? Hal ini penting untuk memastikan tidak ada yang merasa sendirian ketika mereka ditindas.

We Are Siblings menyelenggarakan sesi anti-bullying yang didukung leh UNICEF. ©UNICEF Indonesia/2015/Vania Santoso

Sejak meraih kemenangan, tim ini bekerja sama erat dengan UNICEF. We Are Siblings saat ini sedang diujicobakan di daerah Bogor selama 6 bulan. “30 anak dari empat sekolah di daerah Bogor dan sekitarnya berpartisipasi dalam proyek percontohan ini,” kata pemimpin tim Ayendha Kukuh Pangesti. “Kami merangkul siswa, orang tua mereka dan anak muda lainnya.”

Tim ini menyelenggarakan sesi ujicobanya yang pertama pada tanggal 30 Mei dengan semua peserta. Kegiatan ini melibatkan serangkaian kegiatan pelatihan untuk membahas berbagai bentuk bullying dan memperkenalkan para siswa dengan mentor mereka.

"Ini merupakan awal yang baik untuk proyek kami," kata Ayendha. "Kami sekarang telah meluncurkan kegiatan mentoring yang sesungguhnya, baik melalui tatap muka maupun melalui platform digital. Kemajuannya terlihat baik."

Setelah proyek percontohan ini selesai, tim ini berharap untuk bekerja sama dengan mitra guna menyebarluaskan proyek ini ke daerah lain. “Proyek ini tidak akan berhenti sampai di sini. Saya bermimpi proyek kami direplikasikan di berbagai daerah. Begitu banyak anak yang terancam, dan kami harus meraih mereka,” kata Ayendha.

UNICEF akan terus merangkul ide-ide para inovator muda. We Are Siblings mewakili pembangunan penting dalam hal bantuan bagi jutaan anak korban bullying, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi: http://wearesiblingsindonesia.org/

Source: Global Student-based Health Survey (GSHS).


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia