Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label feature. Tampilkan semua postingan
Butuh kematian satu anak untuk mengimunisasi anak berikutnya

Butuh kematian satu anak untuk mengimunisasi anak berikutnya

Junaedah, Kosir dan anak mereka Mohammad Faqih. "Bayi saya sekarang siap melawan penyakit."

Anak perempuan satu-satunya Junaedah, Soliha, kini seharusnya berusia 5 tahun. Namun seperti terlalu banyak anak-anak di Indonesia, si kecil Soliha meninggal baru 3 bulan yang lalu, akibat penyakit yang seharusnya mudah dicegah.

Meskipun demikian, kematiannya tidak sia-sia. Kejadian ini membantu memacu Junaedah, juga dikenal sebagai Juju, dan suaminya Kosir, untuk mengimunisasi anak termuda dari enam anak mereka, Mohammad Faqih.

Juju mengatakan ia sudah melihat perbedaan antara Mohammad Faqih dan kakak-kakaknya yang tidak diimunisasi.

“Anak-anak saya yang lain kecil dan kurus, berbeda dari anak bungsu saya yang gemuk dan sehat. Dia kebal dan jarang sakit,” kata Juju, yang berasal dari desar Kluwutdi Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Indonesia.

Juju sebenarnya mengimunisasi anak pertamanya, tetapi ketika ia menerima suntikan vaksin polio, ia mulai menangis dan demam. Ibu Juju kemudian melarang is untuk mengimunisasi cucu-cucu lainnya. Tetapi apa yang Juju and Ibu-nya tidak sadari adalah bahwa demam sesudah menerima imunisasi polio, yang merupakan salah satu dari lima vaksin dasar untuk melindungi bayi terhadap potensi penyakit, sebenarnya sangat normal.

Tahun lalu saja, sekitar 75 anak-anak di Brebes meninggal karena berbagai penyakit yang tidak dapat dicegah, termasuk diare dan infeksi. Pada kenyataannya, kecenderungan penyakit diare adalah paling tinggi di antara anak-anak yang belum menerima imunisasi. Pentingnya lima imunisasi dasar ini sering diabaikan ketika orang seperti Juju dan Ibu-nya tidak diberikan informasi yang cukup mengenai proses imunisasi. Konsekuensinya sangat besar: imunisasi bukan hanya mempengaruhi perlindungan anak terhadap penyakit, tetapi juga bahaya penularan pada anak-anak lain.

Ibu Junaedah menjual makanan buatan rumah berkisar Rp 1000,- Rp 2000,-

UNICEF, bersama dengan Kementerian Kesehatan dan LSM-LSM regional maupun lokal, bekerja  untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya imunisasi bagi anak dan mendidik orang tua tentang apa yang perlu diantisipasi selama proses imunisasi.

Sejak 2011, UNICEF telah berpartisipasi dalam beberapa upaya untuk memberdayakan masyarakat untuk memperbaiki situasi kesehatan di Brebes. Upaya itu termasuk pelatihan komunikasi untuk bidan dan relawan, serta pelatihan dan dukungan untuk pihak lain yang terkait dengan proses itu. Sebagai contohnya, UNICEF menyediakan material pada Program Keluarga Harapan (PKH), yang memberikan transfer tunai bersyarat pada rumah tangga dengan sosioekonomi rendah. Peserta harus memenuhi persyaratan tertentu untuk meningkatkan kualitas sumber dayanya, yaitu pendidikan dan kesehatan dasar untuk ibu hamil serta anak-anak pra sekolah.

Salah satu fasilitator PKH yang dilatih oleh UNICEF adalah Agus Tresnawati, yang juga dikenal sebagai Nana. Nana mengawasi lebih dari 300 rumah tangga, termasuk lebih dari 220 anak dan balita. Nana sebelumnya membuka sebuah pusat bahasa kecil miliknya sendiri di Jakarta sesudah belajar bahasa Arab, tetapi kembali ke Brebes atas permintaan Ibu-nya. Ia mengatakan bahwa in menikmati pekerjaan barunya dan merasa senang mengetahui bahwa ia berkontribusi terhadap masyarakat.

Selama berkeliling, ia kadang-kadang membawa anaknya sendiri sebagai contoh bagaimana anak yang sehat dan cerdas dapat tumbuh baik dengan pemberian ASI yang tepat, gizi yang baik dan imunisasi.

“Siapa lagi yang bisa membantu masyarakat saya jika saya tidak mulai dari diri sendiri?” katanya.

Dan tidak ada seorangpun selain Juju yang memahami betapa benarnya hal itu.

“Kadang-kadang saya masih menyesal tidak mengimunisasi anak perempuan saya” katanya sambil memeluk anak bungsunya yang gemuk itu. “Saya tidak bisa memutar waktu kembali tetapi saya sudah belajar.”

Mendidik melalui contoh. Memamerkan bayinya yang sehat dan cerdas menginspirasi ibu-ibu yang lain.

Rani Wijayanti, Kartini Masa Kini

Rani Wijayanti, Kartini Masa Kini


"Banyak yang bisa kita pelajari dari berita di koran ini," kata seorang ibu guru kepada sekelompok siswa yang sedang melihat selembar surat kabar. Guru itu kemudian berjalan ke meja lain dan kembali terlibat percakapan seru dengan diselingi gelak tawa.

Pemandangan itu tampak di SMPN 2 Sekolah Satu Atap (SATAP) Botolinggo, Bondowoso, Jawa Timur dan ibu guru itu bernama Rani Wijayanti. Sosok guru IPS dan TIK ini tidak bisa dilepaskan dari SATAP tempat ia mengabdi selama lima tahun terakhir ini. ‘Mengabdi’ adalah kata yang tepat untuk menggambarkan dedikasi Ibu Rani. Meskipun honor yang ia terima setiap bulan sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) sangat minim, hanya di kisaran Rp. 300.000,- saja, Ibu Rani yakin bahwa mengajar adalah sebuah pekerjaan mulia karena ilmu pengetahuan yang ia bagi dan ajarkan kepada para siswa akan menjadi bekal hidup mereka.

Botolinggo adalah daerah terpencil dengan fasilitas publik yang masih minim, termasuk dalam bidang pendidikan. Namun kondisi itu tidak menghalangi Ibu Rani untuk memenuhi panggilan jiwanya sebagai pendidik. Jarak pulang pergi dari rumah ke sekolah mencapai 50 km dan ia menempuh perjalanan itu dengan angkot sambil menggendong anak dan melanjutkannya dengan menumpang warga atau teman ke lokasi SATAP yang terletak di Dusun Lucu.

Rutinitas itu ia lakukan setiap hari bukan tanpa alasan. Lahir dari seorang ibu buta aksara yang bekerja sebagai penyadap getah karet, Rani kecil bercita-cita untuk meraih gelar sarjana agar bisa menjadi guru dan memperkenalkan pendidikan kepada semua orang, agar tidak ada lagi anak bangsa yang buta aksara. Jalan Rani untuk mewujudkan masa depan impiannya sempat tersendat setelah ia dinikahkan selepas SMA. Namun semangatnya tidak surut untuk kembali melanjutkan pendidikan di universitas dan meraih gelar sarjana.

Proses belajar mengajar dengan pendekatan saintifik menggunakan media koran bekas. 

Ibu Rani tidak hanya mengajar, tetapi juga selalu berusaha menciptakan suasana dan kondisi belajar yang layak dan menyenangkan bagi murid-muridnya. Namun sekian tahun sebagai guru, ia merasa tidak banyak yang berubah. Kerja keras Ibu Rani tidak sia-sia karena pada tahun 2014, SATAP Botolinggo terpilih sebagai salah satu sekolah binaan pada Program Penguatan SATAP. Melalui program ini, kapasitas kepala sekolah, tenaga pengajar, dan komite sekolah ditingkatkan melalui pelatihan dan pendampingan oleh pengawas setempat dan fasilitator propinsi.

Sejak saat itu, SATAP yang dicintai Ibu Rani berangsur-angsur mengalami kemajuan membanggakan, termasuk dalam fasilitas seperti penambahan dua ruang kelas baru dan perlengkapan mengajar serta sebuah perpustakaan. Dari program bedah kelas, ruang kelas dibuat bersih, indah dan rapi  dengan berbagai sumber belajar. Ibu Rani kini dapat mengajar dengan pendekatan saintifik menggunakan media yang ada di lingkungan  dan memanfaatkan barang-barang bekas sehingga siswa betah belajar serta prestasi mereka pun meningkat.

Bagi Ibu Rani, perubahan tersebut sangat berarti karena pendidikan adalah lentera yang membuka cakrawala dan mencerahkan pikiran,  sebagaimana pernah dikatakan oleh guru bangsa Ibu Kartini, bahwa jiwa yang menerima pendidikan seperti habis gelap terbitlah terang. Terima kasih Ibu Rani, kau lah sosok Kartini masa kini.



ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia