Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label SATAP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SATAP. Tampilkan semua postingan
Bersama SATAP Meraih Harapan Hidup yang Lebih Baik

Bersama SATAP Meraih Harapan Hidup yang Lebih Baik



Anak lelaki itu serius memperhatikan gurunya yang sedang menunjukkan cara membuat kerajinan dari anyaman bambu. Bersama teman-temannya, ia mencoba menganyam sebuah keranjang seperti arahan gurunya.

“Bagus sekali keranjangmu, Nang, kuncinya sabar dan teliti supaya hasil anyamannya rapi,” kata sang guru kepada anak lelaki bernama Nanang Sujatmiko itu. Nanang duduk di kelas 8 SMPN SATAP Grujugan, Bondowoso

Di kelas, Nanang tampak ceria belajar dan bermain dengan teman-teman sebayanya. Seusai jam sekolah, ia bergegas pulang ke rumah dan mulai bekerja. Di usia sangat muda, Nanang yang lahir dari keluarga miskin sudah harus menanggung beban hidup keluarga membantu ibunya yang seorang buruh tani, setelah sang ayah meninggal dunia. Tugasnya setiap hari mencari rumput untuk sapi milik tetangga yang menjadi tanggung jawab bapaknya semasa hidup dan kerja tani serabutan lain demi mendapat penghasilan untuk makan sehari-hari.

Kondisi demikian membuat sekolah dengan segala biaya dan kebutuhannya menjadi hal yang tampak tidak terjangkau bagi Nanang dan ibunya. Beruntung di desanya ada Sekolah Satu Atap atau SATAP sehingga ia bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP. Lokasi sekolah ini bisa dijangkau dengan berjalan kaki sehingga Nanang tidak harus mengeluarkan biaya transportasi.


Beruntung Nanang bersekolah di SATAP. Selain pelajaran akademis, di SATAP Nanang juga belajar keterampilan menganyam bambu yang dibuat menjadi karya kerajinan  seperti keranjang buah, kap lampu, tempat souvenir, dll. Keterampilan ini sangat bermanfaat untuk menambah pendapatan keluarga karena karya kerajinan tangan yang dihasilkan bisa dijual. Nanang juga mengajarkan keterampilan ini kepada ibunya dan mereka sudah mulai mendapatkan hasil meski belum seberapa. Nanang senang karena ada sumber pendapatan lain dalam keluarganya.

Hidup yang keras tidak membuat Nanang menjadi pribadi yang getir. Semangatnya tetap menyala untuk menuntut ilmu setiap hari. Sekolah baginya adalah sebuah istana tempat ia belajar ilmu yang berguna dari bapak dan ibu guru yang ramah dan penyayang, tertawa dan bermain bersama teman-temannya. Saat ini lingkungan belajar di sekolahnya juga lebih menyenangkan karena ruang kelasnya bersih, indah, nyaman, dan penuh sumber belajar yang setiap saat dapat diakses. Di sekolah, Nanang bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus memikirkan sapi yang harus diberi makan dan beban di pundaknya. Di sekolah, ia bisa kembali menjadi seorang anak. Di sekolah, hidup tampak lebih cerah.

Selepas SMP kelak, ia berharap bisa melanjutkan ke jenjang SMA meski ia belum punya bayangan dari mana biaya sekolah akan diperoleh. Selain itu, ia juga tidak bisa meninggalkan ibunya bekerja sendiri. Tapi masa depan memiliki jawabannya sendiri dan Nanang tahu dengan kerja keras dan keteguhan hati semua hal yang indah bisa terjadi, bahkan untuk seorang anak penggembala sapi.


Rani Wijayanti, Kartini Masa Kini

Rani Wijayanti, Kartini Masa Kini


"Banyak yang bisa kita pelajari dari berita di koran ini," kata seorang ibu guru kepada sekelompok siswa yang sedang melihat selembar surat kabar. Guru itu kemudian berjalan ke meja lain dan kembali terlibat percakapan seru dengan diselingi gelak tawa.

Pemandangan itu tampak di SMPN 2 Sekolah Satu Atap (SATAP) Botolinggo, Bondowoso, Jawa Timur dan ibu guru itu bernama Rani Wijayanti. Sosok guru IPS dan TIK ini tidak bisa dilepaskan dari SATAP tempat ia mengabdi selama lima tahun terakhir ini. ‘Mengabdi’ adalah kata yang tepat untuk menggambarkan dedikasi Ibu Rani. Meskipun honor yang ia terima setiap bulan sebagai Guru Tidak Tetap (GTT) sangat minim, hanya di kisaran Rp. 300.000,- saja, Ibu Rani yakin bahwa mengajar adalah sebuah pekerjaan mulia karena ilmu pengetahuan yang ia bagi dan ajarkan kepada para siswa akan menjadi bekal hidup mereka.

Botolinggo adalah daerah terpencil dengan fasilitas publik yang masih minim, termasuk dalam bidang pendidikan. Namun kondisi itu tidak menghalangi Ibu Rani untuk memenuhi panggilan jiwanya sebagai pendidik. Jarak pulang pergi dari rumah ke sekolah mencapai 50 km dan ia menempuh perjalanan itu dengan angkot sambil menggendong anak dan melanjutkannya dengan menumpang warga atau teman ke lokasi SATAP yang terletak di Dusun Lucu.

Rutinitas itu ia lakukan setiap hari bukan tanpa alasan. Lahir dari seorang ibu buta aksara yang bekerja sebagai penyadap getah karet, Rani kecil bercita-cita untuk meraih gelar sarjana agar bisa menjadi guru dan memperkenalkan pendidikan kepada semua orang, agar tidak ada lagi anak bangsa yang buta aksara. Jalan Rani untuk mewujudkan masa depan impiannya sempat tersendat setelah ia dinikahkan selepas SMA. Namun semangatnya tidak surut untuk kembali melanjutkan pendidikan di universitas dan meraih gelar sarjana.

Proses belajar mengajar dengan pendekatan saintifik menggunakan media koran bekas. 

Ibu Rani tidak hanya mengajar, tetapi juga selalu berusaha menciptakan suasana dan kondisi belajar yang layak dan menyenangkan bagi murid-muridnya. Namun sekian tahun sebagai guru, ia merasa tidak banyak yang berubah. Kerja keras Ibu Rani tidak sia-sia karena pada tahun 2014, SATAP Botolinggo terpilih sebagai salah satu sekolah binaan pada Program Penguatan SATAP. Melalui program ini, kapasitas kepala sekolah, tenaga pengajar, dan komite sekolah ditingkatkan melalui pelatihan dan pendampingan oleh pengawas setempat dan fasilitator propinsi.

Sejak saat itu, SATAP yang dicintai Ibu Rani berangsur-angsur mengalami kemajuan membanggakan, termasuk dalam fasilitas seperti penambahan dua ruang kelas baru dan perlengkapan mengajar serta sebuah perpustakaan. Dari program bedah kelas, ruang kelas dibuat bersih, indah dan rapi  dengan berbagai sumber belajar. Ibu Rani kini dapat mengajar dengan pendekatan saintifik menggunakan media yang ada di lingkungan  dan memanfaatkan barang-barang bekas sehingga siswa betah belajar serta prestasi mereka pun meningkat.

Bagi Ibu Rani, perubahan tersebut sangat berarti karena pendidikan adalah lentera yang membuka cakrawala dan mencerahkan pikiran,  sebagaimana pernah dikatakan oleh guru bangsa Ibu Kartini, bahwa jiwa yang menerima pendidikan seperti habis gelap terbitlah terang. Terima kasih Ibu Rani, kau lah sosok Kartini masa kini.



ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia