Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label pengungsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengungsi. Tampilkan semua postingan
Kisah Safira dan Ali: Dua anak tanpa orang tua yang saling menjaga

Kisah Safira dan Ali: Dua anak tanpa orang tua yang saling menjaga

Oleh: Kinanti Pinta Karana

Safira, 8, di penampungan sementara pengungsi Rohingya Myanmar di Kuala Cangkoy, Aceh Utara. Ia adalah satu dari 345 anak-anak tanpa pendampingan orang tua yang ikut dalam rombongan pengungsi yang tiba di Aceh pada 10 Mei 2015. ©UNICEFIndonesia/2015/Kinanti Pinta Karana. 

Kuala Cangkoy, Provinsi Aceh - Hamparan lapangan yang ditumbuhi rumput kering menyambut saya di pelabuhan ikan di Kuala Cangkoy, dimana 576 orang pengungsi Rohingya Myanmar ditampung untuk sementara setelah diselamatkan dari sebuah kapal yang juga membawa kelompok migran dari Bangladesh di perairan Aceh pada 10 Mei. Selain tenda dan beberapa bangunan berukuran sedang, sekelompok sapi tampak sedang merumput dan beberapa di antaranya mengais tumpukan sampah berusaha mencari sesuatu untuk dimakan.

Saya menuju sebuah pendopo yang dialihfungsikan menjadi ruang tidur untuk pengungsi pria, saya harus berjalan dengan hati-hati agar tidak menginjak kotoran sapi. Pendopo itu sepi karena para penghuninya sedang mempersiapkan ibadah shalat Jumat. Lalu saya mendengar suara tawa anak-anak. Saya berputar dan melihat seorang anak perempuan sedang meletakkan biskuit di wajah anak lelaki yang tertidur di sampingnya.

Anak perempuan itu bernama Safira (nama-nama dalam cerita ini telah diubah). Dia berumur delapan tahun dan berada jauh dari kehidupan yang selayaknya ia miliki. Anak lelaki itu adalah kakaknya, Ali. Usianya 10 tahun.


Seorang anak lelaki bermain di dalam tenda penampungan sementara pengungsi Rohingya dari Myanmar di Kuala Cangkoy, Aceh Utara. Pemerintah Indonesia setuju untuk menampung para pengungsi dan migran dari Myanmar dan Bangladesh. ©UNICEFIndonesia/2015/Kinanti Pinta Karana

Safira dan Ali berasal dari Rakhine, negara bagian di Myanmar yang masih dilanda kemiskinan dan tertinggal dalam pembangunan. Rakhine juga sarat dengan kekerasan interkomunal. Kekerasan yang menewaskan ibu kandung mereka tiga tahun silam. Kematian sang ibu menandai babak baru dalam hidup mereka karena hanya ialah orang tua yang tersisa bagi Safira dan Ali. Mereka kemudian dirawat oleh seorang kerabat - karena ayah mereka berada di Malaysia.

Demi bisa berkumpul lagi dengan anak-anaknya, sang ayah pun mengatur agar Safira dan Ali bisa naik kapal menuju Malaysia. Perjalanan itu kemudian menjadi pengalaman laksana neraka di laut bagi dua bersaudara itu.

"Kakak saya menjaga saya di kapal dan dia lelah. Kamu lihat, dia sekarang tidur karena dia masih lelah," kata Safira sambil menggigit biskuitnya dan menawari saya sebagian.

Untuk membalas kebaikannya, saya merobek sehelai kertas dari buku catatan untuk membuatkannya sebuah pesawat kertas.

"Bisakah kamu menggambar sebuah boneka untuk saya?" Safira bertanya, menunjuk pena di buku catatan saya.

"Saya punya boneka di rumah, namanya Fua," tuturnya saat jemarinya menyusuri gambar abstrak yang merupakan karya seni gagal saya.

Kemudian ia mengangkat kepalanya dan menatap saya sambil tersenyum.

"Ayah akan membelikan saya boneka baru ketika saya bertemu dengannya di Malaysia," katanya.

Namun bagi Safira pertanyaannya bukan kapan ia bertemu sang ayah, tapi jika ia bisa bertemu lagi.

Bagi Badan Pengungsi PBB UNHCR yang memimpin respon bagi krisis manusia perahu ASEAN sebagaimana bagi UNICEF, pelacakan keluarga adalah prioritas dalam upaya memberikan bantuan bagi anak-anak yang terpisah dari orang tuanya seperti Safira dan Ali. Anak-anak ini berisiko menjadi korban perdagangan manusia, kekerasan dan eksploitasi.

Safira dan Ali adalah dua dari 345 anak yang tiba di pesisir Aceh dan Sumatera Utara tanpa didampingi oleh atau terpisah dari orang tua mereka. Menurut data terkini dari UNHCR, sebanyak 1791 pengungsi dan migran dari Myanmar dan Bangladesh kini ditampung di Aceh dan Sumatera Utara.

Para pengungsi Rohingya Myanmar di penampungan sementara di Kuala Cangkoy, Aceh Utara. Mereka mendapat bantuan dari pemerintah Indonesia dan badan-badan terkait termasuk UNHCR, IOM dan UNICEF. ©UNICEFIndonesia/2015/Kinanti Pinta Karana

Semua anak yang mengungsi dari Myanmar dan Bangladesh, bersama maupun tanpa orangtua, menghadapi berbagai risiko kekerasan, eksploitasi, dan kesehatan. Mereka berhak atas pertolongan dan perlindungan mendesak. UNICEF menekankan bahwa menurut Konvensi Hak Anak (KHA), yang telah diratifikasi semua negara Asia Tenggara, tindakan apapun yang berdampak terhadap anak harus dilakukan dengan mengutamakan kesejahteraan anak-anak tersebut, dari manapun mereka berasal. KHA mengharuskan semua pemerintah untuk memastikan bahwa semua anak mendapatkan tempat perlindungan, akses terhadap layanan pendidikan, kesehatan, sosial dan hukum, apapun status mereka di negara tersebut.

UNICEF memberikan perangkat rekreasi untuk membantu anak-anak yang terpisah atau tanpa pendampingan orang tua yang kini berada di Aceh mengatasi trauma yang mereka hadapi selama beberapa pekan atau bulan terakhir.

Waktu makan siang sudah hampir tiba dan saya tidak ingin menghalangi Safira dari makan siangnya. Saat saya bersiap untuk pergi, gadis kecil itu menatap saya dan bertanya, "Apakah kamu bisa membuat pesawat terbang? Ali suka pesawat terbang, ia ingin bisa menerbangkannya suatu hari nanti."

Saya pun melipat kertas dan mengatakan kepada diri saya bahwa bagi seorang anak lelaki yang dengan berani menjaga adik perempuannya dalam perjalanan penuh bahaya di laut, tidak ada mimpi yang tidak mungkin.

Kisah tiga saudari dari Rohingya: Meninggalkan Kampung Halaman Demi Masa Depan Yang Lebih Baik

Kisah tiga saudari dari Rohingya: Meninggalkan Kampung Halaman Demi Masa Depan Yang Lebih Baik

Oleh Kinanti Pinta Karana 

Dari kiri ke kanan: Seemal*, 13; Alma*, 14 dan Mira*, 15. Ketiga saudari dari etnis Rohingya Myanmar ini dikirim oleh orang tua mereka dengan kapal untuk menyelamatkan mereka dari pemerkosaan dan bentuk-bentuk ketidakadilan lainnya di negara asal mereka. Mereka saat ini tinggal di penampungan sementara di Kuala Langsa, Aceh Timur. (© UNICEF Indonesia / 2015 / Kinanti Pinta Karana)

Langsa, INDONESIA, 25 Mei 2015 – Hari mulai beranjak siang ketika saya akhirnya tiba di area pelabuhan Kuala Langsa, Aceh, yang menjadi penampungan sementara bagi pengungsi dan migran dari Myanmar serta Bangladesh. Dalam periode antara tanggal 10 hingga 20 Mei, sebanyak 1,829 orang berlabuh di pesisir Aceh dan Sumatera Utara. Di antara mereka terdapat 599 anak-anak, termasuk 345 orang anak yang tidak didampingi orang tua.

Mereka menempuh perjalanan yang berat dari Negara masing-masing,  sebagian diantaranya melarikan diri dari tekanan dan ketidakadilan, sedangkan sebagian lain karena ingin bangkit dari kemiskinan. Banyak dari mereka yang hingga saat ini masih terombang-ambing di laut.

Ketika saya melangkah masuk ke barak perempuan dan anak-anak, saya melihat tiga orang gadis remaja duduk berdekatan di salah satu sudut ruangan. Saya tersenyum pada mereka dan mereka dengan malu-malu  membalas senyuman saya. Belakangan baru saya menyadari betapa luar biasanya senyum itu, jika mengingat perjalanan berat yang harus mereka tempuh di laut.

“Nama saya Mira*, umur saya 15 tahun. Ini adik saya Alma* yang berusia 14 dan Seemal*. Dia 13 tahun,” kata gadis yang tertua.


Tiga saudari ini berasal dari sebuah desa kecil di Myanmar, orang tua mereka masih menetap di sana.

“Orang tua kami mengirim kami pergi jauh untuk menyelamatkan kami, karena militer mengancam kami, mereka ingin memperkosa kami,” kata Alma, dan menambahkan bahwa ia dan kedua saudaranya terpaksa berhenti sekolah karena khawatir dengan keselamatan mereka.

Gudang di Kuala Langsa, Aceh Timur ini diubah menjadi penampungan sementara untuk pengungsi dari Myanmar. (© UNICEF Indonesia / 2015 / Kinanti Pinta Karana)

Alma dan kedua saudarinya adalah sebagian dari 112 anak Rohingya tanpa orang tua yang mendarat di pantai Aceh setelah kapal mereka ditolak masuk ke perairan Malaysia dan Thailand.

“Kami pikir perjalanan itu akan lancar-lancar saja,” kata Mira. Mereka awalnya berharap bisa sampai di Malaysia dimana mereka bermaksud meminta bantuan dari orang Rohingya lain yang sudah tiba lebih dulu di negara tetangga Indonesia itu. Namun kenyataan jauh dari harapan karena mereka justru terperangkap di laut selama berbulan-bulan.

 “Kami ingin sekolah, orang tua kami bilang kami harus punya masa depan yang baik tapi kami tidak bisa sekolah [di Myanmar]. Bisakah kami bersekolah di sini?” tanya Seemal, yang usianya paling muda.

Konvensi Hak Anak mewajibkan pemerintah memastikan semua anak dirawat di tempat yang aman, dengan akses terhadap pendidikan, kesehatan dan layanan hukum terlepas dari status mereka sebagai migran atau pengungsi. Foto ini diambil di penampungan sementara untuk pengungsi dari Myanmar di Kuala Langsa, Aceh Timur. (© UNICEF Indonesia / 2015 / Kinanti Pinta Karana)

Mungkin akan butuh waktu sebelum impian mereka terwujud. Di bawah pimpinan Badan PBB untuk Pengungsi UNHCR dan bekerja sama dengan organisasi lain seperti IOM, Organisasi Internasional untuk Migrasi, UNICEF memberikan bantuan kemanusiaan untuk para pengungsi dan migran di Aceh dan Sumatra Utara. UNICEF sudah mengirim perlengkapan rekreasi yang bisa digunakan di ruang-ruang ramah anak dan perlengkapan hiegenis dengan alat-alat sanitasi dasar untuk mencegah penyakit.

“Kami senang di Indonesia, orang-orang [di sini] baik kepada kami dan mereka tidak mencoba menyakiti kami,” kata Mira. Ia juga berharap bisa memberi tahu orang tua mereka bahwa mereka bertiga selamat dan berada di Indonesia. Ingatan akan ibu dan ayah yang masih berada jauh di kampung halaman membuat remaja 15 tahun itu tak kuasa menahan tangis. Ia menutup wajahnya dengan kerudung dan mulai terisak. Saya menggenggam tangannya, berusaha menahan air mata.

“Saya tidak mau kembali ke Myanmar tapi saya berharap bisa bertemu kedua orang tua saya lagi,” kata Mira.

Untuk sementara, ketiga gadis remaja itu aman. Pada 20 Mei, Indonesia dan Malaysia setuju untuk menampung para pengungsi dan migran dari Myanmar dan Bangladesh.

Seorang ibu Rohingya menggendong bayinya di penampungan sementara untuk pengungsi dan migran dari Myanmar dan Bangladesh di Kuala Langsa, Aceh Timur. (© UNICEF Indonesia / 2015 / Kinanti Pinta Karana)


*Nama telah disamarkan

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia