Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label ASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASI. Tampilkan semua postingan
Virus Inspiratif Kabupaten Klaten: Hari Kedua

Virus Inspiratif Kabupaten Klaten: Hari Kedua

Oleh: Femmy, In-House Face To Face UNICEF Surabaya

Baca blog Femmy yang sebelumnya: Hari Pertama

Hari kedua dipusatkan di Dukuh Gajihan, Desa Pandes, Kecamatan Wedi.

Meeting point dilakukan di Dinas Kesehatan Klaten untuk bertemu dengan Mbak Reta yang bertugas menemani kami meninjau.

Tempat pertama yang dituju adalah kantor PKK yang sering disulap menjadi ruang serba guna. Kami kembali bertemu dengan Ibu Sri Budiati selaku bidan desa yang inspirational. Tidak salah memang jika Desa Pandes menjadi desa percontohan nasional karena banyak gebrakan dan program unik yang berjalan sampai sekarang dan didukung oleh semua pihak terkait.

Beberapa hal lain yang ada di Desa Pandes dan Klaten;

  • Sekitar 20 - 30% anak usia di bawah 20 tahun hamil, baik dikarenakan Pernikahan Dini ataupun MBA
  • GPRS (Gerakan Peduli Remaja Sehat) berfungsi untuk mempersiapkan wanita agar nanti ketika menikah dan hamil, tubuhnya dalam keadaan prima. Sehingga anak yang dikandungnya nanti tidak punya resiko terkena gizi buruk / stunting / lainnya.
  • Nenek ternyata punya andil tinggi dalam mensupport ibu memberikan ASI dan Makanan Pendamping (MP ASI)
  • Cafe Baby untuk membantu ibu-ibu yang kerepotan mempersiapkan sarapan di pagi hari. Ini adalah alternatif support untuk para ibu dan tujuannya bukan untuk profit.



Selamat datang di Cafe Baby!

Setelah itu kami menuju ke rumah Pak Danang, rumah penduduk yang terletak tidak jauh dari situ dan digunakan untuk kegiatan desa. Sebenarnya Desa punya ruangan juga, tapi masyarakat lebih senang di rumah Pak Danang karena lebih terbuka.

Pagi itu kami melihat langsung kegiatan Kelompok Pendukung, ada kelompok Ibu hamil, Ibu ASI eksklusif, bahkan kelompok Lanjut Usia (Lansia).

Bersama para peserta Kelompok Pendukung.

Selama hamil, gizi harus tercukupi dan juga rutin melakukan senam hamil demi kelancaran persalinan. Saat hamil biasanya suami dan orang terdekat biasanya sangat supportive. Akan tetapi setelah melahirkan dan atau setelah ASI eksklusif 6 bulan, biasanya sudah mulai kendur. Dianggapnya semua sudah selesai. Nah inilah salah satu manfaat Kelompok Pendukung dan Buku Konseling.

Dari kelompok pendukung diakui bahwa setelah ASI eksklusif selama 6 bulan maka selanjutnya adalah Makanan Pendamping ASI. Nah, itu adalah saat kritis dimana terkadang ibu lupa kalau ASI masih perlu / kurang paham kalo MP-ASI tidak bisa asal-asalan.

Ibu hamil dan ibu menyusui bahkan punya buku konseling untuk merecord dan memastikan apa-apa saja yang perlu dilakukan sudah terlaksana.

Makanan untuk bayi < 6 bulan, 7 - 8 bulan, 9 - 12 bulan, 1 - 5 tahun ternyata juga berbeda-beda. Semua ada tahapannya. Dan kalau anak tidak mau makan, Ayahnya tidak boleh cuek menganggap ini hanya urusan sang Ibu.

Yang terakhir, adalah kelompok Lansia. Tujuannya adalah agar lansia tidak stres, punya teman diajak bicara dan kegiatan bermanfaat lainnya (termasuk senam dan menyanyi)

Lirik lagu tentang ASI dalam Bahasa Jawa

Setelah itu kami kembali lagi ke gedung PKK, melakukan touring di sekeliling dan menyanyikan salah satu koleksi lagu tentang ASI. Lagu ini merupakan bagian dari upaya kampanye terhadap masyarakat agar masyarakat lebih menggunakan ASI daripada susu formula.

Thanks for having us at Pandes Village. Such a great inspirational work :)




Pemberian ASI yang lebih baik: solusi untuk masalah kekurangan gizi

Pemberian ASI yang lebih baik: solusi untuk masalah kekurangan gizi

Sonya memberikan konseling tentang menyusui kepada ibu baru. ©UNICEF Indonesia/2015/Harriet Torlesse

Kabupaten Kupang merupakan salah satu kabupaten yang mengalami krisis permasalahan kekurangan gizi di NTT.

Sonya Timuli, tiga puluh dua tahun, bekerja setiap hari di kabupaten dan menghadapi permasalahan ini. Ia telah menjadi kader posyandu di sebuah desa kecil di daerah ini selama tujuh tahun terakhir.

Para kader posyandu seperti Sonya melihat anak-anak yang tak terhitung jumlahnya yang mengalami kekurangan gizi. Survei terbaru yang dilakukan oleh UNICEF dan Action Contre La Faim menunjukkan bahwa 21 persen anak-anak di daerah ini mengalami kurang gizi akut (sangat kurus) dan 52 persen mengalami stunting (terlalu pendek untuk usia mereka).

Untuk mengatasi masalah ini, Sonya memberikan berbagai layanan gizi kepada masyarakat  di desanya. Salah satu bagian terpenting dari pekerjaannya adalah memberikan bimbingan dan konseling kepada ibu-ibu baru tentang berbagai praktek pemberian ASI yang tepat.


Menyusui merupakan fondasi terbaik bagi gizi seorang anak. ASI melindungi bayi terhadap penyakit dan membantu mereka tumbuh kembang secara optimum. Oleh karenanya, para ibu baru dianjurkan untuk memberikan ASI secara eksklusif selama enam bulan pertama dan terus memberikan ASI setidaknya sampai anak usia dua tahun dengan makanan pendamping ASI.

"Banyak ibu tahu bahwa mereka sebaiknya memberikan  ASI eksklusif selama enam bulan, tetapi kebanyakan dari mereka memperkenalkan makanan lain ketika anak berusia empat atau lima bulan," kata Sonya. "Beberapa ibu mengatakan bahwa ASI saja tidak cukup untuk tumbuh kembang bayi. Beberapa ibu merasa tertekan oleh anggota keluarga lainnya untuk memberikan makanan kepada bayi mereka."

Sonya memperoleh informasi yang tidak tepat dan memiliki pemahaman yang keliru tentang ASI. Untuk anak pertamanya, ia memberikan ASI eksklusif hanya selama satu bulan dan berhenti memberikan ASI kepada anaknya pada usia 11 bulan. Tetapi untuk anak terakhirnya, ia memberikan ASI eksklusif selama enam bulan dan terus memberikan ASI selama tiga tahun.

Sonya mengatakan bahwa ia melihat perbedaan nyata terhadap perkembangan dua anak tersebut. "Anak laki-laki sulung saya seringkali lambat dan melupakan hal-hal dengan mudah. Tetapi anak perempuan bungsu saya berbeda. Ia belajar dengan cepat dan mudah mengingat hal-hal dengan sangat baik ".

Cerita-cerita seperti ini sangat umum di daerah tersebut. Kekurangan gizi pada awal kehidupan menyebabkan perkembangan kognitif yang buruk pada kehidupan yang akan datang. Anak-anak ini menunjukkan prestasi yang kurang baik di sekolah dan menjadi kurang produktif saat mereka dewasa.

UNICEF dan Action Contre La Faim saat ini memfasilitasi program pelatihan bagi Sonya dan kader-kader di daerah tersebut. Pelatihan ini meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kompetensi mereka tentang pemberian ASI dan pemberian makanan pendamping ASI sehingga mereka akan mampu untuk mendukung ibu-ibu baru dalam memberikan makan bayi mereka secara tepat.

Mendukung ibu dengan ketrampilan yang tepat dapat memberikan solusi dalam mengatasi permasalahan kurang gizi yang sedang meningkat di NTT.

Inisiatif ini merupakan bagian dari program UNICEF yang lebih besar untuk mendukung pemerintah dalam menanggulangi dan mengatasi kekurangan gizi di seluruh Indonesia. 



ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia