Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label BABS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BABS. Tampilkan semua postingan
Bilik Jamban untuk Marlende

Bilik Jamban untuk Marlende

Oleh: Dinda Veska - PSFR Communication Officer



Marlende (12) di depan bilik toilet rumah. @Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2017

Sumba, pulau yang terkenal dengan kekayaan alam, pantai-pantai dengan pasir putih dan bersih, savanna terbentang sepanjang mata memandang. Surga yan gsangat memanjakan untuk para wisatawan, tetapi tidak untuk kesehatan anak-anak yang lahir dan tumbuh besar di pulau ini.


Marlende, satu dari ratusan anak di Desa Redapada yang sejak kecil hingga usia 12 tahun melakukan buang air besar di belakang rumahnya, di tempat terbuka tanpa bilik penutup, lubang penampungan  ataupun air bersih.


Tidak jarang ia mengalami diare, panas tinggi, dan penyakit-penyakit lainnya. Selain Marlende, 7 dari 10 anak yang saya temui di SD Lolaramo - Sumba Barat Daya, mengaku sering mengalami diare sebelum mendapat akses toilet dan air bersih di sekolah. Padahal diare menjadi penyebab 1400 anak di dunia meninggal setiap harinya.
Hal ini menjadi tantangan yang sangat besar bagi pemerintah daerah terutama di Sumba Barat Daya, sejak tahun 2015 setengah dari jumlah penduduk di sini masih melakukan Buang Air Besar Sembarangan.


Selain itu seiring usianya bertambah sebagai anak perempuan, Marlende juga merasa malu jika harus terus buang air besar di tempat terbuka.


"Saya malu saat buang air besar, lalu dilihat tetangga." Ungkapnya.


Saat mendengarnya langsung dari Marlende, tidak terbayang bagi saya bagaimana seorang perempuan harus membuka celannya di tempat terbuka demi menghilangkan rasa tidak enak di perut. Tidak ada pilihan selain menhan rasa malu dan tidak nyaman tentunya. Alih-alih menghilangkan rasa sakit di perut, Marlende justru terancam diare - penyakit yan glebih serius dan mengancam kesehatannya.



Marlende belajar mencucu tangan bersama petugas sanitasi di Sumba Barat Daya. @Dinda Veska/Unicef Indonesia/2017

Sejak tahun 2015, UNICEF bersama Pemerintah telah melakukan upaya-upaya demi mengurangi angka Buang Air Besar Sembarangan di Indonesia. Berbagai sesi pemicuan didapatkan oleh keluarga Marlende di Sumba Barat Daya. Diantaranya penjelasan tentang bahaya Buang Air Besar Sembarangan yang akan berdampak pada kesehatan anak-anak. Masyarakat juga diajak bekerja sama untuk menyediakan toilet di setiap rumah. Edukasi tentang cara-cara cuci tangan juga diberikan, agar membuat mereka terbiasa hidup bersih dan sehat.


Saat ini Marlende tidak perlu lagi Buang Air Besar Sembarangan di belakang rumahnya. Sebuah bilik lengkap dengan persediaan air serta pipa pembuangan telah tersedia di rumah Marlende. Ia tidak perlu lagi malu dan mengalami diare hingga berhari-hari.


Apa yang dialami Marlende di Sumba, kini masih dirasakan oleh jutaan anak lainnya di penjuru Indonesia. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama bagi UNICEF, Pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya termasuk para Pendekar Anak serta pihak-pihak swasta yang selalu memberi dukungannya melalui program-program UNICEF Indonesia. Sudah saatnya Indonesia bebas dari prilaku Buang Air besar Sembarangan, demi keberlanjutan hidup dan masa depan setiap anak.


STOP BABS!




Kotbah Tentang Buang Air Besar Sembarangan di Sumba

Kotbah Tentang Buang Air Besar Sembarangan di Sumba

Oleh Nick Baker, Communication and Knowledge Management Officer

Pendeta Charles Detha mendidik penduduk desa tentang topik yang tidak nyaman untuk dibicarakan. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Seorang pendeta setempat di desa Kadahang, Sumba (NTT) akan menyampaikan khotbah yang paling sulit, yaitu tentang buang air besar. Hari ini, Pendeta Charles Detha tidak akan berbicara kepada jemaatnya tentang kesucian atau amal. Tetapi, ia akan berbicara tentang buang air besar.

Indonesia berada dalam cengkeraman krisis buang air besar sembarangan. Lebih dari 51 juta orang tidak menggunakan toilet. Angka ini merupakan angka tertinggi kedua di dunia setelah India. Pengaruhnya terhadap masyarakat dan terutama terhadap anak-anak sangat luar biasa. Praktek tersebut menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.

Pulau Sumba sangat dipengaruhi oleh krisis ini. Dan isu dalam skala tersebut memerlukan solusi inovatif. Oleh karena itu, UNICEF bekerja secara langsung dengan para tokoh agama di daerah yang sangat taat ini untuk membantu menyampaikan pesan.

"Sekarang kami tahu bahwa buang air besar sembarangan berbahaya bagi kesehatan anak-anak," kata Pendeta Charles, yang telah mengikuti program-program yang difasilitasi oleh UNICEF dengan tujuan untuk mengakhiri buang air besar sembarangan. "Buang air besar sembarangan dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. Oleh karena itu, kami harus terlibat, kami harus bicara."


Pendeta Charles mengatakan bahwa topik tersebut tabu di banyak desa. Pada awalnya, sulit untuk berkhotbah tentang buang air besar sembarangan. Akan tetapi, karena buang air besar sembarang dianggap sebagai masalah kesehatan yang mendesak, maka semuanya menjadi berbeda. "Saya menggunakan tema tanggung jawab masyarakat untuk membicarakan tentang hal tersebut," katanya.

Dalam khotbahnya, Pendeta Charles berbicara dengan penuh semangat tentang kesehatan setiap orang di desa. Jemaat sepertinya tidak hanya menerima, tetapi juga merasa nyaman berbicara tentang buang air besar sembarangan. Ketika Pendeta tersebut bertanya berapa banyak orang yang telah membangun toilet sejak ia mulai membahas tentang topik ini, sejumlah orang mengangkat tangan mereka.

Mbai Ranja Andung dan keluarganya merasa lebih aman dengan toilet baru mereka. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker 

Salah satu penduduk desa yang mengangkat tangan mereka adalah Mbai Ranja Andung. Setelah kebaktian di gereja, ia sangat bersemangat untuk menujukkan toilet barunya.

"Sebelumnya, kami menggunakan ini," kata Mbai Ranja, sambil menunjuk sepetak tanah di belakang rumahnya. Praktik ini akan meningkatkan kemungkinan penyakit seperti pneumonia dan diare - terutama bagi ketiga anaknya yang masih kecil.

"Ini dia (toiletnya)," kata Mbai Ranja. Toilet besar di luar rumah tersebut sangat kuat. Toilet ini dibangun dengan dasar beton yang cukup luas dan dinding dari daun kelapa yang terjalin rapi. Ia sangat bangga dengan hasil karyanya.

Mbai Ranja mengatakan bahwa ia baru tahu tentang risiko kesehatan buang air besar sembarangan melalui khotbah-khotbah para tokoh agama. Kini ia berharap semua penduduk desa akan mengikuti teladannya.


Mathinus Ndapanandjar memimpin gerakan untuk melawan buang air besar sembarang. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker  

Mathinus Ndapanandjar adalah kepala desa setempat di sini. Baginya, mengakhiri buang air besar sembarang merupakan masalah yang sangat pribadi.

"Setiap tahun, banyak anak meninggal karena diare," katanya. Hal ini biasa terjadi di Sumba. Diare merupakan salah satu penyebab utama kematian balita di seluruh Indonesia. Praktek sanitasi yang baik sangat penting untuk menanggulangi diare.

"Keterlibatan Pendeta merupakan hal yang sangat penting," kata Mathinus. Ia mengatakan bahwa para tokoh agama sangat dihormati di sini. Masyarakat sangat menghargai ucapan mereka daripada nasihat orang lain. Dalam rentang waktu yang cukup singkat sejak Pendeta Charles dan lain-lainnya telah memfokuskan pada buang air besar sembarangan, maka telah terjadi "perubahan nyata".

Kini Mathinus memiliki tujuan ambisius bagi masyarakatnya. "Saya ingin agar masyarakat kami 100 persen bebas dari buang air besar sembarang," katanya.

Ini merupakan tujuan yang akan menyelamatkan kehidupan banyak anak  saat ini dan juga pada tahun-tahun yang akan datang.


Sanitasi di Sumba – membaik hari demi hari

Sanitasi di Sumba – membaik hari demi hari

- Nick Baker, Communications and Knowledge Management Officer

Sanitarian Dangga Mesa menghadiri sebuah rapat desa di Sumba Barat Daya.
©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Ini adalah pagi yang luar biasa sibuk di desa Matapywu di pulau Sumba (NTT). Semua kepala keluarga telah diajak berkumpul untuk sebuah pertemuan penting. Kursi-kursi diduduki, kopi disajikan, dan topik pertemuan pun diumumkan: toilet.

Pertemuan tentang topik yang tidak biasa ini sekarang cukup umum di sekitar pulau tersebut. Matapywu hanyalah satu dari banyak desa yang baru-baru ini menjalani sesi pemicuan yang didukung oleh UNICEF. Lokakarya ini bertujuan untuk mengakhiri praktik buang air besar sembarangan.

Sekarang adalah saatnya untuk mengecek perkembangan. Seorang sanitarian, Dangga Mesa, membahas kemajuan sejak ia mengadakan sesi pemicuan beberapa bulan yang lalu. Dangga tampak senang dengan hasilnya.


Para perwakilan desa memberitahu Dangga bagaimana mereka merasa "malu" dan "jijik" ketika mempelajari betapa mudahnya bakteri dari tinja dapat memasuki rantai makanan. Sejak saat itu, semakin banyak penduduk desa yang telah atau sedang membangun toilet pertama mereka.

Dangga mengatakan bahwa buang air besar sembarangan (BABS) merupakan isu penting bagi anak-anak Matapywu dan di seluruh negeri. "Diare adalah penyakit yang sangat serius di kalangan anak-anak di bawah usia lima tahun," katanya. "Sanitasi yang buruk merupakan salah satu penyebab utama diare sehingga kita harus serius menangani hal itu."

"Saya sangat senang karena jumlah orang yang memiliki toilet telah meningkat," kata Dangga. "Tujuan kami berikutnya adalah agar desa ini menjadi 100 persen bebas dari BABS.”


Terutama anak-anak

Kepala desa Soleman Bili Ngongo memimpin rapat desa tentang BABS.
©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Soleman Bili Ngongo adalah kepala desa Matapywu. Dia tidak mengetahui tentang hubungan BABS dengan masalah kesehatan sebelum sesi pemicuan. Kini itu adalah salah satu prioritas utamanya.

Desa Soleman memiliki 3.237 penduduk. "Sebelumnya, sebagian besar dari mereka buang air besar di mana saja. Kotoran lalu mengkontaminasi makanan dan air kami," kata Soleman.

Hal ini cukup biasa di Indonesia. Bahkan, di negara ini lebih dari 54 juta orang buang air besar di tempat terbuka. Itu adalah jumlah tertinggi kedua di dunia, setelah India.

Tapi dengan bantuan UNICEF, semua ini mulai berubah di Matapywu. "Sesi pemicuan sangat sukses," kata Soleman. "Setelah hanya beberapa minggu, keluarga-keluarga mulai membangun kakus."

UNICEF akan terus membantu Soleman dan kepala desa lain di sekitar Sumba untuk memantau BABS dan mengatasi tantangan-tantangan yang akan timbul.

Soleman ingin semua 3.237 warga desa untuk menjadi sehat dan memiliki kesempatan terbaik di kehidupan, terutama anak-anak.


Masa depan yang lebih aman

Adventin, 3, akan tumbuh besar dengan akses kepada toilet.
©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Lucia Dada Kaka adalah salah satu dari banyak ibu di Sumba yang menjadi khawatir tentang kesejahteraan keluarganya setelah menghadiri sesi pemicuan.

"Sebelum lokakarya, kami buang air besar di lapangan dekat rumah, atau kadang-kadang di malam hari persis di luar rumah kami," katanya. "Tapi kemudian kami belajar tentang masalah-masalah yang terkait dengan BABS."

Kesehatan Adventin, putrinya yang berusia tiga tahun, adalah suatu motivator besar untuk membangun toilet baru. Saat ini toilet tersebut hampir diselesaikan oleh suaminya.

"Kami melakukannya untuk anak-anak kami. Kami ingin mereka terlindungi dari masalah kesehatan," kata Lucia.


Masa depan yang lebih baik – mengakhiri buang air besar sembarangan di Sumba

Masa depan yang lebih baik – mengakhiri buang air besar sembarangan di Sumba

- Nick Baker, Communications and Knowledge Management Officer -

Juan, 1 tahun, di depan toilet barunya. ©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Sumba Barat Daya, Maret 2015 – Juan Ngongo, usia satu tahun, adalah orang pertama di keluarganya yang akan tumbuh besar dengan akses toilet.

Juan tinggal di Desa Watu Kaula, Pulau Sumba (NTT). Selama beberapa generasi, keluarganya buang air besar di sekitar sungai di belakang rumah mereka.

Namun kini sudah tidak lagi. Keluarga Juan belum lama ini menghadiri sebuah sesi pemicuan yang difasilitasi oleh UNICEF di desa mereka. Pada sesi ini, petugas kesehatan menunjukkan bagaimana mudahnya bakteri dari kotoran manusia bisa memasuki rantai makanan dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

Termasuk dalam masalah kesehatan ini adalah diare dan pneumonia, yang merupakan kontributor utama dari 370 kematian balita Indonesia setiap harinya.


Ibu Juan, Yuliana, mengatakan bahwa sesi tersebut adalah pengalaman yang membuka matanya. “Kami jadi tahu tentang berbagai risiko kesehatan dari buang air besar sembarangan (BABS). Jadi kami memutuskan untuk membangun toilet,” katanya.

Ada lebih dari 750 rumah tangga di Desa Watu Kaula. Perwakilan dari hampir semua rumah tangga menghadiri sesi pemicuan dan banyak yang berkomitmen untuk membangun toilet. Kisah Juan hanya salah satu darinya.

“Kini saya merasa aman. Kini saya merasa bahwa Juan akan aman,” ucap Yuliana.

Memberdayakan Desa-desa

Sanitarian Delsiana Bora menyelenggarakan lokakarya tentang BABS.
©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Delsiana Bora adalah seorang sanitarian di Sumba Barat Daya, yaitu petugas kesehatan dengan fokus pada sanitasi dan kesehatan. Berkat dialah Juan dan anak-anak lainnya di Desa Watu Kaula kini memiliki akses toilet.

Delsiana adalah satu dari banyak sanitarian di Sumba yang menerima bantuan pelatihan dari UNICEF. UNICEF melatih Delsiana dan rekan-rekannya dalam melakukan sesi pemicuan dan memonitor perkembangan di setiap desa.

“Kesadaran tentang dampak kesehatan sehubungan dengan BABS di daerah ini masih sangat rendah. Orang-orang tidak sadar tentang risiko yang mereka ambil,” katanya.

Di kantor Delsiana ada sebuah bagan besar tentang 10 desa di mana dia bekerja. Dia menjelaskan bagaimana masing-masing kolom pada tabel menunjukkan jumlah dan kualitas toilet yang telah dibangun.

UNICEF membantu koordinasi sebuah program pelatihan untuk Delsiana dan sanitarian lainnya dalam menggunakan sistem SMS untuk memonitor kemajuan di desa-desa. Informasi dikirim melalui SMS ke sebuah database pusat, yang lalu dikumpulkan oleh dinas kesehatan kabupaten.

Toilet baru milik Juan di Watu kaula adalah satu lagi kisah sukses untuk Delsiana dan timnya.

Sebuah target yang ambisius

Dominggus Manna berupaya mengakhiri BABS di Sumba Barat Daya.
©UNICEF Indonesia/2015/Nick Baker

Dominggus Manna menghadapi sebuah tugas yang cukup berat. Sebagai Kepala Bagian Kesehatan Lingkungan di Sumba Barat Daya, ia bertanggung jawab atas praktik kebersihan di 131 desa. Dan ia ingin agar seluruh desa tersebut bebas dari BABS dalam empat tahun.

UNICEF membantu perwakilan daerah seperti Dominggus memenuhi target-target serupa dengan membentuk kelompok kerja BABS di Sumba. Kelompok kerja ini mempertemukan pejabat pemerintah dan pemangku kepentingan dari berbagai tingkat untuk mencari cara terbaik dalam menghadapi BABS.

“Saat ini sekitar 50 persen desa melakukan BABS,” katanya. “Tapi dalam beberapa tahun terakhir kami telah meningkatkan jumlah keluarga dengan akses toilet dari 36 persen menjadi 45 persen. Jadi kemajuan ini tampak baik.”


UNICEF Indonesia luncurkan kampanye Tinju Tinja untuk melawan BAB sembarangan

UNICEF Indonesia luncurkan kampanye Tinju Tinja untuk melawan BAB sembarangan


Melanie Subono dan Aidan Cronin meluncurkan kampanye Tinju Tinja di Jakarta pada Hari Toilet Sedunia (19/11).

Jakarta, 24 November 2014 – UNICEF Indonesia dan rocker / aktivis Melanie Subono melakukan perlawanan terhadap fenomena buang air besar sembarangan (BABS) di atas ring tinju melalui kampanye Tinju Tinja yang diluncurkan pada Hari Toilet Sedunia.

Kampanye sosial media ini bertujuan untuk menyebarkan informasi dan meningkatkan kesadaran publik tentang implikasi kesehatan dari perilaku BABS, serta menekankan betapa pentingnya mengakhiri fenomena tersebut di Indonesia, melalui cara yang baru dan inovatif.

Dalam acara peluncuran ini UNICEF mengungkapkan bahwa, berdasarkan laporan Joint Monitoring Program (2014) yang diterbitkan oleh WHO dan UNICEF, 55 juta penduduk Indonesia masih melakukan BABS, atau kedua tertinggi di dunia.

Perilaku BABS terkait dengan berbagai penyakit berpotensi mematikan seperti diare dan pneumonia, yang juga adalah penyebab utama kematian lebih dari 370 balita Indonesia setiap harinya.

Meskipun ada kemajuan berkat program-program lapangan dari UNICEF dan Pemerintah Indonesia, namun partisipasi aktif dari seluruh masyarakat masih sangat diperlukan.

“Tugas kita adalah memperkeras suara agar seluruh bangsa mendengar, memperhatikan, dan bergabung dalam upaya-upaya untuk membebaskan Indonesia dari BABS”, ucap Dr. Aidan Cronin, Kepala Program Air, Sanitasi dan Kebersihan UNICEF Indonesia.

Sebelum peluncuran kampanye


Kampanye Tinju Tinja memperkenalkan seorang penjahat bernama Ninja Tinja, yang mengeluarkan ancaman untuk menyakiti semua anak di Indonesia melalui sebuah video.

Video tersebut diunggah ke YouTube secara anonim satu minggu sebelum kampanye diluncurkan, sehingga memicu berbagai percakapan di ranah media sosial.

Pada saat yang sama, Melanie Subono mulai menunjukkan ketertarikanya dengan tinju sebagai bentuk olah raga dan metode bela diri. Ia pun mulai mengikuti kelas latihan tinju dan sempat mengundang beberapa media lifestyle dan kesehatan untuk menghadiri sesi latihannya.

Melanie juga sering membuat posting tentang hobi barunya ini, dan juga tentang masalah sanitasi di Indonesia, kepada lebih dari 600.000 Twitter followernya dengan menggunakan hashtag #tinju dan #tinja.

Pada video utama kampanye ini Melanie tampak terdesak oleh Ninja Tinja di atas ring tinju, sehingga ia meminta dukungan seluruh warga Indonesia untuk membantunya melalui www.tinjutinja.com.


Meningkatkan kesadaran online


Sejak tahun 1990, sekitar 1,9 miliar orang di seluruh dunia telah memiliki akses akan fasilitasi sanitasi yang layak. Namun kemajuan ini tidak sepadan dengan pertumbuhan populasi yang pesat, dan target Tujuan Pembangunan Millenium (MDG) kemungkinan tidak akan tercapai pada tahun 2015. Sebanyak 82 persen dari satu miliar orang yang berperilaku BABS tersebar di 10 negara, termasuk Indonesia.

Meskipun lebih lazim ditemukan di daerah-daerah terpencil, masih banyak orang yang melakukan BABS di daerah perkotaan. Laporan Joint Monitoring Report terbaru memperkirakan sekitar 18 juta orang yang tinggal di daerah perkotaan masih buang air besar di tempat terbuka.

“BABS tidak hanya berdampak kepada mereka yang tidak memiliki toilet, tapi juga kepada mereka yang punya, karena siapa pun bisa terjangkit penyakit akibat kotoran manusia di lingkungan sekitar,” tegas Aidan.

Kampanye Tinju Tinja akan terus berlanjut dengan sosialisasi materi dan pengetahuan yang diharapkan bisa mendidik dan meyakinkan masyarakat untuk menjadi bagian dari solusi.

“Perlawanan terhadap BABS dan kampanye perilaku hidup bersih sehat butuh partisipasi aktif dari masyarakat, terutama para generasi muda yang bisa menciptakan trend dan mempengaruhi pengambil keputusan,” ucap Melanie.

Sudahkah kamu melakukan bagianmu?

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia