Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label PAUD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PAUD. Tampilkan semua postingan
Belajar untuk Bermain, Bermain untuk Belajar di Jawa Barat

Belajar untuk Bermain, Bermain untuk Belajar di Jawa Barat

By Cory Rogers, Communication Officer


Alifah bermain dengan ibu di sekolah.© Cory Rogers / UNICEF / 2017

Bogor: “Di sini, saat mewarnai harus pelan-pelan, karena Alifah suka sekali sampai-sampai tidak mau berhenti,” ujar Neng Selphia, 29 tahun, salah seorang guru di Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak (KB/TK) Aisyayah Baiturrahman, Kecamatan Leuwiliang, Jawa Barat.

Alifah yang pemalu nampak gembira saat tiba pelajaran mewarnai dan menggambar. Dari semua warna, ia mengaku favoritnya adalah warna merah.

Waktu menunjukkan pukul 10 pagi. Matahari bersinar terik dan udara lembap terasa panas menyengat. Bersama anak-anak usia empat tahun lainnya, Alifah duduk di lantai menikmati sarapan bubur ayam. Tak jauh darinya, ibu Alifah menunggui sang anak dengan penuh kasih sayang.

Dengan suara lantang, Neng berusaha mengarahkan anak-anak agar tidak menaiki meja. “Kata apa yang diawali huruf ‘A’?” ia bertanya. Seorang anak, satu-satunya yang menjawab di kelas itu, berseru, “Ayah!”

Hari-hari Neng di kelas sebagian besar diisi dengan kegiatan prakarya, mengajarkan anak-anak menempel kertas menggunakan lem, dan mencegah mereka berjalan-jalan ke luar kelas.

“Kami perlu lebih banyak pelatihan tentang pendekatan terhadap anak yang berbeda-beda perangainya: ada yang mudah kesal, mudah menangis, dan lain-lain,” kata Neng. Rak di belakangnya penuh dengan kertas yang sudah separuh diwarnai serta dua set blok kayu dengan warna yang telah pudar—menanti untuk diganti.

Hanya sedikit lembaga pendidikan prasekolah di Kabupaten Bogor—wilayah dengan tingkat partisipasi prasekolah terendah di Jawa—yang memiliki guru berpendidikan S1. Jumlah ini kian mengerucut untuk KB/TK yang memiliki guru dengan pendidikan sebagai guru prasekolah.

“Kami juga butuh evaluasi [kinerja sebagai guru],” Neng menambahkan.

Program Percobaan untuk PAUD

Sebagai bagian dari program tiga tahun untuk pengembangan pendidikan anak usia dini (PAUD)—inisiatif yang dipimpin UNICEF dan didanai IKEA—Neng dan ratusan guru lain di Bogor akan menerima pelatihan metode ajar berbasis permainan yang disesuaikan dengan usia peserta didik. Dana juga akan diberikan pada sekolah-sekolah untuk meningkatkan mutu perangkat ajar, membeli permainan edukatif, dan memperbaiki kondisi ruang kelas agar lebih aman bagi anak-anak seperti Alifa.

Di Aisyayah Baiturrahman sendiri, dana yang akan diberikan kemungkinan besar hendak dimanfaatkan untuk mengganti atap seng dan memperbaiki dinding yang saat ini dibuat dari bahan triplek yang ringkih. “Kalau didorong anak-anak, dinding bisa jatuh. Saya khawatir anak-anak terluka,” ucap Neng.

Program di atas akan mendukung 100 lembaga PAUD di Kabupaten Bogor dan bertujuan meningkatkan kualitas semua aspek pengajaran, “membantu guru dan orangtua menumbuhkan kemampuan sosial dan kognitif dasar yang dibutuhkan anak untuk mengembangkan potensinya,” kata UNICEF Indonesia Education Officer Meliana Istanto.

Semangat program ini adalah menanamkan pemahaman “bermain sebagai sarana belajar” bagi guru dan orangtua. Sementara, kemampuan baca-tulis sebaiknya diajarkan di tingkat TK, saat otak anak sudah lebih berkembang dan siap menerima pelajaran itu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa menerapkan pendekatan ini untuk PAUD adalah salah satu cara terbaik memastikan setiap anak punya kesempatan setara untuk berprestasi di kemudian hari.

Namun, memperkenalkan pendekatan ini pada orangtua adalah tantangan tersendiri. Menurut Misem Hidaya (pengelola 10 PAUD di Kabupaten Bogor dan bergelar S1 bidang pendidikan usia dini), orangtua justru bingung saat mendapati guru PAUD yang tidak menekankan pelajaran baca-tulis.

“Ada orangtua yang malah merasa biaya yang mereka keluarkan sia-sia,” kata Misem. Biaya yang dimaksudnya adalah SPP senilai sekitar Rp40.000 per bulan yang menunjang biaya operasional sekolah meski tidak besar. “Penting bagi kami [guru] menjelaskan bahwa PAUD berbeda dengan SD—di PAUD, pengajaran disesuaikan dengan usia anak,” katanya.

Pembelajaran sesuai usia berarti anak-anak mengikuti waktu bermain yang terarah serta menitikberatkan pada pengembangan kemampuan motorik dan sosial.

Dalam hal Alifah, Ibu Reni menceritakan bahwa ia melihat betapa kegiatan menggambar dan mewarnai bersama-sama teman sebaya membuat anaknya lebih mandiri.

“Mudah-mudahan, PAUD bisa membuat Alifah lebih pintar dan percaya diri,” tambahnya.

Harapan ini juga yang dimiliki oleh ratusan keluarga yang akan menerima manfaat program pengembangan PAUD di Kabupaten Bogor.

“Saya ingin Alifah punya cita-cita yang lebih tinggi dari saya. Sekarang saja, ia sudah lebih berani.”







Sekolah tinggi keguruan menanam harapan PAUD di Papua

Sekolah tinggi keguruan menanam harapan PAUD di Papua

Oleh Cory Rogers, Communication Officer
 
Sorong. Hanya 15 menit ke arah timur dari pelabuhan Sorong terdapat STKIP Muhammadiyah Sorong, sekolah tinggi keguruan dan ilmu pendidikan yang berdiri tenang di atas birunya laut.
Di antara dua kolam di tengah kampus, Herman, seorang mahasiswa semester ketiga di sekolah tinggi tersebut, mengernyitkan dahi ketika menceritakan pengalamannya memulai masa sekolahnya.
“Kami sering tidak punya kertas untuk menulis [di sekolah],” katanya, satu tangannya berputar-putar di udara seakan menulis sesuatu, dan tangan yang lain menggaruk-garuk telinganya. “Jadi, kami
menulis di atas paha.”
Apa yang dikatakan Herman membuat teman-temannya berpikir: Berapa kata yang bisa ditulis di lutut seorang bocah berusia lima tahun?
“Saya ingin kembali ke kampung setelah wisuda [untuk mengajar],” lanjut Herman. “Anda tahu, separuh dari hari-hari sekolah di sana, guru-gurunya tidak datang.”
Kendala geografis di dataran tinggi Papua membuat banyak siswa harus berjalan kaki hingga beberapa kilometer ke sekolah setiap hari. © Tom Brown/2014/UNICEF


Herman berasal dari Papua*, satu pulau di perbatasan timur Indonesia yang besarnya seperempat dari wilayah total seluruh negeri, tapi jumlah penduduknya tidak sampai satu persen dari jumlah total.
Dengan banyaknya guru yang absen dan tingkat keberaksaraan yang rendah, sistem pendidikan di pulau ini tertinggal di belakang nilai rata-rata nasional di hampir semua bidang.
Sebagai satu-satunya sekolah tinggi keguruan dan ilmu pendidikan di pulau ini, STKIP Muhammadiyah Sorong menghasilkan ratusan guru seperti Herman setiap tahun –pria dan wanita yang memiliki misi untuk memperbaiki sistem.
Akan tetapi, hanya segelintir dari lulusan sekolah ini yang melihat adanya masa depan bagi prasekolah atau taman kanak-kanak –yang secara umum dikenal sebagai Pendidikan Anak Usia Dini, atau PAUD. Sebagian alasannya adalah kesulitan mendapatkan dana serta rendahnya pemintaan dari masyarakat setempat. Dan, juga karena kelangkaan guru-guru terlatih.
Dampaknya, banyak wilayah di Papua yang tidak memiliki PAUD sama sekali. Padahal, fakta menunjukkan bahwa investasi di awal masa kanak-kanak adalah salah satu cara paling murah bagi pemerintah untuk memperkecil perbedaan kelas sosial dan mendorong pendapatan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat di kawasan-kawasan tertinggal, seperti Papua.
“Sejak saya kecil, tidak ada PAUD sama sekali di desa saya, yang ada hanya beberapa tempat penitipan anak di gereja,” kata Robert, lulusan STKIP Muhammadiyah dan penduduk asli setempat yang giat memobilisasi pembelajaran membaca di usia dini di Papua.
“Pada dasarnya, kalau anak sudah bisa menutup kuping kiri dengan tangan kanannya melewati atas kepalanya, maka anak itu langsung masuk ke sekolah dasar,” katanya, “tanpa melalui PAUD sama sekali.”


Robert, STKIP Muhammadiyah Sorong staff, berdiskusi tentang kelangkaan PAUD di propinsi Papua. © Cory Rogers//2017//UNICEF

Pak Anang, kepala bagian jangkauan dan riset di STKIP Muhammadiyah, telah bekerja keras untuk mengubah realitas tersebut.ejak 2013, dia telah memimpin suatu usaha untuk meluncurkan program ijazah PAUD pertama di STKIP Muhammadiyah Sorong. Dan, tahun depan, dia berharap akan ada 80 siswa terdaftar di program tersebut, yang akan bergabung dengan hanya segelintir lulusan ijazah PAUD lainnya di Nusantara.
“Tantangannya adalah bagaimana menggunakan konteks lokal [untuk mendorong kualitas]”, kata Pak Anang, saat mendiskusikan program kurikulum mendatang. “Kami berharap ada siswa-siswa yang pulang ke desa masing-masing [di Papua] untuk mengajar, tapi kami akan merekrut dari mana saja,” tambahnya.
Berkaitan dengan peluncuran program ijazah, di bulan April ini para siswa yang dibimbing oleh Pak Anang akan membantu 10 PAUD di wilayah Sorong dan sekitarnya untuk mengimplementasikan HI-ECD (Holistic Integrative Early Childhood Development), atau perkembangan dini anak secara integral dan menyeluruh.
Intervensi ini akan dibimbing oleh UNICEF dan akan menargetkan 10 PAUD di Sorong, serta sepuluh lainnya di Waisai, ibukota wilayah Raja Ampat, suatu tempat tujuan diving dekat pesisir pantai.
Menurut Try Harysatoso, seorang Education Specialist di UNICEF yang berbasis di Papua, HI-ECD yang ideal akan sekaligus menghasilkan perkembangan fisik, emosional, dan mental. Dari segi pembelajaran, program tersebut berfokus pada interaksi sosial, penerapan perilaku yang positif, pembentukan karakter dan pengetahuan tentang lingkungan alam.   
“Ini merupakan jenis pembelajaran yang membantu anak-anak untuk maju,” kata Try, “yang dapat membangun rasa percaya diri, mendorong mobilitas sosial, dan memberi peluang untuk meningkatkan pendapatan di masa datang.”
Selama intervensi yang berdurasi sekitar satu tahun ini, pekerjaan STKIP Muhammadiyah yang dilakukan pada PAUD di dekatnya, yakni PAUD Alam Mentari, akan dipelajari dengan seksama. Di sana, para siswa dan guru sudah melakukan ujicoba konsep HI-ECD dengan melibatkan tiga guru.
“Walaupun kami tidak memiiki latar belakang yang tepat, kami berkomitmen pada pendidikan dini ini,” kata guru ketua, Kartini, lulusan Biologi.
“Kami ingin ‘menanam’ sesuatu pada anak-anak ini saat mereka masih kecil,” tambahnya.

Kartini, guru di PAUD Alam Mentari (kedua dari kiri), memimpin yel “semangat!” bersama murid-muridnya sebelum kelas dimulai, di luar kota Sorong, Papua Barat. ©Cory Rogers//2017//UNICEF
Para petugas sekolah lokal di sana pun mengutarakan hal yang sama. Tapi, mereka mengatakan bahwa diperlukan kesadaran dari atas dan permintaan lebih banyak dari bawah agar intervensi semacam ini dapat bertahan secara berkesinambungan.
Sebagai contoh, tahun ini di Raja Ampat, dana daerah untuk program PAUD dipotong, membuat ratusan anak tidak memiliki akses ke pendidikan dini.
“Dana daerah tersebut disalurkan ke program pemberantasan buta huruf orang dewasa,” kata Ibu Martha, yang memimpin instansi pendidikan di wilayah tersebut. Dengan hilangnya dana ini, maka PAUD pun semakin menghilang.
“Jumlah wilayah PAUD menyusut dari 68 menjadi 45 [di tahun 2016],” katanya.
Padahal, jika disesuaikan dengan program pemerintah ‘satu desa, satu inisiatif PAUD’, maka semestinya ada 117 PAUD.
 Pak Jon, yang mengamati PAUD di wilayah Raja Ampat, mengunjungi salah satu PAUD yang tutup karena hujan lebat. ©Cory Rogers//2017//UNICEF


Di daerah urban di Sorong, di mana UNICEF dan STKIP Muhammadiyah berencana membantu sepuluh PAUD mengimplementasikan HI-ECD, situasinya tampak sama: kurang dari 50 persen penduduk di bawah 6 tahun mengikuti PAUD. Dan, menurut Pak Soni yang mengepalai divisi pendidikan dasar di daerah tersebut, faktor terbesar adalah tidak adanya kesadaran dari para orangtua.

“Masyarakat di wilayah rural tidak tahu apa itu HI-ECD, sehingga mereka tidak memintanya,” katanya. Di seluruh Indonesia, anak-anak di area urban yang mengikuti PAUD hampir dua kali lipat dibandingkan mereka yang di area rural.

“Jika dilihat bersama, tantangan-tantangannya memberikan kesempatan bagi Papua,” kata Pak Anang. Terutama bagi pemerintah yang berjanji akan memberikan prioritas pada “perkembangan di daerah-daerah pinggiran"

Dia berharap bahwa program ijazah PAUD dan tempat-tempat yang memeragakan HI-ECD akan membuat pemda Papua tertarik untuk memerhatikan PAUD secara serius, dan yang terpenting, untuk berinvestasi.

“Sekarang ini, mereka [pemangku kepentingan] tidak banyak memikirkan PAUD,” tambahnya. “Jadi, kamilah yang harus membuka mata mereka.

“Kami harus membantu mereka untuk bisa melihat pentingnya PAUD.”

*Papua terdiri dari dua propinsi –Papua Barat dan Papua, keduanya terletak di bagian paruh barat pulau New Guinea.






Lebih dari sekedar mainan anak

Lebih dari sekedar mainan anak

Oleh: Cory Rogers 


Beberapa Pengembangan Anak Usia Dini (PAUD) di Indonesia menyediakan fasilitas bermain perosotan, ayunan dan ring bola basket, dan sedikit dari mereka meletakannya di dalam ruangan.

"Kami harus memindahkan semua mainan itu ke dalam ruangan agar tidak dimainkan oleh orang dewasa,” kata Ibu Lastri, kepala sekolah PAUD Terpadu di Lombok barat laut, sebuah pulau dengan mayoritas penduduk Muslim yang berada di sebelah timur Pulau Bali. 

"Saya rasa mereka tidak memiliki mainan-mainan ini ketika mereka masih anak-anak!” katanya sambil tertawa.



Sebuah perpustakaan mini buku anak-anak berbatasan dengan perosotan dalam ruang kelas di PAUD Terpadu

Dan begitu juga banyak dari penduduk termuda di Indonesia. Meskipun 98 persen dari 85 juta anak Indonesia mulai masuk sekolah dasar pada usia 6 atau 7 tahun, tetapi hanya 70 persen dari mereka usia antara 3 dan 6 tahun memiliki akses ke pelayanan pendidikan anak usia dini (PAUD) untuk jenis apapun.

"Ini artinya bahwa terdapat 10 juta anak yang tidak memperoleh stimulasi otak yang dapat diberikan oleh PAUD - stimulasi yang terbukti memberikan manfaat, baik bagi setiap anak maupun masyarakat pada umumnya," kata Widodo Suhartoyo, Spesialis PAUD UNICEF Indonesia. 

Ibu Lastri berdiri di luar sekolahnya dengan pot bunga terbuat dari botol air daur ulang.

Ibu Lastri merupakan contoh utama orang yang menolak untuk berkompromi, meskipun kesulitan dalam memberikan layanan yang berkualitas tinggi di sebuah daerah disebabkan oleh kekurangan dana. PAUD yang dikelolanya, yang berada tepat di bawah lereng Gunung Rinjani, memiliki tiga ruang yang kokoh, sejumlah mainan, dan kurikulum terkini yang mendukung permainan dan interaksi dengan membaca dan menghafal.

"Jenis PAUD holistik ini merupakan cara yang harus kita lakukan," kata perempuan usia 53 tahun tersebut, yang telah mengajar sejak awal usia 20 tahunan. “Akan tetapi, di banyak tempat,  kami masih diminta untuk bersabar [untuk PAUD] - sebagian besar karena kurangnya dana." 

Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD HI)

Seperti Ibu Lastri, UNICEF menganggap bahwa pengembangan anak usia dini holistik integratif (PAUD-HI) sebagai cara terbaik untuk mengembangkan otak muda. 

"PAUD-HI yang ideal menyatukan pendidikan, pemeriksaan kesehatan, gizi dan perlindungan anak dalam pelayanan di bawah satu atap bagi anak-anak pada tahap perkembangan mereka yang sangat penting," kata Widodo  dari UNICEF.

"Guru sebaiknya memprioritaskan interaksi sosial yang sehat, stimulasi kejiwaan dan konsep-konsep terapan, dan melibatkan semua pemangku kepentingan, terutama para orang tua, dimana kontribusi mereka terhadap perkembangan otak anak jauh lebih besar daripada dua jam sehari yang mungkin ia peroleh di pusat PAUD ," tambahnya 

Pada tahun 2015 dan 2016, UNICEF membantu 10 PAUD di Lombok Utara dalam mengadopsi pedoman PAUD-HI, memberikan dana hibah, mengadakan pelatihan, dan melakukan advokasi atas nama mereka.

 Anak-anak di PAUD Bani Manaf menikmati kelompok bernyanyi dengan guru-guru mereka.

PAUD Banu Manaf, yang berada di sebelah selatan PAUD Terpadu dengan waktu tempuh satu jam, merupakan salah satu pusat PAUD pertama yang menerima bantuan UNICEF. Sekolah ini terletak di jalan yang curam dekat pantai, di sebuah bekas warung desa (restoran kecil). Sebuah sungai yang diwarnai dengan batu besar terguling menimbulkan suara di bawah jendela belakang sekolah, yang memberikan jalur suara (soundtrack) alami bagi pembelajaran. 

"Sebelum kami membangun PAUD ini, ibu-ibu harus mengantar anak-anak mereka ke PAUD di desa lain yang berjarak dua kilometer," kata kepala sekolah Pak Lukman. "Kini mereka cukup mengantar anak-anak mereka ke sini." 

Kecuali jika sebagian besar ibu lebih suka untuk menunggu di luar kelas selama dua jam di tangga depan, sambil ngobrol, makan snak dan menikmati matahari. 

"Mereka sangat sayang dengan anak-anak mereka," kata Ibu Saadah, salah satu dari tiga guru di sekolah itu. Keakraban membantu memperkuat etos komunitas PAUD-HI, dan juga memudahkan untuk selalu memberikan informasi kepada orang tua, katanya. 


"Sayangnya, beberapa orang tua masih mengharapkan kami untuk mengajar anak-anak ini tentang bagaimana menulis dan membaca, sehingga saya harus mengingatkan mereka bahwa pada usia ini mereka seharusnya bermain! Saya sampaikan kepada mereka bahwa hal ini sesungguhnya memberikan rasa percaya diri yang lebih besar kepada anak-anak dan membuat mereka lebih siap untuk bersekolah, "tambahnya.


Ibu Saadah (kanan) dengan dua guru lainnya di PAUD Bani Manaf 

 Ibu Saadah pertama kali belajar tentang PAUD-HI selama dua pelatihan yang diadakan oleh UNICEF tahun lalu di Bandung. "Saya belajar bagaimana membangun pelajaran tentang hal-hal seperti matahari dan air," katanya, "agar lebih terorganisir, dan pentingnya bersikap sabar ... sehingga kami mencoba untuk tidak mengajarkan semuanya sekaligus [seperti yang biasanya kami lakukan sebelumnya].”

Anak-anaknya senang bermain dengan adonan mainan yang dibuat dari tanah di kebun dan tepung - resep yang ia dapatkan dari pelatihan - dan untuk membangun dengan blok-blok kayu yang dibeli dengan bantuan UNICEF. "Tetapi, hal yang paling mereka sukai adalah menulis di papan tulis," katanya sambil tertawa. "Saya tidak tahu mengapa." 

Anak-anak menikmati adonan mainan buatan sendiri di beberapa pusat PAUD di Lombok Utara 

‘Ini semua tanggung jawab kita'

Karena PAUD di Indonesia dikelompokkan sebagai 'pendidikan non-formal', maka secara teknis, PAUD tersebut merupakan lembaga-lembaga swasta. Tetapi, kenyataannya adalah bahwa PAUD masih mengandalkan pendanaan publik - subsidi pemerintah, pengeluaran tingkat kabupaten dan juga dana desa - yang semuanya itu tidak memberikan jaminan keamanan.

"Hanya data yang baik yang memastikan akses ke dana tersebut", kata Pak Tirep, Kepala Bagian PAUD Dinas Pendidikan Kabupaten Lombok Utara. “Bantuan kepada para kepala sekolah PAUD dalam mengumpulkan data tersebut merupakan tujuan utama pada tahun 2017”, katanya. 

Tetapi upaya untuk mendorong orang tua agar tertarik dengan PAUD-HI juga merupakan bagian penting lainnya, kata Sudiartono, yang mengawasi kurikulum PAUD di kabupaten tersebut.

"Orang tua seringkali mengharapkan PAUD menjadi seperti SD (sekolah dasar). Itu tidak benar," katanya. "Mereka harus lebih memahami tentang apa saja manfaat [PAUD-HI] bagi anak-anak mereka." Ia mengatakan bahwa ia berharap agar pusat-pusat PAUD yang didukung oleh UNICEF dapat memberikan inspirasi untuk replikasi.

Dengan kira-kira 7.000 anak di bawah usia 6 tahun di kabupaten, "itu semua merupakan tanggung jawab kita untuk peduli terhadap masa depan anak-anak kita," kata Ibu Saadah, guru di PAUD Bani Manaf.

Karena langit gelap dan mulai bergemuruh, maka ia memutuskan untuk membubarkan kelas sedikit lebih awal. "Dengan PAUD-HI ini, anak-anak kami memiliki kesempatan yang lebih banyak daripada yang kami lakukan," katanya. "Kini mereka memiliki kesempatan untuk menjadi apa saja yang mereka inginkan."


Pendidikan Anak Usia Dini: Peluang yang adil bagi semua

Pendidikan Anak Usia Dini: Peluang yang adil bagi semua

Sun Wook Jung, Education Officer

Bersama para guru Pos PAUD Puspa Hati, Surabaya. ©UNICEF Indonesia/2015.

Saya adalah seorang 'drop-out' dari TK saya di Korea beberapa tahun yang lalu. Saya sering berkelahi dengan murid-murid laki-laki hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah. Tetapi prestasi sekolah saya cukup bagus, sehingga saya jadi meremehkan manfaat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Namun, saya sadar sekarang bahwa saya sangat beruntung memiliki seorang ibu yang sering membacakan buku dan mengajari saya bagaimana cara menghitung. Jadi, meskipun saya keluar dari TK, saya tetap mendapatkan pendidikan anak usia dini di rumah. Hal ini belum tentu terjadi bagi banyak anak-anak di seluruh dunia, terutama mereka yang berasal dari keluarga marginal dan miskin di Indonesia.


Kapasitas intelektual dan fisik anak ditentukan pada usia dini. Mereka membutuhkan seseorang untuk membantu perkembangan mereka selama masa pertumbuhan otak. Hal ini seharusnya tidak tergantung pada keberuntungan belaka, yaitu apakah mereka memiliki orang tuan yang bisa memberikan waktu dan perhatian untuk mengajarkan mereka membaca, menulis, dan berhitung.

Guru adalah kunci untuk perkembangan anak. Saya sering memikirkan kutipan terkenal di McKinsey Report: "kualitas sistem pendidikan tidak dapat melebihi kualitas gurunya". Anak-anak membutuhkan guru yang tidak hanya mengajarkan keterampilan tetapi juga memiliki kesabaran dan keperdulian terhadap anak-anak.

Itulah mengapa saya merasa sangat senang ketika bertemu Ibu Sri Emy, seorang pelopor PAUD, saat berkunjung ke Surabaya. Ibu Sri Emy adalah pendiri dan kepala Puspa Hati Centre – sebuah pos PAUD di kota tersebut. Pos PAUD ini adalah salah satu dari 32 pos-pos yang didukung oleh UNICEF dengan kontribusi keuangan dari Alfamart dan Alfamidi.

Ibu Sri Emy mempunyai tiga anak, tapi kemudian sadar bahwa banyak anak-anak lain di lingkungannya yang tidak mendapatkan kesempatan yang adil untuk berkembang. "Anak-anak yang lahir di keluarga kaya mendapatkan peluang untuk berkembang, anak-anak miskin terabaikan. Kita perlu memberikan peluang yang adil bagi semua anak," katanya.

Ibu Sri Emy pun membulatkan tekadnya untuk mengambil tindakan. Ia menghadiri berbagai pelatihan untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang relevan, lalu membuka sebuah pos PAUD di rumahnya sendiri.

Siswa siswi Pos PAUD Puspa Hati, Surabaya. ©UNICEF Indonesia/2015.

Siswa siswi yang menghadiri pos PAUD ini adalah anak-anak pedagang pasar atau tukang becak. Sebelum pos ini didirikan, mereka sering menghabiskan waktu di pasar sembari menunggu orang tua mereka bekerja. Kini mereka mendapatkan akses terhadap layanan PAUD.

Namun masih ada tantangan yang dihadapi. Semakin banyak anak-anak miskin yang ingin mendaftar, tapi subsidi pemerintah terbatas. Ibu Sri Emy memutuskan untuk memecahkan masalah ini sendiri. Jika orang tua tidak mampu membayar biaya, mereka tidak harus mengeluarkan anak-anak mereka dari pos PAUDnya.

Para guru di pos ini sangat termotivasi untuk semakin meningkatkan keterampilan mereka agar bisa memberikan layanan PAUD yang lebih baik. Komitmen seperti ini adalah kelebihan utama dari pos ini. Di antara delapan guru, enam dari mereka telah mengajar sejak pusat PAUD ini didirikan. Mengikuti jejak Ibu Sri Emy, beberapa guru bahkan sedang mengejar gelar sarjana di bidang PAUD.

Ibu Sri Emy menekankan bahwa tanggung jawab utama dari pengembangan anak usia dini adalah pada orang tua. Posnya telah mengadakan sesi pengasuhan yang berfokus pada perubahan sikap orang tua terhadap hak-hak anak. Di sebuah desa miskin, hak-hak anak seringkali diabaikan, hingga kadang berakibat pada kasus kekerasan domestik dan pelecehan anak.

"Orang tua adalah panutan anak-anak mereka," ucap Ibu Sri Emy. "Perilaku kekerasan biasanya didapatkan anak-anak dari orang tua mereka. Inilah mengapa perubahan perilaku orang tua menjadi salah satu kegiatan utama PAUD."

Memberikan peluang yang adil untuk semua anak dimulai dengan penyediaan layanan PAUD yang berkualitas dan tepat waktu. Saya merasa terhormat bisa bertemu dengan seorang pejuang PAUD, yang memberikan dampak kepada begitu banyak anak-anak. Kunjungan ke Surabaya ini adalah salah satu pengalaman paling mengesankan selama waktu saya dengan UNICEF. Kini saya memiliki apresiasi yang semakin tinggi terhadap betapa pentingnya PAUD.


Selamat dari tsunami, menciptakan masa depan lebih baik

Selamat dari tsunami, menciptakan masa depan lebih baik

Hamil 17 minggu dan membawa putrinya yang baru berusia tiga tahun pada waktu itu, Rosna merasa keselamatannya adalah berkat program TV tentang tsunami yang memberinya pengetahuan tentang apa yang akan terjadi setelah gempa besar. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

JANTHO, Indonesia, Oktober 2014 - Rosna terselamatkan dari tsunami oleh televisi. Berkat acara TV tentang gempa bumi, gunung berapi dan aktivitas seismik bumi yang ia telah saksikan sebelumnya, ketika gempa bumi mengguncang pada 26 Desember 2004, yang menyebabkan tsunami di Samudra India, dia menyadari apa yang akan terjadi.

Dalam kehamilan yang berusia 17 minggu dan sambil menggendong putrinya Cut Rachmina, yang saat itu berusia tiga tahun, Rosna berlari meninggalkan rumahnya di Banda Aceh. Meskipun beberapa kali dihempas oleh air, dia berhasil mencapai daerah yang lebih tinggi tanpa cidera atau luka-luka dan akhirnya bisa dipersatukan kembali dengan suaminya Johansyah, yang juga selamat dari terjangan ombak raksasa.

Bencana itu telah menghabisi sebagian besar Banda Aceh, dan keluarga Rosna termasuk yang beruntung bisa selamat. Namun rumah mereka habis ditelan ombak. Mereka tak memiliki air minum, makanan, dan seluruh harta benda mereka dirusakkan oleh bencana tersebut. Dalam waktu beberapa jam, status mereka berubah dari pemilik rumah menjadi pengungsi. Tenda pengungsian menjadi rumah mereka.

++++

Sepuluh tahun terlalu berlalu sejak peristiwa tragis tersebut. Suatu Jumat pagi, di kebun rumahnya, Rosnas sedang dikelilingi sekelompok anak-anak pra-sekolah yang menyanyikan lagu-lagu anak dan belajar menghitung sampai 10. Sebagian anak-anak lain bermain di ayunan dan perosotan di halaman.

Di kawasan perumahan yang dibangun untuk para korban tsunami oleh International Organization for Migration (IOM) ini, Rosna telah mendirikan pusat Pengembangan Anak Usia Dini (PAUD) dengan bantuan UNICEF.

Cut Rachmina putrinya sekarang telah berusia 12, dan Arif yang lahir 5 bulan setelah tsunami sekarang 9 tahun. Keduanya sedang berada di sekolah saat itu, sementara yang terkecil, Akbar, baru berusia satu tahun, dan sedang duduk di pangkuan ibunya.

“Setelah tsunami, saya ingin melakukan sesuatu untuk keluarga-keluarga yang trauma, terutama anak-anak,” ujar Rosna. “Adalah kebahagian bagi saya untuk melihat anak-anak ini bermain di sini setiap hari.”

Rosna memimpin senam bersama murid-muridnya di PAUD Jantho. Dia mendirikan pusat PAUD ini pada tahun 2006 dengan dukungan UNICEF. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

Banyak yang ia harus lalui sebelum sampai ke posisi ini. Keluarga Rosna awalnya tinggal di barak pengungsi di Banda Aceh, saat kota itu terus diguncang gempa susulan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan setelah tsunami.

Pada tahun 2005, setelah Arief lahir, Rosni sekeluarga pindah ke barak pengungsian lainnya di Jantho, kota kecil di pegunungan sekitar satu jam naik mobil dari Banda Aceh.

Cut Rachmina dan Arief mengikuti pusat anak yang didirikan oleh UNICEF di tempat pengungsian tersebut. Mereka diperkenalkan dengan permainan-permainan menarik dan didukung untuk menggambar dan melukis untuk bisa menyembuhkan trauma tsunami mereka.

UNICEF mendirikan 21 pusat penampungan anak di seluruh Aceh setelah tsunami untuk memberikan dukungan segera bagi mereka yang terdampak oleh bencana tersebut.

Selain bantuan pendidikan dan psikososial yang diterima oleh anak-anak Rosna, pusat anak juga mendaftarkan 2.000 lebih anak-anak yang terpisah oleh keluarga mereka untuk membantu mempersatukan kembali mereka dengan keluarga mereka yang tersisa.

Bersama Dinas Sosial dan Dinas Pemberdayaan Perempuan tingkat provinsi, serta Muhammadiyah, organisasi Islam kedua terbesar di Indonesa, pusat anak ini melacak keberadaan anggota keluarga anak-anak tersebut, dan meluncurkan kampanye untuk mempromosikan kesadaran publik terhadap isu hak-hak anak. Para pekerja di pusat anak membantu melindungi anak-anak yang paling rentan perdagangan anak dan terpaparkan terhadap kekerasan.

Enam dari pusat anak-anak ini masih berfungsi sampai saat ini sebagai bagian dari layanan kesejahteraan sosial pemerintah. 

Pasca bencana, UNICEF mendirikan 21 pusat anak di Aceh untuk memberikan bantuan langsung bagi mereka yang terkena dampak bencana. Pusat-pusat ini juga mendaftarkan lebih dari 2.000 anak tanpa pendamping, untuk membantu menyatukan mereka kembali dengan anggota keluarga yang hilang. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

Setelah setahun tinggal di dalam tenda di pusat pengungsian, Rosna dan keluarganya ditawarkan untuk tinggal di perumahan yang didirikan oleh IOM. Mereka ingin meninggalkan kehidupan di tenda dan kembali ke kehidupan normal di rumah. Namun Rosna telah menyaksikan sendiri bagaimana pentingnya peran pusat anak dalam pendidikan dini kedua anaknya. Dia memutuskan untuk mendirikan pusat Pengembangan Anak Usa Dini di rumah barunya.

UNICEF menyediakan peralatan dan uang tunjangan untuk para relawan agar Rosna dapat mendirikan PAUD di rumahnya sendiri pada tahun 2006. Saat ini pusatnya memperkerjakan lima asisten untuk 33 anak-anak usia dua sampai enam tahun.

“Jika tidak ada fasilitas ini, para ibu-ibu ini harus membawa anak-anak mereka ke sawah atau ke pasar untuk bekerja,” ujar Rosna.

“If this facility weren’t here, mothers would take their children to the rice paddies or the market where they work,” says Rosna.

Setelah tsunami UNICEF mendukung pendirian pusat pengembangan anak usia dini dan program pelatihan untuk kader-kader atau relawan di beberapa kabupaten di Aceh. Sejak intervensi ini angka pendaftaran program PAUD meningkat menjadi 42 persen pada tahun 2013 di Aceh, dibandingkan rata-rata nasional sekitar 30 persen. 

Di pusat PAUD, anak-anak diperkenalkan dengan teka-teki dan permainan, serta diajak menggambar dan melukis untuk membantu mereka mengatasi trauma tsunami. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

Setelah pembukaan pusat anak, Rosna mendapatkan kualifikasi formal dengan mendapatkan ijazah pendidikan di Banda Aceh. Setiap hari dia pulang-pergi naik motor sejauh 100 kilometer, bahkan ketika sedang mengandung anaknya yang paling kecil, sebelum akhirnya lulus pada tahun 2013.

Rosna punya banyak rencana untuk mengembangkan PAUDnya. Selagi anak-anak bermain dengan gembira di halaman atau di salah satu dari dua ruang kelas, pekerja bangunan mendorong gerobak berisi semen di samping bangunan sekolah. Mereka sedang membangun jamban agar anak-anak dapat memiliki sanitasi yang lebih baik dan fasilitas mencuci anak.

Rosna juga berharap dapat membangun sebuah perpustakaan di tempatnya.

“Saya ingin bekerja keras untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya,” ujarnya.

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia