Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label tsunami aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tsunami aceh. Tampilkan semua postingan
Bagaimana kekacauan pasca-tsunami membantu Aceh menjadi pelopor perlindungan anak

Bagaimana kekacauan pasca-tsunami membantu Aceh menjadi pelopor perlindungan anak



 Jika seorang anak dituduh melakukan kejahatan, polisi akan mencoba untuk mengatasi situasi dengan menggunakan mediasi, dan hal ini berhasil bagi lebih dari setengah dari kasus yang terjadi. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi


BANDA ACEH, Oktober 2014 – Sekitar satu tahun yang lalu, tiga remaja ditangkap polisi di sebuah stadion olahraga di Banda Aceh karena memukuli seorang pria berusia 21 tahun. Dua di antara mereka berusia 17 tahun, dan satunya berusia 18 tahun. Di masa lalu, mereka pasti masuk penjara karena peristiwa tersebut, namun reformasi hukum yang dimulai setelah tsunami Samudera Hindia telah merubah ini.

Mereka ditahan selama 24 jam di unit anak kantor polisi, sementara keluarga dan kepala desa mereka dihubungi. Keluarga dan kepala desa diminta datang ke kantor polisi agar semua pihak bisa bertemu dan berunding.

Proses ini dikenal sebagai proses mediasi. Catatan polisi tidak menunjukkan berapa lama proses ini berlangsung dalam kasus mereka, namun petugas mengatakan rata-rata dibutuhkan tiga sesi mediasi untuk menyelesaikan suatu kasus.

Keluarga remaja tersebut membicarakan situasi yang terjadi, dan mencoba untuk mencapai kesepakatan tentang hukuman untuk para pelaku. Pada akhirnya, keluarga dari tiga anak laki-laki tersebut setuju untuk membayar biaya pengobatan korban dalam waktu sepuluh hari, atau menghadapi kasus pengadilan. Ketiga anak itu kemudian dilepaskan.

Sepuluh tahun yang lalu, polisi tidak memiliki mandat untuk memfasilitasi mediasi seperti ini. Pelaku anak-anak menghadapi percobaan dan hukuman penjara maksimal lima tahun. Mereka diperlakukan selayaknya orang dewasa ketika dituduh melakukan pelanggaran hukum atau kejahatan. Namun setelah tsunami melanda daerah itu pada tanggal 26 Desember 2004, Provinsi Aceh telah mengambil langkah besar dalam berurusan dengan anak-anak yang memiliki masalah hukum.


+++

Ajudan Komisaris Elfiana adalah salah satu yang pertama direkrut di unit perempuan dan anak-anak Polda Aceh. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

Dalam kekacauan setelah tsunami, sekitar 3.000 anak-anak menjadi yatim piatu atau terpisah dari orang tua mereka. Tak lama kemudian, banyak berita yang beredar bahwa banyak dari mereka menjadi korban perdagangan manusia. Meskipun polisi sudah mulai membentuk sebuah unit khusus perempuan dan anak-anak, tsunami mempercepat terjadinya sebuah revolusi nyata yang membawa perubahan mendasar dalam seluruh proses peradilan yang berkaitan dengan anak-anak di Aceh.

Dengan bantuan dari UNICEF, polisi yang bekerja di unit baru ini dilatih bagaimana menangani anak-anak, baik sebagai korban kejahatan maupun sebagai tersangka.

"Saya diajarkan cara mewawancarai anak-anak agar tidak membangkitkan trauma yang mereka alami kembali," kata Elfiana, Ajudan Komisaris Besar Polisi Aceh, dan salah satu yang pertama direkrut di unit perempuan dan anak-anak pada tahun 2005. "Saya juga belajar bagaimana berempati dengan anak-anak untuk mendapatkan kepercayaan mereka."

Meskipun Elfiana bekerja di Banda Aceh, dia memiliki rekan di seluruh provinsi yang terlatih untuk menangani anak-anak. Dalam delapan bulan pertama tahun 2014, mereka telah berurusan dengan lebih dari 60 kasus yang melibatkan anak sebagai korban, dan 36 kasus yang melibatkan anak sebagai tersangka.

Kini, jika seorang anak dituduh melakukan kejahatan, polisi akan mencoba untuk mengatasi situasi dengan menggunakan mediasi, dan hal ini berhasil bagi lebih dari setengah dari kasus yang terjadi. Hanya kasus-kasus paling serius yang diangkat lebih lanjut, dan bahkan kemudian, kondisi untuk anak-anak pun telah membaik.



Ibu Djuwita telah berperan sebagai pembela puluhan anak-anak dalam beberapa tahun terakhir.  © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi 

Anak-anak yang dituduh melakukan kejahatan serius kini harus diwakili oleh pengacara. Ibu Djuwita dari Kelompok Kerja Keadilan Restoratif telah berperan sebagai pembela puluhan anak-anak dalam beberapa tahun terakhir.

"Dalam kasus yang paling serius pun, anak-anak tidak lagi ditahan di sel kantor polisi untuk orang dewasa, dan mereka diperlakukan dengan perawatan dan pemahaman yang lebih baik oleh polisi," ucapnya.

Sangat jarang bagi seorang anak untuk harus membela diri di pengadilan.

"Proses persidangan adalah pilihan terakhir," ujar Ainal Mardiah, Kepala Pengadilan Negeri Jantho.

Kepala Pengadilan Negeri Jantho Ainal Mardiah di kantornya. Aceh telah menjadi perintis pada bidang pengadilan anak di Indonesia. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi 

Bagi anak-anak yang harus diadili, ruang sidang khusus ramah anak telah dibuat. Ruang ini biasanya lebih kecil dari ruang sidang dewasa. Semua perabotannya terbuat dengan sudut membulat, dan semua pihak duduk lebih dekat bersama-sama. Terkadang ada kartun atau poster di dinding, dan sang hakim pun mengenakan pakaian normal, bukan gaun merah dan hitam yang seperti biasa.

Provinsi Aceh telah menjadi perintis pada bidang peradilan anak di Indonesia. Keberhasilan dalam membuat ruang sidang yang lebih ramah anak membantu membuka jalan bagi pengenalan UU Sistem Peradilan Pidana Anak Nasional yang mulai berlaku pada 1 Agustus 2014, setelah upaya advokasi dari UNICEF selama bertahun-tahun.

Legislasi nasional ini mewajibkan aparat penegak hukum di seluruh negeri untuk mendapatkan pelatihan dalam menangani anak-anak. Undang-undang ini juga meningkatkan usia minimum pertanggungjawaban pidana dari 8 menjadi 12 tahun, dan usia minimum hukuman penahanan anak dari usia 12 menjadi 14 tahun.

Para pelopor peradilan anak di Aceh sangat senang melihat bagaimana daerah-daerah lain di Indonesia mengikuti jejak mereka.

"Saya merasa bertanggung jawab untuk memprioritaskan kepentingan terbaik anak," ucap Ainal Mardiah, seorang hakim Pengadilan Distrik. "Saya sangat senang dengan kemajuan yang telah kami capai."


Bagi anak-anak yang harus diadili, ruang sidang khusus ramah anak seperti ini telah dibuat agar mereka lebih merasa nyaman. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi 


Manfaat jangka panjang dari “Building Back Better”

Manfaat jangka panjang dari “Building Back Better”


Para siswa SD Muhammadiyah 1 Banda Aceh menggunakan tandu untuk mengangkat seorang 'korban' dalam latihan untuk menghadapi gempa. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

BANDA ACEH, Indonesia, October 2014 – Bayangkan situasi ini: Minggu pagi di akhir bulan Desember di Banda Aceh, Anda dibangunkan oleh gempa bumi besar.

Tak lama kemudian Anda berlari menyelamatkan diri dari sapuan air bah tsunami,yang meratakan hampir semua yang dilewatinya. Anda tidak tahu di mana anggota keluarga Anda berada, hanya bagaimana menyelamatkan diri dengan mendaki ke tempat yang lebih tinggi yang ada di benak Anda. Akhirnya Anda mencapai puncak sebuah bukit, bersama dengan orang-orang lain yang telah terluka dalam perjuangan mereka untuk melarikan diri dari tsunami.

Di atas bukit tersebut Anda melihat kehancuran yang dialami kota Banda Aceh. Pohon, rumah dan jalanan tersapu bersih. Reruntuhan, potongan besi, dahan-dahan pohon… serta mayat berserakan dimana-mana. Anda telah kehilangan segalanya, dan bahkan tidak tahu apabila keluarga Anda selamat. Semua infrastruktur hilang. Ketika Anda mulai menyadari apa yang telah terjadi, Anda berpikir: Meskipun saya selamat, bisakah saya mendapatkan makanan dan minuman? Di mana saya akan tidur?

Inilah yang dialami ratusan ribu orang yang menjadi korban tsunami Samudra Hindia yang melanda Banda Aceh sepuluh tahun yang lalu pada tanggal 26 Desember 2014, dan menewaskan sekitar 170.000 orang di daerah tersebut. Bencana itu juga meninggalkan puluhan ribu orang tanpa sandang, pangan dan papan. Tak lama setelah itu, UNICEF memulai upaya untuk menyediakan kebutuhan-kebutuhan dasar seperti air minum bersih untuk mengurangi risiko penyakit-penyakit berpotensi mematikan.


Air bersih untuk 100.000 pengungsi


Tak lama kemudian, UNICEF menemukan sebuah sebuah fasilitas pengolahan air yang telah rusak di Lambaro, suatu area di Banda Aceh yang tidak terkena dampak tsunami. UNICEF pun membantu insinyur dan teknisi Indonesia untuk memperbaiki fasilitas tersebut.

"Kami bekerja siang dan malam tanpa henti," kata Teuku Novizal Ayub, mantan direktur fasilitas pengolahan air tersebut.


Fasilitas pengolahan air di Lambaro ini tersambung ke dalam sistem pipa kota, memasok air minum bersih untuk sekitar 50.000 orang. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

Fasilitas ini menyediakan air untuk sekitar 100.000 pengungsi yang tinggal di kamp-kamp di dalam dan sekitar Banda Aceh.

Namun, yang terpenting adalah upaya ini dilakukan dengan mempertimbangkan hasil dan tujuan jangka panjang.

"Kami berusaha memastikan agar proyek ini bisa menjadi sumber daya yang berkelanjutan, sehingga akan terus menyediakan air bersih untuk selama mungkin," ucap Pak Ayub.

Kini, sepuluh tahun sejak bencana tsunami terjadi, fasilitas di Lambaro ini masih terus melayani masyarakat Banda Aceh. Air yang dihasilkan tersalur ke dalam sistem pasokan air minum bersih kota, yang memasok sekitar 50.000.

Kinerja UNICEF pada fasilitas pengolahan air ini adalah salah satu contoh dari pendekatan ‘Membangun Kembali Dengan Lebih Baik' (‘Building Back Better’) pasca tsunami Samudera Hindia.


Membangun Sekolah Yang Lebih Baik


Anak-anak di sekolah dasar Muhammadiyah di Banda Aceh juga mendapatkan manfaat dari pendekatan ini. Bangunan sekolah ini hancur akibat tsunami. Hanya 17 dari 300 siswa selamat pada hari itu.

Pada awalnya, sekolah ini dibangun dengan struktur semi permanen yang terbuat dari beton dan kayu yang sering bocor ketika hujan. Meja dan kursi pun terbuat dari kayu lapis tipis.

UNICEF berkomitmen untuk membangun kembali dengan lebih baik, agar sekolah Muhammadiyah yang baru akan mampu bertahan ketika terjadi bencana alam di masa depan.

Setelah tsunami, para ahli merancang gedung-gedung sekolah baru yang tahan gempa, dengan fondasi yang lebih dalam dan sistem penunjang yang kokoh. Meja sekolah pun kini menggunakan permukaan kayu tebal yang dipasang dengan penyangga logam.

"Kini kami merasa sangat nyaman karena anak-anak lebih aman," kata Ibu Zahariah, sang kepala sekolah.

SD Muhammadiyah menjadi acuan bagi lebih dari 300 sekolah yang dibangun UNICEF di Aceh setelah tsunami. 

Murid-murid SD Muhammadiyah 1 berlindung di bawah meja saat pelatihan menghadapi gempa. Bangunan sekolah baru dirancang agar tahan gempa dan dilengkapi dengan meja-meja kayu tebal berkaki besi. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

Murid-murid dilatih cara menghadapi gempa secara teratur. Ketika alarm berbunyi, mereka diajarkan untuk berlindung di bawah meja masing-masing, dan menjauh dari kaca jendela. Setelah getaran gempa berlalu, mereka harus pergi meninggalkan bangunan.

Nasywa Zulkarmain, 11 tahun, tahu tentang tsunami dari kisah-kisah orang tua dan saudaranya. Keluarganya selamat karena mereka berhasil mencapai dataran tinggi dengan menggunakan mobil.

“Saya takut dengan gempa,” ucap siswa kelas 6 SD ini, yang baru berusia 1 tahun ketika tsunami melanda. “Tapi saya tahu apa yang harus dilakukan kalau terjadi”, tambahnya. 

Para murid SD Muhammadiyah 1 dilatih untuk melindungi kepala mereka dengan menggunakan tas sekolah jika gempa terjadi. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

Ibu Zahariah, sang Kepala Sekolah, sangat terpukul ketika begitu banyak muridnya meninggal akibat tsunami pada tahun 2004. Sekarang dia tahu anak-anak seperti Nasywa memiliki kesempatan yang lebih baik untuk bertahan hidup jika tsunami lain menyerang Banda Aceh.

"Menurut saya anak-anak tidak akan panik," katanya. "Rasanya lega mengetahui bahwa mereka siap dan akan mampu melindungi diri mereka sendiri."

UNICEF bekerja keras bukan hanya untuk membangun kembali infrastruktur, tetapi untuk membangun kembali dengan lebih baik. Sepuluh tahun kemudian, manfaat dari proyek –proyek yang dimulai UNICEF sebagai respon terhadap tsunami masih dirasakan oleh masyarakat setempat.

Selamat dari tsunami, menciptakan masa depan lebih baik

Selamat dari tsunami, menciptakan masa depan lebih baik

Hamil 17 minggu dan membawa putrinya yang baru berusia tiga tahun pada waktu itu, Rosna merasa keselamatannya adalah berkat program TV tentang tsunami yang memberinya pengetahuan tentang apa yang akan terjadi setelah gempa besar. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

JANTHO, Indonesia, Oktober 2014 - Rosna terselamatkan dari tsunami oleh televisi. Berkat acara TV tentang gempa bumi, gunung berapi dan aktivitas seismik bumi yang ia telah saksikan sebelumnya, ketika gempa bumi mengguncang pada 26 Desember 2004, yang menyebabkan tsunami di Samudra India, dia menyadari apa yang akan terjadi.

Dalam kehamilan yang berusia 17 minggu dan sambil menggendong putrinya Cut Rachmina, yang saat itu berusia tiga tahun, Rosna berlari meninggalkan rumahnya di Banda Aceh. Meskipun beberapa kali dihempas oleh air, dia berhasil mencapai daerah yang lebih tinggi tanpa cidera atau luka-luka dan akhirnya bisa dipersatukan kembali dengan suaminya Johansyah, yang juga selamat dari terjangan ombak raksasa.

Bencana itu telah menghabisi sebagian besar Banda Aceh, dan keluarga Rosna termasuk yang beruntung bisa selamat. Namun rumah mereka habis ditelan ombak. Mereka tak memiliki air minum, makanan, dan seluruh harta benda mereka dirusakkan oleh bencana tersebut. Dalam waktu beberapa jam, status mereka berubah dari pemilik rumah menjadi pengungsi. Tenda pengungsian menjadi rumah mereka.

++++

Sepuluh tahun terlalu berlalu sejak peristiwa tragis tersebut. Suatu Jumat pagi, di kebun rumahnya, Rosnas sedang dikelilingi sekelompok anak-anak pra-sekolah yang menyanyikan lagu-lagu anak dan belajar menghitung sampai 10. Sebagian anak-anak lain bermain di ayunan dan perosotan di halaman.

Di kawasan perumahan yang dibangun untuk para korban tsunami oleh International Organization for Migration (IOM) ini, Rosna telah mendirikan pusat Pengembangan Anak Usia Dini (PAUD) dengan bantuan UNICEF.

Cut Rachmina putrinya sekarang telah berusia 12, dan Arif yang lahir 5 bulan setelah tsunami sekarang 9 tahun. Keduanya sedang berada di sekolah saat itu, sementara yang terkecil, Akbar, baru berusia satu tahun, dan sedang duduk di pangkuan ibunya.

“Setelah tsunami, saya ingin melakukan sesuatu untuk keluarga-keluarga yang trauma, terutama anak-anak,” ujar Rosna. “Adalah kebahagian bagi saya untuk melihat anak-anak ini bermain di sini setiap hari.”

Rosna memimpin senam bersama murid-muridnya di PAUD Jantho. Dia mendirikan pusat PAUD ini pada tahun 2006 dengan dukungan UNICEF. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

Banyak yang ia harus lalui sebelum sampai ke posisi ini. Keluarga Rosna awalnya tinggal di barak pengungsi di Banda Aceh, saat kota itu terus diguncang gempa susulan berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan setelah tsunami.

Pada tahun 2005, setelah Arief lahir, Rosni sekeluarga pindah ke barak pengungsian lainnya di Jantho, kota kecil di pegunungan sekitar satu jam naik mobil dari Banda Aceh.

Cut Rachmina dan Arief mengikuti pusat anak yang didirikan oleh UNICEF di tempat pengungsian tersebut. Mereka diperkenalkan dengan permainan-permainan menarik dan didukung untuk menggambar dan melukis untuk bisa menyembuhkan trauma tsunami mereka.

UNICEF mendirikan 21 pusat penampungan anak di seluruh Aceh setelah tsunami untuk memberikan dukungan segera bagi mereka yang terdampak oleh bencana tersebut.

Selain bantuan pendidikan dan psikososial yang diterima oleh anak-anak Rosna, pusat anak juga mendaftarkan 2.000 lebih anak-anak yang terpisah oleh keluarga mereka untuk membantu mempersatukan kembali mereka dengan keluarga mereka yang tersisa.

Bersama Dinas Sosial dan Dinas Pemberdayaan Perempuan tingkat provinsi, serta Muhammadiyah, organisasi Islam kedua terbesar di Indonesa, pusat anak ini melacak keberadaan anggota keluarga anak-anak tersebut, dan meluncurkan kampanye untuk mempromosikan kesadaran publik terhadap isu hak-hak anak. Para pekerja di pusat anak membantu melindungi anak-anak yang paling rentan perdagangan anak dan terpaparkan terhadap kekerasan.

Enam dari pusat anak-anak ini masih berfungsi sampai saat ini sebagai bagian dari layanan kesejahteraan sosial pemerintah. 

Pasca bencana, UNICEF mendirikan 21 pusat anak di Aceh untuk memberikan bantuan langsung bagi mereka yang terkena dampak bencana. Pusat-pusat ini juga mendaftarkan lebih dari 2.000 anak tanpa pendamping, untuk membantu menyatukan mereka kembali dengan anggota keluarga yang hilang. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

Setelah setahun tinggal di dalam tenda di pusat pengungsian, Rosna dan keluarganya ditawarkan untuk tinggal di perumahan yang didirikan oleh IOM. Mereka ingin meninggalkan kehidupan di tenda dan kembali ke kehidupan normal di rumah. Namun Rosna telah menyaksikan sendiri bagaimana pentingnya peran pusat anak dalam pendidikan dini kedua anaknya. Dia memutuskan untuk mendirikan pusat Pengembangan Anak Usa Dini di rumah barunya.

UNICEF menyediakan peralatan dan uang tunjangan untuk para relawan agar Rosna dapat mendirikan PAUD di rumahnya sendiri pada tahun 2006. Saat ini pusatnya memperkerjakan lima asisten untuk 33 anak-anak usia dua sampai enam tahun.

“Jika tidak ada fasilitas ini, para ibu-ibu ini harus membawa anak-anak mereka ke sawah atau ke pasar untuk bekerja,” ujar Rosna.

“If this facility weren’t here, mothers would take their children to the rice paddies or the market where they work,” says Rosna.

Setelah tsunami UNICEF mendukung pendirian pusat pengembangan anak usia dini dan program pelatihan untuk kader-kader atau relawan di beberapa kabupaten di Aceh. Sejak intervensi ini angka pendaftaran program PAUD meningkat menjadi 42 persen pada tahun 2013 di Aceh, dibandingkan rata-rata nasional sekitar 30 persen. 

Di pusat PAUD, anak-anak diperkenalkan dengan teka-teki dan permainan, serta diajak menggambar dan melukis untuk membantu mereka mengatasi trauma tsunami. © UNICEF Indonesia/2014/Achmadi

Setelah pembukaan pusat anak, Rosna mendapatkan kualifikasi formal dengan mendapatkan ijazah pendidikan di Banda Aceh. Setiap hari dia pulang-pergi naik motor sejauh 100 kilometer, bahkan ketika sedang mengandung anaknya yang paling kecil, sebelum akhirnya lulus pada tahun 2013.

Rosna punya banyak rencana untuk mengembangkan PAUDnya. Selagi anak-anak bermain dengan gembira di halaman atau di salah satu dari dua ruang kelas, pekerja bangunan mendorong gerobak berisi semen di samping bangunan sekolah. Mereka sedang membangun jamban agar anak-anak dapat memiliki sanitasi yang lebih baik dan fasilitas mencuci anak.

Rosna juga berharap dapat membangun sebuah perpustakaan di tempatnya.

“Saya ingin bekerja keras untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya,” ujarnya.

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia