Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label hak anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hak anak. Tampilkan semua postingan
Isto, Agen Perubahan Kebersihan Menstruasi

Isto, Agen Perubahan Kebersihan Menstruasi

Oleh: Dinda Veska, PSFR Communication Officer

Isto (11) menjadi agen perubahan di sekolahnya untuk melindungi anak-anak perempuan dari ejekan-ejekan soal menstruasi. @Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2017


Terik matahari di Sumba Barat daya hari itu cukup menyengat kulit, siswa-siswi SD Lolaramo berlarian ke tengah lapangan dan bersiap untuk berlatih ekstra kurikuler tarian daerah. Mereka berbaris rapih, memberikan senyumnya lebar-lebar kepada para guru.

Di tengah-tengah latihan, seorang anak perempuan terlihat pucat dan meminta izin untuk istirahat sebentar. Isto (11) menawarkan diri untuk menemaninya ke ruang UKS. Mengetahui teman perempuannya sedang mengalami menstruasi, Isto melempar sedikit guyonan sambil jalan berdua menuju ruang UKS. Ia berpikir itu dapat sedikit mengalihkan rasa sakit di perut temannya.

“Menstruasi itu tanda ketika anak perempuan sudah tumbuh dewasa kak! Sebagai anak laki-laki aku harus siap membantu dan tidak boleh mengejek.” Seru Isto ketika di ruang kelas saya bertanya apa itu menstruasi.


Siswa-siswi SD Lolaramo setelah melakukan cuci tangan rutin di sekolah.
@Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2017

Di kelas Isto termasuk anak yang aktif berbicara dan senang berguyon. Enam bulan lalu, di hari Senin tidak sengaja ia membuat salah satu anak perempuan di kelas menangis. Saat itu Isto belum mengerti kenapa ada bercak merah pada rok putih yang dikenakan oleh Inna. Karena tidak paham, Isto spontan mengejek dan membuat Inna ditertawakan oleh anak-anak lainnya.

Tidak lama setelah kejadian itu, guru olahraga di sekolah yang telah mendapat pelatihan dari Pemerintah Daerah dan UNICEF membawa satu paket buku tentang Manajemen Kebersihan Menstruasi. Buku komik tersebut diberikan kepada siswa-siswi kelas lima dan enam, perlahan-lahan Isto dan teman-temannya memahami tentang menstruasi.

Inna (12) tidak lagi membolos sekolah ketika menstruasi.
@Dinda Veska/UNICEF Indonesia/2017

Menurut wali kelasnya, Isto juga sempat menyampaikan permintaan maaf kepada Inna. Kini Isto juga  sangat diandalkan oleh gurunya dalam mengedukasi siswa-siswi lain terkait Manajemen Kebersihan Menstruasi. Ia juga paham betul apa yang harus dilakukan ketika teman perempuannya sedang datang bulan.

“Anak laki-laki harus menawarkan bantuan, Kak, kepada anak perempuan yang sedang menstruasi. Agar mereka tetap merasa nyaman.” Ungkap Isto.

Faktanya, menstruasi tidak hanya harus dimengerti oleh anak-anak perempuan, tapi juga anak laki-laki. Isto adalah sedikit dari banyak anak laki-laki di Indonesia yang akhirnya mengerti bahwa menstruasi bukan sesuatu hal yang tabu untuk dibicarakan bahkan tidak layak untuk dijadikan ejekan.

Menurut data yang didapat oleh U-Report pada Mei 2017, 17% U-reporters Perempuan diejek dan dirundung oleh sesama murid (terutama laki-laki) saat mengalami menstruasi. Hal ini sering kali membuat mereka memilih untuk membolos sekolah demi menghindari ejekan teman.

Saat ini, empat orang teman perempuan Isto di sekolah mengaku tidak lagi membolos ketika datang bulan. Selain itu anak-anak perempuan ini juga tidak akan tertinggal pelajaran di sekolah, jumlah akumulasi hari absen juga tidak lagi dikhawatirkan akan membuat mereka tinggal kelas atau bahkan dikeluarkan dari sekolah.

Buku komik tentang Manajemen Kebersihan Menstruasi yang diterbitkan oleh UNICEF bekerjasama dengan program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dari Pemerintah telah menghindarkan banyak Anak Perempuan Indonesia dari perundungan dan ancaman tinggal kelas.

Perubahan sikap dan pemahaman yang dialami oleh Isto adalah bukti bahwa anak-anak juga bisa dijadikan agen perubahan untuk lingkungan terdekatnya.

Memenuhi Hak Anak untuk Aris

Memenuhi Hak Anak untuk Aris

Oleh: Dinda Veska, Fundraising Communication Officer


Aris (7) usai sembuh dari demam akibat Virus Rubella
© Dinda Veska/ UNICEF / 2017

Demam dan Campak Jerman
Keceriaan dan aktifitasnya di sekolah terganggu tiba-tiba saja pada Februari kemarin, Aris (7 tahun) mengalami demam tinggi hingga 38 derajat celcius sepulang dari sekolah. Ibunya yang juga merupakan seorang kader kesehatan memberikan Aris obat penurun demam dan mengompresnya. Hingga malam hari suhu tubuhnya tidak kunjung menurun.

Keesokan harinya Aris dibawa ke Puskesmas Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Petugas kesehatan setempat mengambil contoh darah Aris untuk diperiksakan ke laboratorium di Yogyakarta. Selang beberapa hari hasil pemeriksaan darah Aris menunjukkan bahwa
ia positif terkena virus Rubella atau biasa disebut dengan Campak Jerman.

Berakibat fatal pada ibu hamil
Saat mengetahui hal tersebut, Ibu Diah cukup panik memikirkan dampak kesehatan yang akan terjadi pada anaknya. Sedikit banyak beliau mengetahui bahwa virus Rubella sangat berbahaya, ia khawatir anaknya juga akan mengalami katarak, gangguan pendengaran atau gangguan kesehatan lainnya.

Tetapi setelah dijelaskan oleh petugas kesehatan di Kecamatan Bayat, Ibu Diah menjadi lebih tenang. Karena Virus Rubella yang menyerang Aris pada usia 7 tahun tidak akan berdampak fatal kecuali demam tinggi, pusing dan ruam-ruam kemerahan di kulit.


Ibu Diah bersama Aris dan anak ke empatnya.
© Dinda Veska/ UNICEF / 2017

Menurut Dokter Kenny Peetosutan – Spesialis Kesehatan UNICEF Indonesia - virus ini akan berdampak fatal jika menginfeksi ibu hamil, terutama pada kehamilan muda. “Janin yang masih dalam masa perkembangan di dalam kandungan berisiko menderita kelainan jantung, gangguan pada fungsi pendengaran, gangguan mata (katarak kongenital) dan gangguan kesehatan lainnya”, ungkap Dokter Kenny.

Setiap tahunnya 100.000 bayi di dunia lahir dengan Congenital Rubella Syndrom (CRS) atau berbagai gangguan pada organ seperti yang disebutkan oleh Dokter Kenny di atas.

Di Kabupaten Klaten sendiri, terhitung mulai 2016 sudah ada 7 orang anak terkena virus Rubella. Sejauh ini penanganan yang dilakukan pihak Puskesmas Kecematan Bayat kepada Aris dan anak-anak tersebut adalah dengan memberikan Vitamin A dan pengobatan tertentu sesuai dengan gejala yang diderita anak.

Virus Rubella mengancam di sekitar kita

Meskipun saat ini Aris telah sembuh dan dinyatakan bebas virus. Namun Rubella masih mengancam di sekitar Aris dan jutaan anak Indonesia lainnya. “Virus ini masih ada di sekeliling kita dan dapat menyerang siapa saja dan kapan saja”, jelas Dokter Kenny.

Aris bersama teman-temannya di seklolah.
© Dinda Veska/ UNICEF / 2017

Imunisasi cegah rubella
Masih ada harapan untuk Aris dan anak-anak lainnya agar terhindar dari virus ini. Pada bulan Agustus 2017 nanti, Pemerintah Indonesia akan melaksanakan Kampanye Imunisasi Measles (Campak) Rubella (MR). Sekitar 35 Juta anak usia 9 bulan hingga usia di bawah 15 tahun di Pulau Jawa akan mendapat imunisasi MR guna mencegah mereka terinfeksi virus Rubella. Imunisasi ini juga akan menyasar sekitar 32 Juta anak lainnya di luar Pulau Jawa di 2018.  

Balqish (2 bulan) mendapat Imunisasi Rutin dari Puskesmas Kecamatan Bayat
© Dinda Veska/ UNICEF / 2017

Bersama UNICEF memastikan setiap anak bebas Rubella
Untuk memastikan setiap anak mendapat imunisasi Measles Rubella ini, UNICEF mendukung upaya pemerintah dengan melakukan mobilisasi sumber daya dan pemantauan untuk menjangkau anak-anak yang rentan dan berada di area yang sulit dijangkau.

Selain mengubah masa depan Aris dan setiap anak lainnya menjadi lebih baik, kampanye imunisasi Measles Rubella ini juga akan memenuhi hak dasar anak sesuai dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan.

Peran serta dan dukungan masyarakat luas juga sangat dibutuhkan untuk mendukung kampanye imunisasi ini. Melalui kampanye ini, kita bisa mencegah bayi lahir dengan resiko gangguan cacat organ atau gangguan kesehatan lainnya.

Ayo ikut serta memenuhi Hak-hak Anak Indonesia!

‘Semua Anak Berhak Mendapatkan Identitas’: Upaya Mendata Bayi di Flores

‘Semua Anak Berhak Mendapatkan Identitas’: Upaya Mendata Bayi di Flores

Oleh: Cory Rogers, Communication Officer


Maumere, Flores: Patung Yohanes Paulus II setinggi enam meter menyambut para pengunjung di gerbang masuk menuju kantor Uskup Girulfus Kherubim Pareira di Maumere, kota berpenduduk 160.000 jiwa dan pusat umat Katolik di Flores.

Kerja sosial memang berkembang dan menjadi misi utama Gereja Vatikan di bawah kepemimpinan Paus Yohanes Paulus II. Visi ini terus hidup di Maumere, menciptakan kesempatan bagi UNICEF dan Pemerintah untuk terus
membantu anak-anak di sana.

“Kita tidak bisa hanya bicara soal kebutuhan spiritual di Gereja,” kata Uskup Maumere Mgr. Kherubim. “Melihat kondisi masyarakat, jelas bahwa kita juga harus memperhatikan kebutuhan jasmani mereka.”

Wilayah Keuskupan Maumere berada di Kabupaten Sikka di Nusa Tenggara Timur (NTT). Di tempat yang terkenal panas dan kering ini, petani dan nelayan menghadapi masalah ketimpangan kesehatan, kesejahteraan, dan gender yang sama dengan banyak wilayah tertinggal lain di timur Indonesia.

Di Sikka, gereja dan pejabat pemerintah bersama-sama berupaya mengatasi rendahnya tingkat pencatatan bayi yang baru lahir. Tahun lalu, hanya 38 persen anak-anak di Sikka yang memiliki akta kelahiran, atau bahkan kurang dari separuh rata-rata nasional sebesar 67 persen.

“Sudah lama sekali, gereja jalan sendiri, pemerintah jalan sendiri,” ungkap Romo Yohanes, direktur Pusat Pastoral (Puspas) Keuskupan Maumere. Selama ini, Puspas telah melaksanakan berbagai bentuk intervensi untuk beragam permasalahan, termasuk kekerasan rumah tangga dan literasi keuangan. Puspas mengerahkan sekitar 3.000 orang anggota komunitas agama, Komunitas Basis Gerejani (KBG), untuk turut menggalang kesadaran dan mendorong perubahan perilaku. 


Romo Yohanes berbincang tentang program Puspas di kantornya di Maumere

“Kami sudah sejak awal menjadikan aksi-aksi ini sebagai prioritas,” katanya. “Tapi, masih ada banyak masalah lain yang tidak bisa diatasi hanya oleh Gereja, atau hanya oleh Pemerintah, seperti pencatatan kelahiran. Kita tahu anak-anak perlu akta kelahiran untuk bersekolah, mendapatkan paspor, ataupun memenuhi haknya yang lain” jelasnya.

Pada tahun 2016, melalui pendanaan dan bimbingan teknis dari UNICEF, Keuskupan dan Pemerintah Daerah Maumere bekerja sama di 12 dari total 36 paroki untuk memastikan identitas anak-anak dicatat secara resmi.

Untuk jangka pendek, kerja sama ini menargetkan angka pencatatan anak sebesar 85 persen, yaitu target nasional, pada tahun 2019. Hal ini hendak dicapai melalui peran Puspas menggerakkan masyarakat dan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Sikka yang menggiatkan pencatatan. Dalam jangka panjang, pada 2030, target yang disasar adalah pencatatan kelahiran universal, yaitu sejalan dengan sasaran 16.9 dari Tujuan Pembangunan Global .

Tantangan dari Tradisi ‘Belis’
Hambatan mencapai tingkat pencatatan 85 persen bersifat multidimensi. Namun, menurut pejabat setempat, satu langkah pertama yang bisa dilakukan adalah membantu pasangan-pasangan menikah di gereja. Akta nikah dari gereja adalah syarat Dinas Dukcapil agar seorang anak dapat dicatatkan dengan nama ibu dan bapak. Peraturan tahun 2016 mengizinkan pasangan mengajukan pengecualian dari persyaratan itu,  namun perubahan tersebut belum diterapkan.

“Hambatan ini ada kaitannya pandangan patriarki,” kata Romo Yoris, pengurus Puspas. “Bagi seorang bapak, anak seharusnya menyandang namanya. jadi kami pun bekerja keras mendorong pasangan untuk menikah sebelum memiliki anak agar si anak kelak bisa membawa nama kedua orangtuanya.”


Romo Yoris tersenyum di beranda Gereja Hati Yesus Yang Maha Kudus, Paroki Ili, Maumere, Flores
Romo Yoris menambahkan bahwa ada tradisi pernikahan bernama belis—pasangan saling bertukar mas kawin dalam nilai yang cukup besar—yang seringkali menyebabkan tertundanya pernikahan.

Karolina Klong, 27 tahun, warga asli Maumere dan seorang ibu, menerangkan bahwa dalam tradisi ini, pihak pengantin pria memberikan kuda, ayam, dan uang senilai jutaan rupiah kepada keluarga pengantin wanita. Pemberian ini dibalas oleh keluarga wanita dengan menyerahkan babi, sarung (kain), dan makanan.

“Kami tahu biayanya besar, tapi [tradisi ini] sudah berlangsung turun temurun, sehingga akan tetap kami jalankan,” katanya. Karolina menambahkan bahwa ia sendiri belum secara resmi menikah dengan suaminya yang bekerja sebagai pengemudi ojek di kota.

Menurutnya, biaya belis yang besar membuat mereka memilih untuk tidak menikah sebelum memiliki anak. Sebab itu pula, putra Karolina pun belum dicatatkan di Dinas Dukcapil.

Namun, saat ini, hal itu bisa berubah. 

Kemajuan Mulai Terlihat

Karolina Klong tersenyum saat menyerahkan dokumen syarat-syarat pencatatan sipil untuk putranya.

Dalam beberapa pekan terakhir, UNICEF, Keuskupan Maumere, dan Dinas Dukcapil bekerja sama mempercepat pencatatan kelahiran dengan membentuk tim khusus di tingkat desa serta melaksanakan kampanye pencatatan kelahiran keliling di wilayah-wilayah gereja. Menjangkau 12 paroki untuk tahap awal, pegawai Dinas Dukcapil dan pengurus keuskupan bahu membahu dalam inisiatif ini, mendorong para orangtua untuk mendaftarkan anak-anak mereka. Saat ini, pelaksanaan inisiatif tahap selanjutnya tengah direncanakan untuk dapat menjangkau ke-36 paroki di Sikka.

Untuk inisiatif ini, beberapa minggu sebelum kunjungan gereja, anggota Puspas telah bermitra dengan pendeta setempat dan pemerintah menginstruksikan kepala desa untuk menemui keluarga-keluarga dengan anak yang belum didaftarkan. Menurut Karolina, ia pun dikunjungi dan diingatkan oleh kepala desanya agar hadir di Gereja Hati Yesus di Paroki Ili saat kampanye keliling tiba di sana.

“Pintu rumah saya diketuk kepala desa,” kata Karolina sambil tersenyum lebar di beranda geraja.

Karolina, satu dari puluhan ibu yang hadir, mengaku merasa sulit membiayai pengobatan setiap kali anaknya sakit. Dengan akta kelahiran, Karolina dapat mengajukan diri sebagai peserta layanan kesehatan gratis dari pemerintah.

Sejak kampanye keliling dimulai awal tahun ini, lebih dari 200 bayi—seperempat dari total anak yang belum tercatat di paroki—sudah didaftarkan di Ili.

Kemajuan ini juga bisa dilihat di seluruh penjuru kabupaten; tingkat pencatatan naik dari 38 persen ke 50 persen hanya dalam kurun satu tahun—sebuah “kemajuan besar” menurut Bupati Kabupaten Sikka, Bapak Yoseph Ansar Rera.


Maria Celsia Maxsensi Troy mengantre layanan pencatatan sipil keliling untuk mendaftarkan putrinya (kanan).
“Kami sudah menjalin kerja sama erat [dengan Keuskupan Maumere], dan kami selalu menyambut dengan baik pihak-pihak lain yang ingin turun tangan membantu anak-anak,” kata Yoseph.

Ia berharap, perluasan layanan pencatatan Pemerintah bisa mencapai target 85 pesen di akhir 2019. “Saya rasa, kami bisa mencapai 70 persen pada akhir tahun ini,” katanya lagi.

Astrid Dioniso, UNICEF Child Protection Specialist di Jakarta, mengatakan bahwa kemajuan di Sikka memperlihatkan bahwa hal serupa juga bisa dilakukan di wilayah lain.

“Pengalaman di Sikka menunjukkan bahwa Gereja bisa menggunakan misi kemasyarakatannya untuk melaksanakan suatu inisiatif bersama dengan Pemerintah,” kata Astrid.

“Di Papua, misalnya, ada kabupaten dengan hanya satu anak yang dicatatkan. Tempat-tempat ini bahkan lebih terpencil dibandingkan Maumere,” Astrid menambahkan.

“Pencapaian di Sikka menunjukkan apa yang sebetulnya bisa diraih melalui kemitraan dengan Gereja sekaligus langkah ke depan untuk terus memastikan hak semua anak mendapatkan identitas.”

Champions4Children Meminta Indonesia untuk Menempatkan Anak-anak pada Pusat Pembangunan

Champions4Children Meminta Indonesia untuk Menempatkan Anak-anak pada Pusat Pembangunan

Oleh: Liz Pick, Communications Specialist


Champions4Children dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise (keempat dari kanan) foto bersama dengan Perwakilan UNICEF Indonesia, Gunilla Olsson (ketiga dari kanan) dan lima anak perempuan muda pada acara tersebut di Jakarta Selatan.
©Raditya Henrile / UNICEF/2017 


Jakarta: Hari minggu sore di Jakarta, sebuah kota yang berpenduduk 10 juta orang, dan sepertinya kebanyakan mereka berada di pusat perbelanjaan Kota Kasablanka.

"Anak-anak adalah pemimpin masa depan kita. Mereka adalah orang-orang yang akan membawa perubahan bagi Indonesia dalam 25 tahun, dalam 50 tahun," kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia, Yohana Yembise, sambil memandang sekelompok pemimpin saat itu.

Duduk di barisan depan adalah sekelompok orang-orang ternama di Indonesia - pemimpin pemerintahan, bisnis, masyarakat sipil, pekerja seni dan akademisi - yang masing-masing memiliki komitmen untuk menggunakan pengaruh mereka dalam
memperjuangkan hak anak-anak di Indonesia. Mereka adalah Champions4Children UNICEF Indonesia.

Acara ini merupakan bagian dari Pekan Pemasaran Jakarta 2017, yang dilaksanakan setiap tahun oleh Businness Champion UNICEF, Hermawan Kartajaya dan perusahaannya MarkPlus. Pada hari Minggu yang penting ini, pesertanya terutama adalah keluarga-keluarga dan itu penting bagi mereka. Itulah kata-kata yang disampaikan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohanna Yembise.

Beliau mengajak semua orang Indonesia untuk bekerja sama guna mengakhiri pernikahan usia anak, mengakhiri kekerasan terhadap anak dan memberdayakan orang-orang muda untuk menentukan masa depan mereka.
"Kita harus bekerja sama untuk melindungi semua anak Indonesia - tanpa diskriminasi. Itulah peran saya sebagai Menteri. Saya berharap anda semua berkomitmen untuk bergabung dengan saya dalam melindungi anak-anak dan masa depan kita." 

Champion di sini adalah untuk memberikan inspirasi kepada masyarakat umum untuk melakukan aksi dalam rangka mengatasi tantangan yang dihadapi oleh anak-anak di Indonesia. Setiap dari mereka memiliki pesan sederhana untuk disampaikan kepada peserta - sebuah pesan tentang kerja sama yang harus dilakukan saat ini untuk melindungi masa depan.

Salah satu Champion adalah Dion Wiyoko, seorang bintang film yang sedang menanjak. Sebagai presenter acara terkenal TV travel show, ia telah menjelajahi berbagai daerah di Indonesia. Keinginannya untuk melindungi negeri yang indah ini sangat nyata ketika ia berbicara tentang dorongannya untuk meningkatkan praktek-praktek sanitasi dan kesehatan bagi sebuah lingkungan yang lebih aman dan sehat.

"Saya ingin semua orang tahu tentang kampanye “Tinju Tinja” UNICEF," katanya. "Selama perjalanan saya ke seluruh Indonesia, seringkali saya dikejutkan oleh banyaknya orang yang masih buang air besar di tempat terbuka karena mereka tidak memiliki toilet. Banyak anak menderita sakit atau bahkan meninggal karena masalah kesehatan yang diakibatkannya." 

"Solusinya tidak hanya membangun toilet, tetapi juga mendidik orang-orang untuk menggunakannya," kata Dion. "Mereka perlu tahu apa saja bahaya dan dampak yang ditimbulkan. Kita harus meyakinkan orang-orang dimana saja untuk mengakhiri buang air besar di tempat terbuka." 

Dion membantu peluncuran tahap kedua Tinju Tinja (yang diterjemahkan secara bebas sebagai "Punch the Poo") dan rencana-rencana tentang penggunaan kehadiran media sosialnya yang cukup besar untuk meningkatkan jangkauannya ke masyarakat di seluruh Indonesia, ketika kampanye tersebut akan diluncurkan lagi pada akhir tahun ini.


Bisa dipastikan bahwa, sebagai seorang guru yang ahli dalam menggunakan teknik “storytelling”, Ariyo Zidni memiliki perhatian yang besar terhadap orang banyak ketika ia berbicara tentang pentingnya memanfaatkan kreativitas anak-anak bagi pengembangan pendidikan mereka. Salah satu cara yang ia lakukan adalah dengan memfasilitasi lokakarya dengan  teknik storytelling (bercerita) untuk melakukan penyembuhan trauma psikososial bagi anak-anak dan remaja yang terkena dampak bencana alam seperti gempa bumi dan banjir, keadaan darurat yang terjadi secara tetap di Indonesia.

Champions4Children Dion Wiyoko (kanan) dan M. Farhan (kiri) berbicara tentang hak anak dalam acara tersebut di Jakarta.
©Raditya Henrile / UNICEF/2017
 


Sambil kuliah di Universitas Indonesia, saat ini Ariyo sedang bekerja sama dengan UNICEF dalam sebuah proyek untuk memberdayakan orang-orang muda melalui storytelling digital untuk menemukan solusi-solusi terhadap masalah yang disebabkan oleh perubahan iklim.
Berbicara setelah acara tersebut, ia mengatakan bahwa kerja sama dengan UNICEF telah memberinya akses ke banyak informasi dan data tentang hak-hak anak yang telah membantunya untuk lebih memahami tentang-isu-isu yang dihadapi oleh anak-anak di Indonesia dan untuk meningkatkan prakteknya sendiri.

"Saya mendukung UNICEF karena kami memiliki gagasan yang sama tentang perlunya untuk menempatkan anak-anak sebagai bagian penting dari agenda Indonesia," katanya. "Sebagai orang dewasa, kita perlu memahami pandangan anak-anak dan memandang dunia dari perspektif mereka untuk semua gagasan dan desain baru."
Demikian pula, seorang penyiar radio dan TV terkenal, M. Farhan mengatakan bahwa ia mendukung UNICEF karena kegiatan UNICEF bagi anak-anak sangat sesuai dengan keyakinan dasarnya sendiri. 

"UNICEF memiliki nilai-nilai penting dan UNICEF bekerja untuk membantu hak-hak anak mulai dari perlindungan terhadap bahaya dan kekerasan hingga pendidikan. Dengan cara demikian, ketika mereka dewasa, mereka juga dapat melindungi dan memenuhi hak-hak generasi anak-anak berikutnya."  
Farhan adalah seorang pendukung kuat terhadap hidup sehat, pendidikan, dan pengembangan ekonomi untuk memberdayakan orang muda guna mencapai masa depan yang lebih baik bagi diri mereka sendiri. Sambil mempraktekkan gaya hidup sehat yang ia sampaikan, Farhan menunjukkan foto-foto dari trilomba (triathlon) yang ia ikuti sambil mendorong para peserta untuk “tergerak untuk bergerak”.

"Saya ingin orang-orang tidak hanya digerakkan dan menunjukkan empati, tetapi juga untuk benar-benar bergerak dan melakukan aksi," katanya.  
Terdengar bisikan dari para peserta ketika puteri mendiang Presiden RI Gus Dur, Yenny Wahid naik ke atas panggung. Sebagai anggota aktif Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam independen terbesar di dunia dengan 70 juta anggota, Ibu Yenny telah menjadi pegiat sosial terkenal untuk dialog antaragama dan multikultural dalam haknya sendiri.

Beliau menyampaikan pesan kepada peserta khususnya para orang tua, agar mereka mendengarkan anak-anak mereka dan mengajarkan nilai-nilai positif kepada mereka sehingga mereka dapat menjalani hidup dengan baik di dunia sekarang ini.
"Orang tua perlu memelihara komunikasi terbuka dengan anak mereka. Kita tidak bisa hanya menyampaikan cerita-cerita kepada mereka sebelum tidur dan kemudian kembali lagi kepada jadwal kesibukan kita. Komunikasi adalah kuncinya. Jika tidak, anak-anak kita tidak akan menyampaikan kepada kita ketika mereka menghadapi masalah."

Belakangan ini, mantan jurnalis terkenal tersebut memberikan dukungannya kepada UNICEF selama Pekan Imunisasi Dunia untuk mendorong orang tua dari segala agama untuk melakukan vaksinasi bagi anak-anak mereka dari penyakit yang dapat dicegah seperti campak dan rubella.
Pada akhir acara tersebut, Menteri Yembise mengundang para Champion ke kantornya untuk membicarakan tentang bagaimana mereka dapat bekerja sama untuk mewujudkan hak-hak anak.

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia