Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Kupang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kupang. Tampilkan semua postingan
Kasih Ibu Teresia untuk Alinea sepanjang masa

Kasih Ibu Teresia untuk Alinea sepanjang masa

Oleh: Dinda Veska – Donor Content Creator UNICEF Indonesia
Seorang anak di Kupang dengan HIV positif tertidur dibalik kelambu, ia terinfeksi sejak hari pertama lahir ke dunia.©Shehzad Noorani/UNICEF/2018.

Dari seberang jalan seorang ibu berperawakan besar dengan rambutnya terikat rapih ke belakang, melambaikan tangannya pada saya yang sedikit bingung menerka-nerka sosok Ibu Teresia. 

Tidak sampai 5 menit dari persimpangan Jalan Alak – Kabupaten Kupang, kami tiba di kediaman Ibu Teresia. Beliau mempersilahkan saya tetap memakai sepatu karena khawatir kaus kaki saya akan kotor oleh lantai rumahnya yang erlantaikan semen.

Tidak lama setelah masuk ke ruangan kedua setelah ruang tamu, beliau kembali keluar mengenakan kemeja berwarna kuning bertuliskan Warga Peduli AIDS di bahu sebelah kiri, senyumnya semakin manis dengan gincu merah.

Iya duduk sambil memangku Alinea (2) – anak dengan HIV positif yang belum genap satu tahun diadopsi. “Ibunya meninggal waktu saya sedang mendampingi pasien di rumah sakit.” Jelasnya, seolah paham dengan apa yang ingin segera saya tanyakan.

Ia mengaku jatuh cinta pada Alinea sejak pertama kali melihat Alinea di samping ranjang seorang perempuan dengan HIV positif yang tengah meregang nyawa. Setelah digantikan popok oleh Ibu Teresia, perempuan itu menitipkan Alinea untuk dirawat dan dibesarkan. Sesaat setelah Alinea kehilangan ibunya, Ibu Teresia mendapat persetujuan dari anak dan suami untuk mengadopsi Alinea.

Ia juga memberi pemahaman pada anak-anak dan suami yang tinggal bersama di rumah tentang bagaimana menjaga Alinea dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Ibu Teresia juga berkali-kali mengingatkan untuk selalu memberitahunya jika Alinea terluka fisik, karena anak-anaknya sendiri masih belum begitu paham bagaimana harus merawat adik angkatnya.

Ibu beranak 5 ini sudah sejak 2014 mendampingi 8 orang dengan positif HIV, selain mengurus keperluan rumah tangga dan anak-anaknya sendiri, ia aktif mengunjungi dan menemani pasien HIV untuk mendapat perawatan juga pengobatan di rumah sakit.

“Orang dengan HIV butuh didukung, terutama oleh keluarga sehingga mereka tetap memiliki semangat untuk hidup.”

Setiap penjelasan dari Ibu Teresia selalu menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri.

Di antara pasien-pasien yang didampingi Ibu Teresia, terdapat seorang ibu hamil dengan HIV positif, kondisi seperti ini dapat mengancam janin yang sedang berada di dalam kandungan. Bukan tidak mungkin bayi tersebut lahir dengan terinfeksi virus dari ibunya. Oleh karena itu semua ibu hamil pun harus menjalani tes HIV selama masa kehamilan. Kini tes tersebut sudah menjadi salah satu dari rangkaian pemeriksaan kehamilan di seluruh pusat pelayanan kesehatan.

“Janin itu kan tidak bersalah, mereka bahkan tidak mengerti apa-apa yang dialami ibunya. Saya ingin ikut membantu mereka dapat terhindar dari virus ini.” Ucap Ibu Teresia setelah menunjukkan beberapa buku panduan kesehatan yang selalu ia bawa setiap kali kunjungan ke rumah-rumah pasien.

Sejauh ini, sebanyak lebih dari 1000 orang terinveksi HIV di Kabupaten kupang (berdasarkan data dari pusat pelayanan kesehatan). UNICEF bersama pemerintah terus berupaya untuk memastikan sistem pelayanan kesehatan dapat menjangkau ibu hamil dan mencegah setiap anak yang lahir terinveksi virus HIV, hingga tidak ada lagi anak yang harus lahir menderita karena penyakit-penyakit yang bisa dicegah. Program Pencegahan Penyakit Menular dari Ibu ke Anak diharapkan juga dapat memudahkan langkah gerak relawan Peduli AIDS seperti Ibu Teresia.

Salah satu peran penting Ibu Teresia juga memastikan ibu hamil yang ia dampingi mengkonsumsi ARV secara rutin. “Semoga tidak ada lagi bayi-bayi yang lahir terinveksi virus ini.” Ungkapnya.

Setiap ibu hamil dengan HIV positif, harus mengkonsumsi ARV (Antiretroviral) atau obat untuk menekan jumlah virus yang berkembang di dalam tubuh si ibu sehingga dapat menurunkan kemungkinan bayinya terinveksi. Namun ketika bayi itu lahir, pengecekan darah dan status HIV harus rutin dilakukan pada seorang anak hingga usia 18 bulan, guna memastikan anak tersebut tidak terinfeksi HIV dari ibunya.

Kepedulian yang diperjuangkan oleh Ibu Teresia membawa saya pada potongan lirik lagu kasih ibu. Kasih sayangnya tak terhingga, sepanjang masa, hanya memberi dan tak harap kembali.

Ibu Teresia bukan hanya sekedar ibu angkat untuk Alinea, ialah cahaya yang akan terus menyinari langkah Alinea, kelima anaknya dan anak-anak lain di Kupang yang ingin ia selamatkan.


*Seluruh nama di dalam tulisan ini telah disamarkan, demi menghargai hak-hak anak.

Ketika remaja melakukan aksi;  orang dewasa mendengarkan

Ketika remaja melakukan aksi; orang dewasa mendengarkan

Para Remaja di Desa Oeletsala, Kupang. © UNICEF Indonesia/2017/Liz Pick

Ini sunguh-sungguh belum pernah terjadi sebelumnya. Saya tak pernah berpikir bahwa orang dewasa mau mendengarkan ide yang dilontarkan oleh Remaja.

Demikian yang disampaikan oleh Ina seorang gadis berusia 17 tahun yang bermukim di Desa Oeletsala, sebuah desa yang terletak di dekat kota Kupang, Indonesia Bagian Timur. Ina bersama dengan 40 penduduk dari tiga desa lainnya adalah bagian dari program percontohan yang ditujukan untuk membantu remaja belajar mengenali risiko-resiko dalam kehidupan remaja dan mengidentifikasi solusi yang potensial. Kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan “Lingkaran Remaja”, sebuah pendekatan yang dikembangkan  oleh Kantor Pusat UNICEF.

Lingkaran Remaja” adalah sebuah paket yang berisikan kartu aktivitas dan seperangkat peralatan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut. Kegiatan ini difasilitasi oleh orang setempat yang memandu sekelompok remaja usia muda untuk melakukan kegiatan yang mendorong terciptanya kerja sama tim, jiwa kepemimpinan, cara berpikir kreatif dan pemecahan masalah. Kelompok remaja ini kemudian menamakan diri mereka sebagai “Lingkar Remaja”. Lingkaran Remaja  telah digunakan di beberapa negara, seperti Sudan Selatan dan Indonesia, untuk membangun kompetensi dan kemampuan remaja, serta sebagai pendekatan psikososial paska terjadinya bencana alam dan konflik.

Di Indonesia, perangkat ini telah dijadikan sebagai percontohan bagi 35 desa untuk memberdayakan kaum remaja guna mempersiapkan dan menanggapi keadaan darurat dan situasi bencana. Melalui dukungan dari mitra pelaksana, yaitu ChildFund dan jaringan lokal dari komunitas organisasi, Lingkar Remaja di Kupang, Ende, Lampung dan Boyolali telah berhasil mengindentifikasi perubahan iklim dan isu lain di masyarakat yang menjadi penyebab terjadinya kekeringan, banjir, kebakaran dan erupsi gunung berapi.

Di Kupang, remaja dari berbagai lingkaran mengidentifikasi ketersediaan air di saat musim kemarau sebagai salah satu masalah yang paling dekat dengan mereka. Remaja dari berbagai lingkaran kemudian mengajukan berbagai solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan local di lingkungannya.

“Ketika kami memutuskan untuk fokus kepada isu ketersediaan air, kami kemudian melakukan survei terhadap kaum remaja pada lokasi sumber air untuk mengetahui apa yang mereka pikirkan. Pada kenyataannya kita semua memiliki masalah yang sama,” ujar Willie seorang remaja yang berusia 15 tahun, yang merupakan anggota dari Lingkar Remaja Desa Oeletsala.  

Kegiatan mengumpulkan air biasanya dilakukan oleh anak-anak yang lebih tua setiap pagi dan malam. Jarak antara sumber air dengan desa membuat anak-anak harus bangun jam 4 pagi untuk memperoleh air bagi keluarganya sebelum berangkat ke sekolah. Mereka sering tiba terlambat di sekolah dan hanya memiliki waktu bermain yang sangat sedikit.

Setelah mempertimbangkan kelayakan dari berbagai ide yang berbeda, seperti tangki saluran air dan truk air, Lingkaran Remaja asal Oeletsala menetapkan pilihan yang mereka ambil yaitu membangun pompa air di pusat desa.

Mereka pun memulai untuk menetapkan kriteria, menggambar diagram dan peta dari area proyek dan menciptakan prototipe sederhana dari kardus guna membentuk visualisasi. Selanjutnya mereka menunjukkan ide tersebut di depan orang tua mereka pada pertemuan tahunan desa.

“Beberapa orang mengatakan kepada kami: ‘Kalian hanyalah anak-anak, apa yang kalian ketahui tentang hal ini? Janganlah mencoba untuk memberikan saran kepada hal yang tidak kalian ketahui sama sekali’,” demikian pengakuan dari cerita Devi seorang remaja berusia 18 tahun. “Namun kami tidak membiarkan hal tersebut mematahkan semangat kami. Bahkan beberapa orang dewasa menghampiri dan mendengar apa yang kami katakan dan memberikan kami kepercayaan diri untuk melanjutkannya.

Ayub Meto, Kepala Desa Oeletsala menyampaikan bahwa ia tidak dapat mengingat kapan terakhir kalinya remaja mengambil peran pada penyelesaian masalah  di desa tersebut sebelum adanya program ini. “Saya sangat terkejut menerima proposal dari remaja melalui orang tua mereka. Saya berkata kepada diri sendiri bahwa mereka ini bukanlah anak kecil lagi. Mereka kini dapat menyampaikan ide mereka dan memikirkan kesejahteraan desa melalui kegiatan lingkar remaja.”

Ia sangat terkesan dengan inisiatif anak-anak tersebut dan bersedia mengalokasikan dana desa untuk merealisasikannya. Rumah pompa telah dibangun di tengah-tengah lokasi dan saat ini pompa ini telah menyediakan kebutuhan air desa untuk minum, mencuci dan bertani tanpa harus menempuh perjalanan jauh.

Hasil yang luar biasa positif telah meyakinkan kepala desa untuk memberikan dana tambahan untuk dua rumah pompa air di tahun ini.

“Saya sangat terdorong untuk mencari tahu potensi dan kemampuan yang dimiliki oleh remaja di desa. Kita membutuhkan generasi muda seperti ini di desa namun kita cenderung untuk meremehkan ide mereka.”

Pak Meto mengatakan bahwa ia berencana untuk memastikan aspirasi dari remaja tersebut tetap didengar di masa yang akan datang dengan meresmikan keikutsertaan mereka dalam proses  perencanaan desa di jenjang yang berbeda-beda.  Remaja juga dapat berkontribusi melalui pengumpulan informasi dan berpartisipasi di forum pemuda. 

Selain peningkatan ketersediaan dan akses terhadap air, terdapat juga beberapa realisasi yang walaupun masih tergolong sedikit namun manfaatnya tidak kalah penting bagi peserta lingkar remaja. Sebagian anggota kelompok mengatakan bahwa sebelumnya mereka adalah orang yang pemalu namun saat ini telah mendapatkan kepercayaan diri dan mampu mengungkapkan ide mereka.

“Pada sesi ini, kami telah berdiskusi dan belajar tentang bagaimana menghargai satu sama lain dan ide orang lain,” ujar Chris. “Lingkar ini sungguh-sungguh telah memberikan saya keuntungan masa depan karena telah membantu saya untuk menemukan kemampuan saya dan membangun keahlian baru seperti kepemimpinan dan berbicara di depan publik.”

Dewi sependapat bahwa kemampuan yang ia dapatkan di lingkar remaja akan membantunya kelak untuk memulai studi di perkuliahan pada tahun ini.

Sebelumnya saya sangat pemalu, tak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya bahwa orang-orang mau mendengarkan ide saya, namun sekarang saya tahu bahwa dengan beberapa upaya maka saya dapat mewujudkan ide saya ke dalam sebuah aksi.

Mereka telah menyusun terobosan pada proyek baru yaitu sebuah bus sekolah untuk anak-anak Sekolah Menengah Umum (SMU). Mereka berharap dengan adanya transportasi ini maka kesenjangan jarak tempuh dapat dikurangi dan hal ini akan memungkinkansiswa SMU untuk menyelesaikan studi mereka.

“Saat ini kita telah melihat bahwa sebuah ide diwujudkan ke dalam sebuah realisasi dimana kaum remaja memiliki peran untuk membuat kondisi kehidupan menjadi lebih baik. Sesuatu yang berguna di masa depan.”

Menggunakan setiap kesempatan untuk menemukan anak-anak yang sangat membutuhkan perawatan kesehatan

Menggunakan setiap kesempatan untuk menemukan anak-anak yang sangat membutuhkan perawatan kesehatan

Marthen sembuh dari kekurangan gizi parah akut (sangat kurus). ©UNICEF Indonesia/2016/Ha’i Raga Lawa

Ketika seorang petugas kesehatan menemukan Marthen kecil terbaring di ruang gelap di rumah kakek dan neneknya, dia tahu Marthen sangat membutuhkan perawatan medis. Keadaan Marthen yang tidak berdaya, menyedihkan, dan sangat kurus , sangat membahayakan hidup dan kesehatan Marthen.

Marthen saat itu sedang dirawat oleh neneknya di Desa Poto di Indonesia timur. Ibunya baru saja melahirkan bayi laki-laki lagi, dan ayahnya sedang mencari uang untuk menghidupi dan merawat keluarganya.

Masalah kesehatan Marthen mulai muncul enam bulan yang lalu ketika dia baru saja berusia satu tahun. Dia terserang demam dan batuk di rumah orang tuanya. Karena kakek dan neneknya percaya bahwa penyebab penyakit Marthen adalah ilmu gaib, mereka memaksa kedua orang tua belia ini untuk mencari kelompok doa, bukan petugas kesehatan, untuk menyembuhkan Marthen.

Selama enam bulan berikutnya setelah mengunjungi beberapa kelompok doa yang berbeda, kondisi malah Marthen makin memburuk. Dia kehilangan selera makan dan berat badannya semakin menurun. Dia juga menjadi sangat lemah dan tak berdaya.

Karena tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, ayahnya mencari kelompok doa yang paling pintar di kecamatan lain, dan atas nasihat mereka, Marthen pindah ke rumah kakek dan neneknya.  

Di rumah kakek dan neneknya, kemalangan Marthen berubah menjadi suatu keberuntungan.  

Di minggu berikutnya, Ibu Christine, seorang bidan puskesmas terdekat yang saat itu sedang mengadakan kunjungan rumah untuk memberikan vaksinasi kepada anak-anak, menemukan Marthen. Ibu Christine langsung mengetahui bahwa Marthen sedang mengalami kekurangan gizi akut yang parah dan membahayakan hidup yang dikenal dengan nama marasmik kwashiorkor. Kekurangan gizi yang parah telah menyebabkan kedua kaki Marthen membengkak, mengalami peradangan dan kulitnya mengalami depigmentasi.

Dengan dukungan UNICEF dan LSM Action Contre La Faim, para bidan dan petugas kesehatan di Kabupaten Kupang di Nusa Tenggara Timur dilatih untuk memeriksa status gizi anak-anak di rumah-rumah yang mereka kunjungi sebagai bagian dari program pelayanan di masyarakat. Mereka belajar bagaimana memeriksa status gizi dengan menggunakan sebuah pita ukuran untuk mengukur lingkar lengan atas anak-anak tersebut. Dengan cara ini, mereka dapat menemukan anak-anak dengan kekurangan gizi akut sebelum munculnya komplikasi medis lain yang dapat mengancam hidup anak-anak tersebut. Melalui program ini, UNICEF dan LSM Action Contre la Faim bermaksud untuk membantu pemerintah memastikan bahwa setiap anak dengan kekurangan gizi akut dapat ditemukan dan dirawat sebaik-baiknya agar dapat segera sembuh.  

“Saya sekarang tahu apa yang harus saya lakukan bila saya menemukan anak-anak dengan kekurangan gizi akut yang parah. Kami punya panduan yang jelas”, ujar Ibu Christine.

Marthen kemudian dirujuk ke rumah sakit terdekat. Dia dirawat di rumah sakit untuk mengobati komplikasi medisnya dan untuk membantu menaikkan berat badannya. Sanak saudara Marthen bergantian memberikan dukungan kepada orang tuanya dan memastikan mereka dapat berada dekat Marthen di rumah sakit.  

Setelah dipulangkan dari rumah sakit, dia terus mendapatkan pelayanan rawat jalan di puskesmas di Poto. Dua bulan kemudian, Marthen terlihat berbeda. Dia lebih kuat, lebih sigap dan sangat tertarik dengan lingkungannya.  

Ibu Christine mengetahui pentingnya menggunakan setiap kesempatan untuk menemukan anak-anak dengan kekurangan gizi akut. Banyak anak-anak yang sangat kurus tidak dibawa ke fasilitas kesehatan karena orang tua mereka tidak menyadari seriusnya kondisi anak mereka atau tidak mengetahui adanya perawatan medis yang efektif. Ada orang tua yang juga merasa malu bila orang lain mengetahui kondisi anak mereka.

 “Saya sekarang mendorong pemerintah desa untuk mengalokasikan sebagian anggaran mereka agar petugas kesehatan dapat melakukan kunjungan rumah bulanan untuk mencari anak-anak yang mengalami kekurangan gizi akut,” kata Ibu Christine.

Orang tua Marthen berkata bahwa mereka belajar banyak dari pengalaman mereka. Mereka sekarang mengetahui pentingnya mencari bantuan medis bila anak-anak sakit.


Randi, Rendi, dan Ibu Ruth: Penyala Semangat dari Kupang

Randi, Rendi, dan Ibu Ruth: Penyala Semangat dari Kupang

Oleh: Asrifakhru Rozi Batubara, UNICEF Fundraiser 

Menjadi seorang fundraiser untuk program  perbaikan gizi anak-anak Indonesia bukanlah hal yang mudah. Di satu sisi ada tanggung jawab dan komitmen yang digantungkan UNICEF kepada saya, di sisi lainnya menawarkan kepercayaan kepada para donatur di kota besar seperti Surabaya juga menjadi tantangan yang luar biasa. Ada beban besar yang hampir setiap hari saya rasakan.

Tetapi kemudian, beban itu menyala menjadi api semangat di 18 Februari kemarin. Ketika saya berkesempatan melihat secara langsung program perbaikan gizi buruk yang diinisiasi oleh UNICEF, tepatnya di wilayah kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Di Desa Obelo saya bertemu dengan seorang Ibu bernama Ruth Kiki. Sudah enam bulan lamanya beliau mendedikasikan diri untuk menjadi relawan di Posyandu Kesra. Tugas Ibu Ruth mungkin mudah untuk dilakukan, mulai dari menimbang berat badan dan lingkar lengan balita, kemudian konseling. Semua itu dilakukan setiap bulan untuk memastikan semua balita di lingkungan tersebut dapat tumbuh dan berkembang sebagaimana yang seharusnya.

Tetapi ada hal lain yang saya pelajari dari Ibu Ruth. Motivasinya yang sangat tinggi demi membantu sekitar cukup untuk menggetarkan hati seorang pemuda kota seperti saya. Inilah yang beliau katakan: “Saya prihatin dengan kondisi balita disini,karena kurangnya pemahaman ibu mereka tentang bagaimana merawat anak dengan baik. Saya ingin sekali melihat balita disini sehat, ceria dan memiliki masa depan yang lebih baik”.


Ada keyakinan yang tumbuh di dalam diri saya setelah mendengar ucapan Ibu Ruth. Bahwa program pelatihan yang difasilitasi oleh UNICEF dan Action Contre La Faim (ACF) ini tidak hanya memberi manfaat-manfaat teknis. Seperti peningkatan pengetahuan,  keterampilan dan kompetensi mereka tentang pemberian ASI. Tetapi juga ada hal-hal di luar teknis yang jauh lebih berdampak pada perubahan prilaku masyarakat. Saya yakin, ke depan akan ada Ibu Ruth lainnya yang kemudian juga termotivasi untuk menjadi relawan di Posyandu.

Sayangnya, perbaikan gizi buruk menjadi tugas yang tidak mudah bagi relawan di Kupang. Mengingat data survei terbaru yang dilakukan oleh UNICEF dan Action Contre La Faim  ( ACF ) menunjukkan bahwa 21 persen anak-anak di daerah ini mengalami kurang gizi akut ( sangat kurus) dan 52 persen mengalami stunting (terlalu pendek untuk usia mereka). Ditambah lagi, menurut Ibu Kepala Puskesmas Baktate di Pos PGBM (Penanganan Gizi Buruk Berbasis Masyarakat). Ada beberapa kendala yang menyebabkan program ini belum berjalan maksimal, di antaranya:

  • Latar belakang pendidikan orang tua masih rendah
  • Usia pernikahan yang sangat muda 
  • Kesadaran dan prilaku masyarakat akan kesehatan masih rendah

Di PUSTU (Puskesmas Pembantu) Nitneo yang berjarak 30 menit dari Batakte, saya berjumpa dengan dua balita kembar penderita gizi buruk yang sedang dalam pengawasan UNICEF dan pihak puskesmas sejak November 2015. Selama kurun waktu 3 bulan Randi dan Rendi diberikan eeZeepaste, adalah makanan pengganti berisi kandungan gizi yang dibutuhkan balita. Saat ini mereka mengalami perkembangan yang cukup baik, terlihat dari penambahan berat badannya.

Randi, Rendi, dan Ibu Ruth menjadi penyala untuk saya tetap bersemangat melakukan fundraising. Mereka akan menjadi terang untuk saya menemukan tangan-tangan baik berikutnya di Surabaya. Semoga salah satunya adalah anda.

Menemukan inspirasi di lapangan

Menemukan inspirasi di lapangan

Oleh Gabé Hirschowitz, Next Generation UNICEF di Los Angeles


Saat meminum air botolan dan menuliskan blog post ini, saya langsung teringat pada anak-anak yang saya temui di Kupang yang berjalan dua kali sehari selama dua jam (sekali di pagi hari sebelum berangkat sekolah, dan sekali di sore hari sepulang sekolah) untuk mengambil air bersih untuk keluarga mereka.

Empat jam setiap harinya. Bagaimana ini terjadi? Bagaimana mungkin ini adil?  Mengapa air minum yang bersih dan aman tidak tersedia untuk anak-anak dan keluarga di seluruh dunia?

Ini hanya beberapa dari banyak hal yang berlarian di pikiran saat saya tersentak memikirkan tentang krisis air dunia yang dihadapi oleh banyak individu di kehidupan sehari-hari. Setiap orang berhak atas air bersih. Sungguh mengejutkan bahwa masih banyak yang tidak mendapatkannya di tahun 2016.

Saat ditanya tentang apa yang dilakukan untuk bersenang-senang di waktu luang mereka, anak-anak muda itu menjawab, "Kami membantu keluarga di rumah dan membantu pekerjaan orangtua kami."

Konsep ini mungkin tampak asing bagi kebanyakan remaja Amerika. Namun, remaja-remaja Indonesia ini berseri-seri karena cinta dan cahaya, dan mereka sangat menghargai kedatangan kami. Motivasi dan kegembiraan mereka untuk terhubung dengan yang lain sangat luar biasa.

Mereka adalah bagian dari program kegiatan Inovasi UNICEF  yang didanai oleh NextGen untuk Proyek Inovasi. Balai pemuda yang luar biasa ini membantu anak-anak mengindentifikasi sesuatu yang mereka pikir sebagai masalah yang paling menekan dalam masyarakat saat darurat. Selama kunjungan kami, mereka memperlihatkan dua ide purwa-rupa untuk menyelesaikan beberapa masalah terkait banjir dan kekeringan. Proses produktif dan kreatif ini mengajarkan kelompok pemuda ini untuk berpikir di luar kotak dan juga memberikan mereka rasa percaya diri dan umpan balik yang diperlukan untuk memajukan masyarakat dengan bantuan UNICEF.

Kunjungan ini adalah momen yang istimewa dalam hidup saya karena Proyek Keran Air telah menjadi satu hal yang saya sukai sejak saya bergabung dengan NextGen. Los Angeles NextGen Art Party saya yang pertama memberikan manfaat bagi langkah-langkah penyediaan air bersih. Dapat dikatakan, saya sangat percaya bahwa kunjungan khusus ini terjadi dalam hidup saya karena satu alasan: untuk mengingatkan saya untuk selalu menggenggam hal ini dekat di hati di sepanjang hidup saya.

Air bersih adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Ini yang membuat kita hidup dan berkembang. Ini adalah hak asasi mendasar kita sebagai makhluk hidup, dan saya akan melakukan apa yang saya bisa untuk memastikan saya melakukan bagian saya untuk mendukung hal penting ini.

Sungguh suatu cara yang luar biasa untuk menjalani hari ulang tahun ke-30 saya. Kelompok pemuda itu menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun paling manis saat kami pergi, suatu kenangan yang akan selalu saya simpan dalam hati.

Di hari pertama kami di Jakarta, kami berkendara ke pusat layanan kesehatan yang didukung oleh UNICEF di Hari Imunisasi Nasional. Anak-anak dan ibu-ibu berkumpul di sekitar pusat kesehatan "dadakan" untuk mendapatkan booster polio untuk anak-anak mereka, dan juga memeriksakan berat dan tinggi badan anak-anak mereka untuk memastikan mereka tumbuh dengan sehat.

Sungguh menginspirasi untuk dapat menyaksikan program kegiatan yang sangat indah dan produktif. Setiap ibu bertekad memastikan anaknya mendapatkan perawatan dan perhatian yang layak mereka dapatkan. Satu tetes vaksin di bawah lidah akan mencegah polio seumur hidup. "WOW" yang sangat besar hinggap di pikiranku. Saya menjadi sangat emosional saat menggambarkan kenangan ini, karena kenapa tidak semua bayi menerima tetes vaksin yang dapat mencegah penyakit yang mengubah hidup dan mematikan ini?  Ini sangat sederhana dan saya sangat bersyukur dapat menyaksikan dedikasi dan komitmen yang sangat besar atas nama para petugas pusat kesehatan dan para ibu di Indonesia. Mereka adalah pahlawan sejati.

Saya ingin menutupnya dengan kunjungan kami ke sekolah dasar yang sangat indah di Kupang. Saat kami sampai di sekolah, rasanya seperti cahaya matahari menyinari lapangan bermain. Anak-anak memakai seragam berwarna kuning cerah saat mereka menyambut kami dengan senyuman lebar, bernyanyi, menari dan melambaikan tangan. Energi positif dan semangat indah mereka adalah salah satu momen murni yang paling indah dan tak terlupakan yang pernah saya saksikan.

Kelly, ketua NextGen Los Angeles dan saya saling beradu mata, dan saat itu juga kami menangis karena bahagia, rasa syukur dan penghargaan.

Mereka memiliki taman yang indah di belakang sekolah dan setiap kelas bertanggung jawab untuk memelihara dan menanam beragam jenis sayur mayur. Lalu mereka siapkan dan masak sayuran itu saat siap dipanen. Mereka juga memiliki perpustakaan yang indah dengan buku-buku yang disusun secara alfabetis dan dipisah berdasarkan fiksi dan non-fiksi. Sungguh menyenangkan melihat perhatian dan penghargaan diberikan pada kegiatan membaca dan pendidikan. Mungkin karena staf pengajar yang baik, mungkin karena  anak-anak yang menyenangkan, atau keduanya, tapi setiap orang dapat mengatakan pada Anda bahwa ada sesuatu yang istimewa di sekolah dasar itu. Jujur, saya akan mengingat hari itu selama hidup saya.

Secara keseluruhan, pengalaman kami di Indonesia sangat memuaskan dan informatif. Saya selamanya sangat bersyukur atas perjalanan tak terlupakan bersama UNICEF ini. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh David Thoreau, "Kebaikan adalah satu-satunya investasi yang tidak pernah gagal."

Kami bertemu dengan seorang ibu di Kupang yang memiliki anak laki-laki kembar yang menderita malnutrisi saat bayi.  Michael, dari UNICEFUSA, bertanya jika kami punya pertanyaan untuknya dan saya bertanya, "Apa mimpi Anda untuk anak-anak Anda?"  Dia menjawab dengan emosional bahwa yang dia harapan untuk anak-anaknya adalah "kesehatan dan kebahagiaan." Saat itu saya menyadari bahwa kesehatan dan kebahagiaan adalah hasrat universal yang diinginkan setiap ibu untuk anak-anak mereka di seluruh dunia. Kesejahteraan anak-anak dan orang tercinta kita adalah ikatan terkuat yang mengikat banyak ibu bersama-sama dalam perjalanan yang kita sebut kehidupan.

Pengalaman ini telah membuka mata saya lebih lebar dan menginspirasi saya dalam banyak cara yang positif. Saya sungguh bersyukur menjadi bagian dari keluarga UNICEF untuk bekerja dengan individual-individual yang luar biasa dan penuh bakti. Saya juga lebih dari bersyukur, atas orang tua dan keluarga saya yang telah menginspirasi dan memotivasi saya untuk melakukan hal-hal yang sedemikan baik di kehidupan sehari-hari.

Terima kasih atas perjalanan sekali seumur hidup ini.

***
Baru-baru ini, sejumlah anggota Next Generation dari Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia untuk melihat lebih dekat bagaimana dana yang mereka bantu kumpulkan untuk Laboratorium Inovasi UNICEF Indonesia membuat perubahan yang berkelanjutan. Berikut ini adalah catatan tentang kegiatan mereka di Indonesia: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4, Part 5

'Ini adalah perjalanan sekali seumur hidup'

'Ini adalah perjalanan sekali seumur hidup'

Oleh Kelly Wilson, Ketua, Next Generation UNICEF di Los Angeles


Saya belum pernah pergi ke tempat seperti ini; suatu negara dengan dua dunia yang benar-benar berbeda, dan dua dunia itu tumpang tindih satu di atas yang lainnya, bertabrakan antar ruang dan berebut sumber daya, waktu dan perhatian. Indonesia menghadapi tantangan-tantangan sebagai negara dengan pertumbuhan kota yang cepat dan di saat yang sama masih mencoba memecahkan masalah-masalah terkait negara dunia-ketiga. Yang mengejutkan, tampaknya tidak ada pemisah fisik antara si sangat kaya dan si miskin; daerah kumuh di samping gedung mewah, bangunan terbengkalai di samping pencakar langit yang mentereng, buang air besar di depan monumen pemerintah. Indonesia memiliki PDB ke-16 terbesar di dunia dan negara ekonomi kedua terbesar di Asia Tenggara, namun gelombang itu tidak mengangkat semua perahu, dan Indonesia melempar semua itu tepat ke muka Anda.

Di hari pertama, kami mengunjungi daerah kumuh yang dibangun di atas Tempat Pembuangan Akhir. Tidak ada yang dapat membuat Anda siap menghadapi kebas yang Anda rasakan karena melihat banyak sekali rumah-rumah keluarga dikelilingi oleh sampah, remaja-remaja tanpa sepatu mengetik pada telepon seluler terbaru dan anak-anak kecil menggaruk-garuk kepala karena kutu rambut. Dan saat kau pikir otakmu sudah terlalu penuh, seorang anak berlari ke arahmu dan mencium tanganmu. Berada di antara reruntuhan bangunan dan tumpukan sampah, dia tersenyum. Dia bersama keluarganya, dan dia bahagia. Dengan manis saya teringat pada rasa kemanusiaan yang teguh dari anak-anak dan mengapa mereka berhak menerima tidak kurang dari perlindungan dan dukungan kita, tidak peduli betapa rumit penyelesaiannya.

Di hari pertama itu, saat kami memberikan vaksinasi pada anak-anak di pos kesehatan, tiba-tiba jelas bahwa UNICEF memimpin dalam menciptakan solusi untuk masyarakat-masyarakat ini. UNICEF berada di lapangan melatih para petugas kesehatan, mengembangkan teknologi untuk mendapatkan umpan balik dari praktik-praktik baru di lapangan, bekerja dengan pemerintah untuk menjadikan kebutuhan perawatan-kesehatan dasar lebih tersedia, membuat bahan-bahan pengajaran untuk para ibu dan memberdayakan anak-anak untuk menciptakan solusi. UNICEF telah menjadikan dirinya agen perubahan di setiap tingkat, mempengaruhi kebijakan, sikap dan praktik secara luas.

Yang teringat dari perjalanan kami adalah pusaran angin yang memberikan saat-saat tak berakhir tentang motivasi untuk melanjutkan dukungan kami melalui Next Generation UNICEF. Dari hangatnya hati kami oleh senyuman anak-anak sekolah dan jiwa kami yang terinspirasi oleh semangat para pemuda usia dua-puluh tahunan yang mempengaruhi dunia di sekitar mereka, dari tantangan yang diberikan pada otak kami oleh tim UNICEF untuk menciptakan solusi, dan semangat kami yang terangkat oleh para pemimpin lokal yang dengan bangga menyebut diri mereka orang Indonesia

Ini adalah perjalanan sekali seumur hidup, membuat saya berendah hati, menginspirasi saya dan selamanya mengikat saya pada tugas UNICEF yang tiada banding untuk menempatkan anak-anak di posisi utama.


***

Baru-baru ini, sejumlah anggota Next Generation dari Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia untuk melihat lebih dekat bagaimana dana yang mereka bantu kumpulkan untuk Laboratorium Inovasi UNICEF Indonesia membuat perubahan yang berkelanjutan. Berikut ini adalah catatan tentang kegiatan mereka di Indonesia: Part 1, Part 2, Part 3, Part 4

Mengalami langsung kegiatan UNICEF Indonesia

Mengalami langsung kegiatan UNICEF Indonesia

Oleh Casey Rotter, Pendiri Next Generation UNICEF


Untuk saya, melakukan perjalanan dengan UNICEF Indonesia adalah pengalaman yang sangat luar biasa. Tidak hanya luar biasa untuk dapat melihat langsung pekerjaan hebat yang dilakukan UNICEF dan bertemu dengan keluarga-keluarga yang kehidupannya telah diubah -- bahkan diselamatkan -- terima kasih pada organisasi yang hebat ini, tapi hal ini juga istimewa untuk saya sebagai anggota staf untuk menyaksikan anggota-anggota NextGen kami mengalami langsung kegiatan UNICEF untuk pertama kalinya. Melihat pendonor benar-benar menyerap sifat dan kedalaman kegiatan UNICEF dengan berada di lapangan adalah istimewa adanya.  Setelah bertahun-tahun terlibat dalam organisasi, anggota-anggota NextGen yang berdedikasi ini akhirnya dapat memberikan wajah dan nama mereka pada staf yang mereka dukung dan anak-anak yang hidupnya telah diubah oleh usaha pengumpulan dana dan dana pribadi mereka.

Inilah maksud utama kunjungan lapangan para pendonor ini. Tidak peduli seberapa banyak yang kau pikir kau tahu tentang UNICEF, tidak ada yang lebih baik dari bertemu dengan staf yang bekerja di lapangan setiap harinya, menghabiskan hari dengan rekanan pemerintah dan benar-benar memperoleh pemahaman tentang betapa mereka mempercayai dan menghargai kata-kata dan kemitraan UNICEF, mendengarkan advokasi remaja tentang hak-hak rekan-rekannya, dan melihat ke dalam mata seorang ibu saat ia berkata bahwa jika bukan karena dukungan UNICEF untuk Posyandunya, bayi yang tersenyum di gendongannya tidak akan ada di sini hari ini.

Melihat sang ibu menahan air matanya adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa kami lupakan, dan adalah sesuatu yang menggerakkan kami agar bekerja lebih baik lagi untuk UNICEF. Untuk semua pengalaman ini, kami selamanya berterima kasih. Jadi, TERIMA KASIH untuk UNICEF Indonesia, rekan UNICEF di negara ini, semua sukarelawan luar biasa yang kami temui dan seluruh keluarga NextGen yang mendukung kegiatan luar biasa ini.

***

Baru-baru ini, sejumlah anggota Next Generation dari Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia untuk melihat lebih dekat bagaimana dana yang mereka bantu kumpulkan untuk Laboratorium Inovasi UNICEF Indonesia membuat perubahan yang berkelanjutan. Berikut ini adalah catatan tentang kegiatan mereka di Indonesia: Part 1, Part 2, Part 3


Mengapa UNICEF?

Mengapa UNICEF?

Oleh Leila Ladjevardian, Next Generation di New York 


Next Generation UNICEF adalah suatu kelompok luar biasa yang terdiri dari kaum profesional muda dengan kesempatan yang unik untuk menyumbangkan waktu, dana dan tenaga mereka untuk membantu anak-anak paling rentan di dunia. Saya telah bergabung dengan NextGen selama hampir lima tahun sekarang, dan saat ini saya bertugas sebagai Wakil Ketua New York Steering Committee.

Saya mendedikasikan banyak waktu luang saya untuk tujuan-tujuan dan langkah-langkah melalui penyelenggaraan penggalangan dana, berkontribusi dalam program kegiatan-kegiatan dan merekrut anggota baru. Satu pertanyaan yang sering ditanyakan pada saya adalah, "Mengapa UNICEF?"

Di masa lalu, jawaban saya adalah: "UNICEF adalah organisasi internasional yang menempatkan anak-anak di urutan pertama.  Tidak peduli tentang politik, tidak peduli seberapa mengerikan situasinya -- UNICEF bekerja dengan pemerintahan lokal untuk memastikan anak-anak diperhatikan. Saya adalah generasi pertama orang Iran-Amerika dan menghargai keanggotaan internasional organisasi ini. Sebagai tambahan, ibu saya telah sangat terlibat dalam UNICEF selama bertahun-tahun, yang membuat saya dapat membangun hubungan dengan organisasi ini sejak usia dini."

Selama tujuh hari, saya menjelajahi Indonesia, terutama Jakarta dan Kupang, dengan personel UNICEF dan anggota-anggota NextGen, dan telah memformulasikan jawaban yang lebih mendalam untuk pertanyaan di atas. Yang membuat UNICEF istimewa bukan hanya karena ia adalah organisasi anak-anak internasional yang menyelamatkan kehidupan setiap harinya, tapi juga ia memiliki jangkauan dan susunan aktivitas yang tidak terhingga.

Indonesia dianggap sebagai negara "ekonomi-menengah", yang berarti walaupun ada area-area yang sangat miskin, ada pula aktivitas bisnis yang baik dan pertumbuhan ekonomi (kedua terbesar di Asia, khususnya).  Selama wisata tujuh hari kami, kami mengunjungi program-program UNICEF yang mengungkapkan lebarnya kesenjangan di Indonesia. Di hari pertama, kami mengunjungi klinik kesehatan di pinggiran kota Jakarta. Klinik ini dijalankan oleh sukarelawan yang didukung oleh UNICEF yang menyediakan sejumlah layanan untuk anak-anak di "lingkungan sekitar".  Layanan itu mencakup vaksinasi polio hingga pemeriksaan malnutrisi. Lebih dari 500 ibu datang ke klinik hari itu.  Anak-anak menangis, orang-orang berjubel, dan jelas sekali bahwa kemiskinan masih menjadi isu besar meskipun Indonesia menyandang status "ekonomi-menengah".

Di hari berikutnya kami mendapati pengalaman yang sangat berbeda. Kami mengunjungi sejumlah program kegiatan pemuda yang didukung oleh UNICEF dalam kapasitas yang sungguh berbeda. Program-program kegiatan ini dipimpin oleh pemuda dengan rentang usia 18 hingga 25 tahun. Kebanyakan adalah orang-orang terdidik di tingkat universitas dan memiliki isu sosial yang mereka rasa sangat penting: pernikahan dini, kesetaraan gender, dll. Peranan UNICEF adalah untuk mendukung kaum muda dalam perjuangan mereka dan mendukung mereka mendapatkan perubahan kebijakan.

Saya merasa mendapat pencerahan mendengar tentang program kegiatan pemuda yang disebutkan di atas. Saya selalu tahu tentang kegiatan lapangan UNICEF di masyarakat yang terbelakang seperti program kegiatan penyediaan air bersih dan sanitasi, perlawanan terhadap malaria dan polio, langkah-langkah penanggulangan malnutrisi, dll. Namun, saya tidak terlalu tahu tentang kegiatan advokasi yang kami lakukan. UNICEF tidak hanya mengurus kebutuhan dasar anak-anak di situasi yang sulit, tapi juga bekerja bahu membahu dengan kaum muda terdidik dan pemerintah lokal untuk mencapai penyelesaian jangka panjang dan perubahan di suatu negara. Tujuan utama adalah agar negara-negara tersebut bisa mandiri. Seperti yang selalu diucapkan oleh Casey, pendiri NextGen, "UNICEF senantiasa bekerja agar tidak dapat digunakan lagi."

Saya sangat bersyukur atas waktu saya di Indonesia. Mendengar cerita sukses langsung dari para ibu dan melihat rasa terima kasih mereka atas pekerjaan UNICEF sangatlah menginspirasi dan berharga. Saya dapat membuktikan bahwa setiap dolar yang disumbangkan pada UNICEF telah membantu menyelamatkan kehidupan anak-anak dan meningkatkan kebijakan ramah-anak di tingkat pemerintahan lokal dan nasional.


***
Baru-baru ini, sejumlah anggota Next Generation dari Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia untuk melihat lebih dekat bagaimana dana yang mereka bantu kumpulkan untuk Laboratorium Inovasi UNICEF Indonesia membuat perubahan yang berkelanjutan. Berikut ini adalah catatan tentang kegiatan mereka di Indonesia: Part 1, Part 2

Bagaimana cara menginspirasi perubahan?

Bagaimana cara menginspirasi perubahan?

Oleh Bonner Campbell, Next Generation di Los Angeles 

Baru-baru ini, sejumlah anggota Next Generation dari Amerika Serikat berkunjung ke Indonesia untuk melihat lebih dekat bagaimana dana yang mereka bantu kumpulkan untuk Laboratorium Inovasi UNICEF Indonesia membuat perubahan yang berkelanjutan. Berikut ini adalah laporan orang-pertama tentang kegiatan mereka di Indonesia. 


Hal pertama yang menyentak saya saat mendarat adalah panasnya. Bahkan di malam hari, Jakarta adalah kota yang gerah dengan suhu 80°F (27 derajat Celsius). Saya di sini selama satu minggu dengan anggota NextGen lainnya untuk melakukan kunjungan lapangan untuk program-program kegiatan UNICEF. Indonesia adalah negara pertama tempat diadakannya dua lab inovasi terpisah dari UNICEF: satu di Jakarta, ibu kota negara yang sangat sibuk, dan satu di Kupang, sebuah kota di pulau Timor.

Aku terbujuk oleh konsep sebuah "lab inovasi". Lab-lab inovasi di Indonesia berfokus pada keterlibatan remaja dan pemuda dan juga tanggap darurat. Lab-lab ini melibatkan siswa-siswa dari Global Design for UNICEF Challenge dan mengeksplorasi beragam isu seperti pencatatan kelahiran dan tanggap bencana.

Walaupun telah diperoleh kemajuan dalam hal perlawanan terhadap kemiskinan, masih banyak yang harus dilakukan dan ide-ide inovatif sangatlah penting. Saya di sini untuk melihat cara UNICEF memperluas sumber daya yang terbatas dan memastikan kami membelanjakan dana kami di area yang akan memberikan dampak terbesar. Lebih jauh lagi, bagaimana saya dapat menginspirasi orang-orang di tempat asal saya untuk mempercayai pentingnya yang terjadi di belahan bumi lainnya, bagi mereka dan masa depan mereka?

Rencana perjalanan minggu ini terdiri dari 11-jam presentasi konferensi pers yang akan dilakukan dalam beberapa hari, dari staf lokal UNICEF dan kunjungan ke lapangan dan rekanan program kegiatan. Saya sungguh menantikan kesempatan untuk terlibat secara langsung dengan kegiatan yang dilakukan oleh UNICEF. Saya ingin kembali dengan membawa pemahaman budaya yang lebih baik dan ide-ide lain tentang cara UNICEF dan NextGen dapat terus memberikan dampak secara dramatis dan membangun masa depan yang lebih stabil untuk generasi muda masa kini.

Karena suhu cukup panas di Indonesia, semoga kami bisa mematangkan beberapa ide.


Memberantas Gizi Buruk di Indonesia: ‘Anak-anak saya menangis untuk hidup – bukan mati’

Memberantas Gizi Buruk di Indonesia: ‘Anak-anak saya menangis untuk hidup – bukan mati’


Beberapa bulan yang lalu, si kembar Randy dan Rendy Tabun yang berusia dua tahun tampak rapuh, mengalami penurunan kesadaran dan terlihat sangat kurus. Mereka mengalami kekurangan gizi dan terus berbaring di atas pangkuan ibu mereka, tidak mampu berdiri atau berjalan sendiri.

Seorang perawat di desa mereka, yaitu desa Nitneo di Kabupaten Kupang, mendengar tentang hal tersebut, dan menjadikan kedua anak itu dua pasien pertama sebuah program baru untuk menangani balita sangat kurus.

Di Indonesia, kekurangan gizi yang dialami balita sangat kurus merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat serius. Lebih dari 12 persen adalah balita kurus. Terdapat 1,3 juta balita sangat kurus di Indonesia, sementara 1,6 juta balita masuk kategori kurus (moderat). Dengan angka ini, Indonesia berada pada peringkat ke-empat dunia dalam jumlah balita kurus.

Menurut kriteria dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), prevalensi gizi balita sangat kurus sangat kritis di enam provinsi di Indonesia, termasuk Provinsi Nusa Tenggara Timur yang merupakan tempat Randy dan Rendy berasal.

Kekurangan gizi yang dialami Randy dan Rendy terjadi ketika anak-anak tidak mendapatkan asupan kaya gizi yang cukup, atau menderita penyakit seperti malaria, diare, pneumonia dan HIV. Kekurangan gizi pada usia dini dapat merusak sistem kekebalan dan meningkatkan durasi atau tingkat keparahan penyakit menular, dan pada akhirnya— jika tidak ditangani dapat menyebabkan kematian.

Balita seperti Randy dan Rendy dalam penanganannya akan diberikan obat gizi siap saji  dan merupakan pengobatan untuk menangangi balita sangat kurus. Mereka juga mendapatkan  obat-obatan untuk mengobati masalah kesehatan lainnya.

UNICEF bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah dan Action Contre La Faim saat ini memperkenalkan layanan baru untuk mengidentifikasikan dan menangani balita sangat kurus.

Program ini juga mencoba membangun kapasitas petugas Kesehatan dan kader untuk memberikan konseling Pemberian Makan Bayi dan Anak untuk mencegah kekurangan gizi pada anak sebelum hal itu terjadi. Orang tua Randy dan Rendy sudah melihat sendiri perbedaannya, karena pada usia 6 bulan anak perempuan mereka yang menerima ASI eksklusif memiliki tubuh yang lebih besar daripada kakak mereka yang kekurangan gizi!

Selama dua hari pertama perawatan, kedua anak itu menolak menghabiskan paket obat gizi mereka sambil menangis, dan lebih memilih teh dan biskuit mereka yang biasanya. Tetapi Ibu mereka terus memberikan obat gizi tersebut di depan tempat tidur mereka sehingga itu menjadi hal pertama yang anak-anak lihat ketika mereka bangun di pagi hari.

Ia berhasil.

Tidak lama kemudian kedua anak mulai menyukai dan meminta obat gizi tersebut. Hanya dalam waktu satu bulan, mereka berdua kelihatan lebih sehat dan kuat. Randy, si kembar yang berumur lebih tua, mampu berjalan, sedangkan Rendy sudah mampu berdiri dan sedang belajar berjalan.

Meskipun sebelumnya tampak ragu, kini sang Ayah mendukung program tersebut dan selalu menanyakan tentang asupan harian anak-anak sekembalinya dari bekerja.

Ibu mereka mengatakan bahwa meningkatnya kesehatan mereka menunjukkan bahwa ketekunan dan kesabarannya  sudah terbayar. “Anak-anak saya menangis untuk hidup — bukan untuk mati,” katanya. “Jadi saya harus membantu mereka bertahan hidup dengan apa yang saya percayai.”

Untuk si kecil Randy dan Rendy, program ini adalah peluang untuk masa depan yang lebih cerah dan lebih sehat.

Pemberian ASI yang lebih baik: solusi untuk masalah kekurangan gizi

Pemberian ASI yang lebih baik: solusi untuk masalah kekurangan gizi

Sonya memberikan konseling tentang menyusui kepada ibu baru. ©UNICEF Indonesia/2015/Harriet Torlesse

Kabupaten Kupang merupakan salah satu kabupaten yang mengalami krisis permasalahan kekurangan gizi di NTT.

Sonya Timuli, tiga puluh dua tahun, bekerja setiap hari di kabupaten dan menghadapi permasalahan ini. Ia telah menjadi kader posyandu di sebuah desa kecil di daerah ini selama tujuh tahun terakhir.

Para kader posyandu seperti Sonya melihat anak-anak yang tak terhitung jumlahnya yang mengalami kekurangan gizi. Survei terbaru yang dilakukan oleh UNICEF dan Action Contre La Faim menunjukkan bahwa 21 persen anak-anak di daerah ini mengalami kurang gizi akut (sangat kurus) dan 52 persen mengalami stunting (terlalu pendek untuk usia mereka).

Untuk mengatasi masalah ini, Sonya memberikan berbagai layanan gizi kepada masyarakat  di desanya. Salah satu bagian terpenting dari pekerjaannya adalah memberikan bimbingan dan konseling kepada ibu-ibu baru tentang berbagai praktek pemberian ASI yang tepat.


Menyusui merupakan fondasi terbaik bagi gizi seorang anak. ASI melindungi bayi terhadap penyakit dan membantu mereka tumbuh kembang secara optimum. Oleh karenanya, para ibu baru dianjurkan untuk memberikan ASI secara eksklusif selama enam bulan pertama dan terus memberikan ASI setidaknya sampai anak usia dua tahun dengan makanan pendamping ASI.

"Banyak ibu tahu bahwa mereka sebaiknya memberikan  ASI eksklusif selama enam bulan, tetapi kebanyakan dari mereka memperkenalkan makanan lain ketika anak berusia empat atau lima bulan," kata Sonya. "Beberapa ibu mengatakan bahwa ASI saja tidak cukup untuk tumbuh kembang bayi. Beberapa ibu merasa tertekan oleh anggota keluarga lainnya untuk memberikan makanan kepada bayi mereka."

Sonya memperoleh informasi yang tidak tepat dan memiliki pemahaman yang keliru tentang ASI. Untuk anak pertamanya, ia memberikan ASI eksklusif hanya selama satu bulan dan berhenti memberikan ASI kepada anaknya pada usia 11 bulan. Tetapi untuk anak terakhirnya, ia memberikan ASI eksklusif selama enam bulan dan terus memberikan ASI selama tiga tahun.

Sonya mengatakan bahwa ia melihat perbedaan nyata terhadap perkembangan dua anak tersebut. "Anak laki-laki sulung saya seringkali lambat dan melupakan hal-hal dengan mudah. Tetapi anak perempuan bungsu saya berbeda. Ia belajar dengan cepat dan mudah mengingat hal-hal dengan sangat baik ".

Cerita-cerita seperti ini sangat umum di daerah tersebut. Kekurangan gizi pada awal kehidupan menyebabkan perkembangan kognitif yang buruk pada kehidupan yang akan datang. Anak-anak ini menunjukkan prestasi yang kurang baik di sekolah dan menjadi kurang produktif saat mereka dewasa.

UNICEF dan Action Contre La Faim saat ini memfasilitasi program pelatihan bagi Sonya dan kader-kader di daerah tersebut. Pelatihan ini meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kompetensi mereka tentang pemberian ASI dan pemberian makanan pendamping ASI sehingga mereka akan mampu untuk mendukung ibu-ibu baru dalam memberikan makan bayi mereka secara tepat.

Mendukung ibu dengan ketrampilan yang tepat dapat memberikan solusi dalam mengatasi permasalahan kurang gizi yang sedang meningkat di NTT.

Inisiatif ini merupakan bagian dari program UNICEF yang lebih besar untuk mendukung pemerintah dalam menanggulangi dan mengatasi kekurangan gizi di seluruh Indonesia. 



Bersama Laskar Jentik, lingkunganku bebas jentik

Bersama Laskar Jentik, lingkunganku bebas jentik

By Ermi Ndoen – Health Officer, Kupang Field Office

Para Laskar Jentik – Agen Perubahan,  bermimpi tentang Sikka  bebas penyakit malaria di Pantai Waiara, Sea World Hotel, Maumere Sikka. © UNICEF Indonesia / 2014 / Ermi

Tidak semua “jentik” merupakan penyebab penyakit berbasis nyamuk, karena di Sikka, NTT, ada pasukan yang menamakan diri mereka Laskar Jentik. 

Laskar Jentik adalah sebutan bagi anak-anak sekolah yang menjadi pasukan pemantau jentik dan merupakan salah satu program pemberantasan penyakit malaria berbasis masyarakat sekolah yang didukung oleh UNICEF di Provinsi NTT. 
Mereka telah dilantik bersama Srikandi Jentik dan Patriot Jentik di Maumere, ibukota Kabupaten Sikka, pada 17 Juli 2014 lalu oleh mantan Menteri Kesehatan RI Dr. Nafsiah Mboi. Ibu Naf, sapaan akrab Nafsiah, adalah mantan Ketua Komite Anak PBB dan sosok yang akrab dengan masyarakat NTT karena ia merupakan istri mantan Gubernur NTT periode 1978-1988, Ben Mboi. 

Para “SRIKANDI JENTIK” sedang melakukan pemetaan wilayah untuk mengenali lingkungan dan tempat perindukan nyamuk. Foto: Yaspem - Sikka.

Program Laskar Jentik sudah dilaksanakan di tiga kabupaten: Sikka, Timor Tengah Selatan dan Sumba Barat Daya. Laskar Jentik diinisiasi pertama kali di Sikka oleh Yayasan Sosial Pembangunan Masyarakat (YASPEM) yang bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka dan UNICEF.

Ada tiga komponen utama yaitu pencarian penderita dan pengobatan yang tepat, pengendalian vektor/nyamuk dan program pencegahan malaria melalui partisipasi masyarakat.

Laskar  Jentik adalah salah satu upaya peningkatan partisipasi masyarakat dengan mengedepankan partisipasi anak, terutama anak sekolah. Program pemberantasan sarang nyamuk berbasis masyarakat sekolah ini terintegrasi dalam kurikulum sekolah dan juga kegiatan ekstrakurikuler sekolah. 

Filosofi dasar dari pendekatan Laskar Jentik adalah “Belajar dan bertindak bersama. Sekolahku dan rumahku bebas jentik”. Dengan pemahaman bahwa dunia anak-anak adalah dunia bermain, maka untuk meningkatkan partisipasi anak dalam program pemberantasan malaria adalah dengan cara belajar sambil bermain. 


Belajar dan Bertindak Bersama dengan Gembira

Para Laskar Jentik – Agen Perubahan,  saat bermimpi tentang Soe yang bersih, nyaman dan bebas penyakit malaria. © UNICEF Indonesia / 2014 / Ermi

Para murid dan guru pendamping sangat antusias mengikuti kegiatan yang dibuat dalam suasana belajar dan bermain. Semua materi pelatihan dikemas dalam bentuk permainan, lagu, tari, puisi dan drama dadakan yang dibuat dan diperankan oleh anak-anak.

Anak-anak yang pada hari pertama masih malu-malu dalam tiga hari bertransfromasi menjadi pribadi pemberani dengan ide dan kreativitas yang tidak terduga. Mereka tumbuh dengan kepribadian seorang agen perubahan.

Mereka juga menjadi aktif memperhatikan kebersihan lingkungan dan tidak segan-segan “menegur” orang dewasa, jika menemukan jentik dalam tempat penampungan air warga. 

“Pak Camat, mohon bak air di kamar mandi dibersihkan karena ada jentik nyamuk”, adalah salah satu contoh partisipasi aktif anak saat menegur seorang camat yang kamar mandinya positif jentik nyamuk.


Prajurit dan Srikandi Jentik

Para “PRAJURIT JENTIK” sedang melakukan “BODY MAPPING” dan pemeriksaan tempat-tempat perindukan di Maumere. © UNICEF Indonesia / 2014 / Ermi

Laskar Jentik adalah salah satu contoh praktek cerdas yang sudah terbukti bisa melibatkan partisipasi berbagai elemen masyarakat yaitu anak sekolah, Dasa Wisma dan anggota TNI. Pendekatan ini juga sudah mendapat apresiasi positif dari Ibu Naf ketika ia masih menjabat sebagai Menteri Kesehatan RI.

“Selama hampir dua tahun saya menjadi Menteri Kesehatan, baru hari ini saya melihat begitu banyak anak yang berpartisipasi dalam suatu program kesehatan,” kata Ibu Naf saat pelantikan.

Kegiatan Laskar Jentik, Prajurik Jentik dan Srikandi Jentik juga akan dikembangkan di kalangan Pramuka, kelompok pemuda gereja dan fasilitator PNPM di Kabupaten Sikka. 

Semoga cita-cita untuk menjadikan Sikka bebas penyakit berbasis nyamuk yaitu malaria, demam berdarah dan filarias bisa segera tercapai. 


“Selama hampir dua tahun saya menjadi Menteri Kesehatan, baru hari ini saya melihat begitu banyak anak yang berpartisipasi dalam suatu program kesehatan. Selamat buat anak-anak Sikka, Selamat buat Pemerintah Daerah Sikka selamat Selamat buat Dinas Kesehatan Sikka. Selamat dan terima kasih buat UNICEF dan Yaspem Sikka”. - Dr. Nafsiah Mboi. Foto: Yaspem - Sikka



ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia